Aku ingat benar sebuah hari, dimana untuk pertama kalinya aku bertemu dengan perempuan itu. Mengubah hari-hari yang telah kubiarkan tenggelam di dalam tumpukan kenangan di masa lalu. Kupikir hidupku akan terus sama seperti biasanya. Di tengah kehampaan dan kekosongan yang tidak sepantasnya kusesali. Hal terpenting yang harusnya kupikirkan adalah bahwa Tuhan telah memberikanku kesempatan untuk bernapas seperti sekarang. Tapi ternyata, kejutan lainnya pun datang tanpa dipinta. Harus kusesali, atau harus kusyukuri. Kadang aku tidak tahu perbedaan dari keduanya.

Matahari masih bergulir dari timur ke barat. Besinar cerah seakan tidak pernah terjadi apa-apa di tempat ini. Aku termenung menatap sepasang kelelawar terbang di atas kepala sembari mencibir. Seakan bertanya kenapa aku masih saja sendiri. Kulempar batu besar ke arah dahan pohon untuk mengusir mereka. Binatang kecil itu bergegas pergi setelah merasa terkejut. Namun, sesuatu yang lain muncul setelahnya.

Aku bisa mendengar suara langkah kaki yang halus. Sesaat menggelantung di dahan pohon. Mungkin seekor kera, pikirku. Tapi, terasa seperti sesuatu yang lebih besar lagi. Merasa khawatir akan terjadi sesuatu, aku memilih untuk menjauh dari tempat tadi dan berjalan menuju perbatasan antara hutan dan kota.

Angin semilir membelai rambutku dengan halus. Rasanya nyaman sekali kalau saja dia tidak memberitahuku bahwa ada sesuatu yang mengikuti dari belakang. Aku semakin khawatir. Sepertinya sudah saatnya bagiku untuk lari sejauh-jauhnya.

Aku masih merasakan sesuatu itu terus mengikuti dari belakang. Tidak peduli siapa atau apa. Aku sudah terlalu malas berususan dengan monster-monster menjijikan di tempat ini. Sepertinya hari ini keberuntungan sedang tidak berpihak kepadaku. Sebongkah batu kecil membuat langkahku terpaksa berhenti dan terjatuh dnegan kasar. Rasa perih mengiringi banyaknya goresan yang timbul pada lenganku. Namun, hal itu tidak seberapa, yang penting aku harus segera bangkit dan kembali berlari. Tapi...

"Jangan bergerak!" sebuah suara lembut namun tegas terdengar di belakangku. Sebuah benda yang sepertinya mulut pistol menempel di punggung. Tidak memberikanku kesempatan meski hanya untuk menoleh sedikitpun. "Angkat tanganmu! Siapa namamu?"

Aku tidak terlalu senang diperlakukan seperti ini, terutama oleh seorang perempuan. Dapat kudengar jelas warna suara dan nada lembut penuh ketegasan itu. "Siapa namamu?"

"Jangan balik bertanya sebelum menjawab pertanyaanku!"

Perempuan itu semakin menekankan pelatuk pistolnya pada punggungku. Dia perempuan yang keras kepala dan akan tetap bersi keras menungguku berbicara. Sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain selain memberikan apa yang dia inginkan. "Namaku Steve. Steve Burnside."