Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Dirakimra17

Edited © UchiHaruno Misaki

.

[U. Sasuke x H. Sakura]

Warn : Lime inside!


Bab 6

.

[Sakura]

Aku berbalik dan menatap punggungnya sendu. "Kumohon ... jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" aku tak peduli dengan harga diriku untuk saat ini, lebih dari itu ... aku tidak ingin Sasuke pergi meninggalkanku hanya untuk para wanitanya itu.

Kulihat Sasuke membalikkan tubuhnya lalu bersandar pada pintu di belakangnya. "Hn?" sahutnya seraya melipat tangannya di dada lalu menatapku datar. "Memang kaupikir aku akan kemana?"

Glek!

Dengan susah payah aku mencoba untuk menelan ludahku. "Me-memangnya kau akan kemana?" aku membeo.

Kulihat Sasuke menyeringai tipis. "Ke ruang kerjaku. Naruto menunggu di sana."

JDEEER!

"APA?" Aku berharap kehilangan kesadaranku saat ini. Adakah sebuah jurang terdekat di sini? Demi Tuhan aku rela masuk jurang tercuram di dunia daripada harus berada di situasi ini.

Kulihat Sasuke tersenyum geli melihatku yang terbengong shock. Ini sangat memalukan. Aku bertingkah seperti seorang perawan yang takut ditinggalkan oleh calon suaminya di hari pernikahan. Aku yakin, merah tomat di pipiku telah menjalar sempurna.

Tap, tap, tap!

Sasuke berjalan mendekatiku yang berdiri dua langkah di depannya. Lalu ia meraih pinggangku dan menarikku mendekat padanya. Tangan kirinya yang bebas meraih pintu—membuka membuka pintu perlahan. Sasuke membawaku bersamanya. Dengan tangan kanan yang melingkar di pinggangku kami pun berjalan menuju ruang kerjanya. Aku, dengan wajah merah dan rasa malu yang seakan bisa menenggelamkanku pun hanya mampu menunduk.

Huwaaaaaaa aku malu SHANNARO!

.

Tap!

Cklek!

Kami tiba di ruang kerjanya, kulihat Naruto sudah menunggu. Kali ini aku tidak terkejut lagi. Bukan Naruto namanya kalau dia tidak kurang ajar seperti itu. Benar. Lihatlah dia sedang duduk di sofa dengan kaki yang diselonjorkan ke atas meja—jangan lupakan perban yang melilit di kaki kirinya. Tampat di mana Sasuke menendang tulang keringnya tadi.

"Apa–apaan tanganmu yang ada di pinggangnya itu eh Teme?" Sinis Naruto pada Sasuke yang masih setia melilitkan tangan kekarnya posesif di pinggangku.

Sasuke mendudukkan aku di sofa yang sama dengan Naruto. Dia sendiri menuju kursi besarnya.

Kulihat Sasuke menatapku dengan seringaian yang sialan seksinya itu. Oke, aku punya firasat buruk melihat seringaiannya itu. "Hn, aku dicurigai akan meninggalkannya. Nonamu posesif sekali padaku." Sasuke dengan nada gelinya, dan wajah datarnya itu. Che, lihatlah dia terlihat menikmati leluconnya sendiri.

Sialan!

'Makanya, lain kali pakai otakmu Sakura! Bertanya dulu, kau punya mulut bukan? Sungguh! Kakimu bertindak lebih cepat daripada mulutmu.' Apa itu? Apa baru saja aku dicemooh oleh inner-ku sendiri. SIAL.

Inner brengsek kau tak membantuku SHANNARO!

.

Sasuke dan Naruto mengerjakan beberapa berkas di ruangan ini dengan serius—dengan aku yang menikmati keduanya dalam pandanganku. Walaupun menyebalkan, wajah Naruto enak dipandang sebenarnya. Dia tampan dengan kulit tan-nya itu maksudku. Dan sekarang aku tahu satu hal lagi; Naruto tidak benar–benar menjadi supirku. Dia masih membantu pekerjaan kantor Sasuke.

Hanya sekitar 30 menit, mereka selesai. Kulihat Naruto membawa berkas-berkas yang diperlukannya. Ia melambaikan tangannya padaku saat berjalan santai menuju pintu, hendak keluar. Namun dilangkahnya yang kelima, dia berhenti. Kemudian berjalan lagi—dengan terpincang dan merintih.

"Aghh—! Kakiku ... kakiku ... Ibu kakiku." Rintihnya seraya melirikku dari ekor matanya itu.

Astaga! Dia lupa kalau dirinya sedang berakting? Haha oh astaga! Demi diriku yang sudah tidak perawan lagi! Pria pirang itu benar–benar sinting!

.

[Normal]

"Jadi apa yang ingin kaubicarakan?" Sasuke menatap Sakura dalam dengan kedua manik onyx indahnya itu.

Sakura meremas ujung kemejanya—takut. Ia tak yakin akan membahas ini sebenarnya, tapi ini tidak akan berhasil kalau dia tidak mencoba. Sakura menelan salivanya susah payah.

Mengerti kegugupan Sakura, Sasuke berjalan santai menuju sudut ruangan—dekat sebuah rak yang menyerupai perpustakaan mini. Sasuke duduk berselonjor di karpet mewahnya yang halus dan menumpuk kakinya.

"Hn, kemarilah!" panggil Sasuke, Sakura dengan sedikit ragu pun melangkah mendekat. Lalu gadis musim semi itu duduk di karpet yang sama. Bersila di samping Sasuke—menghadap pria itu.

"Ummh ..." Sakura menghirup napasnya dalam. Sekali lagi. "Maaf telah mencurigaimu." Lirihnya pelan.

"Hn." Sasuke menggumam seraya mengangguk singkat.

"Aku berpikir, kau tak perlu melakukannya lagi." Sakura mulai memberanikan diri mendekati topik utama.

"Hn?" Sasuke menatap wajah istri belianya itu dengan raut bingung yang tak kentara.

"Kau tahu maksudku." Sakura berbisik. "Jangan melakukannya lagi." Sasuke menatap Sakura dengan sedikit mata terbelalak.

BINGGO!

"Kau tahu, berapa banyak wanita yang aku tiduri selama ini?" Sakura menatap Sasuke tajam.

"Dasar!" Desis Sakura, membuang pandangannya dari Sasuke.

"Aku melakukannya untuk melatih diriku agar sembuh dari kelainan sialan itu." Desis Sasuke pelan.

"Aku tahu!" Jawab Sakura cepat. Menatap Sasuke lagi. "Tapi bagiku, lebih baik kau menamparku dan membuatku babak belur daripada kau harus tidur dengan ratusan wanita murahanmu itu!" Bentak Sakura emosi. Jujur sajalah! Kau meragukan kalimatmu sendiri, Sakura.

"Tidak." Sasuke menggeleng tegas. "Bagiku … lebih baik aku tidak menyentuhmu daripada harus membuatmu terluka. Hanya demi memuaskan nafsuku, hanya demi menyalurkan hasratku, aku harus melukaimu. Aku masih belum memaafkan diriku sendiri, Sakura." Lirih Sasuke sendu.

'Tapi aku bisa gila hanya dengan membayangkan kau memasuki mereka.' Gerutu Sakura dalam hati.

"Uchiha! Kalau kau tidak berhenti dari kebiasaanmu tidur dengan wanita murahanmu itu, maka aku tidak akan mengizinkanmu menyentuh tubuhku." Ancam Sakura serius. Malu sebenarnya karena kini pembicaraan mereka terlalu intim.

Sasuke menatap Sakura geli. "Cemburu lagi, hn Nyonya Uchiha?" Sasuke tersenyum miring.

Sakura mendengus kesal, lalu kembali menatap suaminya serius. "Lalu bagaimana dengan wanita pagi-mu?"

"Wanita pagi?" beo Sasuke datar.

"Wanita malam adalah wanita yang kau temui di malam hari. Wanita pagi adalah wanita yang menemuimu di pagi hari. Ta-di pa-gi!" Nah, Sasuke kini sudah mengerti.

"Kau tahu namanya?" desah Sasuke.

"Hinata!" Jawab Sakura cepat.

"Hn."

"Kau pernah tidur dengannya? Membuatnya mendesah? Dan …" Sakura menggigit bibirnya frustasi. Dia benar–benar bisa gila. Melihat itu semua membuat Sasuke terkekeh pelan. Oh harus pria raven itu akui betapa lucunya saat Sakura cemburu seperti ini—menggemaskan.

"Tidak." Jawab Sasuke tegas setelahnya. "Tidak pernah. Aku tidak pernah tidur dengan wanita yang aku kenal atau yang , kecuali kau." Lanjut Sasuke seraya tersenyum tipis.

Sakura menatap sang suami tampannya itu sendu nan ragu. "Kau yakin?" ada sebuah pukulan menghantam hati Sakura saat ia mendengar sendiri pengakuan Sasuke—meniduri wanita lain.

"Hn. Mereka adalah wanita–wanita yang tidak aku kenal. Mereka pun begitu, mereka tak mengenalku dan melihat wajahku karena selain denganmu, aku tidak penah meniduri wanita dengan penerangan seperti ini. Gelap. Selalu dalam keadaan gelap gulita." Jelas Sasuke.

"M-maksudmu?" tanya Sakura tak mengerti.

"Kami selalu melakukan dalam ruangan yang gelap. Wanita–wanita itu hanya tahu, mereka melayani pria kaya raya yang membayar tubuh mereka dengan mahal. Tanpa tahu bagaimana wajahku sebenarnya. Aku bahkan selalu memakai parfum lain saat bersama mereka." Sakura menganga mendengar kenyataan dari mulut suaminya itu.

Sasuke menggerakkan jari telunjuknya. Isyarat agar gadis itu mendekat. Sakura meringsut mendekati Sasuke. Selalu sesuai keinginan, 'kan? Pesona Uchiha memang tidak bisa diragukan.

"Jadi, walaupun aku sudah meniduri ratusan wanita di luar sana…" Sasuke sengaja menghentikan kalimatnya, dan—

Sraakk!

Sasuke merobek kemeja Sakura. Memperlihatkan buah dadanya yang terbungkus bra hitam, dan tentu saja membuat gadis itu tersentak. "Hanya tubuh ini yang bisa aku nikmati keindahannya," lanjut Sasuke tenang sambil memperhatikan tubuh Sakura dengan tatapan seduktif. "Kau adalah satu–satunya wanita yang aku lihat dalam keadaan telanjang."

Blushh! Meronalah pipimu Sakura.

Sial!

Sasuke menundukkan kepalanya—mengarahkan kepalanya pada buah dada Sakura. Dengan gerakan pelan, Sasuke mengecup belahan dadanya. Sakura menegang, tentu saja. Tapi dengan sigap dia mendorong tubuh Sasuke pelan, lalu merapatkan kembali kemejanya—menutup tubuhnya dari pandangan mesum Sasuke. Pembicaraan ini belum selesai.

"Tetap saja! Kau merasakan mereka. Kau meraba mereka." Sakura menjawab dengan antusias.

Sasuke melipat tangannya di dada dan menatap Sakura dengan tatapan iblis. "Hn, meraba? Tidak. Aku tidak meraba mereka, tapi aku memukuli mereka, Nona."

Sakura menatap Sasuke dalam. Benar! Apa yang dikatakan Sasuke benar. Tidak hanya mereka. Sakura juga jadi salah satu yang dipukuli, 'kan?

"Aku melakukannya juga padamu." Sasuke menatap Sakura dengan tatapan terluka—penyesalan yang tidak ada habisnya. "Dan Hinata … jika dulu kau pernah melihat kami berciuman, itu dia yang menciumku. Bukan aku yang menciumnya." Jelas Sasuke tegas.

"Itu sama saja, kau tahu? Kau bahkan bisa menolaknya, 'kan? Tapi apa yang kulihat? Kau bahkan terlihat sangat menikmatinya saat itu." Sergah Sakura panas. Hinata lagi, Hinata lagi. Sakura muak!

"Hn, itu berbeda. Kau salah paham, menikmatinya? Bahkan aku merasa jijik pada bibirku waktu itu." Sahut Sasuke serius.

"Okay." Sakura mengangkat tangannya—menyerah. "Kenapa kau … bisa seperti ini?" Suara Sakura terdengar ragu.

Sasuke menaikkan alisnya sesaat. Terkejut dengan pertanyaan Sakura. Sasuke memejamkan mata sejenak. Saat ia membuka mata. Sakura bisa melihat dengan jelas sorot mata Sasuke yang gusar, gugup, dan terluka. Ini tentang kesedihan.

"Hn, bukan sesuatu yang bagus untuk di dengar. Aku memperingatkanmu." Lirih Sasuke pelan.

Sakura menggeleng tegas. "Aku masih ingin mendengarnya." Ingat? Sakura adalah gadis paling keras kepala yang Sasuke temui.

"Teman." Napas Sasuke mulai memburu. "Itu temanku. Aku bersamanya hampir sepanjang waktu. Aku menemaninya hampir setiap malam. Kau tahu, aku selalu menghargai teman – temanku."

"Kenapa dengan temanmu itu?" tanya Sakura penasaran. Jujur saja melihat mata Suaminya yang menyiratkan luka membuat hati Sakura merasa tercubit, tapi tidak! Sakura harus tahu apa penyebab Sasuke menjadi seperti ini.

"Nasibnya kurang beruntung, aku rasa. Dia tinggal dengan ibu tirinya—seorang mucikari. Seorang pelacur berumur yang gila. Dia penderita juga. Maksudku …" Sasuke menggelang pelan. Sedikit ragu. "Menganiaya pria muda yang tidur dengannya." Lanjut Sasuke lirih.

Deg!

Sakura memandang Sasuke sendu. 'Itu mirip denganmu, Uchiha.' Sakura membatin.

"Temanku tertekan sendirian. Jadi, aku menemaninya, dan itu membuatku selalu menonton ibu tirinya. Hampir setiap malam."

'Jadi Sasuke trauma dengan apa yang dilihatnya.' Batin Sakura miris.

"Kau yakin untuk melanjutkan? Aku rasa, aku … sudah cukup." Sakura merasa iba, sungguh. Tidak pernah dia melihat Sasuke yang terluka seperti ini. Wajah pria-nya memucat dan merah mewarnai matanya.

Sasuke menggeleng pelan. "Tidak, kau harus mendengarnya Sakura." Sasuke mengulurkan tangannya—membelai pipi Sakura. "Sampai suatu hari, terjadi kesalah pahaman di antara kami. Dia menghindariku. Aku berusaha menjelaskan, dan aku mendatangi rumahnya." Sasuke tersenyum kecut. Kali ini tidak tampan sama sekali di mata Sakura. Tidak sama sekali! Sakura benci wajah Suaminya yang seperti ini.

"..." Sakura hanya diam mendengarkan.

"Malam itu, dia menyerahkan aku pada ibu tirinya." Lirih Sasuke.

JDEEER!

Bagai tersambar petir jantung Sakura seakan berhenti berdetak saat itu juga dengan mata terbelalak lebar. "Sasuke ... kau—?" Sakura tersentak. Luar biasa terkejut. Ini bukan sekedar tontonan. Jadi Sasuke pernah menjadi korban? Sudah cukup! Sakura sudah tidak tahan lagi.

Bruk!

Sakura spontan memeluk Sasuke. Berusaha menenangkan—mencoba meringankan bebannya. Sasuke menarik tubuh Sakura semakin mendekat. Mendudukan gadis itu di pangkuannya, menyamankan posisi mereka.

Sakura mengangkat kepalanya dari bahu Sasuke. Dalam jarak yang sangat dekat, mereka saling menatap. "Kau bisa lari." Tekan Sakura. Kenapa Sasuke tidak lari saat itu?

"Tidak saat para pengawal pelacur brengsek itu menangkap dan mengikatku. Aku tak bisa kemana–mana." Sasuke terlihat sangat rapuh—menyedihkan.

"Dan kau masih menyebut orang seperti itu sebagai teman? Mana ada teman seperti itu?" Sakura meninggikan nadanya. Bersumpah membenci 'teman' Sasuke itu. Sasuke menangguk—ada.

"Guru kesayanganmu." Bisik Sasuke di telinga Sakura.

DEG!

Sai? Benar? Sakura menutup mulut dengan telapak tangan kirinya, tak percaya—tidak mungkin. Orang brengsek yang membuat Sasuke seperti ini adalah Sai? Shimura Sai? Demi Tuhan dia tidak ingin percaya.

"Sai? Kalian dulu berteman?" tanya Sakura di tengah rasa shock-nya

"Lebih dari sekedar teman. Dia sahabat baik kami. Aku, Naruto dan Gaara." Jelas Sasuke sendu.

"Tapi dia menghancurkanmu." Sasuke mengangguk sekali. "Dan apa itu karena Hinata?"

"Hn."

"Jadi itu alasanmu membiarkan Hinata di sekitarmu?" Membalas dendam rupanya. Membalas Sai dengan membiarkan Hinata berada di dekatnya.

"Hn."

"Naruto tahu?"

"Hn."

"Gaara-nii?"

"Tidak."

Ya Tuhan, Sasuke-mu yang malang Sakura. Sakura termenung dengan perasaan berkecamuk. Jadi ... Sai yang tega memberikan Sasuke pada Ibu tirinya yang hyper dan sadis? Mengapa ada manusia jahat seperti Sai? Ya Tuhan, sesak! Sakura tak bisa membayangkan apa yang wanita tua itu lakukan pada Sasuke hingga meninggalkan trauma mendalam. Sakura merasa dirinya terlalu bodoh karena sempat menganggap Sai lebih baik dari Sasuke. SIAL. Sai jauh lebih brengsek dari Suaminya. Ya, Sai lebih brengsek dari suamimu Sakura karena dialah Sasuke menjadi seperti ini.

"Aku belum selesai." Sasuke meminta perhatian Sakura kembali yang termenung di pangkuannya.

"Aku sudah cukup. Jangan lagi." Sakura meringis. Tidak ingin mendengar kengerian yang lain lagi. Sudah cukup! Sakura tidak mau mendengar masa kelam Sasuke. Tidak mau.

"Aku memaksamu untuk mendengar ini." Sasuke memaksa.

"Tidak Sasuke. Jangan …" mohon Sakura pilu.

Grep!

Sasuke mencengkeram bahu rapuh Sakura erat, lalu kedua maniknya menatap Sakura dalam. "Aku mencintaimu!" singkat, pada, jelas—to the point.

BANG!

Hati Sakura meledak.

Gadis itu terdiam lemas di pangkuan Sasuke. Banyak kata yang ingin dia ucapkan, tapi tak satupun kata yang keluar dari bibirnya. Sakura tidak salah dengar kan? Sasuke menatapnya dengan kesungguhan. Intens. Seperti akan memangsa gadis mungil itu. Mata Sasuke tidak pernah berbohong.

Blush!

Astaga! Pipimu merah Sakura. Jangan tanyakan kalau masalah merona. Sakura memang selalu merona di tangan Sasuke, bukan?

Chup!

Sasuke mendaratka sebuah ciuman. Di leher Sakura. "Ughh—!" refleks Sakura melenguh pelan. Ia langsung menggigit bibirnya agar suaranya teredam. Bagian itu adalah salah satu titik rangsangnya.

"Aku suka ini." Sasuke menyentuh leher Sakura. Menandai kalau itu adalah tempat favoritnya. "Berdiri, Sakura! Kamarmu menunggu. Tidur! Jangan berharap aku akan mengizinkanmu tidur larut setelah aku mendengar Naruto berkata kalau kau memajang kepala yang tidak ada isinya." Perintah Sasuke datar.

Sasuke sudah kembali. Kembali menjadi Sasuke yang menyebalkan bagi Sakura. Kata-kata datar nan dinginnya, tatapan intimidasi dan tukang perintah. Ya Tuhan, pria ini baru saja mengatakan cinta, 'kan? Tapi apa ini? Sungguh tidak romantis.

Sakura cemberut. Hilang sudah khayalan tentang Sasuke yang akan bersikap manis, menggendongnya ke kamar atau memeluknya semalaman. Tapi ... tak dapat gadis itu pungkiri kini ia sangat bahagia. Dan akhir malam ini, Sakura menjadi sangat tolol. Diam. Melamum. Dengan wajah yang selalu merah di kamarnya.

Sasuke mencintainya.

.

Setelah Sakura meninggalkan Sasuke sendirian di ruang kerjanya, pria itu berdiri . Berjalan menuju jendela besar yang sudah diperbaiki setelah tragedi mengamuknya kemarin. Sasuke memandang ke luar—menatap langit. Menerawang jauh. Ia memejamkan mata, dan kembali mengingat masa kelamnya.


Flashback

"Kau salah paham. Aku bisa menjelaskan." Sasuke berdiri di depan Sai.

"Salah paham katamu? Kau kira aku akan percaya? Hinata sendiri yang bilang padaku bahwa kau ingin bersamanya. Aku tak menyangka kau bisa menusukku seperti ini, Sasuke." Sai mengeras.

"Tidak." Sasuke mengelak tegas.

"Hentikan omong kos—" ucapan Sai terputus saat pintu terbuka. Ibu tirinya.

Prang!

Wanita itu melempar gelas yang dibawanya ke arah Sai—mengenai kepala pemuda eboni itu. Beruntung karena tidak menimbulkan luka serius. Tidak ada darah.

"Kau tidak membawa pesananku, Brengsek!" Teriak wanita itu. "Siapkan dirimu!"

"Maaf, Mom." Sai berkata pelan. "Aku membawanya. Dia ada disini, untukmu." Mata Sai mengarah pada Sasuke.

Sasuke membelalakkan matanya. "Shimura Sai!" Sasuke membentak, tak percaya sahabatnya akan melakukan ini padanya.

Wanita itu menatap Sasuke lapar. "Wow! Max, bawa pesananku ke kamar. Aku ingin menikmatinya." Mata wanita itu berbinar melihat Sasuke. Tersenyum nakal yang terlihat sangat menjijikkan.

3 orang pengawal Mom menyeret Sasuke. Sesekali memukul, saat Sasuke mencoba melawan. Tapi perlawanan itu sia–sia. Dia di bawa ke kamar wanita itu yang beraroma sex. Puntung rokok, botol minuman dan kondom bekas pakai berserakan di mana–mana.

Dan semua terjadi begitu saja.

Flashback off


Sasuke membuka mata. Kembali dari dunia memori yang gelap. Masa lalu itu sudah bertahun–tahun berlalu, tapi Sakura membuat Sasuke harus mengingatnya lagi. Seakan–akan semua itu baru terjadi kemarin. Membuka luka di hati terdalam Sasuke.

.

.

.

.

.

Seharian ini Sakura mendapatkan mood yang sangat bagus. Saat pagi di sekolah pun, dia selalu tersenyum riang. Ya, walaupun senyum itu sirna sesaat ketika melihat beberapa tempat yang mengingatkan pada Sai. Mengingat lagi cerita Sasuke. Teringat lagi wajah terluka pria yang mencintanya.

Tapi itu tidak menghilangkan rasa suka cita dalam hatinya. Semenjak semalam itu, ponsel adalah benda yang paling ia sukai, kini. Ya, melihat foto pernikahan mereka lama–lama. Tersenyum sendiri. Merona sendiri. Nah, kau terlihat lebih sinting dari Naruto, Nona Uchiha.

Dan di sinilah Sakura, berdiri menghadap jendela besar di ruang tamu. Menatap setia air hujan yang jatuh dari langit. Sakura memeluk dirinya sendiri, membayangkan betapa dinginnya di luar sana. Grrr…

Di belakangnya, Naruto dan Nenek Chiyo sedang duduk di sofa. Naruto sedang ber-selca ria. Membuat banyak foto yang isinya hanya gambar wajahnya saja. Lalu meng-upload ke akun twitternya. Jangan lupakan kalau dia pasti akan menulis tentang cuaca di sana.

Gambar wajah sendunya akan ditulis hari yang mendung. Wajah cerianya ia tulis hari yang cerah. Mungkin saja saat Sasuke menendang tulang keringnya kemarin, dia akan memasang foto dengan wajah memelas. Menulis, hujan badai. Petir di mana–mana. Tsunami mengguncang! Oh baiklah itu terlalu berlebihan.

Si Sinting yang tampan!

Nenek Chiyo hanya tersenyum melihat tingkah Naruto sambil mengupas buah yang ada di meja. Pria pirang dengan tanda lahir di kedua pipinya itu kadang duduk, berdiri, jongkok bahkan berbaring di karpet. Untuk apa? percuma kalau pada akhirnya wajahnya saja yang memenuhi satu frame penuh.

Sakura yang tengah termenung langsung menegakkan tubuhya, dan melihat serius ke depan. Ke arah sebuah mobil yang perlahan masuk ke halaman—Uchiha Sasuke. Sakura menerbitkan senyum simpul di wajahnya. Ia sudah tak sabar ingin Sasuke-Nya.

"Selamat datang Tuan." Nenek Chiyo berdiri, menyambut kedatangannya.

"Ini terlihat seperti rumah." Kalimat Sasuke seadanya. Sakura hanya diam memerhatikan Sasuke.

Sasuke berjalan pelan menuju sofa single, tidak jauh dari Naruto. Dan setiap langkahnya, membuat batin Sakura protes tak terima. Kenapa Sasuke tak menghampirinya? Mengapa dia justru menghampiri Supir menyebalkan itu? Bahkan Sasuke tak meliriknya sedikit pun.

Che, kau mengharapkan apa Haruno? Dia menghampirimu lalu memeluk dan menciummu? Setelah dia menyatakan cinta padamu? Kau terlalu berharap banyak. Mimpi saja! Kau menikahi Uchiha Sasuke. Dan dia masih seorang Uchiha Sasuke. Tanpa romantisme yang berlebihan. Sakura pun mendesah berat dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap jendela—membelakangi Sasuke yang tengah duduk di sofa.

"Apa yang kaulakukan di sana?" Tanya Sasuke, membuyarkan lamunan Sakura.

"Melihat hujan." Jawab Sakura tak peduli dengan posisi masih membelakangi Sasuke.

"Hn, benar–benar gadis 17 tahun." Sasuke melonggarkan dasinya. "Sakura!" panggilnya tegas.

"Hm?" Sakura menyahut dengan gumaman singkat seraya membalikkan tubuhnya menghadap Sasuke yang berdiri jauh di depannya.

"Aku ingin mencoba sesuatu." Sasuke berdiri.

"Mencoba sesuatu?" gumam Sakura seraya menatap Sasuke tak mengerti.

"Baa-san, aku rasa dapur membutuhkanmu sekarang." Sasuke berkata dengan nada mengusir yang sangat sopan. "Dan kau Dobe! Masuk ke kamarmu, sekarang!" Sasuke memerintah, seakan berbicara pada anak nakal—pada Naruto.

Nenek Chiyo pergi tanpa diminta dua kali, sedangkan Naruto bangun dari duduknya. Bersungut–sungut sebal seakan ia di suruh pergi ke neraka. Sungguh! Kesenangan Sasuke, merusak kesenangan Naruto.

"Kau, tetap di sana." Sasuke menunjuk Sakura seraya berjalan cepat menghampiri gadis itu setelah Nenek Chiyo dan Naruto meninggalkan ruang tamu.

Sret!

Dengan gerakan cepat, Sasuke membalik tubuh Sakura. Membuatnya menghadap jendela. Halaman depan yang basah karena hujan adalah pemandangan Sakura sekarang. Sasuke yang berdiri di belakangnya menekan tubuh Sakura pada kaca jendela yang besar.

"Ohh!" Sakura terkejut dengan perlakuan Sasuke yang tiba-tiba.

Sasuke mengurung Sakura dengan kedua lengan kekarnya yang ia letakkan di sisi kanan dan kiri tubuh Sakura.

"Pegang tanganku! Yang kuat! Jangan lepaskan apapun yang terjadi!" Bisik Sasuke dengan nada perintah yang mutlak.

Sakura ragu, tapi ia tetap mematuhi. Menyentuh pergelangan tangan Sasuke yang ada di samping kanan dan kirinya—menempel pada kaca jendela. Sakura memegangnya, mencengkeramnya erat.

Tiba–tiba tubuh Sasuke merapat kepadanya, dan Wow! Sakura bisa merasakan benda keras itu. Ereksi Sasuke. Sangat keras menempel sempurna di pinggulnya.

"Sasuke…" lirih Sakura saat merasakan Sasuke mulai bergerak di belakangnya.

Terus! Menekan, menekan dan semakin menekan Sakura pada kaca yang ada di depan gadis itu. Sasuke menggerakkan pinggulnya maju–mudur. Bergerak liar di belakang Sakura. Menusukkan kejantanannya pada pinggul Sakura, kadang Sasuke sedikit merendah agar menyentuh bokong bulat istri belianya itu.

"Pegang tanganku kuat! Jangan biarkan aku menyakitimu." Sasuke berbisik dengan suara berat sarat akan gairah. Sakura mencengkeram tangan Sasuke semakin kuat, menekannya pada kaca.

Jangan sampai Sasuke menyakitinya!

Tidak ada pakaian yang terlepas, tidak ada sentuhan dari kulit ke kulit kecuali bibir Sasuke yang dengan rakus menghisap leher dan tengkuk Sakura. Walaupun mereka dalam posisi dan gerakan seperti sedang bercinta, tapi Sakura sadar, hatinya yang terdalam sudah memberitahu kebenarannya. Sasuke sedang belajar mengandalikan dirinya. Mereka tidak bercinta, tapi mereka melakukan therapy.

Melupakan segala gairah yang membuncah dari dalam diri Sakura. Ia menahan dorongan Sasuke. Melupakan nikmat dari kejantanan Sasuke yang sesekali menggesek kewanitaannya. Meski terhalang beberapa lapis kain. Mengabaikan kebutuhan yang semakin mendesak. kebutuhan untuk dipuaskan.

'Jangan mengacaukan pertahanan Sasuke, Sakura!' Naluri Sakura mengingatkan.

Sasuke menggeram. Ternyata lebih sulit dari yang dia bayangkan. Sasuke mengira, melakukan 'seks di luar' seperti ini akan mudah baginya untuk mengendalikan, tapi ini tidak mudah. Dia hampir tidak bisa mengontrol gairahnya pada Sakura. Tangannya sudah terasa gatal. Ingin menyentuh Sakura-Nya. Oh, shit! Setidaknya Sasuke ingin menjabak rambut Sakura.

Sebenarnya, pegangan Sakura pada tangan Sasuke dirasa masih cukup rapuh untuk Sasuke. Kalau Sasuke mau, ia bisa menyingkirkan tangan Sakura dengan mudah. Tapi tekadnya adalah mencoba metode ini. Hanya dengan membayangkan Metode ini saja, sudah membuat ereksi Sasuke menegang seharian di kantor.

Dengan gerakan dan desakan yang terus menggila. Sasuke mulai mengangkat tangannya. Menjauh dari kaca. Ingin menghampiri helaian rambut Sakura yang menggoda, tapi Sakura merasakan gerakan tangan Sasuke.

Dugh!

Sakura membanting pergelangan tangan Sasuke agar menempel pada kaca lagi. Mencengkeram lebih kuat. Lebih Kuat. Sakura memejamkan matanya. Berbisik dengan susah payah.

"Kau bisa." Napas Sakura semakin terengah. "Kau bisa, sayang. Bertahanlah!" lirih Sakura tulus seraya menatap bayangan Sasuke lewat kaca jendela.

Sayang?

Demi Tuhan, tega 'kah kau menyakiti Sakura-Mu yang memanggilmu sayang, Sasuke?

Sasuke menggeram parah. Suaranya nyaris berteriak. Dia bergerak lebih cepat, cepat dan cepat. Mencari sesuatu yang dia cari. Menggesek liar kejantanannya pada tubuh bagaian belakang Sakura. Mencari puncak yang tengah ia daki. Dan—

"Eunghhh—!" Suara Sasuke tertahan. Melepaskan tangannya dari genggaman Sakura. Membalik tubuh gadis itu dengan cepat. Menyambar bibir ranum yang sedari tadi hanya ia bayangkan. Melumat keras sambil menekan kejantananya pada tubuh Sakura. Menekan kuat saat pelepasannya terjadi. Sakura bisa merasakannya. Milik Sasuke yang menempel di perutnya, berkedut beberapa kali.

Sakura mendorong dada Sasuke pelan. Butuh bernapas. Ia menatap Sasuke yang memejamkan mata dangan napas yang memburu. Sakura melirik ereksi Sasuke yang terbalut celana abu–abu. Basah! Celana bagian depan Sasuke basah dan membuat Sakura tersenyum geli.

Sasukenya berhasil. Ia mendapatkan klimaksnya tanpa menyakiti Sakura. Awal yang baik.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, Sasuke sudah berangkat bekerja pagi–pagi sekali. Karena ada keperluan mendadak, jadi dia harus pergi ke kantor lebih awal dari biasanya. Sekarang Sakura menatap bayangan dirinya di cermin. Setelah menyapu wajahnya dengan bedak ringan dan memulas bibir tipisnya dengan lip tint merah before blossom, Sakura berjalan ke meja kecil yang ada di dekat ranjang. Meraih ponselnya.

"Ini aneh." Sakura berbisik pada dirinya sendiri. Menatap layar ponsel yang memasang foto pernikahannya dengan Sasuke.

Bukan! Bukan!

Bukan foto itu yang aneh. Sakura mengerutkan kening. Melihat tanggal di menu utamanya. Dia sadar satu hal. Dia tidak mendapat periodenya bulan ini. Aneh? Demi Tuhan, itu tidak aneh Sakura. Itu wajar. Mengingat kau bersuami, kalian berhubungan dan tidak ada pengaman. Di mana letak keanehannya kalau kau tidak mendapatkan masa berdarahmu?

Sakura meletakkan ponselnya. Terburu keluar kamar dan mencari Nenek Chiyo. Di dapur, wanita separuh baya itu tersenyum pada Sakura saat Nonanya itu mendekat. Sakura menghentikan langkahnya, berhadapan dengan Nenek Chiyo. Sakura menghembuskan napas. Mulutnya terbuka beberapa kali, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia ragu, malu, gugup dan … takut.

"Ada apa Nona?"

"Umm …" Sakura meremas tangannya. "Baa-san ... tolong belikan aku alat tes—kehamilan." Suara Sakura nyaris hilang di akhir kalimat.

Nenek Chiyo tersentak. Terkejut, tapi dia tidak menghakimi. Sudah cukup ia melihat Nonanya sedang berdiri dengan tubuh gemetar. Ketakutan. Dengan bijaksana ia tersenyum lembut, mencoba menenangkan.

"Baik Nona."

Nenek Chiyo berbalik. Meninggalkan Sakura yang masih mematung dengan pikirannya. Nenek Chiyo yang beranjak meninggalkan dapur, melihat Naruto yang berdiri tidak jauh dari mereka. Di belakang punggung Sakura. Nenek Chiyo menempelkan dari telunjuknya di bibir. Memberi isyarat pada Naruto untuk tetap tenang. Nenek Chiyo tahu Naruto mendengar semuanya. Naruto mengangguk paham.

.

DEG!

Dua garis!

Sakura meremas alat tes kehamilan yang ada di tangannya. Dia hamil. Sungguh, sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia senang? Jujur saja iya, tapi dia terlalu takut. Dia bahkan masih memakai seragamnya sekarang. Dan dia melupakan tentang sekolah. Ya Tuhan, hamil. Hamil tidak pernah ada dalam bayangannya. Ini terlalu mengejutkan bagi Sakura.

Dia butuh Sasuke.

Dengan cepat Sakura keluar dari kamarnya. Mencari Naruto, dan dia melihat pria itu sedang berbicara serius dengan Nenek Chiyo di ruang tengah. Sakura berjalan teburu kearah mereka, wajahnya pucat. Memberi petunjuk untuk Naruto dan Nenek Chiyo tentang prediksi mereka. Gadis ini memang hamil.

"Antarkan aku ke tempat Sasuke, Naruto-kun!" Suara Sakura bergetar, dan dengan mantap Naruto mengangguk.

.

Sesampainya di kantor Sasuke, Sakura langsung berjalan cepat ke arah lift. Ingin segera memberitahu Sasuke. Bagaimana reaksi pria itu? Senang, 'kah? Kecewa, 'kah? Astaga, Sakura benar–benar penasaran. Apa yang akan dilakukan Sasuke setelah ini?

Sampai di depan ruangan Sasuke, Sakura masuk keruangan itu pelan–pelan—mengintip Sasuke. Dia berada di sana. Berdiri menghadap kaca. Memunggungi dirinya. Dan Sasuke, tidak sendirian. Ada seorang wanita tua berambut biru gelap bersamanya.

Dari mereka berdua, tidak ada yang menyadari kehadiran Sakura.

"Menikahlah dengan Hinata segera." Ucap wanita tua itu tanpa basa–basi.

"Tidak." Jawab Sasuke tegas tanpa ragu.

"Kenapa? Kalian sudah bertunangan."

"Itu karena kau yang memintanya." Sasuke meninggikan suaranya.

DEG!

Sakura menutup mulutnya rapat. Wajahnya seperti ditampar. Jantungnya seakan jatuh ke tanah. Bertunangan? Sasuke dengan Hinata? Kapan?

"Aku sudah menikah, Baa-san." Sasuke menggeram frustasi. Baa-san? Ya, wanita tua itu adalah nenek Sasuke. Madam Uchiha istri dari mendiang Kakek Sasuke—Uchiha Madara.

"Apa susahnya menikah lagi? Tidak ada yang tahu tentang penikahanmu dengan gadis ingusan itu. Biarkan saja seperti itu. Dia bisa jadi istri simpananmu Sasuke. Aku yakin Hinata juga tidak keberatan untuk itu. Dia sudah tahu tentang pernikahan kalian, dan dia masih menerimamu."

" Baa-san!" Sentak Sasuke.

Sakura menutup pintu perlahan. Meninggalkan Sasuke dengan Madam Uchiha tanpa membuat mereka sadar akan kehadirannya. Sakura Berjalan keluar gedung sialan itu dengan tubuh gemetar. Kakinya lemas. Beban berat sangat terasa di pundaknya.

Brengsek sekali Uchiha Sasuke. Dia bilang Hinata bukan siapa-siapa, tapi apa ini? Dia bertunangan dengan Hinata? Dan Sakura tidak tahu apa–apa?

BRENGSEK!

Di lobi Sakura tidak menemukan Naruto. Kemana pria itu? Sakura meremas kemeja yang ada di depan dadanya. Air mata tertahan di pelupuk mata. Ini terlalu sakit sampai Sakura tidak bisa menangis. Ia hanya ingin pulang. Taksi. Sakura mencari taksi untuk pulang.

.

Di tempat lain, selesai memarkirkan mobilnya Naruto langsung menuju ruangan Sasuke. Menggunakan lift khusus presiden direktur. Naruto tidak ingin membuang waktu. Setidaknya kalau pasangan gila itu berdebat, ia ada di tengah–tengah mereka.

Naruto sampai di ruangan Sasuke. Masuk tanpa mengetuk seperti biasa. Tapi—

DEG!

"Oh. Madam…" Naruto berdiri kaku sebelum akhirnya menunduk hormat. memberi salam untuk wanita tua yang sangat berpengaruh itu.

"Kau datang?" Madam Uchiha menatap Naruto tidak suka. "Kita lanjutkan ini di rumah. Pulanglah ke rumah orang tuamu." Madam Uchiha pergi meninggalkan ruangan Sasuke dengan wajah arogan dan angkuhnya.

"Hn, ada apa?" Sasuke membalikkan tubuhnya.

"Aku kemari bersama Sakura, tapi aku pikir dia tidak berada di sini sekarang." Ujar Naruto seraya mengedarkan pandangannya pada ruangan Sasuke seolah tengah mencari Nona merah muda-nya itu. Nihil.

"APA?" Bentak Sasuke. Naruto dan Sasuke saling menatap dan memikirkan sebuah kemungkinan di kepala mereka.

Sasuke memijat pelipisnya. Sakura pasti mendengar semuanya. Sial. Ya, sial bagimu Uchiha.

"Sasu … Sakura memakai alat tes kehamilan. Sepertinya dia…" Sasuke melotot ngeri pada Naruto ketika mendengar apa yang dikatakan sahabatnya itu.

"Panggil Dokter Kaguya ke rumah. Perintahkan dia untuk membawa alat selengkap–lengkapnya untuk memeriksa Sakura. Sekarang!" perintah Sasuke telak.

Sasuke mengacak rambutnya. Dia meraih ponsel dan kunci mobil. Berjalan tergesa keluar ruangan meninggalkan Naruto yang menatapnya iba, lalu Naruto pun ikut melangkah menuju basement untuk mengambil mobilnya.

.

Sakura berdiam diri di kamar, memeluk dirinya di atas ranjang. Dunianya terasa runtuh. Dia seperti jatuh ke dasar jurang. Kenapa takdirnya menjadi sialan seperti ini? Sakura meneteskan air matanya. Akhirnya. Air mata itu keluar juga.

Di saat dia kebingungan dengan kehamilan, yang Sakura dapatkan justru bukan Sasuke yang ada di sampingnya. Tapi Sasuke yang bertunangan dengan wanita lain. Sasuke itu suaminya. Suami yang –dia bilang- mencintainya. Kenapa Sasuke bisa sejauh ini? Sakura tidak menyangka Sasuke bisa sebrengsek itu.

Apa salahnya sehingga hidupnya seperti ini?

Sakura menghapus air matanya, saat ia mendengar derap langkah mendekati kamarnya. Dengan pandangan pilu, Sakura menatap Sasuke yang membuka pintu. Berjalan mendekat ke arahnya. Di belakang Sasuke ada seorang berjas putih yang tampak sangat menawan. Dua orang pria dan seorang wanita yang memakai pakaian perawat.

Sasuke menatap Sakura dengan raut penyesalan dan khawatir di balik wajah datarnya itu. Sasuke tahu Sakura mendengar percakapannya dengan Neneknya. Pasti gadis itu marah. Terlihat jelas dari raut wajahnya, tapi Sasuke mengabaikan. Ia akan menjelaskannya nanti. Sekarang yang terpanting baginya adalah memastikan kebenaran tentang kehamilan Sakura. Apa gadisnya baik–baik saja?

"Hn, Dokter Kaguya di sini untuk memeriksamu." Hanya itu kalimat Sasuke—dingin dan datar. Suami macam apa itu?

Setelahnya, Sakura melihat para perawat itu menyiapkan peralatan. Menyulap kamar Sasuke menjadi ruangan praktek dokter kandungan. Ada banyak alat. Termasuk alat USG dan monitor. Sakura hanya diam dan mengamati. Dia sudak kehilangan otaknya sejak keluar dari kantor Sasuke. Pasrah dengan apa yang akan mereka lakukan pada tubuhnya.

Selama kurang dari 30 menit, Dokter Kaguya memeriksa Sakura. Melakukan USG, bahkan mencetak foto janinnya dalam selembar hitam putih. Dan di sudut itu, Sasuke mengawasi. Melihat seluruh proses pemeriksaan dengan cermat. Sesekali menatap Sakura dengan raut cemas. Beberapa kali mata mereka bertemu. Mata Sakura bicara pada Sasuke—tentang rasa kekecewaannya.

Dokter Kaguya mengangguk pada semua pekerjanya. Tersenyum lembut yang singkat pada Sakura lalu menatap Sasuke.

"Saya selesai, Tuan Uchiha."

"Jelaskan hasilnya padaku. Di ruanganku." Sasuke melangkah pergi dari kamarnya. Diikuti dengan Dokter Kaguya di belakangnya.

Sakura menunduk saat melihat kepergian Sasuke dan Dokter Kaguya. Tidak peduli lagi pada sekitarnya. Para perawat yang mulai mengemasi peralatan. Sakura mengelus perutnya. Benarkah di sini ada bayinya? Ini luar biasa. Sebentar lagi dia akan jadi ibu.

.

Setelah Dokter dan para pekerjanya pergi, Sasuke memasuki kamarnya kembali. Dia melihat Sakura sedang duduk di ranjang. Pandangan gadis itu kosong menatap keluar jendela. Tangannya mengelus perutnya pelan. Sasuke sadar, ada bayinya di dalam perut Sakura. Bayi-Nya! Darah daging-Nya.

Tap!

Tap!

Tap!

Sakura menoleh saat Sasuke mulai mendekat. Sasuke dengan penampilan sedikit kacau. Kemejanya sudah keluar dari lingkar celana. Lengan yang digulung asal sampai siku, dan dasi yang longgar di lehernya. Berdiri di depan Sakura, tangan Sasuke yang hangat memegang bahu gadis itu. Meremas sesaat untuk menyalurkan kekuatan.

"Hn, gugurkan saja." Bisik Sasuke yang tertangkap indera pendengaran Sakura. Setelah itu Sasuke berjalan menjauh. Meninggalkan Sakura yang terdiam kaku di dalam kamar—dalam dunia bagai neraka yang ia buat untuk istrinya.

Gugurkan saja...

Gugurkan saja...

Gugurkan—!

DEG!

'Setelah semua yang manimpaku. Ini pertama kalinya dalam hidupku. Aku ingin mati saja, Tuhan!' Rintih Sakura pilu dalam hati.

.

.

.

.

.

.

.

/To be continue/


A : Kenapa di cerita sakura terus yg menderita dan tersakiti?

Q : Iya, tau kok kalau Sakura itu idupnya kasian. Hidup itu adil. Sakura pasti bahagia nanti walaupun gak sama Sasuke xD #kode #oups /Copas Kak Dira/

A : Sakura ko sering sekali ditokohkan jadi lemah dan memohon gitu?

Q : Namanya juga perempuan yang jatuh cinta. Sakura akan lemah jika berhadapan dengan seseorang yang dicintainya itu wajar, 'kan? Di sini tokoh Sakura itu ngga lemah, hanya saja Sakura tidak mau munafik sok tegar atau pergi ninggalin Sasuke, tapi nyatanya Sakura ngga bisa jauh dari tuh si bokong ayam-,- maklumi aja ya? Nantinya juga akan indah pada waktunya. Hidup itu ngga selamanya manis, 'kan? Hidup pasti penuh suka dan duka(?)

A : Kenapa sih orang ketiga selalu orang yg pasti menyukai sasuke, knp bukan sakura., klo seperti itukan di fic ini sakura lebih sering d cemburu dan makan hati.

Q : Haha di sanalah letak kepuasan seorang penulis. Makan hati? Itu bagus, 'kan? Berarti seorang Author berhasil menguras emosi sang pembaca. Lagi pula ... pesona Uchiha Sasuke tidak bisa diragukan lagi. #Wink. Kalo Sasuke yang cemburu itu bahaya, nanti dia nyakitin Sakura lebih parah dong? Secara dia 'kan punya kelainan. Dan lagi, seorang pria sebenarnya tidak mudah cemburu karena para pria lebih memakai akal sehat daripada perasaan. Berbeda dengan perempuan, perempuan itu kebanyakan pake perasaan dari pada akal sehat. Jadi ngga terlalu aneh kalo kebanyakan perempuanlah yang makan hati.

A : Mana ada terapi kesembuhan seorang suami dengan ngeseks bareng cewek lain yg nggak bikin istrinya sakit hati. Kenapa sih Sakura ngga ninggalin Sasuke aja biar jera?

Q : Huwaaa kalian ngga tau beban berat yang Sasuke tanggung selama ini. Emang kalian pikir Sasuke menikmati seks dengan cewek lain? Kalian ngga tau Sasuke juga tersiksa. Dia bahkan jijik sama dirinya sendiri, kalo dia normal pasti dia ngga akan tidur sama jalang itu. Tapi daripada nyakitin Sakura bahkan Sasuke rela tidur sama para wanita bagai gigolo hanya karena dia ngga mau nyakitin Sakura. Apa kalian ngga liat penderitaan Sasuke? Jangan lihat Sasuke dengan sebelah mata dong! Kasian cucuk gue disalahin mulu #Hikss /PelukMbahMadara/ Sakura adalah gadis pantang menyerah, maka dari itu Sakura ngga mudah buat ninggalin Sasuke cuma gara-gara kekurangannya.

A : Kapan fanfic Kakak yang lain dilanjut? Ngga discont, 'kan?

Q : Err ... maaf ide lagi mentok, jadi semua fic aku pending dulu. Tenang nanti pasti aku lanjut ko.

A : Pensaran dengan SasuNaruSaiHina. Konfliknya selain tentang kelainan Sasu itu tentang mereka juga ya?

Q : Iya benar, selain konflik kelainan Sasuke masih ada konflik antara SasuNaruSaiHina. Semuanya saling berhubungan.

A : Kenapa sih selalu Hinata yang jadi orang ketiga di hubungan SasuSaku?

Q : EMANG TOKOH CANTIK KAYA HINATA NGGA BOLEH JADI ORANG KETIGA? xD

A : Hinata ada hubungan apa sih sama Sasuke?

Q : Tuh udah ada jawabannya, 'kan?

A : fict ini sampe berapa chap, Senpai? Terus fict ini bakalan happy ending 'kan?

Q : Fic ini akan ending antara chapter 8/9. Happy ending? Kita liat nanti ya? Sebenarnya mau Sad Ending atau Happy Ending itu akan terlihat indah tergantung dari sudut mana kita memandangnya.

A : Chapter ini kok pendek?

Q : Haha sebenarnya panjang loh, tapi aku sengaja bagi dua karena terlalu panjang chapternya takut pada pegel pas kalian bacanya xD

A : Apakah ada scene NaruHina?

Q : Tidak ada, maaf.

A : Jadi di sini Naruto bukan pacar Hinata ya?

Q : Yap.

A : Senpai dapet flame ya?

Q : Ya, udah biasa.

A : Keluarga besar Uchiha kemana?

Q : Di fic ini cuma fokus ke masalah SasuSaku aja.

A : Bukannya kelaian Sasuke itu lebih ke SADISME ya? Bukan Sadismacocism.

Q : Salah. Sasuke bukan hanya Sadisme, karena Sasuke juga suka disiksa. Jadi Sasuke bukan hanya seorang Sadisme, tapi juga Masokis. Sasuke menyukai keduanya: Disiksa dan Menyiksa. Maka dari itu Sasuke memiliki kelainan Sadismacocism. Masih inget, 'kan pas Sasuke nyakitin dirinya sendiri saat dia bercinta dengan Sakura di atas meja kerjanya?

A : Kayak'nya ceritanya hampir mirip sama ff korea cho kyuhyun yg judulnya "neorago"

Q : #Melongo. PUK! /Tepuk jidat/ Hoiiiiii kan udah aku bilang fic ini emang fic republish dari fic Neorago by Dirakimra17 ! Aduhhh coba baca fic dengan TELITI.

A : Kalo Hinata bukan milik Naruto di sini, lalu Naruto dipasangin sama siapa?

Q : Rahasia... fufufufu #Smirk.

A : Boleh request ga? bikinin fic SakuHina straight dong.

Q : Aaaaa aku juga ngeship pair SakuHina straight selain SasuSaku. Iya Insya Allah kalo ada ide aku bikin fic SakuHina :) Btw, maunya: Male Sakura atau Male Hinata?

A/N : Yosh! Buat yang kasih suport terima kasih banyak ya. Tenang aja flamers ngga akan bisa menjatuhkan seorang UchiHaruno Misaki. Mau ngomong apapun mereka, UchiHaruno Misaki tidak akan DOWN. #Smirk. Satu-satunya yang dapat Misaki DOWN itu adalah ... INDONESIA YANG TIDAK MENAYANGKAN FIFTY SHADES OF SUAMI GUE(?) Aarrrgghhh! Keseeeel! #CurcolDikit :v Yosh, hope you like it mina. Oiya seteleh ini Sasa akan hiatus selama ... satu minggu. Jadi sampai jumpa minggu depan :D

Sign,

UchiHaruno Misaki/Grey's 2nd wife. xD