Akibat ga ada yang nge post, jadilah saya iseng buat nge post lanjutan fict ini#plakk
Anyway, gomen minna-san gabisa update cepat soalnya Kenny lagi banyak tugas *nangis dipojokan
Oke deh bagi yang udah nungguin, nih lanjutan chapternya #siapa yang nunggu elu#pundungdipojokan
Nah buat minna-san nih aku persembahin
Naruto belongs to Mashashi Kishimoto
Standard warnings apply
Proudly present
The Witness
.
.
.
.
Mereka melangkah di koridor bercat putih itu. Kemudian, berhenti di ruangan nomor 13.
"Ini ruangannya nyonya. Saya harap anda tidak terkejut"
"Ohh tentu saja tidak. Aku yakin itu, haha"
Pintu otomatis itu pun terbuka. Mikoto dan Sasuke masuk kedalam setelah penjaganya pamit. Mikoto memandang ruangan itu. Minimalis dan terlihat...
"Si-siapa anda ?"
Gadis itu berdiri di sudut ruangan yang berseberangan dengan tempat tidurnya. Mikoto bergerak perlahan ke arah gadis itu sambil tersenyum hangat.
"Hinata-chan, bisakah kita berbicara ?"jeda sesaat "sebentar saja"
Hinata patuh. Ia melangkah mendekati wanita itu. Ini bukan ilusinya. Wanita itu seperti dewi dimatny. Tatapannya lembut, senyumnya hangat, mengingatkan Hinata pada seseorang. Kemudian pandangannya beralih kebelakang Mikoto. Menatap laki-laki jakung itu. Oniks dan lavender bertemu. Seketika tubuh Hinata bergetar hebat. Wajahnya menyiratkan kepanikan.
"Pergi, pergi kamu, aku bilang pergi !"
Sasuke yang sedari tadi diam semakin menatap Hinata dengan tajam.'Apa maksud gadis ini menyuruhku pergi ?'
"PERGIIhmmmphh.."
Sasuke membekap mulut Hinata. Hinata meronta-ronta sedangkan Mikoto tak paham dengan apa yang terjadi.
"Sasuke, jangan terlalu keras, kau menyakitinya"
Sasuke seolah tak peduli dengan perkataan ibunya. Semakin gadis itu meronta hebat, semakin eratlah pertahanan Sasuke terhadapnya.
"Akh"
Hinata menggigit tangan laki-laki itu. Segera diambilnya posisi siaga setelah lepas dari kungkungan pria itu.
"Ja-jangan, jangan bunuh aku, kumohon"
Gadis itu tiba-tiba saja berlutut sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Matanya mulai mengalirkan air ke wajahnya yang cantik itu. Sasuke yang masih meringis akibat gigitannya yang kuat tadi terkejut. Mikoto menganga menyaksikan adegan dihadapannya.
"Tu-tuan, aku akan melakukan apapun, kumohon biarkan aku hidup"
"Berdirilah, nak. Tak ada yang akan menyakitimu disini. Itu anakku bukan pembunuh seperti yang kau kira"
Mikoto memegang kedua bahu Hinata, membantunya berdiri. Ketakutan masih terpancar jelas diwajah ayunya. Rambutnya berantakan. Bibirnya pucat. Getaran ditubuh mungilnya sudah mereda.
"Mulai hari ini, kau akan tinggal bersama kami, nak. Kami keluargamu sekarang"
"Kaa-san, apa maksudmu ? Wanita gila ini akan tinggal denganmu ?"
"Denganmu, Sasuke"
"Nani ? Kau bercanda ? Tinggal di apartemenku ?"
"Dia akan tinggal bersama kita, tapi ditempatmu. Bukan di manshion Uchiha. Tinggal disana, takkan membuat Hinata-chan aman. Kau mengerti pekerjaan ayahmu, kan?"
"Tidak dengan tinggal di apartemenku"
Sasuke menatap tajam ibunya. Mikoto hanya menghela nafasnya.
"Sasuke, mengertilah. Dia tak memiliki siapa-siapa lagi. Ayahmu membutuhkan saksi dalam kasus ini. Hanya dia yang tersisa"
"Aku tak mungkin 24 jam menjaganya"
"Tidak perlu. Saat kau akan pergi, kau tinggal menghubungi ibu untuk datang ke apartemenmu"
"Hn"
Sasuke mengalah. Biarlah. Toh, berdebat dengan ibunya tidak akan membuatnya menang. Biarlah ia mengalah untuk hal yang satu ini.
.
.
.
.
"Kau memohon apa ? Aku tidak dengar"
Laki-laki itu menjukkan ekspresi bingung, kemudian menyeringai. Bocah di depannya ketakutan dan menangis.
"Tuan, jangan bunuh ibuku. Aku mohon, tuan"
"hhhHAHAHAHA, heh bocah, ibumu sudah meregang nyawa. Aku kasihan padanya. Dia kesakitan, oh, nona Mizu yang malang. Kau kesakitan ya ? Apa itu tadi sudah cukup menyakitkan ? Bagaimana kalau anakmu yang manis ini yang kukirim lebih dulu menyusul suamimu, hm ?"
"T-t-to..long, ja-"
Crasshhh
"Ups, maafkan aku. Aku tak sengaja"
Bocah itu tergeletak bersimbah darah. Kepalanya menggelinding ke kakiria psikopat itu.
"Nah, sekarang giliranmu. Ada kata terakhir ? Kurasa tak perlu, selamat tinggal"
Dia mengayunkan pedangnya sambil tersenyum puas.
Crasshhh
Tepat mengenai jantung wanita itu dan ia mati seketika.
"Hihihihi, ini yang terakhir, kan ? Sepertinya begitu. Atau lebih baik satu lagi ?"
"Hahahaha, iyaya satu lagi. Tunggu, aku melupakan sesuatu, iya memang satu lagi"
Pria itu mengembangkan senyumnya. Ia menjilat darah yang ada di permukaan katana nya.
'Tunggu aku sebentar lagi'
"HAHAHAHA"
Tawanya menggema diruangan berdarah itu.
.
.
.
.
To be continued...
Special thanks to : Chericchan, Guest, Ssssstt, Hinahime, Gece, Nivellia Neil, Hirano Lawliet, and many others
Makasih buat semua reader yang ngeripiu maupun yang tidak(silent reader) karna udah ngebaca fict gaje yang tek seberapa ini :D
Still mind to RnR ?
