"Kau sudah siap?"
"Ya... Mau tidak mau. Janji harus ditepati bukan?"
"Ayo naik ke mobil!"
Kusimpan tasku di jok belakang dan segera duduk pada jok depan mobil merah Ada yang tampak mempesona. Ini terkahir kalinya aku akan berada di kota ini setelah bernegosiasi dengan Ada tempo hari.
Kukenakan kacamata hitam agar matahari cerah hari ini tidak perlu menusuk mata. Aku merasakan semilir angin yang membuat rambutku berkibar. Aku merasa nyaman dengan keadaan di kota ini, tidak terlalu ramai, dan masih berudara sejuk.
Mobil Ada mulai melambat dan berhenti di pinggir jalan. Aku memandang ke arah bangunan yang ada di seberangnya. Sebuah kafe sederhana ada di sana. Aku tersenyum melihatnya. Bukan karena melihat bangunan tersebut, karena melihat siapa yang sedang tersenyum bahagia di dalamnya.
Kembali dapat kupandangi senyuman yang sama dengan sebelumnya. Penuh kebahagiaan dan keceriaan. Ekspresi tersebut memang menjadi yang paling cocok untuk dipampang pada wajah Claire. Aku terus memandanginya yang sedang tertawa bersama seorang lelaki yang tempo hari membawanya pergi saat aku terlalu takut untuk bertindak.
"Siapa lelaki itu?" tanyaku kepada Ada.
"Piers Nivans, BSAA. Calon penerus Chris," jelasnya singkat.
Aku meminta Ada menceritakan lebih banyak tentang lelaki bernama Piers itu sembari tersenyum mendengarnya. Sepertinya aku sudah bisa merasa tenang sekarang, karena sudah menemukan orang tepat yang bisa menjaga Claire menggantikan diriku. Kuharap dia bisa tetap menjaga senyuman indah itu agar tetap merekah dari bibir yang sama.
"Oke, saatnya berangkat," ujarku semangat.
"Ada lagi yang kamu inginkan?"
"Tidak, terimakasih. Permintaan terakhirku sudah kamu berikan beberapa hari lalu."
"Terimakasih juga karena membuatku harus membuat dokumen palsu tentangmu."
"Ya, setidaknya akan kubayar mulai hari ini. Kemana tujuan kita sekarang?
"Kau akan tahu setelah sampai."
Mobil merah melesat dengan cepat. Melepas semua kepenatan yang tidak ingin kubawa setelah meninggalkan kota. Sudah cukup semua kepedihan yang lalu kutinggalkan di tempat ini.
Sampai jumpa Claire... Entah kapan kita akan berjumpa kembali. Atau mungkin aku tidak memiliki kesempatan itu lagi. Mungkin memang inilah satu-satunya yang telah terlanjur kusia-siakan. Ada sesuatu yang kini menjelma menjadi sesuatu yang akan menjadi pemisah, meski sedekat apapun kita berada. Bukan hal mudah untuk meninggalkanmu seperti ini. Tapi... aku yakin inilah satu-satunya pilihan yang tersisa untukku. Aku harus tetap mensyukurinya...
Meski begitu, besar harapanku jika di saat nanti kita berjumpa, senyuman bahagia seperti tadilah yang akan selalu kulihat. Mungkin keberadaanku akan segera hilang dari dalam ingatanmu. Tapi, semua kenangan yang pernah kita alami bersama, akan selalu kusimpan. Karena bagiku, semua itu merupakan sebuah kenangan yang berharga.
