"Luffy?" Suaranyanya menggema di ruang luas berisi barang ronsokan miliki Usopp dan Franky, tidak ada siapapun di dalam "tidak ada, kemana dia ?"gumamnya sambil menutup kembali pintu bengkel dan kembali mencari di tempat lain
Rasanya sangat gelisah, saat memikirkannya sampai membuatnya sesak nafas karena panik. Ada apa dengannya hari ini? Luffy itu bocah nakal yang senang berlarian kesana-kemari lalu menghilang seenaknya, ini bukan pertama kalinya .
"tapi kenapa?..."
"he..apa kau menyukainya ?"
"ma,mana mungkin!"
"hmm…jika tidak kenapa kau terlihat sedih dan khawatir sekali ?"
"iya ini Cuma perjalanan keluarganya "
"itu tidak akan lama"
Tiba-tiba saja ia teringat masa kecilnya, saat dia masih di Dojo. Ia mendengar pembicaraan para gadis di halaman membicarakan laki-laki yang pergi berlibur bersama keluarganya dan tidak akan pulang untuk beberapa minggu. Itu hanyalah pembicaraan yang tidak penting dan tanpa sengaja ia dengar, kenapa di saat seperti ini ia mengingat sesuatu yang bodoh?
…
"Luffy!" badannya bergerak sendiri, tiba-tiba menangkap lengan si pemilik nama "mungkin aku memang bodoh…"katanya dengan suara lirih "dan…ini hanya keegoisanku..kau bisa membenci setelah, aku mengatakan ini"pendekar pedang yang berani menantang musuhnya dengan mantap namun sekarang bahkan tak berani menatap wajah bocak topi jerami it. Ia bahkan tidak berani melirik, selama ia berbicara ia hanya meunduk memandang kakinya sendiri"tapi setelah aku mengatakan ini lupakan...kau mengerti Luffy?"mintanya seolah memohon. Sejenak ia berhenti berbicara dan menghela nafas panjang menyiapkan mentalnya,untuk mengatakan hal seperti ini dakan membuang hubungannya dengan kapten yang ia hormati atau bahkan ia bisa keluar dari kelompok ini.
"…aku…menyukaimu" katanya hampir berbisik, bersamaan dengan ia melepas gengaaman tangannya "…" Luffy diam tidak mengatakan apapun. ,memberanikan dirinya ia mencari wajah kaptennya dengan melirik ke atas "hanya itu yang ingin kukatakan" lalu menghela nafas lega seolah bebannya hilang
"apa kau tahu apa yang sudah kau katakan padaku ?"
"aku tahu…"
Suasananya mulai membeku dengan kaku Zoro mendekati anak tangga "kalau begitu.." sebelum ia menyentuh pegangan tangga, ia mundur kembali merasa kerah belakang di tarik "aku tidak akan melupakannya!" seru yang di belakang semangat sekali dan itu membuatnya melonjak kaget "a,apa?"
"setiap kata, setiap gerakan, dan suaramu saat mengatakannya…aku tidak akan melupakannya"
"eh?, kenapa?..."
"tidak mungkin aku membencimu"
"!"
"karena aku sudah menyukaimu"
Di saat yang bersamaan Luffy memeluknya, ia masih membeku saat mendengar bisikan jawaban yang dipikirnya tidak akan pernah ia dengar
"baiklah,apa kalian sudah selesai ?"
Lebih membeku lagi saat mendengar suara gadis berambut orang dari depan kamarnya bersama yang lain "Luffy kau berisik sekali " omel Usopp dengan mata mengantuk. Kelihatannya tidak hanya Nami yang terbangun karena teriakan Luffy tapi semuanya keluar dari kamar. "Marimo berterima kasihlah padaku" kata Sanji dengan wajah bangga "KENAPA?" teriak Zoro tidak mengerti apa yang di pirang itu coba banggakan"kau sama sekali tidak membantuku!"
"kupikir aku membermu beberapa nasehat "
"SUPEER MENGHARUKAN" teriak Franky dengan gaya anehnya diikuti Chopper
"izinkan aku memainkan lagu romantic kalian berdua" tambah Brook
"ide bagus " Robin mengangguk setuju sambil tersenyum
Satu kapal sudah melihat semuanya, hari ini adalah hari paling memalukan bagi Roronoa Zro si pemburu bajak laut, menutupi rasa malunya ia mendorong Luffy menjauh sambil memarahinya "dasar berkatmu kita menjadi tontonan!"
"shi shi shi" bocah itu hanya tertawa dengan gaya khasnya, menikmati reaksi si pendekar pedang yang malu memerah sampai lehernya itu"hei mari kita rayakan " serunya mendongak ke langit-langit lalu ke teman-temannya
"HA!?" kelihatannya hanya Sanji dan Zoro yang tidak setuju dengan ide bagus kaptennya itu "aku ingin tidur, koki harus bangun pagi tahu!" omel Sanji
"Luffy apa yang dirayakan ?!, mereka sudah melihatnya dan..dan.."
"ZORO!..." Chopper segera berubah menjadi 'human point' dan menangkap pendekar pedang yang ambruk dengan muka merah padam lebih parah dari sebelumnya (tingkahnya seperti Hinata dari Naruto)
"dia terlalu malu" kata Nami santai sambil melambaikan tangannya ke atas dan bawah seolah tidak peduli dengan ambruknya si pendekar pedang " kita simpan saja untuk besok kapten "
"HE.." keluh Luffy kecewa
"kau hanya ingin makan bukan ?" tambah Usopp membaca otak kecil bocah itu
"hehehe…"
Hari itu adalah hari di mana Zoro akan berjalan di samping kaptennya, bukan di belakangnya. "kau milikku Zoro.."katanya dengan senyum bodoh khasnya "dan kau tidak boleh meninggalkanku..apapun yang terjadi" sesuai karakter bocah egois itu. Mungkin selamanya ia akan terikat dengan Luffy meski dia tidak menginginkannya lagi terutama saat ia sendiri yang mengatakan perasaannya, di saat seperti ini dia hanya menghela nafas dan menjawab "jika kau bilang begitu kapten…"
