.

.

Kuroko No Basket is not my own. It's written by Noburo Takagi-sensei.

Kuroko No Basket!Manga and Light Novel is not my own as well. It's written by Fujimaki Tadatoshi-sensei.

But this fic is my own fic,

hope you like it!

.

.

"[Name]-cchi, tunggu ssu!" teriaknya, begitu aku keluar dari rumahnya.

Aku berlari kecil, kembali ke rumahku, dengan kepala berisikan pikiran-pikiran yang–sulit dijelaskan oleh kata-kata. Kise tadi bilang kalau ia menyukaiku? Atau tadi, aku salah dengar mengenainya?

Tangan Kise berhasil meraih pundakku, dan memelukku dari belakang. Ia terengah-engah kelelahan sehabis mengejarku. "sudah kubilang, tunggu kan!"

Pipiku sukses merah atas aksi yang ia lakukan terhadapku. Pelukannya bertambah erat seiring waktu, seakan-akan aku adalah sesuatu miliknya yang sangat berharga.

"Kau dengar semuanya, ya?" bisiknya di sela-sela rambutku. Nafasnya yang terengah berhembus hangat mengenai leherku. Aku mengangguk, sebagai balasan. Tidak begitu yakin, sebenarnya. Maksudku, seorang model? Menyukaiku? Sekarang ini, aku pasti sedang bermimpi. "Yang tadi kau dengar itu, benar adanya ssu…"

Ucapannya barusan seakan-akan menamparku sangat keras di pipi. Kucoba untuk mencerna kata-katanya kembali dalam pikiranku, karena ada kemungkinan hal kalau-kalau aku salah dengar. Tapi, akal sehat memaksaku untuk percaya kalau barusan bukan salah dengar. Dan anehnya, aku percaya. Jadi satu hal yang aku tahu: Saat ini, aku sedang tidak bermimpi.

"Aku…..sebenarnya iri, melihat kalian bisa berada dalam satu kelas. Terlebih lagi, kau sekelas dengan Akashicchi, ssu," Katanya dengan suara rendah. "Kau menyukainya 'kan? Akashicchi?"

Lidahku kelu, tenggorokanku kering seketika, tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Apa aku menyukai, Akashi? Atau, perasaan ini sekedar perasaan kagum terhadap seseorang? Aku…..bahkan, tidak mengerti bagaimana perasaanku yang sesungguhnya. Lalu, bagaimana perasaanku mengenai, Kise? Apa aku menyukainya? Kalau tidak, kenapa jantungku berdetak cepat tidak karuan, karena dipeluk olehnya seperti ini? Atau, memang setiap perempuan, akan merasakan hal yang sama saat ia dipeluk oleh seorang lelaki dari belakang, seperti ini? Ada begitu banyak pertanyaan di benakku, sampai-sampai, bingung, pertanyaan mana yang hendaknya kupikirkan jawabannya terlebih dahulu.

Orang-orang bilang, waktu adalah jawaban yang tepat, untuk hal semacam ini. Tapi….apa harus aku terus-terusan membiarkan dan menunggu waktu yang menjawab? Bagaimana kalau, kali ini waktu tidak ingin membantuku untuk menjawab semua pertanyaan yang melintas di benakku?

"[Name]cchi, Daisuki yo."

Ucapannya terdengar begitu lembut. Perlahan pelukannya merenggang, sampai akhirnya ia melepasku. Kise berjalan ke depanku, dan memegang kedua bahuku dengan tangannya. Rambutnya yang pirang bertambah terang, dengan tambahan cahaya matahari terbenam, di balik tubuhnya. "…." Aku masih kehabisan kata, untuk meresponnya. Tolong, maafkan temanmu yang satu ini, Kise.

"Daisuki, yo." Ujarnya sekali lagi, sambil perlahan mendekatkan wajahnya kearahku. Spontan, aku menutup mataku, (yang entah kenapa kulakukan.) dan menyadari kalau bibir milik Kise sudah mendarat sukses di pipiku, yang membuatnya tambah memanas.

"…He?" ujarku agak kaget, kemudian menjerit. " HEEEE!?" Apa Kise sudah hilang akal sehatnya? Maksudku, Ini TEMPAT UMUM.

Ciumannya berlangsung sebentar, ia menarik kembali kepalanya. Seakan-akan baru menyadari apa yang ia perbuat, bisa kulihat semburat merah menjalar di sekitar pipi sampai ke telinganya. Untuk di lain situasi, mungkin itu terlihat lucu. Tapi untuk saat ini, tidak ada yang lucu. Sama sekali.

"E-eh…" ia tampak gelisah sembari menundukkan kepalanya, melihat-lihat aspal yang kita pijak, dan mengusap-usap rambutnya. "[Name]cchi, ayo sana pulang, nanti ibumu khawatir~"

Aku menganggukkan kepalaku dengan canggung. "J-jaa, Kise-kun." Kemudian berlari kecil, meninggalkan Kise sendirian disana.

⊂二二二( ^ω^)二⊃ブーン

"Duh, bagaimana ini? Harus bersikap macam apa di depan Kise-kun–" gumamku pelan. Kejadian yang terjadi kemarin, berlangsung terlalu cepat dan…..awkward.

Begitu sampai di gerbang depan sekolah, aku buru-buru masuk ke dalam, takut kalau-kalau kedatanganku dilihat oleh Kise–yang meskipun hanya terdapat presentase 10% kemungkinan, kalau aku dilihat olehnya–tapi, bersikap was-was bukanlah hal yang buruk kan? He. Lagipula, kenapa aku harus bersikap was-was padanya? TUNGGU. KENAPA MASALAH INI MENJADI SEMAKIN RUMIT?

Untungnya, aku berhasil memasuki kelas tanpa ketahuan oleh Kise, dan menaruh tasku di bangku yang sama. Sebelah Akashi. "Akashi-kun, ohayou."

"ohayou," balasnya, dengan anggukan.

"Ah, Midorima-kun juga, Ohayou!" sapaku, pada pemuda berlumut–maksudku berambut lumut, yang sedang asyik mendengarkan, siaran favoritnya melalui earphone yang ia kenakan. "tidak bosan-bosannya dengan oha-asa, eh?"

Midorima menaikkan kacamatanya, yang merosot, sambil diam-diam melirik kearahku. "kudengar zodiakmu berada di peringkat paling bawah. Kurasa akhir-akhir ini, hidupmu dipenuhi kesialan. Jadi, untuk jaga-jaga Lucky Itemmu hari ini adalah panci penggorengan."

"Oh, ayolah," aku menatap Midorima tidak percaya, sekaligus ingin tertawa terbahak-bahak, tapi kutahan, karena itu tidak sopan. "Aku tidak percaya dengan hal macam itu, Midorima-kun. Tapi terima kasih atas pemberitahuannya~"

"Intinya, aku sudah memperingatimu."

"Oh, ya, Akashi-kun," aku segera mengalihkan pandanganku ke arah pemuda berambut merah itu. "Aku sudah bisa menghapalkan, bagianku. Nanti, waktu di perpustakaan, kau beri aku komentar ya!"

"hm," ia hanya menganggukkan kepalanya tanpa repot-repot, melirik kearahku.

"Ah, Kei-kun, Risa-chan, ohayou!" aku melambaikan tangan kearah mereka, saat memasuki kelas. Kei balas melambai, sedang Risa rasanya tidak mendengarku, karena ia masih berbicara dengan…Kise.

MAMPUS.

Tubuhku serasa membeku di tempat, tidak sanggup berkutik sedikit pun. Kei yang tadi masuk ke dalam kelas duluan menaruh tasnya di bangku sebelah Akashi, setelah itu mengatakan kata yang terdengar seperti mantra: "[Name] tadi dicariin sama Kise, tuh. Kukira kau belum datang, jadi ya kubilang ke Kise, gitu."

MAMPUS.

"[Name]? kau disana?"

ADUH, GIMANA INI!?

"….oi, kau mendengarku tidak?" Kei melambaikan tangannya di depan mataku, membuyarkan lamunanku begitu saja. Eh…tadi aku melamun?

"He? Oh iya," Aku bangkit dari tempatku duduk, dan melangkahkan kakiku ke arah Risa, yang masih asyik berbicara dengan Kise, ntah mengenai apa. "…..Kise-kun, ahoyou"

"Eh?"

Aku menatapnya bingung, memang apa salahnya aku mengucapkan salam selamat pagi? …..TUNGGU, TADI AKU NGOMONG APA?

((Ahoyou))

((Ahoyou))

"EH, MAKSUDKU OHAYOU, EHE." Oke, barusan itu bodoh. Aku ingin mengucapkan kata 'ohayou' tapi dalam pikiranku terlintas bayangan akan kejadian kemarin dimana Kise men…..ah, sudahlah. Lalu, aku mengatakan kata 'aho' dalam hatiku, dan keluarlah kata-kata 'ahoyou'. Well, tapi itu tidak buruk-buruk banget, 'kan?

Kise dan Risa menatapku, dengan menahan tawa sekuat tenaga dengan jiwa dan raga(?). "Ah,mooouuuuu! Silakan saja kalian tertawa!" gerutuku, sambil memanyunkan bibirku, kesal.

"Apa-apaan itu tadi ssu! AHAHAHAHAHA," Kise terbahak-bahak, sambil memegangi perutnya.

"Well, well. Jadi yang disapa hanya, Kise-kun?" Risa menatapku geli.

"Tadi aku menyapamu, tapi kau tidak dengar, hmph."

"Ah, kalau begitu~~ Ahoyou [Name]!" kali ini, Risa nyengir.

"Ahoyou juga, [Name]cchi!" Kise ikut-ikutan.

"ah, moouu!" Aku merasa sedikit kesal sebenarnya, tapi syukurlah, kurasa kecanggunganku tadi hilang dalam sekejap. "ngomong-ngomong kalian membicarakan apa?"

"Ah iya, itu–katanya Kise-kun punya dua tiket gratis untuk nonton bioskop. Ia menanyakanku kalau aku bisa datang atau tidak sama Kei, tapi Kei tidak mau…jadi ya, begitulah." Risa mengangkat bahunya, ringan. "Kau ada waktu luang, malam ini?"

"mm," Aku bergumam, sambil mengingat-ingat jadwalku untuk hari ini. "tidak, kurasa."

"whoa, benarkah?" Entah kenapa kali ini, Kise yang menyahut penuh antusias. "kalau begitu, kau mau menontonnya bersamaku, ssu?"

"um," oke, ini cuma nonton. Lagipula, ini dengan Ki–eh..apa tidak apa-apa untuk menerima ajakannya? Maksudku… "boleh, film apa?" tanpa sepengetahuanku, bibirku bergerak sendirinya. TUNGGU–KENAPA BARUSAN AKU MENJAWABNYA BEGITU?

"Aku tidak tahu ini film apa, tapi kata orang-orang di studio kemarin, yang memberikanku tiket ini, mereka bilang bagus sih," ia menggaruk belakang kepalanya, kikuk. "kalau tidak salah, judulnya fifty shades of grey?"

"Fifty shades of grey!?" Risa membeo, terdengar kaget. Terlihat semburat merah menjalar di sekitaran pipinya, tanpa sebab, dan gerakan tubuhnya yang sekarang ikutan kikuk.

"Risa-chan kau pernah menontonnya?"

"Eh…," Risa menganggukkan kepalanya malu-malu. "Pernah…"

"bagus?"

"Lumayan, tapi a–"

Kalimatnya dipotong oleh deringan bel, yang menandakan waktunya untuk masuk ke kelas. Kise segera melambaikan tangannya dan pergi ke kelasnya. Aku dan Risa balas melambai, kemudian berjalan menuju tempat duduk kami masing-masing. "Risa-chan, tadi mau ngomong apa?"

"….." ia terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawabnya. "Bukan apa-apa, lupakan saja, ehehe." Dan memutuskan untuk tidak menjawab, pertanyaanku.

Oke. Ini. Aneh.

ヾ( ゚∀゚)ノ゙

"Jadi, pewarisan sifat adalah–" aku menjelaskan arti-arti pewarisan sifat yang sudah kepelajari dari hari-hari kemarin. Tanganku kugerakkan bebas di udara, untuk membantuku menjelaskan hal-hal yang memang butuh gerakan. "—jadi intinya, jika kalian menyilangkan heterozigot dengan heterozigot, hasil perbandingannya pasti 9 –eh…berapa ya –" Sampai akhirnya di bagian terakhir, aku melupakan satu hal penting. Hasil perbandingan.

"9:3:3:1"

"oh, ya. Itu maksudku," kembali ke acara latihan presentasi aku melanjutkan ke bagian penutup. "—pasti 9:3:3:1. Dan, sekian dari presentasi kami. Semoga bermanfaat, terima kasih."

Akashi terdiam sejenak. "lumayan," ucapnya pada akhirnya, yang membuatku setidaknya ingat kembali bagaimana caranya bernafas. "pelajari lebih lagi. Besok, hari terakhir waktunya untuk latihan. Jadi, kuharap kau tidak akan mengecewakanku."

Aku menyengir kearahnya. "tidak akan!"

"Ah, iya, [Name]?"

"hm?" sahutku.

"Kau menyukaiku kan?"

"H-hah?" tanyaku bingung sekalian kaget.

"Kau yang mengatakannya sendiri, kalau kau mengagumiku dan sebagainya. Benar kan?"

"T-tapi—" aku bisa merasakan sensasi panas menjalar di pipiku; kehabisan kata-kata.

"Kalau begitu jadilah, pacarku."

"…" aku terdiam sejenak; mencerna kata-kata yang diucapkan Akashi tadi. "…EEEEEHH!?"

"tidak mau?"

"bukan tidak mau–" aku menggelengkan kepalaku kikuk. "—maksudku, ini terlalu tiba-tiba. Jadi…bisa kujawab lain waktu?"

"aku tidak suka menunggu—" ia menimbang-nimbang ucapannya barusan. "—baiklah. Sampai kapan?"

"…..sampai waktu yang menjawab?" oke, jawaban macam apa itu.

"satu minggu. Waktumu satu minggu untuk menjawabnya."

キタ―――――――(・∀・)―――――――! !

Aku menghela nafasku pelan, sambil menyeret kedua kakiku di atas tanah menuju jalan pulang. Kemarin, Kise-kun. Kemudian, tadi Akashi-san. Besok siapa? Aomine?

"yo, ochibi-chan."

ASTAGA.

Seseorang itu menepuk kepalaku, lalu mengusap-usapkan tangannya ke rambutku. "tumben aku lihat kau di sekolah, di sekitaran jam ini. Ada latihan?"

Aku mengangguk pelan. "mm," lalu menengok ke arah pemuda itu. "Aomine-kun, kau bau keringat. jauh-jauh sana!"

"—Teme" ia mendecikkan lidahnya kesal dan malah merangkul pundakku, sehingga badannya yang basah akan keringat menempel di baju seragam serta kulit tanganku.

Buru-buru aku mendorongnya untuk jauh-jauh dari dekatku. "AOMINE-KUN JOROK!" bukan—aku bukan mendorongnya karena ia berbau keringat, tapi—keringatnya yang lengket ikut menempel di kulitku, cukup membuat bulu kudukku merinding.

Ia hanya nyengir sambil terkekeh-kekeh. "he, tapi aku kan tidak bau, he."

"ng—Bau banget! Pulang sana, cepat-cepat mandi!"

"Kau juga bau!"

"Bau apa?"

"Bau buku."

"….ppfft—" aku terbahak-bahak atas jawaban yang aku dapatkan. "AHO. Dasar Ahomine."

"tapi aku serius. Pasti kau habis kencan dengan Akashi di dalam perpustakaan."

Kata-katanya barusan seakan-akan telah meninjuku persis di perut. Kencan dengan Akashi? Ha. Itu lelucon paling lucu yang pernah kudengar.

"benar ya?"

"AHOMINE-KUN WA BAKA." Seruku jengkel. "BAKABAKABAKABAKABKABAKABAKABAKA"

"BAKA JANEE YO." Bantahnya tidak terima. "ngomong-ngomong kau kenapa?"

"Aku…." Sekali lagi, aku menghela nafasku. "ditembak." Ucapku tanpa sadar.

"HAH!?" Ia menatapku kaget, bercampur rasa takut dan khawatir. "SIAPA YANG NEMBAK? TUNGGU—KITA HARUS TELPON POLISI—"

"…eh?" sekarang giliran aku yang bingung. Untuk apa menelpon polisi? …Oh. "Aho, maksudku seseorang mengajakku pacaran. Bukan ditembak seperti yang kau bayangkan, Baaaaaaaaka."

"hoo," ia mengangguk-angguk; dumbfounded. "ada ya orang yang menyukaimu? Siapa?"

"Akashi-kun."

Aomine mengerjapkan matanya sambil mengurek-urek telinganya. "siapa?"

"Akashi-kun."

Ia masih mengerjapkan matanya; tidak percaya. "maaf, mungkin aku salah dengar. Coba lagi sekali, siapa?"

"Akashi-kun. YA. DIA AKASHI YANG SELAMA INI MENJADI KAPTEN BASKET TIM PUTRA DENGAN WARNA RAMBUTNYA YANG MERAH, YANG PINTAR DAN SELALU BENAR."

"Serius?"

"duarius."

"sulit dipercaya…."

Aku mengangguk setuju. "memang."

"lalu, kau terima?"

"…belum kujawab."

"kau tahu," ia berdeham kecil. "sulit rasanya percaya kalau seorang Akashi bisa menyatakan perasaanya ke seorang gadis—konyol seperti kau. Maksudku, selama ini kita—yang bahkan anggota basket di timnya, tidak begitu tahu-menahu mengenainya. Sedangkan kau—saking hebatnya bisa duduk disamping Akashi, menggantikan posisi Midorima. Bukankah, dari hal semacam itu, menurutmu kau ini spesial, di matanya?"

"spesial?"

Ia menganggukkan kepalanya. "dia juga tanya tentang apa yang kau pikirkan mengenainya, kepadamu kan?"

"eh?" aku sedikit kaget, mendengarnya. "darimana kau tahu?"

"aku ada di belakang kalian saat itu."

"o-oh." Aku mengangguk canggung. "lalu hubungannya dengan hal itu, apa?"

"Karena dia menanyaimu. Bukan Risa, yang bahkan berdiri disampingmu."

"…."

Spesial ya…


haaaii! maaf gue baru apdet lol. maaf juga mungkin mengecewakan. abis gue sibuk banget:" /halah

oh iya, gue baru sadar selama ini gue nulis kurono no basket di chapter2 sebelumnya atau fic yang lainnya karena urusan itu psti gue coppas. so.

udah segini aja ya, see you in the next fic!

P.S untuk yang punya acc OCRP join haitachihs yuk ;) seru lho. rencana mau bikin bikini event lolololol yuk yuk!