Hi everyone!
SORI atas segala keterlambatan dan apapun itu yang bikin kalian jengkel padaku. Nah, pertama dan utama adalah laptop saya rusak (saya sangat tersiksa, kalian pasti tahu rasanya) dan alasan-alasan lain adalah karena kesibukan dunia nyata saya.
Jadi, saya juga ingin minta maaf kalau chapter ini membuatmu menguap dan memutar bola mata membaca fanfic klise romantis beginian. Sori untuk kata-kata yang diulang-ulang dan segala typo yang muncul nanti. Pokoknya saya akan melukan yang terbaik pada kalian. Give your all to me, I'll give my all to you~
Enjoy!
Toushiro bisa merasakan ada sesuatu yang hidup dalam dirinya. Sesuatu yang bernyawa, memanggil namanya dari kegelapan yang paling dalam. Toushiro ingin menjawabnya, tapi semuanya terasa hampa. Ia terlalu lemah untuk menangkap benda apa itu.
Aku ingin.
Benda itu memancarkan sesuatu yang kuat. Sesuatu yang luar biasa untuk cukup bisa membuatnya kembali hidup. Toushiro dapat merasakannya. Benda itu telah kembali padanya. Membuat Toushiro mulai bisa mendengar napasnya sendiri. Detak jantungnya kembali. Dan apapun itu, membuat kelopak matanya mulai terbuka perlahan.
Ah, dia hidup.
"…padaku! Dia bahkan bergerak tadi malam!"
Hm, suaranya agak asing. Tapi Toushiro ingat suara ini. suara terakhir yang di dengarnyanya sebelum tidur panjangnya dimulai.
"Tapi dia tidak membuka matanya, Kuchiki-san."
Ah, suara penuh penyesalan itu sangat dikenalnya dengan baik. Sampai-sampai wajah gadis itu muncul begitu pendengarannya menangkap suaranya.
"Diam! Kalian… merasakannya?"
Nah, suara yang mengganggunya setiap kali bernapas di kantor. Meskipun menjengkelkan dan mengganggu, siapa bilang Toushiro tidak merindukan suara ini?
Matanya nyaris terpejam lagi ketika sulit untuk menyesuaikan cahaya yang menembus korneanya. Berkedip-kedip selama beberapa detik untuk beradaptasi dengan hal baru, ia merasa bahwa seperti melihat kembali dari kebutaan. Ia terlalu lama terperangkap dalam kegelapan tanpa akhir.
Toushiro merasakan semua warna yang semula tak beraturan, kini membentuk sebuah kehidupan. Toushiro bisa merasakan jantungnya berdenyut lambat, atau udara beraroma wangi musim semi masuk ke dalam paru-parunya. Mengaliri setiap syaraf tubuhnya. Toushiro merasa begitu hidup.
"Ini reiatasu kapten! Reiatsunya kembali—"
Sedetik kemudian telinganya berdengung mendengar pekikkan keras di dekatnya.
"Kapten Hitsugaya membuka matanya!" seru Rangiku sekali lagi.
Dan kejadian berikutnya entah bagaimana sudah ada dalam mimpi Toushiro selama ini, ketika tubuhnya diterjang sampai-sampai Toushiro masih tidak bisa berpikir apa yang sedang terjadi. Yang dilihat matanya hanyalah rambut orange dan rambut yang bercempol sedang memeluknya. Ah, dadanya basah oleh air mata. Dan Toushiro berani bertaruh Hinamorilah yang paling banyak menumpahkannya, gadis itu selalu menangis dan mengkhawatirkan Toushiro diatas level orang normal. Mereka memang selalu bersama sejak kecil. Saling menjaga, saling mengerti, apapun yang membuat hubungan laki-laki-perempuan ini tampak seperti kakak-beradik. Dan ketika melihat Hinamori gencar menangis sampai seperti ini, pastilah hal buruk baru saja terjadi.
"Hei, hentikan, oke?" Mulutnya terasa kelu ketika digunakan untuk biacara.
Yang ada malah suara isakkan Hinamori semakin membengkakkan telinga. Matanya melirik Matsumoto yang sudah melepaskan pelukannya, wakil kaptennya itu berdiri semperti nyaris pingsan. Untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka, Toushiro bisa melihat Matsumoto menangis seperti bayi kali ini. Ini pertama kalinya Matsumoto tidak menutupi sisi lemahnya, wajahnya basah oleh ingus dan air mata.
"K-kupikir… kau m-mati, kapten," ucapnya di sela-sela napasnya yang tersengal.
Toushiro tersenyum dan mulutnya terasa sakit karena otot wajahnya yang menegang tiba-tiba. Ini pertamakalinya ia melihat Matsumoto tak bisa berkata-kata.
"Apa… yang terjadi?" Toushiro bertanya dengan mengesampingkan mulutnya yang masih kaku. Pertanyaan normal untuk seseorang baru saja berhasil bangkit dari kematian. Karena adegan ketika sakit dadanya tertembus pedang, adalah hal paling nyata yang ia ingat untuk terakhir kalinya. Karena seyakin apapun Toushiro kalau dia seharusnya sudah mati, kembali membuka mata dan melihat orang-orang yang disayanginya lagi sungguh membuatnya berharap ini bukan dunia setelah kematian roh.
Toushiro mencoba mengarahkan seluruh kemampuan terbaiknya untuk bangkit. Dan hasilnya nihil. Seakan seluruh organ tubuhnya tak sinkron. Toushiro mengerutkan dahinya heran, ia mencoba sekali lagi, hanya bergeser beberapa senti ke atas ketika ia mencoba posisi duduk. Bokongnya memang bergerak dan dia berhasil mencapai posisi duduk dengan usaha sekeras berlatih bankai. Napas Toushiro menegang.
"Tubuhku tak bisa bergerak," gumamnya masih tak mempercayai hal yang yang baru saja terjadi.
Hinamori berwajah panik seakan mau mati. Dia segera berlari keluar kamar dan meneriakkan nama Retsu Unohana. Toushiro merasa kepalanya semakin pening seiring ia mencoba untuk menggerakkan tubuhnya. Keringat dingin mulai membasahi sebagian wajahnya. Karena terbesit pikiran bahwa mungkin lebih baik mati daripada menajdi manusia tak berguna dengan title lumpuh.
Rangiku menerornya dengan pertanyaan yang bahkan Toushiro sekarang tak bisa dengar, ia nyaris tak bisa bernapas menyangkut ketegangan yang sekarang dialaminya. Baik. Ia resmi panik sekarang. Oke. Toushiro panik sekali ketika benar-benar organ tubuh tangan dan kakinya tak bisa digerakkan sesenti pun. Bahkan dalam bayangannya saja tidak.
Sesatu menghantamnya. Bukan sesuatu yang buruk, melainkan hal yang lain. Toushiro bisa merasakan udara segar dan harum memenuhi paru-parunya. Toushiro mulai bisa merasakan napasnya yang sedikit-demi sedikit berangsur normal. Udara musim semi. Betapa ini adalah hal terbaik yang terjadi padanya sejauh ini. Angin berhembus masuk ke dalam kamar, beberapa kelopak sakura menerobos jendela besar yang baru saja dibuka oleh seseorang. Toushiro melihatnya. Rukia Kuchiki berdiri di samping jendela, tampak tegang.
"Sebaiknya kau tenang, kapten Hitsugaya," Kuchiki mendesak.
Benar. Semua tak akan beres dengan berteriak-teriak seperti orang tanpa harapan. Toushiro tak sepencundang itu.
Toushiro menghela napas panjang, tapi mendadak logikanya bekerja secara mengejutkan. Memang siapa yang membuatnya sampai seperti ini? Bukankah orang yang sedang berdiri di depan jendela dan orang yang menyuruhmu agar tidak panik adalah Kuchiki? Bukankah dia orangnya? Potongan kejadian itu terlalu jelas dan menyakitkan untuk dilupakan. Seketika darahnya terasa mendidih, rasa amarah tanpa dasar yang jelas merasuki dirinya. Toushiro menggeram. Semua ini bukan tanpa sebab. Semua kekacauan dan kesakitan ini tak mungkin terjadi begitu saja.
"Memangnya kau siapa?" cela Toushiro.
Rasa canggung yang beradapatasi dengan keheningan yang melanda terasa begitu tak nyaman. Matsumoto sudah berhenti menangis. Toushiro melihat Kuchiki dari ujung matanya, gadis itu tampak terluka yang tak mampu ditutupinya. Toushiro mencelos. Tak pernah sekalipun ia sampai hati membuat seorang gadis menunjukkan ekspresi itu. Apalagi Kuchiki. Gadis yang selama ini selalu Toushiro anggpa memiliki strata yang lebih tinggi darinya. Gadis itu selalu memiliki pendiriannya sendiri. Semua Kuchiki selalu hidup dalam prinsip. Tapi Rukia Kuchiki agak lain. Biasanya ketika Kuchiki-Kuchiki lain akan lebih memilih harga diri ketika ditolak. Namun Kuchiki yang satu ini malah menurunkan harga dirinya, berjalan pelan ke arah ranjangnya, Kuchiki sedang berusaha meraihnya. Toushiro menyipitkan mata menatapnya.
"Berhenti," ujar Toushiro sinis.
Kuchiki membeku di samping ranjangnya, ia berdiri tegang. Menghela napas, "Kapten, aku…"
"Jangan mendekat!" seru Toushiro ketika Kuchiki bergerak semakin ingin menyentuh Toushiro.
Toushiro nyaris murka, namun yang sebenarnya terjadi adalah dia sedang panik. Takut mimpi buruk ketika tubuhnya dikuasai orang lain (baca:zombie), takut ketika kematian merasuki setiap sel tubuhnya, rasa takut itu semakin besar ketika ia berkedip dan melihat Kuchiki.
Tepat ketika itu Unohana dan Isane serta beberapa orang divisi 4 menghambur masuk dalam ruangan. Toushiro malah semakin panik. Mendadak semuanya menjadi tampak berlebihan. Ia hanya takut semua orang dapat melihat bahwa Toushiro sedang takut. Takut orang lain melihatnya lemah.
Rukia berjalan dengan kecepatan yang sama dengan seekor siput. Ia menghela napas berat. Langit sudah berwarna ungu jingga, beberapa bintang sudah mulai nampak di atas sana. Rukia menghela napas lagi, kemudian bergumam 'brengsek' untuk kesekian kalinya hari itu. Pagi tadi bukanlah pagi yang menyenangkan untuknya. Lebih ke kacau, sebenarnya. Tidak, bahkan hal tadi lebih dari sekedar kacau. Semuanya hancur ketika Rukia pikir Hitsugaya akan senang kembali membuka mata lagi.
Rukia menggigiti kuku jempolnya, kebiasaan baru yang entah sejak kapan dimulai, yang jelas sejak Rukia merasa semua hidupnya mulai berantakan ia akan melakukan hal itu. Seperti pagi tadi. Jelas-jelas malam sebelumnya—yang juga malam terburuknya, Hitsugaya bertindak normal ketika menghapus air mata dari pipi Rukia. Hal itu membuat Rukia sudah setengah berharap Hitsugaya akan memaafkannya dan hidup mereka akan kembali normal. Tapi kenyataan yang terjadi adalah Hitsugaya bahkan tidak ingin bernapas dengan udara yang sama dengan Rukia. Tidak setelah ia tahu, Unohana memvonisnya lumpuh untuk beberapa waktu yang akan datang.
Rukia bergidik mengingat kata-kata yang Unohana lontarkan pagi tadi. Dengan jelas ia mengatakan Hitsugaya akan lumpuh sementara. Bahkan meskipun itu katanya sementara, bagi Rukia itu adalah hukuman untuknya sendiri untuk waktu yang akan lama. Rasa bersalah yang sebelumnya sudah mulai pergi ketika Hitsugaya kembali hidup, mulai merayapi tubuhnya dan kini dengan skala yang lebih besar. Hingga Rukia merasa rela melakukan apapun untuk Hitsugaya. Dan dia benar-benar akan melakukannya.
"Hei."
Rukia terlonjak berlebihan, hingga nyaris jatuh. Rukia berbalik dan melihat Renji berdiri di belakangnya dengan wajah penuh luapan kekagetan.
"Kau dengar itu? Kau tahu apa yang terjadi dengan kapten Hitsugaya!?" Renji mengguncangkan kedua bahu Rukia.
"God! Aku bahkan memberi bunga pada kuburannya! Apa-apaan semua omong kosong tentang dia sudah mati—hei, Rukia?" Renji berhenti mengoceh sambil menyentuh pipi Rukia.
"Kau pucat, kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada cemas.
Rukia merasa napasnya semakin berat. Tapi ia menggeleng samar, berusaha menyunggingkan senyum yang cukup meyakinkan Renji.
"Yeah, aku baik-baik saja," jawab Rukia bohong.
Renji mengerutkan alisnya, "Tidak. Kau tampak kacau, apa yang terjadi?" tanyanya.
Rukia menyingkirkan tangan Renji dari bahunya, "Sudah kubilang aku baik-baik saja, berhenti mengoceh, Renji," kata Rukia.
Rukia berbalik untuk melanjutkan berjalan, Renji menarik bahunya.
"Lepaskan!"
"Kau pikir kau mau kemana keluar Seireitei?" Renji balas berseru.
Rukia menatapnya kesal, tapi ia mengedarkan pandangannya. Dan mengutuk diri untuk bertindak bodoh dan menyalahkan semuanya pada hari sial ini. Rukia berjalan tanpa sadar ke pinggiran Seireitei, di mana hanya ada tempat pelatihan akademi Shinigami baru yang masih utuh dan hutan-hutan yang lebat. Rukia memegang pelipisnya, menghela napas. Ia menatap Renji yang masih setia memelototinya mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"Renji, kau jelas tahu akulah yang membunuh kapten Hitsugaya," kata Rukia malas.
Renji melengkuh, "Sudah ratusan kali kudengar kau mengatakan itu."
Rukia menatap Renji untuk menyuruhnya diam. Angin berhembus kencang, membawa aroma wangi bunga sakura melewati hidungnya. Langit semakin gelap. Rukia bertambah pusing.
"Kalau mengaku temanku, please, aku ingin sendiri. Dan semua yang ingin kau ketahui pasti akan terjawab tak lama lagi," Rukia nyaris berbisik. Mendadak semua ini membuatnya lelah. Ia sedang tak ingin berbicara dengan seorangpun hari ini.
Renji membuka mulut untuk protes, tapi Rukia memberinya tatapan please-enyah-sekarang-juga padanya. Renji masih menatapnya cemas untuk beberapa detik yang menyiksa Rukia, Rukia hanya butuh tempat sendiri untuk bernapas normal. Akhirnya setelah Rukia memasang wajah akan pingsan, Renji memutuskan untuk mengalah.
"Okee," ia menghela napas. Menatap Rukia penuh simpati, "Sampai ketemu lagi, kalau begitu."
Rukia tersenyum meskipun sekarang ini akan kelihatan sebagai ujung bibir yang terangkat sedikit. Renji mengelus bahunya sebentar dan akhirnya ia bershunpo pergi. Namun ia berhenti mendadak seakan ada sesuatu yang tertinggal, Renji berhenti di atas sebuah atap.
"Ah, karena kau menghilang sejak kemarin malam, kau mungkin tidak tahu. Sepertinya Ichigo menolak jabatan kapten itu (Renji mendengus tak percaya) dan dia bilang dia akan segera kembali ke dunia manusia."
Entah mengapa Rukia tidak terkejut mendengarnya.
Setelah Renji melompagt pergi, Rukia merasa semuanya bertambah berat. Ia rela melakukan apapun untuk bisa menghilangkan semua pikiran kacau yang berpusar-pusar dalam kepalanya tanpa henti. Kepalanya seakan mau meledak tak sanggup menahan semuanya. Rukia berjalan gontai, melewati jalan setapak yang penuh banyak kerikil dan akhirnya memutuskan untuk keluar Seireitei.
Rukia melempar bokongnya ke rerumputan yang agak basah. Rupanya malam ini hawa begitu dingin menusuk tulang meskipun belum terlalu larut. Angin kencang berhembus sesering Rukia berkedip, membuat Rukia agak begidik. Rukia memandang ke jauhan, tatapannya agak kosong berlawanan dengan pikirannya yang berkecamuk tanpa henti. Rukia memijat pelipisnya yang berdenyut sakit, ia menghela napas berat. Cahaya-cahaya lampu dan obor menyala di Seireitei tampak jelas dari sini. Rukia berada di sebuah tebing tersembunyi yang terletak di belakang Soul Society bagian barat. Beberapa kali Rukia akan ke tempat ini untuk menenangkan diri ketika merasa hidup sedang mempermainkannya. Nasib keparat.
Rukia merebahkan diri di atas rumput yang dingin. Semilir angin yang bertambah kencang membuat kelopak-kelopak sakura serta daun-daun hijau bercampur membuahkan aroma khas musim semi yang menyenangkan. Rukia menatap lurus ke langit yang tertutup awan tebal namun bintang dan bulan masih bisa dilihat. Merasakan sesekali angin masuk melewati tubuhnya, merasa bisa mendengar napasnya sendiri. Semuanya tampak sederhana, tapi itu tak mengubah kekacauan yang sedang terjadi.
"Hei!"
Rukia membuka mata cepat setelah mencoba untuk tidur sebentar tadi. Suara yang tidak asing itu membuatnya tak perlu repot-repot bangkit dan menarik zanpakutounya. Rukia hanya perlu mengeluarkan sedikit tenaga untuk mengerling orang itu.
Ichigo duduk disampingnya. "Apa yang kau lakukan disini?"
"Apa yang kau lakukan disini?"
Ichigo mengulum bibirnya, "Sejak kapan kau hobi menirukan omongan orang?"
Rukia tidak menjawab. Ichigo pasti sudah tahu berita tentang Hitsugaya. Dia tidak sedang bernafsu untuk berdebat dengan orang itu. "Pergilah," gumam Rukia.
Rukia mendengar Ichigo mendengus keras. "Yang benar saja."
Tak ada respon setelah itu. Kehadiran Ichigo tak membantu apa-apa baginya. Rukia melirik Ichigo dari ekor matanya.
"Please, pergilah," ujar Rukia.
Ichigo menunduk untuk menatapnya juga, "Tidak."
Rukia menghela napas berat, "Aku tidak suka kau disini sekarang."
"Hentikan," potong Ichigo cepat. Mereka berdua saling memandang secara intens. Ichigo tampak penuh menahan sesuatu melihat Rukia. "Hentikan semua kearoganisamu, Rukia," lanjutnya.
Rukia menatapnya tajam sebagai ganti atas pertanyaan 'apa maksudmu'
"Hentikan semua omong kosong soal kau baik-baik saja, kalau kau tanya dari mana aku tahu maka akan kujawab aku bertemu Renji tadi. Dia mengkhawatirkanmu. Maka aku mengikutimu sampai ke tempat ini. Dan kau malah mengusirku."
Hening agak lama. Angin berhembus kencang menerbangkan helai-helai rumput melewati mereka.
"Aku baik-baik saja," gumam Rukia.
"Kelihatannya tidak seperti itu."
"Pergilah."
Tiba-tiba Ichigo bergerak sebelum Rukia sempat berkedip. Entah bagaiamana kejadiannya, Ichigo sudah ada di atas Rukia kedua tangannya berada di sisi kanan dan kiri kepala Rukia. Mata Rukia nyaris melotot kepadanya, sedangkan Ichigo menatapnya tajam.
"Kau keras kepala sekali," desis Ichigo.
Rukia tidak menjawab. Dia tidak sanggup menjawab. Kalau diteruskan konfrontasi ini hanya akan menghabiskan napas serta energinya yang tinggal sedikit. Maka Rukia lebih memilih diam. Mungkin Ichigo akan pergi sendiri nanti. Blah. Jika dipkirkan lagi, mana mungkin. Dia ini Ichigo Kurosaki. Salah satu spesies terkeras kepala sama seperti Rukia. Mereka terlalu sama.
Mereka beradu pandang terasa lama sekali. Tak ada satu mulutpun yang membuka untuk melanjutkan pertengkaran regular tiap salah satu di antara mereka mulai bersikap menyabalkan.
"Kenapa kau diam saja? Kau tak punya hak untuk diam setelah apa yang kau lakukan pada Toushiro?"
Mata Rukia menyipit ke arahnya.
"Bukankah kau yang membunuhnya? Kau jelas dengan bangga mengatakan itu," Ichigo menambahkan.
Rukia menahan napas jengkel. Sakit hati itu membuat dadanya sesak kembali.
"Kenapa diam saja, murdered?"
Plak!
Rukia menamparnya. Rukia merasa tangannya sudah melayang ke pipi Ichigo secara tanpa dikehendakinya. Rukia melakukannya atas dasar spontanitas. Maka dengan dalih spontanitas itu pula, Rukia mengalihkan pandangannya ke samping. Menatap rerumputan yang semakin basah oleh embun.
Lalu sebuah tangan menyentuh dagunya, memutarnya untuk menghadap kembali pada pemuda itu.
Mata hazel Ichigo menatapnya dalam.
"Lihat? Kau menyangkal semuanya—"
"Hentikan!" akhirnya kata-kata itu meluncur keluar. Rukia menatpa Ichigo penuh luapan amarah yang tidak jelas ditujukan pada siapa. Napasnya berat, "Aku tidak ingin mendengar apa-apa dari mulutmu. Aku lelah. Aku benar-benar tak ingin orang mengomentariku lagi."
Wajah Ichigo bergerak mendekat, seakan menunjukan keinginannya untuk lebih tahu.
"Katakan," bisik Ichigo ofensif.
Rukia melirik ke arah samping, menolak menatap mata pemuda itu.
Ichigo kembali menyentuh pipinya, memaksa menghadapnya.
"Katakan, Rukia!"
"Baiklah!" sahut Rukia kalah. Matanya bertemua mata Ichigo. Terdapat sebuah sedikit kelembutan yang implisit disana.
Rukia menelan ludah, "Aku tidak bersalah…bukan. Aku tidak ingin disalahkan lagi," ucap Rukia pelan.
Ichigo terdiam. Rasanya tenggorokan Rukia berisi benda ganjil membuatnya susah menelan kembali kata-katanya tadi. Akhirnya dia mengatakannya. Akhirnya ia mengakui bahwa ia egois. Sungguh, Rukia hanya merasa lelah menghadapi semua kekacauan ini. Ia hanya lelah setelah semua rasa bersalahnya terhadap Toushiro akan hilang begitu orang itu membuka mata, namun faktanya orang itu malah membenci Rukia hingga tak ingin disentuhnya. Ia lelah. Ia merasa muak dengan segala teror rasa bersalah plus sakit hati yang dirasakannya sekarang.
Rukia mengembalikan fokusnya pada wajah pemuda di hadapannya. Ah, pikirnya. Orang ini juga termasuk dalam daftar hal sialan yang terus menerus mengganggu kepalanya.
"Ehm?" Tanya Rukia karena merasa Ichigo tak segera menyingkir dari atasnya.
Ichigo diam, tapi akhirnya dia tersenyum tipis. Dia sudah menang atas Rukia.
"Okee," jawabnya.
Ichigo bangkit dan segera mengambil posisi duduk yang nyaman di sampingnya. Rukia ikut bangkit, ia meletakkan dagunya di atas kedua lututnya yang ditekuk. Memandang kejauhan. Kemudian mencoba menghela napas lagi. Entah bagaimana rasanya udara bisa mengalir dengan lancar menuju paru-parunya. Sekarang ia malah mulai bisa menikmati aroma wangi bunga dan tanah yang basah. Hal-hal normal yang biasanya terjadi pada musim semi. Kini mulai terasa menyenangkan untuknya.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya Ichigo tiba-tiba.
Rukia masih memandang lampu-lampu yang tampak seperti bintang-bintang kecil berterbaran sepanjang Soul Society.
"Harusnya itu pertanyaanku," sahut Rukia. Bernapas lagi, "Kupikir kau sedang mengepak kopermu yang penuh kebanggan serta sedikit kesombongan atas pengharagaan yang Seireitei berikan, untuk kau bawa pulang ke rumahmu."
Tubuh Rukia merosot kembali ke atas rerumputan, mengira akan lebih mudah jika dengan posisi tidur.
Ia mendengar Ichigo tertawa sinis, "Sayang tak ada setifikat untukku."
Rukia mendengus, "Tentu saja. Karena ini semua ini terlalu abstrak bagi hidupmu."
Napas Ichigo terdengar berat. Rukia bahkan merasa kata-katanya barusan terdengar dingin dan kejam. Namun yang keluar dari mulutnya seratus persen adalah kebenaran mutlak yang tak mungkin bisa diubah. Maka Rukia tidak menyesal Karena menjadi orang yang kejam malam ini.
"Please, Rukia," Ichigo berkata memohon. Menghela napas panjang kemudian memposisikan dirinya ikut berbaring di samping Rukia. "Jangan egois. Kau dengan mudahnya bisa mengatakan bahwa semua bullshit ini adalah hal abstrak. Kau benar. Tak ada yang menentang teorimu. Tapi semua hal-tidak-nyata ini benar-benar terjadi dalam diriku. Udara disini, orang-orang disini…" Ichigo berhenti sebentar, menggerakkan tubuhnya dan dia mengahadap Rukia yang masih menghitung bintang. "Bahkan kau adalah nyata bagiku. Bukan bagi kehidupanku. Tapi bagiku," dia menekan segala kata ku di kalimatnya.
Rukia menutup kedua matanya dengan lengannya. Berusaha tak berpikir apapun namun gagal. Pada kenyataannya ia melakukan itu agar Ichigo tidak melihat air mukanya yang ingin menangis. Napasnya nyaris bergetar. Semua kekesalan yang meledak-ledak dalam dirinya bekangan ini lenyap entah kemana tersapu angin yang lewat begitu saja. Semua itu pergi dengan mudahnya. Semuan meninggalkan kepalanya hanya dengan perkataan orang itu.
Rukia mendengus. Meskipun semanis apapun kata-kata yang Ichigo lontarkan hal itu tak akan mengubah banyak hal. Rukia tak mungkin akan mengikuti permainan Ichigo yang hanya akan berujung pada ketidakpastian yang semakin semu bukan? Tapi Rukia menghargai kata-kata Ichigo barusan. Pemuda itu menandakan bahwa dia serius menyukai dunia roh ini.
"Baiklah," ujar Rukia. Ia menyunggingkan senyum, "Lagipula tak ada gunanya membuang napasku untuk melanjutkan debat ini sampai akhir. Kau menang."
Ichigo tertawa kecil, "Aku memang selalu menang."
Rukia memutar bola matanya, kemudian bergerak kesamping untuk memukul bahu Ichigo. Sekarang mereka berada dalam posisi berhadapan. Ichigo tengah memandangnya. Rukia balas menatap mata hazel itu. God, seharusnya bertahun-tahun mengenal Ichigo sudah cukup untuk membiasakan diri agar tidak tenggelam dalam mata itu. Namun sepertinya semua itu tak cukup. Rukia suka memandang matanya. Apapun yang ada di sana, terdapat sesuatu yang sukses menariknya agar betah menatap mata itu selama apapun. Mereka bahkan bisa melakukan ini semalam suntuk.
Tapi Ichigo lebih memilih menarik diri, tersenyum. "Besok aku akan kembali ," katanya.
"Yeah," sahut Rukia. Matanya masih setia menatap Ichigo yang entah mengapa malah membuat pemuda itu mengalihkan pandangannya ke samping. Karena Rukia sudah mendapat kemantaban tentang semua ini. Dia sudah menemukan titik akhir dari mereka ketika Ichigo mengatakan bahwa dia akan kembali.
Mereka berbeda. Perbedaan mereka dapat dilihat sejelas refleksi pada sebuah cermin. Mereka terlalu terpisah dan semua hal yang terpisah hanya akan berujung pada ketidakmampuan untuk bersatu.
Ichigo masih tidak menatapnya. Tak biasanya ia memilih menjadi pengecut karena biasanya dia dengan lantang menghadapi orang.
"Tapi…" akhirnya dia menatap mata Rukia. "Karena ulah semua quincy-quincy dari neraka itu, koneksi dunia kita terganggu. Entahlah aku tidak mengerti hampir semua yang diomongkan Ukitake padaku. Tapi kurasa dia ingin mengatakan bahwa dunia kita tak akan terhubung dalam waktu yang lama."
Rukia menaikkan sebagian alisnya, "Kau ingin bilang apa?"
Ichigo menggeleng samar, "Kupikir jika aku tidak kembali besok maka aku tidak akan bisa kembali ke dunia manusia untuk waktu yang lama. Jadi…"
Aku harus kembali? Kita akan berpisah? Tapi Rukia bernyukur Ichigo tak melajutkannya. Karena Rukia mulai merasa muak dijejali kata-kata tipikal itu. Memang Rukia bisa apa jika Ichigo sudah memutuskan?
"Okay," Rukia menjawab. Ichigo mengerlingnya, tak bisa menyembunyikan wajah takjub itu. Rukia tersenyum tipis. Tapi sesuatu yang besar terus-menerus mengganggunya. Kerongkongannya terasa sakit saat menanyakan hal itu.
"Apa kita akan bertemu lagi?"
Udara terasa menyusut habis secara tak terduga. Mendadak semua terasa berhenti pada satu waktu yang membuat tidak nyaman bahkan untuk sekedar bernapas. Kemudian Rukia menyesal telah menanyakan hal itu.
Ichigo tak menjawab. Ketika mata Rukia menangkap mulut Ichigo yang akan menjawab, Rukia bergerak bangkit begitu cepat. Angin kencang menyapu wajahnya, Rukia merasa semuanya kembali berlebihan sekarang.
Ichigo ikut bangkit tapi tak ada satu kata yang keluar dari mulutnya. Mereka disergap rasa canggung dan keheningan yang terlalu lama. Keheningan ini begitu menyiksanya sampai Rukia menyadari bahwa tak pernah ada kata hening sebelumnya di kehidupan Ichigo-Rukia. Maka Rukia memlih untuk memutar tubuhnya sekali lagi, menghadap Ichigo.
Mengatakan hal klise adengan perpisahan seperti perpisahan mereka yang sudah-sudah. "Selamat tinggal, Ichigo." Rukia tersenyum padanya.
Wajah Ichigo tampak penuh kerutan menandakan dia sudah kelebihan pikiran. Tapi akhirnya dia ikut tersenyum. "Yeah, selamat tinggal, Rukia."
Jadi. Tak ada sesal. Karena setiap orang yang terlibat dalam cerita ini selalu tahu akhir dari semuanya.
Lalu setelah hamper beberapa menit mereka tak mengatakan sesuatu sama sekali, Ichigo mengajaknya kembali. "Ayo pulang. Aku ingin menemui Toushiro lagi, dan kali ini sebaiknya kau ikut."
Sebaliknya, Rukia kembali ke posisi duduk awalnya ia datang ke sini. "Tidak. Aku ingin di sini lebih lama lagi."
"Kenapa?" Ichigo menengok ke sekelilingnya, mengamati. "Tempat yang bagus. Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?"
Tebing ini memang tersembunyi di balik bukit-bukit dan hutan di seklilingnya. Di belakang mereka tumbuh sebuah pohon besar dengan surai-surai tanaman rambat yang bergelantungan ke bawah. Segalanya akan tampak lebih indah dari sini.
"Aku menemukan tempat ini persis ketika waktu ini," jawab Rukia. Ia tersenyum melihat wajah bingung Ichigo. Ia tidak ingin mengatakan ketika ia dan Ichigo dulu berpisah, tempat inilah yang membuatnya mendapat ketenangan. Ia menemukan tempat ini. Dan saat dulu pula, Rukia menemukan bunga roh yang saat ini sedang berada di atas meja Hitsugaya.
Tempat yang tepat untuk mengkahiri semuanya.
"Begitu saja?"
Rukia menoleh, mendapati Ichigo yang sudah bergerak ke sampingnya, berdiri. Angin kencang menyapu wajah dan rambutnya.
"Memang apa yang kau harapkan?" Tanya Rukia nyaris tertawa miris.
Ichigo mendengus, kemudian tersenyum sekilas padanya sebelum melompat dari tebing ini. "Kau benar. Jadi, ini adalah akhir iya 'kan?"
Rukia tersenyum sebagai jawaban.
"Baiklah. Selamat tinggal, Rukia." Katanya dan dia bersiap melompat pergi, kakinya tertahan di tanah selama beberapa detik. "Lain kali… ingatkan aku untuk memelukmu jika kita bisa bertemu lagi."
Rukia hanya melihat punggung Ichigo untuk terakhir kalinya turun dari tebing. Menghilang dari pandangannya. Punggung yang selama ini selalu melindunginya dari bahaya yang menyerangnya. Punggung yang selalu Rukia ingat jelas karena terlalu sering Rukia berada di atasnya.
"Terserah," sahut Rukia meski ia tahu Ichigo sudah pergi. Rukia tidak akan bertemu dengannya lagi. Kali ini nyata. Tidak seperti dulu, karena hanya Ichigo yang dunianya terutup dari Rukia. Sedangkan kali ini, dunia mereka berdua benar-benar tidak bisa berkoneksi.
Entah mengapa perpisahan mereka yang satu ini terasa lebih berat.
Rukia memijat pelipisnya. Dia tidak menangis karena dia terlalu tidak mempercayai apa yang barusaja terjadi. Jadi, Rukia memilih untuk mengalihkan dunianya malam ini. Mungkin ia akan hadir di pesta perayaan kembalinya Hitsugaya dari kubur yang Matsumoto koar-koarkan siang tadi.
Toushiro mulai bosan memandang langit-langit kamar yang monoton berwarna biru keabu-abuan. Dia dongkol setengah mati. Tak ada kejadian yang lebih buruk menimpanya sepanjang hari ini—semoga. Cukup sudah dengan berita tentang kelumpuhannya yang membuat Toushiro murka tadi. Meski ia senang bisa hidup, tapi kenyataan menyakitkan itu menghantamnya terlalu cepat hingga sulit untuk berpikir jernih ketika ada Kuchiki di sampingnya. Keberadaan orang itu memaksa syarat otaknya terhubung begitu cepat mengingatkannya pada malam dimana zombie itu menguasai tubuhnya. Atau malam dimana seharusnya Toushiro sudah mati.
"Gosh," ia menghela napas.
"Kau butuh sesuatu, Shiro-chan?"
Toushiro menoleh ke samping, Hinamori terlonjak seakan Toushiro membutuhkan donor darah saat itu juga kalau tidak ia bisa mati. Toushiro menggeleng, "Berhentilah bertindak berlebihan, Hinamori. Aku bahkan sudah bisa menggerakkan kedua telapak tanganku. Kurasa Unohana benar soal kelumpuhan ini hanya akan berlangsung sebentar. Jadi, kalau kau mau pergi, pergi saja."
Hinamori berwajah seakan mau menangis, kemudian gadis itu menggembungkan pipinya marah. "Sudah kubilang jangan sombong karena kau hidup lagi! Kau masih saja berpikir bodoh padahal baru bangkit dari kematian. Kau bisa bayangkan bagaimana keadaanku saat ini jika saja Kuchiki-san tidak membunuhmu waktu itu. Mungkin kau sudah pergi untuk selama-lamanya dari hidupku," gadis itu terisak sekali lagi. Toushiro hampir mati bosan mendengar isakkannya sejak pagi.
Menghela napas, menggerakkan tangannya sekuat tenaga untuk menggenggam tangan hinamori yang basah untuk mengelap air mata. "Baiklah. Baiklah. Jangan menangis lagi, please. Kau tahu aku tidak suka melihatmu menangis."
Seperti yang sudah diperkirakannya, Hinamori tersentuh mendengar perkataan Toushiro. Toushiro tersenyum tipis, menunjukkan bahwa ia benar-benar sudah baik-baik saja sekarang.
"Aku hanya khawatir kau di sini sepanjang hari. Aku bahkan ragu kau sudah makan atau belum," Toushiro kembali telentang di kasurnya. "Dan aku ingin sendiri. Sejak aku sadar aku belum memiliki waktu bernapas dengan bebas."
Hinamori sudah berhenti menangis.
Toushiro mengerlingnya, tersenyum penuh ketulusan yang biasanya hanya ia tunjukkan pada Hinamori. "Kudengar Matsumoto mengadakan pesta. Mungkin kau sudah ketinggalan separuh acara, tapi kurasa kau juga harus kesana."
Hinamori tertawa kecil. Hidungnya masih tampak merah. "Sudah pasti itu hanya sebuah pesta yang didominasi alkohol dan bersenang-senang."
"Kau pantas mendapatkannya," gumam Toushiro.
Hinamori tak langsung menjawab, tapi ia tersenyum. Akhirnya gadis itu benar-benar tersenyum. Senyumanya benar-benar manis menunjukkan dia sudah jauh lebih baik.
"Baiklah," jawabnya mengalah. Kau akan baik-baik saja kutinggal di sini sendirian?"
Toushiro memutar bola matanya, "Yes mummy."
Hinamori tertawa kecil. Kemudian setelah mewajengi Toushiro tentang makan malam dan obat dan entah apa itu, dia akhirnya pergi. Toushiro menatapnya sampai dia menghilang di balik pintu. Ah, rasanya menyenangkan bisa sendiran kali ini. Mekipun keberadaan Hinamori sangat membantunya berpikir tadi, entah bagaimana Hinamori selalu bisa membuat Toushiro yakin bahwa semua memang akan baik-baik saja.
Toushiro mencoba bergerak kesamping, dan berhasil. Ia yakin akan kemampuan penyembuhannya yang hebat. Ia akan kembali seperti semula. Dan menjalani hidup normalnya lagi.
Matanya menangkap sebuah pot yang ada di atas meja. Benda itu benarik perhatian karena potnya sangat mengkilap dan tampak mahal. Terdapat sebuah tumbuhan dengan bunga yang masih kuncup dan yang membuat Toushiro mengamatinya hati-hati adalah karena tumbuhan itu bersinar.
Bunga bukanlah tipikal Matsumoto dan Hinamoripun lebih memilih membawakannya makanan daripada hal-hal seperti itu. Jadi, siapa yang membawa benda itu kemari?
Pintu bergeser dan suara langkah kaki menggema memenuhi ruangan. Toushiro memutar badan dan matanya melebar melihat siapa yang mengunjunginya setelah Ichigo Kurosaki dan teman-teman dunia manusianya tadi.
Rukia Kuchiki datang dengan hawa ganjil yang menyesakkan. Jantung Toushiro berdegup kencang. Selalu seperti ini. Adrenalin ketakutan mengaliri nadinya tiap kali Toushiro melihat gadis itu. Dan sekarang dia tidak main-main, Kuchiki bergerak cepat sekali dan entah bagaimana dia sudah duduk di pinggir kasurnya.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Toushiro berusaha sesinis mungkin.
Gadis itu melakukannya lagi. Dia manatap Toushiro penuh sakit hati. Toushiro mencelos, ia paling tidak tahan ditatap seperti itu. Seakan dialah peran jahat di sini.
"Maafkan aku, kapten," Kuchiki cegukkan. Toushiro menatapnya, dan ia agak terkejut mendapati Kuchiki sedang dalam keadaan mabuk. Koreksi, seorang Kuchiki tidak pernah mabuk. Mungkin minum pernah, tapi tak mungkin sampai mabuk. Sisi lain dari Toushiro memaksanya agar sadar menurut perspektif Kuchiki. Bagaimana gadis itu menanggung semua kemarahan Toushiro. Bahkan Toushiro bisa melihat kata 'aku telah membunuhmu. Beri aku pengampunan sekarang,' tercetak jelas di jidatnya.
"Maafkan aku," Kuchiki memohon sekali lagi. Wajahnya merah karena pengaruh alkohol. Dia pasti dari pesta yang Matsumoto adakan. Astaga, Toushiro akan membunuh wakilnya jika bertemu nanti.
"Pergilah," sahut Toushiro.
"Tidak. Sebelum kau memaafkanku."
"Pegilah!"
"Tidak akan!" Kuchiki menyulut api.
"Aku tidak ingin melihatmu, Kuchiki. Pergi sebelum aku menghabisimu…"
"Oh ya? Dengan apa? Aku bertaruh kau bahkan tidak bisa menjangkauku."
Toushiro menggeram. Gadis itu boleh mabuk, tapi tak akan ia biarkan menginjak harga diri Toushiro. Tak pernah ada seorangpun gadis di dunia ini yang pernah menantang Toushiro. Bahkan Kuchikipun tidak.
"Kau pikir ini ulah siapa?" tanyanya sarkasme.
"Karena itulah maafkan aku! Terimalah bantuanku!" Kuchiki berteriak frustasi.
"Dalam mimpimu," gumam Tosuhiro. Menunjukkan pertahanan terbaiknya malam ini.
Dan Kuchiki bergerak sebelum Toushiro sempat berkedip. Gadis gila itu bersungguh-sungguh kali ini. Toushiro tak habis piker keberanian dari mana yang merasuki Kuchiki ketika gadis itu nekad naik ke ranjang Toushiro.
Tidak. Sebenarnya gadis itu nekad naik ke atas Toushiro.
"Maafkan aku," katanya lirih.
"T-turun!" Shit. Kanapa terselip nada tegang dalam kata-katanya.
"Tidak mau. Kau harus memaafkanku terlebih dahulu!"
"Apa yang kau lakukan, Kuchiki?!"
"MAAFKAN AKU!" Toushiro terangkat melayang. Yang terjadi sebenarnya adalah, Kuchiki menarik kerah blus Rumah Sakit Toushiro. Dengan mengesampingkan ketakjuban Toushiro soal kekuatan Kuchiki, keterkejutan Toushiro menjadi berlipat ganda saat merasa sesuatu yang basah merembes ke sprei di bawahnya. Jarak wajah mereka berdua begitu dekat. Terlalu dekat. Sampai Toushiro bisa merasakan panasnya napas Kuchiki menyapu wajahnya. Gadis itu tampak sekali kesakitan, bakan untuk bernapas saja kelihatannya harus penuh perjuangan.
Dan ketika dahi bereka bersentuhan, Kuchiki membuka mulut. "Kumohon, maafkan aku kapten. Kumohon. Aku tak ingin lebih tersiksa dari ini." Kuchiki membawa satu-dua tetes air matanya mengalir lagi. Kemudian dia sekuat tenaga menahan agar tak meraung. Isakkan itu terdengar lebih menyakitkan daripada isakkan-isakkan yang Toushiro dengar hari ini. Tangisan Kuchiki terdengar lebih mencengkeram dadanya melebihi tangisan Hinamori atau Matsumoto. Dan wajahnya… fuck bikin Toushiro sakit kepala saja. Wajah ini mengingatkannya pada alasan mengapa Toushiro menghapus lelehan air mata Kuchiki pada malam berhujan itu.
Toushiro merasa pening melihatnya. Ia muak hingga mau muntah. Ia tak sanggup melihat wajah Kuchiki terlalu lama lagi. Atau ia bisa bunuh diri karena membuat gadis itu menangis. Seumur hidup Toushiro tak pernah membuat seorang gadis menangis hingga seperti kehilangan separuh hidupnya. Kenapa Kuchiki sampai seperti ini?
Kenapa harus Kuchiki?
"Enyahlah," bisik Toushiro tepat di depan Kuchiki. Mereka begitu dekat, bahkan Toushiro bisa melihat refleksi dirinya sendiri di bola mata Kuchiki yang besar—dan indah. Dan dengan memfokuskan seluruh tenaganya, memaksa otot-otot tangannya bekerja, persetan dengan kelumpuhan. Hal ini lebih penting. Toushiro berhasil mengangkat satu tangan kanannya. Berhenti beberapa detik di udara, bukan karena tak kuat, tpai TOushiro perlu memikirkan hal ini ratusan kali lebih dahulu. Tapi ketika Kuchiki masih memandangnya, ia tahu harus melakukan apa.
Tangannya menyentuh pipi Kuchiki yang sudah basah, kemudian mengusapnya perlahan.
"Enyahlah, Kuchiki," Toushiro mendekatkan wajahnya. "Kumohon pergilah, agar aku bisa berpikir jernih."
Air mata kuchiki terasa panas mengenai tangannya, tapi air mata itu tak berhenti mengalir sekejam apapun kata-kata yang Toushiro tusukkan padanya. Napas gadis itu memburu, terasa sangat panas. Tapi dia diam saja.
"Okay?" Tanya Toushiro, berharap Kuchiki segera menghilang dari pandangannya. Berharap tindakan yang Toushiro lakukan mengindakasikan pengampunan untuknya.
"Okay," sahutnya. Tapi tubuhnya mengkhianati perkataanya sendiri. Toushiro terkejut ketika Kuchiki menjatuhkan tubuhnya—menerjangnya, hingga jatuh ke kasur dengan posisi Kuchiki berada diatas dadanya. Gadis itu memeluk tubuh Toushiro begitu kencang hingga Toushiro tak bisa bergerak, ah, dia memang tidak bisa bergerak. Maka malam itu, Toushiro telah kalah dengan membiarkan Kuchiki memeluknya. Karena sesungguhnya ia tak bisa benar-benar marah padanya. Karena sesungguhnya, setelah tahu cerita versi Hinamori tentang Kuchiki, Toushiro sangat berterimakasih padanya.
Toushiro hanya membiarkan Kuchiki menangis di dadanya sampai gadis itu terlelap dengan sendirinya.
Sinar matahari menerobos masuk lewat jendela besar yang ada di ruangan ini. Hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Rukia bergidik, ia masihlah sangat mengantuk. Sepertinya kemarin adalah hari yang sangat melelahkan. Ia hanya ingat terkahir kali ia minum-minum bersama Hisagi dan Renji kemudian sepertinya ada kejadian seru tapi Rukia melupakannya. Aroma harum bunga sakura dan rumput yang basah di pagi hari menyengat di hidungnya. Rukia menghirup udara banyak-banyak, namun kemudian hidungnya mencium bahu asing yang sangat kuat.
Bau maskulin yang sangat lembut terasa sangat dekat padanya. Bau itu… hangat. Kemudian bau obat-obatan kimia mulai tercium.
Rukia membuka matanya cepat.
Matanya melebar, butuh tiga detik untuk menyadari hal yang ada di depannya adalah sebuat leher—cowok. Rukia mengangkat wajahnya, napasnya terhenti begitu saja melihat sebuah wajah rupawan yang tepat ada di depannya. Rukia menahan napas, melirik ke kanan-kiri mencari pertolongan. Tapi bergerak sesentipun ia takut akan membangunkan pemuda itu.
Rukia menggigiti jempolnya tangannya yang tadinya berada di atas dada orang itu, astaga. Kepalanya sakit untuk mengingat, sepertinya ia minum tak kurang dari sepuluh gelas. Rukia menggigit bibir, ini semua gara-gara Hisagi yang terus-terusan mencekokkinya sake. Dan… dan setelah ia mabuk ia hanya berjalan pergi. Kemana? Segala konfrontasinya dengan Ichigo membuatnya tak tentu arah. Maka malam itu Rukia berjalan di koridor yang sepi dan sampai ke kamar ini.
Lalu apa?
Sepertinya ada banyak tangisannya malam itu dan… dan…
"Sudah bangun?"
Rukia terlonjak hingga ototnya yang kaku menjadi sakit. Jantungnya berdegup kencang menatap Toushiro dalam jarak sedekat ini. Ah, ini tak lebih dekat dari jarak wajah mereka tadi malam.
"K-kapten…"
"Hm?"
Tidak bisa dipercaya. Kejadian tadi malam bukanlah halusinasinya belaka. Bahkan membuahkan hasil. Tak ada nada marah maupun curiga dalam perkataan Hitsugaya. Sepertinya Rukia melakukan hal memalukan tadi malam. Bahkan wajahnya terasa lengket oleh air mata. Astaga Rukia mau mati saja menahan malu.
"Kapten, aku…"
"Minta maaf? Aku muak. Jadi kau boleh berhenti sekarang," kata Hitsugaya cepat.
Seakan benda ganjil besar yang selama ini menahan dadanya terangkat dan menghilang entah kemana. Pundaknya menjadi lebih ringan dan kata-kata Hitsugaya barusan membuat Rukia menemukan caranya bernapas dengan normal kembali.
Dan tanpa sadar senyumnya mengembang.
"Apa ini? Kau tersenyum sekarang?"
"Ah, tidak! Tidak! Maafkan aku kapten. Aku hanya… tidak bisa percaya. Maksudku, aku masih ingin membantumu," jawab Rukia nyaris tegang. Matanya mencoba menatap Hitsugaya. Pandangan orang itu selalu tajam dan penuh keyakinan meskipun Hitsugaya adalah orang yang seperti anak kecil.
Hitsugaya mendengus, "Ck, tentu saja. Tentu saja kau harus membantuku. Bagaimanapun juga sakit rasanya kau tusuk dengan pedang."
Rukia benar-benar tersenyum kali ini.
"Kau tidak pergi? Ichigo sedang di Sekai gate sekarang. Dia akan segera pergi, kau punya waktu lima menit," Toushiro member tahu.
Rasa sesak itu kembali menekan dadanya. Rukia mencoba tersenyum, menggeleng samar. "Aku sudah mengucapkan selamat tinggal padanya. Lagipula… aku harus membantumu, bukan? Ada yang kau butuhkan, Kapten?"
Benar. Rukia bertindak tepat. Ia akan memprioritaskan hal lain ketimbang menghadapi kenyataan yang sedang berlangsung.
Hitsugaya jelas tampak heran, tapi karena Rukia terus menatapnya, ia hanya menggangguk. "Aku butuh air."
Rukia tersenyum, "Baiklah. Tapi biarkan aku tidur lima menit lagi."
Hitsugaya nyaris tertawa kecil. Tapi orang itu membiarkan Rukia memeluknya sekali lagi.
TBC
NB: Jadi, you-know-it-all guys! Yep. Next chapter bakalan lompat waktu lagi. Terlalu canon huh? Mari kita coba memahami jalan pikiran author. Next chapter, next two year! Again.
