Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Dirakimra17

Edited © UchiHaruno Misaki

.

[U. Sasuke x H. Sakura]


Bab 3

.

[Normal]

Pagi telah menjelang, Sakura mengerjapkan kedua matanya karena silau cahaya matahari telah menghampiri matanya. "Mhhh …" Sakura menggeliatkan tubuhnya pelan. Hanya butuh beberapa detik untuk Sakura menyadari kalau Sasuke sudah tidak ada di sampingnya.

"Ahh ... kemana si iblis itu?" ujar Sakura pelan pada dirinya sendiri seraya mengucek kedua matanya.

"Hn." Ujar Sasuke datar. Ternyata Sasuke ada di samping tempat tidur dan mendengar umpatan Sakura.

Sakura sedikit terkejut dengan keberadaan pria itu. Pria itu sudah rapi dengan kemeja kerjanya, wajahnya segar dan rambutnya masih agak basah karena habis mandi. Dia terlihat sangat memesona—Sakura tahu itu sejak dulu. Hanya saja dia selalu memujinya dalam hati, tapi entah mengapa setelah kejadian semalam Sakura bersumpah Sasuke adalah pria tertampan yang pernah ada.

TERTAMPAN.

"Hmm—!" Di sela keterkejutannya, Sakura langsung merapatkan selimut yang ia pakai untuk menutupi tubuhnya yang polos. Sakura menundukan kepalanya sehingga sebagian poninya jatuh dan menutup setengah wajahnya.

"Kenapa?" tanya Sasuke datar seraya beranjak dari kursi dan berjalan mendekati Sakura.

"..." Gadis itu hanya diam seraya menggelengkan kepalanya pelan.

Sasuke menatap lekat tubuh gadis itu, masih sangat jelas memar dan luka akibat 'siksaannya' semalam yang tercetak di bahunya yang masih lolos dari selimut. Sasuke terdiam sejenak—rasa sesal itu semakin menumpuk di rongga dadanya.

Namun beberapa saat kemudian Sasuke terkekeh samar saat melihat Sakura diam-diam mengintip dari sela-sela rambutnya. Gadis ini ingin menatapnya, tapi apa dia—malu? Apa Sakura masih malu karena kejadian semalam? Sasuke merasa gemas sekali dengan gadis-Nya pagi ini.

Gadis? Aa—tidak. Bahkan Sakura sudah tidak gadis lagi sejak Sasuke merenggut kegadisannya semalam, tapi biarlah umur Sakura masih pantas menyandang kata 'gadis'.

"Hn, kau tak perlu merasa malu." Ujar Sasuke tak acuh, berbanding balik dengan hatinya yang tengah terkekeh gemas.

"Kau ini bicara apa?" Gerutu Sakura semakin menyembunyikan wajahnya, kembali membuat Sasuke tidak bisa melihat wajah merah Sakura—yang sebenarnya sangat pucat seandainya Sasuke tidak membuatnya malu dan merona.

"Aku mau pulang. Minta temanmu untuk menjemputku." Ujar Sakura lirih.

"Sekolah?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Aku tidak yakin." Lanjut Sasuke tak acuh.

"Aku ada ujian." Jawab Sakura datar.

"..." Sasuke diam seraya menatap gerak-gerik istri belianya itu datar.

Sakura beranjak dari tempat tidur Sasuke dengan tetap tergulung di dalam selimut yang tebal. Ia melangkah ke kamar mandi dengan langkah sedikit tertatih. Sampai di kamar mandi, Sakura melempar selimut yang tadi dipakainya keluar.

"Direktur … tolong rapikan ini!" kata Sakura seraya meninggalkan selimut di depan pintu. Sakura terkekeh di balik pintu kamar mandi ketika menyadari Sasuke tengah mendengus di luar sana.

"Tch!" Sasuke berdecih datar. Baru ia tiduri sekali saja, sekarang gadis bodohnya itu sudah berani memerintahnya.

.

Sakura melihat bayangan dirinya di cermin. Sungguh mengenaskan. Seperti korban pemerkosaan. Wajahnya dipenuhi dengan luka memar. Warna merah, biru, keunguan dan bekas cakaran menghiasi wajah cantik itu. Bahkan bibirnya masih menyisakan darah yang mengering. Setelah menghembuskan napasnya, ia berjalan pelan menuju toilet. Pelan—sangat pelan karena tubuhnya terasa sangat ngilu saat digerakkan.

Sakura duduk di toilet untuk buang air kecil, tapi baru saja cairan itu keluar Sakura langsung berteriak dan meringis. "Aarrghh—!" rasanya seperti luka yang disiram air jeruk. Perih—sangat! sakit sekali. Ia tidak menyangka jika kewanitaannya mengeluarkan darah sebanyak ini.

"Ada apa?" tanya Sasuke dari luar ketika mendengar gadisnya menjerit.

"T-tidak apa-apa!" sahut Sakura seraya menggigit bibirnya kuat untuk menahan rasa perih yang dirasakannya. Ia tak tahu kalau rasanya masih akan sakit. Kemaluannya masih terasa perih, terlebih saat terkena air seninya sendiri—ini sungguh menyiksanya.

Sakura menatap aliran darah di pangkal pahanya itu nanar. "Uchiha Sasuke … apa yang kaulakukan padaku semalam? Kenapa tubuhku rasanya akan sekarat?" Sakura mendengus pelan, setidaknya ia memastikan Sasuke tidak mendengarnya.

.

.

.

.

.

30 menit.

Naruto sudah sampai di rumah Sasuke untuk menjemput Sakura. Ia membawakan Nonanya itu seragam sekolah. Kini Sakura sudah mengganti pakaiannya dan menemui Naruto di ruang tamu.

Naruto membelalakkan matanya melihat keadaan Sakura, tapi ia tidak mengatakan apapun karena ia sudah tahu apa yang terjadi. Sasuke memasang wajah datar di belakang Sakura, sedangkan gadis itu hanya berdiri dan menunduk. Wajahnya menghangat karena malu karena ia tahu Naruto pasti bisa menebak apa yang terjadi padanya tadi malam.

Tanpa mengatakan apapun, Sakura melenggang keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Naruto mengekor di belakang, begitu juga dengan Sasuke. Naruto melambaikan tangannya ke arah Sasuke sebelum menginjak gas mobilnya dan dibalas dengan anggukan kecil dari Sasuke.

.

Di dalam perjalanan, Sakura menyandarkan tubuhnya lemas dan tentu membuat Naruto khawatir—sangat khawatir. Ia takut Sakura akan mengalami trauma. Hal semacam ini pasti sulit diterima oleh semua wanita, apalagi Sakura yang masih berusia 17 tahun. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya.

"Nona … apa kau tak apa? Apa kau benar-benar akan sekolah?" tanya Naruto hati-hati.

Sakura menyandarkan kepalanya pada kaca mobil. "Mhhh ... N-Naruto .. aku merasa tidak baik-baik saja." Rintih Sakura pelan seraya mengigit bibirnya.

Ckiiiit!

Naruto mengerem mobilnya. Kemudian menoleh ke arah Sakura. "Kami-sama! Sakura kau pucat sekali."

"Aku … lelah." Sakura kini mengeluarkan air matanya. Ia meluapkan rasa sakit yang ia tahan dari samalam.

Naruto meringis melihat keadaan Sakura. "Kita ke rumah sakit sekarang."

"Tidak! Tolong, jangan! Jangan sampai orang lain me-melihat keadaanku seperti ini. Pulang juga … tidak boleh. Ibu … Ayah … tidak boleh melihatku seperti ini. Aku tidak mau … mereka menyalahkan … Sasuke." Tutur Sakura terbata-bata menahan sakit.

Naruto menata Sakura tajam. "Sasuke memaksamu?"

"Tidak. Aku yang … memaksakan diriku sendiri." Lirih Sakura.

"Baiklah, kita ke rumahku saja. Kau tahanlah sebentar. Aku akan meminta dokter pribadiku untuk datang."

.

.

.

.

.

Naruto membawa Sakura ke rumahnya. Gadis itu sudah berbaring lemah di kamar Naruto. Di atas tempat tidur yang berbentuk minimalis itu Sakura tergeletak dan sedang dalam pemeriksaan dokter.

Naruto hanya mondar-mandir di luar kamar. Bimbang. Sebaiknya memberitahukan Sasuke atau tidak. Akhirnya, Naruto memutuskan untuk memberitahu Sasuke. Tapi, sepertinya takdir tidak setuju. Baru saja Naruto akan merogoh ponselnya, Dokter keluar dari kamar—berjalan ke arah Naruto. Membuat pria itu urung menyentuh ponselnya.

"Dokter Yakushi … bagaimana keadaannya?" tanya Naruto antusias, tapi Dokter Yakushi justru memandangnya ragu. Dengan mengernyitkan keningnya, Dokter berkaca mata bundar itu menggeleng pelan.

"Gadis itu … bukankah dia putri dari pemilik HR Group?" Naruto mengangguk. "Apa dia baru saja—diperkosa?" tanya Dokter Yakushi dengan sangat hati-hati.

DEG!

Naruto mematung sejenak. "Bukan seperti itu, Dokter. Hanya saja …" Naruto ragu untuk mengucapkannya.

"Ya sudah … jangan katakan jika itu tidak bisa kaukatakan. Dia mengalami pendarahan kecil di bagian organ intimnya. Biarkan dia istirahat dan jangan biarkan dia melakukan kegiatan yang terlalu berat." Ujar Yakushi Kabuto.

Naruto menghela napas lega. "Lalu bagaimana dengan luka-luka pada tubuhnya?"

"Hanya luka ringan, tidak perlu khawatir. Ini resep obatnya, bisa kaudapatkan di rumah sakit atau toko obat." Dokter Yakushi memberikan selembar kertas pada Naruto. "Aku pergi dulu. Tenang saja, aku akan menjaga rahasia ini Naruto." Dokter Yakushi tersenyum sebelum meninggalkan Naruto.

Sepeninggalan Dokter Yakushi, Naruto masuk ke kamarnya dengan langkah perlahan. Mendekati Sakura yang terbaring di tempat tidurnya. Gadis itu tidak tidur, matanya yang sayu menatap Naruto yang semakin mendekat ke arahnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto lembut seraya duduk di pinggiran tempat tidur. Sakura mengangguk pelan seraya tersenyum lemah. "Haruskah aku memberitahu Sasuke?"

Sakura menggeleng keras. "Jangan! Jangan berani-berani kau melakukan hal itu Naruto." Sahut Sakura tegas.

"Kenapa?" tanya Naruto sedikit jengah.

"..." Sakura diam. Ia juga tidak tahu kenapa ia bilang jangan. "Jangan, aku mohon." Sakura berkata pelan dan memalingkan wajahnya, mencoba menjauhkan wajah merahnya dari tatapan Naruto.

Naruto menghela napas, lalu mengusap rambut Sakura lembut. "Baiklah. Istirahatlah!"

"Naruto-kun …" Sakura menghentikan Naruto yang sedang bangkit dari duduknya. Naruto diam. Jelas terlihat terkejut. "Naruto-kun … bolehkah aku …" Sakura memandang Naruto dengan tatapan memelas.

"Hm?" Naruto kembali duduk manis.

"Boleh aku … menginap di sini?"

"He?"

"Aku tidak mau pulang dengan keadaan seperti ini." Lirih Sakura sendu.

"Hm. Kau boleh." Naruto tersenyum.

"Arigatou … Naruto-kun." Sakura memelankan suaranya saat menyebut kata '-kun'.

Naruto meringis seraya menatap Sakura bingung. "-kun?" Naruto membeo.

"Kau keberatan aku panggil dengan sufiks-kun?"

"Tidak. Aku tak keberatan karena itu membuatmu tak terlalu formal memanggilku, tapi … bagaimana ekspresi suamimu kalau mendengarnya? Aku rasa wajahnya akan bertambah jelek sepuluh kali lipat atau dia akan melotot sampai biji matanya keluar." Naruto terkekeh. Ia tahu, Sakura bahkan tidak mau memanggil Sasuke dengan panggilan '-kun'. walau ratusan kali Sasuke memerintahkannya.

"Biar saja." Sakura merengut. "Naruto-kun … aku ingin bertanya banyak padamu." Ujar Sakura seraya menatap Naruto serius.

Naruto mengacak lembut rambut Sakura. "Nanti. Sekarang kau harus istirahat." Naruto tertawa kecil lalu beranjak pergi meninggalkan Sakura.

.

.

.

.

.

—oOo—

[Sakura]

Waktu demi waktu sudah berlalu begitu saja. Tidak terasa hampir genap dua minggu berlalu dengan cepat. Hari ini Ayah dan Ibu membuat pesta di rumah. Ya, lebih tepatnya pesta untuk keberhasilan Gaara-nii yang sukses menggaet perusahaan mobile ternama di Inggris, tapi mereka yang menikmatinya. Dasar.

Aku sama sekali tidak tertarik dengan pesta yang di isi dengan perbincangan bisnis seperti ini, tapi yang membuatku bahagia adalah Gaara-nii pulang ke Tokyo. Aku benar-benar merindukannya.

Aku keluar dari kamar dengan dress hitam bertali satu dan itu membuat bahu kananku terekspos jelas. Rambutku yang panjang ditata sanggul modern, tidak menghalangi para pria melihat leherku yang jenjang. Dress ini panjangnya hampir pas selututku dan kini, aku tengah memaksakan kakiku untuk memakai high heels—padahal aku benci dengan benda ini.

Dan pria itu ... jangan paksa aku untuk menyebutkan namanya. Aku tidak pernah bertemu dengannya setelah kejadian itu. Kejadian yang membuat perasaanku jungkir balik. Ini gila—dadaku bahkan masih merasakan gemuruh setiap kali aku mengingat kejadian itu—setelah aku melihat dia berubah menjadi monster. Aku benar-benar belum siap untuk bertemu dengannya.

Tap, tap, tap!

Aku turun dari lantai dua dengan anggun, berjalan perlahan menuju ruang tengah. Orang-orang di sini telah membuat suasana rumahku semakin ramai, dan jujur itu membuatku tak nyaman. Oh Tuhan, tolong percepat waktu malam ini. Aku menghirup napas dalam dan sibuk menyemangati diriku sendiri.

Sekarang, aku sudah berdiri tegak di ruang pesta. Mataku meneliti para tamu undangan yang datang, tamu yang 80% tidak kukenali. Jangan heran akan hal itu.

Deg!

Itu dia—Sasuke datang ke pesta. Aku tidak tahu kapan dia datang, yang jelas sekarang dia sedang berbincang dengan Gaara-nii dan Naruto-kun. Melihat aku hanya memandangi mereka, Gaara-nii melambaikan tangannya padaku dan mau tak mau aku pun berjalan menghampirinya.

"Adikku sekarang sudah besar. Waktumu untuk lulus sudah dekat, 'kan? Kau mau meneruskan studimu di mana nanti?" Tanya Gaara-nii seraya merangkul pundakku.

"Sakura kau masuk ke Universitas Hidden kami saja, dattebayo!" Tawar Naruto. Ya, Hidden Leaf University adalah Universitas bekas Naruto-kun, Gaara-nii dan Sasuke.

"Tidak. Nanti kalau aku menjadi lulusan terbaik, itu pasti akan membuatmu sedih dan merasa tersaingi." Cibirku ke arah Naruto.

"Hahahaha! Kenapa aku? Nilaiku memang bagus, tapi suamimu itu yang lulus dengan nilai terbaik." Naruto membuat mataku membulat, lalu dia mengacak rambutku.

"Ya! Naruto-kun hentikan! Apa kau tahu? Aku menata rambutku selama berjam-jam." Aku merapikan rambutku lagi seraya menatap Naruto tajam, sedangkan pria itu hanya tertawa lebar. Menyebalkan.

.

[Normal]

Sasuke hanya diam mengamati candaan mereka. Ia sadar, Sakura menjaga jarak dengannya. Gadisnya terus berpegangan pada lengan Gaara dan itu terlihat seperti tengah mencari perlindungan. Begitu juga dengan Gaara yang merangkul pundak Sakura yang terbuka. Menyentuh langsung kulit mulus Sakura. Hal itu membuat rahang Sasuke mengeras.

'Aaajangan gila Uchiha Sasuke! Apa kau cemburu? Pada Gaara? Karena Gaara menyentuh tubuh gadismu? Ayolah! Gaara itu kakak kandung Sakura.' Bisik malaikat kecil yang seakan berbisik di telinga kanan Sasuke.

'Tapi Gaara juga seorang pria, apalagi Sakura dan Gaara berbeda Ayah.' tegas iblis yang juga berbisik di telinga kiri Sasuke. Membuat si malaikat terdiam dan melebarkan matanya, dan membuat Sasuke mengeratkan cengkeraman tangannya pada gelas yang berada dalam genggamnya.

.

Setelah lama mengobrol, Sakura mendapat telepon. Sedikit terkejut karena nama yang tertera di layar ponselnya adalah nama -Shimura sensei-. Nama kontak untuk Shimura Sai. Ada apa gurunya itu meneleponnya? Sakura meninggalkan Gaara, Naruto dan Sasuke setelah memberi kode dengan mengangkat ponselnya.

"Hallo?"

'Hm, kau sedang apa? ada waktu?' Sahut Sai yang menelpon dari seberang sana.

"Aa— maaf Sensei keluargaku sedang mengadakan pertemuan. Jadi aku tidak bisa keluar sekarang."

'Aabaiklah kalau begitu. Bisa lain waktu.'

"Ada apa? Apa tidak bisa dibicarakan di telepon saja?" tawar Sakura.

'Tidak. Ini bukan sesuatu untuk dibicarakan, tapi untuk diberikan.'

"Eh?"

'Lain waktu kau akan tahu, dan aku berharap kau tidak menolak ajakanku.'

"Emm … baiklah."

'Kalau begitu selamat bersenang-senang.'

"Sakura!" sebuah suara nyaring terdengar oleh gendang telinga Sakura dan membuat gadis itu menoleh—itu Ayahnya. Pria setengah baya melambaikan tangannya pada Sakura untuk datang padanya.

"Sensei … Ayah memanggilku. Aku tutup ya." Tanpa mendengar lagi suara Sai, Sakura langsung menutup ponselnya.

Selanjutnya hanya nada 'tut ... tut … tut …' yang menggema di telinga Sai.

Saat Sakura berjalan ke arah Ayah dan beberapa relasinya, ia melihat Sasuke di salah satu sudut ruangan. Ia sedang sedang sibuk dengan gelas wine yang ada di tangannya. Dasar Mr. Alchoholic! Setidaknya itulah apa yang Sakura pikirkan.

Beberapa saat Sakura memandangi pria itu membuatnya teringat lagi pada pertemuan terakhir mereka, dan kembali membuat darah Sakura berdesir hebat seketika.

Sakura sama sekali tidak nyaman berada dalam lingkaran para pebisnis itu. Mereka banyak sekali bertanya, ini dan itu seperti wartawan. Ingin melanjutkan sekolah di mana? Jurusan apa? Apakah berniat untuk menjadi pebisnis seperti Ayah dan Kakaknya?

Haahh ...

Sakura menghembuskan napasnya dalam. Kenapa mereka bertanya hal-hal yang ia tidak tahu apa jawabannya? Merepotkan. Batin Sakura jengah.

"Ayah … aku ingin mengambil minum. Ayah saja yang menemani tamu-tamu di sini." Ujar Sakura sedikit berbisik seraya mengerlingkan matanya pada gelas kosong yang ada di tangannya dan Ayahnya mengangguk mengerti.

Sebelum Sakura berjalan menuju meja yang menyediakan minuman, ia sempat melihat tempat di mana Sasuke duduk tadi. Dan Sakura merasa kecewa ketika Sasuke sudah tidak ada. Di belakang, Sakura hanya melihat Naruto dan Gaara. Apa pria itu sudah pulang? Sakura menghembuskan napasnya berat—lagi.

.

Benar saja, sampai pesta berakhir pun Sasuke tidak lagi menampakkan dirinya. Dasar pria jahat! Tidak peka! Tidak punya perasaan! Pikir Sakura kesal.

"Ayah, Ibu, Gaara-nii aku pamit ke kamar ya? Ini sungguh menyiksa." Kata Sakura lemas seraya menggoyang-goyangkan telapak kaki kanannya. Mengarah pada high heels yang ia pakai.

"Baiklah sayang." Jawab Nyonya Haruno seraya tersenyum lembut pada putri bungsunya itu.

"Kita berbincang lagi besok, Baby." Gaara merentangkan tangannya untuk sebuah pelukan dan Sakura pun tanpa ragu memeluk tubuh Kakanya.

"Selamat malam, Nona!" Naruto menimpali selagi Sakura mampir dalam pelukan Gaara. Sakura berjalan gontai menuju kamarnya setelah berpamitan pada orang tua, Gaara dan Naruto.

.

.

.

.

.

Sesampainya di kamar, Sakura melepas sepatu high heels yang membuat kakinya pegal. Sakura mengambil kemeja tidurnya dan melepas gaun hitam elegannya, kemudian ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Sakura masih terus memikirkan Sasuke. Selama dia bertemu Sasuke di pesta, pria itu sama sekali tidak berbicara padanya. Apa pria itu marah padanya? Aa—bodoh! Bukankah seharusnya dia yang marah pada pria itu? Hari itu, dirinyalah yang banyak dirugikan.

Setelah selesai mandi, Sakura melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya. Namun

Tap!

Langkah kaki Sakura terhenti saat ia melihat sesosok manusia yang sedari tadi ia pikirkan ada di depannya. Pria itu tengah berbaring dengan selimut di tempat tidurnya. Sasuke tidur di tempat tidur miliknya! Dan itu membuat jantung Sakura berdetak 100 kali lebih cepat—tidak! Sekarang menjadi 1000 kali lebih cepat, saat Sasuke membuka matanya dan membalas tatapan mata Sakura dengan manik onyx-nya yang tajam.

"Hn, tadi aku merasa bosan, jadi aku memutuskan untuk tidur di sini." Ujar Sasuke datar seraya bangun dari tidurnya. Kini pria raven itu duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur.

"Um, sejak kapan?" Gumam Sakura singkat dengan sisa keterkejutannya. Matanya berkedip berkali-kali dan bibirnya bergetar pelan—ia gugup.

'Ya Tuhan, sejak kapan dia di sini? Kenapa aku tidak melihatnya tadi? Apa pria itu melihat aku mengganti pakaianku? Shannaro!'

"Kemarilah!" Perintah Sasuke, namun Sakura justru melangkah mundur dua langkah ke belakang. Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Aku bilang kemari, kenapa kau justru menjauh?" Sasuke mengerutkan keningnya.

"T—tidak." Sakura masih menatap Sasuke. Takut.

"Ada apa denganmu?" Tanya Sasuke dengan nada seperti biasa—dingin dan datar. "Kau marah?" tanya Sasuke seraya beranjak berdiri.

Sakura menggeleng pelan, Sakura hanya ... entah mengapa merasa gugup dan Sasuke tahu itu. Tanpa komando pria itu menarik istrinya dan memaksa Sakura untuk duduk di tepi tempat tidur, sedangkan Sasuke masih berdiri tegak berhadapan dengan Sakura seraya memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.

"Kau marah padaku?"

"Tidak." Jawab Sakura pelan.

"Uchiha Sakura." Tegas Sasuke. Ya, pria itu ingin kejujuran dari mulut istri belianya.

Setelah mengumpulkan keberaniannya, Sakura akhirnya berani menatap Sasuke. "Sebenarnya apa yang kauinginkan Sasuke?"

"Hn, aku ingin kau pulang."

"Pulang?" Sakura mengernyit bingung. "Ini rumahku."

"Pulang, Sakura." Sasuke menahan geramannya. "Ke rumah kita."

"Kita?" Sakura tersenyum remeh seraya mendengus. "Tidak." Jawabnya telak.

Sasuke menatap Sakura tajam. "Jangan melawan! Ikut aku!" Sasuke tidak ingin lagi mendengar protes dari mulut Sakura. Sasuke menggandeng Sakura dengan kuat, sedikit menyeretnya untuk menuruni tangga. Sakura mengikuti langkah Sasuke dengan terseok—perasaan Sakura saat ini adalah enggan, was-was dan takut bercampur menjadi satu.

.

Sesampainya di ruang tengah, Sasuke melepaskan cengkeraman tangannya pada lengan Sakura. Namun dengan cepat tangannya berpindah memeluk posesif pinggang Sakura dan embawanya membaur dengan orang-orang yang beberapa meter ada di depan mereka—kedua orang tua Sakura, Gaara dan Naruto.

"Sasuke, kau masih di sini?" Tanya Gaara yang menyadari Sasuke dan Sakura berjalan mendekat padanya.

"Kukira iblis itu sudah pulang." Bisik Naruto pada Gaara dan dibalas dengan anggukan kecil dari pria bertato 'Ai' tampan itu.

"Ayah, Ibu maaf. Mulai malam ini, aku akan membawa Sakura untuk tinggal bersama denganku lagi." Mengabaikan Naruto dan Gaara, Sasuke langsung berkata to the point pada kedua mertuanya—khas Uchiha Sasuke sekali. Tidak suka berbasa-basi meski itu dengan mertuanya sekalipun.

"Tapi—!" Sakura hendak memotong, namun ...

"Kukira kita sudah membahas itu tadi." Sela Sasuke dingin seraya mengeratkan tangannya pada pinggul Sakura tak telak membuat gadis itu merasa sangat terintimidasi dan akhirnya pasrah.

"Aa—baiklah kalau kalian sudah memutuskan, terserah padamu Sasuke. Aku percaya kau akan menjaga Sakura dengan baik." Jawab Ayah Sakura, sedikit ragu sebenarnya.

"Hn, tentu. Kalau begitu kami pamit."

.

.

.

.

.

Sesampainya di istana Sasuke, Sakura langsung di bawa ke kamarnya. Tidak ada percakapan di antara mereka sedari tadi. Sakura masih menimbang kalimat yang pantas untuk ia ucapkan, mengingat Sasuke dalam mood yang kurang bagus. Ia takut Sasuke akan mengamuk.

"Apa kau akan memarahiku?" Pada akhirnya Sakura memberanikan diri untuk bertanya.

"Apa aku bilang begitu?" ujar Sasuke tak acuh.

"Kenapa?" lirih Sakura.

"Hn?"

Sakura menundukan kepalsnya sendu. "Kenapa membawaku kemari?"

"Karena kau istriku." Sasuke melepas jasnya, menyisakan kemeja hitam di tubuhnya. "Tidurlah! Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Selesai dengan kalimatnya, Sasuke keluar dari kamarnya.

.

Di Ruang kerjanya, Sasuke duduk dengan frustasi. Meremas rambutnya gusar dan sesekali mendesah berat. Ya Tuhan, ia pasti sudah gila sekarang. Sakura terlalu banyak memengaruhinya. Sasuke bahkan bertindak sejauh ini demi menjauhkan Sakura dari segala bermacam-macam pria yang mendekati gadis-Nya.

Ya, Sasuke membawa Sakura kembali karena ia tidak ingin Sakura berada dalam satu rumah yang sama dengan Gaara. Astaga! Silahkan kalian tertawa dan mencibir Sasuke sepuasnya. Rasa cemburumu itu sangat kekanakan dan berlebihan, Uchiha.

.

.

.

.

.

—oOo—

[Sakura]

Keputusan sepihak Sasuke membuat aku tinggal satu atap dengan pria itu lagi. Bukan ide yang buruk, memang. Buktinya aku masih merasa nyaman sampai hari ketiga aku hidup bersama Sasuke—lagi.

Lagipula aku sudah pernah tinggal bersamanya, jadi seperti tidak ada beban saat aku kembali mendampinginya. Hidup kami bisa dibilang baik-baik saja sejauh ini. Aku juga sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian beberapa bulan lagi. Hari-hariku kini sudah berubah.

Dan mengenai malam pertama itu, aku dan Sasuke tidak pernah menyinggungnya kembali. Kejadian itu seperti tidak pernah terjadi, walau sebenarnya kejadian itu selalu membayangiku setiap malam. Ya, setiap malam. Bagaimana tidak? Aku tidur di kamar yang sama, tempat tidur yang sama dan pria yang sama seperti kejadian di mana keperawananku terenggut. Fakta itu semakin membuat kejadian itu teringat olehku.

Hari-hariku sekarang mulai seperti ini; jam 6 pagi, aku menatap wajah tampan pria yang terbaring di sampingku. pria yang tidur dengan damai dan berada dalam selimut yang sama denganku. Uchiha Sasuke—dia benar-benar tampan bahkan saat tidur. Entah sudah berapa ratus kali aku mengatakannya, tapi itu kenyataan. Tidurnya tenang walaupun terdengar suara dengkuran halus dari sela-sela bibir tegasnya yang membuatku ketagihan.

Aa—jangan berfikir yang tidak-tidak Sakura! Setelah 'tragedi' malam itu, Sasuke belum menyentuhku lagi. Benar-benar! Setiap malam, aku akan tertidur terlebih dulu karena Sasuke akan bergelut dengan laptopnya sampai larut malam di ruang kerjanya. Tapi aku selalu mendapatinya di sampingku setiap pagi.

"Hn, aku memang tampan. Tapi haruskah kau memandangku seperti itu?" Sasuke berbicara dengan nada suara yang sangat menyebalkan, padahal matanya saja belum terbuka.

"Apa?" Aku membuang mukaku—malu. "Mau kopi?" tawarku padanya.

"Hn." Jawabnya dengan menggumam pelan. Aku rasa dia mau karena aku melihat kepalanya mengangguk kecil.

Aku beranjak bangun dan sesegera mungkin keluar kamar. Berjalan pelan menuju dapur dan memulai aktivitasku sebagai seorang istri, sulit dipercaya. Aku sekarang akan membuat kopi dengan tanganku sendiri dan itu untuk Uchiha Sasuke—pria yang sepertinya telah ber-shower ria di kamar mandi.

.

Di dapur sepi sekali. Di mana Nenek Chiyo? Ngomong-ngomong tentang Nenek Chiyo, dia adalah pengasuh Sasuke semasa kecil. Dia sudah mengabdi untuk Keluarga Sasuke dalam kurun waktu yang tidak bisa dibayangkan memang. Sejak kami menikah, Sasuke meninggalkan rumah keluarganya dan tinggal di rumah ini. Itu adalah pertama kali ia berpisah dengan Nenek Chiyo.

Sekarang, Sasuke meminta Nenek Chiyo untuk tinggal bersamanya lagi. Bersama aku di sini—bersama kami. Sasuke sangat akrab dengan Nenek Chiyo bahkan melebihi keakrabannya dengan Nyonya Uchiha—Ibunya. Nenek Chiyo adalah wanita yang lembut dan hangat, dia sangat baik melebihi ibuku.

'Nona Sakura, Baa-san ke pasar sebentar untuk belanja.'

Itulah note yang aku temukan. Nenek Chiyo menulisnya dan di tempel di pintu lemari Es.

.

Aku duduk di ruang makan seraya memandangi sandwich dan kopi yang telah aku buat. Apakah dia akan suka? Ini pertama kalinya aku membuatkan dia sarapan. Dua hari yang sudah berlalu, Sasuke bangun lebih pagi dariku dan berangkat ke kantor bahkan sebelum aku membuka mata. Memalukan.

Hufft!

Ini yang aku suka. Wangi semerbak sabun bercampur parfum milik Sasuke menguar dari arah belakang. Aku tahu pria itu semakin mendekat ke arahku karena wangi tubuhnya semakin kuat memanjakan indra penciumanku. Aku menoleh dan—tepat! Dia sudah sangat tampan dengan kemeja kerjanya.

Sasuke menarik kursi yang ada di depanku. Matanya terarah ke atas meja. Ia memandang kopi dan sandwich yang aku buat dengan pandangan—kagum? Aha lihat! Matanya itu memandang takjub seperti melihat keajaiban dunia walaupun wajahnya tetap datar. Apa lidah tajamnya itu akan berkomentar? Aa—aku sedang tidak ingin mendengar apa-apa. Aku beranjak dari kursiku sebelum dia mengeluarkan suara, berniat ke kamar dan mandi.

"Temani aku makan!" Perintah Sasuke.

"Kau biasa makan sendiri Sasuke." Kuputar bola mataku cepat ke arahnya.

"Mulai sekarang akan aku biasakan makan denganmu. Duduk!"

"Aku belum mandi. Kau tidak risih kutemani makan dengan keadaan seperti ini?"

"Kalau kubilang kau tetap cantik walaupun belum mandi, apa kau akan menemaniku makan?"

"Ap—"

"Kau cantik! Duduk dan temani aku makan!" katanya datar. Hey! Itu menyebalkan Uchiha!

Aku mengerucutkan bibirku kesal, tapi aku tetap menuruti keinginannya. Duduk di depannya dan menonton dia makan. Dia makan dengan lahap tanpa mengomentari apa yang aku suguhkan. Hm, ternyata dia cukup tahu diri. Senyumku mengembang diam-diam melihatnya, sesekali aku menyesap teh hangatku seraya memandang Sasuke yang sedang menikmati makanannya.

"Naruto tidak bisa mengantarmu sekolah pagi ini, tapi dia akan menjemputmu nanti." Sasuke bicara di sela-sela mengunyah roti.

"Hm, tak apa."

"Aku akan mengantarmu."

"Tidak perlu, aku bisa berangkat sendiri. Kenapa Naruto-kun tidak bisa mengantarku?"

"-kun?" Sasuke meletakkan rotinya di atas piring. "kau memanggilnya dengan suffix-kun lagi?" selidiknya dengan nada tidak suka.

"Hm." aku malas menyahut.

"Kau bahkan tidak memanggilku seperti itu."

"Aku tidak mau. Kalaupun aku mau, aku akan memilih memanggilmu Ji-san." Kataku jahil. Sasuke sedikit melebarkan matanya dan menatapku tajam. "Usia kita jauh berbeda, ingat? Kau bisa menghitung sendiri kalau kau lupa." Sasuke mendengus tak bisa menjawab karena itu kenyataannya. Dia menikahi gadis 17 tahun yang bahkan masih sekolah. Seperti pedofilia.

"..."

"..."

Lama kami terdiam, aku pun meliriknya. "Jadi tidak usah ya …" rayuku lagi.

"Hn?"

"Kau tidak usah mengantarku." Kataku pelan. Sasuke kembali menatapku tajam. Aku tahu ini akan berakhir seperti apa kalau menentang. "Taksi." Jawabku cepat sebelum dia mengeluarkan suara lagi. "Aku janji naik taksi. Itu aman, 'kan?"

"..." Sasuke terdiam.

"Hn, mandilah atau kau akan terlambat. Aku akan pesankan taksi." Dia berjalan ke arahku. Membelai rambutku. "Aku berangkat."

"Ha'i Sasuke Ji-san!" aku langsung bangkit dari dudukku, lalu berlari menuju kamar.

.

.

.

.

.

[Normal]

Malam ini tidak seperti biasanya Sakura pulang terlambat dari sekolanya. Ya, itu karena ia harus mengikuti pelajaran bimbingan. Ia baru menginjakkan kaki di rumah pada jam 6 sore menjelang malam. Biasanya ia akan menunggu Sasuke pulang seraya menonton TV atau membaca novel, tapi malam ini ia langsung ambruk di tempat tidur karena kelelahan.

Jam 7 malam kurang beberapa menit. Sasuke pulang. Ia pulang cepat hari ini karena tidak ada pekerjaan lagi. Ia langsung menanyakan keberadaan Sakura pada Nenek Chiyo. Tidak biasanya ia melihat ruang tengah mereka konsong tanpa Sakura duduk manis di sana.

"Dia pulang terlambat hari ini, Tuan muda. Sepertinya dia sangat kelelahan." Jelas Nenek Chiyo.

.

Benar saja. Ketika pria itu masuk ke kamarnya, Sasuke menemukan gadis-Nya tidur tengkurap di tempat tidur. Tasnya tergeletak begitu saja di lantai tidak jauh dari tempat tidur. Sakura tidak mengganti seragamnya, dia bahkan tidak melepas sepatunya.

Sasuke mendekat, mengamati tubuh Sakura sendu. Tapi beberapa saat kemudian, tatapan matanya menajam ketika menyadari betapa pendeknya rok sekolah Sakura. Ayolah, bahkan dalam berbaring seperti ini, Sasuke nyaris bisa melihat bongkahan bokong Sakura yang bulat. Lalu rambutnya yang dikuncir, membuat Sasuke bisa melihat penuh punggungnya.

Kemeja putih itu bahkan sangat sempit. Terlalu body size, melukiskan lekuk tubuh Sakura yang ramping. Dan apalagi ini? Kenapa seragam sekolah bisa setipis ini? Sasuke bisa melihat dengan jelas tali bra Sakura yang berwarna hitam.

"Baa-san—!" panggil Sasuke sedikit berteriak.

"Ya, ada apa Tuan muda?" Nenek Chiyo tergopoh masuk ke dalam kamar.

"Gantikan bajunya dan bawa seragam sialan itu ke ruang kerjaku." Perintah Sasuke.

"Apa tidak dibangunkan saja?"

"Tidak, dia kelelahan. Bangunkan jam 8 saja nanti saat makan malam."

"Bagaimana kalau dia terbangun?"

"Tidak akan, selama Baa-san tidak mengelus kepalanya." Selesai dengan kalimatnya Sasuke keluar dari kamar. Berjalan dengan frustasi ke arah ruang kerjanya.

Ya, kebiasaan buruk Sakura adalah ia tidur seperti orang mati. Susah sekali terbangun apalagi dalam keadaan kelelahan seperti itu, tapi dengan sentuhan di kepalanya, ia akan langsung terjingkat seperti ada bom yang meledak di telinganya.

.

Sementara itu, Sasuke duduk dengan memejamkan mata saat mendengar seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.

"Tuan, ini seragam Nona Sakura."

"Bawa kemari Baa-san." Sasuke menerima seragam Sakura dan meletakkan di atas mejanya.

"Mau diapakan pakaian itu, Tuan?" Nenek Chiyo tersenyum lembut melihat tingkah Sasuke.

"Apa dulu saat Baa-san sekolah mamakai baju seminim ini?" Sasuke menunjuk-nunjuk seragam tak berdaya itu.

"Hahaha … anda ini ada-ada saja. Jelas saja tidak, Tuan. Tentu berbeda, kami berbeda zaman. Sekarang hampir semua gadis di negeri ini memakai seragam seperti itu."

"Tapi ini terlalu minim dan transparan."

"Menurut anda begitu?" Nenek Chiyo tersenyum geli. "Ini sudah hampir jam 8, aku akan membangunkan Nona Sakura sekarang."

"Hn."

.

.

.

.

.

[Sakura]

Aku merasakan seseorang mengelus kepalaku. Mengganggu tidurku. Sasuke, 'kah? Aa—tidak, ini terlalu halus. Aku mengerjapkan mata dan melihat Nenek Chiyo tersenyum lebut ke arahku. Aku bangun dengan perlahan.

"Sudah waktunya makan malam." Katanya pelan.

"Ya." Aku sudah sadar sepenuhnya termasuk sadar dengan pakaianku. Nenek Chiyo mengerti itu.

"Tadi, Tuan muda Sasuke yang menyuruhku menggantikannya"

"Sasuke?"

"Hm, sepertinya masih di ruang kerjanya. Kalau begitu saya turun dulu." pamit Nenek Chiyo. Aku mengangguk.

.

Tap, tap, tap!

Aku berjalan menuju ruang kerja Sasuke yang letaknya tidak terlalu jauh dari kamar kami. Aku membuka pintunya pelan dan kulihat Sasuke sedang bersandar pada kursinya yang besar. Tangan kirinya terkepal, sedangkan tangan kanannya memijit pelipisnya pelan. Matanya terpejam erat.

Aku masuk beberapa langkah. "Sudah pulang? Sudah makan?" Tanyaku pelan. Dia menatapku. Tajam dan menusuk. Ya Tuhan, aura kegelapan itu terpancar. Ada apa lagi ini?

Sasuke menggeleng tegas.

Aku terdiam beberapa saat sampai mataku menemukan sesuatu. Seragam sekolahku di atas meja kerja Sasuke. Tergeletak tak berdaya.

"Seragamku … kenapa bisa ada di sana?"

"Seragam? Seragam mana?" Tanya Sasuke sinis. Aku menunjuk mejanya ragu. "Ini yang kau sebut dengan seragam, hn? Mana ada seragam sekolah seperti ini?" Sasuke mulai meninggikan suaranya.

"K-kenapa?" Tanyaku spontan karena terkejut dengan nada suaranya barusan.

"Kau tanya kenapa? Apa kau tidak sadar kalau rok ini terlalu pendek? Ya Tuhan Sakura, bahkan saat kau tidur tadi aku bisa melihat bokongmu yang bulat itu. Dan ini!" Sasuke mengangkat kemejaku. "Apa Kau memakai kemeja setipis ini setiap hari? Aku bahkan bisa melihat bra-mu dengan jelas di balik ini. Sialan! Apa kau tidak sadar? Kau mau pamer bra?"

Deg!

"Apa kau tidak tahu, kalau pakain brengsek ini bisa membuat semua pria ingin menyeretmu ke tempat tidur mer—"

"CUKUP!" Bentakku. "Cukup Uchiha Sasuke!" napasku sudah memburu. Aku melihat rahangnya mengeras. Aku tahu Emosi orang ini, Priaku ini, suamiku ini sudah di ubun-ubun, dan sekarang aku juga sama.

"Aku tidak. Aku bukan pelacur! Untuk apa aku memamerkan bra? Dan rok itu tidak sependek yang kaukira. Aku juga tidak hanya memakai kemeja itu saja, aku memakai blazer sekolah, rompi di musim panas dan coat di musim dingin." Aku terdiam sejenak. "Jadi hentikan omong kosong ini!" Teriakku. Aku menatap Sasuke tajam. Berbalik dan mulai melangkah menuju pintu, tapi sebelum aku benar-benar meraih kenop pintu, aku menoleh kearahnya lagi.

"Apa kau tidak merasa keterlaluan? Usiamu yang tahun ini 28 tahun mengurusi seragam sekolah gadis 17 tahun? Aku sudah memakai seragam itu hampir 3 tahun, dan kau baru mendebatnya sekarang? Darimana saja kau sehingga baru menyadarinya?" Sinisku.

"BERHENTI DI SANA!" Teriak Sasuke menghentikan langkah kakiku. Aku melihat dia berdiri tegak dari kursinya. "Aku tidak sedang mendebat seragam sekolah gadis 17 tahun. TAPI AKU MENDEBAT APA YANG DIPAKAI OLEH ISTRIKU DI LUAR RUMAH!" Bentak Sasuke lagi.

"Terserah!" Aku mendengus lalu berlari keluar dari ruangan kerjanya. Berlari menuju kamar.

SIALAN!

Aku mencari tasku untuk mengambil ponselku, lalu dengan lincah aku mengetik sebuah pesan.

To : Gaara-nii

Nii-san … telepon aku sekarang!

Baru saja pesanku terkirim, ponselku berbunyi. Sial! Batrai ponselku low dan sekarang ponsel itu hanya berlayar hitam. Double sial! Aku melempar ponselku ke sofa yang jauh di sana. Air mataku sudah meleleh sedari tadi. Aku merangkak ke tempat tidur, menyelimuti diriku sampai tidak ada bagian tubuhku yang terlihat. Aku menangis sejadinya. Pria itu benar-benar keterlaluan.

.

[Normal]

Dddrtttt … dddrrrtttt!

Ponsel Sasuke yang ada di atas meja bergetar. Sedikit tersentak, Sasuke meraih ponselnya. Melihat layarnya dan membaca nama yang tertera.

'Sabaku Gaara'

"Hn, ada apa?" Tanya Sasuke tanpa basa-basi.

'Apa kau sedang bersama Sakura? Tadi dia mengirimiku pesan untuk meneleponnya, tapi sekarang ponselnya tidak bisa aku hubungi. Bisa aku bicara dengannya?'

Sasuke mendengus. "Tidak." Jawab Sasuke tegas. "Kami baru saja bertengkar. Jangan khawatir! Aku bisa mengatasinya."

'Sasuke ... jangan pernah menyakitinya! Aku mohon. Apa perlu aku menjemputnya?'

"Tidak." Sasuke menggeleng kuat, walaupun Gaara tak melihatnya. "Aku bisa menyelesaikannya malam ini juga. Aku janji, besok dia akan tersenyum kembali saat mengantarmu ke bandara."

'Tapi—'

"Nii-san ..." Ini Sialan, Uchiha Sasuke! Kau menyebutkan kata terkutuk itu hanya untuk menyumpal mulut pria tampan di seberang sana. Nii-san? Kau memanggilnya Nii-san? Yang benar saja! "Mengertilah, Sakura baru 17 tahun, dia masih labil. Dia hanya membesarkan masalah kecil. Aku bisa mengatasinya." Sasuke mencoba meyakinkan.

Brengsek kau Uchiha Sasuke! Seharusnya kau malu dengan kalimatmu sendiri. Dasar pengecut! Lihat fakta Uchiha! kenyataannya adalah kau yang berusia 28 tahun ini yang membesarkan masalah kecil. Dirimulah yang labil Uchiha Sasuke.

'Baiklah, kita bertemu besok. Aku pegang janjimu.'

Klik—!

'Sial! Seandainya Gaara tidak akan pergi besok, mungkin aku tidak akan berkata lembut padanya. Hn, setidaknya aku tidak ingin Gaara khawatir pada Sakura saat detik-detik ia akan kembali ke London. Cih, bahkan aku memanggil playboy sialan itu dengan Nii-san.' Gerutu Sasuke dalam hati. Selama dia menikahi Sakura, ini pertama kali dia memanggil Gaara yang notabene sahabatnya sendiri dengan Nii-san.

.

Sasuke keluar dari ruang kerjanya. Dia mengerutkan kening saat melihat Nenek Chiyo mondar-mandir di depan kamarnya.

"Baa-san, apa yang sedang kaulakukan?" tegur Sasuke.

"Tuan muda …" Nenek Chiyo sedikit terjingkat karena suara Sasuke yang tiba-tiba. "Kalian bertengkar?" Tanya Baa-san retoris. "Nona Sakura bahkan belum makan malam, Tuan!"

"Hn, dia akan makan. Bawakan saja makan malamnya ke kamar." Minta Sasuke dengan suara berat.

Sasuke masuk ke dalam kamar. Matanya mendapati Sakura yang sedang menggulung tubuhnya dengan selimut—bergetar. Gadis itu pasti menangis. Dengan langkah cepat Sasuke berjalan mendekati Sakura. Sedikit kuat, Sasuke menyibak selimut itu sampai memperlihatkan Sakura yang sesenggukan.

"Makan Sakura!" perintah Sasuke. Gadis itu menggeleng lemah. "MAKAN!" bentak Sasuke. Bersamaan itu, Nenek Chiyo masuk dengan membawa nampan berisi makanan.

"Letakkan di meja, Baa-san." Kata Sasuke pada Nenek Chiyo, setelah itu mata Sasuke menatap Sakura lagi. "Bangun dan makan malam." Sasuke berhasil menegakkan tubuh Sakura walau dengan paksaan, tapi gadis itu masih diam saja—Nenek Chiyo sudah meninggalkan mereka berdua.

"Kenapa kau keras kepala sekali, hn?" Dengus Sasuke. "Kenapa kau hanya menjadi penurut saat kita sedang bercinta saja? Haruskan aku menyuapimu seraya bercinta panas di tempat tidur, Nona Uchiha?"

Perkataan Sasuke membuat Sakura mengarahkan matanya untuk menatap Sasuke dan Sakura hanya menatap Sasuke kosong.

"..."

"Baiklah kalau itu maumu." Sasuke mengulurkan tangannya untuk membuka kancing piyama Sakura, namun dengan gerakan cepat Sakura menahannya. Dengan malas dan masih sedikit sesenggukan, Sakura berjalan ke arah makanannya yang ada di atas meja. Sakura mulai memasukkan makanan kedalam mulutnya. Mengunyahnya pelan.

"Besok kau akan mendapatkan seragammu yang baru—yang lebih pantas. Ini peringatan! Semarah apapun kau, jangan pernah berniat untuk meninggalkan rumah ini tanpa seijinku! Jangan pernah mogok makan dan jangan menentangku!" Ujar Sasuke tajam tak terbantahkan.

"..." Sakura tak menyahut, gadis itu hanya memakan makanannya dalam diam.

"Satu lagi. Aku tidak suka kau mengadu pada Kakakmu tentang masalah kita. Apapun alasannya."

Kali ini Sakura mendongak. Menatap Sasuke lekat. Bukan tatapsn menantang, tapi ia hanya terkejut. Darimana Sasuke tahu kalau tadi Sakura akan mengadu pada Gaara?

"Hn, tidak." Sasuke menggeleng tegas. "Bukan karena aku takut pada Kakakmu, tapi aku tidak suka dia memarahiku seakan-akan kau itu miliknya. Aku tidak suka orang lain mengurusi milikku." Jelas. Sasuke seakan tengah menandai bahwa Sakura adalah miliknyakepemilikannya—mutlak.

.

15 menit kemudian, Sakura meletakkan sendoknya. Sasuke berjalan mendekati Sakura.

"Sudah?" Kali ini suara Sasuke melembut seakan tidak ada yang terjadi di antara mereka. "Maaf …" Ucapnya lagi.

Chup!

Sasuke mengecup bibir Sakura ringan sebanyak 3x. Membuat Sakura seperti tersengat aliran listrik, tapi ia masih tetap diam. Hanya jantungnya yang kini berdetak seperti akan lepas dari dadanya.

Sasuke menggendong Sakura dengan bridal-style ke tempat tidur mereka. Sasuke mengecup Sakura lagi, kali ini sedikit lama dengan lumatan kecil. SIALAN! Umpat Sasuke dalam hati. Kenapa? Karena perlahan Sakura membalas ciumannya.

Dengan menggeram Sasuke menahan tengkuk Sakura, memperdalam ciuman mereka. Bahkan posisinya saat ini sudah setengah menindih gadis-Nya. Tangannya sudah berada di dalam piyama Sakura, mulai merambat naik—menyusup ke balik bra hitam Sakura.

'Apakah akan terjadi lagi?' Sakura membatin. Jantungnya berdetak luar biasa kencang.

Sudah bangun ternyata. Adik kecil Sasuke sudah berdiri dengan gagah di selangkangannya. Sasuke semakin merapatkan tubuhnya dan menggesekkan ereksinya pada tubuh Sakura. Sasuke meremas kuat buah dada Sakura, bahkan tangannya yang lain sudah menjamah pangkal paha Sakura, walaupun dari luar celana piama. Menggesek dan menggoda benda lembut di dalamnya. Membuat Sakura melenguh kecil. —Sasuke kembali mulai kehilangan logikanya.

"Argggh—!" Sakura menjerit saat Sasuke menggigit bibirnya hingga berdarah.

Deg!

Mendengar Sakura menjerit, Sasuke langsung mengangkat wajahnya. Beberapa detik kemudian, Sasuke bangun dengan sigap. Napasnya memburu dan matanya memancarkan gairah.

"Tidurlah!" ujar Sasuke singkat sebelum meninggalkan Sakura sendirian di kamar mereka.

Sakura masih terkejut karena Sasuke tiba-tiba pergi begitu saja. Sepeninggalan Sasuke, Sakura merenung. Astaga! Dia membuat kesalahan. Tidak seharusnya dia berteriak. Sakura hanya terlalu terkejut tadi, maka dengan rasa bersalah, Sakura bangkit dari tempat tidurnya. Berniat menyusul Sasuke di ruang kerjanya.

.

"Naruto. Siapkan satu wanita untukku. Aku tunggu di hotel biasa. Sekarang!" Sasuke menutup panggilan, lalu melempar ponselnya ke meja kerja. Dengan terburu ia beranjak hendak pergi ke tempat tujuan, namun—

Deg!

Tepat saat Sasuke membalikkan tubuhnya, dadanya seperti dilempari bom seketika. Dia melihat gadis itu ... gadis-Nya. Sakura berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat, kedua tangan gadis itu meremas piyamanya dan manik emerald redup Sakura sudah berkaca-kaca. Menggambarkan kesakitan yang jelas. Sasuke melihat itu dengan sangat jelas, dan—

dia tahu, Sakura mendengarkan percakapannya barusan. Ia melukai gadisnya lagi untuk yang kesekian kalinya.

.

.

.

.

.

/To be continue/


gues : Makasih. Iya, ini udah update.

poni : Kamu bisa search di google. Arti Sadismacocism itu sama saja seperti Sadistic. Terima kasih atas sarannya.

Guest : Yup, ini udah update.

Guest : Haha. Maaf ngga ada scene itu.

plum : Spekulasi kamu memang benar jika tema fic seperti ini sungguh sangat mainstream, tapi ayo kita lihat bagaimana kelanjutan fic ini ke depannya. Apakah akan mengecewakan kamu atau ngga. Terima kasih :)

nana : Iya pasti karena Sasa juga nyesek bayangin kalo ada di posisi Sakura.

Guest : Haha. Ada-ada aja kamu ini. Iya, ini udah update.

Henilusiana39 : Ikuti terus aja ceritanya kalo mau tau xD Iya, ini udah update.

Jheinchyeon : Ya, ga papa. Ini udah update.

chan rei chan : Haha kamu benar Sasuke memang pantes jadi Sadistic. Ya, ini udah update.

gita zahra : Amin.

Yuie : Iya. Sasuke memang cocok menggantikan Cho Kyuhyun mengingat mereka sama-sama tampan. #Woi.

Namuchi : Iya Sasuke memang seperti itu. Eh? Kamu lahir 26 Desember, 'kah?

NKN0624 : Makasih.

silent reader xD : Maaf ngga bisa update cepat. Walaupun ini fic republish tetap saja Sasa ngga bisa cepet update soalnya waktu buat ngedit fic ini bisa memakan waktu berjam-jam. Yang sabar aja ya.

mysaki : Kita lihat saja nanti ya.

Guest : Makasih. Iya, ini udah update.

songforyou : Iya, sama-sama. Scene NaruSaku? Yup, scene mereka banyak ko di chapter-chapter berikutnya. Gaara udah muncul tuh walau cuma dikit. Ya, ini udah update.

crystallized blossom : Chara Naruto cuma sebagai tokoh pembantu saja. Karena scene Naruto banyak, jadi Sasa tag chara Naruto. Maaf ya ngga bisa update kilat.

Guest : Bisa di sembuhin ko kalau si penderita berniat benar-benar ingin sembuh.

guest : Udah.

haruno : Eh? Kamu masih sebel sama SHL ya yang kemarin bashing Sakura? Iya, Sasa juga sebel sama mereka. Tapi ... lebih baik kita abaikan saja mereka ya? Biarkan mereka berkoar sesuka hati mereka, toh ujungnya mereka juga yang akan di cap jelek. :) Yang penting Sakura dan SasuSaku tetap the best di hati kita.

rey : Amin. Iya kasian ya Sakuranya. Penyebab Sasu seperti itu nanti Sasa jelaskan di chapter-chapter terakhir. Makasih ^^

Yang log in silahkan cek PM.

Sign, with love.

UchiHaruno Misaki.