Hallo there!

Saya kembali setelah melewati stupid exam ever. Hah, sori kalau chapter ini panjang. Jangan bosen bacanyanya. Sebenernya mau dijadiin dua chapter, tapi yasudahlah...

Semoga kalian bisa menerima ini. Sori buat typo yg akan banyak muncul nanti karena saya lagi males ngedit. Jangan lupa jika kalian melihat tulisan review dibawah nanti tinggial diklik, haha.

So, enjoy!


Udara malam tercampur dengan debu dan asap yang membuat Rukia menjadi agak sulit bernapas. Rukia bersunpho menjauh dari kekacauan, berdiri di bongkahan tembok yang paling tinggi di sini. Semua orang sedang sibuk mengadukan pedang mereka dengan hidung para menos. Bukan pemandangan yang biasa baginya, karena dua tahun belakangan ini Soul Society terkesan agak damai. Dan hari ini, entah begaimana beberapa menos dan holow-hollow yang menyebalkan bermunculan di tengah malam, memaksa para shinigami harus terjaga sepanjang malam menangani pesta yang tak diharapkan ini.

Sekilat cahaya nyaris menembus lehernya jika Rukia tidak menunduk karena kelelahan, matanya melebar setelahnya. Rasanya hidupnya akan berakhir dalam hitungan senti, ia bahkan hampir tak menyadari apa yang baru saja terjadi. Rukia menoleh dan kini kilat cahaya itu berhasil menyerempet dahinya, membuat tubuhnya refleks menghindar lagi. Sesosok hollow dengan tinggi sedang bergerak cepat menuju kearahnya, Rukia nyaris tak bisa menghindar tapi hollow itu terlalu cepat. Menerjangnya dan kini makhluk itu tepat di atasnya, liurnya menetesi sebagian wajah Rukia. Mulut hollow itu terbuka lebar, ada kilatan cahaya yang siap meluncur dari sana, chaya itu begitu tak asing. Rukia berusaha melepaskan diri dari tindihan hollow itu, tapi tidak begitu berhasil.

Cahaya itu hampir terlepas ketika Rukia dengan memfokuskan seluruh kekuatannya untuk menggerakkan zanpakutounya, menembus tenggorokan hollow itu dan membekukannya secepat yang ia bisa. Menghancurkannya.

Rukia berdiri hati-hati, napasnya masih terasa tercekat. Cahaya yang menyerangnya dari hollow tadi sudah pasti cahaya yang sama dengan panah quincy. Tapi bagaimana? Teror masa lalu ketika perang quincy kembali mengaliri darahnya.

"Awas!"

Sesuatu yang besar menubruknya, Rukia berguling terlambat. Debu memenuhi udara, mengurangi jarak pandangnya. Setelah itu ia baru menyadari kalau kakiknya tertindih tubuh menos yang tumbang. Seseorang turun ke arahnya.

"Rukia!" Renji berseru cemas.

"Sial kau Renji! Lain kali lihat-lihat dulu kalau mau membuang menos," kata Rukia jengkel. Dipotongnya menos itu sampai akhirnya kakiknya bisa lepas.

Renji membantunya berdiri, "Kau baik-baik saja?"

"Yeah, sepertinya patah," jawab Rukia. Kaki kanannya berdenyut menyakitkan.

"Ini salahku. Geez, sebenarnya dari mana datangnya sih mereka itu?" Renji menggeram.

Tapi entah mengapa, Rukia tersenyum. "Memangnya kita pernah kedatangan tamu yang benar-benar kita undang? Mereka selalu saja datang dengan cara yang mengejutkan."

Renji menunduk melihatnya, "Kenapa kau tersenyum?"

"Rasanya sudah lama sekali tidak bertarung total seperti ini," sahut Rukia. Ia tahu Renji juga merasakan hal yang sama dengannya. Mungkin hampir semua shinigami merasa seperti itu, sejak koneksi dunia roh dan manusia terputus, keberadaan hollow semakin tidak jelas. Kadang mereka muncul dengan jumlah yang tidak kira-kira seperti hari ini, kadang dan lebih sering Soul Society tampak tenang. Dunia roh jadi tampak aneh.

Renji tertawa kecil, "Kau benar! Kau benar. Rasanya Zabimaru sangat haus darah belakangan ini. Aku juga," kata Renji.

"Yah, berhubung menos terakhir sudah kau kalahkan. Ayo kembali tidur, hoaam, aku ngantuk sekali," kata Rukia seraya merenggangkan otot-otot lengannya.

Rukia melangkahkan kakinya dan langsung ada tarikan kuat untuk terjatuh. Renji menarik lengannya supaya berdiri. Renji menariknya mendekat, "Kau harus kugendong."

Rukia menyipitkan mata menatap Renji, "Jangan berani-beraninya."

Mereka beradu pandang sampai orang akan bisa melihat kilatan cahaya yang saling berbenturan dari mata mereka. Rukia menggeram, sampai akhirnya Renji menghela napas mengalah. Orang itu selalu tahu apa yang diinginkan Rukia. "Okay, young lady. Seorang Kuchiki tidak membutuhkan bantuan, benar?"

Renji melepaskan tubuhnya, dan membuat Rukia nyaris merosot kembali. Rukia berdehem tak jelas, "Setiap orang selalu membutuhkan bantuan. Bahkan Kuchiki sekalipun, pinjam sini bahumu."

Renji menatapnya sambil meringis lebar, "Dasar jual mahal."

Rukia memukul rusuknya ketika Renji mengalungkan lengan Rukia ke bahunya. Mereka berjalan melewati rumah-rumah yang hancur sebagian karena serangan dadakan tadi. Renji meneriaki shinigami-shinigami lain agar membersihkan sisa-sisa pertempuran. Semua orang tampak sibuk menghindari cairan-cairan yang disemprotkan hollow aneh tadi.

"Hei, Renji. Tadi ada hollow yang menembakkan panah quincy," kata Rukia tiba-tiba. Rukia melirik Renji, takut orang itu akan menghinanya dan mengatkan bahwa itu hanya imajinasi Rukia saja.

Renji mengangguk samar, "Aku juga tadi diserang hollow semacam itu. Kupikir aku sedang mengkhayal."

Rukia menghela napas lega mendengarnya, ia pikir ia satu-satunya orang yang tampak bodoh di sini. "Wew, kenapa bisa ya?" gumam Rukia pada dirinya sendiri.

"Itu bukan suatu kebetulan."

Mereka berdua nyaris terlonjak dengan suara berat di belakang mereka yang terdengar mengejutkan. Byakuya muncul entah dari mana. "Para quincy itu sebenarnya berusaha membangun pasukan dengan memanfaatkan hollow. Mereka membuat percobaan dengan memasukkan kekuatan spiritual mereka ke makhluk itu. Nah, tapi mereka gagal. Namun tak sepenuhnya, melihat kejadian malam ini sepertinya beberapa hollow sanggup bertahan dan memiliki kemampuan seperti quincy," Wajahnya penuh kerutan sebagai hasil kebanyakan berpikir. Rukia membalikkan tubuhnya ke belakang, "Apa yang terjadi? Aku tidak melihatmu bertarung di sini?"

Byakuya hanya mengerahkan sedikit tenaga untuk menggerakan matanya, melirik tajam bagian bawah Rukia yang pincang. "Apa yang terjadi pada kakimu?" tanyanya pelan, dan dengan sengaja melirik Renji setelah itu.

Renji tampak sedikit panik ketika membela diri, "Dia kejatuhan menos. Oke, itu adalah salahku. Maafkan aku, kapten. Aku akan menjadi kakinya selama yang dia inginkan!"

Rukia memutar bola matanya, "Jangan berlebihan. Ini mukan masalah besar. Yang masalah itu adalah wajahmu, kak."

Byakuya menghela napas samar, "Ada rapat dadakan. Karena itu tak ada satupun kapten yang membantu kalian di sini."

Rukia mengangguk, "Lagipula kami saja sudah cukup untuk membereskan masalah ini. Memangnya rapat apa itu?"

Byakuya menggeleng, dia menyunggingkan senyum yang menyimpan banyak arti. Rukia membenci senyum itu. Seakan Byakuya memiliki rahasia yang Rukia tidak tahu. Rukia merengut menatap kakaknya. "Apa kami boleh tahu apa itu?" tanyanya implisit.

Byakuya tersenyum, "Kalian akan tahu. Besok adalah hari besar. Lebih baik kau benarkan dulu kakimu yang patah itu." Byakuya menyentuh pipinya sekilas, sebelum akhirnya beranjak pergi dari tempat itu.

"Aku benci ketika dia seperti itu," komentar Renji menyipitkan mata pada tempat Byakuya pergi.

"Yeah," sahut Rukia singkat. "Ayo kita cari tahu."

"Whoa, jangan terlalu bernafsu seperti itu. Kau harus ikuti saran kakakmu itu dulu, kita benarkan kakimu."

Mereka tiba di divisi empat yang ternyata agak ramai. Ternyata serangan hollow barusan menimbulkan banyak shinigami yang ke tempat ini. Beberapa shinigami bahkan berada di lobi karena belum mendapat perawatan medis. Renji dan Rukia menghampiri Hisagi yang sedang berada di posisi duduk di atas lantai pojok.

"Matamu kenapa?" tanya Renji ketika mereka bisa melihat Hisagi memegang mata kanannya yang tampaknya mengalir darah dari sana.

"Yeah, begitulah. Hollow brengsek tadi dengan ajaibnya menembakkan panah quincy dan kena mataku," jawab Hisagi menggeram.

"Ya, kau harus dengar penjelasannya dari kapten Byakuya," kata Renji.

"Apa matamu baik-baik saja?" tanya Rukia.

Hisagi mendongak untuk menatpanya, dia tersenyum. "Kelihatannya bagaimana?"

"Menyakitkan. Kurasa kita harus pergi bersama," ucap Rukia.

"Yeah."

Mereka berjalan melewati koridor yang masih ramai. Aktivitas divisi empat tidak pernah mati. Seseorang dari divisi ini menyuruh mereka memasuki sebuah ruangan yang masih kosong. Hisagi bersikeras bahwa shinigami itu harus mengobati kaki Rukia terlebih dahulu, dan keberadaan Renji sama sekali tidak membantu. Padahal Rukia sudah bisa melihat darah yang mengalir lebih banyak di mata Hisagi.

"God, Rukia. Berhentilah keras kepala," kata Renji.

"Tapi kau bisa lihat sendiri..."

"Ayolah, Kuchiki," kata Hisagi dengan nada memohon.

"Aku tidak suka di serang seperti ini," kata Rukia mengulum bibir.

"Nah, mengalahkan kali ini. Agar mataku cepat di sembuhkan," kata Hisagi tampak serius.

Rukia menghela napas, menggeleng pelan. "Okee, ayo kita lakukan ini. Aku tidak suka soal tulang-menulang."

Rukia nyaris menggigit lengan Renji saking sakitnya, ketika shinigami itu memaksa kembali tulang Rukia ke posisi sebenarnya. Kemudian setelah proses menyakitkan itu selesai, Rukia bisa kembali berdiri. Tapi masih sulit berjalan. Renji membantunya keluar ruangan, menunggu Hisagi memperbaiki matanya. Ketika di koridor, tak sengaja Rangiku melintas di dekat mereka.

"Ah, Kuchiki-san! Abarai-kun!" seru Rangiku tampak senang melihat mereka.

Rukia tersenyum, "Apa kau baik-baik saja, Rangiku?"

"Tentu saja. Apa kalian terluka? Maaf aku tidak di sana, aku menemani kapten dari tadi," kata Rangiku sambil menempelkan kedua tangannya minta maaf.

"Kenapa dengan kapten Hitsugaya?" tanya Rukia.

"Dia pingsan saat rapat dadakan tadi. Sekarang dia di ruangan favoritnya di divisi empat," jawab Rangiku sambil tersenyum. "Apa Hisagi terluka?"

"Yeah, matanya bermasalah. Mungkin saat ini hampir selesai," jawab Renji. Sedangkan Rukia masih menatap kosong ke arah lantai. Pikirannya berkecamuk, kenapa Hitsugaya tidak memberitahunya seperti biasa? Kenapa dia pingsan tiba-tiba?

Bahunya di tepuk Renji, "Kau bisa pergi. Aku dan Matsumoto yang akan menemani Hisagi."

Rukia menatap Renji menyanyakan apakah dia serius. Renji memutar bola matanya, tapi dia mengangguk membuat Rukia memantabkan diri untuk pergi.

"Wah, wah. Sejak kapan kau bisa bersikap dewasa, Renji?" Rangiku menyodok-nyodok dada Renji.

"Heish," wajah Renji memerah. "Kau lihat wajahnya tadi, setiap terjadi apa-apa pada kaptenmu. Cih, kalau kapten Hitsugaya tersedak, aku bertaruh Rukia juga akan berlari menolongnya."

Rangiku tertawa keras, "Hahaha. Tenang saja, kau masih memiliki satu kelebihan jika dibandingkan kapten kok."

Renji melirik Rangiku, "Yeah? Tentu saja aku lebih hebat darinya."

"Kau benar. Satu-satunya kelebihanmu, kau lebih tinggi dari kapten."

Renji dongkol dan segera masuk ke ruangan Hisagi meninggalkan Rangiku yang tertawa terbahak-bahak.

Rukia menggeser pintu setelah pintu itu menerima reiatsunya. Seperti biasa, meskipun sudah lama sekali Rukia tidak masuk ke ruangan ini, ia selalu di sambut angin malam yang menyegarkan menerpa wajahnya. Jendela besar di ruangan itu selalu terbuka. Bau tanah yang basah dan embun di dini hari tercium hidungnya.

Rukia menghela napas, ia sekaan terdorong melewati beberapa waktu. Ketika dia mempertaruhkan harga dirinya demi mendapat pengampunan Hitsugaya. Bahkan masa-masa setelah Hitsugaya memaafkannya. Ruangan ini bahkan identik dengan mereka berdua. Ruangan ini terlalu menyimpan banyak kenangan perjuangan Rukia menjaga Hitsugaya tetap hidup.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Rukia menoleh melihat Hitsugaya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya dan wajahnya basah oleh air.

"Apa yang kau lakukan disini?" ulang Rukia.

Hitsugaya mendengus, "Aku tidak suka hobimu yang mengulang perkataan orang lain."

Rukia tersenyum, "Sama." Dia mengikuti Hitsugaya yang segera duduk ditepi ranjang.

"Ada apa denganmu, kapten? Kau pingsan dan..."

"Cukup," tukas Hitsugaya. "Aku hanya salah makan. Sekarang aku baik-baik saja," Hitsugaya menimpali.

Rukia mendekat, berdiri tepat di depan Hitsugaya. Ia mencoba membaca wajah Hitsugaya yang tak pernah berhasil ia lakukan. "Kapten, aku serius."

"Sama," Hitsugaya tersenyum.

Rukia menghela napas, ia mengamati Hitsugaya seksama. Tak banyak yang berubah dari sifat Hitsugaya. Orang itu hanya secara mengejutkan tumubh tinggi beberapa senti, rambut peraknya memanjang tak beraturan, dan dia menjadi lebih tampan. Hitsugaya sudah tidak mengutuk Rukia seperti dua tahun yang lalu. Tidak. Dia sekarang membutuhkan Rukia. Dia selalu membutuhkan Rukia. Sedangkan Rukia sendiri memang selalu siap untuk Hitsugaya. Dia telah bersumpah melakukan apapun untuk menebus dosanya yang telah membunuh Hitsugaya dulu. Membuat orang itu lumpuh sementara. Rukia akan selalu ada untuknya. Ia ingin selalu ada. Tapi malam ini, Hitsugaya bahkan tidak memberitahunya kalau dia pingsan.

"Kenapa kau cemberut?" tanya Hitsugaya.

Rukia menggembungkan pipinya, "Sepertinya kau sudah mandiri sekarang, kapten."

Hitsugaya tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya samar. "Salah. Aku membutuhkanmu. Aku selalu membutuhkanmu. Okay?"

Rukia tidak menjawab, angin malam berhembus melewati ruangan, dinginnya menusuk tulang. Tapi Rukia menyukai ini. Matanya dan mata Hitsugaya bertatapan begitu lama. Mata tosca itu selalu sukses membuat Rukia mengikuti permintaan sang pemiliknya.

"Okay?" Ulang Hitsugaya.

"Okay," Rukia nyaris berbisik.

Hitsugaya tersenyum, "Kalau begitu bantu aku memotong rambutku," ujar Hitsugaya.

Rukia mengangguk, ia mengambil pisau yang ada di atas meja. Ia kembali berdiri di depan Hitsugaya, kemudian mulai memotong rambut panjang orang itu. Rukia sebenarnya agak bingung harus bagaimana. Maka Hitsugaya yang bergerak mendekat, wajahnya tepat di dada Rukia. Wajah Rukia bersemu merah sembari mulai memotong rambut Hitsugaya yang basah.

"Kakimu kenapa?" tanya Hitsugaya.

"Patah. Tapi sudah diobati tadi," jawab Rukia cepat. Posisi ini sama sekali tidak membantu.

Tangannya bergerak ke belakang kepala Hitsugaya. Jari-jarinya menyusup di antara rambut itu, memangkasnya perlahan menjadi cepak. Rukia melanjutkan memotong rambut depan Hitsugaya, dia menyibakkan rambut itu dari dahi Hitsugaya. Matanya dengan mudah bisa menelusuri tiap senti wajah Hitsugaya. Rukia nyaris terhipnotis kalau saja ia tak kembali fokus pada aktivitas memotong rambut ini.

"Nah, kau tampan lagi, kapten," kata Rukia seraya tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. "Kau ingin aku berikan permen?" tambah Rukia.

Otot dahi Hitsugaya tampak berkedut. Rukia tahu Hitsugaya tidak suka—benci diperlakukan seperti anak kecil. Dengan alasan itulah Rukia suka sekali menggodanya.

"Permenmu yang kemarin masih ada," balas Hitsugaya tersenyum.

Rukia tertawa kecil, tangannya memainkan pisau denga lihai. "Kurasa aku harus memotong rambutku juga, rasanya panas punya rambut panjang."

"Jangan," kata Hitsugaya cepat. Rukia menunduk untuk menatapnya, tangan Hitsugaya bergerak mencapai ujung rambut Rukia yan terurai. Menariknya perlahan, "Kau lebih cantik seperti ini."

Rukia berusaha keras menahan warna merah yang menjalar di pipinya. Dia berdehem keras, berusaha mengembalikan kewibawaannya. "Baiklah, kalau kau memaksa." Rukia mengangkat bahu. Dia berjalan menjauh dari ranjang, menaruh kembali pisau itu ke atas meja yang dilapisi debu. Rukia bergerak ke dekat jendela yang terbuka lebar. Membiarkan angin malam menerpa wajahnya, rasanya begitu menyegarkan.

"Whoa, apa itu di dahimu?"

Rukia mendongak, jarinya mengusap darah yan mengalir di dahinya. Ia bahkan lupa kapan ia mendapat luka itu.

Hitsugaya berdiri di belakangnya, memutar bahu Rukia dengan paksa agara menghdapnya. Entah dari mana orang itu sudah mendapat saleb obat di jarinya. Perlahan, menyibakkan rambut Rukia dari dahi kemudian mengoleskan saleb itu ke lukanya. Rasanya perih sekaligus ada sensasi dingin dirasakannya.

Rukia mengerling wajah Hisugaya ketika sedang mengoleskan obat itu, rasanya masih agak asing mengetahui fakta bahwa Hitsugaya sudah lebih tinggi dari Rukia beberapa senti. Rasanya aneh, orang yang selama ini Rukia urus bahkan hal sepele apapun itu, kini merawatnya.

Hitsugaya sadar dan menangkap kontak mata Rukia. Rukia dengan cepat mengalihkan pandangannya, ia masih belum memiliki keberanian penuh menatap mata Hitsugaya lama-lama. Rasa bersalah atas kejadian dua tahun lalu memaksanya agar tak terlalu bertindak terlalu jauh melewati batasnya.

"Mm, kakakku bilang kalian ada rapat dadakan tadi. Dia agak pelit soal kejadian-kejadian besar yang kami tidak tahu. Apa yang kau tahu, kapten?" tanya Rukia bersemangat.

Hitsugaya mengendikkan bahunya cepat, "Besok adalah hari besar."

Rukia menghela napas panjang, "Kata-kata yang sama yang keluar dari mulut kakakku."

"Maka hanya itu yang perlu kau pedulikan," sahut Hitsugaya menahan napas.

Rukia bertanya-tanya apakah ia salah berkata. Hitsugaya tampak tidak nyaman, ada sesuatu yang menggangunya dan apapun itu dia tak ingin Rukia mengetahuinya.

"Ayolah, kapten. Aku juga berhak tahu, apapun yang ada di rapat sudah seharusnya disampaikan pada shinigami di bawah kapten. Kau ingat perturan itu?" Rukia bernada memohon.

Hitsugaya menyuggingkan senyum tipis, "Terkadang aku tidak suka kepintaranmu kau masukkan dalam drama kita."

Rukia mengulum bibir. Ia sudah hampir menyerah mengorek berita ketika ia sadar Hitsugaya masih menatapnya secara intens. "Kau ingin tahu?"

"Sekarang sudah tidak ingin," balas Rukia bohong.

"Besok koneksi antara dunia roh dan dunia manusia akan kembali terhubung. Sudah diperhitungkan secara akurat dan itu adalah besok. Serangan hollow tadi sebagai pembukanya."

Rukia tidak bernapas satu detik, pikirannya mencoba mencerna pernyataan barusan. Dua detik, Rukia memandang Hitsugaya mencoba mencari tanda-tanda bahwa orang itu mungkin hanya bercanda. Tapi kerutan di dahi Hitsugaya mengantarkannya pada kebingungan yang melanda. Ini serius. Well, dua dunia akan berkoneksi lagi. Lalu apa? Bukankah sudah biasa hal seperti ini terjadi?

Rukia mengatupkan rahangnya rapat-rapat, jeda sesaat sebelum akhirnya ia memberikan respon. "Wew, kejutan."

"Bukankah itu hal yang bagus?"

"Ya. Ya. Tentu saja, kita akan bisa kembali bekerja seperti sedia kala," tambah Rukia mencoba tersenyum. Benar. Pikirkan saja hal-hal normal yang akan terjadi. Bertarung di dunia manusia lagi, mengaati manusia-manusia bodoh melakukan hal-hal bodoh juga, bertemu teman-teman manusianya. Bertemu Ichigo. Ah, Rukia menantikan hal itu. Ichigo hanya sebagian kecil dari hal-hal yang Rukia rindukan di dunia manusia yang penuh ceria itu. Benar?

"Kita bisa bertemu Ichigo dan teman-temannya. Kira-kira seperti apa kehidupannya sekarang," Hitsugaya bergumam.

Rukia mendengus, ia bisa membayangkan Ichigo yang mungkin akan menyerupai seorang gembel. Hidup seenaknya, karena dia tipe orang yang tak pernah mendengarkan perkataan orang lain. Mungkin sekarang orang itu menjalani hidup yang normal. Yah, tentu saja. Itu sudah takdirnya. Kehadiran Rukia dan shinigam-shinigami lain hanyalah pemanis sementara. Tidak masalah. Sejak awal seperti itu.

"Kau senang?"

Rukia masih melamun ketika dagunya diangkat oleh sebuah tangan. Hitsugaya memaksa wajahnya menghadapnya. Rukia memebelalakkan mata. Jarak antara mereka terlalu dekat. Bahkan Rukia bisa melihat refleksi dirinya sendiri di bola mata Hitsugaya.

"Ya, kita akan mengunjungi manusia-manusia itu seperti biasa. Tak banyak yang berubah," ucap Rukia.

Mata Hitsugaya bergerak menelusuri wajah Rukia, "Kau yakin?"

Rukia menyipitkan mata tidak mengerti, "Apa maksud pertanyaanmu?"

Rukia bisa berasakan Hitsugaya menghembuskan napas berat, menyapu wajahnya. "Kau... milikku. Kau tahu itu, Kuchiki?"

Jantungnya berdegup lebh kencang. Rukia merasa agak susah bernapas. "Aku tahu," Rukia nyaris berbisik. Ia menggerakan matanya, mengalihkan pandangan dari hal yang sedang di hadapinya.

Hitsugaya mendesaknya ke jendela. Rukia nyaris terjungkal keluar ketika punggungnya tak menemukan sandaran karena jendela itu terbuka. Angin berhembus. Kali ini lebih pelan. Rasa dingin menguar dari belakang tubuhnya.

"Kapten, apa yang kau lalukan?" tanya Rukia nyaris bergetar. Brengsek, jangan biarkan Hitsugaya merasakan kegugupanmu. Hitsugaya memang selalu bersama Rukia. Kedekatan bukanlah hal yang jarang terjadi. Tapi ini terlalu berlebihan. Hitsugaya tak pernah melewati batasnya.

"Aku hanya ingin menegaskan sesuatu, apa kau takut?" tanya Hitsugaya dengan suara berat.

Rukia menggigit bibirnya. Tidak. Hitsugaya pasti hanya sedang bercanda. "Apa yang ingin kau tegaskan? Kau tidak butuh permen lagi?" Rukia mencoba tersenyum, mengangkat dagunya menantang.

Hitsugaya tersenyum, "Menegaskan tentangmu."

"Tentangku?"

Hitsugaya menaikkan alisnya, "Uh-uh. Jangan menantangku, Kuchiki."

"Benarkah?"

Kedua ujung bibir Hitsugaya terangkat, "Kau yang minta."

Kejadiannya begitu cepat tanpa ia sadari sepenuhnya. Hitsugaya mencium bibirnya. Bibir itu menekan bibir Rukia pelan beberapa saat, kemudian berubah menjadi sebuah lumatan.

"Kapten, apa yang kau lakukan?" tanya Rukia di sela Hitsugaya tak memberikan kesempatan untuknya mengambil lebih dari satu detik untuk bernapas. Rukia memejamkan matanya. Pikirannya dibuat kalut oleh gerakan bibir Hitsugaya yang teratur. Napas mereka memburu dan terasa panas. Setelah beberapa lama hal absurd itu terjadi, Hitsugaya menarik diri untuk bernapas.

Tidak. Rukia bahkan tidak berani berpikir. Jangan berpikir dahulu. Hitsugaya tak pernah sampai melakukan hal ini. Rukia masih mencoba menemukan cara yang benar untuk bernapas, napas mereka saling berbenturan, menghasilkan rasa panas yang ganjil.

"Kapten," Rukia nyaris mendesah.

Hitsugaya masih memejamkan matanya, mengatur kembali napas beratnya itu. Tangannya terangkat keudara, kemudian menyentuh pipinya, menariknya mendekat untuk kedua kalinya. Bibir mereka bertemu sekali lagi. Kali ini Hitsugaya seperti kehilangan kontrol dirinya. Bibirnya menekan kuat bibir Rukia, melumatnya, menggigit, menjelajah. Rukia merasa punggungnya di tarik lebih dekat oleh tangan Hitsugaya. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya. Ada sesuatu. Sesuatu yang membuat darahnya berdesir lebih cepat, memaksa jantungnya memompa darah ke seluruh tubuh lebih cepat, hingga mampu membuat tubuhnya bergetar. Dia mungkin akan ikut terhanyut dalam permainan ini.

"Hitsugaya," Rukia bersuara parau.

Seketika itu juga Hitsugaya menarik wajahnya menjauh, matanya menatap Rukia penuh menuntut. "Katakan lagi namaku, Kuchiki."

Rukia menunduk, "Kapten."

Meski Rukia menyukai rasanya bibir Hitsugaya, tapi akal sehatnya menolak keras tindakannya. Ini gila. Jadi Rukia hanya menunjukkan pertahanan terbaiknya malam ini, meski dia tahu mereka berdua saling membutuhkan.

Karena hanya ada keheningan yang janggal di udara, Rukia mencoba mengerling Hitsugaya. Orang itu sedang mengelap bibirnya sendiri denga jempol tangannya. Rukia tidak bisa menebak apakah ia salah lihat ketika mendapati wajah Hitsugaya memerah. Merah padam.

Ya ampun. Dia masih bisa bersikap manis di depan Rukia saat ini. Membuat wajah Rukia ikut terbakar.

"Okee," Hitsugaya membuang napas.

Dia menggigit bibir menatap Rukia, "Aku akan menemuimu besok ketika sekai gate di buka."

Bahkan urusan dunia manusia terasa tidak penting lagi sekarang. Rukia sedang sibuk mengatur detak jantungnya sendiri.

"Oke," sahut Rukia.

Hitsugaya pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun. God, terimakasih dia tidak mengatakan apapun lagi. Karena sesungguhnya Rukia pasti akan tampak bego di depannya. Rukia hanya dibuat bingung. Hitsugaya selalu membutuhkannya. Rukia adalah miliknya. Teori itu entah sejak kapan tercipta, yang jelas Rukia sudah menanamkan kuat hal itu pada dirinya. Jadi, mungkin tindakan Hitsugaya barusan hanyalah didasari dengan dalih kepemilikan bukan? Rukia hanya bisa berharap.


Angin berhembus lebih kencang dari biasa. Membawa serta debu dan daun kering melewati sekumpulan shinigami yang berdiri di dekat sekai gate. Ketika gerbang raksasa itu di buka, tak ada lagi badai kacau di dalamnya sama seperti ketika koneksi antar dua dunia rusak. Sekarang hanya tampak cahaya putih menyilaukan dari dalam gerbang. Menarik setiap orang yang hanya sekedar lewat untuk melihat.

Halaman sekai gate sangat ramai dan penuh sesak. Penjagaan diperketat. Rukia harus mendesak bahu-bahu dan menerobos keluar kerumunan dan sampailah pada ruang terbuka. Rukia menghela napas lelah, ia tidak bisa tidur semalam. Tindakan Hitsugaya, dunia manusia, teman-temannya. Ichigo. Hal-hal brengek yang cukup membuat kepalanya pening semalaman.

Bahunya di tubruk keras, Rangiku menubruknya dengan dadanya seperti biasa. Tak berapa lama kemudian Rukia sudah di kerumuni para wakil kapten.

"Tidak bisa dipecaya! Kita akan ke dunia manusia lagi. Aku sangat bersemangat sampai ingin mencium kepala Ikkaku!" seru Rangiku dengan senyum lebar. Dan orang itu benar-benar melakukannya, mendundang gelak tawa semua orang. Rukia terkekeh keras, dia suka atmosfir ini. Semua orang tampak menanti dan menginginkan segera berkunjung ke dunia manusia. Begitu juga Rukia. Well, dia hanya mengikuti arus keceriaan yang ada. Tapi tak bisa disangkal ia sangat ingin melihat Ichigo dan teman-temannya.

Wajah semua orang tampak bersemangat dan terdapat secercah kesenangan di sana. Bahkan Rukia bisa melihat Renji meringis sepanjang pagi.

"Perhatian semuanya! Ladies dan gentleman!" suara Kyoraku memenuhi udara. Semua orang bergerak menghadapnya. Orang itu berdiri tepat di depan sekai gate.

"Apakah kalian bersemangat hari ini? Ah, kau bahkan bisa melihat senyum Rangiku-san membelah wajahnya. Nah, kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di dunia manusia. Kemungkinan terbesar hollow di sana lebih banyak. Atau apapun itu, aku percaya kalian bisa menghadapinya. Demi tercapainya kesetaraan dan kedamaian antar dunia, kuserahkan tugas ini di pundak kalian. Bertugaslah seperti biasa, seperti dahulu. Aku percaya pada kalian," Kyoraku tersenyum. Semua orang bersorak merespon. Dan ketika sekai gate di buka, Rukia hanya bisa merasakan jantungnya berpacu lebih cepat ketika adrenalin itu memenuhi tubuh dan pikirannya.

"Waaaa! Lihatlah sekeliling kalian!" seru Rangiku kegirangan.

Seluruh tempat Karakura tertutup salju yang tebal. Semua tampak berwarna putih dan sangat indah. Rukia menghirup udara banyak-banyak, ia hampir lupa bagaimana rasanya bernapas dengan udara di dunia manusia, meskipun rasanya sama saja. Mereka tiba ketika langit sudah gelap. Namun langit begitu cerah, menyuguhkan pemandangan yang jarang ia lihat di Soul Society. Bintang-bintang tampak begitu banyak, bulan, dan udara serta atmosfir ini begitu berbeda. Ada sesuatu yang membuat hari ini begitu lain.

"Tahu begini, aku bawa jubah!" Renji tampak protes pada dirinya sendiri.

Byakuya berjalan melewatinya dengan tenang, seakan ingin mengejek Renji secara non verbal. Renji tampak terkejut, menahan malu dan kemudian berpura-pura berjalan tegas meskipun dengan jelas giginya saling berbenturan bergemelatuk.

Mereka berdiri di gedung tertinggi di kota ini. Rukia mengedarkan pandangannya, tak banyak yang berubah di kota ini. Hanya saja ia merasa heran mengapa Karakura tampak begitu gemerlap malam ini. Lampu warna-warni nyaris memenuhi setiap sudut kota. Suara lonceng berdentangan terdengar samar-samar agak jauh. Kota ini seakan baru memulai aktivitas yang sebenarnya. Bahkan yang paling aneh ketika Rukia bisa melihat di pohon dililitkan lampu yang begitu indah. Memangnya di sini kelebihan pasokan listrik?

"Brrr, aku suka sekaligus benci salju," kata seseorang di sampingnya. Hisagi tampak menggosok-gosokkan kedua tangannya.

Rukia tersenyum, "Aku sangat suka salju. Matamu sudah baik-baik saja?" tanya Rukia.

Hisagi mengangkat bahu, "Tentu saja. Terimaksih sudah menanyakannya."

"Ini indah sekali," komentar Hinamori di sampingnya.

Rukia hanya mengangguk.

"Kau tidak kedinginan, Kuchiki-san?" tanya Hinamori.

"Elemenku es, kau lupa?" tanya Rukia bernada bangga.

Hinamori tertawa kecil, gadis itu tampak sangat manis dan baik. Karena dia memang seperti itu. "Apa terjadi sesuatu pada kalian? Shiro-chan tak banyak bicara hari ini."

Rukia berusaha setengah mati menahan semburat merah di pipinya, ia menggeleng. "Tidak ada masalah."

Byakuya berseru kalau mereka segera berangkat. Dia berpidato yang memakan waktu sekitar sepuluh menit. Byakuya menekankan bahwa mereka harus menyembunyikan reiatsu mereka. Selama dua tahun belakangan ini, Kyoraku menemukan inovasi baru demi memudahkan agar keberadaan mereka tak diketahui musuh. Menelusuri kota, menemukan masalah, kemudian membereskannya. Rencana yang sederhana. Kelihatannya.

Mereka mulai bershunpo pergi, Rukia sengaja bergeak lambat. Menyamai kecepatannya dengan Hitsugaya.

"Kau kedinginan, kapten?" karena sekuat apapapun keinginan Rukia untuk tidak bicara dengan Hitsugaya akhir-akhir ini, ia tak bisa menahan pertanyaan khawatir meluncur keluar dari mulutnya.

Hitsugaya meliriknya, "Elemenku es, ingat?"

Rukia mendengus sambil tertawa ganjil. Yah, sepertinya semua akan berjalan normal. Semoga.

"Astaga ternyata kita tiba di hari natal!" Yumichika berseru begitu keras di tambah teriakan bersemangat Yachiru sungguh memekakkan telinga.

Renji tampak mengorek telinganya dengan jari telunjuk, "Nata—apa?"

"Natal! Bukankah itu hebat?" Yumichika masih berbinar-binar.

Mereka sedang berjalan mengikuti arus manusia yang bergerak secara teratur di alaun-alun kota. Di sini luar biasa ramai. Entah ada keperluan apa di sini, seakan seluruh isi kota berkumpul di alun-alun memenuhi jalan. Rukia bisa melihat sebuah pohon raksasa dengan lampu serta hiasan yanng menyilaukan mata. Mereka sudah berada di dalam bentuk tubuh pengganti, karena sebagian dari mereka bertugas mencari hollow dan roh jahat. Hanya tinggal tersisa Rukia, Renji, Yumichika, Yachiru, Rangiku, dan Hitsugaya.

"Hahaha, Ikkaku akan menyesal tidak melihat ini semua," kata Yumichika angkuh.

"Memangnya natal itu apa sih?" tanya Rangiku begitu ingin tahu. Dia sudah bertransformasi dengan mantel bulu berwarna putih yang seksi. Sedangkan Rukia sendiri hanya mengenakan jaket putih serta syal merah jambu yang dibelikan Baykuya.

"Itu adalah hari raya di sini! Pokoknya hari dimana ada hadiah gratis dari orang sinting berjenggot yang diberi nama Santa dan banyak makanan gratis! Semua orang berkumpul di sini," kata Yumichika panjang lebar.

Rukia mengangkat alis, "Untuk apa orang berjenggot itu memberikan hadiah secara Cuma-Cuma?"

"Siapa peduli, dia sinting. Yang penting kita bisa menikmati hal ajaib ini, Kuchiki!"

"Hahahaha, aku suka cara kerja manusia-manusia ini! Mereka terlalu menikmati hidup mereka tanpa perlu menghkawatirkan hollow tepat di depan hidung mereka sendiri," kata Renji tertawa.

"Aaaaargh! Lihat benda itu sungguh menakjubkan!" seru Rangiku memotong percakapan mereka. "Ayo, kesana Kuchiki!" Rangiku berteriak melihat benda-benda yang dipajang di depan etalase kaca sebuah toko. Dia menggaet lengan Rukia dan menariknya memisahkan diri dari gerombolan. Pernak-pernik cantik ini tak sanggup dilihat mata Rukia lama-lama. Ini terlalu manis dan lucu. Rukia mencoba keluar dari toko, menghirup udara bebas, uap keluar nari mulutnya tiap kali mencoba bernapas. Rukia terlalu bersemangat untuk ini. Ia harus fokus. Keberadaan mereka di sini bukan untuk bermain-main.

Ketika Rukia menoleh ke arah kerumunan yang sangat ramai di dekat pohon raksasa, Rukia baru menyadari di pohon itu digantungkan juga boneka-boneka yang membuat matanya nyaris berbinar. Hanya satu yang berkutat dipikirannya, bagaimana para manusia mendapat ide seperti itu? Fantastis. Rukia melangkahkan kakinya pergi, ia hanya ingin melihat pohon itu secara dekat. Mencoba melawan orang-orang yang penuh sesak, dan ia gagal. Rukia hanya mengikuti arus manusia yang mengantarkannya sampai di depan pohon. Rukia bahkan harus memejamkan matanya saat pertama kali mencoba menatap pohon itu dari jarak beberapa meter di depannya. Benda ini begitu indah.

Ketika Rukia mencoba meraih salah satu boneka kelinci yang berwarna putih di salah satu dahan pohon itu, tiba-tiba orang-orang mulai bergerak tanpa kendali. Mereka berdesakkan yang disebabkan oleh pengumuman dari seseorang yang bahkan Rukia tidak dengar.

"Hei, awas kakimu!" Rukia nyaris melotot pada sepasang kekasih yang masih sempat-sempatnya tertawa ketika ratusan orang mendesak mereka demi mencapai pohon.

Grr, Rukia tidak akan menyerah. Dia mendorong beberapa kepala untuk menyingkirkan mereka, ia hampir berhasil menyentuh pagar pembatas dari seutas tali ketika keadaan semakin kacau.

Rukia terdorong ke samping, nyaris jatuh. Untunglah kepalanya menabrak sesuatu, membuat tubuhnya seimbang kembali. Namun, rambutnya terasa ditarik. Ia meringis ketika menyadari, rambutnya tersangkut sesuatu.

"Maaf," ujar Rukia sembari mencoba mengurai rambutnya dari tudung jaket seseorang.

"Biar kubantu," kata orang itu.

"Heish, rambut sial," Rukia mengumpat. Tangan orang itu berhenti bergerak untuk membantu. Rukia tidak begitu peduli, ketika ia berhasil melepas rambutnya ia bisa bernapas lega.

Tapi detik itu waktu terasa berhenti mendadak ketika Rukia mengangkat wajah. Jantungnya serasa berhenti sebentar, kemudian dilanjutkan dengan detakkan yang luar biasa kencang. Matanya melebar. Ichigo Kurosaki berdiri tepat di depannya. Bagaimana... bisa? Mengapa Rukia tak menyadari keberadaan reiatsu orang itu? Ah, mungkin karen terlalu banyak manusia di sini. Nah, Rukia masih mencoba cara berpikir positif lagi. Ia tak bisa berpikir macam-macam saat ini.

Arus manusia kembali bergerak cepat. Tubuhnya di desak kembali. Ichigo tampak sedang membungkuk untuk melakukan sesuatu dan dalam kesempatan itu Rukia mencoba menerobos arus dan mencoba keluar dari tempat itu secepat yang ia bisa.

Rukia terangah-engah di tengah salju yang berguguran. Tanpa sadar ia berlari tadi. Rukia menejedukkan keningnya ke atas kulit pohon yang dingin beberapa kali. Bodoh. Bodoh. Kenapa lari? Terakhir kali Rukia bertemu Ichigo ketika ia menusukkan zanpakutounya untuk kedua kali menembus dada orang itu. Pertemuan itu begitu original. Karena seperti itulah mereka biasanya.

Tidak. Mungkin karena pertemuan mereka kali ini tidak direncanakan. Terlalu mendadak. Rukia bahkan sangat terkejut tadi. Tindakan melarikan dirinya, begitu memalukan. Atau mungkin ia melarikan diri karena tak bisa menahan luapan rasa rindu yang ada di pikirannya.

Rukia mengutuk diri sambil duduk di bawah sebuah pohon. Ia menggigit-gigit jempolnya, berusaha berpikir secara rasional apa yang sebenarnya barusan terjadi. Tapi pikirannya melayang kembali ke wajah Ichigo tadi. Cowok itu tak berubah. Rambutnya, posturnya, wajahnya—mungkin berkembang lebih baik. Rambutnya persis seperti yang Rukia imajinasikan selama ini. Berantakan.

Rukia tidak bisa menahan senyum yang mengembang di wajahnya.

"Kuchiki!"

Rukia mendongak dan melihat Rangiku sudah kembali bersama yang lain. Rukia mengambil napas dalam. Ia menyunggingkan senyum terbaiknya.

"Apa kau sudah selesai belanja?" tanya Rukia kembali berdiri. Menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya yang terkena salju.

"Ya! Aku membeli banyak dress dan—astaga! Dari mana saja sih kamu?" Rangiku tampak mengguncang-guncangkan bahu Rukia.

Rukia tertawa sekenanya, "Aku hanya penasaran dengan pohon besar itu."

"Rukia, kau harus coba benda ini," kata Renji menghampirinya. Tangannya terulur untuk memberikan sebuah kaleng minuman.

"Ini soda, Renji. Sepertinya dulu aku pernah memberitahumu," jawab Rukia meremehkan.

"Oh ya? Tapi kenapa rasanya begitu... ahh, aku suka gelembung-gelembung itu ketika melewati tenggorokanku!" kata Renji senang dan membagi kaleng sodanya dengan Yumichika.

Rukia menggigit bibir, ia tak bicara meskipun ia ingin sekali memberitahu tentang Ichigo. Ketika pergulatan batin itu hampir mencapai final, Hitsugaya membuka mulut.

"Kurasa Ichigo Kurosaki dan temannya ada di sini."

Renji berhenti berlari mengejar Yachiru yang mengerjainya. Semuanya menjadi hening sejenak. Rukia memandang Hitsugaya penuh tanya.

Renji memejamkan matanya tampak mencoba berkonsentrasi, dahinya berkerut. Kemudian membuka mata cepat, "Kau benar! Dia ada disini!" seru Renji.

"Ayo kita menemuinya, sudah sangat lama sekali aku tak melihat Ichigo!" Rangiku tampak sangat bersemangat.

Rukia tak mempunyai pilihan selain megangguk. Kali ini ia akan bersikap senormalnya. Karena seperti itulah seharusnya pertemuan-kembali-Ichigo-Rukia. Tindakan cengeng seperti melarikan diri tadi yang dilakukannya merupakan sebuah kesalahan.


Ichigo duduk di sebuah kursi panjang di pinggir alun-alun. Pohon yang tertutup salju di atasnya, terkadang menjatuhkan bongkahan salju tepat di atas kepalanya. Ia tidak peduli. Toh, lumayan untuk sekedar mendinginkan kepalanya.

Meski berusaha bersikap sekasual mungkin malam ini, rasanya tak bisa dilakukan. Pikirannya masih gelisah. Ia bahkan tidak bisa pulang karena rasa bersalah meninggalkan Inoue menariknya kuat-kuat untuk tetap tinggal di sini. Ichigo menghembuskan napas panjang. Malam ini terlalu gila untuk sebuah malam natal.

"Yo, Ichigo!"

Ichigo memejamkan mata. Bahkan sekarang ia bisa mendengar suara Renji. Terdengar agak asing baginya sekarang.

"Hei, jeruk!"

Ichigo mengangkat wajah. Cemoohan itu terdengar begitu nyata. Ia melihat sekumpulan orang yang lebih absurd lagi mendatanginya. Detik berikutnya, Renji menarik tubuhnya dan membantingnya ke tanah.

Apa—

Ketika Ichigo kembali berdiri ia mendapati pipinya di tendang keras oleh seseorang hingga membuatnya kembali tersungkur dengan wajah menghantam salju.

"Lama tak berjumpa Ichigo!"

Ichigo bergerak menoleh, matanya melebar melihat Rukia berdiri dengan kedua tangan di lipat di depan dada. Mulutnya hampir menganga. Jadi ia tidak mengkhayal. Jadi Ichigo sama sekali tidak sinting. Ini nyata.

Ichigo berdiri cepat, masih tak bisa membendung keterkejutan yang menguasai tubuhnya. Masih dengan mulut menganga, ia memeriksa satu-persatu orang yang berdiri tepat di depan matanya.

"Kalian kembali?" tanya Ichigo hampir tersekat.

Renji merangkul bahunya hingga terdorong ke depan. "Tentu saja kami kembali! Memang siapa penjaga perdamaian dari roh-roh hina itu!"

Ichigo melepaskan lengan Renji, "Whoa. Tunggu. Tunggu dulu," Ichigo bergerak mundur.

Memastikan sekali lagi bahwa hal ini nyata. Rangiku, Yumichika, Yachiru, Renji, Hitsugaya dan Rukia. Matanya berhenti pada Rukia. Gadis itu kembali. Ichigo bisa melihat gadis itu secara utuh. Dia... tampak banyak berubah. Rambut hitamnya kini sudah mencapai punggung. Dia...beda. cantik—apa yang kau pikirkan Ichigo? Sadarlah.

"Kalian nyata, bukan?"

"Oh, jangan membuatku menendangmu untuk kedua kalinya," kata Rukia.

Mata mereka bertemu, setelah sekian lama. Tidak. Tadi dengan jelas ichigo bertemu dengannya di pohon natal. Tapi orang itu menghilang. Ichigo membuka mulut untuk protes ketika, Rukia menyodok-nyodok rusuknya.

"Kau merindukanku, bukan?" tanya Rukia dengan wajah mencemooh.

Ingin sekali Ichigo meneriakinya dengan kata Ya. Tapi Ichigo akan memainkan drama pertemuan mereka yang sudah-sudah, seperti dulu. Pertemuan klasik mereka. Ichigo memutar bola mata, "Yang benar saja."

Selanjutnya adalah tawa yang meledak dan semua orang tampak senang bertemu Ichigo. Begitu pula Ichigo. Mungkin ia adalah orang yang paling bahagia malam ini. Ia orang yang sebenarnya di permainkan di sini. Shinigami-shinigami yang sedang tertawa bersamanya sangatlah memempermainkannya. Membuat Ichigo mengenal dunia mereka terlalu dalam kemudian menjatuhkannya secara tiba-tiba. Sekarang mereka datang. Tertawa bersama. Bernostalgia dengan hal-hal gaib sebagai topik, dan menceritakan banyak hal selama dua tahun mereka terpisah. Ichigo merasa seperti bertemu kembali dengan kenangan yang dulu pernah dialaminya.

"Hei, Ichigo! Apa yang ras-mu lakukan di sana?" tanya Renji sambil menunjukkan tangannya ke lapangan ice skating yang sebenarnya sebuah danau yang membeku.

"Rasis," desis Ichigo, menyipitkan mata. "Mereka sedang..."

"Ice skating?" tukas Rukia dengan mata penuh keinginan.

"Yeah," jawab Ichigo pelan. Ia masih berusaha menyesuaikan diri dengan keberadaan Rukia yang sangat tampak semu. Ia masih tidak percaya gadis itu berdiri tepat di depannya sekarang.

"Ayo kesana!" seru Rangiku dan Ichigo diseret untuk ketempat itu.

Renji tampak sangat bego meluncur di atas es dan terjatuh setiap dua menit. Mereka tampak sangat takjub dan menikmatinya. Entah bagaimana, kehadiaran mereka benar-benar membuat Ichigo percaya pada yang namanya keajaiban natal. Mereka benar-benar ada. Mereka seakan mengingatkan Ichigo akan darah gaib yang mengaliri tubuhnya.

Bahwa Ichigo masih merupakan bagian dari dunia roh.

Ichigo terjungkal ketika ia di tabrak dari belakang.

"Sori," kata Rukia seraya mencoba menstabilkan dirinya di atas es.

Ichigo masih saja agak terkejut melihat Rukia. Ia berdiri lagi.

"Payah," komentar Ichigo, nyegir.

Rukia cemberut, "Kau sendiri coba saja."

"Siapa yang manusia di sini," kata Ichigo. Tangannya terjulur ke depan begitu saja, "Bukankah dulu kau pernah kuajari?"

Rukia tampak ragu sejenak, sebelum akhirnya memutuskan menerima tangan Ichigo. Mereka bergerak secara lambat, beberapa kali Rukia hampir terjatuh dan Ichigo menangkap tubuh gadis itu. Seperti dulu.

Gadis itu tertawa kecil, "Ide manusia memang luar biasa."

"Aku anggap itu sebagai pujian," kata Ichigo.

Mata mereka bertemu lagi, "Kenapa kau pergi, sebelum ini?" tanya Ichigo tak tahan lagi.

Rukia megalihkan pandangannya, ia menggigit bibir. "Bukan urusanmu." Dan Ichigo bersumpah melihat semburat merah di pipi Rukia.

Ugh. Gadis itu memang berbakat untuk membuat Ichigo semakin ingin tahu tentangnya. Gadis itu tak berubah. Keras kepala. Menyebalkan. Ichigo ingin sekali menghacurkan pertahanan Rukia, yang sampai saat ini tak penah berhasil dilakukannya.

"Aku tidak tahu kau..." Akan secantik ini. Menghela napas, "memanjangkan rambutmu." Ichigo mengangkat bahu.

Rukia menyentuh ujung rambutnya, "Bagus 'kan?"

Ichigo tersenyum sebagai jawaban. Ia masih betah menatap mata violet Rukia yang sama sekali tidak berubah. Masih sama.

Mereka melanjutkan berseluncur. Ichigo mengikuti Rukia dari belakang, dan ketika gadis itu tersandung es yang mencuat, Ichigo menangkap tubuhnya dari belakang.

Rukia tertawa kecil, "Aku lupa seperti apa rasanya hiburan di sini. Begitu bodoh, untuk apa orang meluncur di atas es? Ada –ada saja."

Ichigo masih menahan tubuh Rukia, "Tapi kau menyukainya, bukan?"

"Sangat," sahut Rukia. "Hei, lepaskan."

Dan saat itulah Ichigo bertindak diluar nalar. Ia memeluk Rukia dari belakang. Punggun gadis itu membentu Ichigo saking kuatnya tarikkan Ichigo. Untuk pertama kalinya, Ichigo berani melakukan hal yang didasari perasaan pada Rukia kali ini.

"Bukankah aku pernah bilang dulu," kata Ichigo pelan. Ia menundukkan wajahnya sedikit untuk bisa melihat wajah Rukia yang terkejut. "Agar mengingatkanku untuk memelukmu kalau kita bisa bertemu lagi."

Keheningan yang canggung melanda mereka. Ichigo bahkan nyaris melemas karena melakukan tindakan ini. God, Ichigo seperti pemeran cowok yang murahan. Back hug? Menjijikkan. Tidak rasional. Memalukan setengah mati.

"Aku lupa," kata Rukia akhirnya menanggapi, dengan suara nyaris tergagap.

"Yeah. Ya. Oke. Bukan masalah," kata Ichigo, melepaskan lengannya yang melingkari tubuh Rukia.

Ichigo baru akan membuka mulut untuk pembelaan ketika Rukia melesat pergi menjauh. Ichigo menghela napas tegang. Well, itu aneh. Sungguh aneh.

Matanya masih mengekori Rukia yang sesekali hampir terjatuh, saat itu Toushiro tampak mendekatinya. Menolong Rukia berdiri, kemudian merapatkan syal Rukia.

Dahi Ichigo berkerut melihatnya. Apa itu tadi?

"Jangan heran," bahunya di tepuk seseorang. Renji tampak kehabisan napas karena terlau sering terjatuh, memegang bahu Ichigo sebagai pegangan. Renji mengendikkan dagunya ke arah Rukia dan Toushiro.

"Rukia miliknya," kata Renji.

Ichigo mengerutkan dahinya lebih banyak lagi, "Apa maksudmu?"

"Miliknya. Rukia milik kapten Hitsugaya. Banyak yang terjadi selama dua tahun ini, kau tahu," sambung Renji yang juga berwajah malas untuk menceritakan hal itu.

"Miliknya?" ulang Ichigo heran.

Rukia milik Toushiro? Whoa, dia pikir siapa dia? Memangnya siapa Toushiro?

TBC