Chapter 4 : A man

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Standard warning(s) applied

Proudly presents

The Witness

"Kau benar-benar menyedihkan."

Satu kalimat itu terlontar dari mulut sang bungsu Uchiha. Pandangannya sinis. Tak peduli jika wanita yang dihadapannya ini semakin menyurukkan kepalanya di pundak sang ibu. Uchiha Mikoto hanya bisa menghela nafas melihat tingkah laku anak bungsunya. Ini benar-benar diluar kendalinya. Sejak pertemuannya dengan Hinata tadi hingga saat dia berhasil diajak pindah ke apartemen mewah Sasuke, laki-laki itu tak henti-hentinya mendengus sebal. Oh lihatlah, bahkan ia mulai mengkerutkan kening dan menaikkan sebelah alisnya. Sebagai gantinya Mikoto mendelik menghadapi putranya.

"Kau aman disini Hinata sayang. Tak ada yang akan menyakitimu disini. Termasuk serigala perjaka satu ini."

Sasuke semakin sebal dengan tingkah ibunya. Serigala perjaka ? Hanya karna ia tak memiliki kekasih bukan berarti dia masih perjaka kan? Hell no !

"Apa ibu yakin meninggalkan ia bersamaku ? Bisa saja serigala perjaka ini menyerang wanita gila itu", tanya Sasuke sinis.

"Bukankah itu bagus ?. Akan kunikahkan kalian berdua. Ah aku mau saja memiliki menantu secantik ini "

Gulp

Ancaman Mikoto sukses membuat Sasuke mati kutu. Susah payah Sasuke menelan ludahnya. Tidak. Ia tidak mau punya istri gila. Bagaimana keturunannya nanti?. Bisa-bisa anaknya punya kelainan jiwa seperti wanita ini.

Mikoto menarik tangan Sasuke ke ujung ruangan putih itu.

"Percayalah Sasuke. Hinata tidak gila. Jiwanya hanya terguncang. Kau tau bahwa seluruh keluarganya dibunuh didepan matanya. Dia tak punya siapapun lagi sekarang. Dia saksi mata satu-satunya yang tersisa"

"Baiklah, aku akan berusaha menjaga dia, kaasan"

.

.

.

.

Paradigma itu muncul dipikirannya. Apa? Mengapa? Bagaimana ? Seluruh pertanyaan itu berputar dikepalanya. Apa kesalahan yang diperbuatnya ? Mengapa mereka tega menyiksa ia dan keluarganya ? Bagaimana bisa mereka sekejam itu padanya ? Bukan salahnya menjadi tidak sempurna. Bukan salahnya terlahir seperti ini. Kenyataan itu berulang kali menamparnya. Kejadian-kejadian itu berputar kembali bagai kaset rusak. Setiap malam ia melihat langit berharap ini adalah mimpi dan ketika ia terbangun segalanya akan kembali ke tempatnya. Mereka menghancurkan setiap harapan yang ia rajut dari dulu. Sumpah itu pun terucap. Mereka dan seluruh keturunannya akan hilang dari permukaan bumi. Apapun caranya !

"khhhh, aku benci kalian "

Sebuah foto digenggamnya. Foto seorang wanita muda berambut gelap.

" Hikari... Hikari... aku mencintaimu... hahaha"

.

.

.

.

"AAAAAA.."

Hinata menjerit di tengah malam. Mimpi itu kembali menghantuinya. Tousan ? Hanabi-chan ? Neji-niisan ? Semuanya terasa bagai mimpi. Bagai mimpi buruk untuk wanita muda itu. Dihadapannya para penjaga itu dilumpuhkan. Dihadapannya pula ayah, kakak, dan adiknya dibunuh. Lelaki itu sungguh cepat. Melesat bagai kilat. Tapi entah mengapa melihat Hinata matanya membola. Ia bahkan membuang katananya dan melesat pergi. Hinata tidak yakin. Bahkan ia tak mau percaya bahwa orang itu telah membunuh keluarganya. Tidak ada darah. Namun nyawa-nyawa itu meregang didepannya. Tidak. Lihat bahkan Neji tergantung di sana seolah-olah mati karna bunuh diri. Lidahnya terjulur keluar. Bagaimana bisa ?

" Ada apa denganmu ? Berteriak tengah malam? Mau mencari perhatian ? heh"

Sasuke berdiri sambil menyandar di pintu. Maaf saja. Ia berada diwilayah kekuasaan Uchiha Sasuke.

" Aku tidak peduli dengan pembelaan ibuku padamu. Tapi ingat kau ada di apartemenku. Dan kau harus mengikuti perintahku. Mengerti ?"

Hinata hanya diam tak berkutik. Ia anggukan kepalanya pelan.

Blamm

To be continued...