Bertahun-tahun aku hidup di tengah kekurangan. Bertahan seorang diri setelah berhasil melarikan diri dari seorang lelaki aneh bermata kucing. Aku berusaha bertahan di tengah hutan bersama binatang-binatang liar yang ada. Hingga tanpa sadar, aku telah kehilangan berbagai rasa yang pernah kumiliki saat masih hidup sebagai manusia seutuhnya.

Akan tetapi, kini semua rasa itu kembali bermunculan. Membuatku merasa menjadi semakin hidup. Dari mulai rasa sakit karena menahan rindu, dan rasa khawatir karena aku masih tidak percaya kepada perempuan yang kini membawaku serta dalam helicopter-nya.

Bisa-bisanya aku ikut dengan sukarela dengan orang yang baru saja kutemui. Semua itu tidak akan terjadi apabila bukan karena Claire. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin ini alasan kenapa aku masih bertahan hingga saat ini. Tapi, apa tujuanku benar-benar ke tempat dimana Claire berada? Karena sejujurnya aku merasa sedang dikelabuhi.

"Aku tidak tahu kemana kamu akan membawaku. Tapi, jika memang kamu mempergunakan nama Claire hanya untuk bisa membawaku serta, itu tidak masalah. Aku tidak keberatan apa yang akan kamu lakukan padaku. Tapi, aku hanya berharap bisa menyaksikan sendiri apa yang kamu katakan sebelumnya. Bahwa dia, baik-baik saja." Suaraku sedikit bergetar. Mungkin karena sudah lama sekali aku tidak pernah berbicara sepanjang ini sebelumnya. Wajar saja, karena tidak ada makhluk yang bisa aku ajak bicara di dalam hutan. Mereka hanya akan mendengarnya tanpa menjawab.

Aku tidak mendapatkan jawaban apapun dari Ada untuk beberapa waktu. Tidak ingin kumelirik ke arah wajahnya sedikitpun.

"Bisa kamu ceritakan apa yang terjadi kepadamu dengan Claire saat itu?"

Berbagai pertimbangan bermunculan di dalam kepala. Aku tidak ingin menceritakan hal terpahit sekaligus terindah dalam hidupku itu. Tapi, semakin kutahan untuk tidak bercerita, semakin sakit dada ini. Jadi, kuceritakan semuanya kepada Ada dari awal pertemuanku dengan Claire, hingga akhirnya aku melihat wajah sedihnya sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

Aku masih ingat benar wajah sedih Claire yang diberikan untukku saat itu. Linangan air mata yang indah namun menyakitkan. Bahkan suaranya masih tetap terngiang di dalam kepala. Masih sering muncul dalam mimpiku tiap malam. Sungguh, tidak ingin aku mendapatkan mimpi seperti itu lagi.

"Sejujurnya, Steve. Kau benar, aku akan membawamu ke sebuah pusat penelitian. Mengingat kamu satu-satunya manusia yang bertahan di tempat tadi. Dan juga, karena ternyata tubuhmu telah terkontaminasi oleh virus..."

Aku kecewa mendengarnya, tapi tidak ada keinginan sedikitpun untuk lari. "Aku tidak keberatan dengan apa yang akan kamu lakukan kepadaku. Akan kuberikan apapun yang kamu butuhkan. Hanya saja, aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku sebelumnya."