Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Dirakimra17
Edited © UchiHaruno Misaki
.
[U. Sasuke x H. Sakura]
Warn : Lemon inside!
Bab 4
.
[Sakura]
Aku melangkah cepat menyusul Sasuke yang kemungkinan besar ada di ruang kerjanya. Aku menghembuskan napas dalam di depan pintu kokoh yang tertutup rapat ini, aku berharap setidaknya dengan pasokan oksigen yang cukup bisa membuat kerja jantungku sedikit lebih tenang. Aku memejamkan mata sesaat sebelum membuka pintu yang ada di depanku, dan masih dengan gerakan perlahan.
Cklek!
"Naruto. Siapkan satu wanita untukku. Aku tunggu di hotel biasa. Sekarang!"
DEG!
Itu suara Sasuke. Apa dia bilang? Wanita? Hotel biasa? Sekarang? Aku menggigit bibir bawahku yang masih terasa nyeri bekas gigitan Sasuke tadi. Tidak! Jangan! Aku mohon jangan! Ya Tuhan, aku merasa semua oksigen menjadi karbondioksida—sesak.
Sasuke membalikkan tubuhnya dan sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku tadi. Terlihat dia melebarkan kedua matanya sesaat saat mata kami bertemu. Demi Tuhan, pandanganku mengabur sekarang. Aku ingin menangis. Bolehkah?
"Maaf mengganggu." Ujarku pelan. Aku berbalik untuk kembali ke kamar, tapi kutahan langkahku sesaat. "Kalau mau pergi, hati–hati di jalan, menyetirlah dengan hati-hati ... ini sudah malam." Aku tidak sadar, kalimat lirih nyaris seperti isakan itu keluar dari mulutku.
Aku melanjutkan langkahku tanpa menunggu bagaimana reaksinya. Aku berjalan setengah berlari ke kamar. Sesampainya di kamar, aku mengambil koperku. Lemari pakaian sudah terbuka lebar di hadapanku, segera aku mengambil acak pakaian yang bisa aku bawa. Ya Tuhan, tanganku bergetar.
Tapi aku tak sanggup—sungguh. Aku harus pergi kemana? Pulang ke rumah? Dengan Gaara-nii di dalamnya? Aku yakin dia akan langsung mengurus perceraian kami. Aku benci Sasuke sekarang, tapi entah kenapa bercerai pun aku tidak rela.
Naruto?
Ahh, Sialan. Naruto bahkan terlibat langsung untuk mendukung kebrengsekan Sasuke.
Ini menyakitkan sekali. Aku berjalan ke jendela dan membuka jendela lebar. Aku berharap angin malam membuat sesak di dadaku sedikit berkurang. Aku meremas dadaku, menangis sejadi – jadinya tanpa suara.
Apa yang aku katakan? Seharusnya aku memakinya, 'kan? Menjerit tidak terima, marah, atau bahkan mengamuk. Tapi apa? Aku justru mengucapkan hati-hati pada seorang suami yang akan pergi keluar rumah untuk meniduri seorang jalang untuk kebutuhan biologisnya. Lantas apa gunanya aku sebagai seorang istri Tuhan?
Uchiha Sasuke, bolehkah aku membunuhmu?
.
[Normal]
Sasuke kini berada di sebuah Suite room di sebuah hotel mewah. Tidur telentang di sebuah ranjang king size dengan rambut raven-nya yang berantakan, dua kancing kemejanya sudah terbuka, serta kedua manik sehitam jelaganya memandang lurus ke atas—menatap langit-langit kamar itu lekat seperti tengah mencari sesuatu.
Cklek!
Tap, tap, tap!
Pintu kamar terbuka memunculkan seseorang dengan wine di tangan kirinya. Sasuke memejamkan matanya meresapi derap langkah yang semakin mendekat ke arahnya. Saat matanya terbuka lagi, ia menoleh ke arah pintu kemudian tersenyum sekilas menyambut seseorang itu, ah lebih tepatnya senyum yang Sasuke tunjukan adalah—senyum pesakitan.
"Apa yang terjadi? Kenapa mengusirnya sebelum kau memakannya?" Tanya Naruto seraya meletakkan wine yang di bawanya ke atas meja.
"Tidak berselera." Jawab Sasuke berat.
"Memangnya sejak kapan kau punya selera pada mereka?" Naruto tersenyum mengejek. "Wanita itu masih di lobi kalau kau berubah pikiran."
"Untukmu saja."
"Dan sejak kapan aku berselera pada pelacur?" Naruto mengendikkan bahunya. "Kenapa tiba-tiba?"
"Bagaimana aku bisa melakukannya di saat kepalaku hanya dipenuhi bayangan Nonamu dengan wajah pucat seperti mayat dan hampir menangis berkata 'hati–hati di jalan, menyetirlah dengan hati-hati ... ini sudah malam' padaku. Dia bahkan mendengar aku meminta wanita padamu." Sasuke tersenyum kecut.
"Ya ... istrimu memang sangat mengejutkan Teme. Aku bahkan tak berani percaya dia masih mau melihatmu setelah dia tahu kau ini bajingan gila, bahkan kau mempraktekkan langsung padanya." Naruto ikut membaringkan tubuhnya di samping Sasuke.
"Hn." Sasuke menyahut singkat.
"Kenapa kau tidak dengan istrimu saja?"
"Kau gila!" Desis Sasuke—melirik Naruto dengan pandangan garang.
"Oi, jangan melihat aku seperti itu! Aku hanya menyuruhmu meniduri istrimu, bukan memintamu untuk mengecat langit menjadi warna pink."
"Sekali aku melakukannya, dia menangis—dia terluka." Lirih Sasuke sendu.
'Dia sekarat.' Tambah Naruto dalam hati.
"Apa kau tahu bagaimana rasanya, setiap hari harus melihat wanita yang paling kucintai berkeliaran di rumahku, di kamarku, bahkan di tempat tidurku. Terlebih sialan lagi, dia milikku. Dia bahkan pernah dengan rela dan pasrah di bawah kuasaku." Sasuke menghela napas. "Aku benci melihat dia menangis, tapi justru aku yang membuatnya menangis. Penyesalan itu tidak pernah hilang, justru semakin bertambah setiap harinya."
"Cintamu memang sangat menakutkan Teme. Kau bahkan sadar kalau kau tidak cukup baik untuknya, tapi kau melakukan segalanya untuk membuat dia ada di sisimu." Ujar Naruto seraya menatap plafon resort itu kosong.
"Pernahkah kau membayangkan, betapa mengerikannya jadi aku?" Sasuke memejamkan matanya—lelah.
"Aku tak mau jadi kau." Naruto bangun dari posisinya. "Ayo kita minum saja."
.
.
.
.
.
Pagi menjelang, Sakura masih di tempatnya semalam—meringkuk di depan jendela besar dengan keadaan yang mengenaskan. Dia bahkan tidak tidur semalam. Dan belum ada tanda–tanda Sasuke sudah pulang—kosong; Sasuke tidak pulang. Sebuah koper bahkan masih teronggok berantakan di depan lemari.
Sakura bangkit dari posisinya. Dia tahu apa yang akan dia lakukan; pertama, membersihkan diri sebelum Sasuke pulang. Mengumpulkan seluruh tenaganya—dia masih hidup sekarang, itu adalah kenyataan yang harus dia hadapi—dan dia tahu siapa yang harus dia bunuh setelah ini. Supir mahal sialan itu.
Selesai membersihkan diri, Sakura duduk di tangga terbawah rumahnya. Nenek Chiyo belum terlihat pagi ini., mungkin ke pasar seperti biasa. Sakura memainkan ujung rok seragam sekolahnya seraya menunggu Sasuke.
Jam 7 kurang, Sasuke membuka pintu besar yang sedari tadi ditatap Sakura. Sasuke berdiri gagah dengaan Naruto di belakangnya. Gadis itu langsung bangkit dari duduknya—berdiri dengan tegang. Mata mereka bertemu; Onyx-Emerald. Wajah Sakura yang pucat menjadi pemandangan mengenaskan Sasuke pagi ini.
Sakura berjalan ke arah mereka berdua, ah lebih tepatnya Sakura melangkah melewati mereka berdua begitu saja. "Aku berangkat." Ujar Sakura pelan tepat ketika ia melewati tubuh Sasuke.
.
"Jadi kau yang mencarikan wanita untuk Sasuke?" Cecar Sakura begitu mereka sampai di sebuah Cafe.
"Ya Tuhan, bokongku saja belum menempel dengan benar di kursi ini. Tidak bisakah kita sedikit bersantai, Nona?" Sewot Naruto. Sakura mendengus sebal, membuang pandangannya ke luar jendela.
"Cepatlah kau letakkan bokong berhargamu itu. Aku ingin bertanya." Desak Sakura.
"Sasuke-teme? Kau mau bertanya tentang Sasuke, bukan?"
"Aku akan bersalto kalau sampai rela membolos hanya untuk menanyakan tentangmu atau keluargamu." Ujar Sakura sarkastik.
Naruto merengut, lalu dengan gaya a la bos, Naruto memanggil seorang pelayan untuk datang. Naruto memesan minuman dan beberapa camilan. Ia berani bertaruh kalau meladeni wawancara Nonanya ini akan menghabiskan energi.
"Kau mau tanya apa?"
"Banyak." Sakura mendesah. "Seperti yang kau tahu. Aku dan Sasuke memang pasangan, tapi hubungan kami terasa aneh. Aku harus menanyaimu dulu baru aku tahu tentang dia. Aku yakin dia juga begitu. Dia bahkan membayarmu untuk memata–mataiku."
"Lalu?"
"Aku yakin kalau kau mati mendadak karena tersambar petir, maka aku dan Sasuke akan menjadi dua orang asing yang tidak saling mengenal." Ujar Sakura tak acuh.
"Apa di kepalamu itu aku tidak bisa mati dengan cara yang lebih tampan?" Sewot Naruto tak terima.
"Apa itu penting?" Sakura menatap pria tan itu datar.
Naruto menghela napas pelan. "Intromu terlalu panjang, dattebayo. Kau mau tanya apa?"
"Kau yang mencarikan dia wanita." Kali ini bukan pertanyaan, tapi pernyataan.
"Ya." Jawab Naruto singkat, padat, jelas dan membuat Sakura merutuk dalam hatinya.
DAMN!
Suasana hening menyelimuti dua manusia itu. Sakura dengan segudang perasaannya yang campur aduk dan Naruto yang hanya bisa diam menanti bagaimana reaksi Nonanya. Sakura menghela napas dalam–dalam mencoba untuk bersabar—mungkin. Dia membasahi bibirnya yang kering dengan sapuan lidah basahnya. Mencoba untuk bicara lagi.
"Sejak kapan?"
"Entahlah." Naruto melemaskan bahunya. "Tapi saat aku tahu, waktu itu kami masih muda. Lulus SMA. Ketika aku, Sasuke dan Kakakmu mulai berani meniduri wanita."
"Dia meniduri wanita setelah lulus SMA?" Sakura melotot.
"Kecilkan matamu! Kau bahkan tidur dengan seorang pria sebelum lulus SMA." Ujar Naruto tak acuh.
"Jangan bahas yang itu! Lanjutkan ceritamu." Sakura merona malu.
"Sasuke selalu mengeluh tentang mimpi yang mengganggunya. Aku tidak tahu tentang mimpi itu. Setelahnya, dia mencoba dengan beberapa wanita. Hingga suatu malam, dia menemuiku dan berkata 'Aku memukulinya lagi'. Begitulah setiap malamnya." Jelas Naruto pelan.
"Apa tidak bisa disembuhkan? Apa tidak ada obatnya?"
"Mungkin ya, mungkin tidak." Jawab Naruto ringan sambil mengendikkan bahu.
"Apa dia tidak pernah memeriksakan dirinya? Kenapa kau tidak berusaha membantunya?" sedikit emosi, Sakura terdengar seperti menyalahkan Naruto.
"Apa?" Naruto menoleh cepat menghadap Sakura. "Kau berharap aku membawa Sasuke ke Klinik Tong Fang?"
"Aku serius!"
"Dia memeriksakan dirinya. Dia berusaha mengobatinya dengan menggunakan uangnya yang banyak itu, kau tahu? Semalam itu dia mengobati penyakitnya, tapi batal hanya karena bayangan seorang istri yang mengatakan hati–hati saat menyetir padanya. Sasuke tidak jadi menelan obatnya hidup–hidup."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak yakin, kau mau mendengar ini."
"Katakan!"
"Jangan menyesal karena mendengar ini." Naruto membenarkan posisi duduknya, lalu menatap Sakura serius. "Wanita–wanita itu obatnya. Sasuke menjadikan mereka therapist-nya. Objek untuk belajar mengendalikan rasa 'Khilaf tingkat nerakanya'-nya itu."
Sakura menatap Naruto tak percaya. "Bagaimana mungkin?"
"Dia kelainan seks, Nona—bukan sakit flu yang mudah disembuhkan. Itu penyakit kejiwaan, yang bisa disembuhkan dengan terapi, latihan dan tekat." Naruto meilirik tangan Sakura yang saling meremas di atas meja. "Dia perlu mengendalikan emosi dan nafsunya. Dia cenderung menyukai pasangannya menderita—sadismacocism, dan latihan itu hanya bisa dilakukan saat dia melakukan seks."
"Apa dia sadar saat melakukannya?"
"Dia bilang ya, tapi dengan nafsunya bukan dengan akal sehatnya. Dia pernah mengatakan padaku, tangannya seperti bergerak sendiri. Setelah dia memeriksakan dirinya, dia mulai rutin berhubungan dengan wanita malam. Setiap dia melakukan hubungan seksual, bukan kenikmatan atau kepuasan yang dia kejar, tapi belajar. Dia belajar mengendalikan diri dengan cara mempraktekannya dengan para wanita bayaran itu."
"Dan itu berhasil?"
"Melihat beberapa wanita terakhirnya termasuk dirimu, hanya babak belur. Aku rasa ada kemajuan."
"Hanya kau bilang?" Sakura memandang Naruto tak suka.
"Sebelumnya, mereka selalu berakhir dengan tak sadarkan diri."
Wajah Sakura menegang. Sorot matanya memancarkan kengerian, jadi Sasuke menyiksa pasangannya sampai tak sadarkan diri sebelumnya. Pasangan? Oh, sial! Membayangkan Sasuke bercinta dengan wanita lain membuat Sakura meremang—marah, sakit sekali hatinya.
"Sudah berapa lama? Berapa banyak?" pertanyaan Sakura keluar semakin lirih.
"Kau akan terkejut!" Sakura melotot. "baiklah ... baiklah ... kalau kau mengumpulkan sepuluh orang, dan meminjam jari tangan mereka untuk menghitung itu masih belum cukup."
"Jangan bercanda!" desis Sakura tajam.
"Apa aku terlihat bercanda?" Sahut Naruto serius.
"Sebanyak itu?" lirih Sakura lemah.
"Ya. Dia sangat merepotkan kau tahu? Menelponku sesuka hatinya memesan wanita yang menjadi kriterianya seperti memesan makanan cepat saji."
"Kriteria?"
"Bersih, sehat, tidak berisik, dan gila uang sehingga tidak akan mempermasalahkan luka dan sakit yang dideritanya. Berpostur mungil sepertimu sebagai tambahan plus, dan wanita itu harus yang belum pernah ditidurinya. Sasuke tidak pernah mau melakukan seks dengan wanita yang sama." Jelas Naruto.
"Astaga!" lirih Sakura pedih. Matanya mulai berkaca–kaca. "Kenapa dia bisa seperti itu?"
"Tanyakan sendiri padanya." Naruto meraih cangkir kopinya, lalu menyesap pelan. "Sekarang kau mau bagaimana?"
"Aku tidak tahu." Sakura menggeleng. "Ini terlalu sulit."
"Aku benar–benar penasaran dengan apa yang kaurasakan. Bagaimana perasaanmu?" tanya Naruto penasaran.
"Tadinya aku tidak pernah berpikir terlalu jauh. Tadinya aku tidak terlalu mempermasalahkan hal yang salah tentang Sasuke, tapi aku tidak tahu ternyata sudah separah ini." Sakura menatap langit–langit cafe sendu—menahan laju air matanya yang hendak keluar.
"Kau berpikir sangat simple. Aku yakin, wanita dewasa akan lebih memilih lari dari Sasuke." Timpal Naruto.
"Aku bahkan tidak bisa lari darinya." Ujar Sakura sendu.
"Kau menyukai Sasuke?"
"Ya." Sakura menggigit bibirnya sejenak. "Sekarang, aku ingin dia berhenti meniduri wanita jalang di luar sana. Demi Tuhan itu membuatku sakit—sangat sakit. Tapi ..." Sakura menggeleng ragu. "Kau bilang itu obatnya. Itu adalah latihannya untuk sembuh, caranya belajar untuk mengendalikan diri. Dan aku tidak yakin akan sanggup menggantikan wanita–wanitanya—aku sakit waktu itu. Aku tak cukup baik untuknya Naruto-kun ... aku istri yang tak berguna."
"Kau memang benar, tapi kau jangan mengatakan bahwa kau tidak berguna. Kau tahu? Dirimu adalah satu-satunya wanita yang berguna di sisi Sasuke." Naruto berdiri lalu duduk di samping Sakura. "Jadi bagaimana?"
"Marah dan mengamuk, lalu minta pulang ke rumah orang tuaku? Bagaimana?" Ujar Sakura ngelantur.
"Hm, dan kau benar–benar tahu bagaimana cara membuatku mati muda."
"Kenapa?"
"Kau pergi denganku setelah itu kau marah, mengamuk dan meminta pulang ke rumah orang tuamu. Kaukira apa yang akan Sasuke lakukan pada pria setampan aku, dattebayo?"
"Senang mendengarnya." Sahut Sakura tak acuh.
Bruk!
"Sudah." Tiba-tiba Naruto memeluk Sakura dan tentunya membuat tubuh Sakura menegang. Tapi seperti biasa, ia tak dapat menolak. "Kau boleh menangis." Ujar Naruto pelan.
Tanpa menunggu detik ketiga, Sakura langsung sesenggukan di dada Naruto. Berusaha melepas semua rasa sesaknya. Bisakah ia bertahan? bisakah ia menerima Sasuke dengan jiwanya yang tidak normal? Ia ingin jadi satu–satunya. Tapi bisakah ia menjadi satu-satunya untuk Sasuke? Mungkin Sasuke bisa, tapi Sakura justru ragu pada dirinya. Seorang diri menjadi obat Sasuke? Menanggung sakit itu sendiri? Sanggup, 'kah? Ia sadar, ia tak bisa seperti wanita-wanita di luar sana yang sanggup membuat Sasuke—Suaminya puas.
'Sekarang aku tahu kenapa Sasuke menikahimu diusia semuda ini. Dia ingin mengarahkanmu untuk menerimanya dengan pikiran sederhanamu. Dia benar–benar mengenalmu dengan baik Sakura.' Ujar Naruto dalam hati.
"Tanyakan padanya langsung tentang ini. Kalian butuh bicara berdua. Ayo kita pulang, kau bisa bilang kalau kau membolos karena sakit. Lagipula wajahmu sangat pucat." Naruto menepuk bahu Sakura pelan setelah merasa gadis itu sedikit tenang. Sakura menjauh dari Naruto, sementara pria itu merogoh sakunya. "Astaga!" teriak Naruto spontan.
"Ada apa?"
"Kalau kau bisa memilih, kau mau mati tenggelam di sungai Shinano atau mati di tangan Sasuke?" Sakura mengernyitkan alisnya tidak mengerti. "34 panggilan tak terjawab—Sasuke." Sakura mengikuti apa yang dilakukan Naruto.
"Sepertinya lebih baik mati tenggelam saja. 76 panggilan tak terjawab—Sasuke." Sakura memamerkan layar ponselnya pada Naruto yang disambut ekspresi ngeri pria itu.
.
Sakura berjalan cepat ke depan Cafe, Ia bahkan tidak menunggu Naruto yang sedang membayar pesanan mereka. Sakura sudah berdiri dengan gugup di samping mobil, mengira–ngira apa yang akan Sasuke lakukan. Mengingat bagaimana pria itu mengamuk benar–benar mengerikan.
"Sakura?" panggil seseorang dari arah belakang. Seorang pria yang baru keluar dari mobilnya.
"Oh, Sai-sensei." Sakura membungkuk hormat.
"Senang melihatmu. Kau sedang apa?" ujar Sai seraya tersenyum manis seperti biasa.
"Tadi hanya mampir sebentar. Apa yang—"
"Apa yang kaulakukan di sini?" Sakura menoleh ke asal suara yang memotong bicaranya. Naruto.
"Kau!?" Desis Sai dengan nada mengancam—Naruto dan Sai saling menatap tajam.
"Sejak kapan kau kembali?" Naruto bertanya dengan tatapan manik sapphire-nya yang menusuk.
"Apa pedulimu?" ujar Sai sarkastik.
"Masuk, Nona!" Perintah Naruto. Sakura masih berdiri dengan kikuk—ia bingung. "Aku bilang masuk, Haruno Sakura!" Naruto meninggikan suaranya. Membuat Sakura tersentak lalu cepat–cepat gadis musim semi itu masuk ke dalam mobil.
Sakura tak tahu apa yang mereka bicarakan, yang pasti sesuatu yang buruk. Terlihat jelas dari ekspresi mereka—tak bersahabat, saling mengancam. Sampai beberapa menit kemudian, Naruto masuk ke dalam mobil.
"Apa hubunganmu dengan Sai?" cecarnya.
"Tak Ada." Sakura mendengus. Pria konyol ini ternyata sama mengerikannya kalau sedang marah. "Dia guru di sekolahku. Kau mengenal Sai-sensei?"
"Astaga! Sejak kapan?" desah Naruto dengan frustasi. "Apa yang dia lakukan padamu?"
"Tidak ada." Sakura menggeleng takut. Naruto berusaha keras untuk melotot dengan matanya yang sipit itu. Ingin tertawa sebenarnya, tapi Sakura lebih memilih menahannya. "Dia hanya guru. Ya, mungkin karena umurnya yang masih relatif muda, jadi kami berteman."
"Berteman? Kau yakin?"
"Hanya berteman. Kami mengobrol dan um ... tidak ada."
"Apa?"
"Dia—dia memang pernah mencoba untuk menciumku." Naruto menganga. "Tapi tidak jadi—sungguh. Jangan bilang pada Sasuke, ya. Aku mohon."
"Kau menyukai Sai?"
"Tidak!" Sentak Sakura. "Memang kenapa? Ada apa dengan Sai? Sasuke mengenal Sai?" Sakura merengek, minta penjelasan.
"Tidak sekarang." Naruto menggeleng tegas. "tapi …" Naruto menatap Sakura serius. "Mau mendengar sebuah ancaman?"
"Apa?"
"Sasuke mungkin akan memberimu Home Schooling kalau dia tahu Sai ada di sekolahmu." —dan mengangalah mulutmu, Sakura ketika mendengarnya.
Satu misteri lagi harus Sakura cari tahu.
.
.
.
.
.
Sasuke berdiri tegak di ruang tamu dengan kedua tangan terkepal yang disembunyikan di dalam saku celana—napasnya memburu. Emosi sudah di ujung kepalanya, tinggal menunggu waktu untuk meledak. Entah dia akan memarahi Sakura habis–habisan lalu mengurungnya di dalam kamar atau memukuli Naruto sampai wajah sahabatnya itu compang–camping.
Tadinya ia ingin beristirahat sejenak menunggu Sakura. Ia sadar gadis itu butuh waktu. Ia tahu, kejadian semalam pasti membuat kesalah pahaman di antara mereka. Ya, setidaknya Sasuke ingin Sakura tenang terlebih dahulu, tapi saat dia masuk ke dalam kamar dan melihat pemandangan pertamanya adalah sebuah koper yang tergeletak dengan pakaian Sakura yang bertumpuk berantakan, darahnya serasa mengalir deras ke kepalanya.
Ditambah lagi saat dia menelepon kepala sekolah Sakura untuk memastikan keberadaan gadis itu. Apa yang dia dapat? Benar–benar menyulut amarahnya saat kepala sekolah mengatakan Sakura tidak masuk sekolah. Kemana mereka? Apa Sakura mencoba kabur? Bahkan ponsel keduanya tidak bisa dihubungi. Fakta itu membuat Sasuke mengerahkan penjaganya untuk mencari Sakura dan Naruto.
Cklek!
Pintu terbuka, menampilkan sesosok gadisnya dengan pria yang paling dibencinya–untuk saat ini—Sakura berjalan pelan menghampiri Sasuke, kakinya gemetar sebenarnya. Dia melihat wajah Sasuke bahkan sudah merah padam. Sakura berdiri di depan Sasuke yang menjulang dengan tubuhnya yang kaku.
Tep!
Sesaat sebelum Sasuke memuntahkan amarahnya, Sakura lebih dulu mengulurkan tangan kirinya—menyentuh tangan Sasuke. Lalu menggenggam jemari itu lembut, sesekali mengusapnya. Ya, saat ini Sakura tengah berusaha meredakan emosi Sasuke.
"Aku pulang. Aku tidak sekolah. Aku sakit." Bisik Sakura sambil menunduk. Ya, marah pada Sasuke tidak artinya. Sakura hanya perlu berbicara berdua dengan Sasuke dengan kepala dingin.
Bukan hanya Sasuke, Naruto juga terkejut bukan main melihat apa yang dilakukan Sakura. Setidaknya Naruto mengira akan terjadi percekcokan sengit diantara Sasuke dan Sakura. Oh! Benar–benar wanita yang tidak bisa ditebak.
Sasuke memejamkan matanya sejenak, menghirup udara sebanyak–banyaknya untuk masuk ke dalam paru–paru. 17 detik, Sasuke membuka matanya kembali dan kali ini dengan tatapan mata onyx-nya yang sedikit melembut.
"Koper sialan itu. Jelaskan padaku!" Tegas Sasuke dengan nada rendah andalannya.
"Tadi malam ingin kabur, tapi tidak jadi." Jawab Sakura polos seraya mengerucutkan bibirnya lucu.
Sasuke menepuk kepala Sakura lembut. "Hn, Masuk kamar. Istirahat!"
.
[Sakura]
Sore hari setelah aku meyakinkan Sasuke kalau aku baik–baik saja: aku, Sasuke dan Naruto segera pergi ke bandara. Hari ini Gaara-nii akan kembali ke London. Sebenarnya hal ini membuat aku sedih, aku masih sangat merindukannya. Seandainya Sasuke mengizinkan, aku pasti akan ikut ke London untuk beberapa hari, tapi kalian tahu itu semua adalah mustahil—sangat mustahil.
Dengan perjalanan yang hening, akhirnya kami sampai di bandara. Kuputar bola mataka untuk mencari sesosok pria berambut merah bertubuh tegap yang rupawan itu. Aa—itu dia. Gaara-nii sudah terlebih dulu melihatku. Dia berdiri dari duduknya saat aku melangkah mendekatinya.
"Sudah datang?" Sapa Gaara-nii hangat.
"Aa." Aku membalas senyumnya, tapi hanya sekejap. Aku mengembungkan pipiku untuk menunjang terciptanya pout di bibirku. "Haruskah pergi hari ini? Aku masih ingin bersamamu." Rengekku manja pada Kakak tampanku ini.
"Heh? Merindukanku? Bohong." Gaara-nii tertawa meledek.
"Sungguh!" cercaku kesal.
"Kalau kau masih merindukanku, kenapa saat aku pulang kau justru pindah ke rumah Sasuke?" Gaara-nii mengacak rambutku.
"Apa aku harus bilang kalau faktanya aku dipaksa? Nii-san seperti tidak tahu saja seperti apa sifat temanmu itu." Aku berusaha membela diri.
"Seperti apa?" Bibir Gaara-nii tertutup rapat saat suara itu mengudara, dalam sekejap suasana menjadi mencekam dan terasa mistis.
"Sasuke kau tidak lupakan kalau kau yang memaksaku untuk tinggal?" Lawanku berusaha mencairkan suasana. Aku tak mau Gaara-nii tahu yang terjadi di antara kami.
"Kau masih memanggil Sasuke tanpa sufiks—kun, eh?" Gaara-nii mendelik padaku.
"Tidak akan pernah." Jawabku pelan.
"Hahahhahahha—!" itu suara Naruto.
"Sebenarnya jam berapa kau berangkat? Haruskah kau menyita waktuku sebanyak ini? Tidak bisakah kita saling melambaikan tangan, lalu kau pergi?" Sasuke bertanya pada Gaara-nii dengan suara datarnya.
"Haah—mulutmu itu benar-benar! Baru semalam kau memanggilku Nii-san dan sekarang kau berkata seperti itu padaku?" ujar Gaara-nii sarkastik.
"Nii-san?" Naruto membeo—berharap dia salah dengar. Lihat! Naruto bahkan melongo tak percaya. "Kau memanggil Gaara dengan Nii-san? Apa dunia akan kiamat sebentar lagi?"
"Seharusnya aku merekamnya semalam." Goda Gaara-nii.
"Diam kau sialan!" kata Sasuke tajam.
"Mulutmu itu benar–benar! Apa kau bicara dengan Sakura seperti itu juga?" Protes Gaara-nii, dan aku mengangguk cepat—membenarkan dugaan Gaara-nii.
"Hn, jangan terlalu khawatir. Karena faktanya adikmu juga sangat terlatih untuk membalas kata–kataku." Sasuke melirik tajam ke arahku. Huh! Ingin sekali aku menjambak rambut bokong unggasnya itu sampai botak—kalau saja aku bisa.
"Baiklah, ini sudah waktunya aku naik pesawat." Jawab Gaara sambil melihat jam tangannya. "Sasu, tolong jaga Sakura baik–baik. Aku percaya padamu." Gaara-nii meninju dada kiri Sasuke pelan.
'Kau menitipkan aku pada orang yang salah Nii-san.' Rintihku dalam hati.
"Hn." Sasuke mengangguk singkat.
"Sakura jaga dirimu baik–baik. Belajar yang benar karena kau adalah penerus HR Group. Menurutlah pada suamimu, dan sesekali perhatikan pria sebatangkara itu." Mata Gaara menunjuk Naruto. "Aku titip mereka." Gaara-nii memelukku—hangat. Sebelum menikah dengan Sasuke, pelukan inilah yang menjadi favoritku. Sekarang tidak lagi.
"Kenapa kau menitipkan orang tua itu pada Sakura? Kaukira istriku panti jompo?" sindir Sasuke. Kalian sudah tahu 'kan, kalau Sasuke paling hebat dalam merusak suasana? Kalimatnya Dibalas dengan pukulan ringan Naruto yang mendarat di lengan Sasuke.
"Baiklah-baiklah ... aku akan jaga diri baik–baik, belajar dengan benar, menurut pada suamiku dan akan memperhatikan paman berambut pirang itu sesekali waktu." Sahutku tak acuh.
"Bilang padaku, kalau Sasuke menyakitimu." Bisik Gaara-nii.
'Dia menyakitiku—banyak.' Aku menjawab dalam hati sambil menggeleng pelan pada Gaara-nii. Aku berbohong tentu saja.
"Baiklah, aku pergi! Aku akan meneleponmu." pamit Gaara-nii padaku.
Aku, Sasuke dan Naruto masih melihat Gaara-nii yang semakin menjauh. Hufft—kenapa aku jadi cengeng begini. Ingin sekali aku menangis, air mata sudah menggenang tapi masih aku tahan kuat–kuat. Seperti tahu dengan apa yang aku rasakan, tangan kiri Sasuke merambat ke pundakku. Semakin memangkas jarak kami. Ia mengelus pundakku lembut, sesekali mengusap rambutku.
Ya Tuhan, Sasuke merengkuhku dalam pelukannya. Membuat sengatan listrik mengalir dalam darahku.
Aku bahkan tidak sadar, apakah kami sudah baikan dari pertengkaran kami? Sasuke bersikap seakan tingkah brengseknya semalam tidak pernah terjadi.
"Kalau aku sudah tidak terlalu sibuk, kita bisa menjenguknya di London." Bisik Sasuke. Aku tidak tahu kapan itu akan terjadi, atau dia hanya menghiburku. Tapi aku akui, aku sedikit tenang mendengar kalimatnya.
.
.
.
.
.
[Normal]
Hari ini pekerjaan yang menumpuk sungguh melelahkan bagi Sasuke. Dari pagi sampai sore menjelang malam, dia masih terlihat begelut dengan berkas–berkas penting yang menyangkut dengan proyek baru yang akan di kembangkan di Amerika.
Beberapa kali Sasuke melihat kamera CCTV yang sengaja di pasangnya. Kemarin saat mereka di bandara, Sasuke memang meminta Kakashi—sekretarisnya untuk memasang beberapa kamera CCTV di rumahnya. Termasuk kamarnya. Setelah Sakura dengan polosnya bilang ingin kabur, dia tidak mungkin diam saja, 'kan?
Dan di sinilah Sasuke berada—duduk di kursi besarnya di kantor sambil memandangi layar canggihnya yang menampilkan kegiatan seorang gadis belia; Sakura yang sedang duduk di karpet berbulu; membaca sebuah buku tebal dengan di kelilingi peralatan sekolahnya.
Senyum Sasuke terukir perlahan sampai sebuah ketukan pintu menginterupsi kegiatannya. Sasuke mematikan layar canggihnya. Menegakkan tubuh saat mengizinkan Kakashi masuk ke ruangannya.
"Ada apa?" Tanya Sasuke dingin.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Dia tidak mempunyai janji dengan anda sebelumnya, tapi dia bilang anda pasti mau menemuinya."
"Siapa?"
"Namanya Shimura Sai." Mendengar sebuah nama dari bibir Kakashi membuar rahang Sasuke mengeras.
"Suruh dia masuk!" Perintah Sasuke tegas—marah. Sasuke melepaskan kaca matanya.
Tidak sampai dua menit setelah Kakashi pergi, pintu ruangan Sasuke kembali terbuka. Dengan langkah mantap, sang tamu memasuki ruangan dingin beraura panas milik Sasuke. Pria itu Shimura Sai. Dengan senyum mengejeknya kini berdiri tegak di hadapan Sasuke.
"Sudah lama tak bertemu." Sai berbasa–basi.
"Apa maumu?"
"Berhubung kau tak menyukaiku dan aku juga begitu, jadi aku akan langsung ke intinya." Sai memasukkan tangannya kedalam saku celana. "Aku tahu kau menikahinya, dan aku mendekatinya beberapa bulan ini. Aku yakin sahabat sekaligus budakmu itu sudah melaporkannya padamu. Aku bertemu dengannya kemarin."
"Apa yang kaulakukan pada istriku?" Geram Sasuke seraya mengepalkan tangan tangannya untuk menahan emosi.
"Tidak ada." Sai menggeleng sambil tersenyum. "Aku gagal menciumnya waktu itu, tapi harus aku akui ... pelukan istrimu benar–benar hangat."
Bugh!
Entah bagaimana prosesnya. Sasuke dengan gerakan cepatnya segera berdiri, menghampiri Sai dan melayangkan tinjunya di wajah rupawan Sai. Satu kali pukulan, membuat Sai terhuyung dan jatuh.
"JANGAN SENTUH WANITAKU!" Teriak Sasuke murka.
.
BRAK!
Sakura tersentak saat pintu kamar tiba–tiba terbuka kasar. Sasuke berdiri di depan pintu dengan aura kemarahan yang sangat jelas—bahaya, Sakura tahu itu. Pasti ada yang tidak beres. Sasuke berjalan cepat menghampiri Sakura, menarik paksa Sakura hingga gadis itu berdiri. Lalu melemparkan tubuh mungil itu ke ranjang mereka.
Brugh!
SRAK!
Kini rak buku Sakura yang menjadi korban selanjutnya. Sasuke merubuhkannya tanpa ragu. Melihat itu Sakura langsung berdiri. Ia berjalan mundur beberapa langkah—ada apa dengan Sasuke-Nya?
"APA HUBUNGANMU DENGAN SHIMURA SAI? SIALAN! KAU BERMAIN DI BELAKANGKU!" Teriak Sasuke, memuntahkan amarahnya.
BRAK!
Lagi—Sasuke membanting pintu kamar mereka setelah ia memutuskan untuk pergi keluar kamar. Meninggalkan Sakura yang masih terkejut dengan apa yang barusan Sasuke katakan. Shimura Sai? Siapa? Apa Sasuke sedang membicarakan gurunya? Shimura Sai? Aa—Sakura ingat sesuatu. Ancaman. Shimura Sai. Home Schooling. Ini yang dimaksud Naruto.
Suara gaduh, barang pecah dan suara amukan Sasuke menyadarkan Sakura dari lamunannya. Astaga, Sasuke! Sakura segera berlari menuju ruangan kerja Sasuke. Sesampainya di sana, Sakura membelalakkan kedua matanya. Ruangan itu seperti kapal pecah. Sasuke berhasil menghancurkannya dalam hitungan kurang dari 5 menit.
"Sasuke berhenti! Dengarkan aku dulu." Teriak Sakura takut.
"Brengsek! Pergi dari sini atau aku akan memukulimu!" Ancam Sasuke. "PERGI!" bentak Sasuke. Lalu—
Praaang!
Sasuke melempar salah satu kursinya ke arah jendela; menghantam kaca dan berhasil membuat kursi itu terjun bebas ke lantai satu. Tak lama, Sakura bahkan bisa dengan jelas mendengar suara kayu yang remuk dari bawah sana.
"Berhenti, aku mohon!" Isak Sakura. Gadis itu bahkan tidak sadar kapan ia mulai menangis.
Bukannya berhenti, Sasuke justru melanjutkan kegiatannya menghancurkan ruang kerjanya. Membanting barang–barang yang terjangkau olehnya—pria itu terlihat seperti setan bertanduk sekarang. Sakura sudah tidak tahan. Ini tidak akan selesai kalau Sasuke hanya mengamuk tanpa bicara.
GREP!
Setelah mengumpulkan keberaniannya, Sakura menghampiri Sasuke dan memeluk pria itu. Dengan tangan yang gemetar, Sakura berusaha mengokohkan pelukannya. Sasuke menegang. Sakura memeluknya dengan suka rela—pelukan pertamanya.
"Aku mohon, hentikan Sasuke-kun!" Sakura masih terisak. "Hentikan, Sasuke-kun! Sudah cukup!" Sasuke tersentak. Sasuke-kun? Hati Sasuke menghangat beberapa detik sebelum ia mengingat sesuatu.
"Hn, apa kau memeluknya seperti ini?" Desis Sasuke kembali dengan amarahnya.
"Memeluk siapa?"
"KAU MEMELUKNYA! BRENGSEK!" Sasuke membentak.
"SIAPA?" Sakura ikut berteriak.
Brugh!
Bukannya menjawab, Sasuke justru mendorong tubuh Sakura sampai gadis itu terlentang di meja kerja Sasuke yang kosong karena semua alat kerjanya sudah berserakan di lantai. Dalam hitungan detik, Sasuke sudah menciumi Sakura dengan kasar. Kali ini emosi dan amarah ikut andil dalam menghilangkan logika Sasuke.
Sasuke mengangkat wajahnya; melihat wajah merah dengan air mata itu pasrah di bawahnya, dan wajah itu berhasil menggoda gairahnya. Benar–benar sialan. Lama Sasuke memandangi Sakura seraya menunggu gadis itu mendapatkan asupan oksigen yang cukup.
'Maaf.' Batin Sasuke sendu.
BREK!
Sasuke merobek kemeja krim yang dipakai Sakura. Sasuke merambatkan tangannya di tengkuk Sakura dan menekan kepala gadis itu dan membuat mereka berciuman secara intens—ciuman yang dalam dan panjang. Tekanan tangan Sasuke di tengkuk Sakura memaksa Sakura meladeni gaya ciuman Sasuke yang kadang menyebalkan menurut Gadis itu. Ciuman yang lama dan sering kali membuat Sakura benar–benar kehabisan stok udara di paru–parunya. Napas pria ini terlalu panjang saat berciuman. Itu yang menyebalkan.
"Mmhh—!" Itulah suara Sakura saat Sasuke menghisap leher Sakura dan tangannya yang sudah menyusup ke dalam bra Sakura—meremas buah dada gadis itu.
Sasuke memulai permainannya.
.
[Sakura]
Dan malam ini terjadi lagi, aku tidak tahu bagaimana kami memulainya. Aku seperti kehilangan otakku. Sapuan bibir tegas yang ia berikan pada setiap inci kulitku benar–benar membuatku lupa segalanya, dan seperti inilah kami sekarang. Seperti inilah keadaanku, setelah hampir 1 jam bercinta dengan Sasuke. Bercinta? Melakukan seks mungkin lebih tepat—mengingat Sasuke tidak mencintaiku.
Kepalaku sakit karena pria yang sedang bergerak liar di atas tubuhku ini beberapa kali menjambak rambutku—seperti biasa. Jangan tanya berapa memar yang aku dapatkan di tubuhku! Tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda dari malam pertama kami dulu.
Sasuke seperti menahan dirinya untuk tidak melukai wajahku. Hanya bibir yang bengkak dan sedikit berdarah akibat ciuman kami yang tercetak di wajahku. Malam ini tidak ada tamparan.
Sebagai gantinya, Sasuke menguatkan cengkraman tangannya pada lengan atau buah dadaku yang selalu berhasil membuatku meringis menahan sakit. Selebihnya, beberapa kali aku melihat Sasuke meremas pinggiran meja sebagai pelampiasan. Sesekali dia meninju meja di samping kepalaku—membuatku sedikit takut.
Duagh!
Keras. Sasuke membenturkan kepalanya dengan meja saat ia mengarahkan wajahnya untuk menciumi leherku. Demi Tuhan itu keras sekali. Dan lagi, masih sama seperti tadi—saat Sasuke berpindah ke sisi kanan leherku.
"Sasuhh …" lirihku saat Sasuke mengangkat wajahnya. "Kau berdarah!"
Astaga! Darah segar mengalir dari dahinya. Aku yakin itu akibat benturan yang ia ciptakan barusan. Aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Melihat wajahnya dengan teliti—aku menangis lagi.
"Aahhg ..." Sasuke masih terus bergerak tanpa memedulikan air mataku. "Kau berdarah … hiks—! Kau berdaraaah!" Isakku histeris—nyaris seperti teriakan.
"Diam! Jangan menangis!" Sasuke melayangkan tinjunya.
Bugh!
Bugh!
Dua kali—tak ada yang mengenaiku. Dia menghantamkan tinjunya pada meja. Tepat di samping wajahku, dan setiap dia melakukan itu, aku pasti berteriak histeris. Seakan tinjunya itu menghantam wajahku. Entahlah, hatiku sakit melihat Sasuke terluka.
"Ahhh, ahh, Sasukehh ... kumohonnhh—jangan ... eunngh—!" tanpa terlihat kesakitan, Sasuke justru menghujamkan kejantanannya dalam–dalam pada lorong kewanitaanku. Aku merasa seperti miliknya menusuk sampai lambungku—sangat dalam.
Sasuke yang masih memaju mundurkan pinggulnya tiba–tiba berhenti dan mengangkat tubuhku. sekarang posisiku duduk di meja, sedangkan Sasuke berdiri tegak di hadapanku. Tentu saja dengan kejantanan besar Sasuke yang masih bersarang di dalam kewanitaanku.
"Jangan pernah menghianatiku!" Sasuke menarik rambutku. Aku tidak bisa menjawab dan hanya menggeleng kuat.
"Ahh ... ahh—!" Aku kembali mendesah saat tiba–tiba Sasuke menggerakkan pinggulnya lagi. Membuat miliknya menusuk g-spot-ku. Menyulut gairah kewanitaanku lagi. Membuat aku secara tidak sadar menggerakan tubuhku mengikuti gerakannya berlawanan arah.
Sasuke keluar masuk semakin cepat. Aku berpegangan pada bahu Sasuke, sedangkan tangan kanannya sibuk meremas bokongku sesekali membantuku bergerak. Aku yakin cetakan kukunya akan membuat tato alami di bagian itu, dan tangan kirinya masih menggenggam erat buah dadaku.
Aku melihatnya. Tangan Sasuke yang terluka karena beberapa kali meninju meja—memar dan berdarah. Kenapa dia melukai dirinya sendiri?
"Aaahhhnngg—!" Aku nyaris menjerit saat aku datang mendahului Sasuke. Dia masih berusaha mendapatkan gilirannya. Dan—
"Ohh—!" Singkat, disertai hujaman terakhirnya yang kuat. Dia melepasnya di dalamku.
Sasuke memelukku erat. Menciumi seluruh permukaan wajahku yang basah karena keringat, beberapa kali dia melumat lembut bibirku. Napas kami tersenggal bersama. Sasuke menyingkir dari tubuhku, melepas penyatuan kami. Aku melihat kearahnya—dia sedang memejamkan matany dengan mulut sedikit terbuka untuk mengambil napas.
Kesempatan ini aku gunakan untuk membuka kancing kemejanya. Menelanjangi tubuh atasnya seraya mendengus sebal, aku mengucapkan sumpah serapah dalam hati. Ini sudah kedua kali. Dan aku selalu menjadi satu–satunya yang bulat tanpa busana, sedangkan dia?
Sasuke membuka matanya saat aku melepaskan kemeja dari tubuhnya dan memakainya di tubuhku. Aku bergerak pelan—dia membantu aku turun dari meja sambil menatapku lekat. Aku membalas tatapannya sekilas. Lalu meraih kotak tissue yang tergeletak di lantai tidak jauh dari kami.
"Ck! Shhhhh—!" Aku mendengus sebal. Merasakan cairan kental yang berjumlah TIDAK SEDIKIT meleleh dari kewanitaanku. Milik siapa lagi kalau bukan Presdir Uchiha sialan itu. Dengan tissue, aku mengelap cairan sperma Sasuke yang semakin deras mengaliri paha dalamku. Sebanyak ini, 'kah?
Sasuke masih memandangi aku yang sibuk dengan kegiatanku. Sesekali dia tersenyum tipis seakan–akan kegiatanku ini adalah pemandangan indah. Aku bisa melihat senyuman bangganya tersemat sempurna di wajahnya yang berbinar. Bangga karena memenuhi rahimku dengan jutaan benihnya, begitu?
"Ayo ke kamar, aku akan mengobati lukamu. Di sini terlalu mengerikan." Kataku pelan.
"Ini tidak apa–apa." suaranya serak. Hey, kemana perginya Uchiha Sasuke yang seperti singa mengamuk tadi?
"Kau berdarah." Bantahku. Mengarah pada luka di dahi dan kedua tengannya. Luka yang cukup parah mengingat betapa keras ia menghantamkan diri pada meja kayu kokohnya—berkali–kali.
Sasuke meraih pinggangku dan menuntunku keluar dari ruang kerja yang sedang menjelma menjadi kapal pecah itu. Di luar ruangan, hal yang pertama kami lihat adalah Nenek Chiyo yang berdiri mondar–mandir—terlihat gusar.
"Baa-san!" Teguran Sasuke membuat Nenek Chiyo menoleh—kulihat dia membelalakkan matanya ketika melihat kami.
Astaga! Demi lubang–lubang bekas jerawat yang ada di pipi Rock Lee—teman sekelasku, aku tahu kemana arah mata Nenek Chiyo. Penampilan kami—aku yang memakai kemeja kebesaran Sasuke dan Sasuke yang bahkan hanya memakai celana panjang hitamnya. Tanpa atasan—topless; dengan luka di tubuhnya.
"Tuan muda baik–baik saja?" Tanya Nenek Chiyo sedikit panik.
"Hn." Jawab Sasuke santai.
"Aku obati, Tuan."
"Biar aku saja." Potongku cepat, "biar aku yang mengobatinya." Lanjutku seraya tersenyum ramah pada Nenek Chiyo.
.
[Normal]
Sakura dan Sasuke duduk berhadapan di tempat tidur mereka. Sakura dengan teliti mengobati luka Sasuke seraya sesekali meringis saat mengusap luka itu dengan alkohol. Berbanding terbalik dengan ekspresi wajah Sasuke yang datar saja, padahal dia yang mempunyai luka itu.
"Apa kau selalu mengamuk saat marah? Kita, 'kan bisa bicara baik-baik." Sakura bertanya dengan nada lembut.
"Karena itu kau harus membiasakan diri." Sahut Sasuke tak acuh.
"Apa?"
"Karena tanganku bertindak lebih cepat dari mulutku." Jawab Sasuke seraya menghembuskan napas pelan.
"Kenapa kau melukai dirimu sendiri?" Tanya Sakura hati–hati.
"Lebih baik dari pada melukaimu." Gumam Sasuke.
'Ya Tuhan, jadi Sasuke sengaja melukai dirinya sendiri karena tidak mau melukaiku. Dia seolah–olah menyakitiku. Padahal dia menyakiti dirinya sendiri. Entah kenapa aku ingin menangis sekarang.' Rintih Sakura dalam hati.
"Kau tak apa?" tanya Sasuke sedikit lembut.
"Aku baik–baik saja." Sakura mengangguk—merona.
Mengingatkan kembali pada kegiatan mereka beberapa saat lalu. Sakura tersanjung karena Sasuke lebih memilih melukai dirinya sendiri dari pada melukai Sakura. Ya, walaupun bukan berarti Sakura luput dari rasa sakit. Ia masih merasa sedikit perih di beberapa bagian tubuhnya dan sakit di kepalanya karena Sasuke menarik rambutnya seperti bermain layang–layang, tapi ini tidak separah saat pertama. Sasuke bahkan tidak memukul atau menamparnya. Sebagai gantinya dia menghantamkan tangannya pada meja kayunya.
Untuk bagian wajah, Sakura hanya merasa bibirnya bengkak dan sedikit lecet karena ciuman panasnya dengan Sasuke. Aa—wajahmu merona kembali, Nona Uchiha.
"Masalah Sai-sensei …" Sakura ragu untuk melanjutkannya.
"Sensei?" Sasuke terkejut.
"Hm, sensei! Dia guru di sekolahku. Aku tidak tahu kalau kalian saling mengenal, tapi aku berani bersumpah, aku tidak ada hubungan apa–apa dengannya. Aku tidak memeluknya seperti yang kauteriakkan tadi."
"Sudah! Jangan di bahas lagi. Aku sudah cukup." Sial, Sai sudah berani mempermainkan raja iblis.
"Hm ..." Sakura mengangguk paham.
"Jadi, apa aku harus mengamuk dulu, baru kau mau memanggilku Sasuke-kun, eh?" Sakura tersentak dan mendadak gugup. Iya; dia ingat tadi dia memanggil Sasuke dengan sufiks-kun. Memalukan.
"Sudah selesai. Aku mau tidur."
Cepat–cepat Sakura berguling kesamping Sasuke. Menenggelamkan tubuh mungilnya ke dalam selimut—tidur memunggungi pria itu. Gadis musim semi itu sungguh malu—tentu saja.
Sreet!
Grep!
Sakura merasa sebuah tangan melingkar di perutnya menarik ke belakang sehingga punggung Sakura menyatu dengan dada bidang Sasuke—Suaminya.
"Maaf." Bisik Sasuke.
"Hmm." Gumam Sakura seraya mengangguk pelan.
.
.
.
.
.
Pagi telah menjelang dengan suara burung–burung yang menyambut terbitnya matahari. Udara segar berhembus dengan sejuk, sinar–sinar mentari bersinar cerah menerobos ke kamar utama bangunan megah milik Presiden Direktur Uchiha Corps—menyinari sepasang manusia yang masih bergelung selimut yang hangat.
Gadis musim semi itu bergerak pelan saat sinar matahari menembus kelopak matanya dan saat membuka mata, pemandangan yang pertama ia lihat adalah dada telanjang prianya. Dengan gerakan super slow-motion Sakura mengadahkan kepalanya—menatap wajah tidur Sasuke, dan mulai menyadari bahwa posisi tidur mereka; saling berpeluk dengan kepala Sakura yang bersandar di dada bidang Sasuke. Astaga! Dia ingat sekali, semalam bukan seperti ini posisi mereka.
Merona. Lagi. Wajahmu. Sakura.
Chup!
Sakura membelalakan kedua matanya saat menerima ciuman kilat Sasuke. Prianya sudah bangun? Kapan? Sakura menarik tangannya yang melingkar di perut Sasuke—menjauhkan diri.
"Hn, selamat pagi." Sapa Sasuke lembut—anpa senyuman. Masih seorang Sasuke yang kaku.
"Pagi."
.
Setelah membersihkan diri, Sasuke dan Sakura berama–sama berjalan menuruni tangga untuk sarapan, tapi langkah kaki Sakura memelan di belakang Sasuke saat melihat pemandangan menakjubkan di ruang makan. Ini mimpi atau nyata?
Naruto sedang menyantap sarapannya. Ya Tuhan, pemilik rumahnya saja bahkan belum keluar kamarnya, tapi apa yang dilakukan Supir mahal sialan itu? menikmati sarapan di rumah orang pagi–pagi begini? Tidak tahu malu. Pikir Sakura kesal.
Sakura boleh terkejut dengan kenyataan betapa kurang ajar supirnya, tapi saat Naruto menyadari kehadiran pemilik rumah dan mulai mengarahkan matanya untuk melihat sepasang suami istri itu, Naruto langsung menyemburkan air mineral yang nyaris di telannya.
Brusssssh!
Mulut pria blonde tampan itu menganga sempurna.
Hanya seperti itu sampai Sasuke dan Sakura duduk bergabung dengan dirinya di meja makan. Sakura memasang ekspresi hati–hati melihat Naruto yang seperti meneliti dirinya, sedangkan Sasuke bersikap tak acuh seakan di ruangan ini hanya ada dirinya dan makanan.
"Kau menularkan 'Khilaf tingkat neraka-mu' pada Nona, Teme?" tanya Naruto retoris. "Kau yang memukulinya?" gantian pertanyaan itu tertuju untuk Sakura.
Bruk!
Sasuke memukul kepala Naruto dengan koran yang ada di mejanya, sedangkan Sakura menjangkau kotak tissue yang ada di meja dan langsung melayangkannya ke arah kepala Naruto—tepat sasaran. Well done! Tentu saja pertanyaan Naruto mengarah pada penampilan Sasuke dengan plester di kepala dan perban yang membalut kedua telapak tangannya.
"Oi! Aku, 'kan hanya bertanya. Pecat saja aku! Pecat!" Naruto tak terima. "PECAT!" teriaknya sekali lagi sebelum pergi meninggalkan meja makan.
Sepeninggalan Naruto, keheningan menyelimuti Sasuke dan Sakura. Sampai beberapa manit kemudian, Nenek Chiyo datang dengan membawa nampan. Dengan gerakan sopan, Nenek Chiyo memindahkan sarapan Naruto ke atas nampan.
"Mau diapakan makanan itu, Baa-san?" tanya Sakura.
"Tuan Naruto ingin memakan sarapannya di kamar. Dia bilang tidak mau sarapan dengan Tuan Sasuke."
Sakura membelalakkan matanya. "APA?"
.
[Sakura]
Oh, jadi begitu. Pantas saja dulu saat malam pertama kami, Sasuke memilih tidur di sofa ruang tengah. Padahal seingatku di rumahnya ada kamar tamu, jadi kamar tamu itu milik Naruto. Dan hari ini aku mendengar sendiri dari Sasuke—Naruto bukanlah sekedar supirnya.
Naruto adalah sahabat. Keluarga. Penjagaku. Sekaligus petugas pencari wanita? Nah, yang terakhir sialan sekali. Dan aku tahu sekarang, di luar urusan pekerjaan, Naruto adalah orang terdekat Sasuke—selain aku.
Setelah selesai sarapan dan merayu Naruto agar berhenti merajuk, aku dan Sasuke berjalan beriringan menuju sebuah mobil yang terparkir di depan rumah diikuti Naruto di belakang kami. Tentu, masih dengan bibir manyunnya itu.
Naruto sudah masuk ke dalam mobil saat Sasuke membukakan pintu penumpang untukku. Dia meraih pinggangku mendekat kearahnya lalu memberiku sebuah kecupan singkat di puncak kepalaku.
Ya. Merona. Lagi. Untuk kesekian kali.
Brugh!
Pintu mobil tertutup dan aku sudah duduk manis di bangku belakang. Ketika Sasuke baru saja menutup pintu di sampingku saat sebuah mobil berwarna hitam memasuki halaman rumah dan berhenti di samping mobil Naruto. Pintu belakang mobil itu terbuka menampilkan seorang wanita cantik berhelaian indigo sepinggang dengan tinggi tubuh semampai dan wajah polos yang luar biasa. Ia berjalan anggun mendekati mobil kami. Tidak, lebih tepatnya ke arah Sasuke yang masih berdiri di samping mobil lebih tepatnya.
"Hinata?" Gumam Naruto.
"Sasuke-kun ... A-aku merindukanmu." Suara lembut wanita itu bahkan masih terdengar jelas olehku yang duduk di dalam mobil, dan apa yang dilakukan wanita itu selanjutnya sukses membuatku membelalakkan mataku dan membuat dadaku merasa berdenyut perih—sesak.
Wanita itu memeluk Sasuke, Sasuke-Ku—Suamiku.
.
.
.
.
.
.
/To be continue/
A/N : Selamat malam minna! :D Untuk chapter ini ... maaf Sasa ngga bisa bales review kalian karena Sasa lagi sibuk tugas dead line. Tapi, semua review kalian Sasa baca ko, terima kasih buat reviewer, followers dan favers untuk fic ini. Kiss & Hug. ^,^
Sign, with love.
UchiHaruno Misaki.
