Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Dirakimra17
Edited © UchiHaruno Misaki
.
[U. Sasuke x H. Sakura]
Bab 9
.
Selasa siang yang cerah. Sakura melenggang dari pagar sekolah, harinya semakin baik. Harapan ada di setiap detiknya. Doa di setiap napasnya. Dua nyawa berada dalam tubuhnya. Dia takut, tapi dia terlalu bahagia.
Permohonannya pada Sasuke, belum ada jawaban. Semoga pria itu memikirkannya dan bersikap bijaksana. Sakura baru akan memutuskan untuk kembali ke rumah besar Sasuke atau tidak, setelah keputusan laki–laki itu. Nasib keutuhan rumah tangga mereka ada pada keputusan Sasuke sendiri.
Wah! Kejutan.
Sakura yang sedang melangkah dengan ringannya tiba–tiba berhenti. Ini hari apa? Ada angin apa? Apa sebentar lagi kiamat datang? Sasuke yang menjemputnya. Sakura mendekat. Perlahan. Selangkah demi selangkah. Ia terlalu takjub! Ini seperti keajaiban dunia. Lebih aneh daripada menara Pisa yang miring di Roma sana.
"Kehamilanmu membuat kau berjalan semakin lamban." Sasuke mendengus saat Sakura ada di sekitarnya. Di dekatnya.
"Kau di sini?" Sakura menyipitkan matanya.
"Kita akan ke dokter kandungan. Dokter Ootsutsuki menunggu." Sasuke mengucapkannya berhati–hati.
"APA?" Sakura berteriak. "Tidak!"
"Kenapa?"
"Kenapa?" Sakura balik bertanya dan memeluk dirinya sendiri.
Sasuke tersenyum semar ketika menyadari satu hal. "Kita akan memeriksa bayinya."
"Tidak yang lain?" Sakura mundur dua langkah menjauhi Sasuke.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Hn?"
"Kau akan menyeretku ke ruang operasi misalnya. Aborsi." Tutur Sakura ketakutan.
Sasuke memejamkan mata. Melemaskan bahunya yang selalu tegap. Dia lelah. Saat matanya terbuka lagi, Sasuke menatap Sakura dalam. Tatapan dengan luka. Ya Tuhan, dia benar-benar menjadi pria brengsek di mata gadisnya saat ini. Dalam hati Sasuke mengeluh. Sasuke memang tidak bisa 'bicara' dengan benar, tapi Sasuke sudah mantap kali ini. Membawa Sakura ke dokter. Sakura akan mendengar kebenaran tentangnya. Tentang bayi mereka.
"Tidak." Sasuke menggeleng tegas.
Iris klorofil itu terlihat berkilat ragu, namun melihat tatapan tajam penuh kejujuran di depannya membuat Sakura melemaskan bahunya yang tegang. "Baiklah."
.
Di dalam perjalanan yang canggung, Sakura hanya bisa duduk manis dengan jantung berdebar hebat. Apa yang sedang dipikirkan Sasuke? Kenapa dia membawa Sakura menemui Dokter Ootsutsuki? Sungguh. Di hatinya, Sakura berdoa; semoga ada keajaiban, seperti Sasuke yang tiba–tiba datang padanya hari ini. Semoga Sasuke bisa menerima bayinya.
"Jangan tegang, dokter Ootsutsuki tidak akan memakanmu." Sasuke melihat tangan Sakura yang saling meremas gelisah.
"Aku lebih takut kau akan memakan bayiku." Kalimat yang ambigu. Sasuke bukan orang tolol yang tidak mengerti apa maknanya.
"Biarkan aku menyentuhmu!" Sasuke menoleh singkat.
"DI SINI?!" Berteriak lagi, Sakura? Lihat! Sasukemu bahkan kaget dengan suaramu!
"Bukan menyentuhmu, tapi menyentuhnya lebih tepatnya. Biarkan aku menyentuhnya." Sasuke mengulurkan tangannya mengarah pada perut Sakura.
Nah 'kan, otak gadis berseragam yang mesum ke mana–mana. Kau tidak lebih waras dari Sasuke ternyata.
Dengan wajah merah seperti biasa, Sakura menahan napas saat tangan Sasuke merambat pelan. Meraba perutnya. Tidak terasa apapun. Dia masih 4 minggu, lebih sedikit, tapi pertemuan tangan Sasuke dengan perut Sakura menggetarkan hati keduanya. Menggetarkan tangan kiri Sasuke yang masih memegang kemudi. Fokus Sasuke! Kau sedang menyetir.
Bayi empat minggumu ada di dalam, Sasuke.
"Jadi … tidak ada aborsi?" Sakura lirih. Suaranya tenggelam dalam harapan.
"Tidak." Sasuke menghela napas panjang. "Tidak hari ini."
Oh, bajingan! Sakura menepis kasar tangan Sasuke di perutnya. Ia mual seketika dengan wajah pucat. Jantungnya menghilang lagi. Hatinya pecah. Tidak hari ini? Berarti di hari lain Sasuke akan membunuh bayi mereka? Darah dagingnya! Demi Tuhan! Sakura ketakutan lagi.
Sasuke menoleh dengan penyesalannya. Tidak bermaksud seperti itu. Aborsi bukan rencananya. Setelah Sakura tahu kebenarannya, itu akan menjadi rencana mereka berdua. Kau terlalu terburu–buru. Mulut sialanmu Uchiha Sasuke!
Merelakan bayi empat minggu mereka, menggantinya dengan bayi lain yang bisa tumbuh dengan sehat di masa depan. Tentu dengan Sakura yang sehat juga. Itu maksud Sasuke.
"Aku tidak bermaksud seperti ...," ponsel Sasuke berbunyi. Memotong kejujuran Sasuke.
"Hn?" Sasuke saat menjawab melalui handsfree. Tentu setelah dia tahu, itu adalah Kimimaru. Orang kepercayaan neneknya.
"..."
"Bagaimana bisa?"
"..."
"Di mana sekarang?"
"..."
"Hn, aku akan ke sana!" emosi Sasukeulai meledak. "Kita akan mampir ke rumahku sebentar." Sasuke memutar kemudinya.
.
.
.
.
.
Sakura tidak pernah membayangkan akan datang ke rumah ini. Dia belum pernah datang ke kediaman keluarga Uchiha. Sakura beberapa kali bertemu dangan kedua mertuanya, tapi tidak di rumah ini. Lebih sering di restaurant mewah atau hotel ternama.
"Tunggu di sini!" perintah Sasuke, meninggalkan Sakura di ruang tamu, sedangkan Sasuke naik ke lantai dua, tapi bukan Sakura kalau dia tidak keras kepala. Dia mengikuti Sasuke dengan perlahan.
Kamar di ujung lorong. Lantai dua. Kamar yang dituju Sasuke. Sakura mengintip. Di dalam sana, Madam Uchiha terbaring di ranjang. Di sekitarnya ada tuan dan nyonya besar Uchiha, mertuanya. Seorang doker. Sasuke dan … seorang wanita yang Sakura tahu bernama Hinata.
"Ini 'kah yang kaumaksud dengan keadaan darurat?" Sasuke membangun antisipasi setinggi–tingginya.
"Berhentilah bermain!" Sentak Madam Uchiha. "Cepatlah kalian menikah!" Kalimat terkutuk itu lagi.
"Kau tahu? Itu tidak akan terjadi. Meski aku harus menghadiri pemakamanmu sekalipun." Ucap Sasuke tenang, namun terlihat jelas kilatan amarah di manik obsidiannya.
"Oh, kau pintar berkata-kata kurang ajar pada nenekmu sekarang? Apa istrimu yang mengajarimu?" Sasuke bergeming dengan sorotan onyx tajamnya. "Kenapa kau tidak mau menikah lagi, hm? Apa istri jalangmu itu melarang? Hinata bahkan jauh lebih baik dalam segala hal dari istrimu itu. Hinata bahkan pernah menolongku. Aku berhutang nyawa padanya. Lebih dari itu dia lebih pantas bersamamu." Lanjutnya lantang.
Sasuke mengeraskan rahangnya. "Kau yang berhutang padanya. Jadi bayarlah! Jangan menggunakanku, karena aku bukan budakmu, Nenek tua!" Desis Sasuke.
"Aku menginginkan Hinata." Madam keras kepala.
Fugaku memijat pangkal hidungnya ketika melihat istri dari mendiang ayahnya kembali berulah, Mikoto sendiri menghela napas panjang lalu perlahan wanita itu menghampiri ibu mertuanya yang terbaring lemah di ranjang.
"Sudah cukup, Ibu! Maafkan aku jika telah lancang, tapi berhentilah mengusik kehidupan putraku. Putraku sudah menikah, apa yang kauinginkan sebenarnya? Kumohon jangan ikut campur masalah Sasuke lagi, dia sudah dewasa." Ucapnya tegas, namun masih terkesan sopan.
Madam Uchiha menatap menantunya tajam. "Diamlah, Mikoto! Sasuke itu cucuku! Dan aku tidak mau tahu, dia harus menikahi Hinata!" Ucap Madam Uchiha seraya menarik tangan Hinata. Hinata sendiri hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi.
Sasuke melirik wanita lavender itu dingin. "Katakan sesuatu, Nona Hyuuga! Bukan 'kah kita sudah membahasnya?"
Hinata tak segera menjawab dan itu membuat Sasuke mengeraskan rahangnya, sedangkan Fugaku, Mikoto, dan Madam Uchiha menatap kedua anak manusia itu bingung.
"Ada apa ini?" Madam Uchiha kembali membuka suaranya.
"Hn, aku dan Nona Hyuuga ..."
"Aku hanya akan mengikuti keinginan anda, Madam Uchiha." Hinata dengan cepat memotong ucapan Sasuke.
Sasuke menggeletukkan giginya seraya menatap Hinata penuh kebencian. Apa maksud dari wanita itu? Bukankah mereka sudah membahasnya di restoran minggu lalu? Brengsek! Dasar wanita licik. Batin Sasuke geram. Sedangkan Hinata hanya menatapnya tanpa ekspresi, namun sudut bibirnya tertarik setengah membuat sebuah seringaian tipis yang hanya dapat dilihat oleh Sasuke.
Aku bersumpah akan membunuhnya setelah ini!
Madam Uchiha mengedikkan bahunya. "Sudah kukatakan, kalian akan tetap menikah. Titik."
Ketika Sasuke hendak membuka mulutnya untuk kembali membantah, tiba-tiba saja suatu hal tak terduga terjadi.
"Lakukanlah!" Sakura menghela napas pelan, lalu dengan yakin dia keluar dari persembunyiannya. "Kau akan mendapatkannya, Madam." Sakura berbicara di ambang pintu. Tubuhnya bergetar hebat. Semua orang terkejut, terlebih Sasuke. "Kau akan mendapatkannya menjadi menantumu. Aku akan menyingkir seperti yang kauinginkan." Tutur Sakura datar.
Sasuke menatap istri belianya tak percaya. "Apa yang kaubicarakan, Uchiha Sakura?!" sentak Sasuke tajam.
Mikoto menatap menatunya nanar. "Sakura ... dengar, Nak! Ini ...,"
Sakura mengangkat tangannya tegas, iris klorofilnya meredup. "Ini semua sudah cukup untukku. Maaf Ibu, Ayah, Sasuke ... sudah cukup!" Sakura berbalik. Berlari menuruni tangga, meninggalkan Sasuke dengan hati yang hancur.
"Sialan!" Sasuke mengumpat, lalu dengan wajah memerah ia membalikkan tubuhnya dan menatap Madam Uchiha tajam. "Kau tidak akan bisa memisahkan kami, dan mengatur hidupku lagi." Sasuke mengalihkan tatapannya pada Hinata. Menatap wanita itu dengan tatapan jijik dan mencela. "Dan kau jangan harap aku sudi menikah dengan wanita menjijikan sepertimu, ingat itu!" lalu Sasuke segera berlari keluar menyusul Sakura. Meninggalkan Madam Uchiha yang marah-marah tidak jelas, Fugaku yang menatap ibunya datar, Mikoto yang terduduk lemas di sofa dan Hinata yang tengah menunduk dengan kedua tangan mengepal.
'Sasuke-kun ... aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja.'
.
"Berhenti di sana, Sakura!"
Tidak menghiraukan, Sakura terus berlari. Sampai di halaman depan, Sasuke berhasil mencekal tangan Sakura. Ya Tuhan, bayi empat minggu itu masih di dalam dan Sakura berlari seperti orang kerasukan.
Rahang Sasuke mengeras. "Dengar dulu!" Sentaknya gelisah.
"Dengar apa? Kau dan Hinata? Aku sudah tahu semuanya. Kau pria brengsek. Pergi saja dangan tunanganmu itu. Hinata seorang masokis, dia adalah wanita yang kaubutuhkan. Bukan aku! Aku dan anakku tidak membutuhkanmu. Aku bisa merawatnya tanpamu. Aku benci padamu!" Sakura berteriak di depan wajah Sasuke. Menangis keras.
Sasuke terkejut bukan main, dan dia lengah. Sakura meringis seraya memegang perutnya. Sakura melihat Sasuke, berusaha mengadu pada Sasuke lewat matanya. Sakura meremas setelan Sasuke.
Sasuke membeku. Pemandangan di depannya terlihat seperti malaikat pencabut nyawa baginya. Ini lebih dari mengerikan.
"Sakit ..."
"Apa? Sakit di mana?" Sasuke panik bukan main. Sakura meringis lagi. "KATAKAN!"
"Perutku … perutku sakit … Ibuuuu …" Sakura menangis. Terisak semakin kencang.
"Ya Tuhan kau berdarah." Darah mengalir deras dari sela paha kesayangan Sasuke. Pria itu membawa Sakura dalam gendongannya.
Selamatlah sayang. Kumohon selamat.
.
.
.
.
.
Sasuke masih berdiri di depan ruang perawatan Sakura. Setelah 2 jam berada di bawah tangan para dokter, Sakura baru sadarkan diri ketika hari mulai malam. Gadisnya di dalam sana dan Sasuke masih belum menemuinya.
Sasuke termenung sejenak. Perlahan, membuka pintu kamar rawat Sakura.
Sasuke melihat malaikat maut lagi. Sasuke terasa seperti akan mati. Sakura duduk di ranjangnya menghadap jendela dengan pakaian rumah sakit yang kebesaran untuk badan mungilnya. Tatapannya lurus. Kosong. Wajahnya pucat. Matanya memerah dan basah. Dia pasti sudah tahu semuanya.
"Uchiha Sasuke …," Lirih Sakura. Yang pertama menyapa, saat ia menyadari kehadiran Sasuke. "Bayiku telah mati seperti yang kauinginkan. Hari ini ada operasi. Bukan di hari lain, apa kau senang?" Sakura terisak lagi. Suaranya pedih. Matanya berisi kesedihan dan kehilangan.
Sasuke tercekat. Tidak bisa bernapas dengan benar. Dia ingin memeluknya.
"Permintaanmu sudah terpenuhi, sekarang giliran aku yang meminta." Sakura berkata dengan bergetar dalam suaranya dan tanpa menghadap suaminya yang berdiri kaku di belakangnya. Dia tidak mendengar hatinya lagi untuk bertahan, dia tidak sejalan dengan logikanya yang sedang memperingatinya, dia menjauh dari akal sehatnya untuk berpikir rasional dan akhirnya kata-kata tabu keluar dari mulut mungilnya. "Ayo, kita bercerai."
Boom!
Giliran duniamu yang kiamat Uchiha Sasuke, gadismu menginginkan perpisahan. Apa yang akan kaulakukan?
"Ya." Sasuke menjawab dengan datar dan Uchiha Sasuke berjalan menjauh dari ruang pasien itu dengan seluruh kesadarannya yang entah berada di mana. Pandangannya terlihat kosong.
Jadi ... ini 'kah akhirnya? Kau menyetujuinya eh, Tuan Uchiha? Berpisah dengan gadis beliamu? Gadis yang tanpanya kau bisa saja hancur?
.
Sasuke keluar dari ruangan itu, setelah menyetujui permintaan Sakura. Sasuke setuju? Bahkan Sasuke sendiri tidak yakin. Apa dia memang setuju? Sasuke bersandar di pintu ruang perawatan Sakura. Pandangannya tak fokus. Dengan gerakan pelan, Sasuke merogoh saku kemejanya. Dia mendapatkan sesuatu dari dalam.
Selembar hitam putih. Foto bayi empat minggunya.
"Maafkan aku, Sayang. Maafkan Papa, Uchiha Itachi ..." Sasuke menangis dalam diamnya. Dalam sakitnya. Bersama Sakura yang terisak dengan suara yang bisa didengar bahkan di tempat Sasuke berdiri sekarang.
Uchiha Itachi?
Uchiha Itachi. Iya, Sasuke menamainya Uchiha Itachi. Uchiha Itachi, itu nama bayi empat minggunya. Bayi pertamanya. Bayi yang menemani Sasuke saat Sakura pergi dari rumah besarnya. Menemani Sasuke tidur setiap malamnya. Bahkan saat Sasuke di rumah sakit pasca 'disentuh' Gaara di seluruh tubuhnya. Bayinya yang telah tiada.
Uchiha Itachi menemaninya, walau hanya berwujud selembar hitam putih.
"Kau terlalu cepat pergi, Nak. Aku bahkan baru sekali menyentuhmu. Demi Tuhan!"
Oh, andai saja kau melihatnya, Sakura. Sasuke benar–benar mencintai bayi empat minggunya. Bayi kalian...
.
.
.
.
.
Rainy days. Hujan yang turun membuat seluruh kota menjadi dingin. Banyak orang yang menyukai hujan, banyak orang yang bersenang-senang di bawah rintik hujan, tapi tidak untuk Haruno Sakura.
Gadis ini tidak menyukai hujan. Setiap tetes air yang jatuh dari langit selalu ia syukuri, tetapi hal itu juga tidak mampu untuk membuatnya menyukai hujan. Hujan membuat seluruh kota basah. Hujan membuat semua yang ada di sekitarnya menjadi dingin. Ia benar–benar benci dingin, karena itu Sakura selalu membutuhkan kehangatan.
Sakura berdiri di depan jendela kamarnya seraya melihat keluar. Air terus berjatuhan dari langit. Ia mengeratkan jaket yang membalut tubuhnya. Sinar matanya tidak bersemangat. Senyumnya sudah memudar sejak tetes pertama air hujan mulai menyatu dengan tanah. Bibirnya terus bergerak pelan. Mengucapkan satu kata yang sama dan berulang–ulang.
"Dingin ... dingin ... dingin."
Ini sudah hampir satu bulan sejak kepergian bayinya. Ini sudah hampir satu bulan proses perceraiannya berjalan. Sakura bahkan tak mau tahu. Semua Gaara yang mengurus. Dan dua hari yang lalu, ujian terakhirnya selesai. 4 hari lagi adalah 28 Maretnya.
Hari ulang tahunnya.
Delapan belas tahunnya.
Cklek!
Pintu kamar terbuka pelan. Sudah bisa dipastikan itu adalah Gaara. Pria itu benar–benar menepati janji untuk tetap tinggal bersamanya. Setidaknya Sakura tidak sendirian pasca perpisahan terkutuknya dengan Sasuke.
Sakura menoleh ke arah Gaara. "Nii-san ..."
"Aku kira kau tidur." Gaara berdiri di samping Sakura.
Sakura berpaling dan kembali menatap tetesan air hujan di balik kaca jendelanya. "Ini masih sore."
"Aa, Sakura ... tentang perceraianmu …" Gaara ragu–ragu. "Aku sudah mengurusnya, tapi kenapa kau …,"
"Terima kasih, Nii-san." Potong Sakura cepat. Sakura sudah menjadi janda. Janda bekas Uchiha Sasuke.
Oh, double shit! Status itu tidak ada bagus–bagusnya.
"Dengarkan aku dulu." Gaara tidak ingin dipotong.
Sakura menggeleng tegas. "Tidak!"
Tok, tok!
"Apa aku menganggu?" Naruto berdiri di depan kamar dengan senyum lebarnya.
Sakura menoleh dan tersenyum tipis. "Tidak. Masuklah Naruto! Dan Gaara-nii lebih baik kau keluar. Aku ingin dengan Naruto sekarang." Sakura mendorong Gaara sampai ke pintu lalu mengunci dari dalam.
Naruto mengambil tempat di sebuah sofa yang mengarah pada televisi. Mengambil remote control. Memilih channel yang menurutnya menarik. Selalu sesuka hatinya, 'kan?
"Kau tidak ingin bertanya tentangnya?" Kalimat Naruto mengarah pada seseorang yang ingin Sakura lupakan, Uchiha Sasuke; mantan suaminya. Tch.
Sakura mendudukkan dirinya tepat di samping Naruto. "Tidak."
"Dia sedang sakit." Ucap Naruto tak acuh.
"Aku tidak ingin tahu." Sakura cemberut.
"Akhirnya setelah semua perjuangannya, dia melepasmu juga." Naruto menggeleng sok prihatin melihat nasib rumah tangga sahabatnya.
Sakura mencibir kesal. "Perjuangan apa? Kaukira dia itu pahlawan."
Naruto mengedikkan bahunya. "Perjuangan mendapatkan cinta pertama."
"Cinta pertama? Itu kutukan." Sakura dikutuk tidak bisa melupakan cinta pertamanya; suami pertamanya.
"Cinta pertama Uchiha Sasuke itu saat dia masih sekolah dulu." Ya Tuhan, Naruto mempunyai indikasi akan membakar hati Sakura. "Dia itu raja, raja, raja, dari rajanya orang gila. Cinta pertamanya pada seorang gadis, hanya karena gadis itu terjatuh di depannya. Rok gadis itu terangkat. Dan Sasuke melihat celana dalamnya. Kemudian jatuh cinta. Si keparat mesum!" Naruto tertawa geli dengan pandangan menerawang. "Gadis itu bahkan berusia 9 tahun waktu itu."
"Jadi dia benar–benar pedofilia?" Pekik Sakura. Informasi yang luar biasa brengsek.
"Dan gadis 9 tahun itu adalah dirimu." Naruto memasang wajah serius. Menatap Sakura, seperti gadis itu adalah soal matematika paling rumit yang harus diselesaikan.
"Bagaimana mungkin?" Sakura lirih. Entah ada perapian dari mana? Hatinya tiba–tiba menghangat.
"Dia mencintaimu sejak lama. Kau cinta pertamanya." Ucap Naruto dengan senyum tipisnya.
"Kami menikah karena perjodohan." Sangkal Sakura.
Naruto menarik belakang kepala Sakura, lalu membenturkan dahinya dengan dahi lebar gadis itu gemas. "Perjodohan kepalamu!"
"Aww! Itu sakit, Baka!" pekik Sakura seraya menjauhkan kepalanya dari kepala mahal supir tampan pirang itu. "Lagipula mana mungkin itu benar? Gaara-nii bilang begitu." Lanjut Sakura dengan nada lirih.
"Ya, karena terlalu konyol menikahkan anak sekolahan dengan ojisan mesum. Hanya perjodohan karena bisnis yang menjadi satu–satunya alasan tepat saat itu. Gaara menerima lamaran Sasuke karena Gaara memang tahu Sasuke mencintaimu, sesaat setelah adegan celana dalam itu, Sasuke langsung bilang pada Gaara kalau dia menginginkanmu. Jadilah kalian menikah setelah Sasuke menjadi CEO Uchiha Corps." Jelas Naruto.
"Oh Tuhan! Celana dalamku?" Sakura benar–benar seperti punya sayap untuk terbang ke naraka.
"Hahaha. Sudah kubilang dia itu keparat gila, dattebayo!" Naruto beranjak seraya mengusap kepala pink gadis di sampingnya lembut. "Aku keluar dulu, tidurlah!"
Setelah Naruto pergi dengan semua mulut besarnya. Sakura meringkuk di ranjang. Tak habis pikir Sasuke mencintainya hanya karena pernah melihat celana dalamnya. Itu konyol. Memalukan. Satu kenyataan lagi yang Sakura dapat; mereka tidak dijodohkan. Sasuke menikahi Sakura karena menginginkan gadis itu. Dan Sakura dengar dari Naruto, Sasuke bertunangan dengan Hinata karena Madam Uchiha yang memaksanya.
Sakura merindukan Sasuke.
Mantan Sasukenya.
Sakura langsung bangkit dari tidurnya. Berlari ke arah lemari. Di dalam lemari ketiga ada kopernya saat dia pulang dari rumah Sasuke. Sakura membongkar isi kopernya. Iya, baru dibongkar sekarang karena segala keperluan Sakura sudah terpenuhi tanpa harus membuka koper itu. Ini rumahnya sendiri.
Ini dia. Sakura menemukannya.
Kemeja hitam Sasuke. Kemeja kotor yang ia curi dari gantungan di kamar mandi. Benda ini bekas dipakai oleh pemiliknya. Aroma sisa wewangian yang tercampur keringat Sasuke masih melekat di kemeja ini. Kemeja kesayangan Sasuke.
Sakura melepas semua pakaiannya sampai telanjang bulat. Lalu dengan perlahan sambil menutup mata, ia memakai kemeja Sasuke. Membalut tubuhnya. Sakura menangis. Merindukan mantannya. Ini menyiksa. Sakura kembali ke ranjangnya. Meringkuk. Memeluk dirinya sendiri. Mencari ke dalam memorinya. Mengobrak–abrik otaknya. Di mana? Di mana dia menyimpan memorinya tentang Sasuke? Sasuke yang memeluknya. Sasuke yang menciumnya. Sasuke yang bercinta dengannya. Di mana?
Isaknya semakin keras di bawah bantal. Aroma Sasuke memeluknya.
.
.
.
.
.
Suara deru mobil terdengar di telinga Sakura. Suara mobil yang sangat akrab di telinganya. Mobil Sasuke. Benarkah? Sakura langsung bangkit. Memakai hot pants-nya. Tetap memakai kemeja Sasuke. Mau apa pria itu?
Sakura mondar–mandir di kamarnya saat suara pintu diketuk.
"Apa?" Sakura menemukan seorang pelayan di depan kamarnya.
"Tuan Gaara meminta anda untuk makan malam bersama."
"Ada Sasuke?"
"Tuan Uchiha? Iya, beliau ada di ruang makan."
Sakura turun dengan langkah bar–bar. Dia memang merindukan, dia memang memuja barusan, tapi dia perlu menegaskan. Hubungan mereka telah berakhir. Sakura hanya perlu menangis satu atau dua bulan. Setelah itu semua, mereka hanyalah masa lalu.
"Mau apa kau kemari?" Tanya Sakura sinis pada Sasuke.
"Sakura … duduklah. Kita makan setelah itu kita bicara." Tegur Gaara.
"Aku tidak mau makan. Aku akan pergi." Mata Sakura masih menyalang.
"Ke mana? Malam–malam begini?" Naruto ikut bersuara.
"Pergi dengan teman–temanku. Bersenang–senang." Sakura sengaja mengingatkan pada Sasuke, bahwa saat mereka bersama Sakura tidak pernah bersenang–senang dengan teman–temannya.
"Kau tidak boleh pergi." Gaara mendesis.
"Kenapa? Aku hanya ingin bersenang–senang. Aku masih 17 tahun dan aku sudah sangat menyedihkan sekarang. Setidaknya pergi bersenang–senang bisa membuatku lupa bahwa aku adalah seorang janda yang nyaris mempunyai anak." Teriak Sakura emosi.
"Nona!" Naruto berdiri. Menghampiri Sakura dan menarik ke dalam pelukannya.
Sasuke berdiam diri. Matanya fokus pada piring di depannya. Dia hanya diam mendengarkan.
"Sakura dengarkan dulu!" Gaara meninggikan suaranya.
"Tidak ada yang perlu didengar." Sakura keras kepala. Selalu.
" Sakura, selesaikan dulu masalah kalian!" Gaara berbicara tegas.
"Apa lagi? Kami sudah berpisah. Kami selesai!" Sakura keras kepala. Lagi.
"Sakura … belum." Gaara menggeleng pelas. Menyesal.
"Bagaimana? Apa maksudnya?" Sakura tahu ada yang salah.
"Maaf. Tapi…" Gaara diam. Melirik Sasuke sebentar. "Kau bukan seorang janda. Kalian masih belum bercerai."
"Apa?! Omong kosong apa yang sedang kaubicarakan?!" Suara Sakura naik beberapa oktaf.
"Kau masih sah istri Sasuke. Aku memang mengurusnya, tapi Sasuke menolak menandatangani berkasnya. Selama ini, Sasuke masih memenuhi kewajibannya untuk menanggung hidupmu. Maafkan aku, tapi Sasuke masih membiayai semua keperluanmu sebulan ini. Uang sekolah, uang jajan dan semua keperluanmu."
"Kenapa kaulakukan ini padaku?" Sakura mengambil napas. Siap memaki Sasuke. "Belum cukup 'kah kau menyakitiku?"
Sasuke menatap Sakura dengan iris obsidiannya yang berkilat sendu. "Berikan aku kesempatan." Suara Sasuke terdengar lirih. Oh, ke mana suara datar dan dinginmu Uchiha?
"Kesempatan? Sudah berulang kali. Setelah semua sikapmu. Kelainanmu. Kekacauanmu dengan para pelacurmu. Perselingkuhanmu. Pertunangan sialanmu. Semua penghianatanmu. Aku masih bersamamu Uchiha Sasuke!" Sakura meledak.
"Nona…" Naruto berusaha merangkul, namun Sakura segera menepisnya.
"Tapi tidak setelah kau memintaku membunuh bayiku. Tidak setelah aku kehilangannya. Aku ingin semua ini berakhir." Sakura memejamkan mata. Air mata turun menganak sungai di pipinya. "Termasuk kita. Aku ingin akhir dari hubungan kita, Sasuke!"
Sakura memandang Gaara sejenak lalu melihat Sasuke lagi. Pria itu masih diam di tempat. Tentu saja dia sangat terkejut. Tercengang mendengar apa yang barusan diucapkan gadisnya. Kalau kalian menempelkan telinga kalian di dada Sasuke, kalian akan tahu betapa cepat detak jantung pria itu berdetak. Bahkan saat ini, Sasuke seperti lupa bagaimana cara berkedip.
"Kau lebih brengsek dari seorang bajingan gila. Kau monster. Kau membunuh bayi. Binatang saja tidak membunuh bayinya sendiri. Kau bahkan bukan seorang pria, kecuali di atas ranjang. Kau pengecut. Iya, aku menyalahkanmu atas semuanya. Seandainya kau bertanggung jawab. Seandainya kau menginginkannya juga. Seandainya kau menjagaku. Dia tidak akan mati." Sakura masih meledak. Memuntahkan semua kesakitan di hatinya.
Sakura lari menuju tangga. Ke kamarnya.
"Aku akan menyusulnya." Naruto mengejar Sakura.
Meninggalkan Gaara yang menghela napas frustasi dan Sasuke yang menunduk dengan mata terbelalak lebar serta dada berdebar perih luar biasa. Suara Sakura terus terngiang di kepalanya bagai sebuah lonceng kematian. Mengerikan.
Kau lebih brengsek dari seorang bajingan gila. Kau monster. Kau membunuh bayi. Binatang saja tidak membunuh bayinya sendiri. Kau bahkan bukan seorang pria, kecuali di atas ranjang. Kau pengecut. Iya, aku menyalahkanmu atas semuanya. Seandainya kau bertanggung jawab. Seandainya kau menginginkannya juga. Seandainya kau menjagaku. Dia tidak akan mati.
Kau pembunuh, Uchiha!
Kau pembunuh!
.
Sakura hampir saja membanting pintunya ketika Naruto menahan daun pintu itu agar tetap terbuka. Sakura sesenggukan. Melihat sedih pada Naruto. Pria itu menggemgam tangan Sakura. membawa gadis itu masuk kamarnya.
"Aku tak akan memaksamu. Semua keputusan ada di tangan kalian. Hanya satu. Lihat ini dulu." Naruto mengambil laptop Sakura di meja belajarnya. Menyalakan. Memasang sebuah flashdisk yang diambilnya dari saku.
Sakura melihat laptopnya. Melihat videonya.
Video itu.
Naruto yang menghajar Sasuke. Sasuke yang mengaku. Sasuke yang menangis. Sasuke yang ternyata mencintai bayi empat minggunya. Bayi mereka.
Sasuke yang mengutamakan keselamatannya.
"Dia tidak pernah menginginkan kematian bayi kalian. Dia hanya terlalu mencintaimu." Ucap Naruto sendu.
Sakura menutup mulutnya erat. Sialan. Seandainya bisa, dia ingin memisahkan mulut kurang ajarnya dari wajahnya. Dia bahkan memaki Sasuke. Siapa yang biadab sekarang?
"Kenapa Sasuke tidak bicara padaku?" suaranya terdengar bergetar.
Naruto berdesis gemas. "Kau tahu persis Sasuke seperti apa."
Sakura menatap iris sapphire di depannya dalam, lalu tanpa buang waktu lagi ia berlari keluar kamar ketika melihat kejujuran di iris Naruto. Dia ingin bicara dengan Sasuke.
Di ruang makan, Gaara hanya sendiri. menekuk wajahnya. Kaki Sakura gemetar. Ke mana Sasukenya? Gaara mengangkat kepalanya. Iris jade-nyabertemu dengan Sakura. Gaara memasang wajahnya yang paling menyesal. Seandainya dulu dia tidak menyetujui ide gila Sasuke untuk menikahi Sakura. Sasuke dan Sakura tidak akan sesakit ini.
"Dia pulang." Dua kata terucap dari bibir Gaara berhasil membuat Sakura berbalik dan berlari secepat yang ia bisa. Dia bahkan tidak menjawab Gaara. Dia ingin Sasukenya. Sakura ingin pulang ke pelukan Sasuke. Kakinya berhenti di halaman depan. Malamnya terasa cerah. Secerah siang. Sasuke masih di sini. Berdiri memunggunginya. Badannya yang menjulang. Bahunya yang tegap. Sasuke yang berdiri dengan kedua tangan yang tersimpan di saku. Sakura ingin prianya.
"Sasuke…"
.
.
.
.
.
.
/To be continue/
Author's note : Wahh, udah berapa bulan nih fanfic Sasa abaikan? Satu ... dua ... ha! Dua bulan ya? Atau lebih? Kkk~ Maaf ya, Sasa belakangan ini sibuk RL sama sibuk ngetik fanfic Sasa yang lain. Maklum aja ya, Sasa itu paling males ngetik, jadi lama deh updatenya. Sasa lagi nunggu nilai UN nih, dag dig dug deh beneran xD Wkwk. Dan ... pengen deh rasanya Sasa getok kepala mbah Oro! Tadinya mau update Just Need A Baby lagi, tapi baka-nya Sasa salah tulis! Bayangin coba Sasa malah nulis chapter 9 nya! Ya ampun! Harusnya kan chapter 8 dulu T.T Otakmu, Nak! /Oke Sasa mulai lebay/ Last word ... semoga suka dan tidak mengecewakan untuk chapter ini. Terima kasih.
Salam hangat,
UchiHaruno Misaki [Istri mudanya abah Madara]
