Malam ini aku kembali keluar dengan tujuan ingin menemui Claire di tempat tinggalnya. Aku merasa kehilangan nyali karena dia tinggal serumah dengan kekasihnya yang bernama Neil. Hanya saja, hal yang sama tidak akan terulang dua kali. Aku semakin sadar tidak boleh menyia-nyiakan sesuatu.

Akan tetapi, aku sedikit bersyukur saat seorang pelayan berkata bahwa mereka berdua sedang makan malam di luar. Mungkin aku memiliki kesempatan yang lebih aman untuk menemui Claire, pikirku.

Aku berlari untuk menuju ke tempat yang telah ditunjukan oleh si pelayan. Padahal mereka baru saja berangkat dan aku tidak perlu terburu-buru. Tapi, entah kenapa kaki ini memaksakan untuk terus berlari. Aku tidak peduli sederas apa peluh yang mengalir, dan sejauh apa jalan yang harus kutempuh. Yang penting, aku hanya ingin malam ini berakhir dengan baik.

Di depan sebuah restoran megah aku berada. Sedikit bersembunyi di belakang pohon yang banyak berderet di pinggir jalan. Aku tidak ingin diusir penjaga restoran yang menganggapku sebagai pengemis. Jadi, sebelum menemukan waktu yang tepat, aku memutuskan untuk diam di tempat ini.

Kuatur napas hingga normal kembali sebelum memutuskan untuk mengintip. Tidak sulit untuk menemukan Claire dengan baju indahnya di dalam sana. Dia memang cantik, selalu cantik. Meski aku lebih senang melihatnya dalam baju tempurnya seperti dulu dengan rambut panjang yang terikat di belakang kepala. Tapi Claire tetaplah Claire.

Tanpa sadar kakiku melangkah hingga tidak peduli lagi keberadaanku yang mungkin akan bisa dengan jelas dia lihat. Aku terlalu semangat untuk bisa bertemu dengannya. Rasanya semakin lama menunggu, semakin dalam rasa rinduku untuk bisa segera bertukar cerita dan mendengar suara indahnya.

Keberadaanku semakin dekat dengan kaca depan restoran. Kepalaku tidak memikirkan apapun selain gadis yang sedari tadi kutatap itu. mungkin bibirku tersenyum-senyum sejak tadi. mungkin orang lain menganggapku gila. Tapi, aku tidak peduli. Aku berpikir untuk menunggu sebentar lagi hingga mereka selesai makan malam. Hanya saja, sesuatu membuat keinginan itu pudar dengan seketika. Aku memang tidak bisa mendengar percakapan mereka yang entah sedang berbicara tentang apa. Tapi, aku seakan bisa mengerti semuanya.

Hatiku sedikit tersentak saat melihat lelaki bernama Neil mengeluarkan sebuah kotak yang berisi cincin indah. Aku tahu untuk apa seorang lelaki melakukan semua itu. Karena akupun bermimpi untuk melakukan hal yang sama...

Tapi, semua itu tidak akan pernah bisa terjadi...

Langit mulai bergemuruh. Sama kerasnya seperti yang sedang terjadi di dalam hatiku. Apa mungkin suara itu memang berasal dari hatiku yang hancur? Cukup menggelikan. Seharusnya aku tahu semua ini mungkin saja terjadi setelah sekian lama aku membayangkannya. Tidak mungkin Claire masih menungguku yang dia anggap sudah lama mati. Tidak mungkin... Semua itu membuatku terlihat bodoh.

Aku tersenyum, padahal hati ini jelas terasa sakit sejadi-jadinya. Ini saatnya aku pergi. Memang seperti inilah seharusnya. Melihat senyum bahagia Claire, sudah selas membuatku merasa bahagia. Seharusnya, membuatku bahagia...

Aku berlajan tanpa arah. Entah kemana kakiku ini melangkah, bahkan kepalaku kosong sedari tadi. Kurasakan air hujan mulai menetes. Perlahan menjadi semakin deras. Aku berharap hujan dapat meringankan rasa sakit dalam hatiku, hanya saja ternyata semua itu justru membuatku semakin tidak kuasa menahan semua kesedihan. Aku tahu air mataku pun tengah mengalir deras. Bahkan tenaga untuk menengadahkan kepala pun aku tak punya. Rasa rindu yang terkubur bertahun-tahun lamanya akhirnya menyeruak, menyiksaku lebih keras dibandingkan kehidupan di Rockfort Island.

Kakiku terasa lemas. Aku jatuh berlutut di atas aspal yang kasar. Menunduk memandangi kerikil kecil di bawah. Beberapa kali aspal tak bersalah itu menjadi sasaran dari tinjuku. Aku ingin melupakan rasa sedih ini dengan rasa sakit yang lain. Tapi, luka dalam hatiku menimbulkan rasa sakit yang tidak pernah kurasakan selama ini.

"Steve?" Entah hanya perasaanku saja atau bukan, sesaat aku mendengar suara Claire memanggilku dari kejauhan. Meski aku tidak yakin, tapi hal tersebut berhasil membuat tubuhku bergerak dengan spontan. Tanpa sadar kakiku kembali berlari menyusuri jalan hingga ke seberang restoran tempat Claire berada. Aku tidak segera menyebrang ke sana karena lebih dulu mendapati Neil yang sedang berdiri di depannya. Namun kali ini seorang diri.

Aku tidak bisa menemukan kehadiran Claire di sana meski telah beberapa menit menunggu. Hingga akhirnya aku bisa mendapati sosok wanita yang sedang berlari dengan basah kuyup menerjang hujan.

Claire?

Entah apa yang dia lakukan, namun kini aku menyaksikan sepasang kekasih itu bertengkar mulut di sana. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain melihatnya dari kejauhan. Akhirnya Neil pergi meninggalkan Claire yang jatuh terduduk di atas trotoar. Padahal wanita itu terus menerus meneriaki namanya, tapi lelaki itu tak kunjung berhenti hingga keberadaannya sudah tidak bisa kulihat lagi.

Rasa amarah muncul, aku tidak bisa memaafkan orang yang kini membuat Claire menangis. Bahkan bukan sekedar meninggalkan kesedihan biasa. Aku tahu pertengkaran tadi mencuatkan kepedihan mendalam di dalam hatinya. Aku tahu kali ini dia benar-benar membutuhkan kehadiran seseorang. Aku tahu bahwa seseorang itu seharusnya aku. Tapi... entah kenapa aku kembali kehilangan nyali. Ada sesuatu yang membuat kakiku membatu dan memilih untuk diam. Padahal hatiku menjerit meneriakan namanya sedari tadi.

Hatiku semakin terasa sakit saat memandangi wajah penuh kesedihan yang tampak dari wajahnya. Selama itupun aku terus memaki diriku yang dengan seenaknya tidak bertanggung jawab, karena aku yakin, semua hal itu terjadi tiada lain karena ulahku juga. Dengan segenap tenaga, kupaksakan untuk melangkah dan memutuskan untuk segera pergi ke seberang.