Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Dirakimra17
Edited © UchiHaruno Misaki
.
[U. Sasuke x H. Sakura]
Bab 5
.
[Sakura]
"Hinata?" Gumam Naruto.
"Sasuke-kun ... A-aku merindukanmu." Suara lembut wanita itu bahkan masih terdengar jelas olehku yang duduk di dalam mobil, dan apa yang dilakukan wanita itu selanjutnya sukses membuatku membelalakkan mataku dan membuat dadaku merasa berdenyut perih—sesak.
Wanita itu memeluk Sasuke, Sasuke-Ku—Suamiku. Siapa dia? Berani–beraninya.
Siiiiiing!
Aku sedikit tersentak saat tiba–tiba Naruto menginjak pedal gas-nya. Apa maksudnya ini?
"Hey! Berhenti!" Teriakku—protes padanya. "Naruto, berhenti!" Namun supir tak tahu diri itu tak mengacuhkanku. Brengsek!
.
[Normal]
Sakura luar biasa kesal. Naruto tidak berhenti dan justru melaju terus menuju sekolah Sakura, padahal Sakura penasaran setengah mati pada wanita yang dengan lancang memeluk suaminya itu. Astaga! Bahkan ia meninggalkan mereka berdua. Lalu apa yang akan mereka lakukan sekarang setelah tadi berpelukan? Berciuman? Bercinta? Gila! Apa wanita itu salah satu wanita Sasuke?
Shit!
Setibanya di sekolah, Sakura langsung mengambil tas ranselnya, lalu dengan kasar ia mencoba membuka pintu.
Cklek! Cklek!
Tidak bisa, pintunya terkunci. Sakura memandang Naruto yang ternyata sudah menatapnya sedari tadi.
"Maaf, Nona. Sasuke pasti akan menjelaskannya padamu nanti." Ucap Naruto pelan dengan wajah menyesal.
Sakura tersenyum sinis. "Buka pintunya!" desisnya tajam.
Mood Sakura benar–benar hancur. Ya Tuhan, ia merasa seperti istri simpanan sekarang—saat dunia tidak mengetahui pernikahannya, saat ia merasa disembunyikan. Kini, ia melihat wanita lain datang menghampiri suaminya dan ia harus menyingkir seperti dirinya adalah benalu. Sialan sekali—perih di hatinya melebihi sakit saat Sasuke membentak, mengamuk atau bahkan memukuli dirinya.
Naruto menghela napas berat, lalu ia pun membuka kunci mobil itu. Tanpa memandang Naruto, Sakura dengan matanya yang mulai terasa panas itu keluar dan berjalan gontai memasuki Sekolahnya meninggalkan Naruto yang tengah menatap punggungnya sendu.
'Maafkan aku Nona.' Batinnya penuh penyesalan.
.
Di kelas pun Sakura hanya berdiam diri. Tak ada yang ia lakukan, bahkan ia mengabaikan semua teman–temannya.
Drrrt, drrrt, drrrt!
Gadis musim semi itu menatap layar ponselnya saat benda itu bergetar—Presdir Uchiha is calling. Hati Sakura bergemuruh, bukan karena debaran pesona seperti biasa. Justru yang sekarang ia rasakan adalah rasa marah yang akan meledak di puncak kepalanya. Begitu terus, sampai panggilan itu berkali–kali tak diacuhkan olehnya.
Sakura maraih ponselnya saat gertaran itu berhenti. Melihat kontak Sasuke dengan tatapan datar, lalu dengan lincah jari–jari lentiknya menari di atas layar. Mengganti nama 'Presdir Uchiha' menjadi 'Mr. Sadismacocism'. Persetan kalau ia akan ditendang Sasuke ke neraka karena nama itu. Siapa yang peduli?
Setelah merasa cukup, Sakura mulai membuka buku-buku pelajarannya tanpa minat. Hm, setidaknya ia masih membutuhkan buku pelajaran itu untuk mengalihkan pikirannya dari Suami brengseknya itu—ya setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Nona Muda Uchiha itu.
.
Kriiiiiiiing!
Jam istirahat dimulai dan semua siswa berhambur keluar kelas. Kelas ramai karena teman–temannya sibuk bermain dan mengobrol. Awalnya Sakura benar–benar tak berniat kemana–mana karena perasaan yang buruk adalah alasan terbesarnya, sedangkan perih di bagian pusat tubuhnya menjadi sebab kecil. Damn! Sangat mengingatkan sekali pada siapa peremuk tubuhnya semalam.
"Hei-hei lihat itu!"
"Ada apa?"
"Lihat! Siapa itu? Ada apa dengan mereka?"
"Waah! Iya-iya ada apa ya?"
"Aku tidak tahu, tapi pria itu tampan sekali."
"Hyaa! Kau benar, tapi mereka itu sedang apa di sana?"
"Entahlah."
Sakura mengangkat kepalanya dari meja saat meresa ada sesuatu yang aneh. Kelas tiba–tiba menjadi lebih riuh dari sebelumnya dan teman–temannya sibuk berlari keluar kelas seraya berbisik–bisik. Sakura mendongak menatap keluar jendela, tapi ia tak bisa melihat apapun karena terhalang kerumunan siswa.
Dengan penuh penasaran, Sakura berjalan ke depan kelas—ikut bergabung dengan yang lain, dan kedua bola mata Sakura nyaris saja keluar dari tempatnya saat melihat apa yang ada di hadapannya.
Di sana! Sai berdiri dengan tegap; ekspresinya tegang, dan yang membuat Sakura nyaris mengangakan mulutnya adalah; Sai tengah berhadapan dengan seorang pria yang berdiri di depan Sai dengan santai, tapi tak bisa di pungkiri, lawan Sai memancarkan aura gelap dan tanpa ampun membuat suasana di sana terasa sangat mencekam. Rahang pria itu mengeras, kedua matanya menyipit penuh dengan ancaman—menatap tajam Sai.
Uchiha Sasuke.
Sasuke dengan kemeja hitam yang pas di tubuhnya, tanpa jas dan dasi. Seperti biasa, rambut raven yang sedikit berantakan. Pria itu terlihat panas sekali. Betapa Sasuke adalah pria berumur yang sialan seksi bahkan di mata gadis–gadis belia yang masih berseragam. Penampilannya seakan ingin menelanjangi siapapun wanita yang menatapnya. Merayu mereka untuk bisa di bawa keatas ranjang. Lihatlah kelakuan suamimu, Haruno Sakura!
Sakura bahkan masih terdiam kaku saat Sasuke berbalik dan berjalan pelan ke arahnya. Gadis itu menatap Sasuke tanpa jeda. Sampai mata mereka berdua bertemu, Sasuke menyeringai licik padanya. Sakura tahu, dengan tatapan dingin mata suaminya itu memerintah agar Sakura mengikutinya. Apa yang baru saja yang ia lakukan? Demi Tuhan, jaga jantungmu Haruno!
.
Sakura berdiri di samping sofa itu dengan gelisah, sedangkan Sasuke hanya menyeringai tipis melihatnya. "Berhenti membuatku marah." Desis Sasuke saat berdiri tegak di depan Sakura setelah mereka tiba di ruangan kepala sekolah—meminjam ruangan kepala sekolah untuk pripasi mereka. Jangan lupakan Sasuke yang bisa melakukan segalanya.
"Apa yang kaulakukan di sini?" Sakura mencoba menantang Sasuke, seperti Sakura yang dulu. Lupakan percintaan mereka semalam, dan ingat saja tragedi menjijikan tadi pagi.
"Haruskah aku mengajarimu cara mengangkat teleponku?" Sasuke menggeram di tenggorokannya. Marah? Jelas.
Sakura menatap mata suaminya itu tajam. "Jangan mengalihkan pembicaraan. Untuk apa kau di sini?"
Sasuke menyeringai keji. "Untuk memberi pilihan pada guru kesayanganmu itu. Kau atau dia yang angkat kaki dari sekolah ini."
Sakura membelalakkan matanya tak percaya. "Kau gila! Kenapa?" Pekik Sakura.
"Karena dia dan KAU." Menegaskan sekali kalau ini berhubungan dengan Sakura-Nya. Ya, Sakura-Mu Sasuke.
"Tapi kami tidak punya hubungan apapun. Kau keterlaluan! Egois!" desis Sakura geram.
"Aku?" nada geli terselip di antara bibir tegas Sasuke yang panas.
Sakura mendengus remeh. "Kau mengamuk semalam dan melakukan hal konyol sekarang karena kau mengira aku memeluk Sai-sensei, tapi kau sendiri? Tadi pagi kau bahkan berpelukan dengan wanita lain di depanku, dan lihat! Aku tidak melakukan apapun. Tapi kau?"
Sasuke terkekeh sinis. "Cemburu, Nona?" tatapan Sasuke menggelap. Berjalan pelan ke arah Sakura—mengeliminasi jarak mereka. Dan—
Bruk!
Sasuke melewati tubuh Sakura, dan pria raven itu duduk di sofa yang berada di samping Sakura.
Sakura tersenyum datar ketika mendengar penuturan Suaminya itu. "Cemburu? Yang benar saja!" jawaban Sakura membuat Sasuke menatapnya dingin, dan—
BRUUK!
SREEET!
Sasuke membanting Sakura kepangkuannya. Ulangi!
KE PANGKUANNYA!
"Kyaaaa! A-apa yang kaulakukan?" Suara Sakura bergetar. Hatinya terguncang bak gempa ribuan skala richter.
"Hn, lanjutkankanlah marahmu! Aku akan mendengarkan." Kedua mata Sasuke berpancar geli ketika mengucapkannya.
Sakura menekankan kedua telapak tangannya pada dada Sasuke—menjaga jarak.
'Jaga jarak, Nona! Kuatkan tanganmu. Abaikan keinginan primitifmu untuk melingkarkan tanganmu di lehernya! Memeluknya! Kemudian berciuman panas. Dia menggigitmu, dan—STOP! Kalian sedang bertengkar, sialan!' akal sehat Sakura berteriak tak terima.
Saat Sakura dengan Sasuke sedekat ini, sekarat sajalah kau wahai akal sehat. Sakura memasang ekspresi hati–hati—penuh antisipasi.
"Bagaimana bisa kau melakukan itu pada anak pemilik yayasan?" Bisik Sakura pelan.
Apa? Bagaimana bisa sekarang Sakura bertingkah seakan mereka sedang bergosip. Berbisik–bisik? Marah itu berteriak, Nona! Tapi baiklah, lebih masuk akal daripada kau pingsan di pangkuan Sasuke. Lihat! Sasuke tersenyum iblis saat ini Nona! Karena untuk yang kesekian kalinya ia berhasil mengendalikan gadisnya—selalu.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Pemilik yayasan? Sialan sekali, kau bahkan tak tahu dia itu pria brengsek yang tidak punya apa–apa." tanya Sasuke—ah lebih tepatnya itu bukanlah pertanyaan, tapi pernyataan.
"Maksudmu?" tanya Sakura masih berbisik. Mana suaramu, hei!
"Dia bukan anak pemilik yayasan. Si brengsek itu ada di sini karena kenalannya adalah guru di sini. Guru sastramu."
Deg!
"..." Sakura bungkam dengan mata yang membulat sempurna.
Sasuke menyeringai puas. "Sakit hati? Karena dibohongi guru kesayanganmu, hn?" Sindir Sasuke.
Sakura mengerjapkan matanya, lalu pada detik berikutnya gadis berhelaian serupa dengan bunga kebanggaan Jepang itu menyeringai pedih. "Tidak." Bisik Sakura pelan dan itu membuat Sasuke mendengus remeh. "Tapi, asal kau tahu. Diselingkuhi lebih sakit daripada dibohongi oleh seorang guru kesayangan." Dan Sasuke langsung mengeraskan rahangnya ketika mendengar penuturan gadis di pangkuannya itu.
Itu dia Sakura—That's the point. Berhenti membahas Sai kesayangan. Cari tahu siapa wanita pagi-nya tadi. Sial, Sasuke tidak hanya dengan wanita malam. Dia bahkan punya wanita pagi.
"Hn, dia bukan siapa–siapa. Kau tidak perlu memikirkannya." Sahut Sasuke dingin.
Sakura menatap Sasuke datar. "Kau yakin? Setelah aku ingat kalau dia wanita yang kaucium setelah dua minggu penikahan kita dulu di mobil? Setelah aku ingat dia adalah wanita yang sama yang kautemui di kantormu dengan alasan meeting? Setelah aku melihat acara pelukan kalian tadi pagi? Sekarang kau melarangku memikirkannya? Kau bercanda?" Sakura berusaha tenang saat batinnya menggeliat marah. Tanpa sadar tangan Sakura yang berada di dada Sasuke meremas kemeja pria itu.
Sasuke menyipikan matanya—waspada. "Kita bicarakan ini di rumah. Siapkan dirimu untuk pelajaran berikutnya." Sasuke mengangkat tubuh Sakura. Memindahkannya dari pangkuannya yang hangat, ke atas meja yang dingin. "Aku pergi." Sasuke merunduk dan—chup! Pria itu melumat leher Sakura pelan. Basah—tanpa bekas.
'jelas sekali kau tidak ingin menjelaskan apapun padaku. Kau brengsek Sasuke! Kau pengecut!' batin Sakura kecewa.
Suara riuh dan bisik kagum mengiringi kepergian Sasuke. Pria itu bahkan tidak menoleh lagi pada Sakura. Meninggalkan Sakura dengan sejuta rasa kecewa. Prianya muncul di sekolah seenak hati, dengan kalimat dan tatapan mengintimidasi. Astaga! Tapi niat Sakura mencakar wajah tampan Sasuke sirna hanya karena lumatan mulut sialan Sasuke di lehernya. Bisa seberapa gila lagi Sasuke-Mu, Nona?
Dan pengumuman dari wali kelasnya membuat Sakura mengerti, alasan suaminya yang selalu sibuk itu menyempatkan diri mengunjungi sekolahnya. Ya, Shimura Sai mengundurkan diri. Tidak ada angin, tidak ada hujan—ini pasti ulah Sasuke.
.
.
.
.
.
Sakura melangkah dengan gontai. Keluar dari gerbang sekolahnya menuju sebuah mobil mewah yang rasanya ingin ia bakar saja. Agar manusia yang mengendap di dalamnya hangus. Sakura akan dengan senang hati memumikan supir sialan itu. Ia pantas dipajang di museum. Sakura membuka pintu penumpang dan—
Brak!
—ia membanting pintu mobil dengan sangat kasar.
"Astaga! Jantungku! Jantungku!" Naruto tersentak dan berteriak terkejut. "Nona, pelan–pelan!"
Sakura menatap supir pribadinya itu datar. "Pulang. Sekarang!" ujarnya dingin.
"Siap!"
Sampai dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan antara Naruto dan Sakura. Ya, Sakura menyalahkan Naruto atas kejadian tadi pagi. Kalau saja kaki sialan Naruto tidak menginjak pedal gas, mungkin sekarang dia tahu siapa wanita yang memeluk suaminya. Kalau begini, Sakura pasti sulit mencari tahu. Potong leher Naruto kalau Sasuke mau dengan suka rela menjelaskan siapa gadis itu. Kalian ingat, 'kan? Sasuke bahkan kabur tadi. Pengecut!
.
Sampai di rumah, Sakura tidak langsung masuk kamar. Ia mampir ke meja makan. Dia punya rencana. Sasuke memang tidak pandai bicara, tapi bukankah Naruto sangat 'pandai' bicara?
"Aku mau bertanya." Sakura duduk di salah satu kursi.
"Padaku?" Naruto memasang wajah polos nan menyebalkannya.
Sakura menatap Naruto datar. "Aku tidak mungkin berbicara pada meja. Hanya kau satu–satunya manusia di sini. Bisakah kau bersikap selayaknya manusia?"
"Kau masih marah?" tanya Naruto pelan.
"Hn." Sepertinya kau telah tertular penyakit trendmark suamimu itu, eh Nona Uchiha.
"Baiklah. Tapi berbaikan dulu, baru kau boleh bertanya. Aku tidak suka mengobrol dengan hawa permusuhan, dattebayo." Naruto mengulurkan jari kelingkingnya pada Sakura.
"Ya Tuhan, padahal aku yang memakai seragam sekolah, tapi kenapa pria berumur ini yang sangat kekanakan." Gumam Sakura tak habis pikir dengan tingkah laku pria matang di depannya itu, tapi pada akhirnya Sakura pun menyambut kelingking Naruto.
"Kau mau tanya apa?" Naruto duduk di kursi tepat di seberang meja Sakura.
"Siapa wanita tadi pagi?"
"Hinata." Naruto menghela napas. "Namanya Hyuuga Hinata."
"Apa hubungan wanita itu dengan Sasuke?"
"Aku rasa sudah waktunya kau tahu. Akan aku jelaskan." Naruto berdehem. Mengucapka huruf 'A' beberapa kali. A… A… A…! Mengambil suara. "Oke, waktu kami masih sekolah saat tingkat 2 dulu yang aku tahu Sai menjalin hubungan dengan Hinata."
Sakura menatap Naruto bingung. "Sai-sensei dengan Hinata? Kalian satu sekolah?"
"Ya. Kami saling mengenal satu sama lain. Setelah itu aku tidak tahu bagaimana persisnya, saat di tahun kelulusan kami, Hinata berpisah dengan Sai. Dan …"
"Dan?"
"Dia bersama Sasuke."
Sakura menatap Naruto dingin. "Jadi mereka mantan kekasih?" tanpa sadar Sakura mengepalkan tangannya kencang. Brengsek!
"Tidak juga." Naruto menggeleng pasti. "Mereka tidak pernah menjalin kasih. Saat itu yang aku tahu Hinata mengungkapkan perasaannya pada Teme, tapi suamimu hanya diam saja mengabaikan wanita itu. Setelah itu, Hinata selalu menempel pada Sasuke. Awalnya Sasuke selalu menghindar, tapi kemudian karena satu alasan, dia membiarkan saja Hinata melakukan sesuka hatinya. Sampai sekarang."
Sakura memejamkan kedua matanya sejenak. Bernapas. Jadi Sasuke bermusuhan dengan Sai karena memperebutkan seorang wanita? Dan itu Hinata. Wanita dengan tinggi semampai dan wajah mulus seperti tanpa dosa. Wanita yang sangat anggun dan cantik. Berbanding terbalik dengan dirinya. Sakura benci harus membandingkan dirinya dengan Hinata.
"Bagaimana kabarmu dengan Sai?" tanya Naruto hati-hati.
Sakura menghembuskan napas pendek. "Tidak ada. Hari ini dia mengundurkan diri karena ulah bos-mu."
"Benarkah?" Naruto nampak terkejut.
"Aku bisa mengerti kalau Sasuke tidak akur dengan Sai karena Hinata. Lalu kau? Apa yang membuatmu juga terlihat memusuhi Sai? Apa kau juga menyukai wanita Hyuuga itu? Atau ... saat kalian masih sekolah, Sasuke sudah membayarmu dengan puluhan juta untuk ikut memusuhi Sai-sensei, eh?" Jelas, Sakura menyindir.
Naruto mendelik tak suka. "Sialan kau! Tentu saja tidak. Anggap saja setia kawan."
Sakura menggigit bibirnya. Oke. Sasuke tidak ada hubungan apa–apa dengan Hinata, itu melegakan, tapi dia harus berhati–hati mengingat Hinata tertarik pada Sasuke. Niat memiliki suaminya pasti ada. Dan sialannya, kemungkinan besar Hinata tidak tahu tentang pernikahan mereka.
"Kenapa?" tanya Naruto ketika melihat Nona-nya itu termenung.
Sakura menggelengkan kepalanya lemah. "Aku gelisah karena wanita itu—Hinata."
Naruto menatap Sakura serius. "Kau perlu bicara dengan Sasuke."
"Ya, akan aku coba." Sakura bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Naruto. Lalu—
Grep!
Sakura memeluk leher pria itu hangat dan tentu saja itu membuat tubuh Naruto menegang.
"Naruto-kun, makanlah yang banyak. Berjanjilah kau akan terus sehat, jangan sakit. Aku benar–benar membutuhkanmu untuk tahu lebih banyak tentang Sasuke." Ucap Sakura pelan. Naruto sempat menganga terkejut beberapa detik, sebelum akhirnya dia nyengir geli seraya melambaikan tangannya.
Ya, lebih tepatnya Naruto melambai ke arah camera CCTV. Pria itu yakin sekali kalau di suatu tempat, Sasuke melihat mereka dengan asap yang keluar dari setiap lubang yang ada di kepalanya.
.
Hari semakin gelap. Di ruang tengah Naruto yang duduk di sofa sedang mengajari Sakura yang duduk di atas karpet berbulu tepat di sebelah kaki Naruto. Pelajaran matematika, ya Narito tengah mengajari pelajaran Matematika, dan ternyata Naruto bukanlah guru yang sabar. Sama sekali bukan!
Naruto mengacak rambut pirangnya frustasi. "Astaga Nona, begini saja kau tak bisa."
Naruto menatap Sakura tajam. "Sasuke, Suamimu itu jenius. Dan istrinya hanya seperti ini?"
Naruto menggigit bibirnya kesal seraya menatap Sakura gemas. "Demi Tuhan, kau memajang kepala yang tidak ada isinya!"
Naruto tertawa tak habis pikir seraya menatap Sakura nyalang. "Hebat sekali gurumu yang tahan dengan murid sepertimu."
Naruto dengan kaca mata membingkai mata indahnya, membantu Sakura menyelesaikan tugas sekolah. Diiringi dengan sumpah serapah. Kalau bukan karena perjanjian: 'Sakura harus patuh selama belajar dengan Naruto', Sakura pasti sudah menyumpal mulut sadis supirnya. Sialan sekali! Sakura rela dicaci maki demi sepuluh nomor tentang aljabar.
Mereka asik mengerjakan soal–soal milik Sakura, sampai tak menyadari kehadiran Sasuke. Sakura mengangkat wajahnya dari buku saat bayangan Sasuke tertangkap matanya. Pria itu berjalan semakin dekat dengan mereka.
"Berdiri, Sakura! Dan menyingkir!" perintah Sasuke yang serta merta di patuhi Sakura.
Duagh!
"Argggh! Kakiku! Tulangku! Dokter! Aku butuh Dokter!" Naruto berteriak–teriak sambil meringis. Berguling–guling di sofa. Kenapa? Sasuke menendang tulang keringnya.
"Sudah kuperingatkan untuk tidak memeluknya." Sasuke terlihat puas.
"Jangan bicara padaku! Setelah aku melakukan visum, pengacaraku akan menghubungimu. Segera!" Naruto berusaha melotot. Belum sadar kalau mata sipitnya tidak bisa melotot.
"Hn." Sahut Sasuke tak acuh.
Naruto mengalihkan tatapannya pada Sakura yang terdiam kaku melihat tragedi di depannya itu. "Dan kau! Kau yang memelukku. Jangan merengek kalau besok suamimu diseret ke penjara karena menganiayaku!" lanjut Naruto sambil berjalan terpincang menuju kamar tamu.
"Eh?" Sakura mengerjapkan matanya lalu menatap punggung Naruto prihatin. 'Itu karma karena kau telah mem-bully diriku tadi Uzumaki Naruto.' Inner Sakura berteriak penuh kemenangan.
Naruto yang malang ...
Sasuke menatap Istirinya itu datar. "Hn, kemasi buku–bukumu! Mulai sekarang kau akan belajar di ruang kerjaku." Perintah Sasuke. Sungguh! Dia tidak memikirkan Naruto yang mungkin sedang berguling di kasur seraya memeluk tulang keringnya. Tidak sedikitpun.
Sekali lagi ... Naruto yang malang.
.
Sesuai perintah Sasuke, kini Sakura berada di ruang kerja pria itu. Duduk di sofa yang menghadap kursi besar Sasuke. Mencoba berkonsentrasi pada bukunya. Ya Tuhan, sulit sekali. Godaan terbesar ada di depannya.
Sasuke duduk dengan tenang dan terlihat fokus pada pekerjaannya. Pria itu bahkan belum membersihkan dirinya, bekerja kembali—itu Sasuke sekali. Berbeda dengan Sakura yang isi kepalanya bercabang. Sesekali melirik Sasuke, saat Sasuke lengah dan Sakura mulai lupa, ia akan melihat Sasuke terang–terangan—menikmati ketampanannya. Kini Sakura bahkan menopangkan dagunya di atas meja. Menonton Sasuke.
Demi kejantanan Sasuke yang mulai mengeras, Sasuke kini tengah menahan sebuah senyuman agar tidak terbit di wajahnya. Mati–matian mempertahankan ekspresi wajahnya yang ia buat serius. Ada apa dengannya?
Sasuke masih memandangi layar di depannya. Ya, layar monitor yang Sakura anggap itu berisi pekerjaan Sasuke. Mana Sakura tahu jika nyatanya layar itu menampilkan hasil rekam camera CCTV di sebuah ruangan—ruang kerja Sasuke. Dengan bar–bar, Sasuke memperbesar gambar Sakura yang sedang memperhatikan suami tampannya. Itu kau—Sasuke. Ya, mereka saling memperhatikan melalui media yang berbeda. Secara langsung dan tidak langsung. Sakura tak menyadari bahwa kini Sasuke tengah memandang wajahnya melewati CCTV itu.
Tidak bisakah suami-stri ini berhenti bertingkah konyol?
.
Jam telah menunjukkan pukul 10 malam, ketika Sakura kembali ke kamar. Merasa bosan karena Sasuke hanya menatap layar monitornya—masih sibuk dengan pekerjaanya. Ya, dia belum tahu. Sakura merangkak menaiki ranjangnya ketika Sasuke masuk kamar.
Dengan gerakan pelan nan menggoda, Sasuke mulai melepaskan dasinya. Melepaskan juga jam tangannya. Meletakkan ponselnya di atas meja. Sungguh—mata Sakura sangat bermasalah. Gerakan biasa milik Sasuke terlihat sangat seksi di matanya kini.
Sasuke kini tengah berada di lemari pakaiannya, dan pada saat yang bersamaan, ponsel Sasuke yang ada di atas meja bergetar. Sakura meringsut ke sisi ranjang yang lain. Mendekati benda yang sedang bergetar itu. Naruto! Itu panggilan dari Naruto.
"Ada telepon untukmu." Sakura memberi tahu. Sasuke mengangkat teleponnya.
"Ada apa?"
'...'
"Hn. Setelah aku selesai, aku akan ke sana. Segera." Sasuke menutup panggilannya dan berjalan menuju kamar mandi.
.
[Sakura]
Itu tadi apa? telepon dari Naruto? Dan Sasuke mau pergi? Jangan–jangan …
"Ugggh!" Tiba–tiba aku merasa paru–paruku menyempit. Sulit sekali bernapas dengan baik. Sasuke akan pergi. Mungkinkah dia akan menemui jalangnya lagi? Aku menutup mataku yang mulai terasa sedikit lembab.
Sial! Sasuke bahkan membersihkan dirinya sebelum pergi. Perih sekali hatiku mengingat saat–saat dia bersamaku. Dia bahkan membuat aku hanya bisa menikmati sisa wangi parfum yang sudah bercampur dengan keringatnya. Wanita–wanita jalang itu diperlakukan lebih baik daripada aku. Atau jangan–jangan Sasuke menanggalkan pakaiannya saat bercinta dengan mereka? Hampir saja aku menangis, jika saja—
Cklek!
Sasuke keluar dari kamar mandi dengan pakaian gantinya—terlihat kasual. Tampan seperti biasa dan wangi. Aku mengikuti gerak–geriknya dengan mataku. Sasuke berjalan ke arahku. Dia mengambil ponselnya dan menatapku.
"Tidurlah. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Sasuke berbalik dan berjalan menuju pintu.
Aku menatap punggung suamiku itu tajam. Tidak! Aku tidak akan membiarkannya pergi! Aku tidak akan membiarkannya meniduri para jalang brengsek itu! Tidak akan. Aku berlari mendahului Sasuke. Tepat setelah Sasuke meraih kenop pintu. Membanting pintu itu agar tertutup lagi, kemudian menguncinya.
BLAM!
CKLEK!
Saat ini entah keberanian apa yang merasuki diriku, dan aku melupakan bagaimana prosesnya sehingga aku bediri di hadapan Sasuke yang mengerutkan keningnya. Dia terlihat bingung dan terkejut, walau sedikit—kami saling menatap.
"Jangan pergi, aku mohon. Kita perlu bicara." Lirihku pelan, semoga Sasuke mendengar.
"Hn, aku masih ada urusan." Sahut Sasuke datar seraya memandangku dingin.
Dia pasti berbohong!
"Tapi kita perlu bicara. Tolong." Kini suaraku muncul. Sedikit meninggi.
"Ada apa denganmu?"
"Bicara. Kau. Dan. Aku." Aku tekankan. Mataku masuk jauh ke dalam matanya.
"Hn, itu bisa nanti. Sekarang—"
"Kau jangan perg!" potongku cepat.
Sasuke menatapku dengan tatapan entah apa artinya. "Maaf aku harus pergi sekarang."
"Aku mohon jangan pergi Sasuke ..." lirihku pelan.
Tap, tap, tap!
Kulihat Sasuke berjalan menghampiriku—ah tidak! Dia tak menghampiriku, tapi ia terus berjalan melewatiku. Kudengar suara kenop pintu tergeser, ya aku yakin dia mulai memutar kenop pintu, apa dia akan benar-benar pergi pada para jalangnya? Atau lebih parahnya ... apakah dia akan pergi menemui—Hyuuga Hinata? Tidak kumohon jangan!
Aku berbalik dan menatap punggungnya sendu. "Kumohon ... jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" aku tak peduli dengan harga diriku untuk saat ini, lebih dari itu ... aku tidak ingin Sasuke pergi meninggalkanku hanya untuk para wanitanya itu.
.
.
.
.
.
/To be continue/
silent reader xD : Yosh. Ini udah update.
Guest : Udah.
gapunya akun : Jika kamu tidak suka cara penokohan yang aku tempatkan, lebih baik kamu ngga usah memaksakan diri baca fanfic tulisanku ya? Aku tau mungkin kamu ngga suka tokoh Hinata melihat bagaimana kamu menyebut karakter itu. Tapi mengenai pertanyaan kamu, kenapa aku suka sekali membuat karakter Hinata menjadi pihak ketiga itu karena tokoh yang aku buat memiliki sifat dan sikap yang sama seperti Hinata. Terlahir di keluarga ternama, memiliki wajah polos, anggun, cantik, dan lembut. Jadi ... adakah tokoh di anime Naruto yang seperti itu selain Hinata? Aku ngga mungkin milih Ino, 'kan? Kamu pasti tau sifat Ino jauh dari apa yang aku sebutin di atas. Karin? Oh itu apalagi. Tenten? Ayolah bahkan sikap Tenten hampir sama kayak Sakura. Temari? Please ngga mungkin banget. Konan? Wanita itu terlalu misterius. Shion? Dia terlalu aneh kalo memerankan tokoh itu. Saara? Apalagi. Ayame? Oh please. Maaf ya, aku tidak bermaksud apapun. Itu semua adalah tuntutan cerita. Dan lagi ... sepertinya semua fanfic yang aku tulis itu selalu salah dan jelek di mata kamu ya? Maaf aku memang bukan penulis hebat dan sempurna. Aku tidak tau bagaimana cerita yang kamu sukai, jadi jika kamu mau baca fanfic sesuai seleramu lebih baik jika kamu bikin cerita sendiri. Bukannya apa, kamu sering review pedes cuma karena fanfic itu tidak kamu sukai. Aku pikir apa yang kamu lakukan itu salah, setidaknya jika kamu tidak suka fic itu lebih baik kamu ngga usah kasih review sekalian. Kami para author cuma menulis cerita apa yang kami khayalkan, kami bukan budak readers. Hargailah apa yang kami kasih untuk kalian para pembaca, bukan sebuah cemoohan hanya karena apa yang kami berikan tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Maaf dan terima kasih.
Guest : Siapa Hinata akan terjawab di chapter depan. Hinata memang milik Naruto ... secara Sasa NHL juga loh ^^ tapi khusus di fic ini ... maaf Hinata bukan milik Naruto.
nyaaaan : Iya semoga saja.
My Lily : Hihi wajar, 'kan Sakura cemburu di saat sang Suami dipeluk cewek lain-,- Fic A. D. T. O. Y Sasa pending dulu ya? Mau namatin fanfic ini dulu.
dewazz : Oke.
Guest : Yosh! Ini udah lanjut.
obin : Ya, terima kasih. Ini udah lanjut.
Guest : Haha ya, jangan khawatir SasuSaku ngga akan pisah cuma gara-gara orang ketiga ko. Ini udah lanjut.
Guest : Udah.
key : Yang sabar ya. SasuSaku akan bahagia pada waktunya kelak. #eaaaa
chiachi : Oke, ini udah lanjut.
YesungKIM : Um, coba deh kamu flashback. Maksud dari kalimat itu adalah; sekarang Sakura masih SMA, 'kan? Dan dia udah tidur sama Sasuke bahkan sebelum Sakura lulus SMA. Nah maksud Naruto ngomong gitu itu Sakura yang belum lulus SMA tapi Sakura udah tidur sama Sasuke. Semoga mengerti ya.
IchiKuran : Salam kenal juga. Haha iya Sasa juga suka scene humor di fic ini. Oke, ini udah lanjut. Terima kasih.
Chichak Deth : Nah ini reader yang setia :D Hallo Chichak-san! Makasih ya udah mau repot-repot review berulang kali buat menyemangatiku. Yosh ini udah lanjut.
taca haruno : Iya Sasa emang mau nuntasin fanfic ini dulu.
Guest : Hai. Iya ini udah lanjut.
Guest : Terima kasih. Yosh! Ini udah lanjut.
Chinatsu : Sabar-sabar. Siapa Hinata akan terjawab di chapter selanjutnya. Ini udah update.
ame : Wah terima kasih sudah mau jujur atas pemikiranmu itu. Jika fanfic ini memang sudah membosankan bagimu, aku tidak merasa keberatan jika kamu berhenti baca fic yang menurut kamu membosankan ini. Toh aku bikin cerita buat yang suka aja, jadi no problem. Thanks.
Log in? Cek PM ya.
Sign, with love.
UchiHaruno Misaki.
