Semester dua berakhir. Tahun ini kami menginjak kelas tiga SMP. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat.

.

.

Kuroko No Basket is not my own. It's written by Noburo Takagi-sensei.

Kurono No Basket!Manga and Light Novel is not my own as well. It's written by Fujimaki Tadatoshi-sensei.

But this fic is my own fic,

hope you like it!

.

.

"Whaaa kita beda kelas Kise-kun!" Pekikku.

"Nah, mau bagaimana lagi ssu~ aku tidak terlalu bagus dengan akademik, hehe. Keicchi, kau beruntung bisa sekelas dengan mereka ssu!" Cerocos Kise.

Kei-kun terkekeh. "Yang terpenting, kau tidak dapat kelas paling buruk Kise-kun. Dan lagipula kelas kita berseberangan kok."

"Mm-hm! Kita bakal sering-sering ketemu! Nanti makan siang kayak—oh? Akashi-kun masuk kelas ini!?" Tanyaku seakan tidak percaya, saat pemuda bersurai merah itu memasuki kelasku yang sekarang.

Akashi-kun melirik kearahku. "Iya, ada masalah dengan hal itu?"

Aku menahan senyum, saking bahagianya. "Ah, tidak-tidak~"

Dan, ya. Aku suka terhadap Akashi-kun sejak aku, Risa-chan, dan Kei-kun masuk ekstra basket, kelas dua tahun lalu.

Tapi entahlah, kurasa perasaan ini bukan perasaan suka yang melebihi teman terhadap Akashi-kun. Tapi...ntahlah. Pokoknya aku senang kalau aku bisa dekat dengannya. Tidak pernah ada pikiran kalau aku berpacaran dengan Akashi-kun.

"Kise-ku—loh, Kise-kun kemana!?" Tanyaku kaget, begitu menyadari bahwa Kise-kun sudah pergi.

"Well, dia tidak mau mengganggu waktumu bersama Akashi~" goda Risa.

"Ah, mana mungkin!—oh, iya! Akashi-kun mau duduk bersamaku? Risa-chan duduk sama Kei-kun, jadi aku tidak ada teman" tanyaku dengan suara lantang, kearahnya.

Ia tidak merespon, tapi ia meletakkan tasnya dibangku sebelah bangkuku.

Bel masuk pun berbunyi, tetapi aku masih celingukan diluar pintu, mencari kemana Kise-kun pergi. Habis, aneh sekali ia pergi tanpa bilang-bilang!

Tapi toh, akhirnya aku kembali ke bangkuku, karena aku melihat guru biologi sudah datang menuju kelas kami.

Aku duduk paling belakang, pojok kiri dekat jendela. Depanku, Midorima-kun. Sebelahku Akashi. sebelah Akashi, Risa-chan. Dan sebelah Risa-chan, Kei-kun.

Aku melirik kearah jendela, dan melihat pemandangan anak kelas IX-2 sedang olah raga. Bisa kulihat rambut keemasan Kise, berkilat-kilat di bawah sinar matahari. Pantas saja, ia tidak kelihatan sejak tadi.

Hari ini mereka bermain sepak bola. Aku mendesah pelan. andai saja aku sekelas dengannya lagi, batinku.

Tiba-tiba ada sesuatu jatuh mengenai kepalaku. Permen kah itu? Dari mana?

Aku menghadap ke depan, kearah Midorima-kun. Diakah yang melempar kebelakang? Hebat sekali, sampai-sampai shoot nya bisa mengenai kepalaku.

"Bukannya bagaimana, tapi aku benci mendengar orang mendesah lesu seperti itu. Kudengar zodiakmu hari ini ada di urutan paling bawah, jadi kuberikan saja permen itu sebagai lucky item mu, nodayo."

Aku mengerutkan dahi, dan terkekeh pelan. "Ahahaha! Midorima-kun, kau masih setia pada oha-asa mu? Hebat!" Ucapku setengah berbisik.

"Oha-asa penting—"

"Untuk hidupmu, Midorima-kun. Benar kan?" Potongku, masih terkekeh. karena bosan mendengar kalimat itu berulang kali.

( ´・ω・`)

Bel istirahat pun berbunyi. Aku memekik bahagia. "Risa-chan ayo makan~!"

Akashi menatapku heran. "Tidak seharusnya kau teriak seperti itu. Tau sopan santun. Kau terlihat seperti tidak makan satu tahun."

"Ah, sudahlah~ kau akan cepat tua kalau protes terus Akashi-kun~" ucapku polos.

Aku pun beranjak keluar kelas dengan kotak makanku, bersama Kei-kun dan Risa-chan, tanpa sempat membiarkan Akashi-kun membalas perkataanku.

"Baru kulihat kau bisa membiarkan orang lain berkata seperti itu padamu, Akashi." Ucap Midorima.

"Nah, siapa yang tau? Cewek itu cukup menarik. Kau juga merasakannya, bukan begitu, Shintarou?"

Midorima hanya mengangkat bahunya, sambil menaikkan kaca matanya. "Terserahmu, nanodayo."

ヽ(´ω`*)

"Jan-ke-pon!"

Entah, kemujuran apa yang kualami saat ini, tapi sungguh hari ini aku menang permainan ini!

Ya, saat makan siang kami selalu bermain, siapa yang kalah, maka ia akan menyuapi semua orang, selama apapun itu, bahkan sampai bekalnya tidak sempat disentuh sekali pun.

Biasanya sih, aku yang kalah, tapi angin mujur apa yang membuatku menang hari ini. Kurasa permen dari Midorima-kun tadi cukup mujur!

"Yaaayy! Rasakan itu Kise-kun!" Pekikku senang.

"Aah~ bagaimana rasanya disuapi seorang model terkenal ya~?" Goda Risa-chan.

"Ah, apa bagusnya disuapi model terkenal? Dia hanya manusia narsis yang kebetulan jadi model saja!" Tukas Kei-kun cemburu.

Dan ya! Risa-chan dan Kei-kun sudah jadian sejak lamaaaaa sekali. Dulu masih aku ingat betapa bahagianya ia saat Kei-kun ikut kelompok kami dan Kise-kun.

"Hiddoi ssu!" Rengek Kise-kun.

"Tapi sekarang aku bawa spagetti...susah kan kalau disuapi..." Keluhku.

"Lagipula aku juga tidak sudi menyuapi pacarmu Keicchi! Dan siapa yang kau bilang manusia narsis hah!?—sudahlah, kau harus percaya padaku ssu!"

Kise membuka kotak makanku. Ia mengambil garpu dan mulai mengaduk saus (smoked beef) dengan spagetti ku sampai rata. Detik berikutnya ia mulai menyuapiku.

"[Name]-cchi aaaah~"

Aku membuka mulutku, "aaaah—Kise-kun!"

Bukannya memasukkan garpunya kedalam mulutku, ia malah membawanya kesamping, sehingga sausnya mengenai pipiku.

"Wahahahaha! Kau belepotan saus ssu yo! Hahahahaha"

Aku mendengus kesal. "Sini berikan garpunya padaku! Biar aku makan sendiri!"

"Hahahaha, maafkan aku tuan putri. Sini aaaah~"

Refleks aku membuka mulutku. Semburat merah tipis muncul di pipiku, entah karena senang atau malu.

Kise-kun mengambil tissue, dan mulai mengelap cemotan saus di pipiku barusan.

"Waah, bel masuk nanti bakal ada pasangan baru~" goda Kei-kun.

"Whaawha! Tidak mungkin! Iya kan, [name]-cchi?" Tanya Kise-kun.

Aku memiringkan kepalaku bingung. "Iya, apanya, Kise-kun? Memang tadi Kei-kun ngomong apa?" Tanyaku polos.

"Ahaha~ bukan apa-apa ssu~, sini aaah lagi." Buru-buru Kise mengganti topik, dan menyuapiku sekali lagi.

"Kise-kun tidak makan?" Tanyaku begitu sisa satu sendok terakhir, di kotak makanku.

"Kotak makanku ketinggalan ssu~ heheh"

Mataku terbelalak kaget, hampir tersedak begitu saja. ...untuk tidak. Dan aku bersyukur karena itu. "Seharusnya kau bilang dari tadi! Kan bisa kubagi jatahku!"

"Kita juga bisa bagi jatah kok! Kenapa kau tidak bilang daritadi? Dasar bodoh." Cerocos Kei-kun.

"Ah, tak tega aku melihatmu nanti kelaparan begitu hahaha—ga sudi ngambil makanan punya Keicchi! Pasti diberi aneh-aneh ssu!"

"Enak saja!" Tukas Kei-kun.

"Nah, sudahlah. Kau bisa makan sendok terakhir ini kalau kau mau Kise-kun~"

"E-eh!?" Tiba-tiba wajah Kise memerah.

"Jangan berpikiran macam-macam, monyet. Bersyukurlah kau sudah diberi makan. Jangan kau kotori otak [Name]-chan dengan pikiranmu. Gunakan kesempatan ini baik-baik. Kesempatan tidak datang dua kali loh." Ucap Risa-chan.

Kise menelan ludahnya. Ragu antara hendak memakan spagetti yang diberikan atau tidak.

"Tapi aku kasihan padamu ssu~ [Name]-cchi saja yang makan~" ucap Kise-kun, sambil menyuapiku garpu terakhir, yang entah reflek mulutku membuka jalan untuk masuknya spagetti itu.

"Twapwi Kwise-Kwun gwa mwakwan apwa-pwa?" Tanyaku, bersamaan dengan bunyi bel masuk.

"Sebenarnya aku lapar ssu~ boleh aku cicipi spagettimu?"

Aku memiringkan kepalaku, bingung. kan spagettinya sudah habis?

Tapi tiba-tiba wajah Kise mendekat kearahku. Hidungnya menyentuh pipiku yang tadinya terkena saus spagetti, yang ntah kurasa bau sausnya masih tercium disana.

Kise-kun mengendus pipiku, dan detik berikutnya bisa kurasakan benda tipis, lembut nan lembab menempel di pipiku.

Dan detik berikutnya kusadari kalau Kise mencium pipiku. "!?"


nah niat kan gue bikin langsung chap 1:'3 /ngok.

udahlah gue gabanyak bacot disini, karena gue udah curcol di chap 1:'3

hope you like it!

kkkkkk rivaichin kkkkkk