Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya pinjam chara dan fic ini bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan apapun melainkan hanya untuk hiburan semata.

Pair : NaruSaku, jika ada yang tidak suka tinggal klik 'back'

Genre : romance, supranatural, fantasy, dll

Warning : AU, OOC, Typo, Buatan Author newbie, cerita gaje dll

Summary : Apa yang kau lakukan bila mendapat kekuatan untuk bertarung dengan taruhan nyawa demi mendapat sebuah Harapan Mutlak? Apa kau akan lari dari kenyataan? Atau bertarung demi harapan yang kau percaya?

Happy Reading ^^

Chapter 4 : The Game Begin!

Sinar rembulan dan bintang-bintang malam ini tak terlalu memberi andil untuk membuat orang-orang kagum akan indahnya malam. Wajar saja begitu. Biasanya orang-orang akan begitu kagum akan indahnya langit saat malam hari, tapi sekarang karena adanya awan kelabu tebal atau biasa kita sebut awan mendung yang membuat malam semakin terlihat gelap ini, oang-orang jadi malas untuk sekedar meluangkan waktu bersama orang terdekat mereka sambil memandangi langit malam.

Begitupun dengan Uzumaki Naruto. Pemuda itu lebih memilih tidur-tiduran karena tak lama ternyata hujan lebat turun. Jam di atas nakasnya sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Biasanya di jam seperti ini pemuda itu sudah tidur dengan nyenyaknya. Tapi saat ini ia tengah memikirkan sesuatu nampaknya.

Pepatah selalu mengatakan 'jangan nilai buku hanya dari sampulnya'. Itulah yang Naruto pelajari dari seorang Nagato. Dibalik sosoknya yang misterius dan dingin, ternyata orang itu memegang peranan penting dalam kehidupanya. Berkatnya, sekarang Naruto harus mengikuti sebuah game aneh dengan tujuan yang tidak jelas. Ia tidak tahu apa yang mendorongnya untuk mengikuti game itu.

Apa karena iming-iming 'Harapan Mutlak'? Atau karena kejadian besar yang diceritakan Nagato?. Tapi kenapa ia bisa begitu percaya dengan semua hal tadi? Bisa jadi pria berambut merah itu hanya berbohong dan sebenarnya memiliki maksud tertentu bukan?.

Lewat orang-orang yang ia pilih dan ia beri kekuatan, bisa saja ia berencana menguasai dunia bukan? Eh, tapi jika pria itu bisa memberi kekuatan supranatural yang hebat ke 25 orang, bukankah menguasai dunia adalah hal yang mudah untuknya?

Jadi, kalau bukan untuk menguasai dunia, maka apa tujuan sebenarnya pria misterius itu?.

"Hahh..." Naruto menghela napas dan meraih handphone-nya. Tidak ada pesan atau panggi-

Drrrtt

"Eh, ada yang menelpon?" Gumam Naruto pelan. Ia berniat mengangkat ponselnya guna melihat nama kontak yang menelponya di layar smartphone yang diberi Nagato beberapa hari yang lalu. Pada mulanya Naruto tak berniat mengangkat telponya karena ia pikir pasti hanya fansgirlnya yang usil.

Tapi betapa terkejutnya Naruto saat tahu siapa yang menelponya. Kira-kira siapa gerangan yang membuatnya kaget itu? Apa Tsunade sang kepala sekolah? Tentu saja tidak. Rupanya tak lain dan tak bukan adalah Sakura.

Hati Naruto serasa langsung berbunga-bunga. Tanpa basa-basi langsung ia angkat telepon itu.

"Moshi-moshi! Sakura-chan! Tumben kau menelponku?" Sergah Naruto langsung saat ia mengangkat teleponya. Di wajahnya kini terpampang cengiran khasnya.

Terdengar decakan sebal dari seberang.

"Ck, baka! Kau membuatku kaget tahu!"

Naruto hanya bisa tertawa mendengarnya. "Hehehe... Maaf, jadi ada keperluan apa?"

"Aku hanya ingin mengingatkan untuk tidak lupa membawa buku tugas kimiaku besok!" Naruto yang mendengarnya menganggukan kepalanya mengerti.

"Hm, aku tidak akan lupa untuk membawanya, tenang saja!" Sahut Naruto dengan nada bicara yang santai membuat Sakura kembali berdecak.

"Kau ini! Aku mengingatkanmu karena kau adalah orang yang sangat pelupa!. Jika saja kau tidak kuingatkan saat ini pasti besok buku tugasku akan kau tinggalkan. Atau bisa saja saat ini kau belum mengerjakan tugasmu bukan?" Mata Naruto langsung membulat. Benar juga, sejak sampai rumah setelah part time, ia belum membuka buku tugasnya sama sekali!

Karena sejak tadi tak ada balasan dari Naruto, Sakura jadi gusar. "Hei baka! Apa kau mendengarkanku?"

"E-eh...Sakura-chan, iya aku mendengarkanmu!"

"Ya sudah kalau begitu, yang pasti awas saja jika bukuku sampai ketinggalan!"

Tutt tutt tutt

Sakura langsung menutup saluran teleponya secara sepihak, membuat Naruto kini terdiam. Tapi tak lama seperti terdengar bunyi 'klik' di kepalanya, ia teringat sesuatu. Ooh ya! Tugas kimianya!

Ia kangsung melompat turun dari ranjangnya dan mulai mengerjakan, atau lebih tepatnya menyalin jawaban dari buku Sakura.

.

.

.

.

Keesokan Harinya.

Kini di sebuah perpustakaan, Naruto sedang membaca buku pelajaran biologi dengan diawasi oleh Sakura di depanya. Karena tadi ada ulangan biologi dan ternyata Naruto gagal dalam ulangan itu, akhirnya guru mereka, Kurenai-sensei, memutuskan untuk memberi remidi ke Naruto dengan syarat harus mendapat nilai tidak kurang dari 80 agar nilai biologinya di akhir semester tidak kurang dari kriteria.

Itulah sebabnya mereka kini duduk diperpustakaan sepulang sekolah ini. Naruto yang pada dasarnya memang sulit agar mau belajar dipaksa oleh Sakura yang kebetulan diminta oleh Kurenai-sensei untuk membimbingnya.

"Ughh... Aku sama sekali tidak paham..." Keluh Naruto sambil mencengkram kepalanya. "Sakura-chan~ aku sudah tidak sanggup untuk membaca buku-buku ini lagi..."

Menyilangkan kedua tanganya di dadanya, Sakura hanya menggeleng dengan tegas sambil memberinya tatapan mematikan yang langsung membuat Naruto menciut karenanya.

"Kau ini! Sudah bodoh! tidak mau berusaha! Selalu merengek jika kesusahan karena ulahmu sendiri!. Setidaknya berusahalah sedikit agar kau tidak selalu gagal dalam ulangan dan menjadi peringkat terbawah dikelas!". Rutuk Sakura bertubi-tubi yang membuat Naruto semakin lesu.

"Sakura-chan... Harusnya kau memberiku semangat... Bukanya menghinaku seperti itu..." Ujarnya sambil manyun.

"Jadi kau ingin disemangati ya?" Perubahan ekspresi Sakura yang awalnya terlihat begitu gusar menjadi penuh senyum membuat kepala Naruto dipenuhi oleh tanya.

"Hu-um"

"Kalau begitu semangatlah-". Sakura tersenyum lebar hingga matanya menyipit, manis. Wajah Naruto merona tipis karenanya.

-karena jika sampai kau gagal lagi maka kau akan memukul kepalamu sampai kau bisa pintar dan aku tidak peduli berapa pukulan yang harus kulayangkan di kepalamu!" Lanjut Sakura dengan teriakan bervolume tinggi, berdiri dari kursinya sambil menggebrak meja.

Gubrakkk

Naruto terjatuh dari kursinya mendengar 'kalimat penyemangat' Sakura tadi. "Eeekkk! Kalimat penyemangat macam apa itu!?" Pada awalnya Naruto kira Sakura akan menyemangatinya dengan kalimat yang manis, tapi ternyata...

Kening Sakura berkedut-kedut."Jadi kalimat penyemangat macam apa yang kau harapkan, baka!?. Huh sudahlah. Dengan cara inipun kau tidak bisa segera memahami pelajaran. Kalau begini jadinya akan kupakai cara lain."

"Cara lain?" Naruto bertanya dan langsung memposisikan dirinya untuk duduk dikursi kembali.

Sakura kembali duduk di kursinya. Kali ini ia benar-benar memasang senyum tulus diwajahnya. "Kalau kau bisa lulus pada remidi besok, maka aku akan memenuhi satu kenginanmu."

Sebelah alis Naruto melengkung keatas. "Keinginan macam apa?" Tanya Naruto bingung.

"Hm... Apa saja." Jawab Sakura mantab.

"Yang benar?" Tanya Naruto yang setelahnya dibalas anggukan oleh Sakura.

"Yosh! Kalau begitu, jika aku berhasil pada remidi ini aku ingin Sakura-chan kencan denganku! Bagaimana?"

Tubuh Sakura langsung menegang. 'Ke-kencan!' Batin Sakura terkejut sekaligus senang meskipun ia tidak memperlihatkanya secara langsung pada Naruto. Ia tak ingin jika pemuda blonde itu malah besar kepala nantinya.

"Oke! Aku setuju, tapi kau harus benar-benar berhasil, Wakatta?"

Setelah mendengarnya Naruto ingin berteriak kegirangan sekarang juga. "Hoo! Wakatta!" Ujar Naruto sambil memasang cengiran lebar dan pose hormat yang membuat Sakura terkekeh pelan. Meskipun ini rencana agar Naruto semangat belajar dan berhasil pada remidi besok, tapi Sakura tidak berbohong jika ia merasa senang akan ajakan kencan Naruto tadi.

Tanpa babibu lagi, Naruto langsung menyambar bukunya kembali dan membacanya dengan teliti. Sakura yang yakin kalau saat ini Naruto tidak akan merengek lagi, mengambil buku novel yang dipinjamnya dan memutuskan untuk membaca juga, sekedar menghilangkan kebosananya.

Hening melanda ruangan perpus yang hanya berisi dua remaja itu. Mereka sibuk dengan bacaanya masing-masing. Sampai sebuah suara berdering di indera pendengaran mereka, membuat keduanya langsung memfokuskan pandangan mereka pada ponsel Naruto diatas meja.

Drrrtt

"Eh?" Tangan tan Naruto perlahan meraih ponselnya dan melihat satu pesan masuk disana. 'Unknown' itulah tulisan nama pengirim pesan yang nampak begitu Naruto membuka kunci layar ponsel touchscreen-nya. Sakura melirik kearah Naruto seakan-akan bertanya 'siapa yang memberimu pesan'. Dengan ragu Naruto membaca pesan pendek itu.

'Hari ini kau harus pergi ke gedung tak terpakai di dekat taman kota' Hanya sekilas Naruto membacanya, tapi ia tahu kalau Nagato-lah yang mengirim pesan itu. Di dekat taman kota memang ada sebuah gedung tua yang sudah lama tidak dipakai, tapi apa tujuan Nagato menyuruhnya kesana?.

"Hei Sakura-chan. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?"

Sakura mengerutkan kening."Hm? Kenapa sepertinya terburu-buru?"

"Eeh, err, tidak apa-apa. Aku hanya ingin bersiap untuk remidi besok." Berkat jawaban yang kurang meyakinkan itu, Sakura sepertinya malah curiga kepadanya..

"..."

"..."

"Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang." Naruto hanya bisa menghela napas lega saat akhirnya Sakura bersedia untuk pulang dan tak curiga padanya. Semoga saja begitu.

.

.

.

.

Kini Naruto berjalan dengan tergesa menuju ke gedung yang dimaksud Nagato. Setelah berjalan bersama dengan Sakura sampai di sebuah pertigaan mereka berpisah, Naruto yang beralasan memiliki urusan mendadak meminta maaf pada Sakura untuk meninggalkanya dan menyuruh gadis itu untuk duluan.

"Sepertinya gedung ini yang dimaksud..." Gumam Naruto setelah sampai di sebuah gedung besar yang tak lagi terpakai. Sebenarnya gedung itu bukanya tak lagi terpakai melainkan tak pernah dipakai. Pasalnya gedung itu masih dalam proses pembangunan dan entah karena alasan apa mendadak konstruksinya dihentikan dan terbengkalai sampai saat ini.

'Glekk'. Melihat kondisi gedung didepanya membuat Naruto meneguk ludahnya. 'Apa benar ini gedung yang Nagato maksud?' Pikirnya. Jujur, ia sebenarnya adalah seorang yang anti dengan sesuatu berbau misitis. Silahkan saja jika menganggapnya orang yang penakut. Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya menuju kedalam gedung itu.

Di dalam gedung itu semuanya terlihat kusam dan gelap. Belum ada perabotan satupun di gedung itu. Belum lagi jaring laba-laba yang menempel di berbagai sudut ruangan membuat suasana didalam ruangan itu membuat bulu kuduk berdiri. Naruto sejak tadi berjalan menjelajahi seluruh isi gedung sambil mengelus tengkuknya yang terasa mendingin.

Sebenarnya dimana Nagato sekarang?. Naruto sudah tidak tahan dengan suasana mencekam ini.

Kressek

Jantung Naruto serasa melompat dari tempatanya. Mendengar suara tadi, langsung saja Naruto menoleh kesana kemari saking kagetnya. Ia menghela napasnya, mencoba menenangkan dirinya. 'Haahh, tenang... Mungkin hanya kucing atau tikus...' Batinya.

"Cih! Sebenarnya dimana pria itu?" Naruto benar-benar sekarang. Dan disaat ia berjalan sampai di ujung sebuah lorong, ia melihat sebuah pintu di pojok kanan ruangan. Aneh, pasalnya pintu itu terlihat bagus daripada pintu-pintu lain di gedung ini. Ia meyakinkan dirinya sekali lagi dan melangkah menuju pintu tadi. Tangan pemuda itu sedikit bergetar saat mencoba meraih gagang pintu. Ia putar gagang pintu itu dan membukanya perlahan, sangat perlahan...

Hal yang tertangkap pertama kali oleh penglihatanya adalah beberapa pohon yang berjejeran tak jauh didepan pintu yang dibukanya.

"Are? Kenapa ada pepohonan disini?"

Sekarang perasaan takut Naruto sedikit demi sedikit menghilang dan digantikan rasa penasaran. Ia melangkahkan kakinya lebih dalam ke tempat dibalik pintu tadi. Dan betapa kagumnya ia saat melihat pohon-pohon berukuran raksasa yang begitu rindang disana.

"Woah... Tempat ini luas sekali! Banyak pepohonan, seperti sebuah hutan..." Ia langkahkan kakinya semakin jauh menjelajahi hutan itu. Melihat berbagai macam tanaman dan hewan aneh yang berbeda dengan hewan dihutan yang ia ketahui. Tak berapa lama dihadapan Naruto seekor hewan lucu melomat-lompat keluar dari semak. Hewan itu seperti kelinci tapi memiliki telinga lebih panjang hingga tergerai ke bawah. Wajahnya yang begitu imut membuat Naruto gemas. Ia akhirnya menggendong hewan itu dan sepertinya hewan itu tak takut padanya, buktinya saat ia gendong hewan itu tidak memberontak sama sekali.

"Uhh~ Kau lucu sekali! Apa yang sedang kau lakukan disini kawan kecil?" Tanya Naruto sambil mengelus-elus punggung hewan itu, membuat hewan itu menggeliat senang di pelukan Naruto. Jika saja Sakura disini, Naruto yakin pasti gadis itu merengek ingin membawanya pulang sebagai hewan peliharaan saking imutnya.

Lama kelamaan hewan itu menggeliat dengan tak nyaman di pelukan Naruto, membuat pemuda itu bingung.

"Hm? Ada apa denganmu?" Tanyanya sambil memperhatikan hewan itu. Mata hewan itu menyala merah.

"Uwaa!"

Dan sebuah geraman terdengar oleh Naruto, membuatnya memekik kaget dan melepaskan hewan itu sambil melompat mundur.

"Rrrrgghhh..." Geraman hewan itu semakin terdengar menakutkan seiring tubuhnya yang mulai membesar dan sekarang menyamai besar tubuh Naruto. Bulu-bulunya semakin melebat dan kuku-kukunya memanjang bagaikan pisau belati yang sanggup menebas apa saja dihadapanya.

"Rarrggh!" Hewan itu berteriak dan menerjang ke arah Naruto.

Dengan sigap Naruto menghindar dengan melompat ke kanan saat hewan itu mencoba menubruknya.

Blarr

"Hei! Apa-apaan itu!" Teriak Naruto tidak terima. Hewan tersebut mengaum dan menyiapkan cakar-cakarnya, menerjang Naruto kembali. Ia menebaskan cakarnya yang dengan mudah dihindari Naruto dengan membungkuk, menyebabkan batang pohon dibelakang Narutolah yang malah terkena cakaran dan tumbang begitu saja.

"Cih! Kalau begitu aku tak punya pilihan lain selain mengalahkanmu!" Sepertinya hewan itu benar-benar membuat Naruto kesal. Tadi terlihat begitu menggemaskan, tapi sekarang malah hewan itu begitu bersikeras ingin membunuh Naruto. Dengan cepat hewan itu berlari kearah Naruto yang saat ini memasang ancang-ancang. Keduanya melompat dan melancarkan seranganya. Dengan mudah Naruto menghindari pukulan ke wajahnya hanya dengan memiringkan kepalanya, dengan gerakan cepat ia menendang perut si 'kelinci' dengan keras dan menjatuhkanya kembali ke tanah.

Tapp

Dengan mudah si 'kelinci kembali berdiri dan menggeram.

"Wind Style ; Hurricane Knuckle!" Naruto berlari dengan cepat kearah hewan itu dengan tangan kananya yang dilapisi angin yang berputar dengan kencang. Hewan itu dengan cerdik menghindar dengan melompat tinggi keatas udara saat Naruto melayangkan pukulanya.

"Heh, kena kau!" Desis Naruto saat hewan itu tengah melayang bebas di udara.

"Blast!" Naruto melayangkan pukulanya keatas dan melepaskan bola angin yang tadi menyelimuti tanganya, langsung menghantam 'kelinci' itu dengan telak.

Blaarrr

Monster itu jatuh tersungkur ke tanah. Tubuhnya melemas serta lama-kelamaan kembali mengecil seperti sedia kala. "Huhh... Hampir saja..." Gumam Naruto. Merasa ia harus segera pergi sebelum hewan itu kembali sadar, ia kembali melangkah untuk mencari tahu tempat apa ini serta mencari Nagato. Baru saja melangkah beberapa meter, ia dikejutkan dengan sekumpulan 'kelinci' yang sudah berubah menjadi monster keluar dari belakang pepohonan dan semak-semak. Jumlahnya mungkin sepuluh ke atas, dan mereka sepertinya begitu marah pada Naruto karena melukai salah satu teman mereka.

"Kalian lagi!" Desis Naruto.

Mereka langsung membabi-buta menerjang ke arah Naruto yang sudah bersiap mengeluarkan jurusnya. Naruto memejamkan matanya berkonsentrasi. Perlahan angin puyuh mengelilingi tubuhnya, semakin lama semakin kencang dan dahsyat putaranya, membuat dedaunan dipohon berguguran dan menggoyangkan rantingnya dengan liar seperti sedang diterpa badai.

"Wind Style : Lethal Vortex!" Teriak Naruto merentangkan kedua tanganya dan langsung membuat angin puyuh yang mengelilingi tubuhnya melebar dan mengenai semua monster yang menyerangnya dari berbagai arah.

Wusshhh

Blarrr

Para monster langsung terlempar ke berbagai arah sambil berteriak kesakitan karena terkena serangan. Jurus Naruto barusan bukan hanya sekedar menghantamkan angin kencang saja, melainkan juga bagaikan pisau yang tak terhitung jumlahnya, menebas-nebas tubuh semua monster. Membuat semua monster langsung tumbang dan kembali ke wujud normalnya. Tubuh mereka dipenuhi dengan banyak luga sayatan.

"Hahh... Hahh.. Hahh... Melelahkan juga melawan mereka semua..." Napas Naruto naik turun setelah mengeluarkan jurusnya yang terakhir tadi. Ia mengusap keringat dari pelipisnya dengan punggung tangan kirinya. Tapi sepertinya Naruto masih belum bisa tenang karena ternyata semakin banyak monster kelinci yang keluar dan sekarang jumlahnya mencapai puluhan ekor!

"Kusso! Kenapa kalian begitu keras kepala sih!?" Sepertinya Naruto tak punya pilihan lain selain menghindar dari mereka semua. Ia melompat dengan keras ke salah satu batang pohon diikuti dengan para monster yang mengejarnya. Ia berlari vertikal ke atas di batang pohon tadi dan langsung melompat berpindah dari satu pohon ke pohon lain, begitu seterusnya.

Saat posisinya cukup tepat untuk melakukan serangan, Naruto langsung menembakan angin ke arah para monster kelinci.

"Wind Style : Wind Canon!"

Wusshh

Blarrr

Banyak diantara monster langsung jatuh setelah terkena serangan, tapi juga masih banyak yang mengejar Naruto.

"Cih! Jika begini terus aku bisa kehabisan tenaga!". Naruto terpaksa melompat kebawah saat serangan para monster mendesaknya.

Kalau kehabisan tenagapun ia masih bisa menggunakan jurus karatenya untuk bertahan. Tapi dengan jumlah monster yang segini banyaknya...

"Tak ada pilihan lain, akan kugunakan tangan kosong!"

"Rarrgghh!" Semua monster berteriak, tapi tak membuat Naruto bergeming dari tempatnya berdiri sedikitpun. Disaat semua monster menerjang kearahnya.

Tekk

Terdengar jentikan jari seseorang yang membuat para monster berhenti dan mundur kembali kesemak-semak dan pepohonan.

"Heh! Dasar pengecut!" Ucap Naruto. Ia sebenarnya bingung kenapa para monster itu mendadak mundur, tapi yang terpenting sekarang ia selamat.

"Sepertinya kau selalu terlibat masalah ya..." Sebuah suara terdengar oleh Naruto. Walau hanya sebaris kalimat pendek yang diucapkan orang itu, tapi ia bisa langsung tahu kalau orang itu adalah Nagato.

"Hei! Kenapa kau lama sekali? Selain itu kita berada dimana sekarang?" Tanya Naruto tak menanggapi basa-basi Nagato terlebih dahulu.

"Sabar, kita tunggu peserta lain untuk datang terlebih dahulu, baru setelahnya aku akan menjelaskan semuanya, Naruto..."

"Tapi setidaknya jelaskan dulu tentang mahluk yang menyerangku tadi" sergah Naruto.

"Hah... Kau selalu tidak sabaran ya.." Ia terdiam sekilas sebelum kembali melanjutkan "Mahluk yang kau lawan barusan bernama 'Killer Rabbit' " lanjutnya singkat.

"Killer Rabbit? Namanya sesuai dengan penampilanya saat menjadi monster, tapi sepertinya tidak cocok saat belum jadi monster..." Gumam Naruto bingung sambil menggaruk kepalanya.

"Jangan tertipu dengan wujud awalnya yang terlihat menggemaskan. Banyak hewan disini bertolak belakang ciri khasnya dengan hewan di hutan biasa. Contohnya Killer Rabit tadi. Dibalik wajahnya yang menggemaskan jangan sampai kau mengelus punggungnya"

"Hee? Kenapa?" Tanya Naruto masih tidak mengerti.

"Bisa-bisa hewan itu menyukaimu saat kau mengelus punggungnya. Semakin hewan itu menyukaimu maka semakin hewan itu ingin membunuhmu."

"Heee!" Naruto dibuat menganga karena penjelasan tadi. Ia menelan ludahnya. Mungkin setelah ini ia harus berhati-hati memperlakukan hewan disini.

Nagato tersenyum sebelum kemudian mengajak Naruto. "Ayo ikut aku!" Ia lantas berjalan didepan Naruto yang tak lama kemudian menyusulnya.

"Kita mau kemana?" Tanya Naruto. Tapi Nagato hanya diam.

Setelah berjalan cukup jauh dari tempat tadi, Nagato berhenti didepan sebuah batu kristal besar kebiruan yang nampak seperti monumen. Satu tanganya terangkat memberi isyarat pada Naruto. Naruto berhenti saat melihat isyarat dari Nagato.

"Mereka datang..." Ucap Nagato pelan. Naruto meneguk ludah. Ia bisa membayangkan semua peserta yang akan jadi musuhnya. Pasti mereka bukan orang-orang sembarangan.

Satu persatu para peserta datang dari dalam hutan. 10, 11, 12, Naruto mulai menghitung orang-orang yang datang. 22, 23, 24 akhirnya semuanya berkumpul mengitari monumen batu kristal tadi. Naruto tak bisa melihat dengan jelas seperti apa wajah seluruh peserta game. Tapi matanya membulat saat melihat seorang yang dikenalnya ada disana.

'Teme?' Batin Naruto kaget. Tapi belum sampai memastikan siapa mereka, mendadak sulur-sulur dari beberapa pohon merambat dan mengikat tangan dan kakinya. Ia bukan satu-satunya. Para peserta yang lain juga mengalamai hal yang sama sepertinya.

Tekk

Nagato menjentikan jarinya dan membuat seluruh tempat disini menggelap, sangat gelap hingga tak mungkin untuk dapat melihat.

'Apa yang terjadi?' Batin Naruto semakin panik saja.

"Hoi! Kenapa aku tidak bisa melihat!"

"Dimana ini sebenarnya?"

"Apa yang terjadi, aku tidak bisa melihat! Dan tubuhku juga tidak bisa digerakan!"

Terdengar berbagai macam suara protes dari beberapa orang yang ada disana.

"Selamat datang kalian semua!" Ucap Nagato lantang membuat semua orang yang sejak tadi terdengar begitu ribut langsung diam.

"Aku tahu kalian pasti bingung dengan keadaan ini" lanjutnya.

"Hoi! Kenapa kami semua tidak bisa melihat!" Teriak seseorang menyela Nagato.

"Aku hanya ingin memastikan kalian tidak mengingat rupa lawan kalian" terangnya.

"Kenapa begitu?!" Teriak salah seorang lainya.

"Kalau kalian melihat satu sama lain, maka bisa kupastikan kalian akan saling menyerang satu sama lain sekarang juga." Ucapnya tak kalah tegas dari sebelumnya. Mendengar ini, semua yang ada disana langsung tak berniat memotong lagi.

Nagato terdiam sesaat, kemudian mulai menjelaskan. "Baiklah... Kalian semua yang ada disini. Kalian pasti tahu alasan kenapa aku mengumpulkan kalian sekarang... Baru saja kemarin aku mendapat pesan dari peserta terakhir yang kutawani ikut kompetisi ini. Ia menyatakan kalau ia akan ikut serta dan itu artinya..." Ia menggantung kalimatnya. Membuat semua yang ada disana semakin terdiam.

"... Game ini akan dimulai..." Tak ayal pernyataan ini membuat semua yang ada disana langsung kaget. Keadaan mulai kembali ramai saat semua orang berbisik satu sama lain sampai akhirnya Nagato kembali berucap.

"Tapi saat ini aku tidak langsung menyatakan untuk memulai game. Aku akan memberi kalian semua pesan setelah kalian kembali ke tempat dimana kalian masuk ke hutan ini. Apa ada yang ditanyakan?" Tanyanya.

"Kami semua sudah tahu bagaimana peraturan game ini, jadi sebenarnya tempat apa ini?" Tanya salah seorang meminta penjelasan. Kebetulan itu juga yang sebenarnya mau Naruto tanyakan.

Baiklah, aku akan menjelaskan tentang tempat ini. Sekarang ini kalian berada di 'Ancient Forest Arunheim'."

'Arunheim?' Batin Naruto. Jadi itu nama hutan aneh ini?.

"Hutan ini adalah tempat tinggal semua monster yang pernah kalian lawan saat pertama kali kuberi kekuatan. Dari hutan ini pula, aku akan mengirim monster ke dunia kalian yang harus kalian lawan untuk meningkatkan kekuatan kalian. Dan bila aku tak mengirim monster keluar, kalian bisa masuk sendiri ke hutan ini lewat tempat kalian masuk tadi. Kurasa hanya itu yang ingin kukatakan..."

"Kalau begitu cepat kembalikan kami ke tempat kami masuk!" Teriak seseorang yang sepertinya seorang perempuan.

Nagato mengangkat tangan kananya lalu menjentikan jarinya.

Tekk

Setelahnya semua orang bisa kembali melihat tapi mereka tak lagi berada di, melainkan di tempat mereka masuk, tak terkecuali Naruto. "Sepertinya... Aku kembali ke gedung tadi..." Gumanya.

Sebentar lagi... Ya sebentar lagi, kompetisi akan dimulai. Naruto mengepalkan tangan kananya. Ia harus siap.

.

.

.

.

"Tadaima..." Gumam Naruto setelah masuk ke apartemenya. Meski ia tahu kalau tidak ada orang yang akan membalas salamnya, ia selalu melakukan hal ini sebelum masuk sambil membayangkan kedua orang tuanya menyambutnya. Naruto tersenyum kecut, ia letakan tasnya diatas kasur lalu merebahkan diri diatasnya. Besok mungkin akan menjadi hari terpenting dalam hidupnya... Ia tak menyangka rasanya akan seberat ini...

Drrrt

Dengan segera ia lihat ponselnya. Ada sebuah pesan yang ia yakini pasti dari Nagato.

From : Unknwon

Kepada semua peserta. Mulai besok, mungkin hidup kalian akan berubah untuk selamanya. Kalian harus bisa bertahan sampai akhir demi mendapatkan harapan yang kalian inginkan. Jadi kunyatakan di detik ini...Kompetisi Yang Kuciptakan Dimulai... Semoga berhasil dan kuucapkan selamat untuk kalian semua.

Naruto menghela napas dan hendak menurunkan ponselnya ke tempat tidur sebelum kemudian satu pesan kembali diterima.

"Hahh? Siapa lagi sekarang?" Gumamnya malas.

From : Sakura-chan

Semoga berhasil untuk besok, semangat dan lakukan sebaik yang kau bisa! ^^

"Eh?" Naruto tak menyangka ternyata Sakura yang mengiriminya pesan. Ia tersenyum. Walau Sakura sebenarnya memberinya semangat untuk remidi besok, tapi di satu sisi ia juga merasa Sakura menyemangatinya di game ini.

Ia ingat jika karena gadis itulah ia ikut game ini... Ia ingat jika ia telah berjanji untuk terus hidup kepada gadis itu juga... Ia ingat jika tujuanya menjadi semakin kuat adalah untuk melindungi gadis itu...

"Ya... Demi dirimu, Sakura-chan..." Ucapnya pelan sebelum akhirnya memejamkan matanya dan tidur.

End Of Chapter 4

A/N : Oke! ini dia chap 4 yang akhirnya bisa saya update. Maaf atas keterlambatanya...

oh ya! saya ingin mengumumkan hal penting

Berhubung besok senin udah UAS, maka dengan terpaksa saya akan Hiatus (mungkin agak lama sampai UN selesai)

Pada semua reader, saya mohon doanya agar bisa lancar semua ujian saya. Doain ya! ^^