Please anyone give me a bitch slap, so I can think clearly to post new chapter earlier!
Gyaaa! Maafkan saya. Tapi sudahlah, pasti kalian bosen denger permintaan maaf saya. HAHA
Yang pasti berhubung udah nggak sekolah lagi (tapi kuliah menanti) saya bakal lebih sering buka ff. Dan yang pasti sekarang ini saya pingin banget yang namanya bikin fanfic Naruto. Karena semua orang tau kalau dia sudah tamat. Huaaaa :"(
Sebenarnya saya ragu mau buat fanfic Naruto, tapi pasti Bleach yang satu ini bakal dianak tirikan. Hiks. So, what do you think? Or I'm too much? Hahh, pokoknya saya bisa bebas bikin fanfic lah untuk menyenangkan kalian (menjilat) hwahahah :D
Enjoy!
Btw saya takut Bleach, soalnya belakangan saya baca manganya kok Inoue sama Ichigo makin nyebelin HAHA. TAPI, nih yang saya lihat di internet: "Althought I was just asked to draw a picture of Ichigo, I just felt like that I cannot draw Ichigo without Rukia."-KUBO TITE
Nah, masih ada alasan 'kan untuk nerusin fanfic-fanfic Ichiruki. Kalian juga harus berkarya! #soribanyakbacot
Sinar matahari menyusup masuk melewati sela jendela Ichigo yang terbuka. Menghantarkan sinar itu menerangi sebagian kamar yang sangat berantakan. Ichigo berkerut merasakan cahaya yang menganggu tidurnya, memaksanya membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat.
Ia menguap lebar, kemudian bergerak untuk membuka gorden jendela kamarnya. Salju berguguran dengan lembut. Ichigo menyentuh permukaan kaca jendela, ia bisa merasakan hawa sedingin es dibalik tepalak tangannya sendiri. Ini terlalu dingin untuk hari natal. Lebih baik Ichigo kembali bergumul dengan selimutnya yang tebal.
Hm, hangat. Ia merasa akan kembali terlelap dengan mudahnya.
"Woah! Hari ini sangat dingin!"
Ichigo tersentak hingga terguling jatuh dari kasur. Pekikkan itu membuatnya kaget setengah mati.
Mendadak punggungnya serasa mau patah ketika sebuah hentakan kuat mendarat di atasnya, kaki gadis itu menginjak punggung Ichigo.
"Hari ini sangat dingin, bagaimana menurutmu, Ichigo?"
Mata Ichigo melebar, dia berusaha mendongak dan jantungnya berdegup dengan intensitas yang sama dengan kemarin malam. Kelihatannya kali ini adaptasinya akan eksistensi Rukia belum maksimal.
"Menyingkir dari punggungnku!"
Rukia melompat ke atas kasur, kemudian duduk di depan jendela.
"Hei, hei. Hanya karena kau sudah kembali dan aku mengijinkanmu tinggal di lemariku lagi bukan berarti kau bisa seenaknya, Rukia," Ichigo duduk di sampingnya.
Gadis itu tidak begitu mendengarkan, ia membuka jendela dan detik itu juga angin musim dingin disertai salju menerpa kamar Ichigo.
"Shit! Tutup jendelanya, idiot!" seru Ichigo.
"Jangan! Biarkan seperti ini sebentar," Rukia menghentikan tangan Ichigo yang akan menutup jendela.
Angin es benar-benar membuat tubuh merinding, bahkan uap sudah keluar dari mulut Ichigo ketika ia mengomeli Rukia.
"Geez, kau cerewet sekali," ujar Rukia dengan pandangan malas seperti biasa.
Ichigo menarik pipi Rukia jengkel, "Siapa yang kau bilang cerewet itu, huh?"
"Heish, aku butuh hawa yang segar. Aku tidak bisa tidur semalaman," balas Rukia sambil menepis tangan Ichigo dari pipinya.
Ichigo membuka mulut, tapi tak ada suara yang segera keluar. Ia terdiam beberapa detik. Ia memandang Rukia yang sedang menghirup udara banyak-banyak dan seperti sedang meditasi. Gadis itu tidak bisa tidur. Well, sama. Ichigo juga tidak tidur semalaman. Selain faktor utama karena ia terlalu senang malam itu, faktor yang lain adalah kepalanya dipenuhi hal-hal baru yang terlalu mendadak. Ia memikirkan konsekuensi. Seperti apa jadinya hidupnya setelah semua shinigami itu kembali. Tentu memusnahkan hollow akan kembali menjadi aktivitas regulernya. Darahnya bergejolak menahan gairah akan itu.
Tapi... sampai kapan? Sampai Ichigo mati? Memusnahkan hollow bukanlah pekerjaan modern yang memberikan gaji tinggi. Bahkan ia tidak akan mendapat asuransi. Bagaimana jika ia mati di tengah-tengah pertarungan dan meninggalkan anak dan istrinya yang manusia kelak? Jika dipikirkan ulang, Inoue adalah pilihan terbaik yang tersedia mengingat gadis itu cukup tahu dunia roh. Tapi Ichigo mengacaukan kencan mereka kemarin malam. Fuck. Masa depan tidaklah pernah mudah. Setidaknya masa depan manusia yang tidaklah mudah.
Tidak. Pikiran itu tampak terlalu salah. Pikiran itu begitu menyimpang dari Ichigo yang dulu yang tak pernah berpikir sejauh itu. Apakah ini yang semua orang bilang sebagai beranjak dewasa?
Semua masalah itu membuat Ichigo terjaga semalaman. Lantas apa yang dipikirkan Rukia hingga gadis itu juga tidak bisa tidur? Memangnya hal apa yang bisa mengganggu shinigami? Ah, mungkin dia sedang berpusing memikirkan Toushiro. Renji menceritakan segalanya. Ichigo hanya bisa mendengus.
"Apa-apaan tatapanmu itu?"
"Hm?"
Rukia mengghela napas, "Apa kau tidak sekolah lagi?"
Ichigo tersenyum, "Aku sudah di universitas. Tempat itu hanya untuk-orang-orang yang ingin memiliki masa depan cerah. Orang sepertimu tidak akan bisa masuk."
Rukia memukul dahinya, "Huh! Aku tidak peduli." Gadis itu membelakangi Ichigo dengan dongkol. Ichigo menggeram, ia menarik pipi Rukia.
"Sekarang menyingkir dari tempat tidurku!"
Rukia tampak berusaha melepaskan tangan Ichigo dari pipinya, "Lepaskan! Idiot!"
"Coba saja sendiri, pendek."
"Beraninya kau!" Rukia berseru, dia menyodok wajah Ichigo dengan sikunya.
Ugh. Ichigo memegang hidungnya yang mengucurkan darah. Ia baru saja akan membalas Rukia ketika gadis itu menarik bibir Ichigo kasar. Geez, rasanya ia kembali ditarik pada masa-masa ketika Ichigo masih SMA. Dia hanyalah pemuda berdarah panas ketika itu. Masa ketika semua histeria akan menjadi shinigami, memiliki hubungan dengan dunia roh, memiliki teman-teman baru yang tidak nyata.
Bertemu dengan Rukia.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Tidakkah Rukia tahu seberapa besar usaha Ichigo demi mendorong keluar gadis itu dari kehidupannya? Tidakkah Rukia tahu berapa banyak perasaan yang telah Ichigo korbankan? Tapi dia kembali. Rukia kembali begitu saja dengan mudahnya. Dan dengan mudahnya pula ia menjungkir balikkan segala usaha yang sudah Ichigo bangun.
"Apa yang kau lakukan?"
Ichigo tersadar, dan mendapati jarinya sudah terkait dengan ujung rambut Rukia.
"Sori," ucap Ichigo.
Keheningan yang canggung memenuhi udara membuat bergerakpun menjadi tidak nyaman. Ichigo menggaruk belakang kepalanya dengan janggal.
"Ichigo," kata Rukia pelan.
"Hm?"
"Apa ada yang salah?"
Ichigo mengerutkan alisnya, "Tidak ada?"
Rukia memberikan tatapan curiganya yang menyebalkan. Angin bersalju mulai berhembus kencang dan dinginnya membekukan tulang. Ichigo bergerak ke belakang Rukia kemudian mentup jendela.
"Kau..." Rukia menatapnya lewat refleksi di kaca jendela. "Tampaknya ada yang mengganggumu sejak kami datang. Apa kau tidak senang?"
Jeda sesaat sebelum, "Tidak ada alasan untuk tidak senang."
Rukia masih tampak tidak percaya, tapi kemudian gadis itu menghela napas. "Baiklah. Terserah padamu," kemudian gadis itu pergi menutup pintu kamar.
Ichigo mengulurkan tangannya, meletakkan jemarinya ke atas bekas telapak tangan Rukia yang membekas di kaca jendela. Menghela napas, "Kenapa kau harus kembali?" bisik Ichigo. Salju berguguran di luar sana.
"Tentu saja aku senang. Bukan. Aku bisa mati kegirangan. Tapi ini di luar rencanaku, kau tak seharusnya datang saat ini. Kau hanya akan... menghancurkan semua yang telah kubangun."
Di hari minggu pagi itu salju turun dengan lebat. Salju menempuk setinggi betis orang dewasa. Rukia mencengkeram salju di bawahnya, cairan merah merembes di atas salju ketika Rukia batuk. Sialan, hollow itu menyodoknya tepak di ulu hati.
Traang!
Zanpakutounya begesekkan dengan cakar hollow setinggi seratus kaki itu. Cakar itu hanya beberapa senti dari mata Rukia. Kemudian cahaya biru yang tak asing terkumpul di dekat matanya, sebelum Rukia bisa menyadari keadaan. Dia melompat sekuat mungkin tapi efek ledakan panah quincy itu mengenainya sedikit.
Rukia mengatur napas. Parahnya matanya buta sementara disebabkan oleh cahaya hollow tadi. Cahaya yang Rukia tidak akan salah tangkap dan yakin bahwa itu adalah cahaya panah quincy. Sial. Dia terpaksa hanya dapat mengandalkan pendengarannya saja.
Rukia bisa merasakan reaiatsu besar mendekatinya, ia tangkis sebisanya dan mengerahkan shikainya.
Area di sekitarnya nyaris hancur. Rukia terengah, kemudian berusaha tenang. Sepertinya serangannya tadi meleset namun yang pasti hollow itu tinggal separuh karena Rukia bisa mendengar raungan kesakitan menggelegar. Yang lebih aneh adalah momen ketika hollow itu meraung-raung memanggil nama seseorang, Haschwall? Atau siapalah itu. Rasanya tidak asing di telinga Rukia.
Tiba-tiba suara benturan yang cukup keras terjadi di depannya. Rukia berusaha membuka matanya yang masih rabun. Samar-samar dia bisa melihat siluet seseorang berdiri di depannya. Rukia mengerjapkan matanya lagi, kali ini berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke korneanya. Perlahan, Rukia bangkit berdiri.
Terdengar suara tusukan dan Rukia tahu orang itu sudah berhasil mengalahkan hollow setinggi sepuluh kaki tadi. Rukia mengerjap lagi, dan dia bisa melihat Ichigo sedang mencabut pedangnya dari kepala hollow.
"Yo, Rukia. Kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja, rasakan akibatnya," kata Ichigo.
Ichigo masih tampak agak kabur ketika Rukia mendekatinya sambil mengucek matanya sekali lagi. Ichigo menunduk untuk memposisikan wajahnya di depan Rukia. "Kenapa dengan matamu?"
Kali ini Rukia bisa melihat segalanya dengan jelas. Ichigo ada di depannya. Rasanya benar-benar aneh bisa mengalami hal ini—Ichigo berdiri di depannya secara heroik saat melindunginya, untuk kesekian kalinya dalam hidup Rukia. Rasanya sungguh aneh. Sedikit menyenangkan. Sedikit. Atau banyak.
Rukia mendorong wajah Ichigo hingga orang itu terpental, "Geez, kau sendiri yang bilang ada urusan dengan universitasmu tersayang." Rukia menggerutu dan berjalan pergi.
"Hal itu tak sebanding dengan ini, kau tahu." Ichigo berjalan mengikutinya dari belakang dengan santai.
Rukia melebarkan matanya untuk sedetik, tapi kemudian ia menghela napas sembari menggerutu dan melanjutkan berdebat dengan Ichigo bahkan dalam hal sepele seperti warna hollow tadi sebenarnya hijau atau biru. Mereka berdebat sambil menyusuri jalanan bersalju yang menutupi jalur kereta api di pinggir sungai. Hollow semakin menjadi semenjak koneksi dunia roh dan dunia manusia kembali terhubung. Mereka bahkan sanggup muncul dimana-mana, seperti saat ini. Hollow-hollow sialan itu berhasil menyeret Rukia ke daerah pinggiran kota yang hanya dikelilingi bukit-bukit. Ketika mereka berdua sibuk bertengkar, suara yang sangat familiar ditangkap oleh telinga Rukia.
"Kuchiki-san~!"
Rukia pikir ia kembali buta karena semuanya menjadi gelap sebelum akhirnya ia menyadari kalau dua bongkahan besar dada Inoue menutupi wajahnya. Inoue berkaca-kaca sembari memeluk kencang tubuh Rukia.
"Ternyata benar! Kau kembali Kuchiki-san!" Kata Inoue penuh haru. Rukia tersenyum lembut sambil membalas pelukannya. "Aku senang kau tampak baik-baik saja, Inoue," kata Rukia. Rasanya begitu lama Rukia tidak melihat orang seperti Inoue. Sahabat manusianya yang sangat ceria, hidup bagaikan tanpa beban. Berteman dengan orang sepertinya sungguh merupakan suatu keberuntungan.
"Kuchiki," sapa suara yang sudah lama tidak didengarnya.
"Oh, Ishida! Kau kelihatan lumayan," kata Rukia seraya tertawa pelan. Di belakangnya muncul sesosok makhluk yang pada awalnya ia kira seekor beruang coklat. Ternyata Chad muncul dengan senyum tipisnya. Rukia membalas mengangguk.
"Kau banyak berubah, Kuchiki," ucap Ishida.
Rukia tersenyum, "Kau membicarakan rambutku? Atau aku jadi lebih cantik? Hahaha."
Ichigo mengacak-acak rambut Rukia,"Hei, apa yang kau maksud berubah? Dia bahkan tidak tambah tinggi sesenti pun."
Mereka tertawa bersama. Rasanya begitu menyenangkan. "Oh, ya. Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Rukia.
Inoue yang berjalan di sebilah besi rel kereta mencoba menjaga keseimbangannya, kemudian menoleh. "Eh! Kami sedang liburan tahun baru. Sebenarnya ini acara fakultas kedokteran, fakultasnya Ishida-kun. Tapi berhubung mereka semua kaya raya, mereka juga mengajak anak fakultas lain! Aaah! Tidak kusangka ini sangat menyenangkan!" kata Inoue bersemangat. Dia menghirup udara dan melepaskannya penuh kelegaan. "Ditambah kami bisa bertemu denganmu Kuchiki! Pantas saja saat malam natal aku merasakan hawa yang tidak bisa. Ternyata kau! Hehehe," dia berkata panjang lebar dengan cengirannya yang biasa.
Rukia ikut meringis. Saat itu Inoue kehilangan keseimbangannya dan nyaris terjatuh. Tangan Ichigo menyangga tubuh Inoue agar tak jatuh walaupun itu hanya lima senti dari tanah.
"Geez, Inoue. Kau ceroboh seperti Yuzu waktu kecil," kata Ichigo seraya tersenyum.
Wajah Inoue memerah seperti biasa, "Terimakasih, Ichigo-kun."
Rukia mengangkat sebelah alisnya, yang rupanya merupakan hal yang sama dengan reaksi Ichigo. Seakan paham, Ichigo mulai tersenyum. "Kurasa itu berhasil," katanya penuh arti. Wajah Inoue semakin merah padam. Kemudian dia mulai salah tingkah dan nyaris terpeleset lagi, lalu berjalan seperti robot dengan uap mengepul di atas kepalanya. Ichigo nyaris berlari mengikuti tepat di belakangnya, menjaganya agar tidak terpeleset konyol lagi.
"Apa kau sendirian, Kuchiki?" Ishida berkata tepat di sampingnya.
Rukia tersadar, kemudian menoleh. Menjawab dengan masih agak bingung. "Tidak. Renji, Kapten Byakuya dan Kapten Hitsugaya juga ke sini. Mereka sangat terlambat," gerutu Rukia.
"Apa kalian hanya berempat?" akhirnya Chad buka mulut. Rukia mengangkat kedua tangannya tanda tak tahu. "Yah, aku tak tahu ke mana Yumichika dan Rangiku keluyuran. Apalagi mereka tahu kalau ini adalah natal. Tidak. Tidak hanya kami berempat, maksudku."
"Mmm, kau tampak tambah kumal, Chad. Apa yang terjadi?" tanya Rukia.
Ishida tertawa pelan mendengarnya. Chad bersemu merah yang nyaris tak tampak. "Aku kuliah di Tokyo, sambil berkerja di restoran. Apakah penampilanku separah itu?"
Rukia tertawa keras, "Tidak. Kau tidak pernah lebih dari seekor papa beruang coklat di mataku."
Mereka tertawa sebentar. "Jadi kapan kau kembali, Kuchiki?"
"Sepertinya tepat saat malam natal. Koneksi dunia kita terbuka kembali, siapa yang sangka huh?"
Ishida tersenyum lemah. Rukia memperhatikannya, dia berbalik dan berjalan mundur agar bisa melihat Ishida dari depan lebih jelas. "Kenapa dengan wajahmu? Masih merasa bersalah?"
"Tetap saja itu salahku. Pernah bergabung jadi bagian quincy seperti Juha Bach, hanya demi pelampiasan rasa rinduku pada ibuku dan telah menghancurkan Soul Society. Tetap saja aku bersalah 'kan?"
Chad terdengar menghela napas. Rukia tersenyum, "Itu adalah hal basi, Ishida. Lagipula kau sudah menebusnya. Kau bertarung bersama Ichigo melawan quincy itu. Yah, meski kau berakhir dengan ditusuk temanmu sendiri." Kata Rukia dengan nada mengejek.
"Dan kau orang pertama yang kulihat ketika membuka mata dari tidurku yang panjang, wew. Siapa sangka?" tanya Ishida.
"Hahaha, maaf mengecewakanmu. Kau mengharapkan siapa? Inoue?"
Ishida seperti terkena sengatan listrik bertegangan rendah. "A-apa maksudmu?"
Rukia masih berjalan mundur, menggoda Ishida. "Kau lihat tadi 'kan, Chad? Saat Inoue terpeleset Ishida juga mencoba meraihnya."
"Kelihatan jelas. Sayang Ichigo lebih cepat," sahut Chad sambil tersenyum menghina.
Rukia tertawa kecil, namun ia sendiri malah nyaris terjungkal karena tersandung besi rel. Seseorang menyangga tubuhnya dari belakang. Sedetik, terbesit ingatan Ichigo yang memeluknya dari belakang. Rukia menoleh. Mata tosca orang itu memandangnya.
"Kau ceroboh," kata Hitsugaya sambil tersenyum.
"Ehm!"
Hitsugaya segera melepaskan tubuh Rukia ketika Byakuya sampai di tempat mereka. Renji menyusul dengan wajah jijik, sembari membersihkan cairan berwarna hijau di sekitar rambutnya.
"Iuuhh! Kenapa hollow jaman sekarang semakin tidak jelas. Mereka bahkan menembakiku dengan cahaya panah quincy!" Renji mendesis marah. Kemudian dia sadar siapa yang ada di depannya. Jari telunjuknya mengacung tepat di depan hidung Ishida. "Quincy! Kau sepertinya masih hidup, ya? Bagaimana kabarmu?" tanya Renji antusias. Namun kelihatan jelas Renji meremas tangan Ishida dengan kekuatan lebih, masih jengkel atas insiden dua tahun lalu.
"Sebaiknya kau bersihkan dulu cairan menjijikkan yang ada di rambutmu, Renji," perintah Rukia.
"Gyaaa! Kau benar, menjijikkan sekali ini!" Renji dengan segera turun dari jalur rel yang tidak terlalu tinggi itu kemudian menceburkan kepalanya ke sungai yang nyaris beku. "Dingin!"
"Dasar bodoh!" Ichigo berteriak, dia menghampiri mereka. "Well, well. Lihat siapa ini. Aku tidak melihatmu kemarin, Byakuya?" sapa Ichigo dengan wajah angkuhnya.
"Aku kemari bukan untuk melihatmu, Kurosaki," ucap Byakuya lebih arogan.
Inoue muncul di balik bahu Ichigo, kemudian membungkuk memberi salam. Hitsugaya tersenyum sinis, "Sepertinya kau hidup dengan baik, Kurosaki. Lebih baik kami tidak mengganggu?"
"Geez, diamlah pendek. Kau masih saja menyebalkan," desis Ichigo.
Urat kepala Hitsugaya tercetak jelas, "Jangan panggil aku pendek!"
"Lalu apa? Cebol?" tantang Ichigo.
"Aku akan merobek mulutmu yang lebar itu, Kurosaki."
"Silahkan kalau kau berhasil mencapai mulutku tanpa harus berjinjit."
"Aku akan mencincangmu!" Hitsugaya hampir menarik wajah Ichigo sebelum Rukia menarik pipi kedua orang tersebut.
"Aw, aw, lepas. Rukia, kubilang lepaskan!" seru Ichigo.
Rukia menutup mata jengel, kemudian menyeret pipi mereka berdua agar berjalan. Inoue mengikuti sambil berwajah khawatir yang lucu. "Kuchiki-san, pipi Ichigo-kun bisa merah. Hehe."
"Huh, aku tidak peduli. Kalian bersikap konyol," Rukia menarik keras pipi mereka kemudian melepaskannya dalam satu tarikan.
"Aw! Kurang ajar kau, Rukia!" Ichigo mendesis jengkel.
"Itu sangat sakit, Kuchiki," keluh Hitsugaya.
"Huh!" Rukia tidak peduli akan rengekan Hitsugaya kali ini. Suasana hatinya entah bagaimana memburuk. Rukia berjalan meninggalkan mereka lebih dahulu. Kemudian terdengar suara Inoue, dia melambai di belakang.
"Ichigo-kun! Kita harus kembali, ketua mahasiswa mulai marah-marah menyuruh semua berkumpul!" seru Inoue sambil berlari menghampiri mereka.
"Merepotkan! Baiklah, ayo segera kesena," jawab Ichigo.
Inoue menatap Rukia antusias, "Kau bisa ikut, Kuchiki-san! Nanti malam kami akan berpesta melihat kembang api malam tahun baru! Dan banyak makanan, iya! Kalian semua bisa ikut!"
Dari kejauhan terdengar suara penuh nafsu, "Apa ada yang bilang makanan?!" suara Renji begitu keras.
Ichigo memutar bola matanya, "Biarkan saja Rukia, Inoue. Dasar, kau sudah menarik pipiku yang berharga," kata Ichigo menyipitkan mata. Rukia balas menjulurkan lidah.
"Sampai jumpa, kalian semua!" seru Inoue sambil melambai, kemudian mereka berjalan menjauh sampai benar-benar hilang di ujung rel.
Renji datang tergopoh-gopoh, "Kudengar tadi ada yang bilang makanan?"
Rukia menjitak kepala Renji, "Apa hanya itu yang ada di kepalamu?"
"Hei! Apa salahku?" Renji berseru tidak terima.
Rukia berbalik dan berjalan cepat. Suara Byakuya menghentikan langkahnya. "Apa kau terluka, Rukia?"
"Tidak. Jangan khawatir," jawab Rukia menyunggingkan senyum seadanya, kemudian kembali berjalan dengan cepat.
Hitsugaya segera berjalan menyamai kecepatan Rukia, dia melipat kedua lengannya di depan dada. "Merasa buruk?"
Rukia mengangkat alisnya, "Kenapa aku harus?"
Hitsugaya mengendikkan bahunya samar, "Entahlah. Menurutmu kenapa?"
Rukia menyipitkan mata, merasa sangat terganggu. Pembicaraan ini sudah kelihatan hasilnya. Hitsugaya tahu bagaimana cara mengorek informasi dari Rukia, memojokkannya. Dan Rukia akan kalah. Memangnya apa yang Rukia coba tutupi? Rukia hanya tak ingin ketahuan bahwa dia memikirkan hal-hal cengeng seperti gadis-gadis murahan. Seperti berpikir keras sedekat apa Inoue dan Ichigo kini karena sebutan 'Ichigo-kun' yang Inoue lontarkan tadi.
"Tunggu!" Byakuya hampir berseru.
Mereka bertiga mengangguk. Reiatsu besar berada tak jauh dari sini.
"Hollow sialan itu memanggilmu, Rukia! Kau tadi yang selesai pertama bukan?" kata Renji.
"Huh? Itu karena Ichigo datang membatu, tidak seperti kau sangat lambat. Lebih baik kau saja yang pergi, Renji!"
"Kau...! Eh," wajah Renji berubah dari ingin memakan Rukia menjadi cengiran babonnya. "Oke, aku akan menemui hollow sialan itu. Tapi nanti kita pergi ke tempat Ichigo, oke?" ucap Renji menuntut.
Hening agak lama. Semua mata menyipit sinis atas tuntutan Renji. Meskipun Rukia tahu sebenarnya tidak ada yang menolak menadapat makanan gratis dan sedikit hiburan. Namun bergabung dengan acara-membunuh-waktu manusia sedikit melukai harga diri mereka mengingat tiga diantara kelompok ini memiliki rasa angkuh yang tinggi.
"Kalau kau tidak sanggup melawan hollow itu, lebih baik aku saja yang maju, Abarai." Byakuya menatap Renji dingin, "Mengecewakan," tambahnya eksplisit. Kemudian bersiap bershunpo pergi, sebelum dia memutar kepalanya sedikit, "Kau kembali saja dulu, Rukia. Dan Kapten Hitsugaya bisa ikut aku."
Renji bergidik sampai lemas, "A-aku siap kapten! Maafkan aku!". Renji gelagapan bershunpo menjauh sambil meneriakkan kalau mereka tetap harus ke tempat Ichigo.
Hitsugaya baru akan beranjak, ketika tangan Rukia menggenggam pergelangan tangannya. "Tidak sampai kusembuhkan dahimu yang berdarah, Kapten."
Hitsugaya menghela napas seraya tersenyum tipis, "Kukira kau tidak sadar."
Rukia mendengus, "Jadi kau sengaja melukai dirimu sendiri?"
Hitsugaya menggeleng samar sambil tersenyum tipis. Rukia mendengus tidak percaya. Kemudian bergerak pelan ke depan orang itu. Ia menyibakkan sebagian rambut yang terkena darah dan menyembuhkannya sebisa reiatsunya. Rukia sadar Hitsugaya memandangnya intens. Tentu saja itu sama sekali tak membantu. Tangannya nyaris gemetar di dahi Hitsugaya. Lalu hal yang ditakutkannya terjadi, tangan Hitsugaya terangkat dan menangkap tangan Rukia. Menggenggamnya erat.
"Kau mau mencuci rambutmu?" ucap Rukia sangat cepat sebelum Hitsugaya mengucapkan sesuatu.
Sebelum Hitsugaya menolak, Rukia menarik tangan Hitsugaya menuruni bukit buatan untuk rel kereta menuju ke bawah. Sungai di depan mereka terbentang luas. Rukia mencelupkan tangannya ke dalam air es dan mengambilnya beberapa untuk mencuci sebagian rambut Hitsugaya yang berwarna merah. Rukia menatapnya, mendadak ide bagus melintas di kepalanya. Rukia mengambil air lagi kemudian dilemparkannya tepat ke wajah Hitsugaya hingga basar kuyup. Rukia tertawa melihat ekspresi membeku dari Hitsugaya. Rukia sungguh sangat terhibur ketika Hitsugaya bertingkah seperti anak kecil. Membalas cipratan-cipratan air pada Rukia.
Rukia menginjak salju yang salah dan tergelincir jatuh telentang ke tumpukan salju. Tapi anehnya ia malah tertawa. Rukia meletakkan lengannya di atas kedua matanya. Hanya... ini begitu menggelikan. Memuakkan, sebenarnya. Rukia pikir semua akan berjalan normal ketika ia terhubung dengan dunia manusia lagi. Tapi, yang ditemuinya adalah ketidak pastian. Kebingungan yang menuntunnya pada tindakan-tindakan irasional yang telah di lakukannya sejauh ini. Sebut saja ketika Rukia bertemu Ichigo di bawah pohon natal. Kenapa ia harus melarikan diri? Atau ketika ia bangun pada suatu pagi di kamar Ichigo dan merasa begitu senang bisa bersama orang itu lagi. Atau hatinya yang melebur seperti es yang mencair saat Ichigo berdiri dengan originalnya menyelamatkan Rukia dari serangan hollow. Atau mengapa harus Rukia tertegun melihat kehidupan Ichigo yang berjalan sangat lancar bersama Inoue.
Semua begitu rumit. Tidak. Rukia yang memperumitnya sampai tidak bisa tidur. Memikirkan untuk kembali terlibat lebih dalam terhadap kehidupan dunia ini adalah keputusan yang tepat.
Rukia hanya... tidak ingin terluka.
"Berhentilah menggigiti jempolmu, Kuchiki."
Rukia membuka matanya dan tanpa sadar jempol tangannya sudah berdarah. Kebiasan buruk lama yang sampai saat ini terus dilakukannya. Tapi bukan itu yang membuat mata Rukia melebar. Melainkan mata tosca yang menatapnya lurus dari atas. Hitsugaya berada tepat di atasnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Hitsugaya pelan. Air yang membasahi wajah Hitsugaya mengalir perlahan, hingga jatuh di permukaan pipi Rukia.
"T-tidak ada." Jangan salahkan Rukia yang tegang menatap wajah Hitsugaya yang basah, sungguh sangat err... luar biasa.
"Benarkah?" Orang itu mendekatkan wajahnya. Bibirnya menempel pada telinga Rukia hingga sukses membuat Rukia bergidik. Wajahnya memerah tak karuan ketika napas Hitsugaya membentur telinganya saat ia berbisik, "Bukankah sudah kubilang, kalau kau milikku?"
Rukia melengkuh pelan, "Y-ya."
Bibir Hitsugaya bergerak menelusuri garis wajah Rukia perlahan, "Aku selalu membutuhkanmu."
Rukia nyaris mendesah ketika dirasakannya bibir Hitsugaya menempel pada lehernya. Tangan Rukia mencoba mendorong dada Hitsugaya agar menjauh. Rukia berusaha menatapnya, "Kenapa harus sampai sejauh ini, K-kapten?"
Hitsugaya mengangkat wajahnya yang memerah, "Kenapa? Aku hanya ingin mengisi waktuku denganmu."
Tidak. Ini sudah melewati batas yang Rukia bentuk. Ini terlalu salah. Rukia tidak ingin ini menjadi lebih dalam dan menariknya ke dalam hal-hal yang lebih rumit. Kenapa sih Hitsugaya belakangan ini bersifat lebih agresif? Apa yang memicu orang itu sehingga bertindak gila seperti ini. Ia harus berani melawan Hitsugaya. Namun kenyataannya Rukia tidak berani membuka mata sepenuhnya untuk menatap mata tosca yang berpendar redup di depannya. "Kenapa kau ingin mengisi waktumu dengaku?"
Pertanyaan bego. Mata Hitsugaya membeku, menatapnya dingin penuh frustasi. Wajahnya bergerak mendekat nyaris tak terasa. Napasnya begitu panas menggelitik wajah Rukia yang dingin. Namun Rukia meletakkan telunjuknya tepat di antara bibir mereka berdua. Memberanikan diri untuk menatap mata tosca itu sekali lagi, menegaskannya akan satu hal. "Jangan," Rukia nyaris berbisik.
Sepertinya itu berhasil ketika Hitsugaya menjauhkan wajahnya, menatapnya dalam. Tapi kemudian dia menyelipkan wajahnya di leher Rukia. Rasanya begitu basah saat lidah Hitsugaya menyapu permukaan lehernya. Rukia mengerang pelan. Lehernya terasa perih terkena gigitan Hitsugaya.
"Hentikan, Kapten. Kumohon—nnh!" Kedua jari Hitsugaya masuk ke dalam mulut Rukia.
Hitsugaya semakin kehilangan akalnya, napasnya sangat berat terasa di leher Rukia. Tapi ketika Rukia tidak bisa menahannya lagi, air mata itu terjatuh tanpa diperintahkan, Hitsugaya menarik wajahnya sangat cepat.
Rukia memejamkan mata, tak ada nyali untuk melihat Hitsugaya. Air matanya mengalir begitu saja. Ia bahkan tidak mengerti mengapa ia harus meneteskan air mata. Penglihatannya menjadi kabur karena air yang menggenang di mata Rukia, tapi ia samar masih bisa melihat Hitsugaya yang tertegun melihatnya—antara ingin melanjutkan dan mencekik lehernya sendiri.
"M-maaf," akhirnya Hitsugaya membuka mulut, ia kembali ke posisi duduk.
Rukia masih tidak menanggapi karena sibuk memaksa air matanya supaya berhenti mengalir lebih deras lagi. Ia terduduk lemas di antara salju yang menumpuk. Sebuah tangan mencapai pipinya, Hitsugaya mengusap lelehan air mata Rukia.
"Kumohon, jangan menangis," ucap Hitsugaya takut. Wajahnya penuh kerutan tampak depresi. Dia memegang dan menarik rambutnya sendiri marah. "Aku... minta maaf. Aku tidak bisa menahannya. Aku hanya... menginginkanmu lebih cepat dari yang kuduga," sambungnya pelan.
Rukia masih terisak pelan, ia mencoba mengatur napasnya sendiri dengan benar. "Bukan. Ini bukan salahmu, Kapten. Aku hanya... takut. Aku sangat menyayangimu, aku tak ingin ada yang berubah." ucap Rukia pelan.
Wajah Hitsugaya merah padam, dia berdehem aneh sambil mendekat pada Rukia lagi, menatapnya lebih dalam seakan mengebor masuk dalam pikiran Rukia. "Maafkan aku," katanya sungguh-sungguh.
Rukia sudah tidak menangis, "Baiklah. Tapi jangan lakukan hal itu lagi," ucap Rukia sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
Ujung bibir Hitsugaya tertarik ke atas, "Jangan memintaku untuk melakukan hal yang tak bisa kujanjikan."
"Kurosaki! Kau taruh di mana matamu?!"
Ichigo tersentak pelan dan menjatuhkan beberapa arang panas tepat ke atas kakinya. Ia menjerit kepanasan. Ichigo berguling sambil meniupi kakinya yang mengeluarkan asap panas. Beberapa orang mengerumuninya, mengelilinginya dan memborbardirnya dengan pertanyaan yang bahkan ia tidak bisa dengar. Pikirannya fokus untuk meniup keluar udara dari mulutnya pada kakinya yang terbakar. Seseorang berlari menembus kerumunan begitu cepat, kemudian wajah Inoue yang super cemas ada di depannya.
"Kyaa! Ichigo-kun, kakimu terbakar!" seru Inoue kebingungan sendiri dan segera mencarikan obat untuknya.
Rasa perih itu berangsur-angsur berkurang. Inoue kembali dengan sebuah kotak saleb di tangannya.
"Geez, apa yang kau pikirkan, Kurosaki. Kau membuat masalah seperti ini," cemooh kakak tingkatnya yang sangat menyebalkan.
Mata Ichigo menyipit menatap cowok besar berkacamata itu, "Sesungguhnya itu bukan urusanmu."
Dia menggeram, "Apa kau bilang! Kau pikir siapa kau? Kami tidak akan mengundangmu kalau bukan Ishida yang minta!"
"Cih, cerewet sekali. Padahal laki-laki," balas Ichigo tidak peduli. Sedikit mengernyit ketika Inoue mengoleskan saleb dingin itu ke luka bakarnya.
"Beraninya kau!" Orang itu meraung seperti babi gempal, sebelum akhirnya beberapa orang menenangkannya termasuk Ishida dan menyeretnya menjauh dari Ichigo sebelum hal yang dihindari terjadi.
Ichigo mendengus. Orang-orang mulai meninggalkan tempat membakar barbeque yang diurus Ichigo tadi. Ichigo menggelengkan kepalanya pelan.
"Ichigo-kun, apa kakimu terasa lebih baik?" tanya Inoue masih dengan wajah cemas.
"Yeah," sahut Ichigo singkat. Ia mengangkat alisnya heran, "Kau tidak mau menceramahi kecerobohanku?"
Inoue tampak agak marah, tapi tetap dengan wajah seperti anak kecil. "Keadaan Ichigo-kun tentu saja lebih penting!" serunya.
Ichigo melebarkan matanya sebentar, ia tertawa pelan. "Benarkah? Baik sekali kau ini," kata Ichigo. "Coba kalau Rukia melihat ini, dia pasti sudah melempariku dengan arang panas. Heh," Ichigo tersenyum membayangkannya. Tapi pasti Ichigo akan membalas Rukia karena salah siapa Ichigo jadi melamun dan menjatuhkan arang kalau bukan karena sedang memikirkannya.
Inoue berhenti mengoleskan salebnya mendadak. Gadis itu tersenyum, tapi Ichigo tahu ia sedang berpura-pura karena Ichigo bisa melihat jelas kerutan di sekitar matanya.
"Ichigo-kun, pasti senang sekali bisa bertemu Kuchiki-san dan yang lain bukan?" tanya Inoue memaksakan tersenyum, meskipun itu tampak sangat tulus.
Wajah Ichigo mengeras, ia tahu kemana arah pembicaraan ini dan Ichigo akan melakukan apapun untuk menghindarinya. Ia tak ingin orang lain tahu—khususnya Inoue, bagaimana perasaannya dengan semua histeria shinigami yang menghampirinya setelah sekian lama. Ia sudah berusaha keras membangun kehidupan manusia dan hubungannya dengan Inoue hampir membuahkan hasil yaitu kehidupan manusia normal untuk Ichigo. Ichigo hanya tak ingin mengacaukan itu semua. Ia tak ingin Inoue masuk lebih jauh lagi dalam kehidupan roh yang berbahaya dan kehidupan roh yang akan mengacaukan semua yang telah mereka capai.
Ichigo mencoba tersenyum, "Tentu saja aku senang, bertemu dengan teman-teman lama kita."
"Benarkah hanya itu saja?" tanya Inoue ofensif.
"Tentu saja," jawab Ichigo cepat karena sesungguhnya ia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Ia menyentuh pucuk kepala Inoue, "Terimakasih sudah mengobati kakiku."
Wajah Inoue memerah. Wajahnya saat ini persis ketika mereka berada di bawah pohon natal. Wajah yang sebenarnya menuntut pernyataan Ichigo. Tapi kali ini kepalanya blank dan tak bisa memikirkan apapun yang akan dilakukannya terhadap Inoue. Ternyata memang dampak kedatangan Rukia membuat semuanya kacau.
Seseorang memanggil Inoue untuk memintanya mencuci buah. Inoue segera berdiri dengan wajah merah dan mengatakan pada Ichigo untuk segera menikmati liburan ini, kemudian berlari pergi. Ichigo menggeleng samar. Ini tidak berhasil. Tak ada yang berhasil sesuai dengan rencananya. Semuanya kacau. Bahkan Ichigo tetap datang menolong Rukia tadi, meskipun ia sudah berusaha untuk tidak bertindak terlalu jauh. Kini ia lebih mengacaukannya lagi karena ia tahu ia tak bisa mengatakan apapun untuk Inoue.
"Brengsek," umpat Ichigo sambil berdiri kembali. Persetan dengan kehidupannya saat ini, hanya membuat kepalanya pusing saja. Ichigo ingin bertarung menghajar satu-dua bokong hollow atau apapun itu untuk semata-mata sebagai pelarian.
Ichigo berbalik, dan matanya menangkap hal yang familiar membuat darahnya mengalir deras. Di atas bukit yang tak terlalu tinggi, shinigami-shinigami itu berdiri. Ichigo nyaris berteriak senang, mengetahui akhirnya mereka memutuskan untk bergabung dengan acara ini. Tapi Rukia tersenyum tipis ke arahnya, kemudian berbalik pergi yang diikuti Hitsugaya dan Byakuya. Wajah Renji tampak begitu penuh keinginan untuk ke tempat Ichigo namun dia akhrinya ikut berbalik dan pergi.
TBC
