Naruto mengayuh sepeda tua nya dengan santai sambil sesekali bersiul. Melewati indahnya malam ini dengan senyuman tiga jarinya. Senyum tiga jarinya seketika hilang saat melewati taman. Ia melihat 3 preman mabuk sedang menganggu seorang gadis.

"Gadis manis . hik.. ayo ikut kami .. hik. " ucap seorang preman.

"Ih, tidak mau." Sergah gadis itu sambil menepis tangan preman yang mencoba menyentuhnya.

"Wah.. hik. Kasar sekali ya.. kita serang.." perintah preman yang lain. Saat ketiga preman itu menghampiri gadis itu dengan wajah garang. Tiba-tiba..

"TIDAK! Jangan seenaknya merendahkan wanita gitu dong!" teriak pemuda jabrik pirang , Naruto, sambil mendorong salah satu preman sampai terjatuh. Mengundang pandang kedua preman lainnya. Kedua preman lainnya pun memukul Naruto hingga Naruto terpelanting. Naruto yang notebene tak bisa beladiri itu hanya pasrah menerima pukulan lelaki itu. Hingga.. tiba-tiba gadis itu menendang –sensor- ketiga preman itu sangat cepat sampai ketiga preman itu menjauh. Gadis itu menghampiri Naruto yang babak belur.

"Hah?!"

"Uzumaki-san?"

"Hinata-san?"

"Terima kasih ya kau mencoba menolongku tadi. Ini." Hinata merogoh sakunya dan memberikan sapu tangan berwarna lavender. Naruto pun menerimanya.

'Ck.. aku nyoba nolong, tapi kenapa aku yang di tolong? Lemah sekali sih aku ini." Naruto bengong sambil mengusap sekitar bibirnya yang penuh darah dengan sapu tangan Hinata yang berbau lavender. Naruto jadi merasa malu sendiri.

"Kau sedang apa disini, Uzumaki-san?" Hinata memecah lamunan Naruto.

"E-eh ? aku tadi mau makan malam di Kedai Ichiraku. Saat melewati taman ini, aku melihat ada 3 preman menganggu seorang gadis. Yasudah aku kesini aja. Trus, Hinata-san knapa tadi duduk sendiri di taman ?"

"Mm.. aku sedang pengen duduk aja. Eh, tiba-tiba aku jadi merasa lapar. Aku boleh ikut tidak ke Kedai.. Ich- eh, apa sih namanya?" Naruto terkejut.

"Ke-kedai Ichiraku, Hinata-san."

"Baiklah. Aku boleh ikut ya Uzumaki-san?" Naruto terlihat berfikir.

"Tentu. Tapi aku naik itu. Apa kau mau naik sepeda bobrok seperti itu?" Naruto menunjuk sepeda tua yang tidak jauh dari mereka. Hinata menoleh kearah tunjukan tangan naruto. Hinata terlihat berfikir.

'Apa Hinata-san mau ya naik sepeda itu? Kan biasanya dia naik limosin mewah kalau gak sepeda motor mahal.' Pikir Naruto.

"Mm.. Bolehlah. Ayo, tunggu apa lagi Uzumaki-san." Hinata menarik tangan Naruto menuju sepeda tua itu. Naruto terkejut sekaligus senang. Dia tersenyum dalam diam. Naruto pun menaiki sepeda itu. Diikuti Hinata yang duduk di sadel belakang.

"Sudah siap, Hinata-san?"

"Siap." Hinata mengacungkan jempolnya ke arahku. Naruto tersenyum dan memancal pelan sepeda tua nya menuju kedai Ichiraku dengan perasaan senang.

'Sepertinya malam ini akan sangat menyenangkan' Pikir Naruto.

Seorang pemuda berambut coklat panjang menghentikan aktifitas nya melihat Hinata dan Naruto dengan teropong panjang yang terdapat di salah satu rumah besar yang dari luar terlihat seperti rumah hantu. Neji –pemuda itu- menghembuskan nafas lega.

"Bagaimana dengan Hinata-chan, neji?" Tanya seorang pemuda bersurai jabrik coklat sambil tetap memegang pokernya. Ternyata pemuda itu bermain poker dengan ke 3 temannya.

"Dia pergi bersama Uzumaki." Jawab Neji. Ke empat pemuda itu –Shikamaru, Lee, Kiba dan Shino- menghentikan aktifitas nya dan menatap Neji intens.

"Kok bisa dia sama Naruto? Dimana Uchiha gila itu?" Tanya Kiba menekan kata Uchiha Gila.

"Pasti dia senang-senang dengan pacarnya dan meninggalkan Hinata-sama sendirian disana. Apalagi tadi ada preman gangguin dia. Untung saja Hinata-sama menggunakan teknik karate nya dengan baik. Ck. Uchiha terkutuk." Cetus Neji geram.

"Ah , sudahlah Neji. Sepertinya Naruto itu orang baik-baik kok. Biarkan saja Hinata bersama dengannya untuk malam ini." Ucap Chouji datang tiba-tiba dari arah dapur sambil membawa nampan berisi keripik kentang. Neji menghela nafas.

"Hhh, ya semoga saja."

"Apa hari ini tidak ada misi, Neji ?" Tanya Shino yang semula diam.

"Sepertinya tidak ad-"

TING

Mereka yang semula santai dengan aktifitas masing-masing, mulai mengerubungi layar monitor sebesar Tab yang terpasang di salah satu dinding dengan tegang. Layar monitor menunjukan foto seorang pria dewasa. Yang sepertinya adalah anggota DPR. Foto pria itu hilang. Digantikan dengan video seorang pria yang terdapat dalam foto tadi tengah mengendap-ngendap di dalam ruangan Gubernur dan membuka salah satu brankas. Mengambil seluruh uang rakyat yang terdapat disana. Lalu tertawa lepas. Keenam cowok itu geram. Kini, video calling terpampang di hadapan mereka. Dengan pria jangkung yang menatap keenam cowok itu dengan ekspresi kesal.

"Rookie 12, kalian liat sendiri kan? Masino Fujiyama, anggota DPR I mencuri uang-uang itu? Aku tak ingin dia kembali memakan uang rakyat. Jadi, aku ingin kalian membunuh dia cepat atau lambat. Sebagai imbalannya, aku akan member kalian uang sebesar 100Juta. Kalian tertarik? Sedikit informasi, dia tinggal di Jl Balai Konoha Barat Blok H gang 9 No 12." Ucap pria jangkung yang mereka kenal sebagai Ketua DPR dari video calling. Neji selaku ketua menoleh kearah teman- temannya yang dib alas dengan anggukan.

"Baiklah, Cepat atau lambat kita akan membunuh Masino Fujiyama itu." Ucap Neji tegas. Ketua DPR itu pun tersenyum simpul.

"Terima kasih. Laksanakan baik-baik." Lalu monitor itu pun mati dengan sendirinya.

"Masino Fujiyama, Anggota DPR I. kemarin telah mencuri uang rakyat sebesar 2,5 Milyar. Tidak ada yang mengetahui hal ini. Kecuali ketua DPR. Dia juga pernah memperkosa seorang wanita muda dan membunuhnya begitu saja. Wah, jahat sekali." Ujar Kiba membaca Inbox di situs rahasia Rookie 12 dari Laptop nya.

"Siapkan senjata kalian. Kita mendapat misi special hari ini. Ayo keruang pertemuan." Perintah Neji. Semuanya pun segera menuju ruang pertemuan. Lalu duduk melingkar diatas karpet yang terdapat di ruangan itu.

"Ck. Menyedihkan sekali dia. Jadi, apa rencanamu Shikamaru?" Lirih Neji.

"Jadi begini, aku tadi telah melihat kondisi rumah Masino itu dari Tab ku. Rumahnya bertingkat dua. Ada CCTV di setiap sudut rumah itu. Dan kamar masino terdapat di lantai dua. Rumah itu dijaga oleh banyak Security. Di luar kamar Masino sendiri, terdapat 10 penjaga yang tengah menjaga Masino dari luar. Kiba, kau buat kerusuhan dengan Shino di luar rumah itu. Lalu Chouji, kau pecahkan semua CCTV disetiap sudut rumah itu. Sedangkan Lee dan Neji masuk kedalam rumah itu dan segeralah menuju ke lantai dua. Aku akan disini. Memecahkan setiap kode yang ada di rumah itu. Mengawasi kalian. Dan memberi instruksi pada kalian. Pasang Headset kalian dengan baik. Juga pasang kacamata ini. Agar aku bisa melihat sudut pandang kalian masing-masing. Laksanakan." Jelas Shikamaru yang dib alas anggukan oleh Kiba, Shino, Chouji, Lee dan Neji.

Rookie 12 minus Shikamaru pun segera memakai Headset, Kacamata hitam dan penutup kepala berwarna hitam agar tak ada yang mengenali mereka. Tak lupa baju lengan panjang serba hitam. Kiba segera mengambil ShotGun dan pisau yang diselupkan di saku baju Rookie nya. Shino menyelipkan pedang di punggungnya dan Pistol di saku celana panjangnya. Rocklee hanya menyelipkan Pisau dan ShotGun di saku Celana panjangnya. Chouji menyelipkan Bom asap 3 buah, Pisau dan Pistol di saku baju Rookie nya. Neji sendiri menyelipkan Pedang di punggungnya, Pisau dan ShotGun di saku baju Rookienya. Persiapan Completed.

"Kalian siap?" Tanya Shikamaru.

"Ha'i" Jawab mereka tegas. Mereka pun melakukan Tos Rookie sebelum menjalankan misi. Mereka berlima pun segera keluar rumah itu diam-diam dan menuju rumah Masino Fujiyama.

"Nah, kita sudah sampai, Hinata-san." Ujar Naruto sambil memarkir Sepeda tua nya di depan Kedai Ichiraku yang tidak terlalu besar itu. Hinata pun turun dari sepeda Naruto. Mereka berdua pun masuk ke dalam kedai dan duduk berhadapan di salah satu tempat duduk.

"Teuchi-Jiisan." Panggil Naruto. Yang di panggil Teuchi itu pun menghampiri meja Naruto dan Hinata.

"Ada apa Naru- Hinata-Sama , suatu kehormatan seorang putri Hyuuga makan di Kedai sederhana ini." Ucap Teuchi sambil membungkuk saat melihat Hinata di depan Naruto. Hinata hanya tersenyum pada Teuchi.

'W-woah, Hinata sangat disegani ya..' Pikir Naruto.

"Anda mau pesan apa, Hinata-sama?" Tanya Teuchi seformal mungkin. Naruto hanya merenggut.

"Oi-oi Teuchi-jiisan , kau tidak bertanya padaku mau pesan apa?" Protes Naruto. Hinata hanya terkikik geli. Teuchi menoleh kea rah Naruto.

"Huff, Naruto. Kau itu. Hutang mu masih menumpuk. Masih mau pesan saja. Kau harus bayar hutangmu dulu baru boleh pesan." Cetus Teuchi. Naruto hanya menghela Nafas.

"Tapi hari ini aku hanya punya uang lima ribu, Teuchi-Jiisan. Huff, kau jahat sekali sih." Naruto mendengus.

"Motto kami adalah 'Bayar dulu hutangmu, Baru boleh pesan sesuatu' Mengerti Naruto?" Ucap Teuchi lagi. Naruto hanya meyipitkan matanya lalu menghela nafas lagi.

"Baiklah-baiklah. Hari ini aku tak makan. Puas kau?" Ujar Naruto sambil meletakkan kepalanya di meja.

"Itu lebih ba-"

"Akan ku bayar hutang Uzumaki-san, Teuchi-san. Berapa hutang Uzumaki-san?" Lirih Hinata sambil mengeluarkan dompet berwarna Lavender nya. Teuchi maupun Naruto kaget dengan pernyataan Hinata.

"E-eh, Hinata-san. Tidak usah. Lagipula aku sudah biasa tidak makan malam kok. Tidak usah tidak usah." Ucap Naruto cepat sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan wajahnya. Hinata pun tersenyum.

"Tidak apa-apa, Uzumaki-san. Lagipula kalau tidak di bayar hutangnya, Uzumaki-san tidak bisa menemaniku makan dong. Baiklah, berapa hutang Uzumaki-san, Teuchi-san?" Ujar Hinata pada Naruto lalu menoleh kea rah Teuchi yang bengong. Teuchi segera tersadar dari bengongnya.

"100Ribu. Hutang Naruto 100Ribu, Hinata-sama." Tandas Teuchi cepat. Hinata pun mengeluarkan dua lembar 100Ribuan dan meletakkannya di atas meja sambil tersenyum.

"Siapkan makanan paling special di kedai ini untukku dan Uzumaki-san. Sekalian minumnya ya," Lirih Hinata masih dengan SEnyum manisnya.

"Ba-baik." Ucap Teuchi cepat sambil mengambil uang 200Ribu itu dan berlalu menuju dapur.

"Hinata-san, kenapa begitu? Aku jadi ngerepotin nih." Ucap Naruto.

"Tidak kok. Sudah lah terima saja, Uzumaki-san. Pemberian orang tidak boleh ditolak loh." Jelas Hinata. Naruto hanya memasang senyum terbaik nya.

"E-eh , Hinata-san. Kalau Hinata-san tak keberatan. Panggil aku Naruto saja. Kalau Uzumaki-san jadi kayak formal gitu. Hehe.. kalau tidak keberatan sih." Pinta Naruto sambil cengengesan.

"Oh , Baiklah. Naruto. Oh ya aku boleh Tanya sesuatu nggak?"

"Tentu, Hinata-san."

"Uzumaki. Aku tak pernah tau nama keluarga itu di Konoha ini. Ah maksudku, Ayah ku menyuruhku untuk tahu nama-nama keluarga di Konoha ini. Tapi, aku baru sekali ini tau ada orang yang bermarga Uzumaki."

"Tentu saja, Hinata-san. Orang tua ku sudah meninggal sejak aku kecil. Aku tak tau dimana keluarga ku yang lain. Aku sendiri disini. Aku tinggal sendiri di kos-kosan kumuh di Konoha barat. Haha.. Begitulah." Ujar Naruto mencoba tidak memasang wajah sedih dengan tertawa dan menggaruk kepala belakang nya. Hinata jadi merasa bersalah.

"Maaf-maafkan aku Naruto. Aku tak tau." Ucap Hinata menyesal. Hinata tau Naruto sedih. Tapi menutupinya. Naruto hanya tersenyum.

"Makanan datang. Ramen special dan Ice Tea Special untuk Hinata-sama dan Naruto. Silahkan di makan." Ujar Teuchi yang tiba-tiba datang sambil meletakkan Dua mangkok ramen special dan dua gelas Ice tea di hadapan Naruto dan Hinata.

"Terima Kasih"

"Ee.. Ini kembaliannya, Hinata-sama." Lirih Teuchi sambil menyodorkan selembar uang Limapuluh ribuan dan selembar uang duapuluh ribuan. Hinata tersenyum.

"Kembaliannya tak usah, Teuchi-san." Ucap Hinata.

"E-eh . tidak Hinata-sama. Motto kami adalah 'Kami tak akan menerima uang kembalian, Sekalipun itu berjuta-juta.'" Ujar Teuchi gelagapan sambil membacakan Motto kedai nya yang lain.

"Kalau begitu simpan saja untuk makan malam Naruto di kemudian hari."

"Ap-Apa? Tidak usah Hinata-san. Ya ampuun, Hinata-san. Aku jadi banyak banget ngerepotin Hinata-san." Lirih Naruto juga gelagapan.

"Sudahlah tidak apa-apa Naruto. Teuchi-san , tidak apa-apa kan seperti itu?"

"Tentu, Hinata-sama. Baiklah. Saya mohon undur diri." Hinata mengangguk. Lalu Teuchi pun kembali menuju dapur.

"Hinata-san. Aku jadi tak enak Nih." Ucap Naruto sambil meniup-niup ramen panas di hadapannya kini.

"Taka pa, Naruto. Selamat Makan."

"S-selamat Makan, Hinata-san."

Rookie 12 kini sudah sampai di depan rumah Masino Fujiyama. Terlihat security mondar- mandir di depan rumah Masino. Sementara di depan pagar hanya ada dua security yang berjaga di Pos khusus Security. Rookie 12 minus Shikamaru kini tengah bersembunyi di balik pohon besar di depan rumah Masino. Menunggu instruksi dari Shikamaru.

"Rookie." Terdengar suara Shikamaru dari masing-masing Headset.

"Ha'i." Jawab mereka.

"Kiba dan Shino. Kalian boleh membuat keributan sekarang. Masino kini sudah terlelap dan Kamarnya kedap suara. Lalu, Neji, Chouji dan Lee segera masuk ketika perhatian Security-security itu tertuju pada Kiba dan Shino. Mengerti?" Jelas Shikamaru.

"Ha'i." Jawab mereka serempak. Kiba dan Shino pun melepas penutup kepalanya dan memulai aksinya. Mereka berjalan menuju pos security.

"Hai paman, boleh kami masuk?" Tanya Kiba basa-basi. Dua security itu pun terkejut karna melihat dua pria serba hitam dan berkacamata hitam. Apalagi salah satunya membawa pedang di punggungnya. Dua security itu pun keluar dari pos nya.

"Hei , kalian siapa? Kalian tak boleh masuk. Karna kalian tak ada janji dengan Masino-sama." Ucap salah satu Security sambil membawa pentungan nya, untuk jaga-jaga.

ZLEP

SING

BRUK

Kiba dengan cepat menusuk perut Salah satu security itu dengan pisaunya dan menariknya kembali. Salah satu security itu pun terjatuh dengan perut yang penuh darah. Security yang lain pun terbelalak. Karna mendengar suara keributan di luar, security-security yang berada di dalam pun membuka pagar dan beberapa keluar untuk melihat apa yang terjadi.

"Sekarang, Neji , Lee, Chouji." Perintah Shikamaru. Ketiga Rookie itu pun melesat dan mengendap-ngendap masuk kedalam. Mereka kini berada di halaman rumah Masino.

DOR DOR DOR

Neji menembakkan tiga peluru kea rah security yang mencoba menghalangi mereka. Telak mengenai kepala mereka dan mati seketika. Sementara di luar..

"Haa, tembakan. Ada penyusup lagi di dalam, ayo kita masuk semuanya." Perintah salah satu security. Dan semuanya pun mengangguk.

"Tidak semudah itu." Kiba menyeringai. Shino memegang pedang nya. Sedangkan kiba menyiapkan ShotGun nya.

SING

BATSS

BRUKK

Sekali tebasan Shino mampu menghabisi 5 security. Sedangkan Kiba mengalahkan security yang lain dengan ilmu beladiri nya. Kiba kini bersiap di hadang 4 security yang me lingkarinya. Dengan cekatan, 4 security itu pun menyerang kiba dari lain sisi dengan bersamaan. Kiba menyeringai. Saat sudah dekat, Kiba melompat salto dan keempat security itu bertabrakan satu sama lain. Kiba mendarat dan segera menusuk ke empat security itu dari belakang menggunakan pisau nya. Salah satu security pun mencoba kabur dengan menjauhi rumah Masino itu. Tanpa melihat , Kiba pun mengarahkan ShotGun nya kea rah security yang sudah cukup jauh itu.

DOR

BRUKK

Kena telak di jantung security itu. Kiba tersenyum penuh kemenangan. Dan Shino telah mengalahkan semua security yang berada di luar. Kiba dan Shino segera menuju ke dalam. Terlihat pintu yang di dobrak. Dan mereka berdua langsung melesat masuk ke dalam. Terlihat beberapa security tewas di sepanjang perjalanan dan CCTV yang rusak akibat hantaman Chouji.

"Kiba, Shino. Segera menuju lantai atas jangan berlelet-lelet. sepertinya Mereka bertiga terkepung." Terdengar suara Shikamaru dari headset Shino dan Kiba. Mereka berdua pun segera berlari dengan cepat menuju lantai atas yang jarak nya lumayan jauh dari pintu masuk.

"Cih, jadi ini Rookie 12. Seorang bocah beralis tebal –Menunjuk Lee- , Seorang bocah gendut –Menunjuk Chouji- dan Seorang Wanita –Menunjuk Neji-. Juga 2 tikus kecil yang telah di habisi oleh Security di bawah. Hooamm , menganggu tidur ku saja. " Ucap Masino yang telah terbangun dari tidurnya dan di hadapan nya kini Neji, lee, dan Chouji tertangkap di Jaring jebakan Masino. Headset dan senjata mereka telah di sekap oleh Masino. Penutup kepala mereka telah di buka oleh Masino, menampakkan wajah asli mereka yang marah. Khusus kacamata telah di hancurkan oleh security-security yang berada di kamar masino. Membuat Shikamaru tak bisa melihat Sudut pandang mereka bertiga.

"Alis ku tidak setebal yang kau kira!" Geram Lee.

"Aku tak Gendut, hanya bertulang besar!" geram Chouji.

"dan Aku bukan WANITA!" Geram Neji. Masino tertawa.

"Siapa yang memerintah kalian? Pasti ketua DPR bodoh itu yang menyewa kalian. Hahaha. Dia sangat bodoh sudah menyewa kalian. Kubuat dia akan menyesal telah menyewa kalian. HAHAHAHA." Masino tertawa terbahak-bahak lalu mengambil salah satu ShotGun milik Rookie 12 dan mengarahkan ke arah Neji, Lee, dan Chouji. Masino menyeringai.

DOR DOR DOR DORR!

Suara tembakan menggema di kamar Masino. Masino tiarap dan menggeram. Ternyata Kiba dan Shino yang menembaki seluruh security yang ada di dalam dengan ShotGun dan Pistol mereka berdua. Masino yang kesal pun berdiri dan menembak asal salah satu dari ketiga Rookie yang berada di dalam jarring. Mereka semua terbelalak.

DOR

"Arggghh!" Neji memegangi pinggangnya yang terkena tembakan Masino.