Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Standard warnings apply
Proudly presents
The Witness
.
.
.
.
"Tadaima"
"Okaeri, Fugaku-kun"
Mikoto tersenyum menyambut kepulangan suaminya. Di ambilnya tas kerja dan mantel suaminya.
"Bagaimana harimu, sayang ? Apa kasusnya sudah terpecahkan ?"
" Andai semudah itu" Fugaku menghembuskan nafasnya di udara.
"Ini sulit, satu-satunya saksi dalam kasus ini masih tidak mau bicara. Trauma membuat kejiwaannya sedikit terganggu"
"Trauma ? Apa yang terjadi dengannya ?"
"Mereka bilang, kemungkinan besar akibat melihat seluruh keluarganya terbunuh di depan matanya. Tapi yang kuherankan, kenapa hanya dia sendiri yang hidup diantara seluruh korban ? Maksudku, biasanya dia membunuh satu keluarga tanpa menyisakan seorang pun "
"Mungkin saat itu wanita itu sedang bersembunyi"
"Tidak, itu tidak mungkin. Bersembunyi pun pasti akan ketahuan. Penjahat ini benar-benar sangat lihai. Tidakkah kau ingat keluarga Matsumoto-san ? Bahkan dia memperkirakan kapan anak kecil keluarga itu bolos sekolah sehingga dia bisa membunuh semuanya tanpa menyisakan seorang pun"
Keduanya kemudian saling terdiam. Memandang lantai marmer dingin di kaki mereka.
"Aa, Fugaku-san, tadi kau bilang kalau saksinya mengalami trauma karna kehilangan keluarganya. Mungkin aku tau bagaimana caranya supaya dia buka mulut"
"..."
"Maksudku begini, dia sendirian kan sekarang ?"
"Hn"
"Berapa usianya ?"
"17"
"Bagaimana kalau dia tinggal disini bersama kita ?" ujar Mikoto sambil tersenyum.
"..."
"..."
"NANIII?!"
.
.
.
.
Laki-laki itu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Hari yang melelahkan, pikirnya. Bekerja sebagai seorang pengusaha memang melelahkan. Bertolak belakang dengan pekerjaan sang ayah. Usia sudah mencukupi, harta jangan ditanya, tampang malah terkesan tampan berlebihan, tapi masih belum menikah ? Terkadang menurut Uchiha Sasuke, hidup sendirian itu menyebalkan. Tapi dia memang penganut aliran kebebasan. Tidak suka dikekang. Walaupun sudah berkali-kali berganti pasangan, bahkan melakukan hal yang lebih intim sudah pernah dilakukannya. Tapi tak ada seorang wanita pun yang benar-benar bisa memikat hatinya. Termasuk Haruno Sakura. Perempuan yang belakangan ini mencoba mendekatinya. Wajahnya ? Jangan ditanya. Perempuan itu luar biasa cantiknya. Mata emerald yang indah, kulit putih bersih, rambut berwarna pink, serta rona wajah yang terkesan malu-malu bila berdekatan dengan sang Uchiha. Namun, hati si bungsu Uchiha ini sama sekali tak merasakan apapun saat berdekatan dengan wanita yang notabene anak tunggal dari pengusaha kaya raya, tuan Haruno.
Apartemen ini benar-benar kelihatan mewah untuk ditinggali sendiri. Laki-laki itu berjalan kearah kamarnya. Ditanggalkannya seluruh pakaiannya dan mulai mengenakan jubah mandi. Ia masuk ke kamar mandi dan langsung berendam di bath-up. Disaat lelah seperti ini, berendam adalah pilihan yang tepat untuk melepas kepenatan.
"Drrrtttt...drrrtttt"
'Mom's calling'
Laki-laki itu mengambil Iphone 5-nya yang tergeletak di pinggiran bath-up itu
" Moshi-moshi, okaasan"
" Sasuke, bisa tolong antarkan ibu ke RSJ Konoha ? Ibu tunggu 15 menit lagi"
Tuuttttt... Tuutttt...
Mikoto mematikan sambungan secara sepihak. Uchiha bungsu itu takjub melihat Iphone-nya.
"Ibu tadi bilang apa ? Rumah sakit jiwa Konoha ?, ya sudahlah"
Kemudian ia berpikir ulang. Rumah sakit jiwa ? Rumah-sakit-jiwa.
"Haaaahhhh ?!"
.
.
.
.
"Kenapa lama sekali ? Ibu sampai berkarat menunggumu" Ujar Mikoto sambil memberengut.
"Sumimasen, okaasan. Aku baru pulang dari kantor. Ibu tahu kan belakangan ini aku sibuk. Kerjaan semakin menumpuk"
"Itulah yang kusesalkan. Kenapa kamu tidak bekerja dari rumah saja sih ? Kalian semua sibuk, tidak ada yang memperhatikan ibu. Ibu jadi sedih. Sekarang kamu pun sudah tidak tinggal di rumah lagi"
"..."
"Eh, berhenti. Itu dia rumah sakitnya. Cepat, cepat, ibu udah tidak sabar"
Uchiha bungsu itu bingung, ada apa sebenarnya dengan ibunya ? Siapa yang ingin sekali ditemui oleh ibunya ?
.
.
.
.
To be continued...
