A/N ; Chapter 2 udah hadir minna-san

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto. Saya hanya pinjam chara, serta fanfic ini tidak bermaksud untuk mengambil keuntungan apapun melainkan hanya untuk hiburan

Warning : Typo, OOC, AU, abal, gaje dan lain2.

Pairi : NaruSaku, jika ada yang tidak suka tinggal klik back dan tidak perlu menjelek-jelekan karya orang lain

Genre : Romance yg gak krasa, supranatural, friendship dan lain2

Summary : Apa yang kau lakukan bila mendapat kekuatan untuk bertarung dengan taruhan nyawa demi mendapat sebuah Harapan Mutlak? Apa kau akan lari dari kenyataan? Atau bertarung demi harapan yang kau percaya?

Yosh, Happy Reading^^

Chapter 2 : A Game for A Hope

Naruto masih saja mengelus-elus pipinya yang memerah akibat tamparan.

Ini adalah ketiga kalinya ia tanpa sengaja mengeluarkan kekuatan anehnya. Pertama saat menolong seorang gadis kecil dari tabrakan beberapa hari yang lalu.

Ia menerbangkan sebuah mobil hanya dengan mengerahkan tanganya saja.

Kedua adalah ketika ia tanpa sengaja menerbangkan temanya dari ekstra karate saat tengah sparing, yang akhirnya membuat temanya itu pergi ke sekolah dengan gibs di lengan kananya selama beberapa hari.

Ia benar-benar tanpa sengaja. Pasalnya saat ia menangkis serangan tendangan dari temanya itu, ia langsung melancarkan serangan balasan dengan meninju dada temanya itu.

Pukulanya memang tak terlalu keras, tapi setelahnya, temanya itu malah terlempar 2 meteran keatas karena sebuah dorongan angin yang ditimbulkan dari pukulan Naruto yang membuat seisi dojo, termasuk Sakura tercengang sebelum akhirnya jatuh dan menyebabkan posisi tulang tangan kananya sedikit berpindah dari posisi normal.

Dan kejadian yang ketiga adalah kejadian yang paling konyol.

Saat itu ia tengah berangkat ke sekolah bersama Sakura. Karena sudah mulai masuk musim gugur jadi udara di sektar terasa lebih dingin dari biasanya.

Saat itu setelah masuk gerbang sekolah, Sakura ijin ingin ke kamar mandi sebentar. Naruto yang pada dasarnya adalah salah satu cowok yang dipopulerkan disekolahnya dihampiri oleh beberapa fans girlnya.

Alasan mereka menghampiri Naruto setelah Sakura pergi adalah karena mereka takut pada Ketua OSIS yang terkenal disegani, tegas dan tak segan memberi hukuman pada murid yang bermasalah, selain itu karena kedekatan Naruto dan Sakura mereka berkesimpulan bahwa mereka berdua pacaran, jadi tak mungkin mereka mendekati pacar sang Ketua OSIS bukan? Bisa-bisa mereka diberi hukuman yang aneh-aneh oleh Sakura.

Para fans girlnya itu dengan genit mulai merayunya. Pada awalnya Naruto hanya cuek saja, tapi setelah mencium bau parfum yang begitu menyengat dari salah satu gadis itu, hidungnya terasa gatal.

Haatchii

Kontan saja ia bersin. Tapi apa yang menyebabkan dirinya sampai ditampar hanya karena bersin?.

Tentu saja ia ditampar, kekuatan anehnya tiba-tiba keluar lagi saat ia bersin.

Bersin Naruto berupa angin yang kuat yang menyebabkan rok seragam sekolah gadis-gadis itu tersingkap sehingga menampilkan celana dalam mereka.

Kyaaa~

Gadis-gadis itu menjerit, sedangkan Naruto hanya melongo karena kembali tanpa sengaja mengeluarkan kekuatan anehnya.

Plakk

Plakk

Plakk

Praktis, Ia ditampar tiga orang gadis. Sedangkan yang lainya segera meninggalkan tempat dengan wajah memerah.

Belum selesai dengan masalah tamparan, ia kembali dikejutkan dengan kedatangan Sakura yang berlari melihat kejadian tadi dan langsung memukulnya sekuat tenaga.

'NARUTO-BAKA-HENTAI !'

'SHANAROOOO !'

Ia masih ingat teriakan Sakura sebelum ia dipukul dengan sekuat tenaga yang menyebabkan benjolan di kepalanya.

Sepertinya ia harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

OoOoOoOoOoOoO

Kini suasana di dalam ruang kelas 12-1 tampak sepi. Naruto yang duduk di bangku baris kedua deretan dua sama sekali tak berminat memperhatikan pelajaran.

Jam pelajaran saat ini adalah mata pelajaran Sejarah. Terlihat Yamato-sensei yang tengah menulis materi tentang sejarah Konoha di papan tulis.

Pemuda itu melirik ke sekelilingnya. Ia melihat Sakura yang duduk di depanya masih terlihat serius mencatat dan mencoba memahami semua materi tadi.

Pantas saja Sakura menjadi siswi perempuan tercerdas di sekolah. Ia selalu memperhatikan pelajaran yang disampaikan guru dengan sungguh-sungguh. Tak sepertinya yang sejak tadi terlihat tak berminat memperhatikan pelajaran.

Ia kembali melirik ke sekeliling kelas. Ia menoleh ke bangku samping kananya, deretan pertama. Terlihat Kiba yang malah sedang memainkan smartphone nya. Di belakang pemuda pecinta anjing itu terlihat Chouji yang diam-diam sedang memakan keripik kentangnya.

Di depan Kiba di baris pertama deret pertama atau mudahnya di pojok kiri depan, ada Shikamaru yang tengah menenggelamkan wajahnya di meja dengan kedua lenganya di jadikan bantalan. Bisa-bisanya pemuda bermarga Nara itu tidur saat pelajaran.

Ia jadi heran, bagaimana bisa pemuda itu menjadi siswa paling jenius di sekolah? Padahal ketika pelajaran sedang membosankan, pemuda itu selalu memilih tidur daripada memperhatikan pelajaran.

Ia kembali melirik ke sekitar. Melihat Hyuuga Hinata, gadis pemalu yang paling dididolakan di sekolahnya tengah memperhatikan pelajaran tak kalah serius dari Sakura.

Lalu di depan Hinata duduk pemuda terpopuler di sekolahnya. Sahabat yang sekaligus dianggap rivalnya, Sasuke Uchiha, yang kini memperhatikan pelajaran dengan wajah stoic khas Uchiha-nya. Setelahnya ia memperhatikan teman-teman lain yang sibuk dengan urusan masing-masing.

Tapi yang paling membuatnya sweatdrop adalah Yamanaka Ino, yang duduk di sebelah kiri Sakura. Gadis cantik yang menjadi sahabat Sakura sejak SMP yang terkenal centil dan menjadi ratu gosip Konoha Gakuen. Ia dengan santainya tengah merias wajahnya dengan peralatan make up yang dibawanya. Hah, ada-ada saja.

Naruto menghembuskan napasnya lelah. Ia sudah sering melihat pemandangan ini di dalam lingkungan kelasnya. Karena itu ia tak terlalu heran jika beberapa teman-temanya melakukan sesuatu yang aneh saat ditengah pelajaran.

Daripada melihat beberapa teman-temanya yang kurang kerjaan, akhirnya ia memutuskan untuk memperhatikan materi pelajaran sejarah yang ditulis di papan tulis meski dengan ogah-ogahan.

Naruto membaca tanpa suara.

'Konoha pada mulanya adalah kota kecil yang berada di wilayah Kerajaan Hi dan...Bla bla bla seterusnya'.

Baris demi baris kalimat ia baca sampai sesuatu yang aneh terjadi. Entah hanya perasaanya saja atau memang kecepatan menulis Yamato-sensei mendadak melambat.

Naruto mulai berkeringat dingin. Beberapa hari yang lalu ia juga mengalami hal ini. Waktu seakan mulai berhenti dan dia di datangi seorang pria misterius yang dikenalnya sebagai Nagato.

Dan benar saja, semua yang ada disekitarnya langsung berhenti sesaat kemudian. Tapi rasanya sedikit berbeda dari kejadian sebelumnya. Kali ini tubuhnya masih bisa digerakan.

"Apa kabar Naruto?"

"Huwaa!" Naruto tersentak dan nyaris jatuh dari tempat duduknya saat tiba-tiba Nagato muncul tepat di depanya sambil sedikit melayang di atas mejanya seperti hantu.

"Apa-apaan kau ini! Kau mengagetkanku tahu!"

Protes Naruto bersungut-sungut.

Nagato tersenyum kecil. Ia memasukan kedua tanganya ke saku mantelnya.

"Lalu, apalagi maumu?" Tanya Naruto.

"Apa kau sudah merasakanya?" Nagato melayang sedikit kebelakang, menjaga jarak dengan Naruto yang mungkin akan marah bila ia kembali membingungkanya.

"Merasakan apa?" Tanya Naruto bingung. Ck, kenapa pria misterius dihadapanya ini selalu membuatnya bingung.

"Merasakan hal aneh yang terjadi padamu." Jawab Nagato.

Naruto mengingat-ingat hal-hal aneh yang terjadi belakangan ini padanya. Tunggu dulu, jika Nagato menanyakan hal tadi berarti ia tahu apa yang terjadi padanya bukan?.

"Jadi kau tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku bukan?" Naruto mengepalkan kedua tanganya di atas meja.

Nagato menghela napasnya sesaat.

"Baiklah, akan kujelaskan apa yang sebenarnya terjadi padamu." a memikirkan kata-kata yang tepat yang akan digunakanya untuk menjelaskan.

"Akulah yang memberimu kekuatan pada saat kau hampir tertabrak mobil beberapa hari lalu." Baru menyelesaikan kalimatnya, Naruto langsung memotong.

"Kekuatan? Kekuatan macam apa? Kenapa kau memberikanya padaku? Lalu untuk apa?" Tanya Naruto bertubi-tubi.

"Tenang dulu, jika memotong aku tak akan melanjutkan ceritaku" sahut Nagato tenang.

"E-eh, gomen lanjutkan lagi ceritamu, kumohon" Naruto memelas.

"Baiklah, pertama akan ku jelaskan kenapa kau kuberi kekuatan." Kali ini Naruto hanya mendengarkan dengan serius tanpa berniat memotong pembicaraan lagi.

"Aku melihat tekad yang kuat ada dalam dirimu Naruto. Karena itulah aku memberimu kekuatan"

"Hanya karena itu saja?" Naruto ragu dengan alasan sederhana dari Nagato.

" Bukan hanya karena itu. Aku memberimu kekuatan supaya kau bisa mengikuti semacam kompetisi yang kuciptakan."

"Kompetisi?" Gumam Naruto pada dirinya sendiri.

"Aku pergi ke berbagai tempat selama ini, hanya untuk menemukan orang-orang yang memiliki tekad yang kuat agar bisa ikut game ini."

Sambil bersandar di sandaran kursinya Naruto kembali mengajukan sebuah pertanyaan.

"Lalu, sebenarnya game macam apa yang kau maksud."

"Suatu pertarungan... Dimana nyawamu dipertaruhkan di kompetisi ini." Setelah beberapa saat, ia kembali melanjutkan

"Aku bermaksud mengumpulkan beberapa orang yang kuberi kekuatan untuk bertarung satu sama lain sampai ada satu orang yang tersisa dan menjadi pemenangnya. "

Naruto mengerutkan kening.

"Lalu, apa berarti aku harus ikut? Dan juga, bukankah terlalu berat untuk mempertaruhkan nyawa hanya untuk game itu?"

Nagato memilih diam sejenak karena ia yakin Naruto akan meneruskan kalimatnya.

"Lagipula, apa untungnya untukku dan peserta lain?" Konyol, batin Naruto. Ia deberi kekuatan semata-mata untuk bertarung satu sama lain sampai mati tanpa mendapat keuntungan apapun.

"Aku sudah tahu kau akan berkata begitu. Keuntunganya adalah, kau bisa melindungi orang lain dengan kekuatanmu karena sebentar lagi suatu kejadian besar akan segera datang. Dan juga, pemenang dari kompetisi ini akan diberi sebuah ' Harapan Mutlak'."

"Harapan Mutlak? Apalagi itu? Dan kejadian besar apa yang kau maksud?"

"Aku tak bisa menjelaskan kejadian besar yang kumaksud sekarang. Tapi aku akan menjelaskan tentang 'Harapan Mutlak'."

"Harapan Mutlak adalah sebuah permintaan yang bisa kau minta dan apa saja permintaanmu itu pasti akan terkabul, meskipun harapan yang mustahil sekalipun, atau singkatnya kau bisa meminta apa saja" Kalimat panjang Nagato diakhiri denagn sebuah helaan napas.

Ia langsung menghilang dan kembali muncul sambil duduk di sebuah kursi yang entah ia dapat darimana di samping Naruto.

Sebuah kerutan tampak di dahi Naruto. "Jadi aku bisa meminta hal yang mustahil sekalipun?" Sebuah anggukan singkat menjadi respon Nagato.

"Lalu... Hal besar apa yang sebenarnya kau maksud?" Tanya Naruto penasaran.

"Aku tak bisa menjelaskan secara terang-terangan, tetapi aku bisa memberitahumu kalau kejadian besar yang akan terjadi adalah kejadian yang begitu mengerikan..."

Degg

Naruto langsung tegang dibuatnya. Sesuatu yang begitu mengerikan...

"Bagaimana, apa kau tertarik? Lebih baik kau pikirkan dulu sebelum memutuskan karena keputusan yang kau buat akan merubah hidupmu untuk selamanya."

"Lalu bagaimana dengan kekuatanku? Katanya kau ingin menjelaskanya bukan?" Sergah Naruto.

"Lebih baik kau cari tahu kekuatanmu sendiri. Aku masih ada urusan dengan orang lain." Nagato mengakhiri pembicaraan dan kemudian menjentikan jarinya.

Tekk

Dan tiba-tiba semuanya kembali menjadi normal serta waktu yang tadi berhenti kembali berjalan.

Suasana kelas kini seperti sebelumnya. Naruto masih terdiam sampai sebuah deheman menyadarkanya.

"Ehemm!" Ternyata itu adalah Yamato-sensei.

"Apa kau memperhatikan pelajaran, Naruto?" Tanyanya dengan wajah horor.

"E-eh!... Ha-hai sensei, saya memperhatikan" ucap Naruto kaget.

Yamato mengerutkan kening dan memberi Naruto tatapan mengintimidasi.

Naruto tanpa sadar menelan ludah. Setelah beberapa detik seisi kelas memperhatikan mereka, tiba-tiba bel istirahat berbunyi.

Kriinnnggg

'Fyuuh, untung saja' batin Naruto, berterima kasih pada bel yang sepertinya tepat waktu menyelamatkanya.

Sebuah helaan napas terdengar dari Yamato. Ia memperhatikan Naruto dan akhirnya menyuruhnya untuk tidak mengulangi perbuatan sama yang kemudian dibalas anggukan kepala dari Naruto.

"Baiklah hari ini pelajaran kita akhiri dulu dan sampai jumpa di pertemuan selanjutnya." Ujar Yamato yang kemudian meninggalkan ruang kelas 12-1.

Setelah meninggalkan ruangan akhirnya seisi kelas bersorak gaduh. Beberapa diantara mereka memutuskan untuk pergi ke kantin untuk makan atau hanya sekedar menenangkan pikiran setelah pelajaran membosankan tadi, termasuk Sakura dan Ino serta teman-teman lainya.

Di saat Naruto tengah melamun, ia dihampiri oleh tiga orang temanya. Seorang pemuda dengan tato berbentuk segitiga berwarna merah bertanya padanya.

"Hei Naruto!, mau ke kantin tidak?" Tanya Kiba atau lebih lengkapnya Inuzuka Kiba, pemuda tadi.

Alih-alih menjawab, Naruto malah semakin melamun.

"Hei Naruto! Apa kau mendengar kami?" Kini seorang pemuda bertubuh gemuk bernama Chouji Akimichi yang bertanya.

Menolehkan kepalanya, Naruto langsung sedikit tersentak saat melihat tiga temanya yaitu, Kiba, Chouji, dan Shikamaru.

"Hei kalian ini mengagetkanku tahu!" Bentak Naruto.

"Apa maksudmu?, buakankah sejak tadi Kiba dan Chouji bertanya padamu apa kau mau kekantin dan kau hanya melamun? Huh, mendokusai!" kini seorang pemuda berambut hitam dikuncir tinggi menyerupai nanas yaitu Shikamaru menimpali ucapan teman blondie-nya itu sambil menampakan wajah malasnya.

"Be-benarkah?... Ha ha ha, maaf aku tidak ikut kekantin hari ini" Ucap Naruto sedikit kikuk.

" Ya sudah."

Akhirnya mereka bertiga meninggalkan Naruto yang beberapa saat kemudian pergi ke suatu tempat untuk memikirkan masalah tadi.

OoOoOoOoOoOoO

Di atap sekolah.

Kini Naruto berada di atap sekolah yang jaraknya tak terlalu jauh dari kelas. Sambil berpegangan pada pagar besi pembatas atap, ia melihat pemandangan sekeliling. Jam istirahat seperti ini selalu ramai dimanfaatkan siswa-siswi untuk sekedar pergi ke kantin, perpustakaan atau ke taman sekolah yang bisa Naruto lihat dengan jelas dari sini.

Sepertinya ia benar-benar berpikir keras apakah ia harus ikut game yang dibicarakan Nagato atau tidak. Lagipula, apa keuntungan yang didapat Nagato dengan menciptakan game semacam ini? Ia sendiri heran dengan jalan pikiran pria berambut merah gelap itu.

Harapan Mutlak yang tadi dijelaskan Nagato masih terngiang-ngiang di kepalanya. Harapan itu bisa mengabulkan permohonan apa saja meskipun mustahil dan diluar nalar manusia. Tapi Naruto berpikir, apa permintaan untuk menghidupkan orang yang sudah meninggal bisa dilakukan?.

Sebenarnya dalam hati yang terdalam, pemuda itu ingin mengetahui siapa orang tuanya... Ia ingin sekali merasakan kasih sayang kedua orang tua yang tak pernah ia dapat sama sekali...Tapi... Jika ia mengikuti game itu, menang lalu berharap orang tuanya kembali hidup, bukankah itu sudah menyalahi takdir yang dibuat oleh Tuhan?

Naruto benar-benar frustasi, ia mencengkram helaian rambut pirangnya itu, mencoba memikirkan solusi terbaik untuk memecahkan masalah rumit yang dialaminya sampai sebuah suara feminim menginterupsi kegiatanya.

"Naruto? Apa yang kau lakukan disini?"

Rupanya gadis yang menjadi tambatan hatinya, Sakura.

"Sakura-chan? Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini."

Sakura mengerutkan keningnya. Dia memberi Naruto pertanyaan tapi malah ia yang balik ditanya.

"Diberi pertanyaan malah balik bertanya. Dan yang lebih parah lagi kau menanyakan hal yang sama sepertiku, huh, dasar Baka-Naruto!" Seru Sakura, ia menunjukan raut wajah tak suka.

Mau tak mau Naruto tertawa dibuatnya.

"Hahaha, iya-iya maaf...aku hanya sedang memikirkan sesuatu"Jawab Naruto akhirnya.

"Memikirkan apa?" Sakura menatapnya dengan tatapan penasaran.

"Hmm... Aku hanya tengah memikirkan... Ah sudahlah, tak perlu dibahas lagi!"

Sakura memutar bola matanya. "Jika kau menganggapku sebagai sahabat, ceritakan saja masalahmu, siapa tahu aku bisa membantu" tawar Sakura. Kini ia berada disamping Naruto, tersenyum lembut padanya.

Naruto tertawa pelan.

"Mungkin akan kuceritakan lain waktu saja"

Sakura hanya bisa menghela napas.

"Hahh, ya sudah kalau begitu" keduanya terdiam sampai Sakura kembali melanjutkan.

"Aku datang kesini sebenarnya ingin mencarimu"

"Memang ada apa?"

Sakura menatapnya dengan tatapan mengejek.

"Aku hanya ingin memastikan kau tidak membuat masalah dengan membolos pelajaran."

Naruto hanya bisa cemberut, membuat Sakura tertawa. "Hahaha...sudahlah, ayo kembali ke kelas!"

"Ya"

OoOoOoOoOoOoO

Sepulang sekolah.

Sakura kini tengah memandang Naruto heran. Kenapa pemuda yang selalu cerewet dan tidak bisa diam ini mendadak menjadi pendiam dan melamun sendiri?

Sambil berjalan ia sesekali mencoba membuka percakapan dengan menanyakan suatu hal yang hanya dijawab dengan singkat dan langsung kembali diam.

Keduanya hanya saling terdiam...

Namun, mendadak di tanah yang mereka pijak sebuah simbol aneh berbentuk lingkaran muncul. Simbol itu terbuat dari cahaya kemerahan yang terang. Keduanya langsung kaget setengah mati.

"Apa ini!" Seru Sakura panik membuat Naruto juga ikut panik.

"Aku tidak tahu! Yang pasti kita harus lari!" Naruto segera meraih tangan Sakura dan mengajaknya berlari. Menjauhi simbol tadi.

Setelah sampai di jarak yang mereka kira cukup aman, mereka berhenti dan berbalik melihat apa yang terjadi.

Simbol berdiameter kurang lebih 5 meter itu semakin terang. Sesaat setelahnya, dari dalam simbol itu muncul mahluk berukuran besar. Bentuknya menyerupai manusia namun tubuhnya terbuat dari batu.

Mahluk batu berukuran tiga kali ukuran manusia itu meraung.

"RAARRRGHHH!"

Di detik selanjutnya monster tadi melompat dan langsung mendarat di depan Naruto dan Sakura.

Naruto dan Sakura hanya bisa kaget dan ketakutan. Tubuh keduanya bergetar, mahluk itu terlihat sangat menyeramkan dengan ukaran raksasanya. Di saat keduanya tengah panik mendadak sebuah suara muncul seperti sebuah gema entah dari mana.

'Jika kau ingin tahu kekuatanmu, maka lawanlah monster itu, Naruto'

Naruto mengeraskan rahangnya. Ia sudah kenal betul suara itu.

"Suara apa tadi?" Tanya Sakura yang kini kebingungan dan ketakutan merangkul sebelah lengan Naruto.

"Sakura-chan berlindung!" Perintah Naruto.

"Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku akan mengalihkan perhatian mahluk itu sampai kau bisa bersembunyi!"

Sakura membelalakan matanya kaget.

"Aku tidak akan meninggalkanmu!"

Ck, kenapa Sakura selalu keras kepala?

"Cepatlah! Jika tidak kita semua bisa mati!"

Tanpa pikir panjang Naruto langsung berlari menghampiri monster itu.

"Naruto!" Teriak Sakura yang kini menitikan air matanya.

Saat telah berhadapan dengan monster itu Naruto langsung bersiap-siap. Ia melirik beberapa batu kecil dibawahnya dan mengambil satu diantaranya.

"Hei jelek! Terima ini!" Naruto melempar dengan keras batu di genggamanya dan mengenai wajah dari monster itu. Monster itu menggeram.

Sebuah serangan berupa pukulan langsung dilancarkan monster itu ke Naruto.

Dengan memanfaatkan kemampuan karatenya Naruto langsung menghindar dengan melompat kebelakang.

Duarr

Pukulan yang dahsyat itu menimbulkan tanah yang terkena menjadi retak.

Gawat. Bagaimana Naruto bisa menggunakan kekuatanya karena selama ini ia selalu tanpa sengaja mengeluarkanya.

Kembali sebuah serangan diluncurkan monster itu. Tangan kirinya diayunkan menuju Naruto, tapi dengan sigap Naruto bisa kembali menghindar dengan membungkukan badanya.

Monster itu menggeram. Ia langsung melancarkan pukulan bertubi-tubi. Dengan lincah Naruto masih bisa menghindar dengan melompat ke kanan atau kiri secepat yang ia bisa.

Duarr Duarr Duarr Duarr, pukulan monster itu menyebabkan tanah retak di mana-mana.

Serangan monster itu sangat dahsyat. Naruto tidak boleh sampai terkena seranganya walau hanya sekali, karena sekali terkena serangan bisa remuk seluruh tubuhnya.

'Kusso! Apa yang harus kulakukan?' Batin Naruto yang sekarang sepertinya mulai kewalahan.

Melihat Naruto yang salah menghindar dan justru di posisi yang tak menguntungkan, monster itu langsung memanfaatkanya dengan memberi pukulan telak ke arah Naruto.

Duakk.

Naruto terkena terpental sampai 10 meter jauhnya dan langsung tersungkur di tanah. Rasanya seperti terhantam batu yang mengarah dengan kecepatan penuh.

"Aarrggghh!" Naruto merintih kesakitan dan mencengkram dadanya yang terasa sesak. Dari mulutnya keluar darah segar.

"Naruto!" Sakura berteriak ketakutan, air matanya semakin deras mengalir. Ia ingin berlari ke arah Naruto dan menyelamatkan pemuda itu, tapi entah kenapa tubuhnya begitu kaku dan sulit untuk digerakan.

"Uggh..." Naruto memegangi dadanya yang terasa sesak, ia masih belum bisa bangkit. Tapi ternyata Monster itu kini kembali mendekatinya. Apakah ini akan menjadi akhir hidupnya?

Dan disaat Naruto mulai pasrah dengan keadaan, ia kembali mengingat saat diberi pertanyaan oleh Nagato tentang alasan apa yang membuatnya masih ingin hidup...

Ia menjawab bahwa ia masih ingin mengejar semua mimpinya, selain itu ia masih ingin melihat gadis yang dicintainya tersenyum dan tertawa... serta ia masih ingin menghabiskan waktu bersamanya...

"Sakura-chan..." Lirih pemuda itu. Dengan susah payah ia melihat ke arah Sakura yang kini belutut, tengah menangis tersedu-sedu.

Ia selalu berpikir bahwa ia benci saat Sakura sedih atau bahkan sampai menangis. ...Ia selalu ingin menghadirkan senyum dan tawa di wajah cantiknya...

Ia berpikir jika sampai ia mati saat ini, pasti Sakura akan terus menangis dan tak pernah tersenyum lagi...

Kalu begitu... sama saja ia yang menyebabkan tangisan Sakura bukan?

Sesaat wajah dengan tawa yang ceria milik Sakura muncul di pikiranya.

Bukankah ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu membawa senyum di wajah Sakura? Maka jika ia ingin itu terjadi, ia tak boleh mati disini!

Naruto mengepalkan kedua tanganya. Tekadnya untuk tidak menyerah membuatnya kembali berdiri meskipun dengan susah payah...

Di saat monster itu sudah berada di depanya dan sudah siap dengan tinjunya, Naruto mengepalkan tangan kananya yang sekarang mulai diitari oleh angin.

Wuussshh. Angin tadi berputar semakin kencang dan kuat.

"Raaarggh!l

"Hyaaahh!"

Keduanya saling berteriak dan langsung melapas tinjunya.

Duaarrr

Pukulan keduanya saling beradu, menyebabkan gelombang besar langsung terjadi.

Sakura langsung menghalangi wajahnya dari gelombang tadi dengan kedua tanganya.

Keduanya sama-sama terpental. Naruto hanya terpental kebelakang, masih dengan berdiri. Sedangkan monster tadi jatuh berguling-guling.

'Akhirnya aku bisa menguasainya!' Pikir Naruto gembira saat ia melirik tangan kananya yang terlapisi elemen angin. Ia menyeringai.

Tak memberi kesempatan, Naruto langsung berlari dengan kecepatan tinggi menuju monster yang kini bangkit kembali.

Tangan kiri Naruto sudah mengeluarkan elemen angin yang berputar dengan kuat. Si monster meninju dan tinjuanya meleset menghantam tanah dengan kerasnya sedangkan Naruto melompat ke atas, mendarat di tangan monster yang baru saja digunakanya untuk meninju dan berlari keatas bahunya.

"Terima ini!"

Duarr

"Uaarrgh!"

Pukulan telak tangan kiri dilayangkan Naruto di kepala si monster dari samping membuat si monster terlempar ke jauh samping.

Naruto memasang kuda-kuda, bersiap dengan serangan balasan yang mungkin akan dilakukan si monster yang sudah kembali berdiri seakan tak terjadi apapun.

Mendadak si monster menghujamkan kedua tanganya ke tanah dan menariknya. Sekali tarikan banyak sekali bongkahan batu yang dibawa keluar. Si monster mengerahkan kedua tanganya ke udara, dan seketika itu bongkahan batu-batuan tadi melayang di sekitarnya.

Mengarahkan kedua tinjunya, bongkahan batu-batu tadi langsung melesat bagaikan peluru meriam ke arah Naruto.

Naruto terlihat tak gentar. Masih sambil berlari, ia menghindari serangan tadi dengan berbelok ke kanan atau kiri. Sesekali ada beberapa bongkahan yang tidak bisa dihindarinya sehingga ia harus memukul batu tadi sampai hancur.

"Raarrrgghh!" Sang monster kembali mengaum, melancarkan sebuah bonglahan berukuran cukup besar ke arah Naruto.

"Berisik! Terima ini!" Naruto langsung meninju balik bongkahan tadi sampai terlempar kembali ke si monster

Brakk

Monster tadi melindungi dirinya dengan kedua tanganya dari bongkahan yang Naruto kembalikan tadi.

Naruto kembali menyeringai

"Bagaimana? Apa enak?" ejek Naruto

Monster itu menggeram, ia melirik ke beberapa pepohonan di sekiranya dan mendekatinya.

Naruto bersiaga kembali.

Melilitkan kedua tanganya di salah satu batang pohon berukuran besar, monster itu langsung menarik kuat-kuat pohon tadi, hendak mencabut pohon itu langsung keakar-akarnya.

Naruto melebarkan matanya saat monster tadi belari ke arahnya dengan membawa pohon tadi sebagai pemukul.

"Rarrrggh!"

Melancarkan pukulan bertubi-tubi dengan pohon sebagai pemukul, monster itu tak memberi ampun pada Naruto yang sudah membuatnya kesal.

Naruto terus menghindar dan sesekali menunduk. Ia melompat jauh kebelakang membuat serangan si monster terlalu jauh dari jangkauan.

Tapi tak kehabisan ide, monster itu langsung melempar batang pohon tadi kearah Naruto.

Naruto memejamkan matanya dan merentangkan kedua tanganya.

"Elemen Angin : Pisau Angin!"

Naruto menembakan beberapa angin yang menyerupai sabit besar yang langsung membelah pohon tadi saat bertabarakan.

Beberapa diantaranya mengarah ke si monster dan memberi luka tebasan si beberapa bagian tubuh monster.

Ia mengerutkan kening. Entah ia dapat dari mana nama jurus yang dilakukanya barusan.

"Hmm, tidak!, jangan nama itu, mungkin aku harus menggantinya lain waktu..." Gumam Naruto sambil mengusap-usap dagunya.

Disaat Naruto tengah berpikir hal konyol seperti tadi, si monster mengerahkan tangan kananya hendak mencengkram Naruto, tapi disaat bersemaan Naruto menepisnya dengan tendangan ke atas.

Melihat posisi monster yang pertahananya terbuka lebar di bagian depan, Naruto langsung mengambil ancang-ancang dan meninju monster di dagunya dari bawah sambil melompat, melemparkanya ke atas dan jatuh tersungkur.

Tak berniat membuang peluang besar yang didapatnya, Naruto melompat tinggi dan mendarat dia atas tubuh monster pukulan bertubi-tubi di dada monster.

"Hyaahh!"

Duagg Duagg Duagg Duagg

"Dengan ini, hancurlah kau!" Teriak Naruto melayangkan pukulan terakhir sekaligus terkuat dari pukulan sebelumnya.

Duarrr

Kembali sebuah gelombang terjadi.

"Raarrrggghh!" Si monter berteriak saat pukulan Naruto menembus dadanya. Naruto menarik tanganya dan melompat kebelakang sejauh yang ia bisa.

Tubuh si monster mulai retak dan hancur dengan sebuah ledakan.

Blarrr

Serpihan batu berterbangan ke segala arah. Selesai sudah...

Napas Naruto terengah-engah. Tenaganya seperti terkuras habis setelah menggunakan tinjunya yang terakhir. Dan saat ia hampir ambruk, sepasang tangan menopang tubuhnya.

"Sakura-chan...."

Hal terakhir yang Naruto ingat adalah wajah Sakura yang menangis dan setelahnya, semua menggelap.

OoOoOoOoOoOoO

Naruto membuka matanya dan mengerjapkanya sesaat. Saat ia melihat kesekelilingnya, matanya langsung sedikit menyipit karena belum siap menerima berkas cahaya lumayan terang di sekitarnya.

Putih.

Hanya itu yang sejak tadi tertangkap oleh indera penglihatanya.

"Di mana ini?" Ia Iantas menengok ke sekeliling berharap menemukan sesuatu yang dapat menjelaskan di mana ia sekarang.

"Apa... Aku sudah mati." Ia mengernyitkan keningnya. Apa benar ia sudah mati?. Padahal tadi ia merasa hanya kehilangan kesadaran saja.

"Hooi! Apa ada orang?" Teriak Naruto entah ditujukan kepada siapa.

"Tak perlu berteriak, Naruto!" Akhirnya seseorang menyahutinya.

"Nagato?... apa jangan-jangan kau yang membawaku kemari?"

"Bukan, ini adalah alam bawah sadarmu."

Seakan ingat akan sesuatu, wajah Naruto terlihat sedikit marah.

"Kau... Kenapa tadi menyuruhku untuk melawan monster batu yang merepotkan itu?"

"Agar kau bisa membangkitkan kekuatanmu." Pria berambut merah itu menjawab dengan tenang.

"Apa jangan-jangan kau juga yang mengirim monster itu?" Sebuah anggukan kepala dilakukan Nagato sebagai jawabanya.

Mata Naruto membulat. "Sialan kau! Apa kau tak tahu kalau mahluk yang kau kirim itu bisa melukai Sakura-chan!" Teriak Naruto yang kini tak bisa menahan emosinya lagi.

"Aku hanya menyuruh monster itu untuk menyerangmu, bukan untuk melukai orang yang tak ada sangkut pautnya dengan game... Jadi, meskipun gadis pink itu berdiri di hadapanya, monster itu tetap akan mengejarmu."

Naruto menghela napasnya, emosinya mulai menurun mendengar penjelasan tadi. Pria di hadapanya tersenyum dan kembali mengajukan pertanyaan padanya.

"Sepertinya kau sudah mendapatkan kekuatanmu... Jadi apa kau tertarik untuk ikut."

Naruto berpikir. Ia menundukan kepala bersurai pirangnya. Jika ia ikut, maka hidupnya tidak akan pernah sama seperti sebelumnya...selain itu, jika ia menang ia akan diberi sebuah permohonan mutlak dan dapat meminta apa saja.

Ia melihat ke telapak tangan kananya. Dengan kekuatanya ia juga dapat melindungi orang-orang yang berharga untuknya. Teman-temanya, seluruh orang yang dianggapnya sebagai keluarga, serta... Sakura.

Akhirnya ia memutuskan. "Aku ikut!, tapi sebelumnya kau harus menjelaskan tentang peraturan dan segala hal yang berhubungan dengan game ini!"

"Baiklah... Peraturan dari game ini sederhana, kau hanya perlu mengalahkan peserta lain dan bertahan sampai akhir. Selain itu, kau juga bisa meningkatkan kekuatanmu dengan terus menggunakanya. Aku akan sering memunculkan monster untuk memburu para peserta, selain itu kau membutuhkan ini."

Nagato melempar sebuah smartphone ke Naruto yang langsung dengan sigap ditangkapnya.

"Untuk apa ini?"

"Ponsel itu berguna sebagai media pengiriman pesan dariku untuk seluruh peserta. Selain itu, didalamnya ada daftar identitas seluruh peserta game, tapi kau bisa membukanya hanya setelah kau mengalahkan salah satu peserta."

"Souka..." Ujar Naruto

"Kurencanakan akan ada 25 peserta termasuk dirimu, dan sekarang sudah ada enam orang yang memutuskan ikut. Aku masih mencari sekitar lima orang lagi dan menunggu peserta lainya untuk memutuskan ikut atau tidak."

"Dan jika semua orang sudah memutuskan ikut aku akan mengirim pesan lewat ponsel itu dan kompetisi bisa langsung dimulai... Apa ada pertanyaan?". Penjelasan panjang lebar tadi diakhiri oleh sebuah pertanyaan.

"Lalu, apa game ini seperti turnamen yang harus selesai pada jangka waktu tertentu? Selain itu, bagaimana cara para peserta agar bisa menemukan satu sama lain?"

Nagato menggeleng. "Tidak, game ini tidak memiliki jangka waktu dan dianggap selesai jika hanya sudah ada pemenangnya. Dan tentang pertanyaanmu yang satunya. Jika dengan tidak sadar para peserta bertemu, maka kekuatan mereka akan bergejolak dan dengan begitulah mereka bisa mengetahui identitas masing-masing sebagai peserta game"

Akhirnya Naruto mengangguk, ia sudah paham semua peraturan dan hal yang berkaitan dengan game.

"Kalau kau sudah mengerti aku akan pergi, sepertinya banyak peserta yang membutuhkan penjelasan sepertimu. Sampai ketemu lagi, Naruto..." Nagato menghilang menghilang perlahan, seketika itu juga sinar terang datang menyilaukan pandangan Naruto yang langsung menutup matanya.

OoOoOoOoOoOoO

Naruto membuka matanya perlahan dan hal pertama yang tertangkap oleh netranya adalah wajah cantik Sakura yang penuh airmata.

"Uugh... Sakura-chan..." Lirih Naruto.

Sedangkan gadis yang disebut namanya membulatkan matanya kaget.

"Na-naruto?"

Perlahan Naruto bangun dari pangkuan Sakura ke posisi duduk, ia melihat ke sekelilingnya.

"Ini dimana? Apa masih di tempat tadi?" Tanya Naruto masih terdengar lemas saat mendadak Sakura memeluknya. Isak tangis terdengar lagi di telinga Naruto.

"Yokatta... Yokatta... Hiks..."

"Sakura-chan... Maaf membuatmu menangis lagi." Naruto membalas pelukan Sakura seperti beberapa hari yang lalu.

"... Hiks.. Aku sangat takut... Hiks..."

Mengelus punggung Sakura dengan lembut adalah hal yang dilakukan Naruto setelahnya.

"Sudahlah... Sekarang sudah tidak apa-apa..."

Mereka melepaskan pelukan. Sakura mengusap air mata tangisan di wajahnya lantas memberi Naruto tatapan jengkel.

"Kau itu! Bisa tidak sekali saja tidak membuatku khawatir?"

Naruto hanya tertawa gugup sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sekarang Sakura memasang ekspresi cemberut

"Huh, lupakan saja!...Lagipula, sebenarnya apa yang kau lakukan untuk melawan mahluk jelek tadi?" Tanya Sakura dipenuhi rasa penasaran. Ia tadi melihat semua pertarungan Naruto dan ia begitu penasaran dengan kekuatan dan jurus-jurus yang dilakukan Naruto tadi.

"Bagaimana aku menjelaskanya ya? Kurasa butuh waktu yang lama untuk menjelaskanya" jari telunjuk kiri Naruto menggaruk pelipisnya, ia bingung bagaimana harus menjelaskanya pada Sakura.

"Tidak apa-apa, kau jelaskan sambil kita melanjutkan perjalanan pulang!" Paksa Sakura. Naruto menghela napas, ia mulai menjelaskan panjang lebar dari A sampai Z, sedangkan Sakura mendengarkan dengan serius tanpa berniat memotong.

Dan kini keduanya tanpa sadar sudah dekat dengan rumah masing-masing saking panjangnya Naruto bercerita.

"Jadi begitu ceritanya." Terang Naruto.

"..." Sakura terdiam.

"Apa kau tidak mengerti seperti apa resiko yang akan kau terima...Naruto?" Akhirnya Sakura membuka suaranya, masih sambil menunduk.

Sudah Naruto duga Sakura pasti tidak akan setuju dengan apa yang ia lakukan. Perlahan ia merengkuh Sakura dalam pelukan. Tak ayal perbuatan Naruto membuat wajah Sakura merona. Meskipun tadi mereka berpelukan, sensasinya beda dengan yang sekarang. Tadi Sakura begitu bersyukur Naruto tak apa-apa dan melampiaskanya dengan pelukan, sedangkan kali ini begitu spontan.

"Aku janji aku tak akan mati... Selain itu, aku bertarung bukan untuk memenangkan permintaan yang pasti terkabul... Melainkan untuk melindungi orang-orang yang berharga bagiku, salah satunya kamu, Sakura-chan..."

Sakura pada akhirnya membalas pelukan Naruto perlahan.

"Berjanjilah..."

"Hm, janji seumur hidup!"

TBC

A/N : akhirnya selesai chapter 2, terima kasih kepada semua readers yang udah baca dan review chapter 1...

Aaaaa, saya salah ngasih judul di chap 1... Maklum, namanya author newbie jadi masih bermasalah dg fanfiction

tapi gak apa lah... yang penting chap ini sudah bener.. heheheh...