"Oke. Terimakasih karena tidak perlu membuatku memutuskan untuk menembakmu."

Perempuan itu menarik pistolnya. Aku sudah tidak bisa merasakan lagi keberadaan pelatuk yang menempel di punggung. Mungkin sudah saatnya aku berbalik untuk melihat wajahnya. Jadi, segera saja kuputarkan badan untuk melihat seperti apa wujud wanita tersebut. Apakah dia berambut merah dan berkuncir kuda? Entah kenapa aku sedikit berharap akan hal itu.

Ternyata sosok tersebut sangat jauh dari bayanganku. Dia mengenakan baju hitam berompi merah dengan celana panjang hitam. Rambut hitam pendeknya tampak mengilat tersiram cahaya mentari. Wajahnya terlihat seperti orang Asia. "Giliranmu untuk menyebutkan nama," ujarku.

Perempuan itu tersenyum manis. "Ada Wong."

Aku tidak mengerti kenapa perempuan cantik seperti dia bisa berada di tengah tempat mati seperti ini. Pasti dia bukan orang biasa yang sedang melakukan penelitian atau hal apapun itu. "Apa yang kamu lakukan di sini?"

"Sssttt..." Dia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Menyuruhku untuk diam. Tangan kirinya memegang sesuatu pada telinganya, seperti alat komunikasi. Aku hanya diam, menunggu waktu untuk bisa berbicara dengannya. "Ya. Di sini Red Butterfly. Katakan pada Redfield. Aku mendapatkan seekor ikan."

Apa katanya? Seekor ikan? Tidak, tidak. Bukan itu yang menjadi perhatianku. Aku yakin benar dia mengatakan nama Redfield. Tidak salah lagi.

"Hey!"

"Ssstt!" Lagi-lagi dia menyuruhku diam. Tapi, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk bertanya.

"Hey!" Aku spontan mencengkram lengan Ada. Dia yang terkejut bergegas menarik lengannya dan mundur beberapa langkah ke belakang sambil mengarahkan mulut pistolnya ke dadaku. "Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin bertanya."

Ada tidak langsung menjawab. Dia sedikit termenung untuk beberapa saat. Memperhatikanku yang memperlihatkan ekspresi penuh harap. "Katakan!" ucapnya singkat.

"Aku mendengarmu menyebut nama Redfield. Apa dia... Claire Redfield?"

Perempuan itu masih tidak bergeming dan terus menatapku dengan tajam. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Tapi, aku tidak peduli. Yang lebih penting bagiku hanyalah sebuah jawaban 'Ya'. "Aku mohon katakan sesuatu. Ya atau tidak?!"

"Ya, aku memang menyebut nama Redfield." Akhirnya dia mau berbicara. "Tapi dia bukan Claire, melainkan kakaknya, Chris. Kau mengenalnya?"

"Apa dia baik-baik saja?" Aku tidak peduli apa yang Ada katakan. Dia sempat memotong kata-kataku, kini giliranku untuk berbuat sama.

"Siapa?"

"Claire."

"Ya."

Tidak pernah rasanya aku merasa seperti ini. Rasanya hatiku lebih ringan dari sebelumnya setelah mendengar kabar barusan. Selama ini aku telah mati-matian membohongi diri sendiri. Aku berusaha untuk tidak mengingat kembali pertemuanku dengan Claire Redfield saat itu. Tapi nyatanya, tubuhku seakan spontan bergerak karena masih berharap bahwa suatu saat akan bisa bertemu kembali dengannya. Hanya saja... perlahan, di tengah ketenangan yang terasa, hatiku mulai sesak. Sesuatu seakan hendak mendesak keluar. Aku hampir lupa apa nama dari perasaan seperti ini. Kucoba untuk kembali mengingatnya, dan ternyata... ini adalah rasa dari sebuah kerinduan. Aku merindukannya.

"Hei. Aku tidak tahu menahu masalahmu. Tapi, kusarankan agar kamu ikut denganku."

"Untuk apa?"

"Untuk bertemu dengan Claire."