A/N : Ren-san: terima kasih atas masukanya. Saya udah ubah genre yang lebih dominan ke Supranatural/Fantasy, tapi tetap menambahkan bumbu-bumbu romance-nya.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya pinjam chara dan fic ini bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan apapun melainkan hanya untuk hiburan semata.

Pair : NaruSaku. Don't like just go back!

Genre : Supranatural, romance, fantasy, dll

Game of Hope

Suasana senja di pinggiran kota Nami terlihat begitu mencekam. Kota yang menjadi perbatasan antara kota Konoha dan Kiri ini terlihat mencekam berkat kabut tebal yang menyelimuti sekitar. Seorang pria nampak berlari pontang-panting entah karena sebab apa.

"Hah...hah... Hah... A-apa aku lolos dari mereka?" Napas pria itu terengah-engah. Ia menoleh kesana kemari memastikan apakah dirinya sudah aman. Tapi kabut yang mengelilinginya membuat penglihatan pria itu menjadi kabur.

"Sudah cukup... Berhenti disitu!" Tiba-tiba seseorang yang mengenakan topeng muncul dihadapan pria itu, menyuruhnya agar berhenti. Mata pria paruh baya itu membulat. Ia segera berbalik mencoba kembali kabur sebelum di depanya ternyata berdiri satu orang lagi. Kali ini seorang pria yang menggunakan perban untuk menutupi mulut serta hidungnya.

"Aaa!" Pria itu jatuh terduduk dengan tubuh bergetar melihat dua orang itu.

"Ba-bagaimana kalian bisa menyusulku?" Tanyanya takut.

"Kami sudah menghabisi semua pengawal-pengawalmu yang payah itu!" Ucap pria bermasker tadi. Ia mendekat dan mengakibatkan si pria mundur perlahan.

"To-tolong... Jangan bunuh aku... A-aku tidak tahu siapa kalian dan aku tidak punya masalah dengan kalian.." Ucapnya tergagap.

"Bagaimana menurutmu, Haku? Apa kita lepaskan saja pria ini?" Tanya si pria bermasker kepada seseorang bertopeng yang dipanggilnya Haku tadi.

"Mana mungkin begitu, Zabuza..." Balasnya dingin. Mendengar penuturan Haku, si pria langsung ketakutan setengah mati.

"Kau sudah dengar kata rekanku bukan? Kami tidak bisa melepasmu.." Ucap pria bernama Zabuza tadi. Ia kemudian menodongkan sebuah pistol tepat didepan wajah pria tadi.

"Ku-kumohon! Akan kubayar kalian tiga kali lipat lebih mahal dari yang kalian terima saat ini asal kalian melepaskanku." Mohon pria itu sambil bersujud dihadapan Zabuza.

"Ini bukan soal bayaran. Bagaimanapun kami harus membunuhmu." Haku menyilangkan kedua tanganya didepan dadanya.

"Kami ini terkenal sebagai pembunuh bayaran paling profesional di seantero Negara Kiri. Kami tidak akan melepaskan target kami sampai mereka dipastikan mati..." Zabuza menempatkan jarinya dipelatuk pistol yang dipegangnya, bersiap untuk menembak.

"Si-siapa sebenarnya kalian?" Pria itu sudah pasrah, percuma ia memohon.

"Apa itu pertanyaan terakhirmu?" Ucap Zabuza sambil menyeringai.

"Kalau memang begitu aku akan menjawabnya. Kau bisa bilang kami hanyalah sekumpulan orang tidak berguna... ingat itu saat kau sudah berada di neraka..."

Dorr

Tubuh pria itu tumbang dengan sebuah lubang peluru di keningnya. Keduanya sempat terdiam sebelum kemudian Zabuza membuka suara.

"Jadi siapa target selanjutnya?" Tanyanya pada Haku sambil meletakan pistolnya ke balik jaket yang dipakainya.

"Belakangan ini kita sudah banyak menyelesaikan misi kita dengan sukses. Bukankah lebih baik jika kita berhenti sejenak? Sekedar untuk menutupi jejak."

Zabuza mengerutkan keningnya. "Sepertinya kau ada benarnya, lebih baik kita harus berhenti dulu"

"Lalu bagaimana dengan game?" Tanya Haku kembali.

"Sekarang ini kita sudah berada di pinggiran wilayah Kota Konoha. Kita akan menutupi jejak dengan membaur bersama orang-orang disana selama beberapa hari. Dan kalau memang kita bertemu salah satu peserta disana, sekalian juga akan kuhabisi!" Ia melirik ke Haku yang kemudian menganggukan kepalanya. Setelahnya, mereka berjalan meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam kabut. Sosok keduanya perlahan menghilang ditelan pekatnya kabut, layaknya hantu.

.

.

.

.

Warning : AU, OOC, Typo, Buatan Author newbie, cerita gaje dll

Summary :Apa yang kau lakukan bila mendapat kekuatan untuk bertarung dengan taruhan nyawa demi mendapat sebuah Harapan Mutlak? Apa kau akan lari dari kenyataan? Atau bertarung demi harapan yang kau percaya?

Happy Reading ^^

Chapter 5 : Mist Hunter

"Hei teme, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Naruto pada Sasuke. Saat ini jam istirahat dan kebetulan Naruto ingin menanyakan sesuatu yang begitu mengganjal pikiranya tentang apakah Sasuke ikut game yang juga di ikutinya. Memang saat pertemuan semua peserta dan Nagato di hutan Arunheim, Naruto sekilas melihat Sasuke juga ada di sana, karena itulah ia ingin menanyakanya langsung pada Sasuke.

Sebelah alis Sasuke naik setelah mendengar permintaan pemuda yang di panggilnya 'dobe' itu. 'Apa yang mau dibicarakan si dobe itu?' batinya. Setelahnya ia hanya mengendikan bahunya. "Hn."

"Baiklah, kita bicara di atap saja." Tukas Naruto setelahnya.

Di atap sekolah.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Langsung tanpa basa-basi, Sasuke menanyakan apa yang ingin dibicarakan Naruto.

"Etto... Bagaimana menanyakanya ya?" Sasuke menaikan alis, tumben sahabatnya itu tidak bisa langsung terang-terangan mengatakan sesuatu seperti bisanya.

"Ck! Cepatlah! Apa yang ingin kau bicarakan!"

Naruto hanya bisa mengusap kasar rambutnya. "Hahh! Baiklah! Mungkin kedengaranya aneh, tapi apa kau mengetahui sesuatu tentang..." Naruto meneguk ludah, menggantung kalimatnya sampai akhirnya ia lanjutkan kembali.

"Tentang, err... Suatu kompetisi, kekuatan aneh, mahluk-mahluk aneh, seorang pria misterius berambut merah, harapan mutlak dan-

Mendadak mata Sasuke menajam. "Apa maksudmu dengan semua hal itu?" Potongnya cepat.

"E-eh, kenapa kau malah terlihat aneh, teme?"

"Jika kau menanyakan hal-hal aneh tadi, kau juga pasti tahu tentang semua itu bukan?" Tanya pemuda Uchiha itu mengintimidasi.

"..."

"Hoi! Jawab pertanyaanku!" Wajah Naruto mendadak mengeras. Sasuke sedikit tercengang melihat perubahan ekspresi Naruto itu. Pasalnya, pemuda berkulit tan itu tak pernah terlihat seserius ini sebelumnya.

"Apa kau mengikuti game yang Nagato buat?" Tanya Naruto dingin.

"Cih! Apa yang sebenarnya kau mak-"

"Kau pasti tahu apa yang kumaksud!" Satu bentakan tadi membuat Sasuke terdiam, sebelum kemudian menghela napas.

"Jadi kau juga mengikuti game itu?" Tanyanya yang kemudian dibalas anggukan pasti.

"..."

"Lalu apa tujuanmu ikut game ini, teme?"

"Kau sendiri?"

Sebuah perempatan siku hadir di kening Naruto. "Hoi! Kau dulu yang kuberi pertanyaan, TEME!" Kepala Naruto serasa terbakar. Ia merasa seperti bicara pada tembok daripada manusia.

"Hn, aku tidak punya tujuan khusus dalam mengikuti game ini." Jawabnya singkat. Tubuhnya ia sandarkan di pagar, membelakangi pemandangan lingkungan sekolah

"Heh? Apa maksudmu?"

"Kau tidak akan mengerti. Lalu, kau sendiri, apa tujuanmu?"

Naruto pada mulanya terdiam sampai akhirnya ia menghela napas sebelum menjawab. "Apa kau juga diberitahu tentang hal mengerikan yang dibicarakan Nagato?" Sasuke mengangguk mengerti. "Mungkin tujuanku adalah untuk melindungi semua orang yang dekat denganku bila kejadian itu benar-benar terjadi..."

"Jadi... Kau tidak berniat untuk menang? Bukankah kau bisa meminta apa saja bila menang?" Tanya Sasuke mulai bingung dengan jalan pikiran sahabtnya itu.

"Kurasa aku belum memikirkan sesuatu untuk kuminta, karena itulah aku tak begitu fokus untuk menang." Tangan Naruto menggenggam pagar pembatas dengan erat.

"Jadi begitu..." Sasuke melirik kearah Naruto. Entah mengapa kekuatan di tubuhnya terasa bergejolak dan seakan-akan ingin meledak. Satu tanganya ia kepalkan. Naruto yang menyadarinya juga mengepalkan satu tanganya yang tak menggenggam pagar.

"Kurasa hanya itu yang ingin kupastikan... Kalau begitu aku pergi dulu" Pemuda pirang itu melempar cengiran khasnya sebelum berbalik dan melangkah pergi, tapi baru beberapa langkah, pemuda itu malah berhenti.

"Heh!" Sasuke menyeringai dan di detik selanjutnya ia menembakan bola api dari tanganya langsung kearah Naruto yang membelakanginya.

Blasshh

'Nani!?' Naruto berbalik badan dan menghindari jurus Sasuke. "Hei! Apa kau mau membakar sahabatmu hidup-hidup?" Teriak Naruto protes. Dilihatnya Sasuke hanya menyeringai puas sambil mengangkat bahu.

"Kau ini! Wind Canon!" Naruto membalas dengan tembakan bola angin miliknya.

Wushh Wushh Wushh

Sasuke dengan lincah menghindar dari setiap tembakan barusan. "Kukira kau tidak mau melawan..." Ejeknya.

"Heh! Jarang-jarang kita bisa sparing dengan kekuatan sehebat ini bukan?"

"Kalau begitu giliranku..." Sasuke menari napas sebanyak yang ia bisa.

"Fire Style : Dragon Breath!"

Bwussshh

Semburan api yang menyala-nyala dan sanggup membakar semua yang ada didepanya melaju kearah Naruto. "Ergh!Apa-apaan itu!?" Agar bisa menahan serangan barusan, Naruto menembakan bola angin berukuran jauh lebih besar dari sebelumnya.

Wusshh

Blarrr

Jurus keduanya saling menghantam dan menciptakan ledakan. Asap mengepul di area atap. Membuat seisi penghuni sekolah bingung saat mendengar ledakan serta asap. "Heh! Cukup mudah." Seringai tercipta diwajah Naruto, tapi setelahnya ia terkejut. Sasuke sudah tidak berada didepan matanya.

"Apa menurutmu begitu?" Seru Sasuke yang ternyata melayang di udara dengan banyak bola api bertebaran disekitarnya. Pemuda Uchiha itu tersenyum remeh untuk beberapa saat sebelum akhirnya menghujani Naruto dengan jurus apinya.

"Fire Style: Meteor Rain!"

Syuut Syuut Syuut Syuut

'Gawat!' Naruto berlari menghindar. Hujan bola api terus mengejar Naruto sampai akhirnya pemuda itu melompat tinggi. "Wind Canon: Rapid Fire!" Dengan bertubi-tubi Naruto membalas. Bola-bola angin melesat dengan cepat, layaknya peluru senapan mesin berkecepatan tinggi.

Duarrr Duarrr Duarrr

Buummm

Asap mengepul. "Yoshaa!" Naruto memekik senang ketika sepertinya Sasuke terkena seranganya. Siluet seorang pemuda jatuh kebawah. Tidak jelas apa yang terjadi, tapi Naruto yakin ini belum berakhir.

Kepulan asap semakin menebal menelan semua orang diatap sekolah. Saat itulah dua sosok melompat menembus asap sambil bersiap dengan pukulan.

"Terima ini!" Teriak keduanya.

Buaghh

Keduanya terkena pukulan masing-masing lawan. Tepat mengenai pipi mereka dengan telak.

Keduanya terpental, jatuh. Tapi dengan sigap keduanya berputar di udara, berhasil berpijak meski mendarat sambil terhuyung. "Hahh... Hahh.. Hahh..." Napas Sasuke naik turun, begitupun dengan Naruto.

"Sepertinya, kita tidak bisa melanjutkanya teme. Jika kita melanjutkanya maka seluruh sekolah bisa hancur!" Canda Naruto sambil nyengir lebar.

"Hn! Tapi suatu saat nanti pasti kita akan bertarung lagi!" Balas pemuda emo itu sambil tersenyum kecil.

Naruto mengulurkan tinjunya, masih sambil tersenyum. "Kalau begitu, sampai saat itu tiba, kau harus bisa bertahan!"

"Hn, kau juga, dobe!" Keduanya mempertemukan kepalan tangannya, mengikrarkan janji rivalitas mereka.

.

.

.

.

Konoha Gakuen, 14.45 PM

"Bagaimana remidimu?" Tanya Sakura sesaat setelah Naruto keluar dari ruang kelasnya, membuat yang bersangkutan terlonjak kaget. "Huaa! Kau mengagetkanku Sakura-chan! Nilainya akan diberitahukan padaku besok." Jawab Naruto sambil mengelus-elus dadanya. Setelahnya terdengar helaan napas dari gadis itu. "Kalau begitu ayo kita pulang!"

"Hm"

Diperjalanan pulang mereka tak begitu banyak berbicara seperti biasanya.

"Hooaaamm... Ngantuk sekali..." Naruto menguap lebar sambil merentangkan kedua tanganya tinggi-tinggi keatas.

"Memangnya tadi malam kau tidur jam berapa baka?" Tanya Sakura, melempar pandangan penasaran pada pemuda beriris mata blue sapphire itu.

"Gara-gara belajar, aku akhirnya tidur pukul dua belas malam. Untunglah paman Teuchi mengijinkanku untuk tidak bekerja dulu hari ini, kalau iya bisa-bisa aku tidak bangun besok." Jawab Naruto, wajahnya terlihat suntuk. Mungkin karena kurang tidur, lalu ia harus kesekolah dan pulangnya malah harus mengerjakan remidi.

"Hihihi, itulah sebabnya kau harus rajin agar tidak selalu remidi!" Ejek gadis bersurai pink itu, membuat Naruto mendengus dan membuang muka.

"Terserah apa katamu, tapi bersiaplah untuk mentraktirku ramen saat kita kencan nanti, Sakura-chan." Pemuda pirang itu menyeringai.

"Percaya diri sekali kau! Memangnya kau yakin berhasil?" Tantang Sakura, masih belum menghilangkan ekspresi mengejeknya.

"Tentu saja!" Tangan kanan Naruto mengepal dan matanya seakan memunculkan api membara saking semangatnya. "Lihat saja nanti! Aku akan dapat nilai 100 dan mengajakmu kencan!"

"Hahaha, iya-iya aku percaya." Setelahnya hanya canda dan tawa yang terdengar dari keduanya. Saat ini mereka berjalan di jalan yang berbeda dari biasanya. Bila biasanya mereka memilih jalan lenggang, sore ini mereka memilih jalan yang lebih ramai. Untuk mencari suasana baru, begitulah alasan yang di ajukan Naruto saat mengajak Sakura tadi.

Dari arah berlawanan, dua orang yang tampak misterius berjalan-jalan di pusat keramaian saat ini. Satu orang laki-laki menggunakan perban untuk menutupi wajahnya sedangkan satu orang lainya entah laki-laki atau perempuan? Kalau dibilang laki-laki, ia terlalu cantik. Tapi kalau dibilang perempuan, kenapa ia menggunakan pakaian laki-laki?.

Mereka adalah Zabuza dan Haku. Anehnya, kenapa bisa dua orang pembunuh bayaran yang menjadi buron itu berkeliaran di pusat kota seperti saat ini? Apa tidak ada yang menyadarinya?

Jarak antara Naruto dan Sakura dengan mereka semakin dekat. Saat keduanya berpapasan, entah mengapa Naruto merasakan hawa aneh dari pria misterius itu. Sedangkan Zabuza sendiri pun sama. Ia menoleh dan akhirnya mata keduanya bertemu.

Degg

... Matanya... Seakan-akan menunjukan bahwa ia bukan orang biasa, Naruto yakin itu... Selain itu, auranya seakan penuh nafsu membunuh...

Waktu serasa berjalan begitu lambat sampai akhirnya Zabuza kembali memfokuskan pandanganya ke jalan, mengabaikan tatapan penasaran Naruto.

"Naruto?" Sakura melaimbaikan tanganya di depan wajah Naruto.

"E-eh? N-nani?" Tanya Naruto yang akhirnya kembali dari alam hayalnya.

Kening Sakura mengerut. "Ada apa?"

Naruto menggeleng sambil memasang cengiran walau terlihat kaku, dan Sakura menyadari hal itu. Ia menoleh ke belakang, melihat seorang dua orang yang begitu mencolok di bandingkan pejalan kaki lainnya.

Sementara itu, langkah kaki Zabuza terhenti, dan Haku yang tahu Zabuza tengah memikirkan sesuatu akhirnya ikut berhenti. Ia bertanya. "Ada apa, Zabuza?". Wajah Zabuza terlihat mengeras. Perlahan ia meraih pistol dari balik jaket yang dipakainya "Aku merasakan sesuatu yang aneh pada pemuda pirang tadi..."

Naruto yang sadar kalau dua orang tadi berhenti hanya bisa meneguk ludah. "Sakura-chan, lebih baik kita segera bergegas!" Bisik Naruto dengan panik, membuat gadis musim semi disampingnya semakin bingung.

'Apa karena dua orang barusan?' Batinya.

"Apa yang kau pikirkan Sakura-chan! Kita harus cepat!" Bisik pemuda yang paniknya semakin menjadi-jadi. Meski ia tahu cepat atau lambat ia pasti akan bertarung dengan salah seorang peserta game, tapi sebisa mungkin ia ingin menghindari pertarungan. Bukanya ia takut, hanya saja ia masih ragu untuk bertarung sampai membuat lawanya tewas.

Setetes keringat mengalir di pelipis Naruto. Matanya melirik dan bisa melihat Zabuza yang saat ini berbalik menghadapnya. "Hei, anak muda yang berambut kuning!" Serunya lantang membuat tubuh Naruto maupun Sakura seperti membeku di tempat.

Saat keduanya perlahan menoleh, mereka dikagetkan dengan Zabuza yang mengacungkan pistolnya. Orang-orang yang berlalu-lalang langsung berlari dengan panik saat mengetahui ada seorang yang membawa senjata api.

'Cih! Sepertinya sudah terlambat! Kalau begitu apa boleh buat!' Batin Naruto.

Doorrr

Craasshh

Naruto memiringkan kepalanyanya sedikit hingga peluru itu hanya melintas di samping kepalanya. Meski tembakan tadi gagal, tapi peluru itu berhasil menggores sedikit ujung rambutnya. Zabuza yang melihat hal itu kembali memasukan pistolnya.

"Jadi, sepertinya kau memang seorang player... Tidak ada manusia biasa yang bisa menghindari peluru dengan kecepatan tinggi"

"Player?" Tanya Naruto bingung.

"Player adalah orang yang ikut kompetisi yang dibuat Nagato. Apa dia tidak menjelaskan hal itu padamu?"

Untuk saat ini Naruto tidak terlalu menganggap penting ucapan Zabuza. Ia alihkan perhatianya kearah Sakura yang kini bergetar tubuhnya, ketakutan. Dengan sigap ia raih tangan gadis itu dan mengajaknya berlari.

"Kita harus pergi!" Naruto menyadarkan gadis itu dari ketakutanya. Akhirnya mereka berlari menjauh secepat yang mereka bisa.

"Kalian mencoba kabur, ya?" Zabuza merapal jurus dan mengeluarkanya. "Water Style : Water Dragon!" Setelah menyebutkan jurusnya, sebuah naga terbentuk dari air melesat kearah mereka.

Naruto menoleh kebelakang dan matanya membulat melihat naga air itu melesat kearah mereka dengan kecepatan tinggi.

"Apa itu!?" Teriak Sakura ketakutan.

"Sial! Pegangan yang erat Sakura-chan!" Dengan segera Naruto angkat tubuh Sakura bridal style dan melompat setinggi yang ia bisa untuk menghindari derasnya terjangan naga itu.

Blasshh

Naga air tadi menabrak sebuah mobil yang melintas dijalan, membuat mobil itu terpelanting dan seakan terseret ombak air yang dahsyat.

'Kekuatanya sangat hebat! Bisa gawat jika begini!' Batin Naruto.

Naruto mendarat dengan mulus ditanah dan menurunkan Sakura dari gendonganya serta kembali berlari. "Naruto! Apa pria itu juga seorang peserta game!?" Tanya Sakura sambil menoleh kebelakang dan melihat dua orang tadi berlari mengejar mereka.

"Ya! Dan kita harus segera pergi! Kalau tidak bisa berbahaya!" Naruto mengajak Sakura berbelok kedalam taman yang lumayan sepi, berharap Zabuza dan Haku kehilangan jejak mereka.

Tapi ternyata harapanya tidak terjadi. Zabuza dan Haku masih bisa mengejar dan tetap mengekori keduanya. Saat Naruto dan Sakura sudah dekat dengan sebuah kolam hias disana, Zabuza memanfaatkan hal itu untuk menghentikan pergerakan mereka. Ia merapal jurusnya. "Water Style : Water Prison"

Air dari kolam itu bergerak seperti sebuah ombak dan menerjang Naruto dan Sakura yang hanya bisa kaget serta terdiam.

'Kusso!' Sudah terlambat untuk menghindar! Naruto langsung mendorong tubuh Sakura menjauh dari jangkauan serangan itu sebelum ombak tadi berputar mengelillingi tubuhnya dan menjebaknya di dalam sebuah bola air besar.

"Naruto!" Sakura yang hendak menolong segera dihentikan pergerakanya oleh Haku yang dari belakang menempatkan sebuah pisau dileher Sakura agar gadis itu tidak bergerak.

"Sebaiknya kau tidak bergerak!" Ancamnya pada Sakura yang kini terpaksa diam ditempat. Tatapanya hanya tertuju pada Naruto sekarang.

"Akhirnya kau berhenti juga bocah... Kenapa kau lari? Apa kau terlalu takut menghadapiku?" Zabuza menghampiri Naruto yang terjebak didalam bola air dan sekarang kesulitan untuk bergerak maupun bernapas.

'Kusso! Tubuhku sulit untuk digerakan! Jika aku tidak segera keluar dari sini aku bisa kehabisan napas!' Batin Naruto. Matanya sekilas melirik Sakura yang kini ditawan oleh Haku.

"Jangan khawatir, kami tidak akan menyakiti pacarmu. Aku hanya ingin membunuhmu secepat mungkin!" Sebuah seringai samar-samar terlihat dibalik wajah yang tertutup perban itu.

"Tapi sebelumnya aku belum memperkenalkan diriku bukan?" Zabuza menjeda kalimatnya sebelum kemudian menambahkan.

"Namaku Momochi Zabuza, dan rekanku yang saat ini menawan pacarmu bernama Yuuki Haku. Kami berdua adalah pembunuh bayaran yang aktif di kota Kiri. Apa ada pertanyaan?" Imbuhnya sambil memasang senyum kemenangan.

Sedikit demi sedikit, Naruto mulai kehilangan napas. Posisinya saat ini benar-benar tidak menguntungkan. Bila ia mencoba meloloskan diri dari bola air ini, maka bisa saja Sakura dilukai. Tapi jika tidak cepat menemukan cara untuk keluar, ia bisa mati kehabisan napas.

Ia melirik kearah Sakura yang saat ini juga menatapnya dengan khawatir. Saat mata mereka bertemu, Naruto menatap dalam- dalam mata Sakura seakan mengisyaratkan sesuatu, dan Sakura sadar akan hal itu. Gadis musim semi itu melirik kebelakang, melihat kalau seseorang yang menawanya saat ini lebih fokus pada Naruto. Pandanganya kembali kearah Naruto, menunggu aba-aba.

'Sekarang!'

Tangan kanan Sakura mencengram tangan Haku yang menggenggam pisau. Sambil melakukan itu, tangan kirinya menyikut perut Haku yang kaget dan akhirnya melepas cengkramanya.

"Rasakan ini!" Tanpa basa-basi gadis itu menendang perut Haku dangan kuat, membuat Haku terpental ke belakang beberapa meter.

"Kau!" Pekik Haku pada Sakura yang kini memegang pisaunya. Dengan segera Sakura melempar pisau itu kearah Zabuza yang cukup kaget dengan aksi berani Sakura. Ia terpaksa menghindar dengan melompat kebelakang dan itu memberi Naruto celah untuk kaluar.

"Sekarang Naruto!" Teriak Sakura.

Blaarr

Dengan kekuatan anginya, Naruto memecah bola air itu dan melesat keluar. Ia menarik napas sedalam mungkin. Air menetes dari rambutnya yang basah. "Hahh... Hahh... Hahh.."

Zabuza yang melihat hal itu menggertakan giginya. "Kau benar-benar membuatku kesal bocah!" Satu tangan Zabuza terangkat keatas sambil merapal jurus.

"Water Dragon!"

Bwushh

Naga air seperti sebelumnya kembali menerjang kearah Naruto. "Sial!" Naruto segera melompat ke kanan, berhasil menghindari serangan pertama. Tapi rupanya belum berakhir. Naga itu berbelok arah dan mencoba menerjang Naruto lagi, kali ini dari samping.

"Hurricane Knuckle!"

Blasshh

Pukulan barusan berhasil mengenai naga itu, membuatnya kembali kebentuk air dan menyembur ke berbagai arah. "Naruto!" Sakura berlari mendekatinya.

"Kuakui kau cukup hebat, tapi kurasa cukup main-mainya..." Naruto dan Sakura menoleh. Mendadak kabut tebal langsung menyelimuti sekitar, mengaburkan pandangan Naruto maupun Sakura. "Hati-hati Sakura-chan! Tetap berdekatan!" Perintah Naruto.

Crassh

Eh?

Lengan kanan Naruto mendadak terasa perih. Pemuda itu menoleh dan meringis kesakitan kala melihat lengan kananya ternyata sudah tersayat benda tajam. Darahnya mengalir. Cepat-cepat ia menutup lenganya yang terluka dengan tangan kirinya, sebisa mungkin menutupi agar Sakura tidak tahu dirinya terluka.

"Kenapa denganmu Naruto?"

Naruto menggeleng. "Ie, aku tidak apa-apa. Tetap waspada!"

"Kau tidak bisa lagi kabur bocah! Aku akan menyayat tubuhmu sedikit demi sedikit!" Terdengar suara Zabuza yang menggema entah dari mana sumbernya.

"Gawat! Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu, Naruto?" Harap Sakura cemas. Benar kata Sakura. Jika ia tak melakukan sesuatu maka bisa gawat jadinya. Apa boleh buat, terpaksa Naruto mengeluarkan jurusnya meski bisa menguras tenaga.

"Aku akan coba menghilangkan kabut ini, tetap berada didekatku, Sakura-chan!" Sakura mengangguk.

Naruto memejamkan matanya, berkonsentrasi. Perlahan angin puyuh mengelilingi tubuhnya, semakin lama semakin kencang dan dahsyat putaranya.

"Wind Style: Lethal Vortex!" Teriak Naruto merentangkan kedua tanganya.

Wuusshh

Angin puyuh yang diciptakan Naruto melebar dan mengikis kabut disekitar mereka dengan cepat. Angin itu sangat dahsyat, membuat Sakura memeluk tubuh Naruto agar tidak diterbangkan.

"Mustahil! Sial!" Teriak Zabuza.

Crassh Crassh Crassh

Tubuhnya tersayat di berbagai tempat. "Zabuza, apa yang harus kita lakukan!?" Tanya Haku disampingnya.

"Kita mundur dulu!" Haku mengangguk dan keduanya berlari menyelamatkan diri.

Serangan Naruto perlahan melemah dan akhirnya berhenti. Kabut yang menutupi sekitar saat ini telah menghilang. Napas Naruto tersenggal-senggal. Ia melirik kesekitar, tapi tak melihat Zabuza dan Haku. 'Sepertinya mereka kabur'. Batinya.

Tapi... Kenapa Sakura masih belum melepas pelukanya? "Kau bisa melepas pelukanmu sekarang, Sakura-chan" Naruto tersenyum geli saat melihat Sakura yang masih memeluknya dengan erat dan membenamkan wajahnya di punggungnya.

"Eh?" Gadis itu mendongak dan dapat melihat wajah Naruto yang menyeringai. Saat tahu posisinya sekarang, cepat-cepat Sakura melepas pelukanya. Wajahnya merona tipis. Untuk mengalihkan perhatian Naruto, akhirnya ia bertanya.

"Apa dua orang tadi pergi?" Tanyanya. Naruto mengangguk. Ia kembali meringis sakit saat lukanya kembali terasa perih.

"Ada apa Na- astaga! Lenganmu terluka!" Seru Sakura panik.

"Ie, daijoubu Sakura-chan." Sakura tahu kalau Naruto hanya berbohong. Buktinya pemuda pirang itu masih meringis kesakitan.

"Jika lukamu tidak cepat ditangani bisa infeksi! Ayo ikut aku!"

"E-eh! Sakura-chan, tak perlu repot-re-

"Sudah, diam! Dirumahku ada kotak P3K, karena itu sekarang ikut aku kerumahku!" Tukas gadis itu masih bersikukuh. Naruto hanya bisa menghela napasnya pasrah. Sungguh, ia tak ingin merpotkan gadis itu.

.

.

.

.

Kediaman Haruno

Tokk Tokk Tokk

Beberapa kali Sakura mengetuk pintu rumahnya. Tak lama seseorang membuka pintu dan tersenyum melihat dua muda mudi itu. Ia adalah Haruno Mebuki, ibunya Sakura.

"Wah, sudah pulang ya, Saku-

Tak mempedulikan sapaan ibunya, Sakura dengan segera melenggang masuk sambil menyeret Naruto disampingnya. Sempat menoleh terlebih dahulu, Naruto menyapa Mebuki singkat.

"Selamat sore, bibi!" Baru hendak membungkukan badanya, ia sudah ditarik kembali.

"Cepat duduk disini!" Sakura mendudukan Naruto di sofa ruang tamu dan berlari kecil entah kemana. Di lain pihak, Mebuki yang merasa diacuhkan akhirnya menghampiri Naruto sambil memasang tampang kesal. Ia mendudukan dirinya di samping Naruto. Baru hendak membuka perbincangan, Sakura sudah kembali sambil membawa kotak P3K.

"Hm? Untuk apa kau membawa kotak P3K, Sakura?" Tanya Mebuki bingung. Mengacuhkan pertanyaan ibunya, ia segera menggulung lengan baju Naruto, menampakan luka sayatan yang cukup dalam itu.

"Ya ampun!" Mebuki memekik. Dengan cekatan Sakura meneteskan cairan antiseptik disebuah kapas dan membersihkan luka Naruto. Perih, Naruto dibuat meringis karenanya.

"Kenapa lenganmu bisa seperti ini, Naruto-kun?" Tanya Mebuki prihatin. Mendengar pertanyaan itu, dua remaja diruang tamu kediaman Haruno membulat matanya. Bagaimana mereka menjawabnya?

"E-etto... Tadi waktu pulang sekolah-

"-Saat akan menyebrang jalan kami berpapasan dengan seorang nenek-

"-Tapi mendadak dua orang perampok muncul dan ingin merampok si nenek, karena itu-

"-Aku menelpon polisi-

"-Tapi aku mencegah dua perampok tadi dan terpaksa berkelahi dengan mereka." Aduh... Jujur, Sakura ingin memukul kepala Naruto sekarang.

"Lalu kapan Naruto-kun mendapat luka itu?" Tanya Mebuki sambil memicingkan matanya, curiga dengan alasan kedua remaja didepanya.

"O-oh, kalau itu, aku tidak sengaja terkena cakaran kucing yang pergi bersama nenek tadi, jadi begitulah..." Naruto memasang senyum lima jarinya sebagai kedok.

Krik Krik Krik

Hening... Bisa kita dengar suara jangkrik entah darimana...

"Aku baru tahu cakaran kucing bisa separah itu."

"Ah! Ku-kucing itu sangat besar! Iyakan Naruto?"

"H-hm! Bahkan kami sempat mengiranya sebagai seekor harimau!" Sakura menepuk keningnya perlahan tanpa sadar. Alasan macam apa tadi? Mana mungkin ibunya percaya dengan alasan konyol dan membingungkan macam tadi?

Keduanya masih menunggu respon Mebuki dengan jantung berdegup kencang, tegang. Wajah wanita cantik itu menampakan ekspresi tak terbaca, sampai akhirnya...

"..."

"..."

"..."

"Waahh, kau memang hebat Naruto-kun! Hahaha, tak salah aku memilihmu sebagai calon menantu kesayanganku!" Mebuki merangkul kepala Naruto dan mengacak rambutnya dengan gemas. 'Hahh... mulai lagi' batin Sakura. Apa ibunya benar-benar serius mempercayai alasan konyol semacam tadi? Selain itu, mengapa ibunya begitu menyukai Naruto, sih?

Sahabatnya itu sering dipuji dan dielu-elukan sebagai 'calon menantu kesayangan' oleh kedua orang tuanya. Apa mungkin penyebabnya adalah berhubung keduanya sama-sama berambut pirang jadi mereka bisa akrab? Hm...Apa hubunganya?

Naruto tertawa kikuk sambil menggaruk tengkuknya setelah Mebuki melepas pelukanya. Segera Sakura menarik kembali lengan Naruto untuk di tangani karena sempat terhenti oleh hal konyol tadi.

"Sudah." Tukas Sakura pendek setelah membalut lengan Naruto dengan perban. Ngomong-ngomong, keahlian pengobatan Sakura didapat secara otodidak dari buku-buku medis yang ia baca. Menjadi dokter adalah cita-citanya sejak dulu. Selain itu ia juga mendapat ilmu yang cukup banyak dari ekstrakulikuler PMR, karena itulah mengangani luka seperti tadi bisa dibilang cukup mudah untuknya.

"Baiklah kalau begitu, aku rasa aku akan pamit sekarang." Ucap Naruto memanggul tas punggungnya. Tapi Mebuki buru-buru mencekalnya.

"Kenapa terburu-buru? Ini sudah jam makan malam. Lebih baik kau ikut makan malam bersama kami!" Tawar Mebuki. Naruto melirik kearah Sakura. Gadis itu tersenyum dan sepertinya juga mengharapkan hal yang sama seperti ibunya. Tapi ia sudah tak ingin merepotkan lagi, karena itulah-

"Aku tidak menerima penolakan!" Desis wanita bersurai pirang disampingnya dengan wajah horor, seketika membuat Naruto meneguk ludah dengan susah payah. Sepertinya ia tahu darimana sifat galak Sakura berasal.

Naruto akhirnya mengangguk dengan pasrah, membuat senyum muncul di wajah dua perempuan disana.

"Kalau begitu tunggu disini! Aku akan menyiapkan makanan dulu dan bila selesai akan kupanggil!" Mebuki melenggang pergi, menyisakan Naruto dan Sakura diampingnya. Naruto memilih tak banyak bicara. Ia sebenarnya selalu merasa tak pantas bila berada ditengah sebuah keluarga.

Ia ingat dikala kecil ia hanya bisa memandang keceriaan sebuah keluarga dari jauh, tak lebih... Ia selalu sedih bila melihat tatapan keluarga yang diamatinya. Entah mengapa mereka menatap dengan benci.

Padahal nyatanya ia tak berniat mengganggu dan hanya melihat sambil membayangkan bagaimana bila ia bisa merasakan kehangatan keluarga seperti mereka. Satu-satunya keluarga yang tak memandang benci padanya hanyalah keluarga Haruno.

Sakura dan kedua orang tuanya bisa membuat Naruto paling tidak merasakan sedikit kasih sayang sebuah keluarga, meski baru-baru ini ia merasakanya. Sejak memasuki bangku SMA lebih tepatnya. Terbilang cukup terlambat... tapi ia bersyukur. Paling tidak terlambat daripada tidak sama sekali.

"Naruto..." Suara Sakura menginterupsinya dari segala macam pikiranya saat ini. Ia menoleh dan mencoba tersenyum, tak mau terlihat aneh dihadapan gadis itu. "Ada apa, Sakura-chan?"

"Apa pria bernama Zabuza tadi adalah peserta pertama yang pernah kau temui?"

"Sebenarnya tidak juga. Aku lebih dulu bertemu seorang peserta selain Zabuza."

"Siapa?" Tanya Sakura penasaran.

"Sasuke." Jawab Naruto pendek.

"Sa-sasuke? Jadi dia juga..." Naruto mengangguk meyakinkan Sakura. Wajah Sakura sekarang menunduk, membuat Naruto menatapnya khawatir.

"Padahal Zabuza adalah orang pertama yang kau lawan... Tapi, kau sudah terluka seperti itu... Bagaimana jadinya jika kau sudah bertemu orang yang lebih kuat nanti? Apa kau bisa bertahan seperti janjimu?" Sakura mendongak menatap dalam mata Naruto. Matanya berkaca-kaca, siap meneteskan sesuatu dari sana.

Perlahan, isakan kecil keluar dari bibir Sakura. Hati Naruto serasa tersayat melihatnya. Ia dengan lembut merengkuh tubuh mungil Sakura. Mengelus rambut pink panjangnya, mencoba menenangkan gadis itu dari kekhawatiranya.

"Aku pasti akan menepati janjiku... Lagipula, jika nanti aku bertemu orang yang lebih kuat, aku juga pasti akan bertambah kuat saat itu... Selain itu juga ada kau disampingku. Aku tidak akan gentar dan menyerah selama kau berada disisiku, Sakura-chan..." Seulas senyum terpatri dengan indah di wajah Sakura.

Naruto memang selalu bisa menghibur hatinya dikala ia dirundung masalah. Ia balas pelukan Naruto dengan erat. Keduanya mempertahankan posisi itu sampai sebuah deheman mengganggu kegiatan mereka.

"Ehem! Apa sudah selesai mesra-mesraanya? Makan malamnya sudah siap lho!" Rupa-rupanya itu Mebuki. Ia menyeringai jahil melihat putrinya yang tengah berpelukan mesra dengan pemuda yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri.

"E-eh? Ibu/Bibi!" Keduanya segera melepas pelukan mereka dengan gelagapan. Rona merah menghisai pipi keduanya. Demi menutupi rona di wajah mereka, dengan cepat muda-mudi itu menunduk.

"Hihihi! Apa kalian akan terus menunduk malu seperti itu, atau makan sekarang? Hahh... Indahnya masa muda" Godanya sambil berkacak pinggang.

"Uuuhh, diamlah Ibuuu!" Teriak Sakura dengan wajah semerah udang rebus.

.

.

.

.

Kini di dalam sebuah apartemen kecil dan sederhana, nampak Zabuza duduk bersila di sebuah ranjang. Di sebelahnya, Haku tengah merawat luka-luka Zabuza.

"Aku... tidak ingin meremehkan bocah itu lagi..." Gumam Zabuza saat melihat keadaan tubuhnya yang dipenuhi luka sayatan karena jurus terakhir yang Naruto pakai.

"Lalu apa kau akan mencoba melawanya lagi?" Tanya Haku yang masih sibuk membalut tubuh Zabuza dengan perban.

"Tentu saja begitu."

Setelah semua luka Zabuza sudah ditangani, Haku berdiri dan beranjak ke pintu apartemen. "Kau mau kemana, Haku?"

Haku tersenyum. "Jangan khawatir, aku hanya akan keluar sebentar untuk membeli persediaan makanan." Seiring kalimat Haku barusan, ia beranjak membuka pintu dan pergi untuk membeli makanan... Entah dimana.

.

.

.

.

Naruto memutuskan untuk keluar ke minimarket terdekat saat ini. Berhubung persediaan makanan sudah kosong di kulkas, jadilah ia akhirnya keluar dan berjalan paling tidak 100 meteran dari apartemenya ke minimarket itu. Sesampainya disana, ia langsung menuju ke bagian bahan makanan. Ia mengambil beberapa ramen instan, beberapa botol air mineral, dan sebuah soft drink berperisa jeruk.

Baru hendak berjalan ke kasir, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang berjalan di depanya.

"Eh! Sumimasen!" Ucapnya dengan segera. Seseorang yang ditabraknya berbalik dan memasang senyum sebelum pandanganya berubah kaget, begitupun Naruto.

"Kau!" Ucap keduanya bersamaan.

Wajah Naruto mengeras. Ia menatap dengan tak suka pada seseorang yang ternyata Haku. Baru hendak menerobos pergi, Haku menghentikan langkahnya.

"Hei, tunggu! Ada yang ingin kubicarakan." Ucapnya sambil menahan bahu Naruto agar tak segera beranjak pergi.

"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Tanya Naruto dingin.

"Aku tahu kau mungkin marah. Tapi hal yang ingin kubicarakan bukan berhubungan dengan kejadian tadi."

"Apa kau bisa kupercaya?" Pemuda pirang itu melempar tatapan sinis pada Haku.

"Hanya sekali ini saja, kumohon."

.

.

.

.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Naruto. Ia membuka soft drink yang tadi di belinya dan meneguk isinya hingga menyisakan setengah penuh. Naruto dan Haku kini duduk disebuah bangku diluar minimarket.

"Maaf soal yang tadi. Andai saja kita tak bertemu, mungkin ini tak pernah terjadi."

"Padahal aku tak pernah mencoba untuk membunuh Zabuza... Tadi aku menghindar darinya hanya karena aku tak ingin bertarung..."

Haku menaikan alisnya. "Apa maksudmu tak ingin bertarung? Apa kau tidak berniat untuk menang?"

"Meski aku tahu aku bisa minta apa saja bila menang, tapi tujuanku mengikuti game ini bukanlah untuk itu."

"Lalu untuk apa?" Haku membuka sebuah bungkusan kue dan memakanya dengan tenang.

"Untuk melindungi orang lain." Jawab Naruto acuh. Mata tajam Haku melirik kearah Naruto yang kini menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia menatap pemuda di sebelahnya dengan raut wajah yang... entahlah... Tidak terbaca.

"Kau... Sedikit banyak tujuan kita sama."

"Haa?" Naruto menoleh dan melihat Haku yang tersenyum manis. Membuatnya sedikit terpesona.

"Aku juga punya satu tujuan terpenting dihidupku... yaitu melindungi Zabuza."

Giliran Naruto yang menatap bingung kearah Haku. Rupanya pembunuh bayaran seperti mereka masih punya seseorang yang ingin dilindungi?

"Selama ini hidupku sangat sulit. Sejak kecil orang tuaku meninggal dan aku hidup dijalanan. Aku bertemu Zabuza dan dia membawaku bersamanya... menjagaku..."

Tak berniat menginterupsi, Naruto memilih hanya mendengarkan.

"Dan sejak saat itu, aku hanya berniat melindungi Zabuza. Aku tidak peduli meski ia menganggapku sebagai alat. Asalkan ia tetap hidup, selama itulah aku akan senang."

Naruto menatap Haku dengan prihatin. Kedua tanganya bertautan. Mencoba menjaga kehangatan di tengah udara malam yang dingin. Cerita Haku tak berbeda dengan masa lalu Naruto. "Kurasa aku cukup mengerti keinginanmu untuk melindungi orang yang berharga bagimu. Akupun juga sama sepertimu dulunya. Selalu hidup sendiri dan seakan-akan tidak pernah dianggap siapapun."

"Souka..." Senyum simpul timbul dibibir Haku. "Ketika seseorang mempunyai orang yang ingin dilindungi, saat itulah orang itu akan bertambah kuat."

Naruto tertegun, lalu cengiran khasnya muncul, membuat Haku juga tersenyum semakin lebar. "Lalu, ngomong-ngomong siapa orang yang penting bagimu itu?"

"E-eh?" Naruto gelagapan dengan pipi yang mulai memerah. "I-itu-"

"Ah, pasti gadis pink itukan?"

Blush

Tepat sasaran. Tingkah Naruto makin aneh karena panik, dan itu terlihat lucu dimata Haku. Pemuda cantik itu tertawa kecil. "Ne, Naruto, mulai sekarang kita harus semakin kuat agar bisa melindungi mereka."

"Kalau itu aku juga tahu! Hehe!"

Haku tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya, membuat Naruto menaikan alis. "Terima kasih karena sudah mau kuajak bicara. Kuharap bila kita bertemu lagi, kau sudah tidak memendam kebencian padaku ataupun Zabuza."

Naruto membalas dengan cengiran. "Soal itu, kurasa bisa kulakukan asal kalian tidak mencoba membunuhku lagi." Guraunya.

"Akan kucoba membujuk Zabuza untuk pergi dari Konoha secepatnya." Lagi-lagi Haku tersenyum manis, membuat Naruto malah semakin terpana. Meski Naruto sudah mencintai gadis lain, tapi hal wajar bagi seorang laki-laki tulen sepertinya terpesona bila melihat hal seperti tadi bukan?

"Oh iya, ada satu hal lagi yang perlu kau ketahui." Imbuh Haku.

"Eh? Apa itu?"

"Kuharap kau tidak memandangku seperti tadi lagi karena aku ini seorang..." Jadi Haku tahu Naruto memandangnya dengan tatapan terpana?

Glekk

Kira-kira apa yang akan diucapkan Haku?

"..."

"... Laki-laki..."

"..."

"..."

"Baiklah kurasa aku harus kembali sekarang, sampai jumpa, Naruto." Haku lalu melenggang pergi, meninggalkan Naruto terdiam di tempat sambil menganga.

'Laki-laki? Eeeekkkkk! Yang benar saja! Bisa-bisanya aku hampir terpesona tadi!' Naruto menampar pipinya beberapa kali, mencoba menghilangkan bayang-bayang senyum manis Haku yang ternyata seorang...

'Aaaaaa!' Naruto berteriak dalam hati. Jujur, ia menganggap bahwa Haku mempunyai wajah secantik Sakura. Tapi... Argh sudahlah!

Pemuda itu pada akhirnya beranjak pulang ke apartemenya sambil mengacak rambut pirangnya dengan kesal.

.

.

End of Chapter 5

.

.

A/N : Hehe... Chapter 5 udah update nih! Pasti pada nunggu-nunggu semua kan?*Plakk (Readers : Dasar author kelewat pede!) Sorry bila arah ceritanya malah semakin membingungkan dan battle scene-nya kurang seru... T_T. Maklumlah, ide sedikit demi sedikit terkikis karena saya memfokuskan diri ke UN. Tapi, karena UN sudah selesai maka saya bisa mengembalikan ide-ide yang hilang! Yeey^^

Oh iya jurus-jurus yang ada di fic ini asli, murni, tanpa rekayasa(?) Ciptaan saya sendiri, karena itulah jangan kaget bila nama jurusnya aneh dan norak banget. Akhir kata... Review?