Dengan seluruh hidupku, aku berhutang banyak kepada Ada atas apa yang dia lakukan untukku. Dia memberiku tempat tinggal untuk sementara, pakaian, makanan, dan semua hal yang kuinginkan. Kini tempat tinggalku dengan tempat kerja Claire hanya terpisah oleh sebuah gedung. Ada berkata bahwa aku hanya perlu untuk menunggu Claire di depan kantornya. Tapi, aku rasa belum siap untuk langsung bertemu dengannya. Jadi, kuputuskan hari ini hanya akan melihat keadaan dari kejauhan terlebih dahulu. Ada tidak banyak memberitahu tentang Claire. Dia berkata bahwa aku sendiri yang harus mencaritahu. Mungkin memang seharusnya seperti itu. Tapi, itu semua membuatku sedikit tegang.

Kukenakan sebuah jaket agar bisa menyembunyikan kepalaku dengan tudungnya. Aku belum terbiasa berada di tengah orang banyak. Hal tersebut, membuatku sedikit tidak nyaman.

Hari mulai sore, aku melirik ke arah jam tangan untuk menanti waktu kepulangan Claire. Tak lama lagi dia pasti akan keluar dari kantornya. Saat itu, aku akan langsung menyapanya.

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, aku tidak jenuh menunggu. Selama apapun aku bisa terus berdiri menantinya. Untung saja semua membuahkan hasil yang baik. Meski bertahun-tahun lamanya kami berpisah, tapi aku tidak akan bisa melupakan wajah seorang gadis yang berhasil membuatku jatuh hati selama bertahun-tahun pula.

Rambut kemerahannya sama sekali tidak berubah. Hanya saja, kini rambut panjangnya sudah hilang. Tapi, dia tetap cantik dengan rambut pendek yang kini membuat wajahnya tampak lebih dewasa. Sebenarnya, seperti apapun dia berubah, asalkan wanita yang kulihat itu masih Claire yang kukenal, aku akan tetap menyukainya.

Jantungku berdetak hebat saat melihat senyumannya. Dia sedikit terdiam memandangi langit sore. Aku memantapkan hati untuk segera melangkah menemuinya. Hanya saja, seharusnya aku sadar bahwa wanita secantik dia sudah tentu tidak akan sendiri. Seorang lelaki datang menemuinya yang langsung memberikan senyuman lembut. Kakiku kembali melangkah mundur dan bersembunyi di belakang sebuah pohon besar.

Berbagai rasa bercampur aduk dalam hati. Kehangatan menyerbak seketika di saat menyaksikan senyuman hangat dari bibirnya. Meski dia sudah jauh berubah, terutama dengan buntut kuda yang kini sudah tidak lagi terlihat, tapi aku masih melihat Claire yang sama seperti saat itu. Ingin rasanya aku segera berlari dan memeluknya erat. Meski begitu, keadaan sudah cukup menjelaskan, bahwa aku sudah tidak bisa melakukan hal itu.

Aku bersandar di batang pohon sembari menengadahkan kepala. Entah kenapa tubuh ini terasa lemas padahal belum lama aku baru saja makan sepotong roti. Mungkin yang bermasalah bukan ragaku, melainkan hatiku. Sepertinya pilihan yang salah aku meminta tolong Ada untuk bisa ada di sini. Padahal dengan mengetahui diriku tidak mungkin lagi berada di dekat Claire, lebih membuatku tersiksa.

Ah, sudahlah... yang terpenting dia terlihat bahagia. meski aku tak ada di sisinya. Hanya itu yang berusaha kupikirkan. Nyaliku ciut, semangatku kabur, kuputuskan untuk segera pulang. Namun, rasa rindu yang sangat kuat berhasil menghentikan langkahku. Saat itu juga aku mulai berjalan, ke arah yang juga dituju oleh Claire. Setidaknya, aku ingin lebih lama memandangi wajahnya dari kejauhan. Menyaksikan senyuman yang merekah dari bibir merahnya yang lembut. Meski senyuman itu bukan ditujukan untukku, tapi... tidak masalah. Aku mencoba untuk tidak mempermasalahkannya.

Claire terlihat sangat bahagia bersama lelaki di hadapannya itu. Aku tidak bisa melihat wajah lelaki yang duduk membelakangiku itu. Sepertinya dia lelaki tampan juga mapan. Claire pantas dimiliki oleh lelaki itu, bukan oleh lelaki sepertiku yang bahkan tidak memiliki tempat untuk bermukim.

Tanpa sadar aku tersenyum. Sedikit menertawakan kemalangan diri sendiri. Aku tidak tahu akan seperti apa Claire jika menyadari aku ada di sini. Kemungkinan besar, dia sudah tidak akan mengingatku lagi.

Kembali kutatap wajah bahagia Claire sebelum pergi. Dia masih bercerita dengan bahagianya. Dan tiba-tiba, tanpa terduga aku mendapati dia yang sedikit terkejut karena menyadari keberadaanku. Aku bisa membaca dari tatapannya yang seakan langsung mengetahui siapa aku. Tapi, tubuhku justru bereaksi lain. Aku bergegas berjalan dan pergi sejauh mungkin.

"Senang bisa melihatmu lagi, Claire..."