Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Dirakimra17

Edited © UchiHaruno Misaki

.

[U. Sasuke x H. Sakura]


Bab 7

.

Setelah Dokter dan para pekerjanya pergi, Sasuke memasuki kamarnya kembali. Dia melihat Sakura sedang duduk di ranjang. Pandangan gadis itu kosong menatap keluar jendela. Tangannya mengelus perutnya pelan. Sasuke sadar, ada bayinya di dalam perut Sakura. Bayinya! Darah dagingnya.

Tap!

Tap!

Tap!

Sakura menoleh saat Sasuke mulai mendekat. Sasuke dengan penampilan sedikit kacau. Kemejanya sudah keluar dari lingkar celana. Lengan yang digulung asal sampai siku, dan dasi yang longgar di lehernya. Berdiri di depan Sakura, tangan Sasuke yang hangat memegang bahu gadis itu. Meremas sesaat untuk menyalurkan kekuatan.

"Hn, gugurkan saja." Bisik Sasuke yang tertangkap indera pendengaran Sakura. Setelah itu Sasuke berjalan menjauh. Meninggalkan Sakura yang terdiam kaku di dalam kamar—dalam dunia bagai neraka yang ia buat untuk istrinya.

Gugurkan saja...

Gugurkan saja...

Gugurkan—!

DEG!

'Setelah semua yang manimpaku. Ini pertama kalinya dalam hidupku. Aku ingin mati saja, Tuhan!' Rintih Sakura pilu dalam hati.

Duniamu kiamat sudah Haruno Sakura.

.

Hujan deras hanya menambah beban dalam hati Sakura. Bimbang dan kebencian menumpuk sesak di dadanya. Uchiha Sasuke. Menyebut nama pria itu saja membuatnya berkali–kali merasakan sesak napas. Pusing bukan main.

Ia seperti mengidap sakit jantung akut yang alergi pada nama Uchiha Sasuke. Sekali ia mengingat nama itu, jantungnya terasa perih. Sakit di dadanya. Tidak habis pikir, bagaimana bisa Sasuke melakukan hal sejauh itu? Pertanyaan itu yang selalu muncul di benak Sakura. Walaupun nyatanya Sakura sudah mempunyai jawaban versinya sendiri. Apa lagi?

Sasuke tidak menginginkan bayi mereka.

Tapi kenapa? Bukankah Sasuke mencintainya?

PERSETAN!

Sakura memejamkan mata. Muak mengingatnya. Apa itu cinta? Bisakah disebut cinta saat Sasuke meminta dirinya untuk membunuh bayi mereka? Itu seorang bayi! Bayi yang bahkan belum terbentuk sempurna di dalam rahimnya. Bayi ... buah hati tanda cinta mereka. Sakura menggeleng. Menggigit bibirnya kuat. Dia sudah menangis seharian sejak Sasuke meninggalkanya siang tadi. Setelah perintah brengseknya itu, Sakura tidak beranjak dari ranjangnya.

Tidak makan. Tidak mandi. Tidak melakukan apapun.

Tok, tok, tok!

Sakura membuka matanya saat mendengar pintunya diketuk. Itu bukan Sasuke. Sakura hanya menajamkan pendengaran saat pintu mulai terbuka. Siapapun itu, Sakura malas untuk menemuinya. Seperti pelayan yang mondar–mandir beberapa kali dengan makanan.

"Nona ..." Itu Naruto—malaikat penolong Sakura. Bisakah dia menolong Sakura kali ini?

Sakura menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Ia berusaha duduk, lalu menatap Naruto dengan kesedihan dan permohonan di matanya. Tanpa perintah, air asin itu mengalir begitu saja—Sakura menangis lagi.

Naruto menatap Nonanya khawatir. "Ada apa? Bicaralah! Sasuke mengurung diri di ruang kerjanya seharian. Kalian bertengkar?"

Sakura menelan ludahnya dengan susah payah. Ia bingung harus memulai dari mana. Semoga Naruto bisa membantu. Semoga Naruto punya jalan keluar. Membujuk Sasuke agar menerima bayi mereka, mungkin?

"Aku hamil." Sakura menunduk. Suaranya nyaris hilang. "Sasuke memintaku untuk menggugurkannya …" Sakura menutup mulut. Isak tangisnya muncul lagi. Kau berubah menjadi gadis cengeng sekarang, Sakura.

Naruto membulatkan matanya—menganga. Apa?

"Aku akan bicara dengannya." Ujar Naruto dingin, lalu pria itu pergi dengan mata sapphire-nya yang memerah—menahan amarah. Serta kedua tangannya terkepal erat.

Astaga! Apa yang akan dilakukan Naruto? Sakura tak tahu dan tidak mau tahu. Saat ini gadis itu hanya diam.

.

Di ruangan lain, Sasuke duduk di sofa dengan bersandar. Tangan kanannya meremas–remas rambutnya frustasi seakan ingin mencabut sampai ke akar, sedangkan tangan kirinya menggenggam gelas yang berisi minuman keras—cairan berakhohol sekelas tequila. Masih. Sejak tadi siang. Pusing. Mual. Berputar. Sasuke mulai roboh. Bajingan mana yang tahan dengan 4 botol tequila?

BRAAK!

Naruto datang dengan mendobrak pintu—nyaris menghancurkan. Tangannya terkepal, lalu berjalan cepat ke arah Sasuke. Meraih kerah kemeja biru tua pria setengah mabuk itu. Mengangkatnya hingga Sasuke berdiri, lalu Naruto tanpa ragu melempar Bos besarnya itu ke lantai.

"Brengsek sialan!" Teriak Naruto. Mengangkangi Sasuke yang setengah sadar. Mencengkeram kerah kemeja Sasuke kuat dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya meninju Sasuke—bertubi–tubi.

Oh! Wajah tampan itu akan hancur.

Buagh!

Buagh!

Buagh!

Setiap detik jam dinding di ruangan Sasuke menjadi saksi betapa beringasnya Naruto menghajar Sasuke. Naruto yang selalu patuh, Naruto yang biasa kekanakan, Naruto yang selalu setia kawan, Naruto yang selalu ada di pihaknya, Naruto yang sangat menyayanginya, kini tengah menghajarnya. Ya, Naruto menghajar Sasuke dengan air mata yang mengalir deras.

Sasuke merasakannya. Naruto terluka bersamanya, dengan rasa kecewa yang seakan mencekik. Bersamaan dengan air mata Naruto yang menyatu dengan darah di wajah Sasuke. Ini keajaiban. Percayalah.

Bruk!

"Apa yang kaulakukan, sialan?" lirih Naruto seraya ikut berbaring di lantai. Di samping Sasuke. Napas mereka menderu bersama. Sasuke yang tersengal dengan darah yang keluar dari mulutnya—bibir, pipi dan pelipis Sasuke yang robek. Good Job, Naruto!

"Aku tidak ingin." Sasuke mulai bicara saat napasnya mulai kembali. "Dia tidak bisa mengandung dengan sehat. Dokter bicara padaku, rahimnya lemah—bermasalah. Dia terlalu muda." Sasuke bernapas sebentar. "Tubuhnya belum siap dengan bayi. Itu berbahaya untuknya." Lirih Sasuke sendu.

Mereka terdiam, menatap langit–langit ruangan Sasuke serius. Seperti menonton film di atas mereka, pikiran keduanya melayang entah kemana. Sasuke meletakkan lengannya di pelipis mata matanya—menutupi pandangannya. Menyembunyikan air mata yang akan keluar.

"Aku tidak mau mengambil resiko kehilangan keduanya. Aku memilih merelakan bayiku untuk saat ini." Mengalir sudah air mata Sasuke. Demi Tuhan, Ayah mana yang tega membunuh bayinya sendiri? Darah dagingnya! Sasukelah orangnya, untuk saat ini biarkan Sasuke bersikap egois. Ia tak ingin kehilangan Sakura, demi Tuhan hatinya ikut hancur ketika ia harus memilih membunuh bayinya dari pada harus kehilangan Sakura, Sakura-nya. Seseorang yang begitu ia cintai, yang begitu berharga baginya.

Silahkan tepuk tangan!

Uchiha Sasuke—Seorang monster yang hobi berteriak, seorang iblis tampan yang menggerakkan tangannya lebih cepat dari mulutnya, seorang ditaktor dengan segudang aturan, seorang pria es yang hemat kata, seorang—Mr. Sadismacocism. Ia menangis untuk janin berusia 4 minggu yang tumbuh lemah dan rapuh di dalam rahim seseorang yang begitu ia cintai.

"Aku menyayanginya, demi Tuhan. Tapi aku tidak bisa kehilangan Sakura." Lirih Sasuke pilu.

Naruto bangkit. Mengelap peluh yang mampir di wajah imutnya. Dia menatap Sasuke lama, sebelum akhirnya membersihkan bekas air mata dengan lengan kemeja yang dipakainya. Seperti bocah 6 tahun yang dimarahi—lalu menangis.

"Ini pertama kali aku memukulmu, 'kan?" Naruto melangkahi Sasuke, lalu mengambil botol minuman keras yang masih tersisa setengah.

Naruto membungkuk dengan posisi kepala yang berada tepat di atas wajah Sasuke. Kemudian pria pirang itu meletakkan botol tersebut di samping kepala Sasuke. "Mati sajalah kau, Teme!" Naruto menatap Sasuke yang berada di bawah kakinya itu dengan tatapan hampa, lalu pria itu kembali berdiri tegak dan memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.

Tap!

Tap!

Tap!

Brugh!

Naruto pergi meninggalkan Sasuke dalam kepedihannya.

.

Naruto melangkah menuju kamar Sasuke, berniat menemui Sakura. Kosong? Kemana gadis itu? Naruto menuruni anak tangga cepat. Kemungkinan–kemungkinan buruk berkeliaran di kepalanya. Naruto menuju ruang tengah. Tidak ada. Di ruang tamu, sepi. Naruto menuju dapur. Astaga! Naruto menahan napas sejenak sebelum menghembuskan kelegaannya.

Di sana!

Sakura duduk di meja makan. Dengan piring penuh nasi, dan mulut yang mengunyah rakus—dia kelaparan. Perutnya berdemo. Mungkin, anaknya juga ikut berpartisipasi dalam demo itu. Sakura menoleh ke arah Naruto yang berjalan ke arahnya dan duduk di hadapan Sakura.

"Kau kenapa?" Sakura terkejut. Mata Naruto merah masih lembab. Baru menangis, keadaan yang sama persis dengan dirinya. Ah, tidak. Kau lebih mengenaskan Sakura.

"Kau tidak ingin bicara dengan Sasuke?"

"Tidak." Sahut Sakura singkat, lalu gadis itu kembali memakan makanannya rakus.

"Kau tidak ingin tahu apa alasannya memin—"

"Tidak." Sakura memotong cepat dan menggeleng tegas. "Aku tidak peduli apa maunya ataupun apa alasannya. Aku yang akan memutuskan hidupku. Ini anakku. Aku sudah berpikir seharian. Aku akan mempertahankannya, dengan atau tanpa Sasuke. Kalau Sasuke tidak mau menerima bayiku, dia ..." Sakura menelan ludah, mulutnya mendadak kering. Sakit. Di tenggorokan—di hatinya juga. "Dia bisa berpisah dariku." Ragu–ragu. Dalam hati terlantun doa. Semoga tidak. Jangan!

Sakura mencoba menguatkan dirinya. Walau itu sulit. Ini bukan pertama kalinya dia tersakiti, 'kan?

Tak!

Sakura meletakkan alat makannya, ya gadis itu sudah tidak berselera pada makanan setelah kalimat pahit yang keluar dari mulutnya sendiri. Sakura bangkit, ingin kembali ke kamar. Tapi saat dia berbalik, dia merasa dirinya ditendang ke jurang. Memisahkan jantung dengan tubuhnya. Sasuke berdiri di sana—tidak jauh dari mereka.

Sakura panik. Tadi itu spontan—nalurinya! Bagaimana ini? Bukan pada kemungkinan Sasuke mendengar omongannya. Ini tentang barang berharga milik Sakura, yang seputih susu, yang selalu tegas, yang biasanya tampan: Kini babak belur di depannya. Lebam dan luka di mana–mana dan lebih parah dari malam kedua mereka. Di ruang kerja yang porak poranda. Astaga Sakura, apa kau ingat telah menikahi pria dengan wajah hancur seperti itu dulu? Tidak, 'kan?

Sasuke kenapa?

Sakura menoleh ke arah Naruto. Tidak ada jawaban dari wajah itu. Naruto membuang pandangannya. Mengerti Sakura yang sedang meneliti dirinya. Ya, ada di sana! Jawabannya ada di sana. Di punggung tangan kanan Naruto yang memerah—Naruto memukuli Sasuke.

Sakura menghela napas pelan, lalu gadis itu kembali menatap ke depan dan mulai berjalan. Bukan berniat mendekat, tapi melewati Sasuke. Mengabaikan bagaimana cemasnya dia pada Sasuke. 'Pria Brengsek ini memintaku untuk menggugurkan bayiku.' Kalimat yang ditekankan Sakura sebagai pagar pertahanan, agar Sakura tidak melompat ke pelukan Sasuke dan mengusap luka–luka itu.

Berhenti sejenak di hadapan Sasuke, Sakura menatap wajah pria itu datar. "Aku ingin kamar untukku sendiri." Sakura mememinta dangan nada memerintah.

"Hn, kau mendapatkannya." Sasuke berjalan meninggalkan Sakura. Kemudian berteriak pada Nenek Chiyo. "Baa-san, berikan aku sesuatu. Aku mulai mual." Itu karena Alkohol. Sakura tahu, baunya menyengat saat mereka berdekatan. Itu bukan Sasuke-nya, atau memang sejak awal Sasuke tidak pernah jadi miliknya? Oh sialan, hati Sakura perih lagi.

Dan akhir sore ini mereka pisah ranjang. Di mulai nanti malam.

.

"Kau tidak mau menjelaskan apapun padanya? Tentang kebenarannya?" Naruto berkata sinis.

"Menjelaskan apa?" Suara Sasuke pelan. Duduk di samping Naruto.

"Oh! Tuhan, ampuni aku! Sejak kapan kau jadi tolol seperti ini, dattebayo?" Naruto berteriak putus asa.

"Sasu…" Suara Nenek Chiyo. Kalau dia sudah memanggil nama kesayangan, itu artinya Nenek Chiyo akan berperan menjadi seorang ibu. "Aku tahu kau adalah orang yang tertutup. Tidak mudah untukmu terbuka. Kau bahkan jarang membagi bebanmu pada orang lain. Aku tahu kau sulit untuk menyelesaikan masalah dengan berbicara. Tapi Nak, ini adalah masalah yang harus kalian bicarakan. Tolong, bicaralah pada Sakura. Dia membutuhkanmu sekarang. Katakan semuanya." Nenek Chiyo meletakkan Sup tomat di depan Sasuke. Sup hangat untuk mengurangi perut bergejolak Sasuke.

"Harus bicara?" Sasuke masih sulit untuk memutuskan.

"Sasu, pria dan wanita itu berbeda. Pria bisa menggunakan otaknya, tapi wanita selalu dengan perasaannya. Kau tidak sedang menghadapi Naruto, tapi kau sedang menghadapi Sakura. Naruto mungkin tahu kalau semua tindakanmu adalah bentuk kasih sayangmu, tapi Sakura tidak akan tahu tanpa kau menjelaskan. Cobalah bicara." Nenek Chiyo mengelus lengan Sasuke sayang.

Naruto menggeser mangkuk Sup di depan Sasuke tanpa suara.

"Hn, akan aku coba nanti, setelah dia memiliki waktunya sendiri." Sasuke mengalah.

"Jangan terlalu lama, dia bisa kabur dan kau akan tahu rasa. Aku tidak mau merawat bos yang gila karena kehilangan istrinya. Catat itu, dattebayo!" Naruto mengomel seraya memakan sup yang dibuat Nenek Chiyo untuk Sasuke.

"Hn, kau! Berhenti mencuri makananku, bakka-Dobe!" Sasuke mendesis tajam.

"Ambil." Naruto mendorong mangkuk dengan sup yang tinggal setengah. "Ambil! Makan sepuasmu. Habiskan juga mangkuknya. Kau selalu mendapatkan yang kauinginkan!" Naruto mengambil sebuah piring besar di depannya. "Kau juga bisa menelan habis ini. Kau memiliki segalanya untuk kau makan Presdir!" Naruto mendengus, lalu berjalan meninggalkan Sasuke.

Sasuke mengabaikan Naruto, dan kini sang Uchiha tunggal itu terdiam merenung.

Seorang Uchiha Sasuke yang tidak bisa bicara. Selalu bermasalah dengan kejujuran lewat mulut. Sasuke yang selalu memilih diam, berbicara dengan mata dan sikapnya. Apa Uchiha Sasuke yang seperti ini bisa meluruskan salah pahamnya dengan Sakura yang keras kepala?

Hanya bicara, Uchiha! Ayo bicaralah!

.

Waktu berjalan begitu cepat. Sangat cepat. Malam sudah datang begitu saja, dan sekarang udara dinginnya malam telah menyapa.

Di kamar Utama, jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Sakura masih duduk terdiam di atas karpet bulunya. Setelah bertemu Sasuke di ruang makan tadi, Sakura sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Dari sejak matahari menenggelamkan diri di peraduannya tadi sore, sampai detik ini. Sakura benar–benar sangat tertekan. Hari ini adalah hari paling terkutuk dalam hidupnya.

Dengan mata yang sembab, Sakura lemas terkulai sambil memeluk dirinya. Dia hanya terdiam—sesenggukan. Yang dia lakukan hanya menangis saja. Tidak ada makan malam.

Sakura tidak menyadari, bersamaan dengan dia menyakiti dirinya sendiri, dia juga menyiksa bayi yang dikandungnya.

Sakura bahkan tidak bisa berpikir lagi tentang pertunangan Sasuke, tentang rencana pernikahan sialan mereka. Sakura terlalu buntu—terlalu sakit. Hanya ada dirinya dan bayinya dalam kepala Sakura. Mencoba melupakan Sasuke.

Bisakah?

Dan Sasuke melihat kepiluan itu. Melihatnya lewat layar canggih kesayangannya. Layar yang menjadi mata Sasuke untuk tetap bisa melihat Sakura-nya.

Mereka sudah tidak berada dalam satu kamar lagi mulai malam ini. Mereka kehilangan kehangatan.

.

.

.

.

.

Sakura menegarkan hatinya. Pagi sudah datang 8 jam yang lalu. Sakura berniat memeriksakan kandungannya setelah pulang sekolah. Terserah Sasuke akan menerima atau tidak, Sakura akan tetap menjadi seorang ibu. Keputusannya sudah bulat.

Sekarang Sakura berdiri di sebuah rak yang berisi bermacam–macam susu untuk ibu hamil di salah satu supermarket. Sakura sibuk memilih: kira–kira susu mana yang bagus untuknya, sedangkan Naruto yang berada di belakangnya hanya berdiam diri dengan keranjang belanja di tangannya.

Hey, sejak kapan Uzumaki Naruto yang cerewet menjadi pendiam seperti ini?

Sakura merasakannya, Naruto berbeda. Pria sinting yang suka mengoceh itu mendadak pendiam seperti orang patah hati sejak kehamilan Sakura.

Benar–benar pendiam. Sakura juga tidak tertarik untuk bertanya atau membahas masalah di antara dirinya dan Sasuke. Kepalanya sendiri nyaris pecah kalau teringat kalimat jahat Sasuke pada dirinya.

.

Kini perjalanan pulangnya bersama Naruto sangat tidak menyenangkan. Tidak ada lagi karaoke berjalan saat mereka berada dalam mobil yang sama. Perbedaan yang menyedihkan.

"Aku ingin ke dokter." Sakura bersuara.

"Setelah pulang dan berganti pakaian. Apa tidak cukup membuat dirimu jadi bahan tontonan saat membeli susu ibu hamil dengan seragam sekolah, Nona?" sahut Naruto datar.

Damn! Sakura melupakan itu. Tolol sekali, Haruno!

Mobil Naruto sudah terparkir manis di halaman depan. Sakura mengernyitkan keningnya saat melihat sebuah mobil mewah berwarna merah menyala terparkir di dekat garasi. Mobil siapa? mobil itu mirip seperti mobil Sasuke dulu sebelum berganti dengan yang baru, berwarna putih.

Sakura ingin bertanya pada Naruto, tapi ia urungkan ketika melihat Naruto yang menyipitkan mata sampai mata itu nyaris terpejam. Pria itu pasti tidak tahu apa–apa.

Sakura melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah.

[Sakura]

Saat aku sudah tiba di ruang tamu, yang aku lihat adalah seorang wanita tua berhelaian hitam kebiruan tergelung rapi dengan dandanan glamour. Wanita yang duduk di kursi tengah itu aku yakin dia adalah Nenek Sasuke yang sering dipanggil Madam Uchiha. Wanita tua yang dengan gilanya menyuruh suamiku menikahi wanita lain. Sialan.

Aku memandangnya dengan tatapan datarku, dan kami saling menatap satu sama lain dalam diam.

Sampai beberapa saat dia hanya melihatku: meneliti dari bawah sampai ke atas. Jujur saja, aku merasa asing dengan wanita tua ini. Dia bahkan tidak hadir saat pernikahanku dengan Sasuke. Aku hanya mendengar semua tentang dia dari ibu mertuaku atau dari Gaara-nii yang beberapa kali menghadiri rapat bersamanya. Dan apa ini? Dia Menatap detail diriku seperti aku ini seorang yang baru saja mencuri. Menyebalkan!

"Jadi kau adalah Haruno Sakura?" suara tajamnya terdengar indra pendengaranku. Ah! Sekarang aku tahu dari mana Sasuke mewarisi nada bicara seperti itu. Lembut, pelan dengan nada rendah tapi sarat akan penekanan dan menusuk—membangunkan seluruh bulu yang ada di tubuhku.

"Ya." Aku membalas tatapannya datar.

"Putraku memang sangat bodoh, kenapa dia bisa merestui begitu saja saat Sasuke memilih gadis sepertimu untuk mendampinginya? Sasuke adalah Putra tunggal sekaligus pewaris perusahaan besar. Kau benar–benar tak pantas."

Deg!

Merestui? Apa maksudnya merestui? Jadi pernikahanku bukan kehendak orang tua Sasuke? Jadi kami menikah bukan karena dijodohkan? Tapi dulu Gaara-nii bilang aku akan dijodohkan. Ya Tuhan, ada apa lagi ini?

"Lalu bagaimana kabar kakak laki–lakimu? Siapa namanya? Sabaku Gaara?" Sial! Dia bahkan menekankan nama Sabaku. Dia tahu kalau kami berbeda ayah sehingga memiliki marga yang berbeda. "Dan Orang tuamu? Apakah mereka masih hidup dalam kekacauan? Ibumu yang menghamburkan uang untuk kekasih muda yang menjijikkan dan ayahmu, seorang pengusaha besar yang lebih banyak menghabiskan waktu di kamar hotel dari pada di kantor?" Aku benar–benar ingin merobek mulutnya yang dilapisi warna merah itu.

Tuhan tolong kuatkan aku! Bantu aku menahan air mata ini. Tidak! Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku mengepalkan tanganku. Ini sudah cukup! Untuk apa lebih lama di sini? Perutku bahkan terasa bergejolak setelah apa yang wanita kaya ini katakan tentang keluargaku.

"Lalu apa yang anda inginkan?" Aku berusaha menantang.

"Biarkan Sasuke menikah lagi. Aku tak memaksa kalian berpisah, tapi setidaknya jangan biarkan dunia tahu kalau keluarga kami berhubungan dengan keluargamu. Aku punya calonku sendiri untuk cucuku." Ujarnya angkuh.

"Apa salah keluargaku pada keluarga anda?" Aku mulai bergetar. Berapa lama lagi Aku sanggup berdiri?

"Karena kau menjadi bagian keluargaku maka itu salah. Seharusnya saat Sasuke melamarmu, kalian tidak menerimanya. Kalian tidak cukup pantas untuk kami. Kau tahu apa yang keluargamu tidak miliki?" Wanita tua itu bangun dari duduknya. Berjalan pelan mendekat ke arahku. "Martabat dan kehormatan!" Sentaknya di depanku. "Keluargamu tidak punya itu. Pernikahanmu dengan Sasuke adalah penghinaan untukku."

DEG!

"Madam!" Naruto berteriak. Aku bahkan melupakan keberadaan pria itu.

"Diam kau! Kau bahkan hanya pria miskin bagai benalu yang selalu menempel pada cucuku." Bentak Madam Uchiha pada Naruto.

SUDAH CUKUP!

BYUUR!

Entah ide dari mana, aku menyiram wajah keriput itu dengan segelas air.

"Kau!"

PLAK!

Apa? Wanita tua sialan ini menamparku!

"Dasar jalang! Kaupikir kau siapa? Dan aku peringatkan! Kalau kau tidak membiarkan Sasuke untuk menikah lagi, maka menyingkirlah! Atau aku yang akan menyingkirkanmu."

Madam Uchiha keluar dari ruang tamu, meninggalkan rumah kami. Dan tepat saat pintu tertutup setelah kepergian nenek Sasuke, air mataku langsung mengalir. Aku meremas rokku dan berusaha menahan tangisku.

Tap ... tap ... tap.

Aku berjalan pelan menuju kamarku dengan air mata yang masih mengalir deras di kedua pipiku. Demi Tuhan ... dadaku terasa sangat sesak.

Aku akan menangis di sana.

"Nona…" Aku mengabaikan panggilan Naruto.

Hatiku yang sudah lama retak, kini hancur berkeping–keping.

Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Aku lelah...

.

[Normal]

Naruto merogoh sakunya dan mengambil ponsel dengan layar yang memajang gambar wajahnya yang memenuhi full screen. Mencari kontak Sasuke. Ini dia namanya : Talk less do more-Direktur

"Sasuke … tadi nenekmu datang dan membuat kekacauan."

.

.

.

.

.

"Kau mau kemana?" Sasuke sudah berdiri di kamar mereka.

Setelah Sasuke menerima telepon dari Naruto, Sasuke langsung melihat Sakura dengan CCTV-nya. Sasuke menyambar kunci mobil saat yang dia melihat di monitornya: Sakura yang mengepak pakaian ke dalam koper besar.

Di sinilah dia sekarang, berdiri di belakang Sakura.

"Aku mau pulang." Sakura membalas tatapan Sasuke.

"Kau tidak akan kemana–mana."

"Lalu untuk apa aku di sini? Kau tidak benar–benar menginginkanku. KAU BAHKAN TIDAK MENGINGINKAN BAYIKU!" Sakura berteriak pada Sasuke. Mengeluarkan amarahnya lebih baik daripada mengeluarkan air matanya di depan pria brengsek ini. Sakura berpikir seperti itu.

"Jangan berteriak padaku!" Sasuke balas berteriak.

Sakura memandang Suaminya itu penuh kebencian, dengan tergesa Sakura mengambil ponselnya.

Klik!

"Naruto … tolong antar ak—"

SRET!

"AKU AKAN MEMBUNUHMU KALAU KAU DATANG PADA ISTRIKU!" Bentak Sasuke pada Naruto setelah merebut ponsel dari tangan Sakura.

"Uchiha Sa—"

"DIAM!"

BRAK!

Sasuke menghantamkan ponsel yang digenggamnya pada lemari yang ada di samping Sakura dengan kekuatan maksimalnya. Ponsel itu pecah menjadi beberapa kepingan, tidak heran kalau ada serpihan yang mengenai wajah Sakura. Pipinya mengeluarkan sedikit darah.

Sakura terdiam. Tentu saja, gadis lemah dan sepolos Sakura, mana mungkin bisa melawan Sasuke—Suaminya yang dia sendiri tidak tahu benar bagaimana jalan pikirannya.

Sakura memalingkan pandangannya. Menyembunyikan wajahnya dari pengelihatan Sasuke, dan kini Sakura menyerah untuk menahan air matanya. Ia menggigit bibirnya sekuat mungkin untuk meredam suara tangisnya. Bibirnya sakit, pipinya perih, dan hatinya sangat sesak.

"BRENGSEK KAU UCHIHA SASUKE!"

BUAGH!

Sakura tersentak, ia terkejut bukan main. Pria yang baru saja berteriak dan memukul Sasuke ini berpakaian rapi: memakai kemeja abu–abu tua berlengan panjang yang ia gulung sampai siku. Pakaian yang sangat pas pada tubuhnya. Dia juga memakai celana Jeans coklat kesayangannya sebagai bawahan.

Gaara.

Grep!

Secepat kilat tanpa kata, pria yang kartu identitasnya bertuliskan nama Sabaku Gaara itu meraih tangan Sakura. Lalu menyambar koper Sakura dan menariknya pergi. Menggandeng Sakura, sepanjang mereka berjalan—menggenggamnya erat.

Sasuke tidak pernah memperkirakan kehadiran Gaara. Sejak kapan pria itu ada di Jepang? Sekarang, Sasuke hanya bisa mematung membiarkan Gaara membawa Sakura pergi darinya.

Kenyataan sialan kalau dia telah menyakiti Sakura dan Gaara mempunyai hak atas gadis itu membuat Sasuke tidak bisa berbuat apa–apa. Ya, setidaknya untuk sekarang. Nanti, Sakura akan kembali padanya. Sasuke akan mengusahakan itu dengan apapun—nanti. Hibur Sasuke dalam hati.

Dan Sasuke melihatnya. Mata emerald yang merah, wajah pucat yang basah dengan air mata, pipi berdarah, bibirnya bengkak dan terluka. Ah, satu lagi: tubuh yang bergetar hebat. Itu adalah bagaimana keadaan gadisnya yang tertangkap oleh ekor mata Sasuke. Tanpa kata–kata, Sakura hanya patuh pada kakak laki-lakinya berjalan pergi meninggalkan Sasuke.

"Sakura..."

.

"Nii-san ... Sakit! Gaara-nii ini sakiiit!" Rengek Sakura yang merasa tangannya akan hancur dalam genggaman Gaara.

Gaara melepaskan tangan Sakura dengan ekspresi menyesal, tapi urat ketegangan masih belum lenyap dari wajahnya. Tangan mereka memang sudah tidak saling bergandengan, tapi kini Gaara merambatkan tangannya merangkul pundak gadis itu—posesif. Seakan takut seseorang akan mengambil gadis kecil itu darinya.

Begitu terus sampai Gaara menemukan mobilnya, dan tanpa menunggu waktu lama Gaara segera membawa Sakura pergi, dengan mobil Naruto mengikuti mereka dari belakang.

.

Setibanya di rumah, Gaara segera membawa Sakura masuk ke kamarnya. Tetap dalam rangkulannya. Sementara gadis itu sedikit berlari karena mengimbangi langkah Gaara yang cepat.

"Mulai sekarang aku akan di sini bersamamu." Tegas Gaara sambil terus berjalan.

"Tolong koperku. Aku ingin sendirian dulu, Nii-san." Lirih Sakura pelan.

Gaara menurut. Ia pergi dengan Naruto yang hanya berdiri di depan pintu. Sakura membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Ranjang yang terasa dingin, tidak sehangat ranjangnya bersama Sasuke.

Semoga ini hanya mimpi. Doa gadis itu sendu.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, Naruto kembali ke rumah besar Sasuke. Menemui Pria itu di kamarnya. Ya Tuhan, apa yang terjadi padanya? Sasuke terlihat kacau—sangat. Penampilannya bahkan nyaris seperti gelandangan tampan yang tak pernah mengurus diri. Dan pada saat itu, Naruto melihat kesakitan Sasuke. Pria itu berdiri bersandar di dinding dekat jendela dengan penderitaan di matanya.

"Sekarang apa yang akan kaulakukan?" Naruto duduk di tepi ranjang.

"Hn, membuatnya kembali padaku." Ujar Sasuke yakin.

"Kau yakin? Sekarang dia bersama Gaara. Aku tidak yakin Gaara akan menyerahkan Sakura padamu dengan mudah. Gaara tahu tentang pertunanganmu." Naruto berkata serius.

Sasuke menghembuskan napasnya lelah. "Dari mana dia tahu?"

"Aku yang bicara. Aku yang meminta Gaara kembali setelah kau meminta Sakura menggugurkan kandungannya. Sakura butuh seseorang di sampingnya, dan itu bukan aku karena dia mengira aku selalu ada di pihakmu." Terang Naruto datar.

"Aku akan berbicara dengan Hinata." Sahut Sasuke dingin.

"Bicaralah! Sekarang waktunya kau memilih antara Hinata atau Sakura." Titah Naruto telak.

"Sakura adalah milikku. Aku tidak akan memilih yang lain. Aku hanya harus bicara dengan Nenekku." Sasuke membalikkan tubuhnya memunggungi Naruto. Pria bermanik kelam itu menatap langit tajam.

"Hm, dan Madam Uchiha benar–benar mengerikan. Mulutnya mengerikan, dia tidak seperti orang sakit jantung yang sekarat dan akan mati." Naruto merebahkan dirinya di ranjang. "Kau yakin dia sakit jantung? Dia memaksamu bertunangan dengan Hinata dengan alasan penyakitnya, tapi dia terlihat sangat sehat saat memaki Sakura." Jelas Naruto sarkastik.

"Hn." Jawaban Sasuke menggantung. Perkataan Naruto membuat Sasuke ragu dengan penyakit Neneknya itu. Dia harus memastikan hal ini.

"Dan perlu kau tahu: saat pertunanganmu dengan Hinata, saat itulah Sai muncul di sekolah Sakura. Dia tahu kau bertunangan dengan wanita pujaannya."

Sasuke mengeraskan rahangnya. "Aku juga akan membereskan bajingan itu."

"Bicaralah pada Gaara juga." Ujar Naruto santai.

"Hn, aku akan datang padanya."

.

.

.

.

.

Malam hari, Sakura masih berdiam diri di kamarnya. Sama seperti di rumah Sasuke, di rumahnya pun Sakura tetap mengurung diri. Meratapi nasibnya yang sangat menyedihkan. Ia baru berusia 17 tahun, ia masih sekolah, ia memiliki keluarga yang tidak sempurna: Orang tua yang tidak peduli padanya, kakaknya yang jauh darinya, Suami yang memiliki kelainan, Suami yang tidak menginginkan bayi mereka, dan Suami yang ... menghianatinya.

Semua terasa pahit.

Dan Sakura hanya mampu tersenyum penuh kegetiran dalam kesendiriannya itu.

BUAGH!

"APA YANG KAULAKUKAN DI SINI BRENGSEK?!"

BUAGH!

BUAGH!

"Gaara ... dengar, aku..."

BUAGH!

"TUTUP MULUTMU BAJINGAN!"

BUAGH!

Sakura bangun dari ranjangnya saat mendengar suara berisik dari luar. Sakura beranjak keluar kamarnya dan melihat beberapa pelayan berkerumun di depan pintu kamar Gaara. Saat Sakura semakin mendekat, beberapa pelayannya terlihat menegang.

Satu di antara mereka berusaha bicara pada Sakura. "Nona, sebaiknya anda istirahat. Apa Nona membutuhkan sesuatu?"

"..." Sakura mengabaikannya, gadis itu justru semakin mendekati pintu kamar Gaara. Mendengar semakin jelas suara Gaara yang berteriak dan memaki. Ada apa ini?

Cklek!

Sakura membuka pintu kamar Gaara dan—Sakura membeku. Menutup mulut dengan tangan kirinya. Matanya membulat penuh, nyaris melotot. Meluruskan pandangannya pada apa yang dia lihat.

Sakura melihat neraka ada di depannya. Sangat dekat dengan dirinya.

Gaara bediri dengan pakaian kacau tengah menendang perut Sasuke berkali–kali. Sasuke tidak berdaya di lantai: meringkuk memegangi perutnya yang masih menjadi sasaran tendangan Gaara. Tubuhnya sudah babak belur, bahkan ini lebih parah dari Naruto yang menghajarnya. Kali ini Sasuke terluka di mana–mana: dia berdarah lebih banyak. Gaara benar–benar menghajarnya tanpa ampun.

"DIA BUKAN PELACUR! DIA ADIKKU, BRENGSEK!" Gaara berteriak.

BUAGH!

Dan di dekat ranjang Gaara, Naruto berdiri. Hanya menonton Sasuke habis di tangan Gaara. Menonton dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Matanya memerah, tapi dia tidak menangis.

Sakura merasa semua tulang pergi dari tubuhnya. Dia merosot dari posisi berdirinya. Menangis dengan isak yang menyedihkan. Meremas kuat kemejanya, Sakura bahkan sesekali menjerit.

Oh Tuhan, Sasuke...

Sejak kapan Sasuke di sini? Kapan Sasuke datang? Kenapa Sakura tidak tahu apa–apa? Gadis itu sekarang menyesali tindakannya mengurung diri. Seandainya dia tahu Sasuke datang, dan mengusir pria itu jauh lebih baik daripada harus melihatnya babak belur di tangan Gaara.

Walaupun Sasuke adalah bajingan gila yang memukulinya, walaupun Sasuke adalah pria brengsek yang menghianatinya, monster sinting yang menginginkan kematian anaknya ... Sasuke, tetaplah suami yang dicintainya. Dan pria itu sedang dipukul habis–habisan oleh kakaknya.

Sasuke-nya.

Sakura hanya menangis—tidak melerai. Dia bahkan tidak bisa meminta Gaara untuk berhenti. Sakura tahu, Gaara terlalu murka pada adik iparnya itu.

Sampai akhirnya, Naruto menghampiri Sakura. Memeluk gadis itu. Membantunya bangkit dan membawanya kembali ke kamar. Sedikit menyeretnya karena Sakura benar–benar lemas. Atau, dia tidak ingin meninggalkan Sasuke?

Sakura terlalu rapuh untuk semua ini.

.

"Nona…" Naruto menegur lembut saat mereka sudah di kamar Sakura.

"Tolong dia, Naruto. Hikss ... tolong dia…" Sakura merintih. Menangis. Memohon.

Naruto menggeleng lemah. "Dia akan baik–baik saja. Percayalah." Naruto menenangkan.

Cklek!

Suara pintu terbuka. Sakura dan Naruto sam–sama menoleh, dan itu adalah Sabaku Gaara.

"Naruto ... tolong bawa Sasuke ke rumah sakit. Dia tidak sadarkan diri." Lirih Gaara pelan.

DEG!

Sakura tersentak. Jantungnya hilang. Sasuke tidak sadarkan diri?

"NII-SAAAAN! Oh tidak ... SASUKE!" Sakura menjerit pilu dalam tangisnya.

Naruto langsung berdiri, melangkah keluar kamar dengan cepat: meninggalkan Gaara dan Sakura.

Gaara berjalan pelan mendekati Sakura yang duduk di tepian ranjangnya. Setelah jarak mereka hanya satu langkah, Gaara berlutut di depan Sakura. Menunduk seperti seorang penjahat yang memohon ampunan.

"Apa yang kaulakukan, Nii-san?" lirih Sakura sendu, sesekali gadis itu sesenggukan.

"Maafkan aku." Lirih Gaara. Matanya mulai berair. "Aku mohon maafkan aku, karena aku mengampuninya." Gaara terisak. Menangis juga akhirnya. Dia sudah menahannya selama memukuli Sasuke.

"Nii-san..." Sakura menangis lagi.

"Aku menghajarnya karena aku memaafkan semua kesalahannya padamu. Aku memaafkannya." Gaara memelas pada Sakura. "Tolong, maafkan aku."

GREP!

Sakura langsung bangkit dan memeluk Gaara, dan menangis bersama kakaknya, mencoba melepas semua luka yang membelenggunya, mencoba melepas rasa sakit hatinya.

Sakura menepuk punggung Gaara lembut. "Tak apa. Aku mengerti—dia sahabatmu. Aku mungkin juga akan memaafkannya, tapi tidak sekarang." Bisik Sakura di telinga Gaara.

Gaara tersenyum pedih seraya mengeratkan pelukannya. "Terima kasih Sakura, terima kasih. Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu, Nii-san..."

Sakura memahami keputusan Gaara yang memaafkan Sasuke. Mereka sudah bersahabat sejak lama, lagipula entah untuk alasan apa Sakura juga tidak ingin persahabatan mereka hancur.

Tapi, tidak untuk dirinya. Sakura tidak bisa memaafkan Sasuke secepat itu, tidak untuk saat ini. Sakura butuh waktu. Ya, waktu untuk merenungkan apa yang harus ia putuskan untuk rumah tangganya bersama Sasuke. Mempertahankannya, atau ... mengakhirinya.

.

.

.

.

.

.

/To be continue/


A/N : Sasa datang lagi. Udah seminggu, 'kan? Dan ... um lebih satu hari xD Kkk~ Gaada curcol untuk kali ini, yosh! Terima kasih dan sampai jumpa di chapter depan.

Salam sayang,

UchiHaruno Misaki.