Hi there!
Makasih buanyak buat yg udah review, makasihsih banget banget udah mau baca fanfic saya hehe
Nah, sebenernya saya juga nggak ngikutin bleach lagi dari lama. Cuma waktu baca kemarin, tergugah lagi gairah bikin fic setelah melihat Ichigo nge-blush liat Inoue. Sial banget ya Om Kubo, haha.
Soal yang original dan yang nggak:Toushiro jadi zombie memang Om Kubo yang bikin dengan kejamnya dan perang quincy juga original. Keluar dari itu, hal-hal mustahil lain saya yang buat
Sori chapter ini kepanjangan. Sori kata-katanya boring. Hari pertama kerja mempengaruhi tinkgat penulisan saya *halah
So, chapter depan saya usahakan condong ke romantis, agree?
Enjoy
Ichigo keluar dari kamar setelah reuni mengharu biru yang didominasi oleh Inoue. Dia tidak berhenti menangis selama hampir setengah jam. Mereka bercanda sampai langit berubah menjadi orange. Inoue dan Chad masih di dalam, masih mencoba menjejalkan sesendok nasi ke dalam mulut Ishida. Ternyata Ishida memiliki pengaruh besar dalam kehidupan merekan 'kan? Bahkan Ichigo mengakui itu. Setelah banyak terdapat kata-kata maaf, dan beberapa penyemangat dari Inoue, akhirnya mereka memutuskan kembali ke dunia manusia. Tentu saja mereka harus kembali. Tidak pernah ada opsi lain dalam kehidupan bolak-balik dunia Ichigo. Memang apa yang Ichigo harapkan.
Ichigo berjalan pelan melewati beberapa kamar pasien yang masih tampak ramai seperti Rumah Sakit. Bedanya orang-orang di sini lebih suka menggunakan reiatsu daripada obat. Ichigo tersenyum tipis, telintas ide gila di kepalanya. Apakah di sini juga ada mesin minuman otomatis? Ia agak merindukan soda belakangan ini. Ichigo mencoba menelusuri karidor-koridor yang semakin ke dalam semakin sepi. Hanya tinggal satu-dua orang yang bertatapan dengannya. Kemudian ketika Ichigo melihat sebuah benda mirip mesin minuman otomatis, ia nyaris berlari ke arahnya. Ia tidak terkejut saat tahu ternyata itu hanyalah kulkas berisi botol-botol. Yang membuat Ichigo menyesal adalah botol-botol itu berisi organ-organ dalam manusia yang diawetkan dengan cairan yang lebih menjijikkan lagi. Ichigo mengerutkan hidungnya. Siapa orang gila yang menaruh ini di jalan seperti ini? Ichigo mengedarkan pandangannya. Ternyata ia sudah berada pada koridor tergelap yang dilalui sampai saat ini.
Suara air yang membentur lantai terdengar jelas. Ichigo merasa seperti ada di dalam koridor rumah hantu. Ichigo menghadap ke samping, dimana koridor itu tampak seperti tak berujung. Hanya ada kegelapan. Dalam situasi manapun, orang normal akan ingin tahu apa yang ada di ujung lorong. Ichigo berjalan sembari meneliti, suara langkah kakinya bergema bercampur tetesan air dari pipa yang bocor. Koridor ini begitu sepi. Dan ketika Ichigo melihat sinar matahari yang berusaha masuk dari celah sempit yang tinggi di sampingnya, jidatnya terbentur sesuatu yang keras. Ichigo menggeram, ternyata ada sebuah kaca yang hampir kasat mata jika saja Ichigo tak melihat aliran reiatsu di tengahnya. Ichigo mengerutkan kening pada benda aneh ini. Dan tentu saja insting shinigaminya berkata bahwa benda apapun ini akan terbuka dengan reiatsu. Ichigo mencoba meletakkan tangannya pada kaca itu dan berkonsentrasi mengalirkan reiatsunya.
Nihil.
Ichigo mengulum bibir, mau menantangku ya? Ichigo mencoba lebih memberikan aliran reiatsu yang lebih deras dan kaca itu terbuka menjadi dua layaknya sebuah pintu. Ichigo tersenyum bangga. Hm, memang apa yang ada di dalamnya sampai harus melewati pintu kaca yang harus mendapat reiatsu yang besar? Maka pastilah tak sembarang orang boleh masuk ke sana. Well, yang pasti Ichigo bukanlah orang yang sembarangan.
Ichigo kini agak bergairah. Dia meneruskan berjalan dalam koridor yang gelap dan langkahnya behenti ketika di depannya terdapat beberapa pintu kamar. 3 pintu kamar yang tampaknya sama-sama misterius. Ichigo mencoba melihat ke pintu paling kiri, ia mengintip dari balik kaca kecil di pintu. Detik itu juga, matanya melebar. Napasnya nyaris tersekat ketika apa yang ada di ruangan itu membuatnya ingin muntah. Ichigo memang seorang petarung, tapi melihat bagaimana organ-organ dalam serta otak yang ditempatkan terpisah tak jauh dari sesosok tubuh membuatnya berpikir ia ingin muntah. Dan tubuh orang itu sedang 'disambung kembali' oleh beberapa orang. Ichigo menyipitkan matanya, orang itu memiliki jenggot yang panjang. Tampak tidak asing.
Ichigo mengalihkan pandangannya, ia menggigit bibir gelisah. Yamamoto Genryuusai suah mati. Lalu kenapa tubuh beserta bagian-bagian lainnya ada di dalam sana? Ichigo berusaha mengintip kembali, dan tak sengaja matanya bertemu dengan mata salah seorang di ruangan itu. Ichigo segera menunduk.
"Shit," ia mengumpat. Ichigo berjalan dengan hati-hati, ia ingin segera pergi dan menanyakan hal ini pada siapapun orang di luar sana. Tapi ia penasaran dengan pintu yang ada di tengah. Ia mencoba mengintip, yang tentunya sudah menyiapkan mental jika ada hal menjijikan lain telah menantinya.
Kosong.
Ruangan di dalamnya hanya berisi peralatan medis yang aneh-aneh. Ichigo mendengus, mungkin ia terlalu paranoid. Ketika akan melangkah pergi, samar Ichigo mendengar sebuah suara. Ia berhenti karena yang ia dengar adalah suara normal. Seperti—suara dengkuran? Ichigo berjalan mendekat ke pintu terkakhir, tak ada kaca yang menjadi perantara pengintipannya. Dengan perlahan Ichigo mencoba membuka pintu namun pintu tidak tidak bergerak sesenti pun. Ichigo mengertkan dahinya, kemudian meletakkan tangannya ke gagang pintu dan mengalirkan reiatsunya. Lebih besar dan lebih besar. Akhirnya pintu itu terbuka.
Ichigo melangkah masuk dengan hati-hati, ia tidak bisa menebak kalau salah menginjak organ dalam dan semacamnya nanti. Tapi yang ada dibawah kakinya hanyalah lantai marmer biasa yang dingin. Namun Ichigo lebih tertarik pada ruangan ini. Angin dapat masuk ke dalam ruangan krena jendela besar yang sudah setengah terbuka. Udara di ruangan ini terasa segar, beberapa kelopak bunga sakura menerobos jendela dengan anggun.
Rukia?
Hanya itu yang Ichigo perhatikan sedari tadi. Gadis itu tertidur di samping ranjang dengan mengeluarkan suara dengkuran yang agak keras. Menjelaskan suara misterius tadi. Ichigo berjalan mendekat ke ranjang yang disisi-sisinya penuh alat medis.
Niatnya untuk membangunkan Rukia, tapi udara terasa menyusut drastis saat Ichigo melihat apa yang terbaring di ranjang itu. Ichigo hampir saja berhenti bernapas.
Toushiro Hitsugaya terbaring dengan banyak benda ganjil menempel pada tubuhnya.
"Ichigo?"
Ichigo menunduk dan mendapati Rukia tengah terbangun dari tidurnya. Tangan kanannya masih memegang sebuah buku using yang ditemukannya pagi ini. Sepertinya dia baru saja selesai membaca(kannya).
Rukia menguap lebar, "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rukia dengan mata setengah tertutup.
Ichigo masih berusaha bernapas dengan normal, ia memandang Rukia dengan tatapan takjub. "Apa yang kau lakukan di sini? Dan apa yang dia (Ichigo mengarahkan telunjuknya pada Toushiro) lakukan di sini?" Ichigo bertanya.
Rukia sudah berubah lebih fokus, dia benar-benar sudah bangun dari alam mimpi. Rukia menoleh ke belakang, melihat pintu yang masih terbuka. "Kau membukanya?"
"YA!"
"Dengan reiatsu?"
"YA!"
"Sebenarnya mau apa ke sini?"
"Damn, dia sudah mati, Rukia!" Ichigo setengah berteriak. Tangannya menunjuk-nunjuk Toushiro dengan tidak sabar.
Air muka Rukia mengeras, terdapat sedikit kegelisahan di sana. "Dia… dia tidak mati," jawabnya lirih.
Ichigo melengkuh keras, ia mengguncangkan bahu Rukia berulang kali. "Kau tidak melakukan hal gila seperti kamar sebelah bukan? Dia sudah mati Rukia, sadarlah!" Ichigo berteriak.
"Dia tidak mati!"
"Kau yang membunuhnya! Bagaimana bisa kau bilang dia tidak mati!?"
Udara terasa menyusut tak bersisa. Mendadak atmosfir ruangan ini menjadi sangat tak nyaman. Hening lama. Kaliamat itu menggantung di udara seakan mencengkram kerongkongannya. Ichigo tak bermaksud mengatakan itu. Tapi kata-kata itu meluncur keluar begitu saja dari mulutnya. Hal yang sebenarnya ia pendam, bahwa ia sebenarnya kecewa atas kematian Toushiro yang saat itu menjadi zombie. Dan Rukialah yang berhasil mengalahkannya. Tapi sayangnya mengalahkan disini artinya membunuhnya. Jadi, apa yang harus Ichigo pikirkan? Dia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa ketika itu dan mengarahkan seluruh emosinya pada Juha Bach.
Mata violet itu memancarkan sakit hati. Ichigo ingin mati saja saat melihatnya. Tapi Rukia tak bergeming, dia bukan tipe orang yang menangis dengan mudahnya. Rukia masih memperlihatkan ke-Kuchiki-annya sore itu. Gadis itu masih sanggup menaikkan dagunya, keangkuhan klasik yang sangat menarik.
"Tapi dia bernapas sekarang," jawab Rukia datar.
Ichigo mengendurkan otot bahunya yang tegang, ia melirik Toushiro. Dada orang itu memang naik turun, suara napas yang teratur memenuhi ruangan sunyi ini.
"Tapi Matsumoto jelas mengatakan jantungnya berhenti, reiatsunya sudah musnah," Ichigo terus berbicara.
Rukia bernapas berat, "Karena aku menusuk jantungnya. Aku yang membekukkan hatinya," jawab Rukia nyaris tak terdengar.
Ichigo di buat bingung di sini. Ichigo memang tidak melihat pertarungan mereka berdua. Ia datang tepat saat zanpakutou Rukia menembus dada Toushiro. Bukan sebuah pemandangan yang mengenakkan.
Ichigo tidak tahu apa lagi yang harus dipikirkannya sekarang. "Kau tidak sedang mencoba membuatnya hidup kembali seperti yang mereka lakukan pada Yamamoto Genryuusai bukan?"
Rukia menundukkan kepalanya.
"Kuchiki tidak sedang merekontruksi tubuh kapten seperti yang mereka lakukan di sebelah," kata sebuah suara.
Matsumoto berjalan memasuki kamar, Hinamori ada di belakangnya. Matsumoto melempar tubuhnya di sofa, dan tangannya mengambil apel di meja dan mulai mengunyahnya.
"Aku tidak tahu kau bisa sampai ke sini bagaimana caranya. Tapi yang kau lihat di kamar sebelah adalah hal yang berbeda dengan apa yang ada di sini," kata Matsumoto agak keras.
"Jadi… what the fuck is going on here?"
Matsumoto menggigit bagian paling besar pada apel itu, "Koridor ini sebenarnya diisolasi. Orang dengan kemampuan reiatsu rendah tidak bisa masuk. Karena penelitian di sini adalah illegal. Kapten Mayuri mencoba merekontruksi ulang tubuh Yamamoto Genryuusai dengan mencoba teori yang para quincy itu gunakan untuk membuat zombie. Sedangkan Kaptenku beda cerita," jawab Matsumoto lancar.
Ichigo menahan napas jengkel, "Dan itu adalah?"
Hinamori bersuara lebih cepat daripada Matsumoto, "Shiro-chan sebenarnya sudah mati. Saat menjadi zombie, Kuchiki-san berhasil mengalahkannya. Elemen Kuchiki-san yang es adalah penyelamat Shiro-chan. Karena ternyata ia bisa mengahancurkan zombie itu dengan membekukan hati Shiro-chan. Memang sebab itu jantungnya tidak berdetak lagi. Tapi dia hidup," Hinamori berpanjang lebar.
Ichgio mengerutkan alisnya, "Mungkin kau bisa ulangi dengan Bahasa manusia?"
Matsumoto tertawa pelan, "Intinya Kuchiki sebenarnya menyelamatkan kapten. Dia membunuh zombie yang ada dalam tubuh Hitsugaya, tapi tubuh kapten ikut mati."
Hening lagi. Tak ada yang berani membuka mulut. Ichigo menjadi semakin bingung. "Lalu sekarang apa? Dia tidak akan bangun?"
"Dia akan bangun!" suara Rukia mengagetkannya. Dia menghela napas berat. Memutar tubuhnya menghadap Toushiro yang masih terbaring. "Dia pasti bangun."
Hinamori mengelus pelan bahu Rukia, menenangkannya. Ichigo memandang penuh simpati, ia sedang berusaha mengerti perasaan Rukia saat ini.
"Jadi tidak ada orang yang tahu tentang ini?" tanya Ichigo.
Matsumoto mengangkat bahu, "Semua mengira kapten Hitsugaya sudah mati. Karena memang tidak ada yang menjamin dia akan hidup lagi," suara Matsumoto semakin memelan.
Terdengar suara sesenggukan dari sampingnya. Ichigo mendapati Hinamori sudah berlinang air mata. Matsumotopun sudah bermata merah. "Kau hanya memperburuk keadaan di sini, Ichigo," kata Matsumoto implisit.
Ichigo bisa menerima kata-kata itu padanya. Malah, rasa bersalah menjalari seluruh organ tubuhnya ketika melihat Rukia. Rukia masih berdiri kaku di samping ranjang, dia tidak menangis. Tapi pandangan matanya saat ini, sungguh mirip ketika ia harus mengucapkan selamat tinggal pada Ichigo dulu. Ingin sekali rasanya Ichigo mencoba membuatnya tenang, tapi ia tahu keberadaanya di sini salah. Terlebih Ichigo sudah membuat Rukia sakit hati.
"Kalau begitu aku pergi dulu," Ichigo mendapati dirinya berbicara berlawanan dengan keinginannya.
"Yeah," sahut Matsumoto seraya tersenyum tipis.
Rukia melangkah masuk ke halaman rumahnya. Rumahnya hanya mengalami kehancuran yang tidak banyak, tak perlu repot-repot memperbaiki secara keseluruhan. Rukia berjalan gontai melewati rerumputan hijau menyebrangi halaman. Angin berhembus pelan, terasa sangat sejuk ketika melewati paru-parunya. Rukia berhenti berjalan ia memutar tujuannya dari kamar ke halaman belakang. Setelah memutari rumah yang sebesar lapangan, Rukia sampai ke belakang. Halaman belakang tak tersentuh kerusakan sedikitpun. Rukia tersenyum tipis, ia berjalan menuju pohon paling besar di sini yang sedang sibuk menggugurkan kelopak bunga sakura. Rukia duduk bersandar pada batang pohon yang lebar. Kulit kayu yang kasar menggesek punggungnya tak nyaman. Tapi Rukia menikmati malam ini.
Kepalanya pening sepeninggal divisi 4. Ichigo membuat semuanya terasa berat saat ini. Rukia menghela napas panjang lagi, aroma khas musim semi yang terdiri atas rumput basah dan wangi sakura bersatu membuat pikirannya rileks. Langit terbentang luas dengan sedikit bintang, tak ada awan dan bulan purnama merupakan hal paling menonjol di langit. Rukia tersenyum tipis, ia ingin sekali menangis. Tapi ia tidak bisa. Sakit hati sudah meradang memblokir pikirannya. Air matanya tidak bisa keluar karena semua ini sudah terlampau buruk.
"Apa yang terjadi?"
Rukia menoleh. Byakuya sudah memakai kimono tidur berwarna biru gelap. Dia berjalan dengan menyeret kaki, kemudian ikut duduk di samping Rukia.
Rukia mencoba tersenyum, "Apa aku membangunkanmu?"
"Aku juga baru pulang, tenang saja," jawab Byakuya.
"Kenapa sampai larut sekali?"
Byakuya megangkat bahu sedikit, "Ada rapat para kapten tadi. Sepertinya besok ada keputusan besar."
Rukia bahkan tidak ingin tahu. Ia terlalu lelah hari ini.
"Kau sendiri? Masih ke tempat Hitsugaya?"
Mendengar namanya membuat Rukia bergidik. Dengan dalih lelah, Rukia mengatakan ia ingin segera tidur. Menghadapi Byakuya sekarang membuatnya tampak seperti pengecut. Tapi Byakuya menahan tangannya, membuatnya duduk kembali di atas rerumputan yang basah oleh embun.
"Mungkin… kau bisa cerita padaku," kata Byakuya sedikit tersendat. Rukia menatap kakaknya, ada semburat tipis merah di pipinya. Rukia tidak tahu entah mengapa Byakuya lebih terbuka padanya semenjak bertarung dengan As Nodt. Rukia curiga ketakutan terbesar apakah yang dimiliki Byakuya.
Rukia tidak membuka mulut untuk menjawab, sebagai gantinya dengan mengumpulkan seluruh keberanian dan menyingkirkan rasa malunya, Rukia mencoba memeluk Byakuya. Tentu saja sang kakak terkejut, tapi tidak berlebihan untuk saat ini. Dada Byakuya terasa hangat melingkari tubuh kecil Rukia. Byakuya mengelus rambut Rukia pelan. "Itu bukan salahmu."
Rasanya sudah ribuan kali Rukia mendengar kata-kata itu dilontarkan oleh Byakuya. Tapi rasanya tetap sama. Itu memang salahnya. Jadi Rukia akan menganggap ini sebagai penghibur saja. Daripada Rukia bersikeras bahwa itu merupakan salahnya, sama saja buang-buang napas berdebat dengan Byakuya Kuchiki.
Karena Rukia tidak merespon, jemari Byakuya menyentuh dagu Rukia, mengangkat wajahnya agar mereka bisa saling bertatapan. "Dia akan bangun, aku yakin."
Mata Rukia melebar. Itu bukan salahmu memang sudah basi. Tapi ketika Byakuya mengatakan dengan nada yakin bahwa Toushiro akan bangun, sungguh melambungkan harapan Rukia kembali. Rukia tersenyum tipis, ia semakin erat memeluk tubuh kakaknya. Bergelingsut mencari kenyamanan yang sekurangnya bisa membuat hatinya lebih tenang. Meski masing-masing dari mereka berwajah merah, inilah pertama kalinya hubungan kakak-adik ini terasa nyata.
Ichigo menguap lebar. Matahari sudah tinggi ketika ia berjalan-jalan keluar. Sambil menggaruk bokongnya yang gatal, Ichigo berjalan malas berkeliling Seireitei. Ia baru saja selesai menjenguk Ishida yang menurutnya sangat baik-baik saja, tapi Unohana bersikeras kalau Ishida belum sepenuhnya 100%. Siapa yang peduli, orang itu sudah bisa makan dan beradu mulut serta fisik dengan Ichigo, seharusnya ia akan baik-baik saja seandainya dilempar kembali ke dunia manusia sekarang.
"Aku lapar," kata Chad tiba-tiba. Ichigo memandang sinis padanya, "Kupikir kau baru saja memakan separuh sarapannya Ishida?"
Inoue tertawa kecil, "Mungkin Chad sedang dalam masa pubertas."
Ichigo tertawa, ia menoleh ke belakang tepat pada Inoue. "Yang kau maksud masa manula?"
Ichigo dan Inoue menertawakan Chad tepat di depan hidungnya dan dia tidak bergeming sama sekali. Membuat tawa mereka berdua berangsur-angsur pudar. Ichigo berwajah malas, "Nanti malam 'kan ada pesta untukku. Kau pasti juga dapat jatah yang banyak."
Inoue bergerak-gerak antusias, "Asiiik! Pesta! Bagaimana ya pesta di Soul Society itu? Apakah para hantu juga akan datang?"
Ichigo hanya tersenyum mendengar spekulasinya. Inoue sadar Ichigo tersenyum mendengar perkataannya. Wajahnya berubah merah seperti biasa. Lalu Ichigo harus seperti apa? Bukankah biasa ia juga tak akan menanggapi hal yang sudah jelas ini?
"Oi!"
Mereka mendongak ketika ada beberapa orang bersunpho ke arah mereka. Renji berhenti di depan mereka, ia meringis berseri-seri. Segera orang itu merangkul Ichigo dengan bersemangat, "Aku tidak sabar pestanya! Ahh, aku merasa ini seperti pesta kemenangan terbesar yang pernah Seireitei capai."
Tentu saja. Kemenngan besar selalu disertai korban yang besar pula.
"Aku dengar para kapten juga akan memutuskan sesuatu nanti. Kurasa akan ada pesta beesaaar," Hisagi menimpali. Ichigo melihatnya, dan baru sadar Rukia berdiri di belakang orang itu.
Ichigo tertawa dibuat-buat, ia menggaruk belakang kepalanya. "Jadi kalian disini hanya ingin memberitahukanku pestaku akan ramai?"
Mereka bertiga memutar bola matanya bersamaan. Renji mendorong bahu Ichigo, "Kami akan ke luar Seireitei mencari sake!"
"Hahaha, jadi sekarang kalian part time sebagai pembantu?"
Akhirnya Rukia mendengus, "Kau tahu 'kan komandan Soul Society sekarang suka minum-minum?"
Ichigo bernapas lega ketika mendengar Rukia berbicara padanya. Ichigo tersenyum padanya, tapi Rukia masih tak membuat kontak mata dengannya. Ia ingat Kyoraku suka mabuk-mabukkan.
"Whoa, mm, anu… bolehkah kami ikut? Kami sedikit bosan di sini," Inoue berbicara tiba-tiba.
"Tentu saja! Kalian ikutlah—"
"Abaraiii!"
Mereka semua menoleh ke belakang. Hawa pembunuh yang besar bahkan sanggup membuat Ichigo bergerak dengan hati-hati. Kenpachi Zaraki berjalan dengan gaya seorang penjagal. Entah bagaimana orang itu selalu sukses membuat orang yang berhadapan dengannya mengambil satu langkah mundur ke belakang.
"A-apa yang diinginkannya?" Ichigo melihat Hisagi sudah berwajah pucat.
Kenpachi menghentikan langkahnya dengan dramatis tepat di hadapan mereka. Dia melihat mereka seakan melihat segerombolan semut untuk diinjak. Matanya bertemu mata Ichigo.
"Masih hidup rupanya, eh Kurosaki?"
Ichigo tersenyum senormalnya, "Yeah. Kejutan."
"Selamat pagi semua~" Yachiru menyumbul dari balik rambut Kenpachi. Hanya Rukia dan Inoue yang balas menyapa.
Kenpachi melihat lagi, tangan besarnya menarik kerah Renji hingga dia terangkat ke udara. "Kau. Ikut aku."
Renji tergagap-gagap, "T-tapi, tapi kapten Kyoraku menugaskanku membeli beberapa sake untuk nanti malam—gyaa!"
Renji tak meneruskan kalimatnya karena Kenpachi sudah melempar tubuhnya ke udara, mungkin dia akan berhenti tepat di divisi Kenpachi.
Kenpachi melihat lagi, ia menunjuk Chad tepat di depan hidungnya. "Kau tampak jantan. Ayo ikut aku!"
Chad berkeringat dingin, ia menoleh meminta bantuan pada Ichigo yang bersiul berpura-pura tidak melihat.
"U-untuk apa?"
Kenpachi tertawa, "Untuk latihan fisik! Untuk hiburan di pesta nanti!"
Dan tanpa kata okay dari Chad, Kenpachi mengambil tubuhnya seperti mengambil seekor kucing jalanan.
"Sampai jumpa semuaa~" Yachiru melambaikan tangannya semangat sedangkan Chad berwajah sekarat di gendongan Kenpachi.
Ichigo menyesal tidak bisa menolongnya. Ichigo tersenyum, hal-hal macam itu tadi hanya ada di Seireitei bukan?
"Kurosaki-kun apa yang akan terjadi pada Chad?" tanya Inoue cemas level tinggi.
Ichigo menepuk-nepuk bahunya, "Dia tidak akan mati, kok."
"Gosh," Hisagi mendesah keras. Ia mengelap keringat dari pelipisnya. "Kupikir aku akan mati untuk kedua kalinya di tangan orang itu."
Rukia tertawa kecil, "Jangan berlebihan. Kau 'kan hanya sampai mulutmu berbusa saat itu," Rukia menimpali.
"Ha-ha, terimakasih sudah menyuarakan hal itu, Kuchiki." Hisagi merangkul Rukia santai. Ichigo mengerutkan keningnya. Sepertinya hubungan setiap orang di Seireitei semakin erat tanpa sepengetahuannya ya?
"Baiklah. Ayo pergi ke pasar! Meski kacau, pasti tetap ada orang yang menjual sake. Setiap orang butuh pereda stres!"
Di pasar ternyata juga masih ramai. Orang-orang berlalu lalang memperbaiki bangunan yang hancur dan transaksi jual-beli masih berlangsung.
Ada banyaak kesempatan Ichigo meminta maaf pada Rukia. Jika saja Hisagi sialan itu tidak terus merangkul Rukia sepanjang jalan dan membatasi ruang antara Ichigo dan Rukia. Maka siang itu, tak ada bahkan sedikit kesempatan untuk membuka mulut dan berbicara pada Rukia.
Langit luar biasa cerah hari ini. Tidak seperti sebelumnya, langit menghadirkan beribu bintang yang sangat indah di atas sana. Hamparan langit malam yang indah membuat Rukia tersenyum melihatnya. Ia berjalan melewati jalan-jalan Seireitei yang sudah setengah jadi. Angin malam berhembus kencang, membuat sebuah arus kelopak sakura yang tanpa henti mengalir di tengah udara hari ini. Rukia menyedot banyak udara malam saat ini, sampai hidungnya kemasukan kelopak bunga.
"Hmph!"
Terdengar sebuah tawa kecil yang lirih. Rukia menoleh. Byakuya tersenyum menatapnya. "Inilah bedanya kau dan Hisana," katanya tiba-tiba.
Mereka berjalan santai, beriringan ke divisi 10 dimana pesta diadakan. Karena disanalah tempat yang paling luas serta tidak banyak mengalami kerusakan.
"Apa itu?" tanya Rukia.
Byakuya mengerutkan dahinya berpikir. "Kupikir kau lebih liar darinya?"
Rukia ingin sekali menonjok rusuk Byakuya, tapi ia masih belum berani. Rukia hanya mendengus, menyerengai sambil berkata, "Karena itulah aku lebih menarik darinya."
Byakuya tertawa agak keras, bahkan Rukia terkejut mendengarnya. Seumur hidup Byakuya tidak pernah tertawa lebih keras dari desibel yang sama dengan seekor lalat. Bibir Rukia terangkat melihat Byakuya yang semakin baik.
Ketika mereka sampai di depan gerbang divisi 10 yang masih utuh, Byakuya menghentikan langkahnya. Dia menghela napas keras, Byakuya menyentuh bahu Rukia agar mendapat perhatiannya. Rukia mengangkat alisnya sebagai tanda ada apa.
Byakuya tak memandang matanya, "Sepertinya keputusan rapat kapten kemarin akan diomongkan Kyoraku nanti, Rukia."
Rukia menekuk bibir tak mengerti. "Dan?"
Byakuya kini menatapnya tegas. Seperti biasa. Seperti Kuchiki Byakuya yang kharismanya sedang menguasi dirinya. Cukup lama Byakuya hanya diam hingga pada akhirnya Rukia tidak sabar. Perutnya berbunyi sejak meninggalkan rumah tadi.
"Well, susahkah?"
Byakuya tak menjawab. Rupanya usahanya menyusun kata-kata tak membuahkan hasil.
Rukia mengangkat bahu. "Oke, beritahu aku kalau kau sudah bisa."
Rukia mendengar Byakuya menghembuskan napas panjang ketika Rukia meninggalkannya di depan gerbang. Halaman divisi 10 sudah disulap menjadi lapangan pesta. Meja-meja panjang berdiri di pinggiran lapangan, menempel pada tembok. Api pada obor berkobar-kobar tertiup angin, menciptakan cahaya temaram yang cukup menerangi setiap wajah orang yang ada di sini. Di tengah halaman berumput, tergelar sebuah karpet putih segi empat yang kosong menunggu orang menaikinya. Rukia tidak tahu untuk apa benda itu ada di tengah halaman. Suara tawa dan perbincangan yang seru mengudara cukup keras. Halaman sudah penuh sesak oleh orang-orang yang saling bersenda gurau. Rukia bisa melihat orang-orang berjubah putih menggerombol di sudut halaman, sambil tangan memegang segelas sake.
Sebuah tangan merangkulnya erat, "Halo young ladies."
Rukia tersenyum mendengar Hisagi menggodanya. "I'm not that young," sahut Rukia sambil menerima segelas sake dari Hisagi.
"Yah, kau tetap seorang nona muda Kuchiki bukan?"
Rukia meneguk sakenya, rasa segar yang membuatnya nyaman mengaliri kerongkongannya kemudian turun perlahan ke perut. Rukia mendesah lega.
"Hei, jangan ganggu Rukia terus!" Renji berjalan menghampiri mereka. Rukia megerutkan keningnya melihat penampilan Renji malam ini. Orang itu tidak memakai baju. Dadanya yang penuh tato terbuka seakan hal yang sangat dibanggakannya. Dan rambut merahnya tergerai lemas begitu indah.
Hisagi memukul mulutnya sendiri menahan tawa yang akan meledak. Wajahnya merah menahan tawa dan kemudian dia tergelak. "Bhahaha, apa yang terjadi?"
Rukia bahkan kini tertawa, "Apa kau berencana ganti kelamin Renji?" cemooh Rukia.
Renji menggeram jengkel, "Geez, terimakasih pada Kenpachi!"
Suara memekikkan telinga membuat Rukia nyaris terlonjak. Kemudian sebuah dua benda empuk menubruk belakang kepalanya. Rangiku, memeluknya dari belakang. Dia tertawa terpingkal-pingkal melihat Renji sampai matanya berair.
"Kau pikir kau seksi berpenampilan begitu?" tanya Rangiku menghina.
Rukia tertawa, "Aku ingin mimisan melihatmu Renji, lebih baik aku mati saja," kata Rukia. Rangiku ber-high five dengannya.
Renji mengamuk sambil membanting tiap gelas sake yang dia minum dan menyumpahi Kenpachi beberapa kali. Isane, Hinamori, Yumichika bergabung dengan mereka. Setelah menertawakan Renji lebih kejam lagi, mereka tertawa bersama. Mendengar lelucon dari Yumichika yang menghadapi quincy banci.
"Astaga dia bahkan lebih cantik dariku!" seru Yumichika, dia menggelengkan kepalanya mencoba menghapus banyangan quincy itu. "Tapi dia adalah orang paling mesum yang pernah kutemui, iuhh!"
Rangiku menyatakan kalau ia ingin sekali bertemu quincy itu. Rukia tertawa mendengarnya, mengubah mimpi buruk perang kemarin menjadi sedikit humor tidak ada salahnya. Mata Rukia tak sengaja menangkap Hisagi yang hanya tersenyum tipis mendengar berbagai lelcuon yang mereka lontarkan. Rukia menyenggol bahunya, "Semua baik-baik saja?" tanya Rukia bohong. Ia tahu Hisagi ingat Kira yang sudah mati.
Hisagi menghela napas sebelum akhirnya menyunggingkan senyum. "Yeah, semua sudah lebih baik saat ini."
Rukia mencoba tersnyum menyemangatinya. Hisagi tertawa pelan, "Kau tahu. Kau yang kelihatan tidak baik-baik saja sejak perang berakhir."
Rukia mengendikkan bahu cepat, "Selalu ada urusan yang belum selesai bukan?"
Hisagi memandangnya intens, "Terimakasih sudah menanyakan keadaanku." Dan jemarinya menyelipkan sedikit anak rambut ke belakang telinga Rukia. Rukia menatapnya ganjil. Tentu saja terkejut. Tapi ia sudah mewarisi kemampuan mengendalikan ekspresi wajah dari Byakuya.
"Oi!"
Mereka menoleh. Ichigo datang dengan teman-temannya di belakangnya. Selalu seperti pahlawan, tentu butuh orang yang membantu di belakangnya.
"Whoa, whoa… kenapa dia juga berpenampilan sepertimu, Renji?" tanya Yumichika sambil menunjuk Chad yang bertelanjang dada dan rambut basah.
"Karena Kenpachi memaksa kami berpenampilan yang katanya 'laki', untuk bertarung nanti," potong Ikkaku. Pria botak itu datang tiba-tiba dengan telanjang dada juga.
"Bertarung apa?" tanya Hinamori.
"Kalian akan tahu!"
Hawa membunuh itu tepat di belakang mereka. Kenpachi berdiri tegap kaku dengan tubuh berotot yang mengkilap diterpa cahaya obor. Yachiru turun dari kepala Kenpachi dan berlari ke rangkulan Rukia. Mata tajamnya melirik Renji, Chad, dan Ikkaku bergantian.
"Kau, kau dan kau… ayo ke arena!" katanya menggelegar. Napasnya menggebu-gebu seperti banteng yang melihat warna merah.
Renji menelan ludah, "Aku tidak suka ini. Semoga bukan aku yang pertama," keluh Renji. Dia memandang memelas pada Rukia yang senyam-senyum saja melihatnya.
"Tunjukkan kemampuanmu," kata Rukia seraya meringis memberi semangat. Renji tampak terisi kembali, dan segera menyusul Kenpachi ke karpet putih di tengah halaman.
Pertunjukkan adu kekuatan fisik murni. Semua orang bergerombol di pinggi karpet. Rukia menerobos kerumunan orang agar mendapat posisi di depan sendiri bersama Yachiru dan Rangiku. Dan undian pertama, orang yang beruntung menghadapi Kenpachi adalah Renji Abarai. Meski berwajah pucat, Renji menocba bersikap jantan rupanya.
Renji tampak pemanasan, merenggangkan otot lehernya beberapa kali. "Hosh! Aku tak akan setengah-setengah, Kapten!"
Kenpachi tertawa seperti psikopat asli, "Aku akan emamtahkan lehermu, Abarai!"
"Okay, everybody~ Kita mulai pertandingannya! Jangan lupa bertaruh!" Kyoraku berseru dengan wajah merah mabuk.
Sorak sorai penonton memenuhi udara malam itu, ketika Renji mulai menyerang. Dan dengan mudah Kenpachi mengelak, membanting, kemudian menindih Renji yang berteriak kesakitan. Renji tak mau menyerah, dengan hidung mimisan dia berusaha menjegal Kenpachi dan nyaris sukses membuat Kenpachi terjatuh. Kejadian selanjutnya adalah pergulatan laki-laki seperti biasa. Kecuali bagian ketika Renji sudah berwajah sekarat, dia mencengkram celana Kenpachi dan menariknya turun. Rukia tertawa keras. Beberapa orang ada yang berteriak malu, dan sebagian besar tertawa terbahak-bahak saat Kenpachi hanya berdiri dengan celana dalam.
Astaga Renji. Rukia sangat terhibur malam ini.
"Dasar bego," seseorang bersuara di sampingnya.
Ichigo berdiri tak nyaman di sebelahnya, berpura-pura konsentrasi pada pertandingan Renji. "Aku bertaruh untuknya, sialan."
Rukia tersenyum mendengarnya, "Kalau begitu kau akan rugi," sahut Rukia.
"Yeah."
Hening. Renji kena jegal lagi dan terjatuh dengan menyedihkan.
"Hei, Rukia?"
Rukia bahkan tidak menoleh pada Ichigo. Ia juga sedang berusaha keras berpura-pura melihat pertandingan kali ini. Sungguh, Rukia tidak punya muka bertemu Ichigo sebenarnya.
"Hei," Ichigo menyentuh kepalanya.
"Hentikan," kata Rukia cepat. Udara terasa susah masuk untuk bisa bernapas. Rukia memutar, menghadap Ichigo. "Aku memang bersalah, Ichigo."
"Menurutmu."
"Kau bahkan mengatakannya dengan mulutmu sendiri," ucap Rukia cepat. Ia tak bisa menutupi bahwa ia sakit hati pada fakta yang Ichigo arahkan padanya. Bahwa ia memang membunuh Hitsugaya.
"Karena itu aku minta maaf," sahut Ichigo lirih.
Rukia mendongak untuk menatapnya, cahaya obor menyinari sebagian wajah Ichigo yang tulus. Dia kelihatan benar-benar menyesal. Untuk apa? Sebenarnya Rukialah yang menyesal. Mereka berkontak mata cukup lama, sampai ketika Ichigo membuka mulut untuk berkata maaf lagi. Rukia menarik bibir Ichigo jengkel.
"Sudah! Lagipula aku tidak butuh perminta maafanmu," kata Rukia.
Ichigo mendengus, merasa semua sudah baikan kembali ke semula. "Kalau begitu maumu," responnya.
Mereka saling tersenyum. Selalu seperti ini. Setelah bertengkar, lalu minta maaf, lalu semua akan kembali terulang seperti sebuah lingkaran tak berujung. Karena hubungan mereka memang sampai pada titik itu. Selalu sampai pada titik itu saja. Memang apa yang Rukia harapkan? Sebuah tambahan? Karena sesungguhnya itu tidak berguna. Dunia masih memisahkan mereka berdua.
Suara gaungan Kenpachi membuat Rukia sadar, melepaskan pandangan matanya pada Ichigo. Renji sudah terkapar menyedihkan sampai ada orang menyeretnya ke tepian. Kenpachi berseru seperti seorang pegulat dan disambut hangat para fansnya termasuk Yachiru yang melompat-lompat penuh kemenangan.
Ketika akan bersiap menghadapi petarung kedua, yaitu Chad yang disambut sorakan riuh dari Inoue. Kyoraku berdiri memasuki arena bertanding. "Tunggu! Tunggu! Tahan hasrat kalian dulu! Aku ingin mengumumkan kabar gembira untuk kita semua!" Kemudian dia cegukkan mabuk.
Nanao membantunya berdiri, meneruskan pidatonya. "Nah, semua. Kami (Kyoraku menunjuk satu-persatu para kapten ada) sudah berunding dan memutuskan mengisi tempat kosong di divisi yang kutinggalkan. Divisi 8," dia cegukkan lagi. "Mmm," matanya menelusuri orang-orang yang ada di sini. Matanya berhenti pada Rukia, tangannya terangkat, mengacungkan jarinya pada orang di samping Rukia.
"Kau. Ichigo Kurosaki, boleh menjabat sebagai kapten divisi 8."
Tak ada respon. Hening. Sedetik kemudian Inoue berteriak menahan luapan takjub. Renji bangun dari pingsannya. Dan Rukia merasa tak mempercayai apa yang ia dengar. Ia seakan mendengar pernyataan seekor burung akan tinggal di dalam laut.
"Tapi…" Rangiku menyuarakan isi pikiran semua orang waras yang berdiri di sini.
"Aku tahu, aku tahu… makanya kubilang 'boleh' bukan 'harus'."
Rukia mulai merasa pening saat ini.
"Ichigo Kurosaki masih hidup. Dia bukan roh seperti kita. Tapi harus kuakui, dia hebat. Maksudku, dia luar biasa. Dan boleh kukatakan kekuatannya bisa disamakan dengan seorang kapten di Seireitei. Meski dia manusia, ada baiknya kita memanfaatkan kekuatannya dan pasti dia mau menyumbangkan kekuatannya guna menjaga Seireitei agar tak terjadi hal buruk seperti kemarin. Jadi Ichigo," Kyoraku cegukkan sekali lagi. "Kau boleh ambil peran penting di Seireitei sebagai kapten. Tapi karena kau manusia dan kau memiliki hidup disana, kurasa kau tidak bisa 100% aktif disini. Katanlah, kau harus datang ketika Seireitei membutuhkanmu, bagaimana?"
Angin berhembus kencang, kelopak-kelopak sakura terbang melewati ketegangan yang entah sejak kapan tercipta begitu saja. Tak ada yang berbicara, bahkan Ichigo terlihat tak bisa lepas dari keterkejutannya.
"Omong kosong," Rukia mendapati dirinya berbicara itu. Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa diinginkannya.
"Sudah kubilang ini sulit, Kyoraku," Ukitake menambahi dari belakang. Wajahnya tenang meskipun keadaan ganjil ini tak mengenakkan siapapun yang berusaha bernapas disini.
"Ahh, biarkanlah anak itu yang memutuskannya sendiri. Dia sudah cukup dewasa. Oh, kuberi sebuah petunjuk lagi, Kurosaki. Kami juga sudah menyiapkan rencana B, ada orang yang akan menggantikan posisimu jika kau menolak ini. Jadi kau bebas memilih."
Rukia merasa itu tidak membantu apapun. Rasa bingung menghantamnya, kepalanya muali terasa semakin pening dan napasnya begitu cepat. Maka Rukia memutuskan tak ingin tahu, ia seperti orang yang mencari sesuatu yang hilang sebelum akhirnya menerobos bahu-bahu orang lain. Keluar dari kerumunan penonton. Menolak melihat pertarungan selanjutnya. Menolak mengetahu apa yang akan terjadi kedepannya.
Rukia berdiri bersandar batang pohon tua, yang sedang menggugurkan sakura ke bawah. Kerumunan di depannya sekarang ramai, kali ini mereka saling melontarkan spekulasi mereka ke udara bebas. Sehingga kebisingan tak bisa terhindarkan. Rukia menggigiti kuku jempolnya gelisah. Bahkan ia sendiri tidak mengerti kenapa ia gelisah.
Ichigo akan jadi kapten. Berita besar. Bukankah seharusnya Rukia ikut senang? Tapi jantungnya tak bisa berhenti berdetak lebih cepat memaksa memompa darah agar mengalir lebih cepat ke seluruh tubuh hingga membuat Rukia gemetar. Rukia menggigiti jempolnya lebih keras sampai berdarah.
Ini tidak benar.
Ichigo tetaplah manusia. Kecuali kematian tidak akan ada bisa mengubah fakta itu. Kyoraku tak bisa seenaknya berkata seperti itu. Seakan Ichigo adalah boneka pesuruh yang harus bolak-balik Seireitei. Meski dia sudah sering melakukan itu, tapi seorang kapten jelas memiliki tanggung jawab lebih.
Ichigo akan semakin sering di sini. Entah mengapa kedua ujung bibir Rukia terangkat. Tidak. Ia tidak boleh merasa senang. Meski Rukia lega bisa melihat Ichigo lebih sering, memastikan apakah laki-laki itu tetap baik-baik saja (jujur Rukia sering memikirkan apakah Ichigo masih hidup atau tidak di dunia manusia) tapi itu tak mengubah apapun. Tak akan pernah mengubah apapun.
"Kupikir kau hebat sekali, Kurosaki-kun!"
Rukia mendongak kedepan. Ichigo dan Inoue keluar dari kerumunan dengan susah payah. Ichigo mengelap wajahnya dengan tangannya sendiri, ia tampak frustasi.
"Tak semudah itu Inoue, kau tahu ini tidak mungkin."
Inoue tampak mengerti kebingungan Ichigo. Inoue tersenyum menenangkan, dan tangannya menyentuh tangan Ichigo menggenggam erat tangan orang itu. "Kalau begitu kau bisa menolaknya. Ini semua tentangmu, Kurosaki-kun."
Ichigo tampak tersenyum. Ia mengelus rambut Inoue pelan. "Kau tahu, selama ini kau selalu mendukungku. Terimakasih ya."
Seperti yang sudah-sudah, wajah Inoue merah padam bahkan meskipun hanya diterangi cahaya obor. Rukia bisa melihat itu.
Titik-titik air mulai turun membasahi tempat ini. Rukia mendongak, bintang-bintang yang tadi mampang di langit sudah tertutup awan mendung yang tebal. Tak ada apa-apa kecuali kegelapan yang menyelimuti langit. Titik-titik air mulai terasa banyak, meskipun tidak deras. Suara Kenpachi mengalahkan suara jatuhnya air ke tenah, "Lanjutkan pertandingannya! Siapa yang bertaruk untuk orang dari dunia manusia ini!?"
Tak ada yang berubah meski hujan turun. Semua orang menyahut Kenpachi dengan berteriak. Semuanya kembali pada pesta normal meski tanpa obor. Keramaian mulai kembali lagi.
Ichigo tengah memandangnya.
Luka pada jempol Rukia mulai terasa perih. Membuat dadanya agak sesak ketika membalas tatapan Ichigo. Ichigo menyuruh Inoue pergi berteduh dahulu, kemudian berjalan menghampirinya.
Dia berhenti tepat di depannya. Tapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Mau apa? Klarifikasi? Memberikan keputusan finalnya?
"Hei," katanya.
Rukia meneruskan menggigiti jempolnya dengan mata masih mengarah pada Ichigo. Ichigo menghela napas sebentar. "Kejutan, huh?"
Rukia mendengus.
Ichigo tampak terganggu, "Ada apa denganmu?"
"Ada apa denganku?"
"Kau tampak marah sekarang."
"Tidak juga." Kata Rukia defensif.
Ichigo menahan napas jengkel, otot rahangnya tampak berkedut. "Apa masalahnya, Rukia?" tanyanya tertahan.
"Tidak ada," Rukia merasa telah tak sengaja meminum darahnya sendiri di jempol.
"Kau marah karena aku menjadi kapten?"
"Siapa bilang?"
"Goddamnit! Kenapa kau keras kepala sekali sih!?" Ichigo kini maju. Mendorong kedua bahu Rukia hingga menabrak permukaan batang pohon. Konfrontasi ini tak akan membawa mereka kemanapun.
Rukia tidak bergeming. Napas Ichigo terdengar begitu berat di telinganya.
"Kau tidak bisa menjadi kapten," Rukia buka mulut.
"Benarkah? Kenapa kau yakin sekali?"
"Karena kau manusia!"
"Dan aku tak butuh pendapatmu mengenai itu!"
"Exactly! Kau sudah tanya itu pada Inoue! Ini semua bukan hanya tentangmu!"
Mereka berdua sama-sama terengah-engah. Perdebatan ini… fuck, bikin sakit kepala saja. Rukia resmi menjadi orang paling egois hari ini. Bahwa ia tidak ingin Ichigo menjadi kapten. Karena sebenarnya akan lebih berat jika dia di sini. Karena sesungguhnya tindakannya sejauh ini hanya karena Rukia tidak melihat sebuah akhir hubungan mereka. Sekali lagi, semua ini teracu pada satu hal. Dunia mereka berbeda.
Memang apa yang kau harapkan, Rukia?
Rukia menyentuh tangan Ichigo pada bahunya, kemudian menurunkannya pelan. Matanya memancarkan rasa lelah, Ichigopun juga sama. Bedanya Ichigo tidak ingin menyerah. Sedangkan Rukia sudah akan tidak peduli lagi pada semua omong kosong ini.
Rukia meninggalkan Ichigo di bawah pohon itu ketika hujan berubah menjadi lebat. Basah kuyup, ia berjalan pelan keluar divisi. Byakuya berdiri bersandar di depan pagar. Matanya menyiratkan kecemasan, Rukia menggeleng. Ia hanya sedang tak ingin membuat kepalanya tambah pusing. Dan kakaknya tidak boleh melihatnya dalam keadaan lemah.
Hujan turun sederas air terjun. Rukia membuat jejak basah sepanjang koridor yang sangat sepi. Ia sampai pada pintu terkahir, kemudian mengalirkan reiatsunya dan pintu terbuka. Kamar ini sama sunyinya dengan lorong di depan. Tak ada suara selain suara air membentur genting dengan kasarnya di atas. Rukia berjalan gontai. Entah kenapa, sekian banyak tempat yang menenangkannya, Rukia memilih tempat mati ini.
Suara napas Hitsugaya memenuhi ruangan semakin jelas. Rukia berjalan ke arah jendela. Membukanya lebar meski ia tahu wajahnya akan diterpa angin kencang dan basah oleh air. Toh ia sudah terlanjur basah. Ia hanya butuh kesejukkan yang menenangkan.
Rukia memijit pelipisnya. Mengingat kembali pembicaraan dengan Ichigo yang terakhir kali.
"Kau tidak bisa menjadi kapten," Rukia buka mulut.
"Benarkah? Kenapa kau yakin sekali?"
"Karena kau manusia!"
"Dan aku tak butuh pendapatmu mengenai itu!"
"Exactly! Kau sudah tanya itu pada Inoue! Ini semua bukan hanya tentangmu!"
Brengsek. Kenapa nama Inoue dibawanya. Kenapa Rukia merasa batas antaranya dengan Ichigo semakin jelas. Ichigo memang manusia dan sebagai manusia normal dia harus meminta pendapat teman manusia normalnya juga. Lagipula… Ichigo masih memiliki kehidupan yang terus berlanjut, Inoue selalu ada di sampingnya. Yah, semua itu terasa beanr jika dipikirkan. Hal itu merupakan hal paling masuk akal sejauh ini. Bahwa Rukia memang tidak bisa masuk ke dalam kehidupan Ichigo.
Suara ganjil membuat Rukia terganggu, ia masih ingin melanjutkan melamun. Tapi suara itu semakin keras mengalahkan suara hujan yang deras. Apalagi ketika suara itu berubah menjadi sebuah kata.
"Siapa…"
Rukia menoleh sangat cepat sampai ototnya kejang. Napasnya benar-benar berhenti beberapa detik ketika melihat apa yang sedang terjadi di kamar itu. Mata itu menatapnya. Mata emerland itu tepat menantap kearahnya. Mata itu terbuka sempit.
Toushiro Hitsugaya mengerling kearah Rukia.
Tatapannya itu, tatapan yang sama persis ketika Rukia menusukkan pedangnya menembus dada sang kapten.
"Oh Goddess," Rukia berbisik.
Sekarang ada alasan lebih untuk meneteskan air mata malam ini.
Rukia berjalan seperti orang kena serangan jantung. Langkahnya patah-patah menuju ke ranjang. Ia terduduk di kursi disamping ranjang. Mata Hitsugaya masih setia mengikuti gerakannya. Dia masih tampak lemah.
Rukia menangis. Membawa satu-dua tetes air mata lagi ketika berkedip, tangannya gemetaran ketika menyentuh tangan Thousiro dan kemudian mengangkatnya. Menggenggamnya seerat mungkin.
Rukia nyaris sesenggukan. Ini begitu baik. Hitsugaya bangun adalah hal terbaik sampai saat ini. Rukia menempelkan punggung tangan Hitsugaya pada pipinya yang basah. Kemudian jari Hitsugaya bergerak, jempolnya mengusap pelan lelehan air mata di pipi Rukia.
TBC
