"bagaimana?" tanya Robin, yang sedari tadi berdiri di balkon depan ruang kesehatan bersama Nami "apa si bodoh itu mengerti ?" tambah Nami
"Sanji, daging !" mintanya tiba-tiba sambil berteriak, para gadis hanya menghela nafas menganggap kelakuan itu sebagai jawaban 'tidak' mengkasihani kaptennya Sanji hanya menurut, masuk ke dapur dan mmembuatkan beberapa makanan untuk kaptennya yang sedang merajuk.
Tanpanya dia merasa tidak bisa melakukan apapun, jika Zoro tidak disampingnya...
"aku tidak akan kalah lagi!" teriak pendekar pedang yang kalah melawan musuh terkuatnya , mengangkat pedangnya ia berteriak dengan keras dan lantang, namun ia menagis "jika aku tidak menjadi pendekar pedang terkuat di dunia kau akan kerepotan bukan?, naa..raja bajak laut ?"
Melihatnya menangis sepeti itu menyobek hatinya. Meski masih ada rasa bangga juga, Zoro tidak menangis karena kekalahannya juga tidak menagis karena rasa sakit di dadanya yang robek mengeluarkan banyak darah. Tapi dia kesal, dia kesal karena belum bisa mendampingi kaptennya dan terhambatnya cita-citanya demi memenuhi janji temannya .
Setelah kejadian itu, ia mengalami demam yang parah saat menghadapi Arlong, terinfeksi oleh jahitan yang dilakukannya sendiri terhadap dadanya yang robek, setelah sampai ke Green Line ia hampir memotong kedua kakinya dengan alasan 'kedua lengannya lebih penting' untuk mengalahkan musuh pada saat itu untuk melindungi teman-temannya.
" kau pikir seberapa kesal diriku ?"
Tidak hanya itu, saat mereka di Thiller Bark tiba-tiba ia terluka parah dengan darah dimana-mana. Sanji, Robin, dan Brook menutup mulut pada Luffy. Banyak hal gila yang dilakukannya bahkan untuk Luffy yang sering melakukan hal gila tapi pendekar pedang itu lebih gila.
Yang masih membuatnya trauma, saat Zoro menghilang dihadapannya dengan badan penuh luka dan perban akibat terkena serangan Kuma .
"kesal, hampir membuat sesak "
"tidak maslah bukan?" kata Nami saat Luffy menguluh mengenai kejadian di Thiller Bark "rahasia yang disembunyikannya tidak selalu buruk " katanya
"aku mengeryi, tapi aku ingin terikat dengannya, aku ingin mengetahui semua tentang dirinya. Sampai hal-hal yang tidak diketahui Zoro sendiri"
"ada apa dengannya ?" tanya Zoro pada dirinya sendiri, ia bisa mendengar teriakan Luffy yang minta daging di luar sana "tidak biasanya ia memakai kalimat-kalimat sulit seperti itu"
Ia bergumam sendiri sambil melamun, sampai pintu kayu terbuka lagi "yo" sapa orang yang baru masuk, suara yang sangat familiar baginya, suara koki yang selalu membuat masalah dengannya
"kali ini apa?" tanyanya tidak ramah
"pudding " jawab Sanji pendek, memberika mangkok yang dari tadi di bawanya "seperti biasa kau bodoh" ejeknya tiba-taba bersamaan dia duduk di tepi ranjang
"ha?" Zoro mulai memelototinya
"maa..mungkin bisa di bilang tidak peka" ia mengkoreksi kata-katanya
"maksudmu Luffy ?" Zoro mulai memotong pudingnya dengan sendok, lalu memasukan ke mulut ia bisa merasakan rasa manis susu dan strawberry berputar di mulutnya
"dia kesepian "
"dia?" bertingkah seolah tidak peduli ia mengunyah dan memotong sebuah lagi
"...selama kau tidak ada dia tidak memperdulikan kami " Sanji mulai memakai kalimat-kalimat yang mulai tidak dimengertinya, sama seperti Luffy tadi "meskipun pesta dia lebih memilih merawatmu dengan cara bodohnya " katanya tidak berarti, meski sebenarnya ia membicarakan pesta makan di Thiller Bark
"rasa hormat dan suka, apa aku bisa membedakannya?...atau bahkan apakah aku memiliki rasa 'suka' itu?"
"ah..meski ada juga orang yang mengkhawatirkanmu di sini.."gumam Sanji "kau masih akan memilihnya huh?"
"dia kapten, apa yang bisa kupilih?" ia memakan potongan terakhir "apa yang sedang kau bicarakan ?" ia masih berpikir jika yang dimaksud Sanji adalah 'teman-temanya juga mengkhawatirkannya bukan hanya Luffy' meski sebenarnya si koki mengatakannya secara individu
"kau ingin membuat dirimu spesial di matanya " Sanji mengambil mangkok kosong "dan sekarang kau sangat 'spesial' dimatanya"
"aku,aku tidak seperti itu!" sangkalnya, mukanya memerah padam "Cook, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak"
"ha ha ha "Sanji menertawakannya "saat ini kau sama sekali tidak terlihar seumuranku"ejeknya, sambil berdiri lalu mengacak-acak tambut hijau Zoro "kau jadi seperti bocah seumuran Luffy dan Usopp, atau bahkan leih bocah lagi "
"diam!" Zoro menampik tangan Sanji "aku bukan bocah " ia cemberut seperti anak kecil, tidak bisa menahan tawa Sanji malah semakin mengacak-acak rambutnya makin keras "hei!" protesnya
"...pikiranmu dangkal, tidak sepertiku yang gentleman" menjauhkan tangannya dari kepala Zoro
"pak tua" oloknya sebelum koki itu keluar dari ruangan
"lebih baik dari pada bocah " balas Sanji sebelum menutup pintu
