Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Dirakimra17

Edited © UchiHaruno Misaki

.

[U. Sasuke x H. Sakura]


Bab 8

.

Ini sudah hampir seminggu sejak kejadian di mana Sasuke sekarat di tangan Sabaku Gaara, dan kemarin Sasuke baru saja keluar dari rumah sakit. Selama itu, Sakura sama sekali tidak menjenguk Sasuke. Sakura hanya perlu mendengar kalau keadaan Sasuke baik–baik saja, dan selebihnya Sakura akan melihat foto Sasuke yang sedang terbaring di rumah sakit yang sedang tertidur: Naruto yang mengambil fotonya.

"Ini ambil!" Naruto menyerahkan selembar foto itu pada gadis di depannya, lalu ia merampas toples berisi keripik kentang dari tangan gadis itu.

Sakura mengabaikan Naruto yang sedang sibuk memakan keripik kentang di sampingnya. Iris klorofilnya menatap selembar foto itu sendu, ya di sana seorang pria tengah tertidur dengan pakaian rumah sakit. Ya, priamu, Uchiha Sasuke ... Nona Haruno.

Sakura mengusap perutnya lembut dan menatap foto itu kosong. Ingin rasanya ia lari menghampiri suaminya dan memeluknya erat, namun kenyataan pahit: Sasuke tak menginginkan bayi mereka membuat Sakura bertahan hingga saat ini.

Naruto terus mengunyah keripik kentangnya seraya mencuri pandang pada Nona mudanya. Menghela napas sesaat, pria itu menelan keripik kentang yang tersisa di dalam mulutnya dan menatap Sakura lelah.

"Sampai kapan kau akan menggantung Suamimu, Nona? Kau tahu betapa mengerikannya hidup presdir tanpamu? Aku yang selalu menjadi korbannya, haruskah aku menangis sekarang?"

Sakura menoleh dan memasukkan foto terakhir Sasuke di Rumah Sakit itu ke dalam saku piyamanya. "Aku masih butuh waktu," jawab Sakura seraya tersenyum lirih.

Presdir, tolol, sialan! Maki Naruto dalam hati, oh andai saja pria Uchiha itu membuang sedikit egonya dan menjelaskan kesalah pahaman ini pada Istri yang sedang mengandung benihnya itu: mungkin semuanya tak akan serumit ini.

Naruto merebahkan punggungnya pada sandaran sofa dan menatap langit-langit ruang tamu kediaman Haruno dengan tatapan kosong. Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam, jangan tanyakan apa yang sedang supir mahal itu lakukan di rumah Nona mudanya. Sudah pasti untuk membujuk Sakura berbicara pada Sasuke, ya walau selalu berakhir sia-sia.

"Sebenarnya ... apa yang membuat Hinata tetap berada di samping Sasuke? Bukankah sudah berkali-kali Sasuke menolaknya? Apa Sasuke berbohong padaku? Seharusnya aku sudah tahu, si brengsek bosmu itu memang bermain api di belakangku dengan wanita itu." Ujar Sakura sarkastik.

"TIDAK! Oh Tuhan! Dengar Sakura," Naruto menggenggam kedua tangan Sakura hangat. "Ada sesuatu yang tak kau ketahui tentang wanita itu,"

Sakura menatap Naruto bingung. "Apa maksudmu?"

Naruto mengacak rambutnya frustasi, "sial!" umpatnya ketika ia menyadari seharusnya ia tak mengatakan itu. "Aku harus kembali sekarang Sakura, maaf."

Naruto segera bangkit dari sofa hendak melangkah pergi, namun dengan sigap Sakura menangkap tangan Naruto.

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau menjelaskan apa yang kau ketahui dari yang tidak aku ketahui." Naruto bergeming dengan posisi berdiri membelakangi Sakura, "tatap aku Uzumaki Naruto! Jelaskan semuanya!" sentak Sakura membuat Naruto kembali duduk di sofa dan menatapnya gusar.

Napas Sakura yang tak beraturan karena sentakannya tadi membuat Naruto tak tega untuk tidak menjelaskan apa yang ingin Sakura ketahui.

Naruto menutup matanya sejenak. 'Maaf, Sasuke...' batinnya.

.

Sepasang pria dan wanita duduk di meja yang sama dengan posisi saling berhadapan. Restoran mewah a la itali bersuasana romantis dengan puluhan lilin yang menjadi penerangannya.

Sepasang wanita dan pria itu saling menatap dengan pandangan berbeda: Sang pria yang menatap Sang wanita dengan tatapan dingin, sedangkan Sang wanita yang menatapnya dengan tatapan licik di wajahnya yang terlihat polos.

"Kau tak akan bisa menolak pernikahan ini Sasuke-kun, kau membutuhkanku." Ujar wanita bernama lengkap Hyuuga Hinata itu dengan nada angkuhnya.

Sasuke mengepalkan tangannya lalu menatap wanita di depannya itu tajam. "Tidak, kau salah Hinata. Aku bisa melakukannya." Desisnya telak.

Hinata menyeringai licik, "aku seorang masokis, ingat itu Sasuke! Dan sudah pasti akulah yang kaubutuhkan, bukan Sakura—istrimu yang jelas-jelas normal."

Sasuke menundukkan wajahnya menatap lilin biru di atas meja dengan tatapan datar. Ucapan Hinata sukses menohok hatinya, Hinata benar mungkin seorang monster sepertinya tak pantas untuk Sakura yang notabene seorang gadis normal.

.

Naruto kembali membuka matanya dan menatap iris klorofil redup di depannya itu dalam. "Hinata mengetahui bahwa Sasuke sudah menikah dan memiliki kelainan," Sakura menatap Naruto terkejut, namun gadis itu hanya diam. "Dan yang membuat Hinata bersih keras tetap berada di samping Sasuke..."

Sakura menatap Naruto gelisah. "Apa? Katakan Naruto!"

Naruto mengambil napas panjang dan menatap Sakura sendu. "Wanita itu seorang masokis, Nona. Dan itulah yang membuat Hinata percaya diri bisa menjadi pendamping Sasuke karena dirinya seorang Masokis."

DEG!

Sakura menatap Naruto kosong. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu, namun hal itu sukses membuat Naruto panik.

"Nona?"

"..."

"Nona!"

"..."

Masokis?

Masokis?

Masokis?

Demi Tuhan, apa lagi sekarang? Suaminya seorang Sadis dan tunangan dari suaminya itu adalah seorang Masokis? Sadis-Masokis? Sial! Tidak ada pasangan yang lebih cocok dari pasangan Sadismacocism itu, tidak romeo dan juliet sekalipun! Dan itu membuat dunia Sakura runtuh seketika.

Hancur sudah. Kini sudah ada seseorang yang Sasuke butuhkan, seseorang yang dapat memenuhi keinginan Sasuke.

"NONA!" teriak Naruto semakin panik ketika tubuh Sakura kaku bak patung tak bernyawa.

Sakura menatap Naruto datar, "bagaimana bisa? Bagaimana bisa Hinata seorang Masokis, Naruto?" lirihnya pelan.

Naruto menghela napas pelan. "Sai."

Sakura menatap Naruto bingung. "Sai? Maksudmu?"

"Kau ingat ceritaku tentang Sai dan Hinata?"

"Mereka pernah berpacaran." Sakura mengingatnya. "Jadi…"

"Hinata seperti itu karena Sai." Ucap Naruto pelan.

"Apa?" Sakura menatapnya tak percaya.

"Jangan berteriak!" Naruto memukul kening Sakura dengan tutup toples keripik kentangnya.

"Ahg!" Sakura mengusap keningnya. "Astaga. Jadi Hinata bukan kebetulan seorang Masokis?" Sakura masih belum memelankan suaranya.

"Tidak. Semua berpusat pada Sai: Sasuke dan Hinata seperti itu karena Sai. Sasuke trauma karena satu malam terkutuk dengan Ibu Sai, aku yakin kau bisa menebak apa yang terjadi dengan Sai yang sudah terbiasa dengan itu."

"Terbiasa? Sai juga seorang sadistic?" tanya Sakura ragu.

"Ya. Lebih tepatnya Sadis-masokis. Sai memiliki keduanya." Jelas Naruto.

"Apa? Bagaimana? Pada dasarnya mereka adalah korban. Lalu kenapa mereka berbeda? Sasuke yang Sadis, Hinata yang Masokis, dan Sai yang Sadismasokis. Ini bukan skenario drama bukan?" tanya Sakura mulai penasaran dan mengabaikan kegalauan hatinya dengan fakta Hinata seorang masokis itu.

"Sasuke, dia menjadi sadis karena trauma. Sesuatu yang buruk itu menjadi dendam yang dia lampiaskan dengan cara yang sama. Dia dipukuli, jadi sekarang dia hanya ingin memukuli. Sai seperti itu karena dia terbiasa. Yang aku tahu, Ibunya sering melakukan itu padanya. Dia sering disiksa dan diajari cara menyiksa. Akhirnya dia bisa menikmati keduanya. Sedangkan Hinata, dia terbiasa dengan Sai. Dia wanita yang polos dan patuh saat itu. Sai membuat Hinata bisa menerima dan terbiasa dengan rasa sakit saat mereka bersama." Jelas Naruto panjang lebar.

Memejamkan matanya, Sakura menggeleng beberapa kali. Tiba–tiba Sakura teringat kembali pada masa saat dia masih bisa bertemu Sai. Pria tampan bak pangeran dengan senyum yang sangat menawan, pria baik–baik yang selalu menunjukkan romantisme, pria yang kala itu Sakura anggap lebih baik dari Sasuke. Ternyata…

Dia penyebab kegelapan dalam hidup Sasuke.

"Aku tidak menyangka … Sai ..."

"Bagi Sai, Hinata adalah wanita terbaiknya. Maksudku, Hinata adalah wanita yang bisa menerima Sai. Mereka pasangan. Tidak mudah mencari wanita yang bisa menerima perlakuan sadis, terlebih karena Sai mencintai Hinata. Itulah kenapa Sai benar–benar marah saat dia tahu Hinata menyukai Sasuke. Sampai akhirnya dia melakukan hal terkutuk itu pada Sasuke." Naruto mencengkeram toples keripik kentang yang ada di tangannya.

"Naruto …" Sakura mencoba menenangkan Naruto. "Pasti sulit untukmu. Kau tahu banyak tentang mereka."

"Aku tahu itu semua, karena mereka adalah teman–temanku. Dulu." Naruto kembali tenang. Itu terlihat saat dia membuka mulutnya sendiri untuk memakan keripik kentang terakhirnya. "Sejujurnya Sakura…"

"Apa?"

"Aku takut kau akan seperti Hinata, karena terbiasa dengan Sasuke. Kadang terlintas di pikiranku … aku ingin membantumu kabur dari Sasuke." Ujar Naruto serius.

"Kalau begitu, ayo kabur dari Sasuke!" Jawab Sakura penuh tekad.

"Bukan ayo, tapi kau sendiri yang kabur, aku tidak bisa meninggalkan Sasuke." Ujar Naruto kalem.

Sakura menatap Naruto heran, "apa tali persahabatanmu dan Sasuke telah membuatmu tega menyuruhku kabur sendiri dalam keadaan hamil muda seperti ini?"

"Bukan! Bukan seperti itu, hanya saja tidak ada alasan yang bisa membuatku meninggalkan Sasuke."

Perkataan Naruto membuat Sakura semakin bingung, "apa maksudmu?"

Naruto menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan, "kau akan tahu nanti." Naruto melirik jam yang telah menunjukkan pukul sembilan malam, lalu Naruto berdiri dan menepuk kepala Sakura lembut. "Ini sudah malam, tidurlah. Aku harus ke suatu tempat sekarang,"

Sakura berdiri seraya menghela napas pelan dan mengangguk. "Pergilah, dan terima kasih sudah menjelaskan semuanya padaku." Ujar Sakura tulus.

Naruto tersenyum lembut dan memeluk tubuh Sakura singkat, "baiklah, aku pergi."

.

Hinata yang melihat Sasuke termenung langsung melebarkan senyum manis penuh kemenangan. "Sudah kukatakan, sebaiknya—"

"Hn, kau benar..." Sasuke berdesis dengan poni yang menutupi kedua matanya. "Aku mungkin seorang monster yang mengerikan untuk Sakura, tapi—" Sasuke mengangkat wajahnya dan menatap Hinata tepat di manik mutiaranya. "Aku hanya ingin Sakura yang berada di sisiku. Hanya dia."

Jantung Hinata berdegup kencang ketika melihat ketulusan di kedua manik onyx pria di depannya itu. Hinata mendengus remeh dan menatap Sasuke nyalang, "Itu hanya omong kosong. Kau seorang pria tak normal yang hanya membutuhkan seorang masokis dan itu adalah aku! Sudahlah, terima saja. Aku rela menjadi istri keduamu, dengan aku menjadi istri keduamu bukankah itu akan meringkankan beban Sakura dalam melayani kebutuhan biologismu?"

Iblis sialan!

Sasuke menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menatap Hinata datar. "Kau tahu betul seorang Uchiha memiliki ego yang sangat tinggi."

Hinata mengerenyitkan dahinya bingung.

Sasuke meletakkan telapak tangan kanannya di atas meja kaca itu lalu mengetuk jari telunjuknya di sana tanpa mengalihkan tatapan datarnya dari Hinata. "Meskipun puluhan wanita masokis menyerahkan dirinya sukarela padaku, aku tidak akan memedulikannya. Aku memang tidak normal, dan yang kubutuhkan bukan seorang masokis, tapi Sakura ... Haruno Sakura seorang gadis normal."

"..." Hinata terdiam dengan jantung berdegup kencang entah mengapa. Pria itu gila. Desis Hinata dalam hatinya.

"Aku tidak peduli Sakura bisa memenuhi kekuranganku atau tidak, yang kuinginkan hanya Sakura yang berada di sisiku. Satu-satunya. Tidak ada yang lain. Dan seorang Uchiha selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan." Suara ketukan jari Sasuke entah mengapa terasa bagai musik pengiring kematian di telinga Hinata.

"Seorang Uchiha hanya mencintai satu wanita di dalam hidupnya, dan mereka akan tetap mempertahankan wanita itu agar tetap berada di sisinya hingga akhir hayatnya." Suara tajam penuh penekanan itu bagai sebilah belati tajam yang bisa mengiris setiap kulit Hinata yang mulai memucat itu kapan saja.

Hinata mencoba terlihat biasa saja dan menatap Sasuke angkuh. "Madam Uchiha ada di pihakku Sasuke-kun, mau bagaimanapun kau menolak ... kau tak akan pernah bisa membantah perintah Nenekmu sendiri." Hinata menyeringai licik dengan wajah polosnya itu.

Sasuke tersenyum tipis. "Seorang Uchiha tidak pernah diperintah, aku tidak peduli dengan Nenek tua itu. Aku sudah tahu dia hanya berpura-pura sakit dan memintaku untuk menyetujui pertunangan ini, tapi itu bukan berarti aku takut kehilangannya ..." Hinata menatap Sasuke was-was ketika pria itu sengaja menggantungkan kalimatnya.

Sasuke menatap Hinata dengan kilatan berbahaya di manik hitamnya itu. "Aku hanya ingin tahu sampai sejauh mana Nenek tua itu mempermainkan hidupku, dan sekarang kurasa sudah cukup dengan permainannya." Suara ketukan jari Sasuke masih terdengar walau pelan, tapi suara ketukan itu terdengar sangat mengancam. "Aku akan tetap menolak pernikahan ini, walaupun Nenek tua itu mati berdiri ... aku sudah tak peduli. Bukankah selalu butuh korban untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, hn?"

Keringat dingin mulai membasahi kulit mulus wanita berhelaian indigo sepinggang itu ketika Sasuke menghujamkan tatapan tajam padanya dengan sebuah seringaian iblis di bibirnya yang tegas.

Tuk!

Sasuke menghentikan ketukan jarinya, lalu pria itu meraih pisau yang berada di atas piring berisi stik daging yang masih utuh itu.

Sasuke mulai memainkan ujung pisau berbentuk runcing itu di atas stik daging dengan tatapan yang masih menatap Hinata datar tanpa ekspresi. "Aku ingin bahagia bersama Sakura. Hidup dengannya, hanya dengannya. Dan jika ada yang berani mengusik kebahagiaan kami..." Sasuke sengaja mengantungkan kalimatnya dan,

Slap!

Pisau itu menancap sempurna di tengah stik daging ketika Sasuke dengan wajah tanpa ekspresi menusukkan pisaunya di sana.

"Aku akan mengirim orang itu ke Neraka," Sasuke menatap Hinata tajam. "Dan aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku."

"..."

Hinata bungkam dengan wajah pucat pasi. Wanita itu menundukkan kepalanya dalam dan meremas ujung dress-nya lemah, lalu senyum kecil keluar dari bibirnya yang gemetar hebat. Ia tahu, ia telah kalah sejak awal dari istri pria yang menjadi obsesinya itu.

Hinata mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke dengan senyum di bibirnya. Ya, wanita itu tersenyum, tapi air mata pun ikut menghiasi wajah pucat wanita beriris bulan itu. "Harusnya aku yang mendampingimu, Sasuke. Aku adalah wanita yang cocok untukmu, setara denganmu dan—"

"Semua itu hanya omong kosong, Hyuuga!" potong Sasuke cepat, pria itu menatap Hinata dingin. "Hn, kaupikir kecocokkan akan menjamin kebahagiaan seseorang?"

"..."

"Aku tak peduli dengan semua kecocokkan, martabat, materi atau apapun itu. Yang kupedulikan hanya Sakura—istriku dan kebahagiaan kami. Apa selamanya kau akan menjadi bayangan di antara kami dengan kekuatan Nenek tua itu?" Ucapan Sasuke sukses membuat Hinata tertampar oleh kenyataan pahit bahwa dirinya tak ubahnya sesosok wanita pengemis. Ya, itulah kau Hyuuga Hinata.

Hinata menatap Sasuke sendu. "Aku menginginkanmu Sasuke, aku mencint—"

"Kau hanya terobsesi padaku Hinata." Potong Sasuke, "kau melampiaskan rasa kemarahanmu karena Sai menjadikanmu seorang Masokis padaku. Aku tahu itu, aku tahu bagaimana rasanya memiliki sesuatu yang mengerikan pada diri kita sendiri. Maka dari itu selama ini aku membiarkanmu terus menempel padaku agar Sai merasakan sakit yang aku rasakan, kita sama Hinata. Sama-sama menginginkan Sai menderita." Ujar Sasuke pelan.

Hinata menggigit bibirnya kuat guna untuk menahan air matanya, namun sia-sia karena air mata itu kembali mengalir di kedua pipinya. Ya, Sasuke benar. Ia merasa muak dengan Sai yang membuatnya jadi seperti ini, maka dari itu kemarahan yang selama ini ia pendam akhirnya ia jadikan sebuah obsesi untuk mendapatkan Sasuke. Intinya, Hinata ingin Sai menderita juga seperti dirinya.

Awalnya Hinata hanyalah seorang gadis polos, baik dan patuh, tapi sejak ia menjalin hubungan dengan Sai ... semuanya berubah. Hidupnya hancur karena Sai, Sai yang memuklinya, Sai yang menyiksanya, dan Sai yang terus memperlakukannya bagai binatang ketika mereka melakukan hubungan intim hingga dirinya terbiasa dengan rasa sakit itu.

Hinata benci dengan dirinya yang seperti ini, jijik dan muak. Tapi ia tak bisa melakukan apapun, ia ingin menjadi dirinya yang dulu dan ia tahu itu mustahil. Semuanya telah terjadi.

Sasuke menghela napas pelan, lalu menatap wanita di depannya itu sedikit iba. "Sudahlah, hentikan semuanya. Kau adalah wanita yang baik dari keluarga terhormat, Hinata. Tidak seharusnya kau merendahkan harga dirimu sebagai wanita padaku, aku tidak bisa menerimamu. Aku hanya ingin Sakura,"

Hinata menatap Sasuke dalam, dan beberapa detik setelahnya Hinata mengusap air matanya dan menatap Sasuke malu, "k-kau ternyata s-sudah tahu, ya?" lirih Hinata pelan.

Sasuke menatapnya datar. "Hn."

"Jadi, kau tetap tidak mau menikah d-denganku?"

"Hn."

Hinata menghela napas panjang dan menatap Sasuke tajam. "Baiklah. Kurasa tak ada gunanya lagi aku mempertahankan sesuatu yang tak benar-benar kuinginkan," Hinata melirik seseorang yang baru memasuki restoran itu dengan mata berkilat berbahaya, lalu Hinata kembali menatap Sasuke tajam. "Tapi, aku minta sesuatu darimu dan kau harus memberikannya padaku." Ujar Hinata angkuh.

Sasuke mengangkat alisnya sedikit, "hn?"

"Oi! Teme!"

Sasuke menoleh ke belakang dan di sana Naruto sedang berjalan menghampirinya dengan langkah santai.

Setelah Naruto berdiri tepat di depan meja Sasuke dan Hinata, Naruto langsung menatap Hinata tajam. "Apa kau sudah selesai bicara dengan wanita ini, Teme?" tanya Naruto pada Sasuke, tapi tatapan pria berkulit tan itu masih menatap Hinata tajam.

"Karena aku tak bisa memilikimu, maka berikan supir istrimu ini untukku Uchiha Sasuke." Ujar Hinata dengan seringaian liciknya, dan perkataannya itu sukses membuat Sasuke sedikit terbelalak, namun sejurus kemudian Sasuke tersenyum tipis.

"Baiklah, kauambil saja." Ujar Sasuke tak acuh, lalu pria itu berdiri dan menatap Hinata kalem. "Aku harus pergi sekarang." Sasuke membalikkan tubuhnya, dan menepuk bahu Naruto yang terbengong lalu Sasuke melangkahkan kakinya dengan perasaan lega. Satu masalah telah selesai, dan yang tersisa adalah masalah dengan Sakura. Kesalahpahaman di antara mereka.

"Oi! Teme apa maksudmu? Tunggu aku!" ketika Naruto hendak mengejar Sasuke, tiba-tiba saja sebuah tangan halus menggenggam tangannya kuat.

Naruto menoleh dan melihat Hinata yang sedang tersenyum polos padanya. "Aku tahu rahasiamu Tuan Uzumaki,"

Naruto membelalakkan matanya ketika tahu kemana arah pembicaraan wanita itu. "Hey! Apa maksudmu?" tanya Naruto pura-pura tak mengerti.

Hinata semakin tersenyum manis sehingga kedua matanya menyipit, tapi itu adalah senyum mengerikan yang pernah Naruto lihat. Oh, perasaan supir mahal itu mulai tidak enak.

"Aku tahu rahasia terbesarmu, dan aku akan menyebarkan rahasiamu jika kau menolakku untuk menjadi pendamping hidupmu." Ujar Hinata membuat Naruto menatapnya tak percaya.

"A-apa maksudmu?"

Hinata mengusap tangan Naruto yang sedang ia genggam dan menatap iris biru laut di depannya itu dalam. "Karena aku gagal mendapatkan Sasuke, maka aku memintamu untuk menjadi milikku dan kau dengar sendiri apa yang dikatakan Sasuke-kun tadi 'kan?"

Naruto menatap Hinata horor. "Tidak! Aku tidak mau! Aku sudah memiliki Kekasih! Lepaskan aku!" Naruto melepaskan tangan Hinata kasar lalu pria itu berlari terbirit menuju pintu keluar restoran.

Hinata segera mengambil tas selempengannya dan wanita itu segera berlari menyusul Naruto, mengabaikan para tamu restoran yang menatapnya aneh.

"N-Naruto-kun tunggu!" teriak Hinata ketika melihat Naruto berlari ke arah mobilnya.

"Tidak! Jangan ikuti aku! Arggghh Ibuu! Apa salahku?! Huaaaaa awas kau Sasuke brengseeek!" teriak Naruto histeris.

"Aku mau menjadi istri keduamu Naruto-kun! T-tunggu!"

"TIDAK! Berhenti mengejarku wanita aneh!"

Tap!

Hinata berhasil menangkap tangan Naruto, dan wanita itu langsung mendekap tangan kekar Naruto ke arah dadanya. "Kau akan menjadi miliku, N-Naruto-kun," ujar Hinata seraya tersenyum polos.

"TIDAAAAAAAK!"

.

.

.

.

.

Beberapa hari berlalu...

"Kau sibuk?" Gaara tiba–tiba muncul di kamar Sakura dan membuat gadis itu mengangkat kepalanya dari bantal.

"Ketuk pintu dulu Nii-san!" Seru Sakura kesal.

Gaara terkekeh kecil dan mengusap kepala Adiknya itu lembut. "Kau selalu muntah beberapa hari ini. Apa kau baik–baik saja?"

"Hm, hanya mual, aku tidak benar–benar muntah."

Gaara mengangguk paham. "Kau mau makan apa? Ayo kita makan siang di luar."

"Um ... bagaimana kalau di restoran Italia?"

"Baiklah." Gaara terlihat sedang berpikir sebentar, "tapi, kita akan makan bersama dengan Sasuke dan Naruto. Bagaimana?"

"Aku tidak ikut." Sakura menggeleng cepat.

"Ayolah. Lupakan sebentar masalahmu dengan Sasuke. Anggap saja kalau dia itu bukan suamimu yang brengsek, anggaplah dia temanku seperti dulu. Kau tidak perlu menyapanya, anggap dia tidak ada saja ya? Lagi pula aku ingin mengenalkan seseorang padamu." Sakura masih diam. "Ayolah, sayang ..."

"Baiklah." Sakura malas.

Akhirnya ibu yang sedang hamil muda itu menuruti keinginan Gaara. Mereka pergi makan siang bersama.

.

Sakura, Gaara, Naruto dan Sasuke: mereka berkumpul di salah satu meja di sebuah restoran Italia sesuai keinginan Sakura: keinginan bayinya. Sakura yang tampak lebih berisi dari sebelumnya menjadi pemandangan manis di mata Sasuke, tapi tidak sebaliknya. Sasuke yang kehilangan berat badannya, Sasuke yang sedikit pucat, Sasuke yang bahkan membiarkan saja bulu–bulu halus di dagunya mulai tumbuh.

Sasukenya yang menyedihkan.

Memesan makanan, Sakura mencoba tidak menganggap Sasuke ada di antara mereka. Melupakan kenyataan kalau sekarang ia bersama lelaki yang paling dia benci sekaligus dirindukannya.

Sakura begitu terlihat antusias dengan buku menu yang di pegangnya. Dan ketika itu, ponsel Gaara berbunyi.

"Hn?"

"..."

"Kau sudah sampai?"

"..."

"Kau di mana?"

"..."

"Baiklah." Gaara menutup teleponnya lalu menatap teman-temannya. "Aku akan menjemput seseorang. Aku akan kembali." Gaara bangun dari duduknya dan berjalan menjauh dari teman–temannya.

"Jangan lama–lama! Di sini terlalu panas!" Teriak Naruto pada Gaara, tapi pandangan manik sapphire cerah milik Naruto terarah pada Sasuke dan Sakura. "Panas ... panas sekali, dattebayo!" Naruto mengipaskan buku menu ke wajahnya.

Sedangkan Sakura dan Sasuke mengabaikan Naruto.

"Eh? Tuan Uzumaki?" Tiba–tiba seoarang wanita menyapa Naruto.

Sakura dan Sasuke ikut menoleh pada wanita itu sangan seksi: berkulit sedikit coklat, montok di sana–sini. Wanita yang pembawaannya sedikit centil dan memakai pakaian yang ketat di tubuhnya. Wanita berambut hampir sebokong terurai itu tersenyum nakal pada Naruto.

"Anda masih mengingatku? Kita bertemu di Tokyo International Motel." Wanita itu mencoba mengingatkan dan Naruto tertegun, lalu ia berdehem sebentar sebelum balas menyapa.

"Nona Stella?" Naruto mencoba mengingat. Gadis itu menggeleng. "Kikyo?"

"Bukan, Tuan."

"Ahhh ... Tsunade!" Naruto berteriak mantap.

"Salah." Wanita itu tertawa. " Sepertinya bosmu bersama dengan banyak wanita, ya? Aku Terumi, Mei Terumi."

Naruto salah tingkah dan wajahnya memanas. Sasuke mendengus dengan kata 'sialan' terucap dari bibirnya. Membuang pandangannya ke arah lain. Sakura melotot sempurna. Tokyo International Motel dan bos adalah kata kunci yang mengarah pada satu fakta: wanita yang mengaku bernama Terumi ini adalah salah satu wanita Sasuke. Tidak salah lagi! Jangan heran kalau Sasuke dan mantan pelacurnya ini tidak saling mengenal. Mereka memang tidak pernah saling melihat, bukan?

"Bagaimana kabar bosmu?" Celoteh Terumi membuat Sakura melihat ke arah Sasuke dengan spontan.

"Aku sudah tidak bekerja untuknya lagi." Jawab Naruto cepat.

"Oh, sayang sekali. Padalah aku ingin bertemu dengannya lagi. Walaupun aku harus tinggal di rumah sakit selama tiga hari, tapi uangnya bisa aku gunakan untuk 4 bulan." Kikik wanita seksi berambut orange itu.

Oh! Dasar mulut sialan! Apa dia tidak malu mengatakan hal itu di depan orang lain?

"Tapi sekarang aku bahkan tidak tahu dia di mana. Dan maaf Nona Tsu ... mhh, Terumi. Aku sedang bersama dangan keluargaku." Naruto berusaha mengusir halus, setelah mendapatkan Sasuke yang menatapnya tajam dengan aura dinginnya.

"A-aa, maaf aku mengganggu." Terumi tampak menyesal. "Baiklah aku akan pamit kalau begitu."

Terumi menunduk pada Naruto sengaja menyodorkan dadanya yang sebesar buah melon pada pria sinting itu. Lalu menyelipkan selembar kartu nama di saku kemeja Naruto. Hanya dengan gerakan bibir, Sakura bisa tahu apa yang Terumi bisikkan pada Naruto.

'Hubungi aku, kalau dia mencariku.'

Astaga, jadi Sasuke pernah memasuki wanita semacam ini? Sasuke pernah berada di dalam wanita ini.

SIALAN!

SIALAN!

SIALAN!

Naruto mengacak rambutnya frustasi. Hawa neraka di antara mereka semakin memanas. Dalam hati Naruto berdoa, agar Tuhan melindunginya. Nah ini sudah di mulai: Sakura menatap Naruto dengan tatapan membunuh.

"Aku rasa kau berbohong mengenai point tentang berpostur sepertiku. Wanita itu terlihat lebih bisa memuaskan bosmu dari pada gadis 17 tahun dengan tubuh yang rata." Kata Sakura sinis.

"Oh Tuhan! Kenapa kau melotot padaku? Yang meniduri wanita tadi bukan aku, tapi dia." Naruto menunjuk Sasuke tanpa ragu. "Dia di sini! Kalau kau ingin marah, marah padanya!"

Sakura melihat ke arah Sasuke. Sedangkan Sasuke membalas tatapan Sakura seakan matanya bertanya 'Apa?' pada Sakura.

Gadis itu memilih bungkam dan mengalihkan tatapannya. Ia cemberut. Satu kenyataan lagi, Sasuke ternyata tidur dengan wanita–wanita seksi di luar sana. Yang tadi itu, benar–benar sangat seksi.

"Jauh–jauhlah dari sifatnya itu." Bisik Sakura lirih, tapi masih terdengar jelas oleh Sasuke, dan pria itu mendengus kesal saat melihat tangan Sakura bergerak di bawah meja. Mengelus perutnya.

"Maaf membuat kalian menunggu." Gaara datang. Memecah aksi saling diam di antara Sasuke, Sakura dan Naruto. "Kenalkan ini Matsuri." Gaara mengenalkan seorang gadis cantik berambut coklat sebahu.

Namanya Matsuri: wanita yang bekerja di depan camera. Benar. Dia adalah seorang foto model terkenal. Sakura bahkan sering melihat foto Matsuri menghiasi cover majalah internasional. Dan sekarang Gaara mengenalkan wanita ini pada mereka. Ini Hebat.

Mereka serasi.

"Hallo, namaku Matsuri salam kenal." Wanita itu menyapa mereka lembut. Sasuke yang sedari tadi bersikap dingin mulai menghangat menanggapi Matsuri, dan melihat itu semua membuat Sakura merengut kesal. Wanita berambut coklat indah itu terlalu sempurna untuk diabaikan, dan Sakura mengutuk 'mata lelaki' Sasuke yang menangkap sinyal itu.

'Dasar brengsek mata keranjang!' rutuk Sakura dalam hatinya.

Mengabaikan kekacauan di hatinya, Sakura tersenyum lembut. Ini wanita Gaara dan Sakura masih punya sopan santun.

.

Mereka makan siang sambil mengobrol. Tepatnya hanya Gaara, Matsuri dan Naruto yang asik dalam pembicaraan, sedangkan Sasuke dan Sakura lebih sering diam. Salah tingkah saat mata mereka tidak sengaja bertemu. Mereka? Ahh, hanya Sakura yang salah tingkah. Sasuke terlihat lebih santai—menikmati Sakuranya.

Ya, pria itu merindukannya, rengekkannya, manjanya, merajuknya, cemburunya, pelukannya, senyumnya dan semuanya. Merindukan Sakura yang pasrah di bawahnya.

Uchiha Sasuke! Perhatikan otak mesummu!

Mengenai Matsuri, Gaara mengenalkan gadis itu sebagai kekasihnya. Mereka bahkan merencanakan sebuah pertunangan. Sakura bernapas lega ternyata Kakaknya akan segera mendapat pendamping. Dalam hatinya terselip doa, agar mereka bisa bahagia. Tidak seperti dirinya dan Sasuke.

.

.

.

.

.

.

Malam datang membawa semua kegelapannya. Setelah makan siang tadi, Gaara sengaja mengundang Sasuke dan Naruto untuk mampir ke rumahnya. Tadinya Gaara berniat mengenalkan Matsuri pada kedua orang tuanya, tapi sayangnya Tuan dan Nyonya Haruno masih belum pulang dari beberapa hari yang lalu. Lagipula Matsuri ada jadwal mendadak yang mengharuskannya pergi ke Korea.

Saatnya menjalankan misi. Naruto dan Gaara adalah dalang setiap pertemuan Sasuke dan Sakura.

Dan Suasana malam ini sangat heboh. Gaara di ruang keluarga sedang bermain game bersama Naruto. Entah apa yang terjadi, setiap beberapa menit berselang teriakan si tampan itu menggelegar mengatai Naruto bodoh. Bodoh. Bodoh.

"Kau yang bodoh, Gaara! Kau tahu Naruto buta game. Kau masih saja menantangnya. Kau seperti bermain dengan anak 3 tahun." Sasuke mengatai Naruto dengan nada sinisnya.

"OI! Yang benar saja mulutmu itu. Aku hanya kurang belatih. Aku tidak bodoh, dattebayo!" Naruto berteriak tidak terima, dan disusul Gaara yang berteriak tidak kalah lantang.

"Uzumaki Naruto! Kalau kau marah, bunuh saja adik ipar sialanku itu. Jangan membanting Stick Playstation-ku! Aku baru saja membelinya tadi siang!" Mendengar kalimat Gaara, Naruto tak bersuara lagi. Sasuke tersenyum iblis mendengar Gaara mengomel pada Naruto.

.

Sakura yang berada di kamar mencoba untuk menutup kedua telinganya saat mendengar teriakan–teriakan itu, tapi tetap saja ocehan mereka itu masih nyaring terdengar. Karena tidak tahan, Sakura memutuskan untuk keluar kamar.

"Hai, Sayang ..." Gaara menyapa Sakura lembut.

"Kalian berisik sekali! Aku mau tidur." Teriak Sakura.

"Oups, maaf." Naruto memamerkan senyum lebarnya.

"Ah, Sakura kemarilah! Ayo kita bermain sebentar." Gaara melambai pada Sakura.

"Aku bukan anak kecil." Sakura menolak.

"Tapi kau adalah satu–satunya yang terkecil di sini. Sudah, ayo kita main ..." Naruto menggantungkan kalimatnya. Saling menatap dengan Gaara penuh arti. "Permainan Truth Or Dare!"

Setelah mengerahkan keahlian merayunya, Naruto berhasil menyeret Sakura dan Sasuke ke dalam permainan. Gaara, Naruto, Sasuke dan Sakura duduk mengelilingi sebuah meja. Dan di atasnya, sebuah botol telah diputar.

Botol berhenti.

Untuk Naruto.

'Oh, Shit! Aku berniat menjebak kenapa malah aku yang terjebak?' gerutu Naruto dalam hati.

"Oke. Truth or dare? Tantanganmu adalah Shirtless." Ujar Gaara penuh kemenangan.

"Yang benar saja!" Sakura berteriak tak percaya.

"Kau gila!" bentak Naruto. "Aku mau truth kalau begitu."

"Aku akan bertanya." Gaara mengangkat tangannya. "Kau tidak pernah membawa pasangan selama ini, apa kau tidak memiliki kekasih?"

"Tidak. Aku tidak punya, kalian puas?" Naruto cemberut, dan pikiran Naruto langsung teringat pada kejadian beberapa hari yang lalu di mana seorang wanita yang selama ini selalu menempel pada Sasuke memaksanya untuk menjadi miliknya.

Hyuuga Hinata.

Naruto bergidig ngeri dan segera menggelengkan kepalanya.

"Kau benar–benar tidak punya seseorang yang kausukai?" Gaara bertanya kembali dan membuat Naruto tersadar dari lamunannya.

"Oh sialan! Dari zaman Ninja sampai zaman Edo, kenapa selalu masalah itu yang kautanyakan, Gaara?" Naruto frustasi.

Gaara mengedikkan kedua bahunya tak acuh. "Karena hal itulah satu-satunya yang menarik dalam hidupmu, Naruto." Dan jawaban Gaara membuat hati Sang Uzumaki mendung seketika.

"Baiklah-baiklah. Ada, aku memiliki seseorang yang aku sukai. Tetapi aku tidak bisa bersamanya karena dia sudah memiliki orang yang dicintainya." Naruto memandang Sakura sendu, dan dibalas dengan tatapan tak acuh Sakura untuknya.

"Jadi cinta yang tak terbalas. Kau menyedihkan sekali." Gaara menyindirnya pedas, dan itu membuat seringaian iblis tercetak sempurna di bibir Sasuke yang sedari tadi hanya diam.

"Baiklah, ayo kita putar lagi."

Botol berputar lagi dan kini giliran botol itu berhenti tepat mengarah pada Sasuke.

"Truth or dare?" Tanya Gaara.

"Tantangannya adalah mencium gadis manis yang ada di sebelahmu, dattebayo!" Naruto berseru antusias. Ini dia jebakannya. Gadis itu Sakura, siapa lagi?

"Truth." Sasuke menjawab mantap. Tanpa disadari, Sakura merasakan kecewa. Sasuke tidak mau menciumnya. Oh, kau merindukan bibir Sasuke, Sakura?

"Baiklah." Naruto mengangguk–angguk beberapa kali. "Nona, kau punya pertanyaan untuknya?"

Sakura diam beberapa saat: berpikir keras, sampai akhirnya Sakura memberanikan diri untuk menatap Sasuke. Menatap langsung ke iris mata pria itu. Ini pertanyaan dari hati terdalamnya, dan ini adalah kesempatannya.

"Kau memintaku untuk aborsi. Seandainya bayiku mati seperti apa yang kauinginkan, apa kau akan benar–benar merasa bahagia?"

DEG!

Sasuke terdiam kaku bagai dialiri listrik ribuan volt. Tubuhnya menegang, terkejut luar biasa. Pertanyaan Sakura di luar prediksinya, dan akhirnya Sasuke lebih memilih melakukan satu hal dari pada bicara.

Chup!

Dengan gerakkan cepat Sasuke menarik Sakura dalam pelukannya, menempelkan bibir tegasnya pada bibir mungil Sakura—menyatu. Pada akhirnya Sasuke memilih dare, daripada truth. Benar–benar seorang Uchiha Sasuke: tidak pandai bicara, tapi sangat ahli dalam bertindak.

Tidak ada perlawanan berarti dari Sakura, jujur saja Sakura sangat merindukan Suaminya itu. Sasuke dan Sakura memejamkan mata mereka, saling melumat dalam dengan perasaan emosi, kekecewaan, kesakitan, kerinduan, cinta dan rasa saling membutuhkan menjadi satu di dalam ciuman mereka. Satu lagi, Sasuke menyelipkan satu rasa lagi di dalamnya—kejujuran, tidak dengan ucapan, tapi dengan ciumannya ini dan—

Sakura, semoga kau mengerti. Batin Sasuke.

"Aku lapar. Aku akan mencari sesuatu untuk dimakan." Gaara pergi dari ruang keluarga.

"Oh! Demi Tuhan, aku masih belum cukup umur untuk melihat ini, dattebayo!" Naruto bangkit untuk meninggalkan ruangan itu seraya menggerutu, tapi dalam hatinya dengan ketulusan dia berdoa. Pasangan sialan ini harus kembali bersama! Tak peduli kalau mungkin di masa depan mereka akan semakin merecoki hidup Naruto dan semakin merepotkan. Itu akan lebih baik daripada mereka berpisah.

.

6 menit itu waktu yang lama. Ciuman bibir panas Sasuke baru terlepas dari bibir Sakura yang sekarang sama panasnya. Selesai melepas rindu sejenak, napas mereka memburu. Sasuke menarik wajahnya menjauh. Brengsek! Kenapa Sakuranya basah? Bukan di bibir, tapi di seluruh wajah.

Sakura menangis, terisak.

"Dia Masokis." Sakura berbisik lirih.

"Apa?" Sasuke menatap Sakura bingung.

Sakura mencengkeram bahu Suaminya erat dan menatap Sasuke kosong. "Aku sudah tahu semuanya. Hinata ... dia adalah seorang masokis. Dia wanita yang kaubutuhkan, dan dia yang lebih pantas untukmu." Air mata sialan itu tidak bisa ditahan, dan Sakura mulai menangis lagi. "Masokis ada dalam dirinya. Dia bisa menerimamu, dia yang pantas untukmu ... bukan aku yang selalu mengeluh dan menangis karena sakit, bukan aku yang lancang karena ingin kau sembuh." Nada Sakura semakin lirih dan serak, bahkan bahunya pun bergetar hebat.

Sasuke menegang. Sakura tahu?

"Tidak, tidak!" Sasuke menggeleng kaku. Ada ketakutan di matanya. "Kau adalah satu–satunya wanita yang aku butuhkan. Tidak dengan yang lain." Sasuke berujar lirih, suara yang biasanya terdengar tegas dan tajam itu entah menghilang kemana.

Sakura memandang Sasuke tajam. "Jadi, menyakitiku sangat menyenangkan untukmu?" Ujar Sakura hampir meledakkan suaranya.

Sasuke mengeraskan rahangnya dan menggeleng tegas. "Bukan begitu."

"Kau begitu!" Sakura sudah tidak tahan.

Mereka harus bicara tentang ini. Persetan dengan harga diri, persetan dengan kepemilikan! Kalau memang mereka harus berpisah, maka Sakura akan melepas Sasuke.

Oh ya! Seperti romantisme yang ada dalam novel dan drama: Cinta tidak harus memiliki, kebahagiaanku adalah melihat kau bahagia, kebahagiaanmu adalah segalanya bagiku, dan semua pedoman romantisme lainnya. Terdengar indah di telinga Sakura, memang. Tapi dia tidak ingin mencoba menempuh jalan itu.

Oke, Sakura juga butuh kebahagiaan.

"Ada Hinata dengan Masokis dalam dirinya. Sudah jelas dia akan menerimamu dengan semua sadismu. Dia adalah wanita yang akan tersenyum dan bahagia, terpuaskan dengan setiap luka yang kau berikan untuknya. Tidak seperti aku, tapi kau bilang hanya ingin aku? Kau sadar Sasuke? Aku tidak bisa menerima itu semua. Aku sudah mencoba menerima, tapi aku tidak bisa. Tubuhku tidak bisa..."

"Tidak! Uchiha Sakura." Suara Sasuke terdengar putus asa.

"Haruskah aku menjadi Masokis juga?" lirih Sakura menatap Sasuke sendu.

"Tidak, Sialan!" Bentak Sasuke. "Hentikan omong kosong ini!"

"KALAU BEGITU SEMBUHLAH!" Sakura balas berteriak dan menatap wajah Sasuke putus asa. "Kau harus sembuh. Kalau kau tidak ingin aku menjadi pantas untukmu, maka kau yang harus memantaskan dirimu untukku. Aku wanita normal, Sasuke." Terisak menangis sesenggukkan. Sakura menangis keras di depan Sasuke. Menguatkan cengkeraman tangannya pada kerah baju Sasuke yang semakin kusut di genggamannya.

Sakura, kau melukai harga diri Sasuke.

Sasuke mengacak rambutnya frustasi dengan napasnya yang mulai memburu. Pembicaraan yang tidak pernah ingin dia bicarakan. Sakura menyinggung perasaannya dengan sangat parah. Apa katanya? Sembuh? Tidak bisa! Sasuke tidak bisa!

"Kalau kau ingin kita tetap bersama, hanya dua pilihan itu yang kaumiliki. Aku yang jadi sepertimu atau kau yang menjadi sepertiku." Sakura memohon dalam suaranya.

"Aku tidak yakin." Sasuke sudah memejamkan mata—ia terjatuh dalam lubang hitam.

"Kalau begitu kita akan berpisah, kau tak menginginkan bayi ini. Kurasa tidak masalah jika kita berpisah." Ucap Sakura memandang Sasuke kosong.

"Jangan katakan tentang perpisahan!" Bentak Sasuke-lagi. Sasuke benar-benar disudutkan dengan sikap Sakura.

Sakura, sebenarnya kau sudah sangat melukai perasaan Sasuke. Harga diri priamu berdarah di mana–mana seandainya kau tahu. Sasuke mengalah pada pembicaraan ini. Sasuke ingat, Sakura tidak dalam keadaan baik untuk bertengkar.

Sakura menatap Sasuke terluka. Untuk sementara lupakan Masokis! Lupakan Hinata! Ada yang lebih penting yang ingin Sakura katakan pada suaminya itu.

"Kalau aku memohon padamu, apa ada kemungkinan kau akan mengizinkan aku untuk melahirkannya? Kumohon, berpikirlah lagi. Dia milikmu juga." Terisak pedih. Sakura berdiri dan meninggalkan Sasuke. Tahu, prianya itu tidak akan menjawab.

Sasuke hanya diam bak patung tak bernyawa dengan iris kelamnya yang redup mengiringi setiap langkah Sakura menuju kamarnya, hingga tubuh Sakura menghilang di balik pintu pun Sasuke hanya terdiam dengan tatapan kosong.

"Sakura ... maaf." Lirihnya parau, "maafkan aku," dan entah untuk yang ke berapa kalinya dalam sebulan ini Uchiha Sasuke mengeluarkan air mata langkanya hanya karena Sakura. Sakuranya, wanitanya, istrinya dan ibu dari benih yang sedang hidup dalam tubuh wanita itu.

—Penderitaan pria beriris kelam itu menjadi pemandangan miris di mata Gaara dan Naruto yang diam-diam mengintip di balik dinding dapur.

.

.

.

.

.

/To be continue/


A/N : Oke Sasa putuskan untuk merubah sedikit alur cerita mulai di chapter ini. Karena banyak reader yang minta Sasa bikin fic ini berakhir beda dengan fic aslinya, maka YA! Sasa akan merubah akhir fic ini dengan gaya bahasa Sasa sendiri tentunya. Jadi maaf ya kalo ada paragraf yang kalimatnya beda, berarti itu alur tambahan yang Sasa buat. Termasuk pertemuan Sasuke dan Hinata di restoran itu adalah bikinan Sasa xD Maaf kalo di sana Sasuke dan Hinata OOC berat. Sasa ngga bisa bales review kalian, maaf ya. Yosh! Semoga suka, terima kasih.

Sign, with love.

UchiHaruno Misaki.