Kakashi tersenyum kecil membaca pesan dari Sakura. 'Besok hari Ulang Tahunmu'kan? Bisa tolong bantu aku membuat Tart hari ini?' Kakashi memakai tas punggungnya lalu berjalan melewati Obito yang duduk di kursi di samping kirinya yang sedang bergurau dengan Rin, kakasih Obito. Mereka saat ini sedang ada di Cafe.

Obito yang sedang merayu Rin dengan gombalan menoleh melihat Kakashi. "Mau ke mana?" Tanya Uchiha pecinta ramen itu penasaran, karena ini kali pertama ia melihat kakashi tersenyum pada ponselnya sendiri. Rin juga ikut menoleh melihat Kakashi.

Kakashi tersenyum. "Aku pulang duluan. Byee..." kemudian berlalu begitu saja meninggalkan dua sahabatnya yang menatapnya dengan tatapan 'aneh.'

Sembari berjalan melewati pintu kaca cafe Kakashi mengetik pesan balasan untuk Sakura. 'Kau pemberi kejutan yang sangat payah Sakura.' Dalam beberapa kali sentuhan pada ponselnya ia berhasil mengirim pesan balasan untuk Sakura. Ia menggeleng pelan sembari terkekeh.

Di dalam cafe Rin dan Obito masih memperhatikannya, tapi siapa peduli.

'Benarkah?'

Kakashi kembali mengetik pesan balasan untuk Sakura. Saat ini Kakashi berdiri di Halte yang tidak berada jauh dari cafe, menunggu bis yang biasa ditumpanginya. 'Ya.'

'Menurutmu, seharusnya aku harus bagaimana?'

Kakashi masuk ke dalam bisnya tanpa kesulitan. Ia berdiri berdesakan sembari memegang pegangan bis di atas kepalanya, satu tangannya sibuk mengetik pesan balasan untuk Sakura. Kakashi tersenyum. 'Seharusnya kau tidak meminta tolong membuat tartnya padaku, Nona.'

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sakura memasukkan satu tangannya ke dalam mangkuk penuh tepung kemudian menempelkannya pada pipi Kakashi yang duduk bersebelahan dengannya. Sakura tertawa melihat wajah Kakashi belotan tepung. Maid yang membantu Kakashi dan Sakura membuat tart ikut tersenyum.

Kakashi mengusap pipi kirinya. "Hei. Kau!" Kakashi melotot tidak terima, pria tampan itu memasang wajah pura-pura marah. "Kali ini aku tidak akan mengalah," Kakashi bersiap menangkap Sakura.

Sakura menjerit dan berusaha keras menghindari Kakashi. Gadis itu baru akan memencet tombol otomatis kursi rodanya untuk melarikan diri tapi Kakashi lebih dulu menangkapnya dengan semangkuk coklat cair di tangan.

"Kakashi hentikan!" Teriaknya sambil tertawa.

Kakashi memoles kedua pipi Sakura dengan coklat cair sambil tertawa. Sakura mengusap kedua pipinya yang belepotan coklat lalu menempelkan tangannya yang kotor ke wajah Kakashi membuat wajah lelaki itu penuh tepung dan coklat. Dia tertawa melihat wajah Kakashi. "Jangan tertawa. Kau jauh lebih kacau tau," kata Kakashi menahan tawa.

Dapur sangat kacau dan berantakan. Tumpahan tepung, coklat, mentega dan bahan kue lainnya ada di mana-man. Di depan oven Kakashi berdiri sedang memasukkan adonan tart, Sakura dan kursi rodanya berada di samping tubuh pria itu. Mereka mengobrol dengan wajah penuh tepung dan coķlat sembari menunggu oven berbunyi.

Sakura sesekali tertawa mendengar guraun Kakashi yang sebenarnya tidak lucu. Kakashi masih berbicara ketika Sakura tiba-tiba berhenti tertawa. Gadis berambut merah muda itu mencengkram kuat pegangan kursi rodanya, dengan cepat wajahnya memucat. Dadanya terasa sakit dan sesak.

"Kau baik-baik saja?" Kakashi menatap khawatir sahabat merah mudanya.

Sakura tersenyum paksa. "Hm. Aku baik-baik saja."

Satu tangan Kakashi membelai sisi wajah Sakura. "Kau pucat Sakura ... kau terlihat tidak baik-baik saja."

"Aku baik-baik saja." Tangan Sakura menggenggam tangan Kakashi yang membelai pipinya.

"Sudah minum obat." Sakura mengangguk. Kakashi tersenyum melihatnya.

"Kakashi,"

"Ya."

"Mau temani aku ke taman komplek?" Kakashi masih menatapnya. Genggaman Sakura mengerat. "Aku ingin ke sana."

Kakashi berdiri kemudian memutari kursi roda Sakura. Dengan cepat namun tetap hati-hati didorongnya kursi roda Sakura. "Ayo kita pergi," ucapnya sembari mendorong kursi roda Sakura.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mereka duduk di bawah pohon yang sama di bukit taman komplek. Kepala Sakura bersandar di bahu lebar Kakashi menatap sayu padang rumput di depanya. Kedua mata gadis itu terpejam menikmati hembusan angin sore yang membelai kedua sisi wajahnya.

Kakashi tersenyum melihat Sakura. Di peluknya bahu Sakura kemudian mengelus lembut bahu gadis itu. Perlahan kedua mata Kakashi terpejam menikmati semilir angin sore, hangat tubuh Sakura dalam dekapannya dan debaran menggelitik perutnya.

Setiap narik napas Sakura berusaha keras menahan erangan sakit dari mulutnya. Napasnya berat, sangat berat. Rasanya sangat sulit sekali untuk mengambil udara mengisi paru-parunya. Kedua matanya terpejam erat menahan rasa sakit itu. Dan saat ia ingin membuka mata matanya terasa berat, "Kakashi ..." panggilnya dengan napas berat dan memburu.

Kakashi menoleh menatap khawatir Sakura yang semakin pucat. Satu tangannya menggenggam tangan lemas Sakura. Dingin. Dengan cepat dilepasnya jaket hoodie miliknya dan memakaikannya pada tubuh Sakura. "Sakura, kau baik-baik saja?" Tanyanya dengan khawatir.

Sakura mengangguk lemah, ditatapnya Kakashi sayu sembari tersenyum. "Aku hanya belum minum obat sore ini..." suaranya berat dan lirih membuat Kakashi semakin khawatir.

Dengan hati-hati Kakashi menggendong Sakura di belakang. "Tetap terjaga. Jangan tutup matamu," dia berlari cepat menuruni bukit dengan Sakura di gendongannya. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang melihat keadaan Sakura yang semakin melemah. Cengkraman tangan Sakura di bahu Kakashi mengerat dan napasnya semakin berat. Kakashi semakin cepat berlari.

.

.

.

.

Kakashi membaringkan Sakura hati-hati di atas tempat tidur. Pria itu mengambil obat-obatan Sakura dan mengambil air putih yang di nampan yang bawa maid. "Buka mulutmu Sakura..." pintanya.

Mebuki duduk di bibir kiri ranjang sembari mengusap rambut putrinya, "buka mulut sayang, minum obatnya." Ia berucap lirih. Melihat Sakura kesulitan meminun obat Mebuki meneteskan air mata. Dia takut. Sangat takut. Takut dengan kenyataan terburuk dalam hidupnya. Takut menerima kenyataan putrinya sekarat. Mebuki mengusap pipinya, "aku akan menelpon dokter. Kakashi tolong jaga Sakura..." Mebuki berjalan cepat keluar kamar sembari menangis.

Sakura yang berbaring lemah di atas tempat tidur menangis melihat ibunya menangis. Sungguh dia tidak ingin menyusahkan seperti ini, dia tidak ingin membuat orang-orang yang disayangi sedih. "A-khu... b-aik saj-a..."

"Sakura," Gadis berambut merah muda itu menggeleng lemah. Kakashi memejamkan mata dan memijat pelipisnya. Perlahan, setetes air mata menitik di pipinya. Mebuki sudah menceritakan semuanya, tentang Sakura yang sekarat dan membutuhkan pendonor. Memasukkan dua butir obat dalam mulutnya kemudian meminum air putih Kakashi mendekatkan wajahnya dengan wajah Sakura, kedua talapak tangannya berada di sisi kiri-kanan wajah Sakura menahan agar gadis itu tidak bergerak kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir Sakura. Dia terus melakukan itu sampai Sakura meminum semua obatnya, tak jarang Sakura tersedak dan memuntahkan kembali obat dalam mulutnya, dengan sabar Kakashi akan mengambil obat baru dan memasukkan obat itu dalam mulutnya kemudian menyatukan bibir mereka.

Kakashi menjauhkan wajahnya tanpa melepas tatapan mata dari wajah pucat Sakura, dan saat Sakura menariknya mendekat dia menurut. Ketika Sakura mencium bibirnya tanpa kata, hanya kecupan sekilas, Kakashi kembali mendekatkan wajahnya dan melumat lembut dan hati-hati bibir Sakura sampai pengaruh obat membuat gadis berambut merah muda itu memejamkan mata.

Mebuki kembali dengan seorang dokter cantik berambut pirang dan dua orang perawat. Kakashi menggeser tubuhnya saat dokter Tsunade dan dua perawatnya akan memeriksa keadaan Sakura. Salah seorang perawat memasang inpus di tangan Sakura seorang lainnya memasang masker oksigen. Sementara Tsunade memasang alat yang di bawa perawat laki-laki, entah alat apa, di dada Sakura, mereka melakukannya dengan cepat.

Tsunade selesai memeriksa Sakura dan memasang alat bantu di tubuh gadis itu. "Keadaannya semakin memburuk. Kita harus melakukan operasi, secepatnya."

Mebuki duduk di sisi ranjang Sakura sembari menatap sedih putrinya. "Dia bilang, dia tidak bisa. Sakura menolak melakukan operasi..." ucapnya lirih sembari menitikkan air mata. Tsunade menatap Mebuki prihatin, wanita pirang itu menghela napas berat.

"Dokter. Aku ingin bicara, bisa kita keluar sebentar." Pinta Kakashi. Tsunade mengangguk dan berjalan mengekor di belakang Kakashi mengikuti pria itu.

Sakura yang baru sadarkan diri menatap sedih ibunya yang menangis memeluk tangannya yang diinfus. Gadis itu tersenyum dalam tangisnya melihat sang ibu memeluk dan mencium telapak tangannya yang diinpus, Mebuki belum menyadari Sakura sudah siuman.

"Kau serius?"

"Aku tidak suka main-main."

Sakura diam menerka-nerka suara siapa di luar sana. Gadis itu memejamkan mata ketika ibunya mendongak menatapnya dan membelai sisi wajahnya. Tangan itu bergetar dan dingin saat menyentuh kulit pipinya yang basah. Menikmati belaian di pipinya Sakura mendengarkan dengan seksama pembicaraan dokter Tsunade dan Kakashi di luar.

"Ini bukan hal sepele. Ini dilakukan tidak sembarang, harus melalui prosese pemeriksaan panjang, memastikan cocok atau tidaknya. Dan selain itu kau tahu..."

"Hn. Aku tahu. Aku sudah memikirkan semua resikonya. Keinginanku sudah bulat."

Entah apa lagi yang mereka bicarakan di luar sana Sakura tidak mendengarnya dengan jelas, sepertinya Kakashi dan Tsunade memelankan suara mereka.

Kriet.

Kakashi membuka pintu kamar Sakura pelan dan berjalan tenang mendekati tempat tidur. Ditatapnya Sakura yang belum sadarkan diri dengan senyuman kecil. "Bibi Mebuki. Aku pamit pulang, sudah malam Ayah dan Ibu pasti mencariku. Titipkan salamku pada Sakura kalau dia sudah siuman." Kakashi sedikit membungkuk sopan pada Mebuki.

Mebuki tersenyum. "Terima kasih Kakashi. Hati-hati di jalan."

Sebelum berbalik pergi Kakashi tersenyum sopan pada Mebuki dan menatap Sakura sesaat.

Tuhan... aku tidak ingin menyusahkan lagi lebih dari ini. Sudah cukup mereka berkorban banyak untukku, sudah cukup mereka menangis untukku, sudah cukup aku membuat mereka sedih karena diriku.

Aku tidak ingin pergi jauh dari orang-orang yang kusayangi. Aku tidak ingin pergi... tapi aku tidak ingin melihat mereka sedih lebih dari ini. Aku tahu, mereka tertekan karena diriku. Aku tahu, mereka telah berkorban banyak untukku. Kumohon... jangan biarkan salah satu dari meraka berkorban lagi untukku.

Bila kau lebih menyayangiku... bawa aku bersamamu. Aku akan rela meninggalkan mereka sekalipun aku tidak ingin. Setidaknya di sana, aku punya Ayah. Aku yakin Ayah akan melindungi dan menyayangiku sama seperti Ibu.

Kumohon... biarkan mereka bahagia tanpa diriku. Aku tidak sanggup melihat mereka menangis lagi karena aku.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kakashi pergi ke rumah sakit pusat Konoha menemui dokter kenalan Tsunade. Pria berambut perak itu berdiri di depan sebuah ruangan dengan seorang pria berambut hitam panjang yang mengenakan jubah dokter. "Kau bisa kembali besok pagi untuk menjalani pemeriksaan. Kalau hasilnya cocok kita bisa melakukan operasi secepatnya, paling cepat satu hari setelahnya."

Mereka saling berjabat tangan. "Terima kasih dokter." Kakashi tersenyum tipis. Dokter berambut hitam itu membalas Kakashi dengan senyuman. Setelah sedikit berbasa-basi Kakashi pamit pergi, pria tampan berambut perak itu menunduk sopan sebelum meninggalkan dokter bermata setajam kucing itu. Dokter Orochimaru namanya, dokter berkulit sepucat mayat dan memiliki mata tajam seperti kucing. Dokter seangkatan dengan Tsunade itu berdiri di depan pintu ruangannya menatap punggung Kakashi yang semakin menjauh. Tidak bisa dipercaya ada manusia yang mau mati demi temannya. Orochimaru menggeleng kepala dengan pikiran gila Kakashi kemudian membuka pintu ruangannya. Ia harus membereskan semua barangnya dan cepat pulang karena sudah lewat jam pulang, Anko pasti sudah menunggunya di rumah. Wanita berambut gelap itu pasti akan mengomelinya nanti.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kakashi berbaring di atas tempat tidur. Pria berambut perak itu mengenakan celana bahan selutut dan t-shirt tanpa lengan pas badan. Ia menghela napas, entah untuk yang keberapa kalinya. Ia memutuskan untuk melakukannya, tapi bagaimana dengan kedua orang tuanya? Ia bahkan belum minta izin pada keduanya. Kakashi kembali menghela napas. Besok sebelum pergi ke rumah sakit ia akan bicara pada kedua orang tuanya, apapun yang akan terjadi keputusannya sudah bulat. Tidak peduli sekalipun kedua orang tuanya melarang Kakashi akan tetap melakukannya, mendonorkan jantungnya pada Sakura yang artinya, ia memberikan nyawanya pada gadis itu.

...

Drtt... drrt... drrt...

Malas-malasan Kakashi mengambil ponselnya di nakas. "Halo?" Gumamnya setengah sadar. Kedua mata Kakashi terbuka lebar mendengar kabar dari seseorang yang menelpon. "Kenapa bisa seperti itu? Sejak kapan? Kenapa Bibi Mebuki baru menghubungiku sekarang. Hn. Aku akan segera ke sana." Kakashi melompat dari tempat tidur kemudian berlari mendekati pintu dan mengambil jaket hoodie yang tergantung di belakang pintu. Ia berjalan cepat keluar kamar menuju nakas ruang tamu mengambil kunci motor di laci dan langsung berlari ke garasi.

Awan gelap menemani perjalanan Kakashi. Berita buruk yang diterimanya membuatnya terkejut. Baru beberapa jam lalu dia bersama Sakura, menemani gadis itu bahkan mereka sempat berciuman. Motor Kakashi melaju kencang membelah jalanan malam Konoha, di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit mulutnya tidak henti berdoa. Berharap semua baik-baik saja pada akhirnya.

Mebuki dan beberapa keluarganya sudah menunggu di depan ruang ICU saat Kakashi sampai rumah sakit. Kondisi Sakura belum menunjukkan perubahan yang lebih baik. Dokter mengatakan tidak ada jalan lagi selain berdoa. Mebuki terisak dalam dekapan sepupunya, Mito Uzumaki. Mito mencoba menenangkan Mebuki, membuatnya tegar walau kesedihan terlihat jelas di wajahnya.

Kakashi terduduk lemas saat semua orang menghampiri dokter ditemani suster keluar dari ruangan. Wajahnya pucat dan basah, dia menangis. Kakashi mengusap permukaan wajahnya frutasi, sesekali terdengar isakan dari bibirnya yang terkunci rapat. Jantungnya berdetak, memacu adrenalin hingga terasa sesak melihat reaksi orang-orang. Mebuki tiba-tiba menangis histeris dan tak sadarkan diri, Hashirama dan Mito membawanya ke kamar inap terdekat.

Jemari Kakashi dingin, seolah tidak ada darah mengalir di dalamnya saat mendengar pernyataan dokter Tsunade dan suster yang mendampinginya.

"Maaf. Kami sudah berusaha semampu yang kami bisa. Ini di luar kehendak kami."

.

.

.

.

.

.

Awan gelap menemani hujan sejak pagi tadi. Petir dan angin menjadi satu menciptakan badai yang terlihat mengerikan. Satu hari setelah kepergian Haruno Sakura langit menjadi gelap, rintik hujan tak kunjung berhenti, kilatan petir menjadi cahaya mengerikan di gumpalan awan gelap. Angin berhembus kencang menerpa kusen jendela membuatnya berderit menimbulkan suara khas. Kakashi berdiri di depan jendela kamarnya menatap rintikan air hujan yang menghiasi kaca.

Tok. Tok. Tok.

Kriet.

"Kakashi, ada paket untukmu." Seorang wanita berambut gelap berdiri di tengah pintu. Wanita itu membawa kotak panjang dibungkus kertas kado dengan motif lucu.

Kakashi mengambil kotak itu, "dari siapa."

"Kau akan tahu kalau sudah membukanya." Wanita yang tak lain ibu Kakashi itu tersenyum sendu. Diusapnya kepala Kakashi sebelum ia pergi keluar kamar. Sejenak Kakashi menatap kotak itu kemudian berjalan mendekati tempat tidur. Diletakkannya kotak panjang dan lebar itu di atas tempat tidur kemudian dibukanya dengan hati-hati. Wajah datar Kakashi menyendu melihat benda dalam kotak itu dan sebuah note. Perlahan, setetes air mata menitik di pipinya.

Dia usap leher bass berukir namanya dengan tulisan latin tersebut kemudian dipeluknya erat.

Seandainya Sakura bisa menunggu satu hari saja pasti gadis itu masih ada. Kakashi terisak memeluk hadiah terakhir Sakura untuknya.

Otanjoubie Omedetou Kakashi-kun

:)

.

.

.

Ending.

JunShiKyu, Edelweise, Zethsuo Rakku, zeedezly calucindtha, Rieki Kikkawa.

Thanks for Review ... :)