Balasan Review: Galura no Baka Lucky22(Thanks, ini dah lnjut). KenSherlocken(Ini dah lanjut). HyperBlack Hole, lutfisyahrizal, Ae Hatake, Guest(Ini udah lnjut). Ren(Thanks! Saya akan brusaha lbh baik lagi). Me is Guest(Ini dah lnjut)
.
.
.
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto.
Warning : Typo, OOC, AU, abal, gaje dan lain2.
Pair : NaruSaku, don't like, just go back
Genre : Supranatural, Romance yg gak krasa, friendship dan lain2
Summary : Apa yang kau lakukan bila mendapat kekuatan untuk bertarung dengan taruhan nyawa demi mendapat sebuah Harapan Mutlak? Apa kau akan lari dari kenyataan? Atau bertarung demi harapan yang kau percaya?
Yosh, Happy Reading^^
.
.
.
Chapter 6 : How If I Fail?
.
.
.
Cklekk
Dengan sebuah suara khas pintu dibuka, Naruto melangkah masuk kedalam apartemenya. Apartemen sederhana dengan sebuah ruang tamu yang di sebelahnya langsung tersambung dengan dapur. Ia melangkahkan kakinya memasuki ruang di sisi lain, kamar tidunya yang bisa dibilang kecil. Didalamnya juga terdapat kamar mandi. Tak lupa terlebih dahulu memasukan barang yang dibelinya kedalam kulkas satu pintu di ujung ruangan.
Berhubung ia sudah makan di rumah Sakura sore tadi, ia tidak perlu repot-repot memasak dan akhirnya bisa bersantai sekarang. Ia mendudukan dirinya di balkon apartemenya. Duduk bersila mencoba bersantai sambil melihat pemandangan cantik yang disajikan langit malam.
Ribuan bahkan jutaan pendar cahaya bintang diangkasa seakan bisa mengurangi bebanya saat ini. Sebuah senyum terulas dibibirnya.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Uwaa!" Pekik Naruto kaget hingga jatuh dari duduknya.
"Hoi! Berhentilah muncul secara tiba-tiba seperti hantu! Lama-lama kau bisa membuatku terkena serangan jantung!" Teriak Naruto pada sesosok Nagato yang tiba-tiba berdiri disebelahnya. Pria berambut merah itu juga tengah memfokuskan pandanganya pada langit malam, seakan tak peduli pada bentakan Naruto barusan.
"Maaf." Singkat, padat, dan hemat. Hanya satu kata yang terdiri dari empat huruf itulah yang diucapkanya sebagai balasan setelah Naruto uring-uringan tak jelas tadi.
"Huh, lalu apa maumu kemari?" Tanya Naruto yang masih belum hilang rasa kesalnya.
Tanpa menoleh, Nagato menjawab pertanyaan yang menurutnya aneh itu. "Aku hanya sekedar berkunjung."
"Apa maksudmu dengan sekedar berkunjung? Kau ini benar-benar pria teraneh yang pernah kutemui"
"Terima kasih pujianya."
"Hoi! Itu bukan pujian!" Teriak Naruto lantang, tak peduli bila ada tetangganya yang terganggu karenanya.
Sebuah tawa kecil keluar dari mulut Nagato, membuat Naruto terkejut. Jarang-jarang pria itu tertawa seperti tadi bukan?
Suasana agaknya sudah mulai mencair dan Naruto sudah tak sekesal tadi. Ia tersenyum saat Nagato mendudukan dirinya di sebelahnya. Keduanya lantas kembali memperhatikan indahnya langit malam. Angin berhembus membuat rambut keduanya bergoyang karena tertiup.
"Memandangi bintang di langit malam memang kegiatan yang menyenangkan." Ucap Nagato.
"Kurasa juga begitu." Balas Naruto.
"Apa kau sudah bertemu salah seorang player, Naruto?"
"Sudah, aku sudah bertemu dua orang. Yang satunya adalah sahabat yang sekaligus kuanggap rival dalam segala hal. Dan yang satunya lagi mengaku sebagai pembunuh bayaran terkenal di kota Kiri."
Nagato menoleh kearah pemuda diampingnya. "Lalu apa kau sudah bertarung dengan mereka?" Anggukanlah yang Nagato lihat sebagai jawaban.
"Aku sedikit bingung."
"Soal apa." Nagato semakin memperhatikan pemuda pirang bermarga Uzumaki itu.
"Sebenarnya apa tujuanmu menciptakan game ini?"
"..."
"Kalau kau memang tidak bisa menjawabnya, paling tidak kau bisa menjelaskan tentang alasanmu memilih orang-orang yang, err...bagaimana mengatakanya ya?" Tangan Naruto menggaruk kepalanya, bingung dengan kata-kata yang tepat yang harus ia gunakan untuk menggambarkan para player.
"Orang-orang yang aneh?" Tanya Nagato memastikan.
"Yaa... Seperti itulah..."
Senyum mengembang di wajah Nagato. "Alasanya sederhana. Aku memilih mereka karena mereka punya tujuan yang jelas dan nyata."
"Haa? Tujuan jelas dan nyata? Lalu kenapa kau memilihku padahal aku sendiri tidak tahu apa tujuanku yang sebenarnya?"
"Apa benar kau tidak tahu tujuanmu?" Senyum aneh menghiasi wajah Nagato. Kini pria itu berdiri dari tempat duduknya.
"Tujuanku yang sebenarnya..."
"Kau mungkin belum menyadarinya, tapi cepat atau lambat kau akan mempunyai alasan dan tujuan mengikuti game ini." Ujar pria berambut merah itu. Naruto menoleh. Ia tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, aku pergi dulu! Kapan-kapan kita bisa bicara lagi." Nagato menghilang dengan efek butiran cahaya yang menurut Naruto terasa berlebihan itu.
.
.
.
.
Keesokan Harinya
Tatapan bosan Sakura kini hanya tertuju ke Naruto yang berjalan di sampingnya sambil bergumam gembira. Ia tak menyangka jika Naruto berhasil mendapat nilai seratus dalam remidinya. Pantas saja sejak disekolah tadi ia bersikap aneh...
Dan sesuai dengan janjinya tempo hari, akhirnya disinilah Sakura sekarang. Berjalan atau lebih tepatnya 'kencan' dengan pemuda pirang sahabatnya. Meski ia terlihat ogah-ogahan, tapi jujur, ia senang Naruto berhasil dalam remidinya dan akhirnya bisa kencan dengan pemuda itu.
"Hei, aku tadi belum mengucapkan selamat padamu, kan?" Tanya Sakura pada akhirnya.
Naruto menoleh sambil menaikan sebelah alisnya heran. "Selamat atas apa?"
"Yah.. Karena kau berhasil dalam remidimu."
"Hehe! Sudah kubilang aku pasti berhasil bukan?"
"Ya ya, aku percaya... Kalau bisa pertahankan agar nilaimu terus bagus! Selain itu kau juga harus giat belajar tanpa iming-iming tertentu! mengerti?" Dari ekpresi Naruto saja, Sakura bisa menebak bahwa pemuda beriris blue sapphire itu masih tidak begitu peduli dengan semua hal yang di sampaikanya. Untuk sesaat ia mendengus sebelum mengangkat kepalan tanganya ke atas yang rupanya belum disadari oleh Naruto.
Duuaakk
"Aw, ittai..."
"Kalau tidak mau kepalamu dipukul oleh seseorang, setidaknya dengarkanlah ucapan orang yang memberimu nasihat." Ucap gadis itu dengan santai dan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sedangkan Naruto sendiri mengelus kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
"Kau dengar tidak?" Tanya Sakura kembali. Naruto mengangguk masih sambil mengelus kepalanya.
"Lalu, sebenarnya kita mau pergi kemana sih?"
"Kau akan tahu sebentar lagi..." Ucap Naruto cengengesan, membuat Sakura menggembungkan pipinya kesal sekaligus penasaran.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di depan sebuah restoran sederhana yang tak terlalu besar, tapi juga tak terlalu kecil. Nama yang tertulis di papan nama restoran itu adalah 'Ichiraku Ramen'. Sambil memasang senyum lebar, Naruto melangkah masuk kedalam diikuti oleh Sakura yang mengekor di belakangnya dengan wajah bingung.
Sampai di dalam, keduanya mendudukan diri di salah satu meja. "Nah, kau tunggu disini sebentar ya!" Seru Naruto pada Sakura dan berdiri lalu berjalan entah kemana. Toilet mungkin? Tapi ia tak terlalu mempermasalahkanya.
Kepala pink Sakura menoleh kesana kemari, memperhatikan pengunjung di restoran ini. Rata-rata pengunjungnya adalah remaja perempuan seumuran denganya. Sisiwi dari sekolah lain. Selang beberapa lama memperhatikan sekitar, akhirnya Sakura bisa melihat Naruto kembali.
"Kau darimana saja?" Tanya Sakura penuh selidik.
Naruto tak menjawab karena seorang perempuan cantik menghampiri keduanya. "Lho, ternyata kau membawa pacarmu ya, Naruto-kun?" Tanya perempuan itu setengah menggoda, membuat Naruto terkekeh dan Sakura sendiri merona tipis ditatap dengan jahil oleh perempuan yang tak ia kenal.
"Hehe! Bukan kok. Dia adalah sahabatku, Ayame-neechan." Jawab Naruto pada perempuan berumur kira-kira 20-an yang bernama Ayame itu.
"Hmm, begitu ya... Lalu kenapa kau datang kemari? Bukankah hari ini kau sedang tidak part time?"
'Part time? Jadi tempat Naruto bekerja paruh waktu adalah disini?' Pikir Sakura. Pantas saja Naruto tampak akrab dengan Ayame. Mungkin ia juga salah satu karyawan disini...
"Aku kemari sebagai pelanggan hari ini. Jadi, bisakah aku memesan?" Tanya Naruto kembali.
Ayame terkekeh sebelum mengeluarkan catatan kecil serta sebuah pulpen guna mencatat pesanan Naruto. "Baiklah! Mau pesan apa?"
"Aku miso ramen porsi jumbo! Lalu kau mau pesan apa, Sakura-chan?"
"E-eh? Emm, aku pesan... Sama seperti Naruto, tapi porsi biasa saja." Jawab Sakura kikuk. Ia baru pertama kali datang kemari, jadi wajar jika ia belum mengetahui makanan apa saja yang tersedia disini.
"Hm, oke! Lalu minumnya?"
"Jus jeruk dan jus stroberi!" Ayame mengangguk dan bergegas mempersiapkan pesanan dua remaja barusan.
"Kau sepertinya sudah hapal dengan apa saja yang kusuka." Kata Sakura.
Senyum tercipta di wajah tan Naruto. "Tentu saja aku tahu." Ucap Naruto bangga. Sebuah tawa renyah keluar dari mulut Sakura sehingga membuat senyum Naruto semakin melebar.
"Hei lihat itu! Naruto-kun membawa seorang gadis kemari! Siapa si pinky itu?" Sayup-sayup Sakura mendengar bisikan beberapa gadis yang sepertinya membicarakan dirinya.
"Jika gadis itu adalah pacar Naruto-kun maka aku tidak akan terima!"
"Hm! Aku juga!" Lagi-lagi...
Sakura menoleh kebelakang sambil memasang tatapan polos, pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Ia bisa melihat semua gadis di sana menatapnya dengan hawa membunuh, membuatnya cepat berbalik.
Sepertinya ia tahu alasan kenapa restoran ini ramai didatangi oleh remaja putri. Tak lain dan tak bukan adalah karena pemuda berambut pirang yang saat ini duduk satu meja denganya. Apa Naruto tak pernah sadar alasan itu? Naruto memang terlalu polos dari dulu sampai sekarang...
"Pesanan datang! Silahkan dinikmati!" Seketika suara ramah Ayame membuyarkan pikiran Sakura. Pesanan datang, Pada awalnya Sakura kira ramen disini akan biasa saja, tapi ternyata terlihat begitu menggiurkan saat sudah berada di meja.
"Wah, kelihatanya enak!" Seru Sakura kagum.
"Tentu saja." Naruto terkekeh geli saat di lihatnya gadis pink itu menatap ramen yang disajikan dengan wajah berbinar.
"Itadakimasu!"
.
.
.
.
Seoarang pria, atau di chapter lalu kita kenal dengan Zabuza, saat ini tengah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa senjata apinya. Pistol, laras panjang, revolver, sampai sniper.
Bayang-bayang akan Naruto saat bertarung denganya kembali muncul dan mengusik kegiatanya saat ini. Sialan... Sekarang dipikiranya malah muncul bayang-bayang pemuda berambut pirang tengah menyeringai seakan mengejeknya.
Tanganya tanpa sadar mencengkram gagang pistol yang sedang ia lap. 'Benar-benar sulit dipercaya... bocah itu...' Cengkraman tanganya malah menjadi semakin kuat dan mungkin mampu mematahkan gagang pistol yang digenggamnya jika suara ponsel yang berdering di sakunya tidak mencegahnya melakukan itu.
"Ck! Rupanya si gendut sialan itu! Apa maunya?" Zabuza mendecak sebal saat melihat nama pemanggil yang tertera di ponselnyanya bertulis 'Gatou', bos dan orang yang menyewa jasanya dalam beberapa misi. Pengusaha licik yang menguasai kota Nami itu selalu memberinya misi untuk membunuh pesaing-pesaingnya dalam bisnis.
Sebenarnya Zabuza sudah muak bekerja dengan pria itu. Selain karena seenaknya sendiri, ia juga selalu mengikat kebebasan Zabuza. Tapi bayaran yang diberikanyalah yang membuat Zabuza paling tidak bertahan sampai saat ini.
"Hm, ada apa?" Tanya Zabuza ketus.
"Dimana kau sekarang? Seenaknya menghilang setelah misi!" Terdengar suara bernada menjengkelkan dari seberang.
"Sesuka hatiku ingin pergi kapanpun dan dimanapun, itu tak ada sangkut pautnya denganmu buta yarou!"
"Na-nani! Beraninya kau memanggilku seperti itu! Aku adalah orang yang mempekerjakanmu! Aku adalah orang yang membuatmu bisa hidup sampai saat ini! Ingat itu!" Teriakan bersuara sumbang sungguh membuat Zabuza ingin melemparkan ponsel yang digenggamnya.
"Memang benar kau adalah orang yang mempekerjakanku, tapi soal bisa hidup sampai ini adalah hal yang bisa kulakukan sendiri..."
"Ck, tidak ada gunanya berbicara padamu panjang lebar. Aku punya misi baru untukmu. Targetnya di Konoha. Namanya Teuchi, pemilik restoran ramen bernama Ichiraku"
"Hm, pemilik restoran ramen...? Apa kau serius?"
"Kau tidak perlu memikirkanya. Lakukan saja! Segera datang ke Konoha, beberapa hari lagi aku juga akan tiba disana."
Tutt Tutt Tutt
"Cih, akan kubunuh dia suatu saat nanti..."
.
.
.
.
"Hei paman!"
"Uwaa!... E-eh, A-ada apa? Kau mengagetkanku Naruto..." Pria yang baru saja dipanggil oleh Naruto itu mengelus dadanya. Nama pria paruh baya itu Teuchi. Pemilik restoran ramen 'Ichiraku' , bosnya Naruto. Barusan ia nampak merenung di salah satu meja pelanggan. Karena berhubung ini sudah waktunya tutup, jadi para pegawai restoran yang hanya terdiri dari 2 orang ini tengah sibuk membereskan dan membersihkan restoran agar tetap bersih esok hari.
Naruto yang merasa bosnya bersikap aneh akhir-akhir ini, akhirnya berinisiatif untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat bosnya seperti dirundung masalah yang pelik.
"Maaf kalau mengagetkan paman. Aku hanya khawatir akhir-akhir ini paman selalu murung dan melamun... Kalau boleh tahu, sebenarnya ada masalah apa?" Tanya Naruto prihatin. Ia mendudukan dirinya di meja yang sama dengan pria paruh baya itu.
Terdengar helaan napas panjang dari Teuchi. "Haahhh... Entahlah, aku ragu untuk menceritakanya... Tapi jika kau bisa menyimpan rahasia, mungkin aku bisa menceritaknya padamu, siapa tahu kau bisa membantu." Naruto mengangguk antusias. "Baiklah, ceritakan!" Seru Naruto tak sabar.
Teuchi bersedekap ketika memulai ceritanya. "Apa kau tahu rumor tentang penggusuran besar-besaran semua toko, kedai dan tempat usaha lain di kompleks ini?"
"Penggusuran? Aku belum mendengarnya."
Kepala Teuchi menoleh ke sekeliling sebelum mendekatkan wajahnya ke Naruto untuk membisikan sesuatu. "Begini... Sebenarnya seluruh tempat usaha di kompleks ini sudah dibeli oleh pengusaha kaya dari kota Kiri! Rencananya akan dibangun pusat hiburan malam di kompleks ini."
"Heee-mmp!"
Tangan Teuchi dengan cepat membungkam mulut Naruto yang hendak berteriak, mungkin karena kaget. "Jangan berteriak!" Bisik Teuchi yang dibalas anggukan dengan cepat oleh Naruto. Perlahan bungkaman Teuchi di mulut Naruto dilepas.
"Lalu, apa hubunganya dengan paman?"
"Hampir semua tempat usaha disini menjual tempatnya kepada pengusaha itu. Hanya aku yang menolak untuk menjualnya."
Naruto memasang wajah berbinar. "Hoo! Aku benar-benar bangga bekerja pada paman! Paman adalah orang yang begitu peduli pada usaha yang sudah dibangun dengan kerja keras paman sendiri!" Bukan respon positif yang Naruto dapat, tapi malah helaan napaslah yang menjadi tanggapan Teuchi.
"Kenapa?" Tanya Naruto bingung.
"Justru itulah yang membuatku khawatir... Ketika aku menolak untuk menjual tempatku, pengusaha itu pergi sambil mengancam akan..."
"Akan apa?"
"Akan..."
"Akan?"
"Akan... err... Aku lupa kata-kata terakhirnya, hehe!" Teuchi menggaruk belakang kepalanya sambil tertawa kikuk.
Naruto sweatdrop. "Paman, seriuslah sedikit... Kau bilang mungkin aku bisa membantu..."
"Tapi aku benar-benar lupa bagian terakhirnya! Maklumlah, aku sudah tua..."
Kening Naruto berkedut-kedut mulai kesal. "Lalu kalau kau lupa bagian terakhir bagaimana kau bisa beranggapan bahwa hal itu gawat!?"
"Hmm, firasatku mengatakan itu hal yang buruk." Pria paruh baya itu menatap penuh harap pada Naruto seakan hanya Narutolah yang dapat menyelamatkanya dari jurang dengan ketinggian 800 meter(?)
"Apapun yang terjadi... Aku mohon bantuan darimu Naruto... Jika orang itu melukaiku maka tidak masalah, tapi..." Kepala Teuchi menoleh kearah putrinya yaitu Ayame yang tengah menyapu sambil bersenandung ceria.
Naruto menatap bosnya dengan pandangan iba. "Aku mengerti... Aku pasti akan membantu paman dengan segala cara yang kubisa!" Seru Naruto sambil melempar cengiranya dan mengacungkan jempol tanganya. Teuchi tak nampak ragu. Dari hanya melihat cengiran saja ia yakin kalau Naruto bersungguh-sungguh.
.
.
.
.
"Jadi itu tempatnya, Haku?" Tanya Zabuza yang dibalas anggukan pasti oleh Haku. Mereka berdua tengah mengamati restoran Ichiraku sambil membaur di keramaian pejalan kaki.
"Lalu apa kita akan melaksanakan misi kita saat ini juga?"
"Ie, kita tunggu saat yang tepat untuk melakukanya. Setelah si 'gendut sialan' selesai berunding dengan mereka, kita bisa melaksanakan misi kali ini" Haku mengangguk mengerti. "Kalau begitu sebaiknya kita menunggu di tempat lain saja, Ikuzo!." Zabuza menginstruksi Haku dengan gerakan tangan.
Tak disangka, dari arah berlawanan, sepasang remaja berbeda gender tengah berjalan berdampingan. Dua remaja yang memiliki warna rambut mencolok. Satu berambut kuning cerah dan satu lagi berambut soft pink. Tanpa dijelaskan lebih panjang lagi, sudah bisa dipastikan bahwa mereka adalah Naruto dan Sakura. Seragam Konoha Gakuen masih melekat ditubuh mereka menandakan bahwa keduanya baru pulang dari sekolah.
"Sudah kubilang tidak boleh!" Seru Naruto pada gadis disampingnya.
"Memangnya apa hakmu untuk melarangku!?" Balas Sakura, berkacak pinggang. Keduanya nampaknya tengah beradu argumen... lagi.
Naruto menggeram pelan sambil mengusap rambutnya mendengar penuturan sahabatnya yang keras kepala. Sepulang sekolah ini Naruto langsung pergi ke Ichiraku untuk jadwal part time-nya. Sebenarnya hal ini bukanlah masalah sampai Sakura ngotot ingin ikut dan membantunya.
"Sakura-chan... aku sudah sering merepotkanmu... karena itulah untuk kali ini saja- maksudku, aku kan yang bekerja di Ichiraku, jadi kau tidak perlu ikut membantu!" Rayu Naruto sekali lagi.
Sakura tampak tak bergeming. Ia mengusap dagunya, memasang pose berpikir. "Hmmm, tidak bekerja disana ya..." Ia melirik kearah Naruto yang menunggunya untuk menyelesaikan pernyataanya. Sebuah ide melintas dengan cepat dikepala pinknya. "Kalau begitu bagaimana jika aku bekerja disana juga?"
"Eh?"
"Selain aku bisa membantumu, aku juga bisa mendapatkan uang dengan kerja kerasku sendiri bukan?"
"Kenapa malah ingin bekerja disana? Sudah kubilang kau akan kerepotan nanti."
"Kau saja tidak tampak kerepotan, begitupun denganku." Sergah sang gadis pink yang lantas berjalan mendahului sang pemuda pirang.
"Demo... Sakura-chaaan..."
"Jangan merengek!"
.
.
.
.
"Apa kita akan benar-benar melakukan ini?" Zabuza menoleh kearah Haku yang berjalan dibelakangnya.
"Apa yang kau bicarakan?"
Kepala Haku menunduk. Ia ingin mengutarakan semua keluh kesah yang selalu mengganjal dihatinya sejak dulu. Sejak ia dan Zabuza terjerumus begitu dalam di dunia gelap yang mereka kenal. Perbincanganya dengan Naruto sedikit banyak membuat matanya semakin terbuka lebar. Ada dunia yang lebih terang diluar sana... Jauh terang melebihi dunia yang ia kenal...
"Apa kita akan terus terperangkap di dunia kelam yang kita kenal...?" Lirih Haku. Perkataan itu sontak membuat langkah Zabuza terhenti. Ia menoleh kebelakang dan menatap Haku dengan tatapan... Entahlah, sulit dimengerti.
"Tidak bisa... Kita tidak bisa lagi keluar..."
"Zabuza..."
"Daripada kau memikirkan hal yang tidak-tidak, lebih baik kau juga bersiap!" Tanpa sepatah kata lain, Zabuza kembali melangkah meninggalkan Haku yang terdiam di tempatnya berdiri.
'Apa yang harus kulakukan sekarang...' Batinya resah. Memandang Zabuza yang melangkah semakin jauh darinya.
.
.
.
.
"Terima kasih banyak kalian berdua!" Seru Ayame yang baru saja selesai menyapu. Ia hampiri Naruto dan Sakura yang juga baru saja selesai dengan tugas mereka. "Hmm, kalian selalu bersama melakukan apapun. Jika dipikir-pikir kalian benar-benar manis bila sedang bersama, ne?" Goda Ayame membuat Sakura segera menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah. Naruto sendiri tertawa keras mendengar godaan Ayame dan tingkah gugup Sakura.
"Kau dengar, Sakura-chan? Bahkan Ayamen-neechan bilang kita berdua manis. Apa kau yakin tidak ingin dipanggil 'hime' olehku?" Sekarang giliran Naruto yang menggoda gadis musim semi itu. Si gadis semakin menunduk membuat Naruto dan Ayame tertawa melihat tingkah gugup Sakura.
"Berhenti menggombal-" Tawa keduanya terhenti saat merasakan aura membunuh yang begitu kuat dari Sakura.
"S-saku-
"-BAKA!"
Duaggh
"Auwww!" Ayame hanya bisa tercengang melihat kepala Naruto yang mungkin terdapat benjol di balik rambut pirang mencuatnya.
"Kau itu selalu saja mencoba menggodaku! Dasar rubah pirang!" Jari lentik Sakura menjewer sekuat tenaga telinga Naruto hingga pemuda itu mengeluh kesakitan.
"I-te-te-te! Ampun! Aku mohon ampun!" Rengek Naruto. Dengan satu tarikan terakhir Sakura melepas jeweranya meski sebenarnya ia merasa itu belum cukup.
Naruto menatap Sakura sambil cemberut dan mengusap telinganya yang memerah. "Sakura-chan... Kenapa kau selalu kasar padaku?"
"Itu karena kau selalu mencari gara-gara denganku!" Perdebatan masih berlanjut saat Teuchi berjalan menuju pintu restoran untuk menutupnya.
"Hmm? Tumben sekali ada pelanggan yang baru datang saat mau tutup..." Mata sipit pria tua itu membulat saat melihat beberapa orang yang berjalan menuju ke restoranya. Tanganya yang menggenggam gagang pintu bergetar perlahan. Bibirnya sedikit terbuka tapi tidak ada satu katapun yang sanggup ia ucapkan.
"Yo! Si tua Ichiraku!" Sapa pria berbadan gemuk memakai jas formal diikuti beberapa pria bertubuh besar dengan dandanan yang sangar.
"Maaf, tapi kami sudah tutup!" Seru pria itu tegas dan menarik pintu guna menutupnya. Tapi satu tangan pria itu terulur dan menahan daun pintu yang hendak ditutup.
"Hoi, Chotto matte! Ingat dengan perbincangan kita beberapa hari yang lalu bukan? Aku ingin menanyakan hal yang sama seperti hari itu padamu dan kuharap kau bisa berpikir dengan bijak kali ini..." Pria gemuk alias Gatou menoleh kearah para anak buahnya dan mengembalikan pandanganya pada Teuchi.
"Kau lihat para anak buahku ini? Mereka adalah bawahan yang patuh dan sangat sigap... Bila aku memberi perintah pada mereka maka akan di lakukan dengan segera dan tanpa mengeluh. Karena itulah jangan sampai membuatku memberi perintah yang salah pada mereka, jika kau paham maksudku..."
"Sudah kubilang aku tidak akan menjual restoranku!" Teriak Teuchi dengan suara yang keras, membuat Naruto, Sakura, serta Ayame mendengarnya meski mereka di ruang dapur saat ini.
"Ada apa didepan? Kenapa ayah berteriak?" Tanya Ayame entah pada dirinya sendiri atau pada dua remaja di dekatnya.
"Coba kita periksa!" Saran Naruto. Ketiganya langsung berlalu menuju pintu depan.
Kembali ke Teuchi dan Gatou. "Pergi kau dari tempatku! Aku tidak akan pernah mau menjual restoranku meskipun harus mati!"
Gatou menyeringai mendengar kalimat pengeas dari Teuchi. "Hoo... Kalau memang begitu-
"Ada apa ini?" Tanya Naruto yang sudah sampai di pintu depan. Iris sebiru lautnya menatap dengan teliti satu persatu orang yang ada disana. Teuchi, dan beberapa orang berbadan besar berpenampilan sangar... Jangan-jangan!?
"Mereka adalah orang yang kuceritakan beberapa hari yang lalu Naruto..." Bisik Teuchi dekat telinga Naruto.
Sosok yang dibisiki mengangguk. "Tenang saja paman, jika kau mau menolak tolak saja!" Saranya.
"Jangan berkata hal bodoh Teuchi! Jika kau masih berniat menolak aku bisa melukaimu!" Bentak Gatou. Sekilas ia melirik ke arah dua gadis cantik di belakang mereka. Mendadak seringai mesum terpampang jelas di wajahnya. "Kalau kau memang tidak mau tak apa... Tapi, kau bisa menjual dua pekerjamu yang cantik-cantik itu... bila ada mereka di klub malamku, pasti mereka menjadi aset yang berharga"
Dua gadis yang dimaksud membola matanya dan menatap garang kearah pria paruh baya menjengkelkan itu. Tak hanya dua orang gadis tadi, Narutopun menggeram sambil mengepalkan tinjunya. "Jangan kurang ajar kau, gendut sialan!" Teriak Naruto mencengkram kerah pakaian Gatou.
"Le-lepas!"
"Kau pikir dengan uangmu kau bisa mendapat apapun yang kau mau, haa!?" Bentak Naruto.
Bugghh
"Ugh!" Gatou terjengkang kebelakang karena tinjuan Naruto tepat mengenai wajahnya.
"Bernainya kau bocah tengik! Hajar dia!" Teriak Gatou pada anak buahnya. Naruto tak gentar. Kaki tangan Gatou beramai-ramai menyerbu Naruto.
Buaggh
Bughh
Brakk
Satu persatu lawan tumbang karena serangan Naruto. "Apa hanya begini saja?" Sindir Naruto.
"... Bukan hanya ini saja..." Naruto tersentak mendengar suara itu. Badanya menegang. Sesuatu dalam dirinya bergejolak. Saat tubuhnya bereaksi seperti ini, dia tahu apa yang terjadi. Beginilah reaksi alami pada tubuhnya jika bertemu peserta game yang lain...
"Kau... Zabuza!" Munculah Zabuza bersama Haku menghampiri Ichiraku.
"Kenapa kau lama sekali? Habisi mereka semua!" Teriak Gatou. Ia berdiri dibantu anak buahnya yang babak belur lalu pergi dari tempat itu tertatih-tatih.
"..."
"Yo... lama tak bertemu..."
"Kau... apa kau bekerja pada pria tadi?"
Zabuza mendengus kesal. "Asal kau tahu saja, jika ia tidak memberiku bayaran yang tinggi maka mungkin aku sudah membunuhnya sejak dulu..."
Rahang Naruto mengeras. Ia mengepalkan tinjunya. "Kenapa kau memilih menjadi pembunuh bayaran padahal kau bisa memilih hidup yang lebih baik?!"
Zabuza tak menjawab pertanyaan Naruto barusan. Tapi ia membalas. "Ini tidak ada hubunganya denganmu... jadi lawan aku agar aku bisa membunuh bosmu jika kau sudah kalah."
Sakura, Ayame dan Teuchi tersentak. "Sakura-chan, bawa paman Teuchi dan Ayame-neechan berlindung!" Perintah Naruto.
"Lalu bagaimana denganmu?" Naruto menoleh serta tersenyum lembut saat ia melihat Sakura menatapnya dengan khawatir. "Daijoubu, aku tidak akan kalah! Pasti!" Sakura mengangguk mengerti dan mengajak Ayame serta Teuchi pergi, entah kemana yang penting mereka aman.
"Percuma saja untuk menyembunyikan pak tua tadi! Ia sudah menjadi targetku yang selanjutnya."
"Kalau begitu aku akan mengalahkanmu agar ia aman." Balas Naruto yakin. Ia memasang kuda-kuda.
"Hoo... Kalau begitu... Basa-basinya sudah cukup!" Mata Naruto melebar saat Zabuza mengacungkan dua pistol bersamaan yang ia genggam dimasing-masing tanganya.
'Sial!'
Dorr Dorr Dorr Dorr Dorr Dorr
Suara pelatuk senapan yang memuntahkan pelurunya terdengar keras dan bersahut-sahutan, bagaikan melodi kematian bagi siapapun yang mendengarnya. Jantung Naruto berpacu lebih kencang. "Tadi hampir saja...". Gumam Naruto. Napasnya naik turun. Beruntung ia memiliki reflek yang gesit sehinggaa berhasil menghindari tembakan tadi, berlindung di samping sebuah bangunan.
"Apa kau akan jadi pengecut dan bersembunyi disana selamanya, bocah?" Seringai Zabuza melebar. "Haku, kau kejar pak tua tadi." Perintahnya. Haku hanya terdiam tanpa sepatah katapun dan melesat pergi.
Naruto menatap kepergian Haku dengan tatapan kecewa. "Cih! Kukira Haku sudah berubah, tapi..." Segera ia berlari hendak menghentikan Haku sebelum kemudian tembakan beruntun Zabuza membuatnya terpaksa sembunyi lagi. "Sial! Hoi Zabuza! Apa adil jika kau menggunakan senapan sementara lawanmu hanya dengan tangan kosong!" Teriak Naruto kesal. Ia sedikit mengintip dari balik bangunan yang entah kedai atau apa.
Zabuza tertawa sadis. "Di dunia pembunuh bayaran sepertiku tidak mengenal yang adil atau tidak adil... Kami hanya melihat yang menang dan yang mati! Tapi..." Pria bertopeng perban itu memasukan senjatanya ketempatnya. "Jika kau ingin pertarungan tangan kosong, maka itulah yang akan kau dapat."
"Water Style : Ravage!" Zabuza berjongkok dengan satu lututnya menyangga tubuh. Ia meletakan telapak tanganya ditanah dan seketika tanah berguncang perlahan.
'Eh? Ada apa ini?'
"Jika kau tidak mau keluar tidak apa. Tapi aku tidak perlu repot mengejarmu karena jurusku akan melakukanya!" Teriak Zabuza.
"Apa yang dia bicara-
Zrasshh
Dari bawah tanah muncul tentakel-tentakel air yang menerjang kearah Naruto. "Nani!?" Naruto berhasil melompat, tapi terpaksa ia harus keluar dari persembunyianya.
"Keluar juga kau... Kejar!" Zabuza berteriak lantang.
Zrashh Zrashh Zrashh
Secara beruntun tentakel air ciptaan Zabuza mencoba menusuk atau paling tidak menghentikan gerakan Naruto, tapi Naruto dengan gesit menghindar. 'Inilah kesempatanku!'
Wushh
Zabuza melesat menuju Naruto yang kewalahan menghadapi tentakel air yang menggempurnya tanpa henti. "Terima ini!"
Duarr
Pukulan Zabuza meleset karena Naruto menghindar kesamping. Ini kesempatan bagus untuk menyerang karena Zabuza lengah dan tentakel airnya juga hilang meski hanya sementara. "Sekarang giliranku! Wind Cannon!" Zabuza menyeringai.
Wushh
Blarrr
Naruto tersentak kaget saat sebuah kubah air melindungi Zabuza, menghentikan seranganya yang barusan. Dilihatnya Zabuza menyeringai. "Sial!" Naruto berlari dengan kecepatan penuh menuju Zabuza, bersiap menyerang. "Hyaaaa!" Naruto melancarkan tinjunya pada kubah air Zabuza. Tapi yang terjadi...
Sreppp
"Nani?" Tangan Naruto terlilit tentakel air. Ia mencoba menariknya sekuat tenaga tapi tidak berhasil.
Zabuza bersedekap tangan sambil berdecak kecewa. "Kau terlalu ceroboh bocah!" Dari dinding depan kubah air Zabuza, kembali mencuat tentakel air seperti sebelumnya. Tentakel itu menyerang Naruto seperti sebuah cambuk.
Splassh
"Uwaa!" Naruto terlempar ke udara karena cambukan air Zabuza. Beberapa detik diudara, Naruto meluncur jatuh menuju tanah. Karena tahu Naruto tak bisa bergerak bebas di udara, Zabuza memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali menyerang. Ia mengangkat tanganya dan tentakel air berjumlah banyak mencuat dari bawah tanah tepat ditempat Naruto akan mendarat!
"Lagi-lagi tentakel itu! Wind Cutter!" Naruto menembakan sabit-sabit angin berukuran sedang dalam jumlah yang banyak.
Wusshh
Crashhh Crashhh Crashhh Crashhh
Jurus Naruto dan Zabuza bertabrakan, menyebabkan cipratan air menyembur ke berbagai arah. Zabuza berdecak kesal saat Naruto berhasil mendarat dengan selamat.
Sebelum tentakel-tentakel air kembali muncul dan menyerangnya, Naruto mengambil kesempatan ini untuk menyerang balik. Ia berlari dengan cepat menuju Zabuza.
"Bersiaplah!" Teriak Naruto lantang. "Tadi aku sudah bilang kalau kau terlalu ceroboh bocah!" Balas Zabuza. Benar saja, belum sampai dekat dengan Zabuza, pria itu sudah mengerahkan kembali jurus tentakel airnya. Dengan gesit Naruto terus maju menghindar dan sesekali menembakan bola angin untuk menghentikan tentakel-tentakel jurus Zabuza.
'Kusso! Tidak ada habisnya! Kalau begini harus segera menghentikan Zabuza sebelum kehabisan tenaga!'
"Apapun yang kau rencanakan tidak akan berhasil!" Telapak tangan Zabuza dihentakan ditanah. Seperti saat pertama mengeluarkan jurus tentakel, kali ini ia juga mengeluarkan jurus serupa tapi dengan jumlah dan ukuran yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Dari berbagai arah, depan, belakang, bawah tanah, tentakel air kali ini lebih ganas dari sebelumnya. Naruto berkali-kali menghindar, menendang, memukul, tapi sama saja.
"Heh? Rupanya kau cukup gigih untuk menghadapi seranganku... Tapi gigih saja tidak akan cukup!" Zabuza yang mengendalikan tentakel airnya dengan tangan segera mengkomando airnya mengelilingi dan menjebak Naruto.
"Dia ingin membuat kurungan air seperti dulu!?" Seru Naruto panik.
"Water Style: Water Pri-"
"Lethal Vortex!"
Wusshhhh
Blarrr
Zabuza terperangah. Jurusnya dipatahkan dengan angin tornado berukuran sedang yang memutari Naruto. Ia melindungi dirinya ketika angin itu semakin melebar kearahnya. "Aku tidak akan terjebak dengan jurus yang sama kali ini!"
Zabuza tersenyum remeh. "Boleh juga!" Kubah air Zabuza berubah bentuk, berkumpul mengelilingi Zabuza. "Sekarang rasakan jurus andalanku! Water Dragon!" Air terbentuk menjadi seperti naga, menerjang kearah Naruto dengan cepat.
Saat hendak melompat, Naruto dikejutkan dengan tentakel air yang melilit kakinya. 'Sial!' Satu tentakel lagi dikaki sebelahnya, tangan kanan, tangan kirinya. Ia benar-benar terjebak!
Blarrr
Serangan Zabuza berhasil, Naruto terhantam naga air dengan telak. "Aaghh!" Tubuh Naruto serasa diterjang ombak dashyat membuatnya terpental jauh dan tersungkur ke tanah.
Brukk
"Uhuk... Uhuk... Sial!" Desis Naruto. Ia bangkit sambil terhuyung. Mencengkram dadanya yang baru saja terhantam dengan telak.
"Apa hanya ini yang kau bisa bocah?" Zabuza bersedekap tangan. Tersenyum remeh kearah Naruto yang masih ngos-ngosan.
Naruto mengepalkan tanganya erat. Napasnya terengah-engah. "Aku tidak punya waktu untuk meladenimu! Aku harus menghentikan Haku!" Teriak Naruto. Ia memasang kuda-kuda, bersiap untuk menggunakan jurusnya. Alis Zabuza tertekuk saat telapak tangan Naruto mengeluarkan bola angin berukuran kecil yang lama kelamaan membesar sebesar genggaman tanganya. Bola angin berwarna kebiruan itu berputar dengan cepat sambil mengeluarkan suara berdesing. Ia menghantamkan jurusnya ditanah.
"Rasengan!"
Blarrr
Zabuza terkejut dengan efek jurus Naruto. Menggerus tanah yang terhantam dan membuat debu tebal berterbangan seperti baru saja diterjang tornado. Jurus 'Rasengan' Naruto mungkin memang sekuat putaran angin tornado tapi dengan ukuran yang kecil. Debu mengepul. Tak sampai disitu, Naruto mengeluarkan satu jurusnya lagi. "Lethal Vortex!"
Wusshh
Angin melebar membawa debu-debu bersamanya, membutakan pandangan. "Sial, dia ingin kabur! Erghh!" Zabuza menutup mata dan melindungi wajahnya dengan tangan.
Setelah beberapa lama, angin perlahan mereda dan Zabuza bisa membuka matanya. Pemuda pirang yang tadi berdiri didepanya sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak. "Kusso! Dia benar-benar kabur!" Kepala Zabuza menoleh kesekeliling. Ia lantas teringat sesuatu. Tadi Haku mengejar target mereka yang berlari menjauh dari Ichiraku. Mungkin ia bisa menemukan targetnya dan Naruto jika mengikuti arah Haku berlari. Tanpa buang-buang waktu, Zabuza melesat cepat mengejar Naruto.
.
.
.
.
Tiga orang berlari dengan tergesa-gesa. Sakura, Teuchi dan Ayame lebih tepatnya. Sang gadis musim semi menghentikan lajunya yang kemudian diikuti ayah dan anak itu. Ketiganya terengah, mengambil napas sebanyak yang mereka bisa setelah sejak tadi lari tanpa berhenti. "Se-sepertinya kita sudah- sudah jauh... hahh... hahh." Seru Sakura terengah-engah. Tak jauh berbeda kedua orang didekatnya mengangguk dengan napas naik turun.
Setelah berhasil menormalkan napasnya, ketiganya duduk dibawah naungan sebuah pohon, entah pohon apa. Kini mereka berada di tepi tanah lapang dekat dengan gedung yang masih dibangun. Tidak tahu kenapa tak ada satupun pekerja disana. Sepertinya hal itu karena ini sudah memasuki selesai jam kerja.
"Kita harus menelpon polisi!" Seru Ayame. Sakura menggeleng. "Aku tidak membawa ponsel, Nee-chan."
"Lalu bagaimana sekarang?"
Sakura berdiri. "Nee-chan dan Teuchi-jiisan pergilah mencari bantuan." Gadis itu tersenyum. Saat hendak melangkah, Ayame mencengkram tanganya, membuat pemilik tangan bingung. "Kau mau kemana, Sakura-chan?"
"Aku harus membantu Naruto."
Ayame dan Teuchi kaget dengan keinginan gadis bermata hijau itu. "Tidak bisa! Itu terlalu berbahaya!"
"Tapi bagaimana dengan Naruto?" Tanya Sakura. Perasaan khawatir benar-benar menyelimuti benak gadis pink itu. Naruto kadang sangat keras kepala dan tidak mempedulikan keselamatanya sendiri demi melindungi orang lain.
"Pasti ada cara lain yang bisa-"
Tubuh Ayame menegang. Kalimatnya menggantung karena seseorang menghampiri ketiganya. Seseorang dengan rambut hitam panjang dan mengenakan topeng... Haku...
"Dia..." Desis Sakura.
Sosok itu berhenti lima meter di depan mereka, membuka topengnya. Sakura mengeratkan kepalan tangan dan rahangnya. "Aku tidak akan membiarkanmu mendekati mereka!" Teriak Sakura mengancam.
Haku masih memasang raut datar sebelum akhirnya membuka suara. "Aku tidak berniat untuk menyakiti kalian... Aku, sudah tidak bisa..." Senyum tipis yang terkesan menutupi perasaanya tertoreh di wajah pemuda itu.
"Apa maksudmu?" Sedikit banyak Sakura percaya dengan ucapan Haku.
"Kumohon... Kau harus menghentikan Zabuza. Jika tidak Naruto bisa dalam bahaya." Sakura hanya bisa membulatkan matanya mendengar hal itu. Mendadak Haku melempar sebuah ponsel yang bisa tertangkap oleh Sakura meski tadi hampir jatuh.
"Eh? Kenapa kau melemparkan ponselmu?"
"Hubungi polisi..." Haku berbalik dan berniat pergi. Tapi sebelumnya ia melanjutkan kalimatnya. "Aku akan melakukan apapun yang kubisa untuk menghentikan Zabuza dan menyelamatkan Naru-"
"-Itu tidak perlu!" Potong Naruto yang datang entah sejak kapan dan darimana.
"Naruto!" Baik Haku ataupun Sakura spontan menyerukan nama pemuda itu. "Aku sudah mendengar semuanya..." Naruto tersenyum, membuat Haku juga ikut tersenyum.
"Apa yang kau pikirkan Haku!?" Teriak Zabuza yang datang dari arah Naruto datang. Semua orang disana tersentak. "Kenapa kau tidak menghabisi mereka?! Bukankah kau ingin menjadi senjataku?!" Teriak Zabuza. Naruto berbalik dan memasang kuda-kuda. Ketika hendak melesat, tangan Haku menghentikanya. "Aku sudah tidak bisa membunuh orang lagi."
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai kau berpikir seperti itu?"
"Karena-"
Wusshh
Bugghh
Semuanya tercengang saat dengan cepat Naruto melesat dan memukul wajah Zabuza hingga pria itu terjengkang ke belakang. "KENAPA KATAMU!? APA KAU PERNAH SADAR BAHWA HAKU SUDAH MENGANGGAPNYA SEBAGAI ORANG TERPENTING DIHIDUPNYA!? Apa kau sadar bahwa selama ini ia berkeinginan berhenti karena khawatir padamu?"
Zabuza memposisikan dirinya untuk duduk. "Khawatir... padaku?" Ucap Zabuza perlahan. Ia menoleh pada Haku. "Aku tidak mengerti! Omong kosong apa yang kau bicarakan?"
"Ini bukanlah omong kosong! Haku pernah bercerita padaku kalau kaulah orang terpenting untuknya! Dan demi dirimulah... ia bahkan rela kau menganggapnya sebuah senjata..." Gigi Naruto bergemeletuk. Ia memejamkan matanya kuat-kuat. "Apa kau benar-benar tidak menganggapnya sama seperti dia menganggapmu...?"
Zabuza berdiri dari duduknya. "Tidak..."
"A-apa?"
"Aku hanya akan tetap menganggapnya sebagai senjataku..."
"Kau! Apa kau seri-"
Dorr
"..."
"..."
"Uhuk..." Batuk Haku mengeluarkan darah. Seseorang menembaknya dengan senjata api dari kejauhan. Semua orang nampak kaget dengan mata membulat, terutama Zabuza. Ia terkejut karena seharusnya dirinyalah yang terkena tembakan barusan. Tapi Haku bergerak cepat dan menjadikan dirinya sebagai tameng.
Brukk
Tubuh pemuda berwajah cantik itu ambruk. Nafasnya putus-putus, sedangkan darah mengalir dari luka tembak di bagian dadanya. "Ha-haku..." Bisik Naruto.
Mata Zabuza berkilat tajam menatap penuh amarah dan benci pada segerombolan orang-orang berpawakan sangar. Gatou datang di ikuti puluhan anak buahnya. Ada yang membawa tongkat baseball, senjata tajam, bahkan pistol.
'Cih! Akhirnya datang juga dia.'
Zabuza hampiri Haku yang terbaring lemah tak jauh darinya. "Haku, kerja bagus... Terima kasih karena melindungiku..." Ucap Zabuza dengan dingin. Tak ada rasa sesal atau khawatir secuilpun. Kontan saja, Naruto dibuat kaget. Ia berlari menghampiri Haku yang tergeletak.
"Uhuk... Uhuk... Zabuza..."
"Jangan bicara lagi, Haku!" Seru Naruto dengan panik.
Dengan tangan bergetar dan berlumuran darah, Haku mencengkram lemah tangan Naruto, mengisyaratkan kalau ia akan baik saja. Ia kemudian menoleh ke arah Zabuza yang menatapnya dengan tatapan datar. "Zabuza... Aku ingin berterima kasih padamu... untuk semua yang kau kau lakukan... menjagaku dan menerimaku meski hanya sebagai kaki tanganmu..."
Ketiga orang lainya, Sakura, Ayame, dan Teuchi hanya bisa menatap penuh iba.
"Zabuza..." Bisikan lemah Haku membuat Zabuza akhirnya menggenggam tanganya. "Kau... sudah kuanggap seperti kakakku, juga sebagai orang terpenting dalam hidupku... maaf, hanya ini yang bisa kulakukan..."
"..."
"..."
"Sayounara..." Haku menghembuskan napas terakhirnya. Ia menutup mata dengan sebuah senyuman untuk terakhir kalinya...
Air mata Naruto tak terasa menetes... Ia melirik ke arah Zabuza. Pria itu bahkan nampak tak terpukul. Dan ini benar-benar membuat Naruto kesal setengah mati. Ia lepas tangan Haku perlahan lalu menghadap Zabuza, menatap pria itu penuh kebencian.
Grep
Kedua tangan Naruto mencengkeram erat kerah pakaian yang Zabuza kenakan. "Lebih baik kau hentikan kepura-puraanmu! Aku tahu kau menganggap Haku lebih dari sekedar senjata!" Teriak Naruto dengan lantang tepat didepan wajah Zabuza. Respon pria yang dengan wajah yang ditutupi perban itu hanya terdiam.
Ia lepas cengkeraman Naruto dengan tanganya. "Aku tidak terlalu paham kenapa kau begitu peduli pada Haku... tapi, semua yang kau katakan itu sebenarnya tidak perlu... Karena aku juga sudah paham akan hal itu, sejak lama..."
Keduanya hening. Tapi tawa Gatou mengalihkan perhatian mereka. "Hoo... Sepertinya kami salah sasaran..." Sindir Gatou di ikuti gelak tawa para anak buahnya. "Aku tidak lagi membutuhkanmu. Karena itulah lebih baik kau kubunuh sekarang agar tidak merepotkan di masa mendatang."
"Kau..." Gigi Naruto bergemeletuk. Ia bangkit berdiri dengan tangan mengepal keras seakan bisa menghantam apapun hingga hancur.
"Aku tidak ada urusan denganmu, gaki! Urusanku hanyalah dengan Zabuza! Meskipun tadi kau memukulku aku akan melepaskanmu karena aku adalah orang yang baik." Gelak tawa saling bersahutan terdengar.
"Sialan kau... Mana bisa kau menyebut dirimu orang yang baik... Kau itu, hanyalah iblis berwujud manusia!" Teriak Naruto naik pitam. Saat hendak menerjang kerumunan yang berkumpul tak jauh di depan mereka, Zabuza menepuk bahu Naruto, memaksanya untuk menoleh.
"Kau tidak perlu sampai terlibat untuk mengatasi sampah itu... Ini adalah urusanku."
"Demo-"
"Jika kau ikut campur maka kau akan dikira berkomplot denganku. Karena itulah, serahkan saja padaku!" Mata Zabuza menatap dengan penuh keyakinan. Naruto tak bisa berkata apa-apa lagi.
Naruto mengangguk mengerti. "Baiklah kalau memang begitu. Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"..."
"Kau bawalah teman-temanmu dan segera bersembunyi... Dan tolong teleponlah polisi."
Naruto terlihat ragu-ragu. "Kau tidak berniat untuk membunuh mereka kan?"
Zabuza mengela napas untuk sesaat. "Ini adalah satu-satunya cara menghentikan mereka. Si gendut itu sudah sering berurusan dengan polisi. Kabar terakhir yang ku dengar, ia diberi hukuman mati karena terbukti membantai para pengusaha kecil di kota Nami... Tapi dengan uang dan kekayaanya ia selalu bisa lolos. Karena itulah aku harus memberinya hukuman yang setimpal atas semua perbuatanya."
"Kau bisa mati jika melawan orang sebanyak itu- kecuali..." Naruto menggantungkan kalimatnya. Ia tahu bahwa Zabuza pasti paham apa yang hendak di ucapkanya. Tapi, Zabuza malah menggeleng. "Kekuatan kita tidak bisa di gunakan untuk melawan orang biasa, bocah."
"Apa! Kenapa aku tidak tahu hal itu?" Pekik Naruto kaget.
"Jika aku melawan mereka tanpa kekuatan, kemungkinan besarnya aku akan mati."
"Apa tidak ada cara la-"
"-cuma ini yang bisa kita lakukan!" Potong Zabuza, memaksa Naruto untuk bungkam.
"Jika aku memang mati maka itupun juga balasan yang setimpal atas semua yang kulakukan. Sudah terlambat untuk berhenti. Tapi... paling tidak aku bisa melakukan hal yang benar meski kembali mengotori tanganku... untuk yang terakhir kalinya..." Naruto yakin ia tidak salah lihat. Zabuza... tersenyum?
Akhirnya Naruto mengangguk mengerti. "Semoga beruntung!" Ucapnya sebelum membalikan tubuhnya.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau katakan pada Haku..." Baru berjalan satu langkah, Naruto berhenti. Ia menoleh kearah Zabuza yang masih membelakanginya. "... Tapi sepertinya kata-katamu berhasil membuat kami sadar..." Lanjut Zabuza menyambung kalimat sebelumnya.
"..."
"Sekarang cepatlah pergi." Naruto kembali berlari, menghampiri tiga orang yang berdiri tak jauh darinya.
"Naruto." Pemilik nama dikejutkan oleh Sakura yang tiba-tiba menghambur ke pelukanya. "Syukurlah kau tidak apa-apa..." Senyum mengembang di wajah Naruto. Ia perlahan melepas pelukan mereka. "Sekarang tidak ada waktu untuk berpelukan. Kita harus menjauh dan jangan sampai terlibat pertarungan ini!" Seru Naruto kepada dua orang lain di dekatnya. Dua orang yang dimaksud mengangguk dan berlari mendahului.
"Ayo Sakura-chan!" Sakura ditarik perlahan menjauh dan menuju ke balik tembok diluar tanah lapang yang cukup luas itu.
Di lain pihak, Gatou menyeringai dengan ekspresi mengejek. Menatap kepergian empat orang itu. "Kenapa kau membiarkan mereka pergi? Bukankah mereka bisa membantumu melawan kami?"
"Ie, cukup hanya aku saja untuk menghancurkan sampah-sampah seperti kalian..."
"Heh! Coba saja kalau kau bisa!"
Ctekk
Gatou menjentikan jarinya. Seketika itu juga, berbondong-bondong anak buah pria itu menyerbu Zabuza. Pria itu tampak tak gentar. Ia justru malah menembus kerumunan di depanya. Tujuanya hanya satu. Kepala Gatou!
Mula-mula Zabuza melumpuhkan satu orang yang memegang katana yang kemudian ia pakai sebagai senjata.
Crashh
Crashh
Crashh
Suara tebasan demi tebasan serta erangan kesakitan benar-benar terdengar mengerikan. Baik Naruto maupun Sakura kini terduduk bersandar ditembok dibalik tanah lapang itu. Tubuh keduanya sedikit banyak bergetar, terutama Sakura. Gadis itu sedikit meringkuk sambil menutup kedua telinganya, mencoba menahan suara-suara mengerikan itu untuk tak masuk ke rongga telinganya.
Dengan cepat Naruto merengkuh tubuh Sakura dan membenamkan wajah gadis itu kedadanya. Sambil terus mengelus lembut kepala bersurai pink-nya, mencoba memberikan ketenangan.
Pertarungan berdarah selama lima belas menit itu menjatuhkan semua anak buah Gatou. Zabuza sendiri, ia terluka parah dengan banyak senjata seperti pisau, katana, bahkan luka tembakan di sekujur tubuhnya. Ia seakan tidak peduli dengan tubuhnya yang hancur.
"Pergilah kau ke neraka, Gatou!"
"Aaarrggghh!"
Crashhh Jlebb
Cipratan darah mengotori tubuh Zabuza. Selesai sudah, pikirnya.
Pria itu berjalan terhuyung mendekati tubuh Haku yang sudah tak bernyawa lagi. Tubuhnya limbung tepat di samping mayat pemuda itu. "Haku..." Bisiknya pelan sampai akhirnya ia menutup mata untuk selamanya... menyusul kepergian Haku...
.
.
.
.
Tak ada satupun orang yang mau membuka suara. Diluar, tetesan air hujan mulai jatuh membasahi bumi. Sekarang hampir pukul 10 malam. Seharusnya Ichiraku Ramen tutup sejak satu jam lalu. Tapi karena 'kejadian tak terduga' serta karena diberi beberapa pertanyaan oleh polisi, terpaksa jam tutup molor dari waktu normal.
"Ehem!" Teuchi berdehem, memecah keheningan. "Sudahlah... Tidak perlu memikirkan hal tadi dalam-dalam. Yang terpenting tidak terjadi apa-apa pada kita, itu saja sudah cukup!" Hibur Teuchi. Memang sepertinya mereka perlu di tenangkan setelah kejadian tadi. Daripada terus diam, pria itu berpikir harus mengalihkan perhatian ketiga karyawanya agar tidak terus termenung.
"Benar kata ayah. Lebih baik tidak perlu memikirkan hal itu terus-terusan. Ayo kembali semangat untuk besok!" Sahut Ayame ikut memberi motivasi. Dua orang lainya, Naruto dan Sakura, tersenyum lalu mengangguk.
"Baguslah jika semuanya sudah kembali ceria. Lebih baik kita cepat-cepat menutup restoran dan berstirahat!"
Teuchi berjalan masuk ke dapur di ikuti oleh putrinya. Lagi-lagi kesunyian melanda. Atensi Sakura dialihkan ke pemuda yang duduk di seberang mejanya. Pemuda itu sepertinya masih terpikir-pikir kejadian tadi...
Ia lantas berdiri dan menghampiri pemuda blondie itu. "Hei, kita juga harus membantu Teuchi-jiisan dan Ayame-neechan, ayo!" Satu tanganya menepuk bahu pemuda itu.
"Ne, Sakura-chan..."
"Hm, nande?"
"...Bagaimana jika aku gagal? Bagaimana jika aku gagal melindungi orang yang kusayang seperti Zabuza?" Sakura kaget. Tatapan pemuda itu nampak pilu. Ia belum pernah melihat Naruto yang seperti ini. Sempat termenung karena Naruto, akhirnya ia tersenyum lalu merengkuh tubuh Naruto. Menekan kepala pemuda itu ke dekapanya.
"Aku tahu kau tidak akan gagal... Kau kan selalu sesumbar bilang kalau kau tidak akan gagal. Jadi jangan tarik kata-katamu sendiri." Sakura mengelus lembut rambut Naruto. Perlahan ia lepaskan pelukanya dan Naruto berdiri dari duduknya.
"Sakura-chan..." Naruto bisa tersenyum sekarang. Kedua tanganya perlahan membingkai wajah Sakura. Ia tak bodoh untuk menyadari jika wajah gadis dihadapanya merona karena ulahnya, tapi sepertinya tak begitu ia hiraukan. Dengan lembut ia mengecup sayang dahi lebar Sakura, membuat kedua mata Sakura membulat. Jantungnya bertalu-talu seperti mau meledak.
"Jangan marah. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku, hehe!" Ucap pemuda yang baru saja mencium keningnya cengengesen. Cepat-cepat pemuda itu kabur menuju dapur.
Sakura usap dahinya yang baru saja kena cium. Ia tersenyum dengan wajah yang kembali merona. "Mana mungkin aku marah, baka..."
.
.
.
.
TBC
A/N : Wuhuu! Chap 6 udah update! Terima kasih buat semua readers yang udah baca n' review chap sblumnya, kalian luar biasa guys!
Oh iya! Mulai di chap ini, setiap akhir dari chap akan saya berikan sedikit 'lost dialogue's' dari para karakter. Dialog itu adalah dialog yang sebenarnya ada di story tapi sengaja nggak dimasukin, paham gak? *readers: gak!*
Dan dialog itu akan menyinggung kejadian penting di chapter tersebut. Biar kerenan dikit, hehe ^,^
.
.
.
Lost Dialog:
Sakura : *blushing* "Ehm... Ke-kenapa tadi kau mencium keningku Naruto?"
Naruto : "Hm? Sudah kubilang untuk ucapan terima kasih, bukan?"
Sakura : "Selain alasan itu?"
Naruto : "Aku hanya ingin tahu saja bagaimana sensasi mencium kening selebar milikmu."
Sakura : "Apa katamu!?"
Naruto : "E-eh! Bu-bukan apa-apa kok!" *grin*
