Green Knight

Disclaimers : Not Me.

Inspirate : Blue Knight By X10AShadowfox.

Warning : OOC, Typo, sedikit Parody dari beberapa film, dan lain-lain.

XxXxXxXxXxX

Naruto Namikaze menyandarkan tubuhnya ke kursi yang sedang ia duduki. Di depannya duduk juga seorang laki-laki dengan rambut coklat dan mata hitam, di kedua pipinya terdapat semacam tato berbentuk taring dengan warna merah, dan jika diperhatikan pria itu memiliki 2 taring yang sedikit lebih panjang dari pada mahluk pada umumnya.

Mereka kini sekarang tengah berada di salah satu kafe untuk membicarakan sesuatu. Naruto menghela nafas, kemudian menatap pria di depannya yang juga menatapnya. Setelah beberapa lama mereka bertatapan, Naruto akhirnya memutuskan kontak mata mereka tersebut.

Menghela nafas sekali lagi, Naruto kemudian mulai berbicara. "Jadi….. apa ada sesuatu yang penting?" Tanya nya.

Pria itu tidak menjawab untuk beberapa saat, matanya tidak lepas dari Naruto yang kini tengah menikmati jus jeruk milik nya. Setelah beberapa lama, ia pun berbicara. "Ada, dan ini sangat penting."

Naruto seketika langsung menurunkan minuman yang tengah ia minum, kemudian meletakkan nya di atas meja bulat yang ada di depannya. Matanya menajam, dengan ekspresi serius. Naruto memajukan sedikit tubuhnya ke arah depan, kepalanya ia sanggah dengan kedua tangannya yang kini saling terkait di atas meja.

"Dan kalau boleh tahu, apa itu Kiba?" Tanya Naruto pada pria yang kini diketahui bernama Kiba.

Kiba atau Kiba Inuzuka lebih tepatnya, adalah salah satu teman sekaligus mata-mata bagi Naruto Namikaze. Kiba bukanlah manusia, melainkan seorang Malaikat Jatuh dengan 3 pasang sayap. Kiba juga merupakan salah satu bawahan terpercaya Gubernur para Malaikat Jatuh. Selain itu, Kiba juga merupakan satu dari ilmuwan terbaik yang ada di Grigori, banyak penemuan yang ia buat menjadi sangat berguna bagi para penduduk Grigori. Ia juga merupakan salah satu anak dari teman lama ayah Naruto, Minato Namikaze. Sekaligus teman masa kecil Naruto.

"Ini tentang Kokabiel." Jawab Kiba, mata Naruto semakin menajam ketika mendengar nama itu.

Naruto memang belum pernah bertemu dengan langsung dengan salah satu Jendral Malaikat Jatuh ini. Tapi setelah mendengar semua tentangnya dari Kiba dapat Naruto katakan ia mengenal Kokabiel. Menurut apa yang Kiba beritahukan pada Naruto, Kokabiel adalah seorang Malaikat Jatuh yang sangat senang berbuat masalah. Dengan tujuan untuk memulai kembali perang. Salah satu masalah yang disebabkan oleh Kokabiel yang masih Naruto ingat adalah: ketika Koakabiel berusaha membunuh dan mengambil manusia-manusia yang memiliki Sacred Gear. Dan setelah semua itu, bisa dikatakan Naruto membenci orang ini.

"Dan, apa lagi yang ia ingin lakukan kali ini?" Tanya Naruto, dengan sama sekali tidak mengubah posisinya. Satu-satu nya yang berubah adalah mata nya yang lebih menajam dari pada sebelumnya.

"Dia ingin memulai kembali Great War." Kata Kiba.

Mata Naruto semakin menajam, tangan nya yang bertaut semakin mengerat, serta aura di sekeliling nya mulai memberat. Beruntung mereka datang ke kafe 24 jam ini pada tengah malam, jadi tidak ada yang merasakan aura Naruto yang semakin memberat. sedangkan pekerja kafe ini entah berada di mana. "Sial! Apa kau tahu bagaimana dia akan melakukan itu Kiba?" Tanya Naruto dengan sedikit emosi.

"Rencana awalnya, adalah dengan mencuri pedang Excallibur dari pihak gereja. Selebihnya aku tidak tahu." Katanya masih dengan nada yang tenang.

Naruto hanya mengangguk, dirinya telah mengetahui berita tentang hilangnya pedang legendaris tersebut dari salah satu mata-mata nya yang ada di Gereja. Tetapi, ia tidak tahu bahwa pelakunya adalah Malaikat Jatuh, karena mata-mata nya mengatakan pelakunya adalah seseorang dari pihak Iblis.

"Baiklah…. Kau bisa pergi. Tapi ingat, carilah informasi mengenai masalah ini secepatnya." Titah Naruto.

Kiba mengangguk. "Oh ya, besok malam beberapa Malaikat Jatuh bawahan Kokabiel akan datang ke kota ini. Mereka akan membuat markas kecil di salah satu gereja tidak terpakai yang ada di sini." Kemudian Kiba segera pergi dari sana tanpa mengucapkan hal yang lainnya.

Setelah beberapa lama Kiba pergi, Naruto masih duduk di sana dengan posisi yang sama dan ekspresi yang masih serius.

"Kokabiel… jika kau memang menginginkan perang, dengan senang hati aku akan membawakan perang itu padamu."

xXxXx

4 orang Malaikat Jatuh mendarat tepat di depan gereja yang kini sudah tidak terpakai di hutan yang ada di kota Kuoh. Mereka secara bersamaan menghilangkan 2 pasang sayap yang mereka miliki. Dengan tertawa entah karena apa mereka masuk ke dalam gereja tersebut di pimpin oleh salah satu Malaikat Jatuh ber-rambut hitam yang nampaknya pemimpin dari mereka semua.

Setelah 20 langkah mereka memasuki gereja tersebut, secara serentak mereka berhenti ketika melihat laki-laki berpakaian ala seorang Pastor dengan tambahan penutup kepala yang menyebabkan seluruh tubuh laki-laki tersebut tertutupi, tengah menghadap mereka sembari bergumam beberapa hal. Laki-laki tersebut berada tepat di depan deretan kursi yang ada di samping para Malaikat Jatuh.

"Hei! Pak apa yang kau lakukan di sini?" seru salah satu Malaikat Jatuh tanpa rambut.

Laki-laki tersebut sama sekali tidak bergerak, atau pun berbicara.

"Oy! Dia berbicara pada mu." Kali ini yang berbicara adalah Malaikat Jatuh berambut pirang yang berdiri tepat di sebelah kanan si pemimpin rombongan.

Laki-laki itu masih tidak bergerak ataupun menjawab.

"Hei! Kau pastor kan? Kalau begitu pergi dari sini. Kami Malaikat." Bohong Si pemimpin.

Dan lagi-lagi laki-laki itu sama sekali tidak melakukan apa pun.

Merasa kesal karena sedari tadi terus dihiraukan 5 Malaikat Jatuh tersebut pun menggerakkan diri mereka masing-masing untuk mengepung pria yang mereka asumsikan sebagai seorang pastor ini. sehingga kini pria tersebut terkepung oleh 4 Malaikat Jatuh tersebut, dengan satu Malaikat Jatuh di sisi kiri dan kanan nya, satu di depan, dan satu di belakangnya. Namun laki-laki tersebut tetap tidak melakukan apa pun.

"Pastor! Lebih baik kau pergi dari sini! Atau kami akan menyerangmu!" seru Malaikat Jatuh yang berdiri tepat di belakang laki-laki tersebut.

"Dengan semua kekuatan dan kekuasan yang diberikan padaku…," Pria itu mulai berbicara, tanganya yang semula bertemu satu sama lain mulai turun dari sana. Para Malaikat Jatuh yang ada di sana menaikkan alis mereka bingung apa yang dilakukan oleh pria yang mereka anggap pastor ini. "Aku nobatkan kalian semua, sebagai…,"

Para Malaikat Jatuh tersebut semakin bertambah bingung dengan pria ini. Mereka sama sekali tidak tahu apa maksud kata-kata pastor aneh ini.

"Pria dan Pisau!"

Seru Pria itu dengan cepat. Secara tiba-tiba, pisau sudah ada di kedua tangan pria misterius tersebut. Dengan segera kedua pisau tersebut terbang dan mengenai Malikat Jatuh yang ada di kiri dan kanan pria tersebut, menyebabkan mereka terpelanting karena kekuatan lemparan tersebut.

Malaikat Jatuh yang berdiri di depan laki-laki tersebut tidak bisa berbuat apa-apa ketika pria tersebut menghujam pisau kecil tersebut ke perutnya. Malaikat Jatuh yang tersisa segera menyadari bahwa mereka kini tengah dalam bahaya. Dengan skill yang terasah ia melemparkan Light Spear pada pastor gila tersebut, yang dapat dengan mudah menghindari Light Spear tersebut. Tak mau terluka seperti teman-temannya, Malaikat Jatuh ini pun menciptakan satu buah pedang cahaya, kemudian dengan semua kecepatan yang ia miliki maju menyerang pria yang menurutnya pastor tersebut.

Pria yang masih tidak diketahui identitasnya tersebut tidak tinggal diam. Dilemparkan nya dua pisau yang ada di kedua tangannya dengan sekuat tenaga, namun Malaikat Jatuh tersebut dapat dengan mudah menangkis salah satu pisau kecil tersebut kemudian menghindari pisau yang satunya. Mendecih pelan, pria tersebut pun kembali mengambil 2 pisau kecil kemudian meyongsong maju ke arah Malaikat Jatuh yang juga berlari ke arah nya.

Dua senjata yang jauh berbeda itu berbenturan satu sama lain. Namun dengan cepat kedua pisau kecil miliki sang pria misterius hancur ketika bertabrakan dengan pedang cahaya milik sang malaikat jatuh, dengan decihan pria misterius itu melompat mundur menciptakan jarak cukup jauh di antara mereka. Malaikat Jatuh tersebut kemudian maju sembari mengerahkan pedang cahayanya pada si pria misterius tersebut. Melihat si Malaikat Jatuh berlari ke arahnya, sang pria misterius tidak diam saja. Dengan cepat ia mengisi celah-celah jarinya dengan 8 pisau kecil. Kemudian dengan seluruh tenaga yang ia miliki pria tersebut melemparkan 4 pisau kecil ke arah si Malaikat Jatuh.

Sang Malaikat Jatuh yang melihat 4 pisau menuju ke arah nya segera menebaskan pedang cahayanya yang kini sudah lebih besar dari yang tadi. Tepat saat si Malaikat Jatuh tersebut akan menebaskan pedang besarnya, pria misterius itu kembali melempar 4 pisau kecil yang ada di tangan kanannya dengan sekuat tenaga. Saat 4 pisau kecil telah terkena tebasannya dan melanting entah kemana, Malaikat jatuh tersebut sedikit menghela nafas kemudian melihat ke depan. Mata nya membulat saat melihat 4 pisau sudah berada di depannya dengan jarak 2 meter, mengetahui menebaskan pedang besarnya tidak akan berguna, Malaikat Jatuh tersebut itu pun terpaksa melompat ke atas sembari mengeluarkan 2 pasang sayap hitamnya. Itu tidak sepenuhnya berhasil, karena kakinya masih sempat tergores oleh salah satu pisau kecil tersebut.

Malaikat Jatuh itu sedikit meringis kerena merasakan kontak benda tajam tersebut dengan kulis nya. Dari atas ia dapat meilihat 3 temannya sudah bangun dan mengurung, pria misterius tersebut dengan pedang cahaya di tangan mereka masing-masing di todongkan pada leher pria tersebut dari tiga arah sekaligus. Ia tidak terkejut atau pun shock yang ia lakukan hanya lah menyeringai senang, bagaimanapun ia tahu rasnya tidak akan bisa dibunuh hanya dengan pisau mainan tersebut. Masih dengan seringai nya, Malaikat Jatuh tersebut perlahan membawa dirinya turun dari ketinggian.

"Terkejut?" Tanya Malaikat Jatuh berkepala botak, laki-laki itu hanya diam. "Kau pikir kau bisa membunuh kami dengan pisau mainan mu?!" katanya lagi dengan nada yang penuh akan hinaan.

Ke-4 Malaikat Jatuh tersebut tertawa terbahak-bahak. Sedangkan pria misterius tersebut sama sekali tidak melakukan apa pun.

"Apa yang akan kau lakukan sekarang sekarang, hah? Mengadu pada nenek mu?! Atau kau mau pulang dan memeluk ibu mu?!" Seru Malaikat Jatuh berambut pirang, itu lagi-lagi menyebabkan tawa meledak di ruangan tersebut.

"10, 9, 8…." Pria itu menghitung mundur.

Para Malaikat Jatuh tersebut kembali menaikkan alis mereka karena bingung. "Hei! Apa kau menghitung waktu kematian mu?"

Pria tersebut tidak merespon melainkan terus menghitung. "… 3, 2, 1. Sekarang!"

3 Malaikat yang menodongkan senjata nya pada pria misterius itu langsung jatuh tidak sadarkan diri. Malaikat Jatuh yang tersisa membulatkan matanya tidak percaya. "Hei apa yang kau lakukan?!" tanya nya dengan penuh amarah, pedang cahaya kembali tercipta di tangan kanan nya.

Pria misterius itu mendengus kecil. "Apa kau berpikir aku cukup bodoh melawan kalian hanya dengan pisau biasa hah?" Katanya, menyebabkan Si Malaikat Jatuh tersebut sedikit bingung. "Maaf saja, aku tidak sebodoh itu. Semua pisau yang kau bilang mainan itu mengandung racun, yang bahkan para Malaikat Jatuh seperti kalian tidak akan kuat melawan nya." Jelas nya.

Malaikat Jatuh tersebut kembali melebarkan matanya, diiringi dengan sekujur tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin. "Kau pasti bercanda kan?! Tidak ada di dunia ini racun yang mempan pada kami!" seru nya dengan nada yang sama keras serta besar, namun pria misterius tersebut dapat dengan jelas mendengar nada ketakutan dari Malaikat Jatuh di depannya ini.

Pria itu kali ini tertawa misterius, menyebabkan Malaikat Jatuh yang ada di depan nya merinding. "Heh, kalau tidak percaya. Lihat saja teman mu itu," Ia menunjuk 3 Malaikat Jatuh yang kini telah terkapar tidak berdaya. "Tenang saja, kau tidak akan mati kok." Kata nya dengan nada ceria.

Tubuh Malikat Jatuh tersebut bergetar hebat, ekspresinya menunjukan ketakutan yang luar biasa. "Sia-siapa ka-kau?" tanya nya dengan suara bergetar.

"Aku hanya lah manusia yang menginginkan perdamaian," Kata pria tersebut dengan sebuah senyuman yang tidak terlihat oleh si Malaikat Jatuh. "Sekarang, sampai jumpa!"

Dan Malaikat Jatuh tersebut jatuh tidak berdaya.

Pria tersebut menurunkan, penutup kepala yang ia pakai. Menampakkan rambut pirang jabrik yang cukup panjang dan mata sapphire yang indah. Wajahnya terhiasi oleh 3 garis yang berada di masing-masing pipinya, layaknya seekor rubah.

Naruto menghela nafas berat, sembari menggaruk bagian belakang kepalanya. "Aku bingung, kenapa Jason Statham di 'The Expendables' mudah sekali melakukan ini." Naruto bergumam pada diri nya sendiri.

Mata nya melirik ke 4 tubuh tidak berdaya milik Malaikat Jatuh yang ada di sekeliling nya. Seketika itu pula senyum Setan datang ke wajah Naruto. "Baiklah… waktu nya 'wawancara'!" serunya dengan semangat.

XxXxX

Naruto menjambak rambutnya sendiri dengan penuh frustasi. "Arrrgghhhhh…..!" erang nya dengan penuh ke frustasian di dalam nya.

Naruto kini tengah berada di dalam laboratorium khusus milik nya sendiri yang di bangun oleh ayah nya, Minato. Saat mengetahui Naruto memiliki kegemaran dan bakat yang luar biasa besar dalam menemukan sesuatu. Ruangan ini tepat berada di bawah rumah keluarga Namikaze tinggal, alias di bawah tanah. Minato sendiri yang men-desain ruangan ini serta segala interiornya. Pada waktu Minato pertama kali menunjukan ruangan ini, Naruto sangat lah senang. Dan sejak saat itu, Naruto selalu berada di ruangan ini jika sedang tidak ada jadwal latihan.

Hal yang menyebabkan Naruto menjadi frustasi adalah: susahnya mencari sumber energy yang pas untuk alat yang tengah ia kerjakan saat ini. memang, Naruto pernah menemukan sumber energy yang cocok untuk alat ini, tapi sumber energy tersebut tidak jadi ia pakai karena terlalu cepat habis. Sumber energy yang ia butuhkan adalah sumber energy yang kuat, tahan lama, dan kalau bisa senatural mungkin. Dan bisa dikatakan sumber energy seperti itu sangat lah sulit dicari, bahkan mungkin tidak ada sama sekali.

Naruto telah berada di ruangan ini selama 5 jam, ia datang kemari setelah menyelesaikan sesi 'wawancara' dengan para Malaikat Jatuh yang ia kalahkan, dan bisa dibilang 'wawancara' tersebut berakhir dengan baik. Yah, walaupun penuh dengan jeritan dari para 'narasumber'. Dari yang Naruto dapat dari para Malaikat Jatuh tersebut. Kokabiel berencana membunuh adik Maou Lucifer untuk memancing kaum Iblis untuk kembali berperang. Sedangkan untuk pihak Surga, Kokabiel tidak perlu repot-repot lagi, bagaimana pun ia telah berhasil membuat pihak Surga sedikit terprofokasi dengan tercurinya pedang suci mereka oleh bawahan Kokabiel. Berarti. jika, adik Maou Lucifer tersebut terbunuh, dan kemudian Pihak Malaikat Jatuh dan Iblis berperang. Dapat dipastikan tidak lama setelah itu, pihak Surga juga pasti akan ikut andil dalam perang tersebut. Dan jika itu benar-bernar terjadi, maka Great War kedua akan terjadi lagi.

Jadi, setelah semua itu. Berhasil atau tidaknya rencana Kokabiel tersebut, hanya tergantung pada satu orang:

Rias Gremory.

Naruto telah mencari semua data, mengenai Rias Gremory. Tepat setelah 'narasumber' milik nya memberitahukan semua rencana Kokabiel, dan dengan semua koneksi yang ia miliki dan butuhkan, tidak perlu waktu lama untuk mencari data mengenai Rias Gremory. Naruto telah membaca seluruh data yang ia dapatkan, dan bisa dikatakan Naruto sedikit kagum dengan sosok Rias Gremory. Bukan karena yang lainnya, tapi karena body nya yang luar biasa itu. Dan juga oppai nya yang luar biasa gede itu. Sedangkan untuk yang lainnya menurut Naruto, Rias Gremory itu biasa saja.

Menghela nafas lelah, Naruto segera membereskan segala sesuatu yang tadi ia butuhkan untuk menyempurnakan alatnya. Sedangkan untuk alat tersebut ia pajang seperti yang lainnya, dan akan ia selesaikan nanti.

Kaki Naruto bergerak ke arah futon yang ada di sana. Ya, karena seringnya Naruto berada disini, ia memutuskan untuk membawa futon ke sini karena terkadang ia terlalu lelah untuk tidur di atas. Membaringkan badannya, Naruto menutup matanya untuk tidur melepas penat. Lagi pula Kokabiel, baru akan bergerak besok.

xXxXx

"Apa kau bilang?!"

Seru sosok marah Kokabiel pada salah satu bawahannya yang kini sudah benar-benar ketakutan.

"Y-ya Tu-tuan, 4 orang Malaikat Jatuh yang anda kir-kirim di temukan mati di tem-tempat yang seharusnya menjadi markas kit-kita." Ulang nya dengan terbata-bata, karena muka marah Kokabiel yang begitu menyeramkan.

"Bagaimana itu bisa terjadi?!" teriak Kokabiel, sembari menggebrak meja kerja milik nya.

Bawahan Kokabiel melompat sedikit karena terkejut atas aksi Kokabiel. "Kam-kami tid-tidak tahu tuan." Jawabnya lagi, dengan suara terbata-bata.

"Bagaimana bisa kau tidak tahu!" Bentak Kokabiel, bawahan yang ada di depannya sudah tampak ingin menangis saat ini. "Lalu, kalian tahu saiapa pelaku nya?" tanya nya, nada nya sudah sedikit menurun.

"Kami ju-juga tidak tah-tahu tuan." Jawab nya dengan takut-takut.

"APA?! Bagaimana kau bisa tidak tahu, HAH?! Apa saja yang kalian lakukan dari sini?!" teriak nya lagi dengan penuh amarah.

Bawahan tersebut hanya diam dengan badan yang bergetar.

Kokabiel sekarang benar-benar marah. Bukan karena bawahan nya yang mati, ia masih memiliki banyak bawahan. Tapi karena ada yang berani mengganggu rencana hebat milik nya, dan yang lebih mengesalkan Kokabiel adalah semua bawahan yang ia miliki sama sekali tidak berguna.

"Sekarang pergi! Cari tahu siapa pelakunya!" Perintah nya.

"Ha'i." Kata sang bawahan sembari menunduk memberi hormat, kemudian segera pergi.

Setelah bawahan nya pergi, Kokabeil menghela nafas berat. Punggung nya ia sandarkan ke kursi kerja milik nya, tangan nya berada di kedua sisi kursi tersebut, menjadi penopang wajah nya agar tetap tegak. "Siapa pun kau, aku tidak akan membiarkan kau mengganggu rencana ku." Gumam nya pada diri sendiri.

XxXxX

Hari ini adalah hari penyerangan Kokabiel, dan menurut 'narasumber' yang ia 'wawancara'. Kokabiel akan menyerang pada malam hari.

Dan di sini lah Naruto sekarang berada, di ruangan yang sama saat ia mengetahui bahwa ayah nya adalah Green Knight. Pahlawan bagi sebagian orang, dan penjahat bagi yang lain. Ruangan ini sama sekali tidak berubah saat pertama kali ia memasuki ruangan ini. Ruangan ini masih berwarna putih, tanpa isi apa pun di dalam nya, terkecuali replica manusia berpakaian Green Knight milik ayah nya, dan bantal kecil yang sekarang ia duduki.

Naruto sama sekali belum pernah memakai kostum Green Knight, walaupun ayah nya telah mengajarkan kekuatan Green Knight dan mengatakan bahwa ia telah pantas memakai kostum tersebut. Naruto bukan nya tidak mau kostum milik ayah nya ini, tapi ia hanya merasa dulu bukan lah waktu yang tepat. Dirinya tidak lah bodoh, ia tahu jika ia memakai kostum ini, Itu akan menyebabkan para mahluk supranatural akan memburu nya, atas semua yang telah ia lakukan. Lagi pula dulu ia sama sekali tidak memiliki alasan untuk memakai kostum ini, bagaimana pun saat itu tidak lagi ada perang ataupun hal buruk. Terkecuali untuk perang sesama Iblis yang ia dengar dari seorang teman, Naruto tidak memikirkan hal itu. Karena selama perang itu tidak mengganggu manusia atau dunia ini, ia tidak akan mau mengurus hal semacam itu.

Namun sekarang berbeda. Dunia telah kembali diancam bahaya perang, karena seseorang. Dan tentu saja Naruto tidak akan membiarkan hal itu, tidak akan pernah. Dan itu sudah cukup bagi Naruto untuk memakai kostum Green Knight. Minato pernah mengatakan pada Naruto bahwa sekali saja ia muncul memakai kostum ini, dunia akan akan menjadi gempar. Banyak orang dari Ras manapun akan mencari Naruto, baik untuk membunuh atau pun tidak. Ini lah salah satu yang menyebabkan Naruto tidak mau menggunakan kostum ini. Namun itu dulu, sekarang ia kan menelan semua resiko yang akan ia dapatkan jika memakai kostum ini. karena baginya, dunia lebih penting dibandingkan dirinya.

Minato selalu mengatakan pada Naruto, menjadi Green Knight tidak lah mudah. Karena tugas yang diemban oleh Green Knight sangat lah sulit, dan sekali Green Knight melakukan sesuatu, Green Knight tidak akan bisa berhenti. Dan itu semakin membuat Naruto ragu.

"Hah… jadi ini lah saat nya aku memakai ini?" Tanya Naruto pada dirinya sendiri.

Pikiran dan hatinya sekarang masih ragu-ragu dan takut untuk memakai kostum ini, bukan karena kostumnya tapi karena tugas yang akan ia emban. "Perduli setan! Mau tidak mau harus ku pakai!"

Ya, Perduli Setan. Naruto akan memakai kostum ini dan menunjukan pada dunia, bahwa Green Knight telah kembali.

xXxXx

Sona Sitri, adalah gadis yang cerdas. Dan layaknya seperti semua Sitri, ia adalah orang berkepribadian yang tenang dan memiliki aura kepemimpinan, pengecualian untuk kakak nya, Serafall Sitri atau yang sekarang adalah Serafall Leviathan.

Sona tidak seperti gadis pada umumnya yang tertawa sepuas hati dan dengan mudah meng-ekspresikan apa yang sedang mereka rasakan dari raut wajah dan gerak tubuh, baik menangis, tertawa, ataupun yang lainnya. Ia tidak pernah meng-ekspresikan semua yang ia rasakan secara langsung, semua yang ia rasakan ia sembunyikan dengan topeng datar dan keras yang ia miliki.

Dirinya memang sangat menginginkan bisa mengekspresikan dirinya sesuka hatinya, tapi ia tidak bisa. Karena keceradan nya itu Sona tahu ia tidak akan bisa begitu, karena dirinya adalah heir dari salah satu klan terkuat di Underworld. Dengan itu juga ia tahu, dirinya akan mempermalukan klan nya sendiri jika bersikap seperti itu.

Namun semua itu tidak berlaku sekarang, topeng datar yang ia pakai sekarang sudah pecah. Menampakan ekspresi ketakutan dan sedih karena pemandangan yang ada di depan nya ini. Di sana, tepat di dalam barrier yang ia dan budak nya ciptakan. Sahabat nya semasa kecil dan orang yang paling mengerti dirinya, tengah dihajar oleh seorang Malaikat Jatuh.

Sona ingin membantu, sungguh ia ingin membantu, tapi ia tidak bisa. Dirinya harus menjaga barrier ini agar tetap ada, agar mahluk 'bodoh' bernama manusia tidak mengetahui bahwa mereka ada. Selain itu, dirinya dan budak nya tidak memiliki kekuatan yang sama seperti yang dimiliki oleh Rias dan para budak nya tersebut. Akan sangat bodoh jika ia tetap memaksakan diri membantu sahabat nya tersebut.

Sona melihat keatas langit dengan tatapan memohon. 'Ku mohon…. Berilah kami keajaiban…' pinta nya pada langit malam.

Bersamaan dengan permintaan yang tercetus di dalam hati tersebut. Sona menyadari sesuatu yang aneh, mungkin ini fenomena teraneh yang pernah ia lihat. Langit malam berubah warna menjadI,

Hijau.

XxXxX

Rias melihat seluruh 'keluarga' nya dengan pandangan sedih. Ia benar-benar tidak mengira bahwa dirinya tidak cukup kuat untuk berhadapan dengan 1 Malaikat Jatuh, ia memang tahu banyak sekali mahluk yang lebih kuat dari nya, ia juga tahu banyak orang yang bisa membunuh nya dan para budaknya. Namun yang tidak ia kira adalah, dirinya akan terbunuh oleh satu Malaikat Jatuh. Bahkan Issei –budak terkuatnya. Sekarang hanya bisa berbaring tidak berdaya sama seperti yang lainnya. Bahkan yang bisa bergerak hanya lah dirinya dan Asia, itu pun karena mereka dilindungi oleh yang lain.

Pandangan nya sekarang terarah pada Jendral Malaikat Jatuh, yang sekarang tengah menyiapkan banyak sekali senjata berbagai ukuran di belakang tubuh nya, berniat membunuhnya sekaligus dengan seluruh 'keluarga' nya. Rias tidak masalah jika dirinya mati saat ini juga, yang ia permasalahkan adalah seluruh budaknya ini. Dirinya tidak mau mereka mati bersama dirinya, ia mau seluruh budak nya untuk bisa hidup lebih lama dari pada dirinya. Dirinya ingin semua budak nya merasakan bagaimana rasanya menjadi tua dan memiliki anak, dirinya ingin mereka bahagia walaupun tidak ada dirinya. Maka dari itu, Rias membulatkan tekat nya dan maju 5 langkah dari para budak nya yang sudah tidak dapat berbuat apa-apa karena melindungi dirinya.

"Kokabiel, kau bisa membunuh ku…." Kata nya dengan pelan, namun cukup untuk didengar oleh semua orang. "Tapi ku mohon, lepaskan mereka semua…." Pinta nya lagi.

Rias dapat mendengar berbagai protes dari para budaknya. Namun ia menulikan telinga nya, dan tetap menatap Kokabiel dengan mata biru kehijauan yang berisikan banyak emosi tersebut.

Kokabiel tiba-tiba tertawa, mengejutkan Rias dan para budaknya. "Membunuh mu tentu saja… tapi melepaskan mereka tidak? Itu tidak akan terjadi!"

Baru saja Kokabiel akan melontarkan berbagai macam senjata yang terbuat dari cahaya di belakang badan nya. Ketika secara tiba-tiba barrier yang melindungi pertarungan mereka agar tidak terlihat oleh mahluk lain pecah berkeping-keping. Secara serentak mereka melihat ke langit saat bunyi petir sampai ke telinga mereka, betapa terkejutnya mereka saat melihat langit telah berubah warna menjadi hijau. Dan juga seseorang turun dengan pelan dari langit.

Orang tersebut, dari penglihatan mereka adalah seorang laki-laki yang cukup tinggi. Ia memakai pakaian yang lebih mirip kulit kedua berwarna campuran hijau dan hijam, di dadanya terdapat lambang lentera yang terlihat dengan jelas. Sebagai pelengkap laki-laki tersebut memakai jubah berhoodie yang menutupi kepalanya. Wajah laki-laki tersebut tidak terlihat oleh mereka, yang terlihat hanya lah mata hijau yang bersinar.

Mata Kokabiel melebar saat otak nya telah selesai mengidentifikasi siapa pengganggu yang baru datang. Memory-memory saat perang dahulu kembali terulang di kepalanya, memory tentang orang yang menagaku manusia membantai banyak pasukan dari ketiga fraksi. Ketakutan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, menyebabkan tubuhnya bergetar hebat, pikiran nya mulai panic ketika orang tersebut mendarat tepat di sebelah kanan Rias Gremory.

Rias menatap dengan kebingungan saat orang yang menurutnya aneh tersebut mendarat tepat di sebelah kanannya. Rias sangat terkejut, ketika melihat bagaimana orang tersebut dengan mudahnya mengambang di udara tanpa menggunakan sayap. Yang menambah keterkejutannya adalah warna langit yang sekarang berwarna hijau. Rias juga sadar para budaknya juga sama terkejutnya dengan dirinya, terbukti dari ekspresi mereka yang terlihat dari ujung matanya. Baru saja ia akan berbicara, suara bergetar Kokabiel telah mendahuluinya.

"Ka-kau…. Ti-tidak mung-mungkin."

"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Kokabiel…." Jawab laki-laki Misterius tersebut.

Rias dan para budaknya (Sona dan budaknya juga) memperhatikan dengan bingung, bagaimana orang se-arogan dan harus mereka akui, kuat. Kokabiel menjadi ketakutan seperti itu, mereka benar-benar tidak mengerti padahal Kokabiel yang tadi begitu percaya diri langsung ketakutan ketika melihat kedatangan orang aneh ini. Mereka mengalihkan penglihatan mereka dari Kokabiel, ke si pendatang saat ia berbicara.

"Kokabiel…. Aku tidak bisa membiarkan kau bertindak lebih dari ini…" orang tersebut memberi jeda, semua orang menajamkan telinga mereka agar dapat mendengar lebih jelas apa yang ia akan katakan selanjutnya. "Karena itu, bersiaplah untuk mati."

xXxXxXxXxXx

Chapter ini saya skip 100 tahun dari chapter sebelumnya, jadi umur Naruto itu jauh lebih tua dibandingkan Issei dkk.

Okay, sebenarnya chapter ini sudah saya selesaikan pada 2014 kemarin. Tapi, karena tidak yakin untuk meng-updatenya, saya akhirnya lupa tentang Chapter ini. Secara tidak sengaja, saya kembali menemukannya, dan akhirnya memutuskan untuk meng-updatenya, karena ada beberapa reader yang memintanya.

Dan untuk diingat, Chapter ini sama sekali tidak saya perbaiki sedikitpun, hanya note ini yang saya tambahkan. Jadi, fic ini gaya penulisannya sangat berbeda dengan fic terbaru saya, seperti Smaal changes.

Sekian dan Terima Kasih.

RnR?

Silver M.