Hai! Hai!

Sori telat update. Sori chapter ini pendek (Semoga besok panjang). Sori kalau OOC. Sori kalau typo.

Ada yg bisa bantu kenapa sekarang internet positif/ gak bisa dibuka? What the hell! Sekarang harus buka pake komputer lain, grr.

Nah, makasih yg udh pada review dan terus tolong kasih masukan dan tanggapan anda sekalian

Enjoy!


Salju turun bagaikan badai, memaksa Ichigo mengatupkan mulutnya rapat-rapat agar tak kemasukan es-es halus tersebut. Tak ada matahari, ketika Ichigo mendongak tampak hanya bentangan luas awan kelabu tanpa ujung membentang di atasnya. Ichigo merapatkan syal merahnya bahkan sampai setinggi hidung. Ia bisa melihat uap keluar dari hidungnya tiap kali mencoba bernapas.

Ia berjalan menyeret kaki, menyingkar tumpukan salju yang menghalangi jalannya. Pagi ini terlalu dingin untuk sebuah hari natal. Semoga malam natal nanti tak ada satupun badai yang merusak harinya. Karena hari ini mungkin masuk hitungan hari special baginya. Mungkin.

Ichigo merasa bahunya di hantam hingga terdorong ke depan. Nyaris marah, Ichigo memelototi orang yang merangkul bahunya begitu kuat.

"Selamat natal, Ichigo!" seru Asano memeluknya erat.

Ichigo mendorong wajah Asano menjauh darinya, "Yeah, tapi natal masih besok…hentikan! Jangan beraninya kau menciumku!" seru Ichigo.

Asano melepaskan pelukannya dengan wajah merengut, dia memukul bahu Ichigo. "Kenapa kau sensitive sekali hari ini? Ayolah, besok natal!"

Ichigo mendengus, "Wew, besok natal. Fantastis."

Asano mengeluh, "Dasar manusia pasif! Sudah, lebih baik kita bersenang-senang nanti malam! Kita akan pesta, yeeeahh!"

Mereka meneruskan berjalan, meninggalkan jejak-jejak di atas karpet putih itu. Jalan utama kampus tertutup salju sangat tebal. Pohon-pohon tanpa daun dan tertimbun salju pada dahannya, bahkan lampu taman sengaja dihidupkan guna membantu jarak pandang setiap orang.

Ichigo merapatkan syalnya, "Oke. Setiap orang harus bersenang-senang pada malam natal bukan?" Ichigo tersenyum. Hal-hal klasik yang sangat dinantikannya. Merayakan malam natal dengan orang-orang terdekatnya. Hal-hal cengeng seperti berdoa bersama dan makan kue manis serta pesta penuh suka cita adalah hal yang dinantikannya. Hebat bukan? Dalam dua tahun ini Ichigo berusaha sekeras apapun untuk beradaptasi kembali dengan dunia dongengnya. Dimana dunia penuh kedamaian dan hanya dengan sedikit—sangat, hollow yang ada dalam hidupnya. Memang awalnya terlalu datar hingga Ichigo merasa bisa mati bosan setelah perang dengan para quincy. Tapi memang apa yang bisa ia harapkan? Ia sudah berada di tempat yang tepat. Tak ada hal yang bisa mengubah kenyataan itu. Tak akan pernah ada.

"Chad menelponku tadi malam, katanya keretanya tiba pagi ini. Ahh, selama dua tahun kita hanya bisa melihat wajahnya tiga bulan sekali. Kenapa sih orang itu memilih kuliah di Ibu kota?" Asano terdengar menggerutu.

Ichigo hanya bergumam pelan. Chad memilih kuliah di Tokyo, itupun Ichigo meragukan kalau orang itu sedang kuliah. Entah dapat firasat darimana tapi Ichigo yakin Chad mungkin sedang menjadi kuli atau pelayan restoran. Entahlah. Wajah dan fisiknya sangat cocok untuk hal semacam itu.

Angin bersalju berhembus kencang, membuat Asono gemetar berlebihan di sampingnya. "Brrr, hari ini sangat dingin. Tapi semoga saja nanti malam akan cerah. Please God, nanti adalah malam natal! Biarkan kami bersenang-senang layaknya seorang remaja!"

Ichigo tersenyum, "Aku benar-benar berharap malam nanti cerah. Semoga saja."

Asano mendekat padanya, menyenggol bahu Ichigo pelan. "Tidak biasanya kau berdoa untuk sebuah kebaikan. Hmm, kau sedang merencanakan sesuatu ya?"

Ichigo menatap lurus kedepan, dimana salju berguguran dan sesosok siluet berjalan tak jauh di depan mereka. Sosok yang tak asing.

"Kurasa itu Ishida," kata Ichigo seraya berjalan meninggalkan Asano.

"Hei! Tunggu aku! Kau mau kabur ya?" Asano terdengar penasaran. Dia berlari mengejar Ichigo yang sudah beberapa langkah di depannya. Karena tidak mungkin Ichigo akan mengaku pada Asano bahwa dia memang benar-benar memiliki sebuah rencana.

"Still cold, huh?" Sapa Ichigo. Ishida melirik melewati kacamatanya. Dia tersenyum tipis.

"Aku tidak mengerti," balas Ishida tersenyum tipis. Orang itu tak banyak berubah. Bedanya hanya sekarang dia tidak memakai kacamata kutu bukunya dan rambutnyapun dipotong cepak. Tak pernah ada yang meyangka bahwa Ishida akan bisa bertransformasi dari itik buruk rupa menjadi seekor angsa. Tapi tetap saja, bagi Ichigo dia tidak ada apa-apanya.

Mereka berjalan beriringan. Salju tebal menutupi aspal sampai ke betis orang dewasa. Pohon-pohon yang tinggal dahannya tertutup salju. Ichigo menghela napas penuh uap. Dari kejauhan tampak siluet seseorang yang janggal. Ia menyipitkan mata ke arah sebuah lampu jalan yang bersinar redup diantara kabut salju. Berdiri seseorang yang aneh. Dan setelah mereka berada beberapa meter dari tempat wanita itu berdiri. Ichigo menyadari bahwa dia hanya sedang melihat sesosok hantu perempuan dengan wajah depresi berdiri di sana.

Ichigo mengangkat alis. Selama hampir dua tahun ia kuliah di Universitas Karakura ini, ia hafal kalau hantu perempuan itu biasanya nongkrong di depan fakultas sastra. Karena begitu seringnya Ichigo mengunjungi fakultas sastra, Ichigo yakin kalau tak pernah seharipun hantu itu absen dari fakultas sastra.

"Taliku lepas," kata Ichigo pelan. Ishida dan Asano tampaknya tak mendengar dalih itu dan berjalan tanpa memperhatikan Ichigo yang sudah pura-pura membenarkan sepatunya yang sebenarnya tidak bertali.

"Sepatumu tidak punya tali," bisik hantu perempuan itu dan Ichigo bersumpah suaranya membuat setiap orang ikut merasakan penderitaan yang dalam dan kesakitan di sana. Dulu ia pernah sempat mensucikan roh itu, tapi karena iba, ia tak jadi melakukannya.

"Memang," sahut Ichigo.

Hening. Jalan utama mulai sepi karena kelas pagi sudah dimulai lima menit lalu.

"Tumben kau di sini," kata Ichigo hati-hati. Karena entah sejak kapan, ia selalu berusaha menahan diri agar tak terlalu terobsesi dengan hal-hal supranatural macam ini. Ia tak ingin terlalu berharap mengingat dunianya sudah terputus dengan dunia roh.

Hantu itu meliriknya, wajahnya benar-benar depresi dan banyak kerutan meskipun hantu itu masih muda. "Rupanya kau selalu mengawasiku ya?"

Ichigo mendengus, "Tidak juga."

Tatapan kosong hantu itu kembali menerawang jauh, "Tentu saja. Karena kau selalu ke fakultas sastra. Sungguh hidup penuh cinta itu menyenangkan. Huh."

Ichigo memutar bola matanya. "Aku bukan datang kemari untuk mendengarkan kisah tragis hidupmu lagi. Basi tahu. Aku hanya ingin tahu kenapa kau akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana?"

Dan secara mengejutkan, hantu itu mulai melayang pergi. "Atmosfir ini membuat setiap hantu sepertiku tidak nyaman. Aku tidak suka. Lebih baik aku pergi bersembunyi sebagai tindakan antisipasi."

"Hei, tunggu! Apa maksdumu?" Tanya Ichigo yang berakhir dengan rasa penasaran yang semakin membanjiri pikirannya.

Ichigo mendongak ke atas, matanya menerawang ke jauhan seakan bisa melihat entah apa itu yang ada di atas langit. Salju berguguran dan tanpa sengaja masuk ke dalam matanya.

Ichigo menggeleng samar, menghela napas sebentar sebelum memutuskan untuk segera masuk ke kelasnya. Tembok besar bercat kuning pucat fakultas atlet sudah menantinya setelah belokan ketiga. Ichigo baru menyadari bahwa ia berjalan sendirian. Ia mempercepat langkahnya ketika bahunya ditubruk keras dan Ichigo hampir saja menyebut nama Asano ketika ia ingat orang itu sudah berlalu dari tadi.

"Whoa, kenapa kau tampak frustasi?" Tanya Tatsuki. Teman sejak kecilnya sekaligus teman sefakultasnya merangkul bahu Ichigo erat.

"Tidak apa-apa," gumam Ichigo.

Tatsuki menyenggol bahunya, dengan wajah licik ia bertanya, "Bagaimana rencananya, heh? Kau siap untuk beraksi malam ini bukan?"

Ichigo merasa pipinya agak panas, "Hentikan. Kau tidak boleh ikut campu urusanku."

"Ohoho, benarkah? Memang selama ini siapa yang mendukungmu?" Tatsuki berwajah semakin menjengkelkan.

Ichigo mendengus, "Lebih baik kau pikirkan dulu nilai renangmu, sweetheart. Kalau tidak jangan harap bisa lulus dalam 3 setengah tahun."

Air muka Tatsuki langsung berubah dongkol, dia tahu Ichigo lebih unggul darinya hampir di segala bidang. Dia memukul bahu Ichigo keras sampai bahu Ichigo terasa berkedut. "Kau juga, lebih baik kau mengaca sekarang dan merapikan penampilan gelandanganmu itu! Kita kan pesta nanti malam," kata Tatsuki.

Ichigo mengacak pelan rambutnya sendiri, "Memang apa salahnya dengan ini?" Ichigo merengut. Memang rambutnya sekarang lebih panjang beberapa senti, mengingatkannya ketika konspirasi Aizen dulu. Serta acak-acakan, entah mengapa rambutnya selalu berantakan. Tinggi tubuhnya bahkan tak bisa dikendalikannya. Ia semakin tinggi, semakin tampan dan semakin mirip gelandangan.

"Tentu saja kau harus memperhatikan penampilanmu, kau bilang malam ini—nah! Itu dia!" seru Tatsuki, ia menerikan nama seseorang hingga orang itu tak jadi masuk fakultas sastra.

"Tatsuki-chan! Kurosaki-kun!" serunya ceria seperti biasa.

Ichigo tak ikut berjalan ke arah Inoue seperti halnya yang sedang dilakukan Tatsuki. Ia hanya mengangkat tangannya ke udara dingin dan melambai seperlunya. Karena ia tahu hal-hal sepele macam itu sudah cukup membuat Inoue merasa senang. Gadis itu tak banyak berubah. Dia hanya menjadi semakin cantik dan semakin gamblang menunjukkan perasannya yang sebenarnya. Ichigo tidak menentang itu. Ia sudah tahu. Ia sudah tahu bahkan sejak dari awal. Ia hanya tidak ingin menanggapinya. Karena ia suka hidup penuh petualangan serta adrenalin yang menyegarkan. Tapi belakangan ini, ia sadar ia tak bisa hidup dalam dunia fantasinya selama yang ia inginkan. Seseorang membuatnya bangun dari segala keseruan itu, menamparnya keras dengan fakta bahwa masih memiliki kehidupan yang terus berlanjut. Membuat ia akan mengambil langkah yang seharusnya sudah menjadi jalannya sejak awal.

Ia harus lebih manusiawi.

Maka setelah Ichigo melambai pada mereka berdua, ia segera berlalu. Berjalan menerobos salju yang berguguran. Memikirkan rencana panjang malam ini yang akan menjadi bukti konkritnya sebagai manusia. Manusia yang punya perasaan terhadap manusia lain.

Ichigo mengira apakah Inoue akan suka bunga malam nanti.


Suara dentingan gelas-gelas yang saling berbenturan memenuhi ruangan. Gelak tawa dan suara makanan yang dikunyah terdengar jelas di sini. Isshin tertawa terbahak-bahak hingga orang itu terjungkal ke bawah. Rupanya lelucon Asano tentang celana dalam Chad membuat semua orang nyaris menangis karena tertawa.

Ichigo menyemburkan birnya, kemudian terbahak tak karuan. Entah bagaimana malam ini begitu menyenangkan. Malam ini semua terasa lucu dan tak ada beban. Jika orang lain menamakan hal ini sebagai keajaiban natal, Ichigo lebih suka menamainya keajaiban alkohol.

Suasana rumah Inoue sangat penuh dan kecerian menyebar di setiap sudut ruangan. Banyak orang fakultas lain yang tidak Ichigo kenal, dan yang paling parah adalah Isshin mengikutinya sampai ke sini. Sekarang orang yang ia sebut ayah itu sedang mencoba melakukan break-dance dan tampaknya masalah punggungnya kambuh.

"Ahahaha astaga! Bisakah kau bayangkan perasaan gadis kecil itu ketika ia melihat Chad dengan celana dalam di kepala? Godammit, Chad! Ngapain saja sih kau di Tokyo?" Asano masih tak bisa berhenti tertawa.

Chad bersemu merah yang butuh kejelian untuk bisa melihatnya. Ichigo tertawa, ia menyenggol bahu Chad. "Jadi aku benar bukan soal jadi pelayan restoran?"

Chad memandangnya, "Yah tapi itu hanya pekerjaan sampingan. Aku tetap kuliah, kau tahu!"

Ichigo menyeringai, "Oke. Oke. Anggap saja aku percaya. Kau bertambah kurus sekarang, makanlah yang banyak. Aku sudah lama sekali tidak melihatmu."

"Iya, Chad! Ini makanlah kue bawang yang kubuat! Kau pasti suka," tiba-tiba Inoue mendatangi kumpulan para lelaki. Gadis itu menyodorkan senampan penuh kue sebesar cangkir dengan bau yang membuat mata Ichigo berair. Ichigo nyaris tertawa lagi ketika melihat Chad dengan hati-hati memasukkan benda itu ke dalam mulutnya.

Ia tak bisa menahannya lagi, "Ahahaha. Bagaimana rasanya? Kau harus makan banyak," kata Ichigo sambil menepuk-nepuk bahu Chad yang bergetar menahan gejolak ingin muntah.

"Kau memang tahu bagaimana caranya menghibur, Inoue," ucap Ichigo sembari menatap gadis itu.

Ada sembuat merat di pipinya. Ichigo tersenyum tipis. Inoue selalu saja bisa melakukan hal-hal konyol yang menghibur, dia gadis yang selalu ceria walaupun belakangan Ichigo mengetahui bahwa gadis itu sering merasa kesepian karena tidak memiliki keluarga. Meskipun begitu, Inoue selalu tersenyum dan entah bagaimana gadis itu bisa membuat Ichigo ikut bersemangat.

Gadis ini begitu... baik. Begitu tepat untuknya. Untuk orang seperti Ichigo yang keras kepala dan pasif sepertinya.

"A-ada apa, Kurosaki-kun?" tanya Inoue.

"Bukankah sudah kukatakan padamu untuk memanggilku Ichigo?"

Inoue tak bisa menutupi keterkejutannya dan wajahnya semakin merah. Dia menyeibakkan rambut panjangnya salah tingkah. Hah, begitu cantik.

Suara Issin memenuhi ruangn. Dia sedang menyanyikan lagu dengn bahasa yang Ichigo tak mengerti. Mendadak ruangan sudah riuh kembali. Bau manis bir dan makanan menguar kemana-mana. Semua orang mulai bersuka cita dan berkaraoke bersama.

"Apa kau ingin keluar?" tanya Ichigo.

Inoue tampak begitu ingin, "Tapi aku belum mengeluarkan bubur wortelku?"

Ichigo tertawa, "Aku yang akan memakan semua buburmu itu."

Ichigo terperangah mendapati dirinya hanya sebuah bagian kecil dari lautan manusia yang mengelilingi alun-alun kota. Di tengah sana ada sebuah pohon natal raksasa yang dihias sedemikian rupa hingga membuat matanya silau melihat itu. Alun-alun penuh ramai dan sesak, meskipun atmosfir kegembiran dapat dirasakan walau hanya melihatnya. Salju turun dengan lembut nyaris tak terlihat, tak ada badai. Bahkan langit tampak cerah dengan bintang yang sebenarnya terlalu berlebihan. Alun-alun penuh sesak dengan toko yang ada di kanan-kirinya selalu ramai. Malam ini begitu indah. Begitu normal dan menyejukkan.

"Kurosaki-kun, terimakasih makanannya," kata Inoue dengan tulus. Dia menggigit kue hangatnya dengan wajah bahagia.

"Apa tadi kita sudah membahas namaku? Ichigo, ingat? Dan aku senang bisa membelikanmu makanan normal," sahut Ichigo.

Inoue tertawa kecil, dia menggosokkan kedua tangannya karena dingin.

"Kau baik-baik saja?" tanya Ichigo.

"Ya, aku tidak apa-apa."

"Lalu kenapa wajahmu merah?"

Inoue memutar badan menghadapnya, "T-tidak. Aku hanya senang malam natal ini sangat menyenangkan. Aku... aku senang aku tidak sendirian lagi ketika malam natal..." Inoue tak melanjutkan perkataanya. Matanya tampak mulai berair.

Ichigo menepuk pelan kepala Inoue, "Kau ada di sini bersamaku. Apakah itu cukup?"

Ichigo merasa akan muntah mendengar kata yang keluar dari mulutnya sendiri. Astaga, sejak kapan kau jadi murahan Ichigo? Kata-kata klise semacam itu... ah, Ichigo hanya sedang berusaha menjadi manusia seutuhnya tahu. Ichigo tahu inilah hal-hal normal yang seharusnya ia lakukan.

Sebaliknya, Inoue tersenyum mendengarnya. Dan entah apa itu, Ichigo merasakan tangannya digenggam oleh sebuah tangan hangat. "Terimakasih ya, Ichigo-kun?"

Untuk sesaat Ichigo merasa waktu berhenti sedetik ketika Inoue tersenyum. Ichigo tahu banyak orang bilang kalau Inoue cantik, tapi ia tak benar-benar menyadarinya hingga malam ini.

"Kurasa terimakasih saja tak cukup," kata Ichigo. Ia menghela napas, "Apa kau mau...," tenggorokannya tersekat. Ichigo tidak mengira memulai sebuah hubungan akan sesusah ini. Atau sebenarnya ia sendiri yang membuatnya susah.

Inoue menatapnya, membuat Ichigo malah semakin tidak mengerti apa yang harus dilakukannya pada kondisi ini. Matanya mencari bantuan dan tak sengaja menangkap pohon natal itu yang di kerumuni banyak orang.

"Apa... kau mau ke sana? Ehm, kau tahu, kata Tatsuki di pohon itu digantungkan kertas-kertas motivasi atau semacamnya," kata Ichigo yang mengutuk perkataannya sendiri.

Tapi Inoue tersenyum, "Mungkin maksudmu harapan-harapan baik yang ingin dicapai tahun depan. Tapi, baiklah. Ayo kesana!"

Ichigo bisa kembali bernapas lega. Ia bersyukur karena sepertinya Inoue tidak mempermasalahkannya. Karena sesungguhnya Ichigo sendiri tidak tahu apa yang sedang dilakukannya.

Ichigo membiarkan dirinya ikut terhanyut mengikuti arus manusia-manusia yang ada. Inoue entah sejak kapan menggenggam erat tangannya. Bagus, selangkah lebih dekat. Kurasa ini akan memudahkan rencananya.

Mereka berdiri beberapa meter dari pohon natal yang ternyata ketika dilihat dari dekat lebih menyilaukan karena terlalu indah. Memang indah, tapi terkadang hal-hal yang indah bisa menyakitimu. Matanya bisa iritasi. Tapi Inoue tampak berbinar-binar melihat pohon raksasa itu. Dia tampak seperti gadis polos yang tak pernah melihat pohon natal.

"Kau suka?" tanya Ichigo, menyiapkan hati.

"Ya! Ini indah sekali Ichigo-kun, aku tak tahu akan begini rasanya," katanya senang.

"Bagaimana rasanya?"

Inoue menoleh kearahnya, masih mencoba menafsirkan perkataan Ichigo. "Rasanya... aku sangat bahagia. Apalagi ada kau di sini," gumam Inoue bersemu merah.

Lautan manusia mulai bergerak-gerak cepat setelah mendengar pengumuman bahwa di salah satu hiasan gantung dipohon natal adalah uang tunai. Keadaan begitu riuh. Tapi Ichigo menikmati ini. Inilah saatnya.

"Kalau begitu lebih baik kau menjadi..." tubuhnya terdorong. Orang-orang mulai berdesakkan. Ada orang di belakangnya yang menubruknya. Ichigo berbalik dan mendapati rambut orang itu tersangkut pada tudung jaketnya.

"Maaf," kata orang itu.

"Biar kubantu," ucap Ichigo seraya membantu melepaskan rambut panjang orang itu.

"Heish, rambut sial," umpat orang itu.

Ichigo mengerutkan dahinya, entah mengapa darahnya mengalir lebih cepat. Kemudian ketika rambut itu berhasil lepas, napasnya benar-benar berhenti detik itu juga. Udara menyusut seketika membuat Ichigo menahan napas. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan bahkan ia tidak tahu apa yang harus dipikirkannya. Karena logikanya bekerja secara mengejutkan.

Ini tidak mungkin. Mustahil.

Rukia Kuchiki juga tengah menatapnya dengan mata melebar. Mata itu tidak berubah. Mata violet yang begitu ingin dilihatnya dua tahun belakangan ini. Mata yang... ini tidak mungkin.

Ichigo masih mencoba menemukan cara bernapas yang benar ketika orang-orang bergerak kembali, memberebutkan hadiah yang digantungkan di pohon natal.

Mereka terdesak. Semua menjadi tak terkendali. Kemudian ketika Ichigo selesai menyingkirkan seorang pria yang jatuh di dekat kakinya, Rukia sudah tidak ada. Gadis itu menghilang. Hanya ada suara kembang api yang meledak di langit. Ichigo bahkan tidak tertarik melihatnya.

"Ichigo-kun?"

Lengannya ditarik, dan Ichigo harus memutar kembali tubuhnya.

"Ada apa?" tanya Inoue tampak heran.

Ichigo nyaris saja meneriakinya dengan pertanyaan 'Apa kau tidak melihatnya tadi?!'. Mulutnya sudah setengah terbuka, tapi kata-katanya tidak keluar. Otaknya berpacu. Tapi sekeras apapun ia berusaha menghubung-hubungkan antara fakta dan gairah, hasilnya tetap sama.

Mustahil.

Ichigo mendengus, ia tersenyum sendiri, menggelengkan kepalanya pelan. "Dasar sinting," gumammnya.

"Apa? Kau kenapa?" tanya Inoue.

Ichigo masih tertawa sendiri, "Gila. Sudahlah, Inoue, kurasa aku ingin pulang saja."

Inoue tampak terkejut, air mukanya berubah kecewa. Ichigo malah menjadi semakin kacau. Ini tidak benar. Semua terasa salah.

"Maafkan aku, besok kita pergi lagi. Aku benar-benar ingin pulang," katanya.

"Memangnya ada apa, Ichigo-kun? Apa yang ingin kau katakan tadi?"

Bahkan Ichigo hampir melupakan tujuan awalnya kemari. Ia menggeleng.

"Maaf, aku tidak bisa. Kurasa aku harus pergi." Ia tak sampai akal melakukan itu. Ichigo hanya pergi meninggalkan Inoue, menerobos kerumanan orang yang heboh.

Ichigo berusaha mencari orang itu lagi. Ia hanya ingin memastikan apakah ia masih waras. Mengira setiap perempuan yang berambut panjang adalah Rukia. Kepalanya mulai terasa pening. Ini semua...fuck. Ichigo merasa ia sudah kehilangan akal sehatnya. Lagipula ia tidak merasakan reiatsu dari Rukia. Semua ini mungkin hanya angan-angannya saja.

Ya ampun. Apa Ichigo begitu ingin melihat Rukia sampai berhalusinasi tentangnya? Tidak mungkin bukan, gadis itu ke sini begitu saja. Tidak mungkin Ichigo bertemu dengannya lagi. Tidak mungkin Rukia Kuchiki secantik orang tadi. Tidak mungkin semua hal itu kembali padanya.

Benarkan? Jika pikirkan beratus kalipun ini semua masih mustahil baginya.

Ichigo mendengus, "Brengsek."

Mungkin tuan takdir sedang tertawa senang di atas sana, dia suka sekali mempermainkan nasib Ichigo. Cih.

TBC