Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Dirakimra17
Edited © UchiHaruno Misaki
.
[U. Sasuke x H. Sakura]
Warn : Lemon inside!
Bab 2
.
[Normal]
Sakura masih terdiam kaku ketika mendengar Naruto melanjutkan kalimatnya. "Tadi, kalian pasti hampir melakukannya, bukan? Dan dia berhenti?" tebakan Naruto berhasil membuat darah Sakura mendidih.
Menghembuskan napas pelan, Sakura pun menatap Naruto kosong. "Ada apa dengannya?"
"Sasuke selalu menyakiti wanita-wanita yang dia tiduri, itulah yang membuatnya puas. Dia selalu mencoba berhenti, tapi saat nafsunya memuncak, perlakuan kasar yang dilakukan tubuhnya semakin liar tanpa bisa dikendalikan oleh akal sehatnya. Karena itu, setiap wanita yang tidur dengannya pasti babak belur."
"Apa? Selalu? wanita-wanita?" Sakura menggeleng tak percaya.
"Selama ini Sasuke menahannya," Naruto membuang pandangannya keluar jendela sebelum melanjutkan ucapannya. "Menahan hasratnya padamu." Lirih Naruto pelan.
Sakura menundukan kepalanya lemah. "Jadi …"
"Jadi itu alasan kenapa Sasuke tidak menyentuhmu sampai hampir satu tahun. Malam ini, aku rasa godaan terlalu besar untuknya. Kalau tidak, aku yakin dia bisa bertahan lebih lama lagi." Ujar Naruto seraya tersenyum miris.
"Ya Tuhan! Apa ini?" Sakura meremas tangan yang ada di pangkuannya gusar.
"Kini kau sudah tahu semuanya, maka sekarang berpikirlah baik-baik dan tenang, jangan memakai emosi. Jangan menangis. Sssttt … hapus air matamu." Tiba-tiba jari Naruto mengusap air mata di pipi Sakura dan membuat Sakura sedikit terkejut dengan skinship yang Naruto lakukan malam ini. Tapi Sakura hanya diam, ia tidak bisa menolak sentuhan lembut Naruto di pipinya.
"Naruto-san … nyanyikan aku sebuah lagu."
"Hm?" Naruto sedikit terkejut dengan permintaan Sakura. "Lagu apa?"
"Yang biasa kau putar. The one I love-KRY lagu asal Korea." Ujar Sakura singkat.
"Eonjebutheo yeottneunji ijeosseoyo … naega wae ireoneunji, nan moreujyo …" Naruto melantunkan lagu itu nada per-nada. Suaranya membuat Sakura merasa sedikit damai. Sakura menyandarkan kepalanya di kaca mobil seraya memandang ke depan dengan tatapan sendu.
Hm, setidaknya sekarang Sakura tahu apa yang terjadi antara dirinya dengan Sasuke. Pertanyaan yang selalu memenuhi otaknya selama hampir satu tahun, terjawab sudah. Rasanya seperti menemukan harta karun yang sudah lama Sakura cari. Tapi harta itu bukan berupa emas berlian, hanya sebuah batu yang membuat hatinya bertambah sesak.
Sakura menerawang jauh dengan pikirannya sendiri. Bahkan sampai Sakura sadar suara Naruto sudah berhenti.
"Haah ..." Sakura menghembuskan napas dalam dan menoleh kearah Naruto dengan tatapan hampa.
"Jangan terlalu dipikirkan. Kau masih harus fokus pada Sekolahmu." kata Naruto lembut. Setelah tadi dia menggenggam tangan Sakura dan mengusap air mata di pipi gadis musim semi itu, kini pria blonde itu mengusap puncak kepala Sakura lembut.
"Kenapa malam ini kau banyak sekali menyentuhku?" tanya Sakura sarkastik.
"Karena kau duduk di depan." Jawab Naruto enteng.
"Apa hubungannya?" tanya Sakura heran.
"Saat kau duduk di belakang, maka aku akan memperlakukanmu sebagai Istri Uchiha Sasuke—Nona muda. Tapi saat kau duduk di depan, aku melihatmu sebagai Adik Sabaku Gaara. Itu berarti kau juga Adikku." jawab Naruto ringan seraya terkekeh.
"Ck. Pintar membuat alasan. Apa kau tidak takut kalau aku akan mengadu pada Sasuke—Suamiku?" ujar Sakura datar.
"Takut apa? Memegang tanganmu seperti ini? Menyentuh pipimu seperti ini? Atau mengusap rambutmu seperti ini?" Naruto mengucapkan kalimat itu dengan santai disertai praktek langsung pada tangan, pipi, dan rambut Sakura.
"YA! Hentikan!" teriak Sakura kesal.
"Hahaha … aku tidak takut. Aku masih bisa melakukannya bahkan saat Sasuke melihatnya." Ujar Naruto seraya mengerling ke arah belakang mobil melalui kaca dashboard-nya.
Sakura mengerenyitkan kedua alisnya heran. "Apa?"
Naruto menyeringai tipis seraya menatap ke depan dengan tatapan jenaka. "Jangan menoleh! Sasuke sedang melihat kita dari belakang. Mobilnya berhenti tepat di belakang kita."
Sakura sedikit membelalakan matanya. "Eh? Tapi kenapa dia—"
"Karena dia menghawatirkanmu. Mana mungkin dia membiarkan saja Istri yang nyaris diperkosanya pulang tanpa ia buntuti?"
Blush!
"Uzumaki Naruto!"
"Hahahaha … lucu sekali! Suami memperkosa istrinya sendiri. Ah sudahlah, kita jalan kembali." Ujar Naruto tersenyum lebar seraya kembali menjalankan mobilnya dan tentunya mobil Sasuke pun ikut berjalan mengikuti mobil yang Naruto kendarai.
Sakura hanya diam dengan perasaan campur aduk. Sasuke ... dia mengkhawatirkanku? Benarkah? Setidaknya hal itulah yang berada di dalam benak Sang Nyonya Muda Uchiha di sepanjang perjalanan pulangnya.
.
.
.
.
.
Sudah satu minggu lamanya Sakura tidak melihat Sasuke, selama itu pula Sakura tak menerima sedikit pun kabar dari Suami raven-nya. Ya, karena Sakura memang sengaja tidak menghidupkan ponselnya sejak malam kejadian di mana Sasuke Sang Suami hendak memperkosanya. Lagipula Sakura bukanlah sejenis manusia Nomophobia yang tak bisa hidup tanpa ponsel di setiap harinya.
Naruto pernah beberapa kali menyampaikan pesan dari Sasuke agar Sakura menemuinya, tapi Sakura selalu menolak. Lagipula mungkin saja Sasuke sedang sibuk sekarang, Sakura tidak ingin bertemu dengan Sasuke jika pertemuan mereka akan berakhir dengan sebuah pertengkaran.
Dan lagi Sasuke juga tidak pernah muncul di hadapan Sakura, jika memang pria itu ingin bertemu dengannya seharusnya pria itu yang datang langsung menemuinya bukan? Mengapa harus menyuruh Naruto? Atau mungkin pria itu memang sudah tidak peduli lagi padanya, karena biasanya jika Sakura tidak memenuhi panggilannya, Sasuke pasti akan menjemputnya di Sekolah atau menemuinya di rumah. Ya, setidaknya itulah yang berada di benak Sakura saat ini.
'Baiklah, jangan pikirkan tentang Sasuke pantat ayam! Sejak kapan dia peduli padaku? Aku juga sudah sekuat tenaga untuk melupakannya.' batinnya penuh dendam, tapi ...
Argggh! Shannaro!
'Tapi tidak bisa! Apalagi sejak kejadian malam itu. aku merasa seperti setiap detik tidak bisa terlewati tanpa memikirkannya. Kalau aku bertemu dia, bagaimana sikapku padanya? Napasku terasa sangat sesak jika memikirkan masalah ini.' Batinnya -lagi- frustasi.
Masalah ini?
Kenapa gadis musim semi itu justru sibuk memikirkan masalah ini? Kenapa ia tidak menelpon Naruto saja dan mengomel padanya karena tidak kunjung datang. Hm, jam Sekolahnya sudah selesai 1 jam yang lalu. Tapi Naruto tidak kunjung datang.
"Kemana dia?" Gumam Sakura setengah kesal.
Meronggoh saku blazer-nya, Sakura pun menyalakan ponselnya yang seminggu ini ia matikan dan jari lentik milik gadis berhelaian soft pink sepinggang itu langsung menari dengan lincah di atas layar ponselnya untuk mencari kontak supir tampan nan menyebalkannya itu.
Klik!
Sakura menekan touch-screen hijau layar ponselnya ketika menemukan sebuah kontak bernama 'Supir Mahal'.
"Kau ada di mana Naruto-san? Ini sudah satu jam aku menunggumu."
'Aku sedang di bengkel, Nona. Tadi tiba-tiba saja mobil mogok. Tunggu sebentar, dattebayo?'
"Apa? Sampai kapan?" teriak Sakura kesal ketika mendengar sahutan dari supir pribadinya itu.
'Entahlah, takut jika aku lama coba kau cari Presdir saja!'
Sakura mengerenyitkan dahinya bingung. "Cari Presdir? Sasuke maksudmu?" tanya Sakura ragu.
'Hm. Coba lihat sekelilingmu! Kalau kau menemukan mobil Presdir Uchiha, kauminta diantar pulang saja padanya!'
Sakura mendengus kesal. "Kalau menemukan? Kau kira aku sedang bermain petak umpet? Berapa besar kemungkinan dia lewat di depan Sekolahku, baka?" Oh sepertinya kini Sakura sudah sangat kesal dengan supir pribadinya itu.
'Cari saja! Sudah seminggu ini dia selalu ke Sekolahmu untuk melihatmu dan mana mungkin dia bersembunyi.'
"Heh?" Sakura terbengong dengan ucapan Naruto. Sasuke? Selalu melihatnya? Selama satu minggu ini?
"..." Sakura terdiam cukup lama. Bukan mencari, tapi sedang berpikir.
'Kau sudah menemukannya?'
"Tidak! Aku tidak mau mencarinya. Pokoknya cepat jemput aku Naruto-san! Apa kau dibayar puluhan juta yen per-bulan hanya untuk membuat aku menunggu, hah?" Sakura kembali berteriak kesal pada supir tak bersalahnya itu.
'Hah benar-benar! Pasti Presdir sialan itu memberitahumu berapa gajiku. Baiklah! Aku akan menjemputmu dengan taksi, tunggu di sana!'
"Baka! Tentu saja di sini, memang kaupikir di mana lagi?"
Klik!
Setelah mengatakan itu Sakura mematikan sambungan teleponnya dengan kesal. Ya, kesal dengan Supir super mahal itu.
Tapi, apa tadi kata pria berprofesi sebagai supirnya tadi? Sasuke ada di sini? Untuk apa? Melihatnya? Tapi kenapa dia tidak datang padaku seperti biasanya?
'Aku ingin sekali menoleh untuk mencari keberadaannya. Tapi harga diriku menolak melakukan itu. Haah ... biarkan saja, jika dia peduli padaku, dia pasti datang menghampiriku.' Pikir Sakura tak acuh.
.
[Sakura]
"Hei ... Nona manis." Aku menoleh ketika mendengar suara teriakan Naruto, dan pria itu sukses membuatku terbengong ria ketika melihatnya keluar dari taksi.
Kini Naruto sudah berdiri tepat di depanku, dan aku mengerutkan keningku bingung. "Kenapa cepat sekali kau sampai?" tanyaku heran.
Kulihat Naruto mengedikan kedua bahunya tak acuh. "Bengkel mobilnya tidak jauh dari sini. Kalau tuan putri ini tidak meneriakiku tadi, mungkin aku lebih memilih jalan kaki kemari."
Aku menatap pria cerdas tapi bodoh di depanku ini tajam. "Che, lalu kenapa kau biarkan taksinya pergi? Sekarang kita naik apa? Katanya lulusan terbaik, tapi kenapa kau bodoh sekali hah?!" aku berteriak lagi padanya.
Naruto menutup kedua telinganya sambil meringis. "Hey, hey, hey! Kenapa Nonaku ini berisik sekali? Kita naik itu saja." Jawab Naruto enteng seraya menunjuk ke belakangku.
"Hmm? Itu?" aku menelusuri arah yang ditunjuk oleh tangan Naruto.
HEEEEH?!
Aku menatap horor sesuatu yang Naruto tunjukan padaku. Ya, sedikit jauh di belakangku, lebih tepatnya di bawah pohon rindang, mobil putih Sasuke terparkir sempurna di sana.
"Apa kau tidak melihatnya? Ayo!" tiba–tiba Naruto menarik tanganku dan memaksaku berjalan ke arah mobil itu bahkan sebelum aku mengeluarkan protesku.
"Hey! Kenapa harus naik itu? kita naik taksi saja ya?" bujukku memelas.
"..." Sial! Naruto tidak menggubris bujukanku sama sekali! Menyebalkan.
Tap!
Oke, aku mulai panik sekarang. Bagaimana tidak? Kini aku dan supir bodohku ini telah berdiri tepat di samping mobil Suamiku! Ah tidak! Lebih tepatnya adalah; Suami yang sedang berperang dingin denganku.
Tok, tok, tok!
Naruto mengetuk jendela mobil Sasuke pelan, dan kulihat Sasuke menurunkan kaca jendelanya tanpa menoleh. Cih, dasar angkuh. Oh damn! Lihatlah penampilannya—dia memakai kacamata hitam yang membuatnya sangat … sialan tampan.
"Maaf Tuan, izinkan kami menumpang mobil anda. Kami adalah orang–orang yang tidak mempunyai mobil dan anda tahu? Nonaku ini harus sampai dengan selamat di rumahnya, jika tidak atasanku akan mencincangku di api yang berkobar. Tenang saja, rumah Nona ini tidak terlalu jauh dari sini." Ujar Naruto sopan pada Sasuke seolah mereka adalah orang asing yang tak saling mengenal. Cih, apa-apaan supir bodoh itu? Menyebalkan.
"Hn." Sahut pria batu itu datar, setelah itu kulihat dia menutup kaca mobilnya dan sejurus kemudian pintu mobilnya terbuka, bersamaan dengan itu, Naruto langsung menarikku ke sisi mobil yang lain dan membukakan pintu belakang untukku.
Aku lihat Sasuke sudah duduk di bangku belakang—tepat di sampingku. Sejujurnya aku sangat enggan sekali untuk memasuki mobil itu, tapi Naruto memaksaku masuk sampai kepalaku terbentur pintu.
Duk!
"Awh—hey! Sialan kau Naruto!" desisku pelan dan tertahan.
.
Brug!
Naruto sudah duduk di kursi kemudi dan mulai menyalakan mesin mobil. Dia mulai melaju dengan kecepatan yang tidak biasa. Ini bukan mobil aku rasa, tapi siput! Kenapa pelan sekali? Dan pria yang duduk di sampingku ini hanya diam. Dia memandang lurus ke depan sesekali menoleh ke arah jendela di sampingnya, bibirnya terkatup rapat. Aku tidak bisa melihat tatapan matanya karena ia tidak melepas kacamata hitamnya.
Aku memerhatikan pria ini dari ekor mataku diam–diam. Dia ... sedikit kurus, rambut raven-nya juga sudah memanjang dari terakhir aku melihatnya. Poni-poninya pun memanjang sehingga ada yang menghalangi sedikit matanya, sedikit berantakan. Dan jangan lupakan bulu–bulu halus yang mulai tumbuh di dagunya. Oh Tuhan, semua kekacauan itu bahkan tidak membuat kadar ketampanannya menurun. Sialan kau Tuan Uchiha!
Duduk di sampingnya dalam keadaan seperti ini benar–benar membuat aku merinding. Apakah iblis ini terbuat dari es? Kenapa dingin sekali saat berdekatan dengannya? Auranya benar-benar mencekam. Haah ... dan detik berikutnya aku memutar bola mataku bosan.
5 menit,
.
.
10 menit,
.
.
30 menit …
—dan aku merasakan sesuatu yang janggal. Yaks gila! Aku segera melepas sepatu sebelah kananku dan kulempar tepat ke arah Naruto.
Buak!
"Ya! Naruto cepatlah! Kau ini kenapa lambat sekali sih? Cepat antarkan aku pulang!" kalian tahu kenapa aku berteriak? Aku yakin Naruto tahu kecanggungan antara aku dengan Sasuke. Tapi Naruto justru sengaja membuat kami berada dalam posisi ini terlalu lama. Sedari tadi, dia hanya berputar–putar di kawasan perumahan.
"Oi! Apa ini Nona?" Teriak Naruto melihat sepatuku yang ada di pangkuannya. "Direktur, lihat! Nyonyamu ini melempar sepatu ke arahku. Bukankah itu tidak baik, dattebayo?" Naruto mengadu pada Sasuke.
Kulihat Sasuke melirik Naruto sekilas. "Hn, jika dia tidak melakukannya, maka aku yang akan melakukannya. Gajimu bulan ini aku potong 50%." jawab Sasuke dingin.
Ckiiiiiit!
Naruto mengerem mobil mendadak. "Apa? yang benar saja? 50% hanya karena ini? Kau jahat sekali Teme." Protes Naruto tak terima, ck bodoh.
"Hn, hanya? Apa kau tahu kau sudah membuat aku terlambat meeting baka-Dobe? Kalau proyek ini gagal, kau membuatku rugi milyaran dollar." Jawab Sasuke tenang seakan uang itu hanya lembaran daun yang tidak berarti. Dasar pria batu!
Kutatap wajah supir mahalku itu dengan tatapan mengejek. "Walaupun dipotong 50%, itu tidak akan membuatmu mati kelaparan, bukan? puluhan juta yen satu bulan belum cukup untuk makan? Kau makan nasi atau emas?" Desisku pelan.
"Aku mendengarnya, Nona!" Naruto berseru horor.
"Oupss!" Aku menutup mulutku tak acuh.
"Kalian ini! Sepasang suami istri, sama–sama kaya, Tuan dan Nona besar tapi pelit sekali dattebayo. Sangat serasi sampai membuatku terharu dan ingin mengeluarkan air mata!" Kudengar Naruto terus menggerutu kesal seraya kembali melajukan mobilnya. Che, siapa yang peduli? Dasar supir tak tahu diuntung.
.
Sampai di rumah, Naruto langsung keluar dari mobil dan melenggang pergi. Ya! Apa dia lupa bagaimana caranya membukakan pintu mobil untukku? Ya, ya, ya! Apa Naruto yang berumur lebih dari 28 tahun itu seperti ini kalau sedang merajuk? Dasar kekanakan, menyebalkan.
Sasuke langsung keluar dari mobil dan berjalan mendekati pintu mobil yang ada di sampingku. Dengan gerakan angkuh, dia membuka pintu itu. Aku mendengus sebal sambil keluar perlahan. Aku harus bilang apa? Ah, jangan anggap aku bodoh karena tidak tahu harus mengatakan apa pada orang yang membantuku. Tapi dengan orang ini, aku sama sekali tidak ingin mengucapkan kalimat itu. Tidak akan.
"Hn, tidak perlu berterima kasih jika kau tak ingin mengucapkannya." Setelah mengatakan itu, kulihat Sasuke langsung berlalu meninggalkanku dan melaju dengan mobilnya. Ck, apa-apaan itu? Bahkan saat aku belum bergeser sedikit pun dari tempat aku berdiri, ia berlalu begitu saja dengan congkaknya? Dasar Suami menyebalkan. Pada akhirnya kembali akulah yang dibuat diam tak berkata–kata oleh pria yang berstatus sebagai Suamiku itu.
.
.
.
.
.
Kutatap langit dari jendela kamarku yang terbuka lebar. Hm, sore hari yang sangat cerah, tiba–tiba ada keinginan yang muncul di kepalaku untuk menghabiskan sore hari ini dengan jalan–jalan ke sungai Shinano. Maka aku pun keluar dari kamarku dan bergegas mencari si supir tampan berkulit tan yang bergaji besar itu. Aku berjalan ke halaman depan, tapi sejauh mata memandang, sama sekali tidak nampak pemuda itu. Aku memutar langkahku ke halaman belakang dan—
FANTASTIC! IT'S MAKE ME FEEL SO SHANNARO!
Mataku sukses terbelalak lebar ketika melihat pemandangan yang tersaji di depanku. Pria itu, orang itu, benar! Supir itu! Dia tengah mengapung di kolam renang menggunakan perahu karet, ber-topless ria dengan bawahan celana pendek, tak lupa pria berkumis kucing itu memakai kaca mata hitam dengan jus jeruk di tangan kirinya. Dan apa ini? Semakin aku mendekatinya, aroma Sun Block semakin menyeruak di indra penciumanku. Belum lagi suara musik yang lumayan mendayu-dayu. Dia … apa dia gila? Gayanya sok sekali.
Kuhampiri dia dengan langkah tegas, aku mulai menghirup napas sejenak dan—"YAK! NARUTOOOOOO!" aku pun berteriak nyaring. "APA YANG KAULAKUKAAAANNN SUPIR BAKA?!"
Naruto tampak menggeliatkan tubuhnya. Membuka kacamatanya dan memarkirkannya di atas kepala, dia melirikku lalu menyeruput jus jeruknya santai. Melihat itu aku langsung melemparinya dengan buah–buahan yang berada tidak jauh dari tempatku berdiri.
Buk! Buak! Buk!
"Oi! Hentikan! Apa salahku, dattebayo?" teriak Naruto yang kepalanya sudah beberapa kali terkena apel yang aku lempar.
Kutatap supir tak tahu diuntung itu nyalang. "Apa salahmu? Apa ini juga sebagian dari pekerjaanmu, hah? Bersantai di kolam renang milik majikanmu?" aku menggeram menghadapi pria idiot ini.
"Ck! Hanya bersantai sebentar Nona …" Naruto menepikan perahunya. "Ada apa?" tanyanya setelah ia sampai di daratan teras.
Kuhela napasku sejenak. "Hm, antar aku jalan–jalan. Aku sedang bosan." aku mulai memelankan suaraku.
"Baiklah, sekarang ... ganti bajumu! Setelah itu kita pergi." Perintah Naruto. Apa ini? Apa sekarang dia mulai berani memerintahku? Sebenarnya siapa majikan dan siapa bawahan di sini? Kurang ajar sekali pria ini.
.
Naruto mengantarku ke sungai Shinano. Pemandangan sore hari ini memang sangat indah, hm tak salah aku memilih untuk menghabiskan waktuku di sungai ini.
Aku duduk di sebuah bangku di tepi sungai dan Naruto duduk di sampingku, kulihat dia menatap kosong pemandangan yang ada di depan sana.
"Apa kau tidak punya Kekasih?" tanyaku tanpa melihat Naruto.
"Hm ... ada." Sahutnya singkat.
Aku menatapnya penuh minat. "Benarkah? Kenapa aku tidak pernah melihatmu pergi kencan?"
"Dia tidak di sini, kami jarang sekali bertemu." Naruto menggeser posisi duduknya sedikit mendekat padaku dan kedua manik sapphire-nya menatapku dalam. "Apa kau tidak pernah berpikir untuk menghabiskan saat–saat seperti ini bersama Direktur?" tanyanya serius.
Aku mendengus remeh ketika mendengar pertanyaannya. "Apa pria congkak itu punya waktu untuk ini? Bukankah dia lebih mencintai pekerjaannya? Aku bahkan rela kalau dia menikah lagi dengan gedung kantornya yang berlantai 25 itu." Ujarku sarkastik.
"Hahaha ... kau ini. Ah sudahlah! Jangan bicarakan dia lagi, aku malas membahas orang itu, dattebayo." Naruto manyun.
"..." aku hanya diam seraya tersenyum tipis.
"Gila! Apa yang akan dia lakukan dengan 50% gajiku." Kali ini Naruto sedikit berbisik, namun aku masih bisa mendengarnya. Heh? Jadi Supir mahalku ini masih tak rela gajinya dipotong? Dasar, aku tertawa kecil melihat sikap kekanak-kanakan Supirku itu. Haah ... Supir ini memang unik.
.
Jam 7 malam, aku dan Naruto meninggalkan sungai Shinano untuk pulang. Aku meminta Naruto untuk mengantarkan aku pulang karena aku sangat ingin istirahat.
Dalam perjalanan saat mobil kami berhenti karena lampu merah di jalan dekat sebuah gedung perbelanjaan, ada sesuatu yang membuatku membelalakkan kedua mata.
"Ibu …" lirihku. Naruto menoleh ke arahku dan mencari objek yang aku lihat. Aku tahu Naruto panik dan khawatir dengan keadaanku yang melihat hal bodoh itu.
Diiiiiinnnnnnnnnnn!
Naruto menekan klakson kencang, agar mobil di depan kami bergerak. Beberapa kali Naruto mengeluarkan sumpah serapahnya, dia terlihat emosi saat melihat Ibuku sedang 'berbagi kasih' dengan seorang pria yang usianya tidak jauh berbeda denganku.
"Nona, kau tak apa? Nona … jangan menangis, hmmm?" Naruto berusaha menenangkanku saat mobil kami sudah berlalu dari pemandangan buruk di mataku, dan aku hanya menangis dalam diam. Ini sungguh menyakitkan.
.
Hasil dari injakan gas Naruto yang gila–gilaan adalah kami tiba di rumah lebih cepat. Naruto membukakan pintu mobil untukku. Sedangkan aku masih diam di tempatku sambil sesenggukan. Naruto mengusap kepalaku perlahan mencoba untuk menenangkanku dan itu mujarab karena aku sedikit merasa tenang sekarang.
"Naruto-san ... sudah malam. Kau pulang saja, aku tidak akan pergi kemana pun." Ucapku saat beranjak dari mobil.
Kulihat Naruto menatapku ragu, tapi aku meyakinkannya bahwa aku sungguh tidak apa-apa. Dan akhirnya Naruto pun mengangguk mematuhi perintahku.
Mobil Naruto sudah berlalu saat aku berada di depan pintu. Baru saja aku ingin melangkah masuk, tiba–tiba saja ada seberkas cahaya lampu yang menyilaukan mata, sebuah mobil baru datang. Aku langsung menarik langkahku dan bersembunyi di balik pilar teras rumah.
Eh? Itu mobil Ayah? Aku bahkan tidak tahu kalau Ayah sudah ada di Jepang.
Seseorang turun dari mobil, tapi tunggu! Mataku terbelalak lebar ketika melihat seseorang yang turun dari mobil itu bukan Ayah, melainkan sebuah kaki jenjang yang mulus dan berhias high heels merah. Tidak mungkin Ayah bukan? lalu siapa? Seorang wanita cantik berpakaian seksi itu kini memapah pria paruh baya yang begitu kukenal, pria yang sedari kecil selalu aku banggakan, pria yang selalu aku anggap pahlawan, pria itu—Ayah kandungku, dia dalam keadaan mabuk dan dipapah oleh seorang yang kuyakini adalah salah satu wanita jalang koleksi ... Ayahku.
Aku sudah tidak tahu lagi sejak kapan air mataku jatuh. Bahkan aku saja terlambat untuk menyadari betapa basahnya pipiku sekarang. Setelah Ayah dan wanita itu masuk rumah, aku melangkahkan kakiku keluar rumah dengan gontai. Aku tidak membawa ponsel, tidak mungkin aku menghubungi Naruto dan saat ini, aku memang hanya memikirkan satu orang yang bisa aku tuju.
.
.
.
.
.
Tap!
Kini aku telah berdiri kaku tepat di depan sebuah rumah mewah berwarna putih. Aku kemari dengan taksi yang aku bayar dengan jam tangan mahal pemberian Ibu, karena memang aku tidak membawa tas atau dompet. Rumah yang ada di depanku ini sepi dan gelap. Aku tahu, Sasuke pasti belum pulang. Dia memang tidak pernah mempunyai satu pun pembantu di rumahnya.
Sial.
Belum lama aku menunggu, penderitaanku sudah bertambah—hujan turun deras mengguyur seluruh tubuhku. Aku lebih memilih berdiri di bawah lampu jalan, aku memang kehujanan, tapi ini lebih baik dari pada aku menunggu di teras rumah Sasuke yang gelap.
Selain benci dingin, aku lebih benci pada gelap.
.
Aku masih menunggu.
Setelah sekian lama aku menunggu, akhirnya sebuah mobil dengan lampu yang terang mendekatiku, aku tahu itu adalah mobil Sasuke. Mungkin Sasuke melihatku, karena sekarang mobil itu berhenti tepat di depanku dan Sasuke keluar dari dalam mobilnya lalu berlari ke arahku.
Bruk!
Dia memelukku, mendekap hangat tubuhku yang sudah menggigil.
"Apa yang terjadi?" tanya Sasuke di sela–sela kesibukannya menghangatkan tubuhku dalam pelukannya.
"Ayah, Ibu, apakah mereka … masih pantas di sebut sebagai manusia—?" isakku lirih di dalam pelukannya, rasanya sangat nyaman menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Dada bidang milik pria yang tengah mendekapku di bawah guyuran hujan, dia Uchiha Sasuke—Suami yang entah mencintaiku atau tidak. Miris.
Sasuke membawaku masuk ke dalam rumahnya. Setelah menyalakan semua lampu, Sasuke menuntunku ke kamarnya. Ia menuju lemari dan membawa sebuah kemeja putih besar, tentu saja itu adalah kemejanya. Walaupun aku pernah tinggal di sini, tapi dulu saat aku pergi aku membawa semua barang–barangku. Tidak menyisakan apapun sehingga saat ini tidak ada pakaian yang bisa kupakai selain pakaian Sasuke tentunya.
"Pakailah ini. Ganti bajumu! Aku akan memarkirkan mobil dan akan segera kembali." Perintah Sasuke datar namun pelan.
Aku mengganti pakaianku, dan sial! Pakaianku basah semua sampai pakaian dalamku pun basah, aku pasti akan sakit kalau masih memakainya. Dengan sedikit berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk memakai kemeja Sasuke tanpa memakai pakaian dalamku yang sudah basah.
Selesai.
Nah bagaimana sekarang? Aku ingin keluar, tapi aku tak yakin keluar dari kamar mandi hanya dengan penampilan seperti ini. Dan lagi aku yakin Sasuke sudah kembali karena kini aku dapat mendengar dengan jelas langkah kakinya di luar sana.
"Sasuke-san—?" panggilku pelan dari dalam kamar mandi. Aku mendengar langkah kaki Sasuke melangkah mendekat ke arahku.
"Hn?" sahutnya setelah tepat di depan pintu kamar mandi yang masih aku tutup rapat.
"Pakaianku … seluruhnya basah. Apa aku boleh keluar hanya dengan seperti ini?" ujarku sedikit ragu.
"Hn, keluarlah." Jawab Sasuke singkat. Menghirup udara sejenak, maka aku pun mulai memutar knop pintu dan—
Cklek!
Tap!
Aku keluar dari kamar mandi, saat ini keadaanku mungkin sangat menggoda. Bagaimana tidak? Bayangkan, aku hanya memakai sehelai kemeja putih tipis milik Sasuke yang menjuntai jauh di atas lutut tanpa memakai pakaian dalam sama sekali—membuat dada polosku tercetak jelas. Aku menghalangi pandangan Sasuke pada bagian paling penting dengan menumpuk kedua telapak tanganku tepat di depan pangkal paha dan dadaku.
Sasuke melihatku lekat, lebih tepatnya melihat tubuhku yang mungkin bisa diterawang tembus pandang dengan mata telanjang. Sungguh ... aku malu.
"Jangan lihat!" aku menunduk. Tanpa menjawab, Sasuke langsung menarikku ke tempat tidur. Ia membaringkanku dan menyelimuti tubuhku.
"Hn, tidurlah! Kau pasti lelah. Aku akan tidur di sofa ruang tengah." Sasuke berdiri tegak, memandangku sejenak dan melangkah keluar kamar.
.
Jam 1 malam aku masih belum juga bisa tidur, aku yakin si pantat ayam itu pasti sudah terlelap. Aku bangun dari ranjang dan melangkah keluar kamar. Aku berjalan menuju ruang tengah dan benar saja, Direktur congkak nan angkuh itu sudah terlelap. Dia berbaring di sofa, tangan kanannya ia jadikan bantal kepalanya, sedangkan tangan kirinya ia masukkan kedalam saku celana. Lihat! Bahkan saat tidur saja ia masih terlihat sangat tampan dan bergaya. Dasar Uchiha! Aku tersenyum kecil melihat itu, lalu melangkah perlahan menghampirinya.
Kini aku sudah berdiri tepat di sampingnya. Aku meringsut di lantai dan mensejajarkan wajah kami. Aku mengamati wajah tampan yang ada di hadapanku. Ini adalah salah satu anugrah terindah yang bisa aku nikmati saat ini. Setelah lama memandangi wajah Sasuke, aku menyandarkan kepalaku di sofa, tepat di samping dadanya.
"Hn, belum tidur?" suara Sasuke tiba–tiba saja mengudara dan tentu saja membuatku sedikit terkejut. Tapi aku menahan diri untuk melihatnya, aku tetap pada posisiku—meletakkan kepalaku di sofa.
"Hm, aku tidak bisa tidur." Jawabku pelan.
"Kenapa?" tanyanya datar.
"Aku—maksudku ... sekarang aku sudah benar-benar sendiri. semua orang telah meninggalkanku, bahkan Ayah dan Ibuku seolah sudah tak peduli lagi padaku." Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. "Ayah terlalu sibuk dengan kesenangannnya sendiri, Ibu juga sibuk dengan dunianya. Gaara-nii sudah menjadi pria dewasa sekarang dengan beban berat di bahunya." Tubuhku mulai bergetar saat Sasuke meletakkan tangan kanannya yang tadi ia jadikan bantal untuk mengelus puncak kepalaku lembut. "Sedangkan kau … aku hanya memilikimu secara hukum. Pernikahan kita hanya memberiku marga Uchiha, tak lebih dari sebuah status tak berarti. Tapi pada kenyataannya … aku memang sudah tidak memiliki siapapun lagi." Aku mulai terisak pilu tanpa mengubah posisi kepalaku.
"..."
Selama aku berbicara, Sasuke sama sekali bergeming. Ia hanya mengelus kepalaku dengan tangan kanannya. Ini memberiku sedikit ketenangan walaupun pada kenyataannya, tidak ada hal yang baik–baik saja, bagiku semua terlalu kacau.
"Hn, bangunlah! Di bawah dingin." Setelah lama akhirnya suara Sasuke terdengar di telingaku.
"Dingin?" aku tersenyum kecut. "Tidak. Sudah sejak lama aku merasakannya. Setiap hari aku merasa kedinginan, apalagi setelah bertemu denganmu. Aku bahkan lupa bagaimana rasa dingin itu. Hanya ada satu waktu, yang membuatku merasa hangat. Terlalu hangat sampai membuatku ketakutan setengah mati." Lirihku pelan.
"..."
Aku mengangkat kepalaku dan menatap mata sekelam malam milik Sasuke dalam. Jujur aku gugup sekali, aku mulai menarik napas dalam sebelum mengatakan hal ini. "Aku merasa hangat saat kau memelukku, dan itu membuatku dihantui rasa takut." Ujarku bergetar dan air mata yang mulai berjatuhan—lagi.
Sasuke menarik tangannya dari kepalaku, lalu ia kembali meletakkannya di bawah kepalanya. "Kenapa?" tanyanya lirih, dan aku bisa melihat dengan jelas kedua pancaran mata onyx yang biasanya terlihat datar dan dingin itu kini terlihat sayu.
Aku menatapnya miris. "Aku takut kalau aku hanya bisa hangat dipelukanmu. Aku takut kalau aku terlalu menyukai kehangatanmu, terlalu takut bergantung padamu. Sementara aku tidak bisa memilikimu. Aku harus bagaimana?" ujarku putus asa.
.
[Normal]
Karena terbawa oleh suasana tanpa sadar Sakura mengeluarkan seluruh isi hatinya. Perasaan yang selama ini tidak dianggapnya, rasa yang selama ini mati–matian dia pendam, pengakuan yang selama ini dia anggap seperti tindakan merendahkan harga dirinya, malam ini dia utarakan seluruhnya pada pria yang ada di depannya. Suaminya—Uchiha Sasuke.
Sasuke bangun dari tidurnya, mendekap wajah Sakura lalu menyatukan bibir mereka. Mengecup bibir Sakura dengan lembut, namun seperti biasa. Kelembutan itu hanya sementara, Sakura sadar dengan apa yang terjadi. Kembali terngiang di kepalanya tentang penjelasan dari Naruto tentang kelainan Sasuke, dan kini Sakura mulai merasakannya. Walaupun ini masih sentuhan awal, tapi Sasuke sudah berhasil membuat Sakura memejamkan matanya rapat-rapat karena menahan sakit.
Sakura merasa cengkeraman tangan Sasuke di tengkuknya terlalu kuat. Belum lagi permainan mulut Sasuke yang tampaknya sudah melukai bibir Sakura—lagi. Sakura hanya meremas kemeja yang dipakainya, menahan tuntutan Sasuke pada dirinya.
'Aku harus bisa menahannya. Aku yakin sudah berpuluh–puluh wanita di luar sana yang merasakan hal ini. Mereka bisa bertahan, kenapa aku tidak?' tekad Sakura dalam hati seraya terus menerima serangan Sasuke.
Sasuke menggedong Sakura menuju kamar Mereka. Setelah sampai di kamar, diturunkannya Sakura bersamaan dengan tubuhnya di ranjang. Sakura sedikit merasa sesak di dadanya saat Sasuke menghempaskannya tubuh beratnya di atas tubuh Sakura, seakan mengerti dengan keadaan gadisnya, Sasuke pun menopang tubuhnya dengan tangan kirinya memberi Sakura sedikit ruang untuk bernapas.
"Mhh, eungh—!" Sakura melenguh sekaligus merintih karena rasa nikmat dan sakit menyerangnya bersamaan.
Sasuke kini tidak lagi menjamahi bibir Sakura, namun sudah memerluas daerah jajahannya sampai ke leher dan dada atas Sakura. Sasuke membuat banyak sekali tanda merah di sana seakan menandai bahwa itu adalah daerah kekuasaannya yang tidak bisa di ganggu gugat maupun dijamah orang lain.
Sasuke mengangkat wajahnya dari dada Sakura, pria itu kini menatap wajahnya—mempertemukan mata mereka. Walaupun Sasuke menatap Sakura intens dan tenang seakan tidak terjadi apa–apa, tapi Sakura tahu apa yang terjadi di bawah sana. Tangan kanan Sasuke sedang sibuk membuka kancing kemejanya dan dalam sekali buka, hawa dingin dari AC langsung menyergap tubuh Sakura yang polos karena tidak mengunakan pakaian dalam.
Sasuke masih menatap Sakura tenang. Manusia macam apa ini? Sasuke masih bisa memasang wajah innocent bahkan saat tangan kirinya merambat ke atas kepala Sakura dan—
Sret!
"Argh—!" Sakura sedikit menjerit ketika rasa perih terasa sangat jelas di kepalanya.
Ya, kini pria itu menjambak rambut Sakura pelan, namun kuat dengan wajah innocent-nya. Sementara tangan kanannya sudah bergerilya di kewanitaan Sakura, bermain di daerah itu seperti mainannya. Sasuke mengalihkan pandangan matanya menuju dada Sakura dan dalam waktu bersamaan, Sasuke menghisap benda kenyal itu lembut, jarinya tengahnya ia masukkan ke dalam kewanitaan Sakura dan mengocoknya brutal, sedangkan tangan kirinya semakin menjambak rambut Sakura lebih kuat.
Sakura yakin pasti ada beberapa helai rambutnya yang rontok di tangan Sasuke. Sakura sendiri bingung harus merasakan sakitnya jambakan Sasuke, nikmatnya hisapan bibir Sasuke pada nipple-nya atau perih yang kini menghujam kewanitaannya karena Sasuke memasukkan jarinya secara tiba–tiba dan kini mengocoknya cepat.
"Mhhhh ... ahh, ahh, ahhs! Sasuhh, mmhhh—!" hanya itu yang mampu Sakura keluarkan dari mulutnya saat Sasuke menyerang titik sensitif-nya.
Hanya beberapa saat kemudian, tubuh Sakura menegang. Seperti ada listrik yang mengalir di tubuhnya, seperti badai kenikmatan yang menerjangnya secara tiba–tiba. Orgasme pertamanya di tangan Sasuke datang, Sakura masih menikmati sisa–sisa kenikmatannya saat Sasuke kini sudah memposisikan wajahnya tepat berhadapan dengan kewanitaan Sakura yang masih mengeluarkan cairan putih kental.
Slurrrrpp!
"Ahh—!"
Sasuke menghisap benda basah yang ada di hadapannya tanpa ampun. Dijilat, dihisap, dikulum bahkan digigitnya. Seperti sekarang, Sasuke menenggelamkan klitoris Sakura dalam mulutnya. Ia menghisap benda sebesar biji jagung itu kuat sampai Sakura mendesah dengan suara un-control. Pada beberapa detik kemudian, Sasuke mengubah hisapan itu dengan gigitan yang sedikit kuat. Membuat desahan Sakura berubah menjadi jeritan, nikmat itu dalam sekejap berubah menjadi rasa sakit.
"Aaaarrrrgggh—mmmhhh!" Sakura yang sadar telah menjerit, kemudian membungkam bibirnya dangan menggigit bibir bawahnya kuat. Ya, ia tak mau menunjukkan rasa sakitnya pada Sasuke atau Sasuke akan berhenti saat itu juga seperti dulu.
Sasuke masih saja menggila dengan nafsunya yang benar–benar memuncak, bahkan mungkin ia tak sadar kalau yang tengah disakitinya itu adalah Sakura atau justru sebaliknya. Sasuke sadar benar wanita yang mengangkang di depan wajahnya adalah Sakura dan Sasuke ingin memuaskan hasratnya. Entahlah.
Kini Sasuke menegakkan tubuhnya, berlutut di antara paha Sakura. Meninggalkan klitoris Sakura yang sudah membengkak karena ulah mulutnya. Sasuke mengangkat kaki kanan Sakura tinggi dan menyampirkannya di bahu kirinya, sedangkan kaki kirinya hanya ia tekuk saja dan posisi Sakura saat ini membuat lubang kewanitaan Sakura terekspos dengan jelas.
Sreeeet!
Sasuke membuka resleting celananya dan mengeluarkan kejantanannya. Ya, sampai Sakura naked, Sasuke masih belum melepas pakaiannya satu pun. Sakura tahu ini adalah waktunya. Ia menghembuskan napasnya dalam dan memejamkan matanya. Mengira–ngira, kapan benda tumpul, berurat dan besar yang tengah digenggam Sasuke itu masuk kedalam tubuhnya.
Melihat Sakura memejamkan matanya, Sasuke mencondongkan tubuhnya dan mencengkeram wajah Sakura kuat dan membuat gadisnya itu meringis kemudian membuka matanya. Sasuke tidak sadar, kukunya yang sudah mulai memanjang menggores pipi mulus Sakura.
"Kenapa tidak melihatku, hn?" tanya Sasuke pelan namun tajam karena pria itu tengah menahan sesuatu. "Sakit?" ujarnya datar.
Sakura menggeleng tegas. "Tidak. Aku bisa menahannya." Jawab Sakura mantap.
"Aku bisa menggila lebih dari ini." Nada suara Sasuke seperti mengancam, namun tatapan matanya seakan mengkhawatirkan keadaan Sakura.
"Aku bisa." Sakura meremas seprai kuat saat ingin melanjutkan kalimatnya, kalimat menyakitkan yang keluar dari mulutnya sendiri. "Beginikah caramu saat kau meniduri wanita–wanita murahanmu itu? Perlakukan aku sama seperti mereka kalau itu memang membuatmu puas." Ujar Sakura seraya menatap Suaminya itu nyalang.
"Kau?" Desis Sasuke tajam nan dingin.
Sakura menyeringai sinis—jika saja Sasuke sedang tak dalam hasrat memuncak, ia pasti sadar bahwa seringaian itu bukanlah seringaian sinis. Tapi seringaian pedih. "Aku istrimu, ingat? Lakukan saja!" ujar Sakura enteng.
"Hn." Sasuke hanya menggumam tidak jelas seraya menarik paksa lengan Sakura ke atas. Mencengkeram lengan mungil itu dengan kasar yang sudah pasti akan meninggalkan jejak di sana.
"Hanya ini? Kau ingin menamparku? Kau ingin memukulku? Kau ingin menyakitiku? Lakukan! Lakukan Uchiha Sasuke! Asal jangan berhenti!" Demi Tuhan saat ini Sakura tengah mati–matian menahan tangisnya. Menahan air mata yang tak boleh dilihat Sasuke, setitik saja air asin itu mengalir, Sakura yakin Sasuke akan berhenti seperti waktu itu.
Sasuke tak merubah ekspresi tenang dan datarnya, hanya saja pria itu sedikit menyunggingkan senyum miris di bibirnya. Sasuke menjauhkan tubuhnya dari Sakura, kembali ke posisi semula, dan kini Sakura melihat dengan jelas Sasuke tengah mengocok kejantanannya sendiri agar siap bertempur.
"Aahh ..."
Sasuke meremas kuat dada kanan Sakura seraya mendorong kejantanannya masuk ke dalam sarang kenikmatan gadis musim semi itu. Spontan, Sakura memejamkan matanya sambil menengadahkan kepalanya ke atas.
PLAK!
Sebuah tamparan kasar melayang tepat di pipi Sakura. Sasuke mencengkeram wajah Sakura lagi agar menatapnya, sementara di bawah sana Sasuke terus berusaha menerobos dinding keperawanan gadis itu.
"Lihat aku!" perintah Sasuke datar namun tajam. Sakura hanya mampu menatap Sasuke seraya sekuat mungkin menahan jeritannya, manik emerald redupnya terlihat sayu dan telah berkaca–kaca.
Slap!
'Arrghhhhh … sakiiiiiitttt … ini sakittt Sasuke! Sungguh.' Jerit Sakura dalam hati, ya hanya dalam hati.
Akhirnya Sasuke berhasil menembusnya. Sesuatu berharga yang memang sudah sah menjadi miliknya sejak setahun lalu. Sasuke mengangkat kepalanya, mengekspos leher putihnya. Ia mendesah pelan saat miliknya sudah merasa dipijat oleh kewanitaan Sakura. Saat Sasuke kembali pada pandangannya yang tertuju pada bagian tubuh mereka yang menyatu, Sasuke mengulurkan tangannya untuk mengusap sesuatu—mengusap darah yang mengalir di selangkangan Sakura. Dan itu menjadi alasan kuat terciptanya senyuman iblis di wajah tampan Sasuke.
Tanpa menunggu lama lagi, Sasuke langsung menghujam tubuh Sakura. Memaju-mundurkan kejantanannya dengan tempo lambat dan stabil, tapi semakin lama semakin cepat. Sakura sendiri juga sudah tidak sadar sejak kapan rasa perih itu menjadi rasa nikmat yang tak terhingga. Walaupun masih ada rasa nyeri yang ia rasakan di sela–sela kenikmatan itu.
"Ahh, ahh—Sasuh! Ohh … ahhhhh …" Sakura mulai mendesah nyaring dan itu mengundang senyum iblis Sasuke untuk muncul kembali. Untuk kesekian kalinya pria itu terlalu bahagia saat ini.
Sasuke terus menghujamkan kejantanannya pada lubang basah Sakura di bawah sana dengan gerakan keras, cepat dan dalam disertai dengan tidakan kasarnya pada wanitanya. Beberapa kali Sasuke memukul, menampar dan menjambak rambut Sakura. Namun Sakura masih berusaha menahannya, walau rasa sakit terkadang mendominasi, tapi Sakura hanya mengeluarkan desahan. Ia tidak berani menjerit atau mengatakan sakit pada Sasuke, ia takut Sasuke berhenti.
Sasuke masih dengan kesenangannya. Semakin lama semakin liar membuat Sakura sudah berkali–kali mendapatkan klimaks dari persetubuhan dengan Sang suami.
Sasuke melepaskan kejantanannya secara tiba–tiba. "Menungginglah Cherry …" perintahnya dengan nada menggoda dan tatapan seduktif.
Sakura hanya menurut, ia membalikkan tubuhnya dibantu Sasuke. Suaminya itu kini mengangkat bokongnya tinggi, membuka lebar paha Sakura dan kembali menghujamkan kejantanan besarnya dari belakang—doggy style. Sasuke mulai menghujam kewanitaan Sakura lagi seraya beberapa kali memukul kedua pipi bokong Sakura keras.
PLAK!
PLAK!
'Arggggh Tuhan sungguh ini sangat sakit ... hikss—!' Di bawah sana Sakura meringis sejadinya. Untung posisi ini membuat Sasuke tidak melihat wajahnya, air mata yang tadi ditahannya meleleh tanpa bisa ditahan lagi. Sakura menggigit kain seprai sebagai pelampiasannya.
Posisi ini, membuat Sasuke bersemangat. Tapi persentase kenikmatan yang dirasakan Sakura sangat kecil, selebihnya adalah rasa sakit. Ini karena ia merasa kejantanan Sasuke menusuk rahimnya kuat. Sasuke terus mempercepat hujamannya tanpa menyadari betapa tersiksanya Sakura menahan hujamannya itu.
Sret!
"Mana suaramu hn?" Sasuke menjambak rambut Sakura kasar tanpa menurunkan kecepatan hujaman pinggulnya.
"Mmhh, ah, ah—ohh! Sasuhhh ..." Sakura serta merta mendesah mengikuti perintah Sasuke. Ia mendesah seolah sangat menikmati, namun sejujurnya bukan rasa nikmatlah yang ia rasakan tapi rasa sakit. Ya, sakit di jiwa dan raganya. Sakura lelah, ia terlalu lelah. Sangat lelah melayani Sasuke berjam–jam seperti ini. Apa Sasuke lupa? Ini yang pertama bagi Sakura.
"Ahh, sebentar lagih ... ughh—!" Sasuke mendesah kuat dan panjang menandakan bahwa ia telah berakhir. Permainannya berakhir.
Sakura bernapas lega karena akhirnya Sasuke berhenti. Ini sudah 4 jam mereka bermain, sebentar lagi pagi akan datang menyambut. Sasuke ambruk menimpa Sakura. Kini mereka dalam keadaan tidur tengkurap dengan posisi Sasuke di atas Sakura dan tubuh mereka masih menyatu. Sakura langsung mengusap air matanya dan meredakan tangis yang sempat ia keluarkan tadi. Jangan sampai Sasuke melihatnya.
Sasuke mengangkat tubuhnya, lalu menutupi tubuh Sakura dengan selimut. Sedangkan Sasuke hanya perlu merapikan celananya dan menutup zipper saja sudah membuatnya rapi karena memang Sasuke tidak menanggalkan pakaiannya. Sasuke berbaring di samping Sakura dan mensejajarkan wajah mereka.
Sakura membuka matanya perlahan ketika Sasuke mengusap wajah itu lembut. Menyusuri wajah cantik yang penuh dengan memar akibat permainan kasarnya. Bibir Sakura masih membengkak dengan darah yang mulai mengering sebagai penghiasnya, sedangkan leher dan lengannya banyak sekali jejak merah akibat mulutnya dan jejak biru akibat tangannya. Rasa perih semakin nyata dirasakan Sasuke di sudut terdalam hatinya ketika menyadari mata Sakura yang merah dan basah. Kapan gadisnya ini menangis?
"Kau menyesal?" tanya Sasuke pelan.
"..." Sakura menatap mata Sasuke sayu, ia tak menjawab—tidak mengangguk ataupun menggeleng, kedua manik emerald redupnya itu hanya menatap mata Sasuke dalam.
Setelah itu, Sakura memejamkan matanya, tak terbuka lagi. Ia memutuskan untuk tidur, ya ia lelah sekali. Sasuke mengelus wajah Sakura lembut, kemudian elusannya merambat ke arah rambut merah muda panjang milik Sakura yang sangat berantakan.
Sekarang kesadaran Sasuke telah kembali, dan kini setumpuk penyesalan menyelimuti hati pria itu. Air mata Sasuke telah menggenang di kedua pelupuk matanya ketika melihat kondisi kritis istri belianya itu, tapi genangan air mata itu tidak menetes keluar karena rasa sakit yang ia rasakan di hatinya membuat setetes air mata pun seakan enggan membantunya untuk sedikit mengeluarkan rasa penyesalannya.
"Maaf." Bisik Sasuke sendu tepat di telinga Sakura. Setelah itu Sasuke memeluk erat tubuh rapuh Sang istri dengan hati yang hancur.
Gadis yang telah berpredikat sebagai wanita itu mengangguk kecil karena memang ia mendengarnya, ia tidak marah karena memang ini yang dia inginkan. Berguna untuk Sasuke Uchiha yang membutuhkannya ... tidak dengan yang lain. Sakura adalah istri sah Sasuke, dan sudah kewajibannya untuk membantu Sang suami bukan? Walaupun raga yang harus menjadi korbannya.
'Itu sangat sakit, tapi jika dengan begini aku bisa berguna untukmu maka aku tak apa. Aku ... selamat tidur Sasuke.' Jawab Sakura pilu di dalam hatinya.
.
.
.
/To be continue/
A/N : Hallo Minna ! Wah makasih ya buat para readers yang memberi respon positif untuk fict ini. Well, banyak yang tanya apa jenis kelainan Sasuke di sini ya? Oke, jadi di sini nama kelaianan yang diderita Sasuke itu adalah Sadismacocism.
Sadismacocism itu sendiri adalah kesukaan untuk menyakiti atau menyiksa pasangannya sebelum atau ketika melakukan hubungan seks. kelainan seks jenis ini biasanya ada pada pria. Mereka akan merasa sangat bergairah setelah melihat pasangannya pingsan atau babak belur.
Maaf ya aku ngga bisa bales review satu persatu, tapi semuanya aku baca kok :') Semoga suka, terima kasih.
Sign, with love.
UchiHaruno Misaki/Madara's wife.
Special thanks to :
shinma hanasaki || Jeremy Liaz Toner || suket alang alang || ave maurie || dya lidya 965 || azizaanr || Cherry Philein || alzenardsmr || step-chan || widhy caramel || Cherryma || undhott || Aoi || Silent Reader xD || Henilusiana39 || Utay || Hijau || Mikaela Williams || mii-chanchan2 || yuiharuno47 || Namuchi || Chizuru Mey || furiikuhime || VeeQueenAir || prince ice cheery || Coretan Hikari || airis chun || pink blue sichiru || kuemochienak || watchfang || NKN0624 || fitri cha || ss || cho lolo || mantika mochi || Khatriina Miraz || Hydra Hillaeira || songforyou || neko-hime21 || gita zahra || jheinchyeon || Horryzza || SOMEONE || Eysha CherryBlossom || sanazaki || Aphrodite Girl 13 || adora13 || mysaki || Balqis980 || Guest || Favers || Followers || Silent Readers.
