"Nah, sekarang bentuk kelompok yang terdiri atas lima anggota, dan tuliskan namanya pada kertas, lalu dikumpul. Dua minggu lagi kita adakan presentasi."

"Kelompoknya Yamato, akan mempresentasikan mengenai organ tubuh manusia, Kelompok Arisa mempresentasikan mengenai Adaptasi, dan Kelompok Akashi mempresentasikan mengenai pewarisan sifat."

.

.

Kuroko No Basket is not my own. It's written by Noburo Takagi-sensei.

Kurono No Basket!Manga and Light Novel is not my own as well. It's written by Fujimaki Tadatoshi-sensei.

But this fic is my own fic,

hope you like it!

.

.

Begitu guru mengumumkan hasilnya, bel pulang berbunyi. Dan entah kenapa hari ini aku tidak begitu semangat, begitu mendengar kata 'pewarisan sifat'...

Kenapa..? Kenapa harus pewarisan sifat? Paling tidak kita bisa dapat bagian adaptasi. Kenapa bagian yang—entahlah, rumit?

"Ada masalah?," Suara Akashi membuyarkan lamunanku. Tatapan yang biasanya ia lontarkan padaku, tapi yang satu ini tidak begitu dingin seperti biasanya. "Wajahmu terlihat pucat."

"Tidak apa kok~" kataku, sambil mengemas barangku masuk ke dalam tas. "...Um, Akashi-kun?"

"Hm?"

"...bisa minta tolong ajarkan aku tentang pewarisan sifat?"

Akashi menatapku dengan mata kosong. Tidak menggambarkan sesuatu yang spesifik di dalam matanya.

"Kalau mau, nanti jam tiga kita belajar di perpustakaan seusai latihan klub basket. Baca-baca mengenai materinya, sesampai aku datang, baru tanyakan bagian mana yang tidak kau mengerti."

Secercah harapan muncul di mataku. Aku tersenyum senang, jadi refleks aku menangkap kedua tangan Akashi-kun dan menggenggamnya erat. "Terima kasih!"

Akashi tampak cukup kaget. Tapi kemudian ia menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Ditambah kekehan kecil yang—mujizat kalau dilihat dan didengar oleh seseorang.

"?" Aku mulai merenggangkan genggaman tanganku dan menengok keluar pintu merasa bahwa ada seseorang yang mengawasi sejak tadi.

"Ada apa?"

Tapi aku tepis perasaan itu jauh-jauh. Karena tidak mungkin itu Risa-chan dan Kei-kun, karena hari ini mereka pulang cepat, karena ada acara keluarga bersama.

"Kurasa tadi ada yang memperhatikan...tapi kurasa hanya perasaanku saja hehe~ baiklah, aku tunggu di perpustakaan ya Akashi-kun, sampai nanti~!" Ucapku, sambil lalu berdiri dan keluar dari kelas.

Aku berjalan menuju kelas Kise-kun, berniat untuk menjemputnya. Tapi, begitu aku membuka pintu kelas, tidak ada seorang pun di dalam.

Walau begitu pun, aku masih masuk ke kelas, dan menghampiri tempat duduknya. "Tapi tasnya ada kok, tidak mungkin sudah pulang."

Aku duduk di bangku Kise-kun sambil memeluk tasnya. Ah.. Baunya seperti Kise-kun, bau bunga matahari. Tidak begitu pekat, tetapi enak dicium, dan khas. Membuatku, terbuai untuk segera menutup mata dan istirahat sebentar. Dan aku benar-benar terbuai, karena detik selanjutnya, aku sudah terlelap dengan tas Kise sebagai alas kepala.

Aku bermimpi, seseorang sedang membelai pipi dan rambutku dengan sayang. Sentuhannya, terasa begitu familiar, tapi aku tidak tahu siapa. Aku mencoba melihat siapa orang itu, tapi wajahnya samar. Yang bisa kulihat kalau orang itu seorang pemuda berambut pirang dan ia tersenyum manis.

"Suka. Suka sekali. Tapi...kapan kau akan menyadarinya?"

Aku mendengar ucapan pemuda itu. Terdengar familiar sekali. Tapi begitu aku berusaha mengingat, tambah susah aku untuk berpikir.

Aku tau ini mimpi, tapi mimpi ini terasa begitu...nyata.

Detik berikutnya aku membuka mataku. Sepenuhnya. Kaget sekaligus heran, akan mimpi barusan. Di kelas masih kosong, dan tas Kise-kun masih di atas meja. "ah, iya, Kise-kun ada klub basket..."

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku megap-megap begitu melihat kearah jarum jam yang menunjukkan pukul setengah tiga. "Berapa jam aku tidur!?"

Segera aku berlari dari kelas Kise, menuju perpustakaan. Begitu sampai, aku mencari buku biologi buru-buru, sampai harus berulang kali aku mengulang dari awal, karena tidak yakin kalau disana tidak ada buku itu.

Aku mendapatkan buku itu, ada di rak paling atas. Aku menjinjit sedikit untuk menggapainya. Hampir. Sedikit lagi, ayolah! Batinku.

Tiba-tiba aku merasakan punggungku bertubrukan dengan dada seseorang. "Jadi, daritadi kau diam dimana?" Badanku mengejang. Itu Akashi.

Aku meringis. "Aku ketiduran hehehe, sepertinya janji kita jam tiga bukan, Akashi-kun?" Tanyaku bingung.

"Memang. Tadi ada perubahan rencana, makanya sejak jam dua tadi klub sudah selasai."

"Eh?" Aku menatapnya bingung teringat sesuatu.

"Ada masalah?"

Aku menggaruk pipiku canggung sambil tertawa renyah. "tak apa."

Kami berjalan ke meja yang sepi, menghadap kaca besar yang menampakkan halaman belakang sekolah. Aku duduk menghadap kaca sedangkan Akashi duduk di depanku.

Jarak kita dibatasi meja kecil. Jadi masih mudah untuk Akashi untuk menjelaskan sesuatu.

Keheningan memasuki ruangan tanpa ijin. Membuatku merasa tidak nyaman bertahan lama ditempat seperti ini.

Tiba-tiba, aku mendengar suara orang cegukan.

"..."

Aku setengah yakin dan tidak yakin tersangkanya adalah Akashi.

Aku yakin karena hanya ada kita berdua di tempat ini. Ditambah penjaga perpustakaan, tapi ia terlalu jauh dari tempat kami.

Separuhnya tidak yakin karena—bagaimana bisa cegukan seorang Akashi Seijuuro bisa terdengar begitu imut!?

Diam-diam aku melirik kearah Akashi, dan menunggu kapan bunyi cegukan itu datang.

"..."

Dan benar saja! Cegukan itu berasal dari Akashi-san!

"..ppfftt—" aku cekikikan melihat adegan yang tak disangka-sangka bisa terjadi. Aku pun mengambil botol minum dari tasku dan menyodorkannya kearah Akashi. "Ini, minum, Akashi-s—ppfft"

Akashi mengambil botol minum yang kusodorkan. Lalu meminumnya. "Tidak baik mentertawakan seseorang dibawah penderitaan."

"H-habis lucu tau!" Aku terkekeh pelan.

Tapi tiba-tiba badanku mengejang. Punggung tangan Akashi membelai pipiku, menyibakkan rambut yang berhasil lolos dari ikatannya. Rasanya menyengat bak sebongkah es menimpa pipiku. Dingin, halus, dan...licin.

Akashi tersenyum—lagi. Dan, tanpa kusadari senyuman itu bukan ditujukan untukku, melainkan orang lain.

ヽ(´ω`*)

Aku mengetuk pintu rumah Kise, dengan kotak makan di tangan kananku.

Mamaku menyuruhku mengirimkan bekal buat Kise, supaya ada yang bisa ia makan entah untuk makan malam atau sarapan. Karena orangtuanya kerja di luar kota selama seminggu, jadi disinilah dia tinggal sendiri di rumah yang cukup besar.

Tidak ada jawaban.

Sekali lagi aku mengetuk pintu, dan nihil. Tak ada yang membukakan pintu sama sekali.

Arwah penasaran merasuki tubuhku. Aku membuka knop pintu rumah Kise-kun, kalau-kalau Kise sedang keluar rumah. Tapi tidak. Pintunya tidak terkunci sama sekali.

Perlahan aku membuka pintunya agak lebar, dan masuk ke dalam. "Kise-kun?" Panggilku. Tapi masih, tidak ada jawaban.

Kakiku melangkah kearah dapur, hendak menaruh bekalnya diatas meja, lalu pulang. Tapi ada satu hal yang menghambatku pulang. Suara seorang gadis. Dan...Kise-kun.

"Kumohon, Kise-kun!"

"Tidak, kau kan sudah memilih Haizaki-kun, ssu!"

"Bukan begitu!"

"Bukan begitu, apanya? Semuanya sudah jelas! Lagipula aku sudah menyukai seseorang!"

"[Name] kan?"

"B-bagaimana kau bisa tau ssu?!"

"Terlihat jelas di matamu saat kau melihatnya, Kise-kun"

Eh? Aku kaget setengah mati. Tentu saja, siapa sih yang tidak kaget, saat orang yang selama ini kau anggap sahabat, ternyata menyukaimu?

"S-sudahlah aku mau ambil minum ss—eh?" Kise terhenti saat menatapku ada di dapurnya, saat ini. "[Name]cchi, sejak kapan disini?"

"Hah? O-oh itu...maaf tadi aku ketuk tidak ada jawaban, jadinya aku masuk saja lalu hendak pulang, karena kukira tidak ada orang. Hehe" jawabku sambil cengar-cengir.

"Kalau begitu...permisi?" Ucapku segera, meninggalkan Kise serta gadis itu di rumah Kise-kun.

TBC.


omgggggggg lama kita tidak jumpa /digaplok.

maaf ya aduh, aku lagi ga mood nulis fic dari kemarin-kemarin. kalian kalo mau nagih jangan malu-malu mention ke kaiuero biar gue mau nulis:" /gapenting.

jadiiiiii maaf kalo fic ini sedikit mengecewakan quq

gue gabanyak curcol deh mau selesaiin fic yang lain dulu

hope you like it, see you in the next chapter!

kkkkk rivaichin kkkkkkkk