A/N : Yosh! Saya semakin semangat buat nulis fic ini setelah mengetahui respon-respon dari reader semua, Arigatou! Maka ini dia Chapter 3 ^^
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya pinjam chara serta fic ini tidak bertujuan untuk mendapatkan segala bentuk keuntungan namun hanya sebagai hiburan.
Pair : NaruSaku , jika ada yang tidak suka tinggal klik 'back'
Genre : Romance , supranatural, friendship dan lain2
Warning : fic gaje, author newbie, Typo, OOC, AU, dan lain2
Summary : Apa yang kau lakukan bila mendapat kekuatan untuk bertarung dengan taruhan nyawa demi mendapat sebuah Harapan Mutlak? Apa kau akan lari dari kenyataan? Atau bertarung demi harapan yang kau percaya?
Yosh, Happy Reading ^^
Chapter 3 : That Dream Again
Naruto tak tahu ia berada dimana sekarang. Ia hanya melihat dataran yang ditumbuhi rumput yang hijau serta penuh dengan padang bunga yang cantik dan beraneka ragam.
Mengedarkan pandanganya ke seluruh wilayah tempat ini, Naruto juga bisa melihat sebuah pohon apel nan rindang di belakangnya. Di depan pohon itu ada sebuah ayunan dengan dua tempat duduk disana. Ia menghampiri ayunan itu dan duduk di tempat duduk yang berada kiri lantas ia menunggu, entah menunggu apa...
Kaki-kaki kecilnya menendang pelan tanah sehingga ayunan yang didudukinya berayun dengan pelan. Tak berselang lama ada suara seseorang yang meneriakan namanya dengan ceria.
"Narutooo~"
Naruto kecil pun langsung tersenyum. Ia melihat seorang gadis cilik berlari menghampirinya dan ia pun mendekatinya. Ketika mereka sudah berhadapan mereka melempar tawa masing-masing.
Ia tidak bisa meliihat dengan jelas wajah gadis itu. Setiap kali ia memandang, wajah gadis itu hanya terlihat samar. Semua hal yang dilihatnya kini terlihat begitu berwarna... Tapi tidak untuk gadis didepanya ini. Ia tak bisa melihat dengan jelas sosok dari gadis cilik itu... Penglihatanya hanya dapat menangkap warna hitam putih saat melihat ke gadis kecil itu.
Tapi entah mengapa ia selalu merasakan kebahagiaan dan keceriaan hanya dengan di datangi oleh gadis itu. Naruto tersenyum. Tangan kecilnya meraih tangan mungil gadis di depanya. Mereka bergandengan sambil tertawa riang menuju ke ayunan tadi.
Gadis cilik itu duduk di bangku sebelah kanan, sedangkan Naruto berada di belakangnya, mendorong ayunan itu untuk si gadis cilik. Tawa riang terdengar dari keduanya.
Setelahnya mereka berdiri berhadapan di padang bunga yang luas tak jauh dari tempat tadi. Keduanya tampak begitu sedih, bahkan si gadis sampai menangis tersedu-sedu.
"Apa... Kau benar-benar akan pergi..." Tanya Naruto kecil dengan lesu.
Sedangkan sang gadis mengangis sesenggukan ketika menjawab. "Hiks...hiks... A-aku tak bisa meyakinkan ayah untuk tetap ti-tinggal disini..."
"Kalau memang begitu... Kau janji untuk tidak melupakanku ya..." Matanya sekarang berkaca-kaca.
"Hm... Kalau begitu ayo berjanji... Bila suatu saat kita sudah dewasa dan bertemu lagi kita jadi kekasih ya!" Ucap si gadis yang sudah nampak tak sedih lagi.
"Aku tidak mengerti seperti apa kekasih itu... Tapi jika memang kita bertemu lagi suatu saat aku pasti mau!" Jawab Naruto dengan cengiran lebarnya.
"Janji ya!" Si gadis menyodorkan jari kelingkingnya pada Naruto.
"Hm! Janji!" Balas Naruto menautkan jari kelingking mereka.
Tak lama semuanya nampak menggelap. Dan setelah semua kembali terlihat, Naruto tak lagi berada di tempat yang sama. Tak ada padang rumput luas yang dihiasi taman bunga, tak ada pohon apel dan ayunan didepanya... Tak ada lagi gadis kecil tadi. Ia hanya berdiri seorang diri di tengah jalan dan entah datang darimana sebuah truk melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Naruto kecil membulatkan matanya saat truk itu semakin dekat.
"Aaaaa!" Naruto berteriak sampai puncak suaranya.
Brukk
Lagi-lagi Naruto jatuh dari ranjang saat jam wekernya membangunkanya. Ia membuka mata dengan kaget. Napasnya terengah-engah.
"Ahh... Mimpi itu lagi..." Gumamnya sambil mengelus kepala bersurai pirangnya dengan lembut. Beberapa minggu ini ia selalu memimpikan hal yang sama saat tidur. Yaitu tentang saat dirinya masih kecil, mungkin 6 tahun. Ia selalu bertemu dengan gadis kecil yang tak ia ketahui siapa. Karena setiap melihat sosoknya, gadis itu hanya terlihat berwarna hitam putih dan wajahnya pun hanya terlihat samar-samar.
Aneh memang, karena tempat yang menjadi latar mimpinya itu selalu terlihat nyata dan begitu berwarna. Ia menghela napasnya sesaat. Saking seringnya mimpi itu terjadi, ia selalu hapal apa yang terjadi di mimpinya.
Ia akan duduk di tempat duduk ayunan dan dihampiri gadis misterius yang kemudian mengajaknya bermain ayunan. Dan setelah mereka bermain, gadis tadi mengajaknya untuk berjanji menjadi kekasih bila dewasa nanti, dan sebuah truk yang datang entah darimana akan melaju kencang ke arahnya. Apabila truk itu sudah hampir menabraknya, maka saat itulah Naruto terbangun dan terjatuh dari ranjangnya.
Sudahlah, pikir Naruto. Pemuda itu beranjak berdiri, bersiap untuk berangkat sekolah. Ia tak ingin mimpinya itu membuat pikiranya berlarut-larut dan menggangu aktivitasnya.
OoOoOoOoOoOoO
Jalanan hari ini tampak senggang. Tentu saja begitu karena ini masih jam setengah tujuh. Karena itulah motor sport berwarna hitam metalik itu bisa melaju dengan mulusnya dijalan, tanpa gangguan apapun.
Si pengendara motor yang sepertinya seorang laki-laki memakai pakaian seragam sekolah, rupanya ia adalah seorang murid di suatu sekolah. Dan jika diperhatikan lebih cermat, rupanya pemuda itu memakai seragam sekolah yang mirip dengan Naruto, seragam Konoha Gakuen.
Pemuda itu melambatkan motornya ketika ia sepertinya hampir sampai ke tempat tujuanya. Tak lama ia menghentikan laju motornya di depan sebuah rumah besar bergaya tradisional Jepang.
Ia turun dari motornya dan membuka helmnya. Akhirnya nampaklah sosoknya yang sebenarnya. Ia itu mempunyai rambut hitam dengan model emo. Wajahnya begitu tampan dan dingin. Dialah Sasuke Uchiha si sahabat karib Naruto sejak SMP yang selalu dianggapnya rival dalam segala hal. Dia itu juga menjadi siswa paling populer nomor satu di sekolah di atas Naruto.
Iris mata berwarna onyx dan setajam mata elang itu melirik pintu depan kediaman itu. Tak lama pemuda itu tersenyum kecil saat sesorang membuka pintu kediaman yang bertuliskan 'Hyuuga' itu.
Nampaklah seorang pemuda yang sepertinya lebih tua setahun dari Sasuke. Pemuda itu memiliki rambut coklat panjang. Wajahnya tak kalah dingin dari Sasuke. Iris matanya yang serupa mutiara itu memandang Sasuke dengan heran.
"Uchiha? Kenapa kau kemari sepagi ini?" Tanya pemuda barusan dengan dingin.
"Hn, tentu saja untuk menjemput Hinata, Neji." Balas Sasuke kepada pemuda bernama Neji atau lengkapnya Hyuuga Neji, kakak sepupu Hyuuga Hinata.
"Ohh... Bukanya ini masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah?" Tanya Neji kembali dengan wajah datar.
"Kami sudah janji ingin berangkat pagi untuk menyelesaikan tugas..." Terang Sasuke dengan wajh datarnya juga.
Hahh... Kenapa sepertinya Uchiha dan Hyuuga tak pernah bisa lepas dari ekspresi wajah yang datar?.
"Souka... Kalau begitu tunggu sebentar, Hinata tak lama lagi pasti akan keluar." Dan setelahnya anggukan pelan dari Sasuke yang terlihat oleh netra Neji.
Suasana mendadak hening. Beginilah jadinya kalau dua orang yang pendiam disuruh untuk berbincang satu sama lain. Pasti mereka hanya menjawab pertanyaan seperlunya saja. Dan membuat suasana begitu hening dan membosankan.
Tak ada yang berinisiatif untuk membuka perbincangan sampai akhirnya dari pintu utama kediaman Hyuuga keluar seorang gadis yang sangat cantik. Gadis itu memiliki rambut indigo panjang, iris matanya sama seperti Neji dan anggota keluarga Hyuuga yang lainya. Ia adalah Hyuuga Hinata.
Saat melihat kedua pemuda yang begitu dikenalnya, wajah cantiknya mengeluarkan senyuman.
"O-ohayou Sa-Sasuke-kun". Salam Hinata terbata-bata.
"Hn, ohayou" balas Sasuke singkat, meski begitu wajahnya menampilkan senyuman lembut.
Neji hanya memilih diam dan tersenyum atas interaksi keduanya.
"Jadi... Apa kita berangkat sekarang?" Tanya Sasuke sambil menyodorkan sebuah helm kepadanya.
"Hm!" Hinata mengangguk semangat.
Keduanya menaiki motor dengan Sasuke yang mengemudi dan Hinata duduk di belakang.
"Kami berangkat dulu, Neji-niisan". Ijin Hinata yang dibalas anggukan oleh Neji, tapi sebelum itu ia menepuk bahu Sasuke.
"Berkendaralah dengan hati-hati." Pesanya.
Sasuke tersenyum kecil. "Kau tak perlu memberitahuku tentang hal itu." Dan dengan kalimat terakhir darinya, Sasuke langsung menarik gas motornya, berangkat ke sekolah.
Saat di perjalanan menuju sekolah, Sasuke dan Hinata berbincang-bincang kecil, dan sesekali mereka tertawa, meski tanpa sadar ada seseorang yang memperhatikan mereka.
Seorang pria berambut merah dan mengenakan mantel coklat yang kita ketahui sebagai Nagato. Entah apa yang dipikirkan pria itu. Ia hanya menunjukan raut wajah tak terbaca.
OoOoOoOoOoOoO
Di Konoha Gakuen
Naruto baru saja melangkahkan kakinya masuk dari gerbang sekolah dan kini ia berjalan ke kelasnya yang ada di gedung sebelah barat dari posisinya sekarang.
Di Konoha Gakuen, ada beberapa gedung yang menjadi fasilitas sekolah antara lain, gedung kelas di posisi barat untuk kelas 12, gedung di timur untuk kelas 10 dan yang diapit oleh kedua gedung itu adalah untuk kelas 11.
Di depan tiga gedung kelas terdapat gedung paling besar dengan beberapa lantai. Lantai satu untuk kantor guru, dan BP, lantai dua untuk beberapa lab untuk fasilitas penunjang pelajaran, seperti lab biologi, kimia, bahasa dan juga ruang kelas seni
Di depan gedung yang terletak di utara itu ada lapangan olahraga yang luas. Terdiri dari beberapa fasilitas untuk kegiatan olahraga dan ekstrakulikuler seperti, sebuah lapangan sepak bola, dua lapangan bola voli, sebuah lapangan basket dan tenis, sebuah dojo, dan kolam renang yang berada di gedung tersendiri.
Hal itulah yang menyebabkan Naruto harus berjalan agak jauh untuk ke kelasnya. Dan hal yang paling membuatnya malas untuk berjalan jauh di sekolahnya adalah...
"Kyaa! Naruto-kun~"
"Naruto-senpai~"
Telinga Naruto terasa berdenyut-denyut setelah mendengar teriakan-teriakan seperti toa yang menurutnya menjengkelkan itu. Hahh...Beginilah resikonya menjadi siswa populer di sekolah.
Di saat Naruto tangah menggerutu tak jelas, ia dihampiri oleh pasangan yang paling tak dikehendaki untuk menjadi sepasang kekasih di dekolah ini. Pasalnya, yang laki-laki merupakan siswa paling dipopulerkan melebihi dirinya, begitupun dengan si perempuan yang juga menjadi primadona sekolah. Karena itulah kebanyakan siswa-siswi tak rela mereka bersanding satu sama lain. Mereka adalah Sasuke dan Hinata.
"Yo! Dobe!" Sapa Sasuke singkat.
Menolehkan kepalanya ke asal suara, Naruto bisa melihat pasangan pendiam itu. Ia tersenyum.
"Yo! Teme, Hinata-chan!" Sapa balik Naruto dengan cengiran khasnya.
"Mau pergi ke kelas ya, Na-Naruto-kun?" Tanya Hinata lemah lembut.
Naruto mengangguk. "Kalian sendiri mau kemana?"
"Hn, kami ingin ke kantin untuk sarapan karena tadi aku belum sempat sarapan sebelum berangkat." Terang Sasuke yang tumben bisa berbicara agak panjang.
Di saat mereka tengah berbincang, di atas atap gedung kelas 11, seseorang tangah memperhatikan tiga orang yang terlibat perbincangan itu, atau lebih tepatnya pada Sasuke.
Setelah tersenyum kecil entak karena apa, tubuhnya hilang sedikit demi sedikit seperti pecahan kaca ringan yang terbang tertiup angin.
Naruto yang menyadari ada yang memperhatikan mereka kini melirik ke atap gedung kelas 11 dan hanya melihat serpihan kaca-kaca tipis yang berterbangan di tiup angin.
'Nagato kah?' Batin Naruto.
"He-hei... Naruto-kun? Kenapa melamun?" Tanya Hinata sambil mengibaskan telapak tanganya di depan wajah Naruto.
"E-eh tidak kok, hehe" jawab Naruto gelagapan
Tapi sepertinya Sasuke menyadari kalau Naruto memang memikirkan sesuatu tadi.
"Kalau begitu kami duluan, dobe!" Pamit Sasuke sambil menggandeng tangan Hinata, berjalan meninggalkanya.
Sedangan Naruto akhirnya memilih untuk kembali berjalan, tapi dengan rute yang berbeda dari biasanya. Bila ingin ke kelasnya, biasanya Naruto akan mengambil jalan di lorong barat, tapi mengingat-ingat gelagat dari para gadis yang menjadi fansnya ia memutuskan mengambil rute memotong.
Ia memilih berjalan di lorong tengah, karena ia hanya perlu melewati beberapa lapangan olahraga yang sepi dari para fansnya karena ini masih belum masuk jam pelajaran.
Ditengah-tengah perjalanan Naruto masih sempat-sempatnya terbayang akan dirinya di waktu kecil dan si gadis misterius bermain di taman sekolah saat ia melintas. Tanpa sadar ia menghembuskan napasnya berat. Ia tidak mau berpikir terlalu dalam tentang mimpinya itu. Daripada terus kepikiran, akhirnya Naruto memutuskan tak lagi melirik taman dan berjalan lebih cepat dari sebelumnya.
OoOoOoOoOoOoO
Kini setelah sampai dikelasnya, Naruto bergegas duduk dbangkunya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang didudukinya.
Ia memperhatikan teman-temanya yang sepertinya begitu sibuk menyalin jawaban untuk PR matematika yang diberikan Anko-sensei kemarin. Untunglah Naruto sudah menyelesaikanya... Meskipun ia meminjam buku Sakura sih...
Ngomong-ngomong tentang Sakura, rupanya Ketua OSIS yang cantik itu tengah mebantu salah satu teman perempuanya untuk mengerjakan tugas. Naruto tak heran kalau Sakura bisa lebih dulu sampai di kelas dan bahkan membantu teman-teman lain menyelesaikan tugas mereka. Karena biasanya ia menjadi yang paling rajin dan yang selalu tiba pertama di kelas. Jabatanya sebagai ketua OSIS mengharuskanya menjadi contoh baik bagi semua murid Konoha Gakuen.
Naruto kini memilih menenggelam kan wajahnya di kedua lipatan tanganya yang ia letakan di atas meja. Dan tak lama kegiatan Naruto di interupsi oleh suara yang dikenalnya.
"Hei! Kenapa pagi-pagi seperti ini malah terlihat lemas, Baka?"
Sakura mengingatkan Naruto dan duduk di bangkunya, tepat di depan bangku Naruto.
"Aku sedang banyak pikiran Sakura-chan..." Jawab Naruto, masih enggan mengangkat kepalanya dari posisinya.
"Kau? Berpikir?" Tanya atau lebih tepatnya ejek Sakura sambil menyeringai. Ia tertawa saat mendengar Naruto mendengus.
"Huh, terserah sajalah Sakura-chan! Bukanya menghiburku tapi malah mengejeku!" Gerutu Naruto terdengar kekanakan.
Sakura kali ini tertawa cukup keras, tapi tak sampai membuat mereka menjadi pusat perhatian di kelas. Setelah menghentikan tawanya, lantas gadis bermata hijau itu kembali bertanya.
"Apa... Ini ada hubunganya dengan game itu?" Tanya Sakura sambil menurunkan volume suaranya.
Naruto mengangkat wajahnya lantas menggeleng.
"Lalu kalau bukan itu, apa?" Kembali Sakura meyakinkan agar pemuda pirang itu mau menceritakan keluh kesahnya. Naruto menghela napasnya berat.
"Hei, jangan sering-sering menghela napas seperti itu. Kau malah semakin menambah beban pikiranmu." Saran gadis cantik itu bijak.
Naruto tersenyum mendengar saran gadis yang menjadikan hidupnya lebih berwarna itu. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia mau bercerita masalahnya ke Sakura.
"Beberapa minggu ini, setiap tidur aku selalu bermimpi tentang diriki di saat kecil bertemu dengan gadis yang tak kukenal dan kemudian bermain ayunan bersamanya... Padahal aku tak mengenal siapa gadis itu... Selain itu aku tak tahu seperti apa rupanya karena setiap melihat wajahnya, hanya akan tampak samar-samar saja. Setelahnya kami berjanji sebelum ia pergi jauh untuk menjadi sepasang kekasih jika sudah dewasa kelak" Sakura tampak mendengarkan dengan baik. Ia tersenyum tipis, begitu tipis hingga tak begitu terlihat.
"Tapi... Walaupun aku tak mengenal gadis itu, aku selalu merasakan kebahagiaan saat bertemu denganya. Karena itulah aku tak keberatan mengalami mimpi yang sama setiap harinya..."
"Kalau itu mimpi, kenapa kau bisa mengingat dengan jelas mimpimu itu? Padahal setiap orang yang bermimpi ketika tidur pasti akan melupakan hal yang terjadi di mimpinya tak lama setelah bangun." Selidik Sakura.
Naruto hanya mengendikan bahunya tanda tak paham.
"Hmm... Bisa saja itu merupakan bagian dari kenangan masa kecilmu?"
Kenangan masa kecil? Naruto merasa dirinya tak pernah punya kenangan dengan gadis misterius itu semasa kecil, kenalpun sepertinya tidak. Tapi kalau seandainya benar itu kenangan masa kecilnya, kenapa ia melupakanya? Padahal ia masih ingat dengan jelas semua kenangan di masa kecilnya. Ia selalu dikucilkan dan ditelantarkan oleh orang lain. Tak pernah ada yang peduli padanya sampai akhirnya guru SD nya yang bernama Iruka-sensei lah yang pertama mengakui keberadaanya. Guru yang kadang-kadang masih sering mengunjunginya di apartemenya itu tak pernah menganggapnya berbeda dengan anak lain.
Tapi... Apa ada kenangan lain yang ia lupakan sebelum bertemu Iruka?
Kriinngg
Bel jam pelajaran pertama membuat pembicaraan mereka terhenti hanya sampai disisni. Naruto tersadar dari lamunanya saat Anko-sensei, guru matematika mereka sudah masuk ke kelas dan memulai pelajaran.
Entah apa yang membuat Naruto malas memperhatikan pelajaran saat ini. Pikiranya benar-banar terpecah belah dan tak bisa berkonsentrasi. Meski Naruto dengan tingkahnya yang membuatnya terlihat seperti orang bodoh, tapi ia tak bodoh-bodoh amat untuk mengerti materi pelajaran yang disampaikan.
Materi pelajaran matematika saat ini sebenarnya terbilang cukup mudah, tapi karena banyak pikiran itulah yang menyebabkan Naruto malas memperhatikan. Masa bodoh bila ia tak memahami pelajaran matematika dan gagal di ulangan minggu depan.
Skip Time : Jam Isirahat.
Kedua tangan Naruto sedang sibuk membereskan bukunya setelah pelajaran matematika saat kemudian Sakura menghanpirinya.
"Naruto, apa kau mau kekantin?"
"Eh? Sepertinya tidak, hari ini aku tidak membawa uang saku"
Wajah Sakura langsung tampak sumringah.
"Kalau begitu, apa kau mau makan bento bersamaku?". Tanya Sakura antusias.
"Eh? Tidak perlu, Sakura-chan! Aku tak mau merepotkanmu..."
Tolak Naruto lembut.
"Tidak apa-apa, hari ini kebetulan aku membawa porsi dua orang" ujar Sakura sambil mengangkat kotak bento yang dimaksud.
Hmm, aneh...
Naruto mengerutkan keningnya dan setelahnya ia menyeringai ke gadis manis dihadapanya.
"Kau sudah merencanakan untuk membawa dua porsi bento dan mengajaku makan bersama ya, Sakura-chan?" Goda Naruto sambil menaik turunkan alisnya. Dan sepertinya tepat sasaran! Wajah Sakura langsung merona tipis. Kenapa Naruto sepertinya bisa membaca pikiranya?
"I-ie!, hari ini kebetulan saja aku membawa dua porsi." Elak Sakura. Ia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa ia memang berencana mengajak Naruto makan bersama. Bukanya apa-apa. Sakura mengajak Naruto makan bersama berhubung karena pemuda itu tinggal sendirian jadi tak mungkin bisa membawa bekal sendiri. Naruto tak mungkin bisa selalu membeli makanan di kantin berhubung ia hanya bekerja part time.
"Apa benar? Tapi baiklah kalau Sakura-chan memaksa" akhirnya Naruto menerima tawaran Sakura.
Untunglah. Sakura mengangguk dengan semangat.
"Kalau begitu ayo ke atap! Kita makan disana saja, bagaimana?" Usul Sakura.
"Boleh" jawab Naruto sambil mengeluarkan cengiran lebarnya.
Keduanya langsung menuju ke atap gedung kelas 12 yang tak begitu jauh dari kelas mereka, hanya perlu berjalan ke ujung lorong dan menaiki tangga.
Sesampainya di tempat tujuan, Sakura langsung membuka kotak bento nya den menyodorkan sepasang sumpit ke Naruto.
"Wahh... Kelihatanya sangat enak!" Naruto langsung tergiur akan bento Sakura yang macam-macam isinya, dan semuanya tampak menggugah selera. Dari mulai tempura, sosis, onigiri dan lain sebagainya.
"Apa Sakura-chan yang memasaknya sendiri?"
Sakura mengangguk dan ketika melihat ekspresi Naruto, ia langsung tertawa kecil. "Apa...boleh kumakan sekarang?" Tanya Naruto takut-takut.
"Tentu saja boleh, silahkan!" Mata Naruto langsung berbinar-binar ceria. "Itadakimasu!" Ia mengambil sebuah tempura berbentuk ikan dan menyuapkanya ke mulutnya. Setelah mengunyah makananya beberapa kunyahan dan menelan tempuranya, mendadak Naruto langsung terdiam. Sakura jadi sedikit tegang. Apa masakanya tidak enak?
"..."
Yang ditunjukan Naruto selanjutnya adalah cengiran lebarnya.
"Oishi! Sepertinya kalau kelak kau menjadi seorang istri, pasti suamimu akan selalu memuji masakanmu setiap hari..." Puji Naruto yang kembali mengambil tempura dengan bentuk yang berbeda.
"A-arigatou..." Mendengar pujian Naruto pipi Sakura langsung merona. Ia malah membayangkan- eh? Tunggu! Apa yang mau ia bayangkan?
Daripada membuat jantungnya berdebar-debar semakin tak jelas ia memutuskan untuk mencicipi makanan buatanya. Ia lantas tersenyum puas. Ah, sepertinya kemampuan masaknya semakin lama semakin bertambah. Sambil makan keduanya sesekali bercanda, mencoba membuat suasana menjadi semakin ceria, meski kadang candaan Naruto begitu berlebihan hingga Sakura kadang memukulkan sumpitnya di kepala pirangnya.
OoOoOoOoOoOoO
Sekarang ini Sasuke tengah dalam perjalanan pulang setelah tadi mengantar Hinata terlebih dahulu. Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tak perlu terburu-buru, toh dirumah tidak ada yang akan menunggunya.
Kenapa bisa begitu?
Dirumahnya yang besar, Sasuke hanya tinggal dengan kakak satu-satunya yaitu Uchiha Itachi yang selalu sibuk mengurus perusahaan. Kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun lalu dalam sebuah kecelakaan pesawat. Hal itulah yang membuatnya dan kakaknya begitu terpukul dan kurang interaksi satu sama lain beberapa tahun belakangan ini.
Di sebuah perempatan, ia menghentikan laju motornya saat lampu lalu lintas di sana menunjukan warna merah. Ia melirik ke sekelilingnya, jalanan begitu padat siang hari ini. Saat lampu hijau, ia berbelok ke arah kiri dan tak jauh dari posisinya ia melihat sosok yang tak asing tengah berjalan memasuki sebuah jalanan yang sepi.
"Dobe?". Gumam Sasuke heran.
Sasuke akhirnya mengikuti langkah pemuda blondie tadi, berbelok ke jalanan yang sepi itu. Ia merasa aneh... Apartemen Naruto berbedah arah dari sini... Apa yang mau dilakukan olehnya?
Ketika sudah berbelok, ia bisa melihat Naruto berjalan ke tanah lapang tak jauh dari jalanan tadi. Disini sepertinya jarang dilewati oleh pengguna jalan. Baru hendak turun dari motornya, entah apa yang terjadi tapi semua hal di sekelilingnya bergerak dengan lambat dan akhirnya berhenti total termasuk dirinya. Ia melebarkan matanya, apa yang terjadi?
Kini 'Naruto' berdiri di depanya sambil memasang senyum aneh. Tapi perlahan 'Naruto' berubah menjadi seorang pria berambut merah yang mengenakan mantel yang menutupi tubuhnya sampi betis kaki.
"Siapa...kau?" tanya Sasuke bingung dengan apa yang terjadi saat ini.
"Hm, namaku Nagato akulah yang membuat hal-hal disekelilingmu berhanti bergerak, Sasuke"
Sasuke semakin di buat heran saat pria tadi juga mengetahui namanya.
"... Apa yang sebenarnya terjadi?" Gumam Sasuke ketika melihat semua hal di sekelilingnya benar-benar berhenti.
Tak langsung menjawab pertanyaan Sasuke, pria itu malah memasang senyum kecil.
"Aku ingin memberimu kekuatan dan mengajakmu untuk ikut sebuah kompetisi yang kubuat..."
"Ha? Aku saja tidak kenal siapa kau... Dan kau tiba-tiba menawarkan hal yang aneh padaku." Ketus Sasuke.
"Baiklah, aku akan mengenalkan diri. Namaku Nagato..."
"Begitu lebih baik, jadi...Kompetisi macam apa yang kau maksud?"
"Kompetisi atau kusebut dengan game, pertarungan dengan taruhan nyawamu..."
Sasuke mengerutkan kening. "Taruhan nyawa? Apa untungnya bagiku, jangan konyol!" Ucap Sasuke sarkastik.
"Kau sama saja dengan orang lain yang kutawari. Selalu bertanya tanpa membiarkanku menjelaskanya" Keluh Nagato sambil menghela napas.
"Begini...Keuntunganya adalah, kau bisa melindungi orang lain dengan kekuatanmu karena sebentar lagi suatu kejadian besar akan segera datang. Dan juga, pemenang dari game ini akan diberi sebuah 'Harapan Mutlak'."
Sasuke menaikan sebelah alis. "Apalagi itu?"
"Itu harapan yang bisa membuatmu mendapatkan apapun yang kau inginkan meski sesuatu yang mustahil." Jawab Nagato singkat. Kini pria itu berjalan perlahan mendekati Sasuke.
Raut wajah Sasuke langsung berubah semakin rumit.
"Jika kau masih belum tertarik, paling tidak, akan ku jelaskan dahulu peraturan kompetisi ini. Peraturanya sederhana, kau hanya perlu mengalahkan peserta lain dan bertahan sampai akhir."
Selama beberapa hari ia mengawasi Sasuke, ia jadi mengerti akan sifat Sasuke. Dia cukup yakin kalau Sasuke akan ikut kompetisi ini.
Sasuke lantas berpikir. Sepertinya menarik. Kompetisi dengan nyawa sebagai taruhan... Ia akan saling mengalahkan dengan peserta lain...Dengan bertarung ia bisa mendapatkan semuanya... Atau kehilangan semuanya.
"Hm... Bertarung untuk menjadi yang terbaik ya?" Gumam Sasuke sambil tersenyum kecil.
Nagato tersenyum. Seperti yang ia duga. Sasuke adalah orang yang menyukai tantangan dan gila akan kekuatan. Nagato bisa melihatnya hanya dengan menatap mata Sasuke. Sepertinya game nya ini akan berlangsung seru jika banyak orang seperti Sasuke.
"Sepertinya menarik. Baiklah, aku ikut" Sasuke menjawab dengan mantab.
"Kalau begitu apa kekuatanku?" Tanya Sasuke langsung ke inti permasalahan.
Nagato menjentikan jarinya dan munculah simbol berbentuk lingkaran berwarna merah yang kemudian mengeluarkan mahluk besar yang berukuran tiga kali lipat ukuran Sasuke dan membawa gada besi yang ukuranya melebihi tubuh Sasuke sendiri.
"Crazy Troll, berikan pemuda itu sedikit tantangan!" Perintah Nagato kepada mahluk aneh itu. Ia lantas menghilang dan menyisakan Sasuke berhadapan dengan Troll itu.
Sasuke segera turun dari motornya. Ia belum tahu apa kekuatanya, tapi masa bodoh!, dengan atau tanpa kekuatan pun ia pasti akan menghancurkan monster itu.
"Kemarilah, mahluk aneh! Akan segera keselesaikan ini..." Ucap Sasuke dingin.
Ia berjalan perlahan ke Troll yang langsung berteriak. Dan memukulkan gadanya pada Sasuke.
"Heaarrgh!"
Duarr
Tapi dengan gesit, pemuda raven itu menghindar ke kiri dan selamat dari pukulan gada besi itu. Sasuke dan Naruto selalu bersaing dalam hal apapun, karena itulah ia juga ikut ekstra karate. Saking seringnya ia dan Naruto sparing, kemampuan karatenya sebanding dengan Naruto. Karena itulah ia dengan mudah menghindari serangan tadi.
Dengan cekatan ia kembali mengindar dari pukulan tangan kiri Troll gila tadi, menyisakan tanah yang retak karena pukulan. Tapi saat ia sedikit lengah karena melihat dampak yang ditimbulkan serangan barusan, ia langsung terkena pukulan tangan tepat di perutnya hingga membuatnya terpental ke belakang.
"Uhuk!" Akibat pukulan tadi, ia jadi terbatuk-batuk. Ia mengusap darah di sudut bibirnya dengan kasar. "Heh, lumayan..."
Ia berlari ke arah si Troll yang mengangkat gadanya kembali itu. Sasuke melihat peluang tipis itu dan memanfaatkan pertahanan si Troll yang terbuka. Ia melesat secepat yang ia bisa dan melakukan tendangan ke perut Troll.
"Terima ini!"
Bukk
Si Troll langsung berteriak kesakitan. Ia membalas perlakuan Sasuke tadi dengan mengayunkan gadanya yang dengan mudah dihindari Sasuke dengan menundukan tubuhnya.
Saat serangan gada tadi meleset, Sasuke yang masih dalam posisi membungkuk segera melompat melancarkan pukulan ke wajah si Troll yang menyebabkan mahluk tadi mengelus wajahnya.
Bukk
Saat Troll tadi sedang menusap wajahnya, kembali Sasuke melakukan tendangan langsung ke perutnya.
Bukk
Menerima serangan tadi si Troll langsung mengganas.
"Hyeahh!" Troll Meluncurkan pukulan tangan kananya dan Sasuke menajamkan matanya. Ia merasakan sesuatu yang begitu dahsyat bergejolak di dalam tubuhnya.
Degg
'Sensasi apa ini? Rasanya... Begitu hebat! Apakah ini kekuatanku?' Batin Sasuke saat merasakan gejolak dalam tubuhnya tadi menyebabkan tubuhnya memanas dan akhirnya ia lepaskan.
Wuussshh
Blarr
Pukulan si Troll berhasil di patahkan Sasuke dengan pukulan tangan kananya yang sekarang dilapisi api yang membara.
"Hn... Jadi ini kekuatanku?" Ia melirik tanganya yang membara akan api, tapi sama sekali tak merasakan panasnya. Lama kelamaan api itu padam. Sasuke menyeringai sekilas dan melesat ke arah si Troll. Ia ingin menyelesaikanya sekarang juga.
"Hyahh!" Si Troll yang melihat kedatangan Sasuke, tak tinggal diam dan melemparkan gadanya. Gada si Troll berputar dengan kencang seperti sebuah bumerang.
Sasuke menghindar dengan melompat tinggi ke atas dan mendarat di belakang Troll itu.
"Dengan ini selesai sudah!" Sasuke menghirup udara sebanyak yang ia bisa dan menyemburkan bola api raksasa dari mulutnya.
Wuusshhh
Blaarrr
"Hyaaa!" Si Troll berteriak sekeras-kerasnya saat api yang disemburkan Sasuke tadi membakar tubuhnya sampai menjadi abu.
Api-api kecil bertebaran di sekitar tempat Sasuke berdiri.
"Hn... Lemah..." Desis Sasuke.
'Mengagumkan' batin Nagato. Diluar dugaanya, Sasuke ternyata dapat dengan cepat membangkitkan kekuatanya daripada Naruto. Baguslah, dengan begini ia bisa segera memulai kompetisi yang sudah direncanakan.
"Jadi kau benar-benar akan ikut bukan, Sasuke? Tanya Nagato
"Hm, seperti yang kubilang sebelumnya... Aku ikut" ujar Sasuke sambil berjalan mendekati motornya.
"Hei! Ambil ini!" Panggil Nagato sambil melempar smartphone yang sama yang ia berikan ke Naruto sebelum Sasuke manaiki motornya. Setelahnya ia menjelaskan fungsi dari ponsel itu dengan detail seperti saat ia menjelaskanya pada Naruto.
Sasuke mengangguk paham dan hendak segera meninggalkan tempat ini.
"Hoi! Apa kau tidak ingin mendengar soal para peser-
"Aku tak peduli berapa atau siapa orang yang akan ikut." Sasuke tersenyum kecil. "Yang pasti aku akan mengalahkan mereka semua!"
Setelahnya Sasuke menarik gas motornya, meninggalkan Nagato yang hanya bisa mematung melihat sikap pemuda dingin itu.
"Hm, pemuda yang menarik..."
Dengan keputusan Sasuke untuk ikut, ia sudah berhasil mengajak 25 orang yang ia anggap cocok untuk ikut. Hanya tinggal meyakinkan beberapa orang yang belum memutuskan akan ikut atau tidak sampai ia bisa memulai kompetisi ini.
TBC
A/N : Hai! Jumpa lagi dengan author ceria, baik hati dan suka menabung ini(Plakk) . Maafkan saya karena lamanya waktu update fic abal ini T_T akhir-akhir ini di sekolah banyak banget tugas dari guru, selain itu saya juga sibuk mempersiapkan diri untuk TO, UAS, UN, dan pendaftran SNMPTN. Jadi karena itulah hanya ada sedikit waktu luang yang bisa saya pakai untuk mengupdate...
Tapi sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya pada seluruh orang yang sudah membaca dan mereview sejauh ini! Arigatou Gozaimasu^^
Semoga saja fic saya ini bisa semakin menarik dan bisa menghibur para pembaca semua!
