CHAP 3 Update!
DOR
"Arggghh!" Neji memegangi pinggangnya yang terkena tembakan Masino.
SING
BATSSS
BRUKK
Percikkan darah Masino kini begitu saja menyerang wajah Shino. Shino memenggal kepala Masino dengan pedang nya.
"Kerja bagus. Hei-hei apa Neji baik baik saja? Segera menuju ke mansion. Oke?" Perintah Shikamaru yang terdengar di Headset Kiba dan Shino.
"Neji, apa kau baik-baik saja?" Tanya Kiba yang kini berada di hadapan Neji yang kesakitan sambil memegangi pinggang kirinya.
"Ku- Arrgh. Kurasa iya. Yang pe-penting MISI SUKSES!" Ucap Neji di selingi senyuman. Dan tetap memegangi pinggang nya yang mengeluarkan banyak darah.
"Baiklah, Ooshh. Chouji kau gendong Neji. Ayo kita balik ke mansion." Perintah Kiba. Dan Chouji pun mengangkat Neji dan menggendong nya di punggungnya. Lalu berjalan keluar.
"Rookie 12 memang hebat! Semangat masa muda yang Membara." Ucap Lee dan ada sepercik api di kedua bola matanya. Mereka semua pun berlalu meninggalkan Rumah Masino.
Sementara itu, kini Hinata berada di kos-kosan Naruto. Hinata menyapu kos-kosan yang kotor itu. Hinata sendiri yang ingin membersihkan kos-kosan Naruto yang kotor walaupun sudah di larang oleh Naruto. Hinata pun selesai menyapu dan kini duduk di salah satu kursi kayu di dalam kos-kosan Naruto. Kos-kosan Naruto kini terlihat lebih bersih.
"Hinata-san , Terima kasih banyak. Hinata-san sangat baik sekali. Ini." Ujar Naruto sambil menyodorkan satu gelas Jus Jeruk dingin yang di beli Naruto di warung depan dengan uang Limaribu nya tadi. Hinata pun tersenyum sambil menerima Jus jeruk itu dan meminumnya.
"Ngomong-ngomong , ini jam berapa ya Naruto?" Tanya Hinata. Naruto pun menengok jam bulat yang berada di kamarnya.
"Jam 22.15, Hinata-san."
"Jam 22.15? Ap-apa? Naruto, bisakah kau mengantarku ke taman dengan cepat sekarang." Hinata gelagapan dan Naruto hanya menuruti permintaan Hinata. Mereka berdua pun keluar dari kos-kosan dan menunggangi sepeda tua Naruto.
"Siap, Hinata-san? Maaf kalau lancang, tapi Hinata-san pegangan ya agar tak jatuh. Kan katanya mau cepat-cepat ke taman?" Ucap Naruto. Hinata hanya mengangguk lalu memeluk Naruto dari belakang. Naruto kaget, karena ia hanya menyuruh Hinata berpegangan bukan memeluk. Naruto menghela nafas. Bukannya ia tak suka di peluk Hinata, Hanya saja ia takut ketahuan pacar Hinata, Uchiha Sasuke, Seperti kata Kakashi. Naruto pun memegang tangan Hinata lalu melepaskan pegangan nya dari perutnya. Hinata terlonjak.
"Hinata-san , Pegangan saja." Hinata mengangguk. Lalu mengubah posisi nya dari memeluk Naruto jadi mencengkram pinggang Naruto. Setelah pegangan Hinata di rasa kencang, Naruto pun mengayuh Sepeda tua nya dengan cepat.
"KYAAAAAA." Hinata berteriak saat sepeda tua Naruto menuruni tanjakan yang setinggi 50Meter. Hinata semakin mengeratkan pegangan nya di pinggang Naruto.
WUSH
CKITTT
Naruto mengerem sepeda tua nya saat sudah dirasa mencapai taman. Membuat pasir-pasir berterbangan karena sepeda Naruto yang di rem dengan cepat. Disana sudah Nampak pemuda berambut Raven mencuat ke belakang tengah berdiri di hadapan mereka yang tak sadar kalau ada pemuda raven memandang mereka tajam.
"Hinata, Kau terlambat 5 Menit." Ucap Sasuke membuat Hinata membuka matanya. Hinata pun menengok kea rah Pria berambut raven yang tengah menyilangkan kedua tangan nya di depan dada.
"E-eh? Kau biasanya juga terlambat. Ga-gantian dong." Hinata sewot. Sasuke hanya diam dan mempertahankan wajah dinginnya.
"Baiklah. Kau ku maafkan karna mood ku sedang baik. Turunlah , kau terlihat menjijikan dengan orang miskin ini, Hinata." Desis Sasuke menyindir Naruto. Naruto hanya diam membenarkan ucapan Sasuke. Hinata pun turun dari sepeda Naruto. Lalu, memandang Naruto sejenak. Berharap Naruto memaafkan Sasuke karna mengejek nya dari segi ekonomi. Naruto mengaerti lalu mengangguk
.
"Tak apa, Hinata-san. Terima kasih ya untuk semuanya. Sampai ketemu besok." Ujar Naruto singkat lalu mengayuh pedal sepeda tua nya ke Kos-kosan nya.
"Sasuke-kun , Kau tak perlu seperti itu juga dengan Naruto." Bela Hinata saat Naruto sudah tak lagi tampak dari pandangan mereka berdua.
"Terserah." Sasuke pun menaiki motor Ninja nya. Diikuti Hinata yang duduk dengan bersungut-sungut.
Suara kokokan ayam menggema dari atap kos-kosan Naruto. Membuat Naruto sedikit demi sedikit membuka kelopak matanya. Mengucek nya perlahan. Lalu, Naruto pun berjalan menuju kamar mandi. Saat melewati ruang tamu, mata Naruto terbelalak.
"Nenek!" Teriak Naruto lalu dengan cepat memeluk Tsunade yang sedang duduk-duduk di ruang tamu.
"Uuh, bau. Cepat kau mandi dulu lalu temui Nenek disini." Perintah Tsunade. Naruto pun menurut dan segera lari menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berpakaian santai, Naruto pun berjalan ke arah Tsunade dan duduk di sampingnya sambil sesekali mengusap rambut nya yang basah dengan Handuk.
"Jadi, Naruto. Jelaskan padaku kenapa Kos-kosan ini terlihat bersih sekali. Terakhir kali aku kesini Kos-kosan ini sudah seperti pasar. Banyak barang berserakan. Dan katakana padaku juga kenapa wajahmu memar begitu." Tsunade membuka pembicaraan. Naruto hanya nyengir.
"Baiklah. Akan kuceritakan kejadian seru saat hari kemarin, Nek!. Dimulai saat aku menolong Hyuuga Hinata yang diganggu mm.. kata Kakashi-sensei, Akatsuki –Tsunade terbelalak-. Lalu, aku di antar pulang Sakura-san naik mobil mewah lho. Lalu, malam nya saat aku mau ke kedai chiraku aku bertemu Hinata lagi yang sedang diganggu preman. Lalu aku menolongnya eh ternyata aku di gebukin oleh preman itu dan Hinata akhirnya yang menolongku. Hehe, jadi memar. Hinata pun mentraktir ku Ramen kemarin malam juga membayar semua hutangku dan memberiku cadangan gratis makan malam di kedai itu selama 12Hari. Dilanjutkan Hinata yang membersihkan kos-kosanku. Pokoknya kemarin malam itu hari terbaikku. Hehe.." Cerita Naruto panjang lebar disertai senyuman tigajari nya. Tsunade hanya ber 'Oh' ria.
Berbeda dengan kos-kosan Naruto yang sepi, Mansion Hyuuga sudah ramai walaupun Jam masih menunjukan pukul 5Pagi. Karna beberapa maid-maid keluarga Hyuuga tengah menuju ke pasar untuk berbelanja dan menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Hyuuga yang mereka hormati. Tak terkecuali Hinata. Dia kini sudah terbangun, hanya saja masih enggan untuk menuruni kasurnya yang berukuran king size dengan motif bunga lavender itu. Dia hanya memutar-mutar Smartphone nya dengan bosan.
"Neji-niisan kemana ya? Kok nggak ada di mansion? Dia juga jarang berada di mansion." Tanya Hinata pada dirinya sendiri. Lalu ia menatap Smartphone nya itu.
"Naruto punya hape nggak ya?" Gumam Hinata sendiri. Lalu.. ia mengubah posisinya menjadi terduduk.
"E-eh? Kok aku mikirin Naruto ya? Tapi, kalau difikir-fikir dia kasian juga hidupnya. Apa aku kasih salahsatu handphone aku aja ya agar aku mudah menghubungi dia." Gumam Hinata lagi sambil melirik sekian banyak Handphone yang tercecer di meja kecil di samping kasur KingSize lavender nya. Lalu, ia pun mengambil salah satu smartphone BlackBerry. BlackBerry Gemini.
"Ini aku kasih ke Naruto aja ya? Toh, aku masih ada 3 Blackberry lain. Yaudahlah," Ucap Hinata sambil memasukkan SmartPhone BlackBerry Gemini nya ke dalam tas sekolah nya. Lalu, ia pun berjalan turun ke lantai satu. Nampaklah Hiashi Hyuuga tengah membaca Koran pagi sambil sesekali menghirup kopi hitam nya. Hinata pun menghampiri Ayah nya dan duduk di samping nya.
"Bagaimana kencanmu tadi malam?" Tanya Hiashi sambil tetap focus membaca Koran pagi. Hinata menghela nafas. Tidak mungkin ia bicara jujur dengan Hiashi, bisa-bisa Sasuke bakal merenggang nyawa.
"Tadi malam seru sekali, Ayah."
'Tapi dengan Naruto.' Lanjut Hinata dalam hati. Hiashi menyeruput kopi hitam dalam cangkir nya.
"Baguslah." Sahut Hiashi singkat sembari focus ke Koran pagi nya. Mata nya melotot melihat salah satu berita yang disuguhkan di Koran pagi langganan nya.
"Masino Fujiyama, anggota DPR I tewas di rumah nya sendiri. Dengan kepala yang terpenggal. Seluruh anak buah nya pun tewas. Ulah Rookie 12." Gumam Hiashi sendiri membaca berita itu. Hiashi mendecih. Hinata menoleh ke Ayah nya sekilas.
'Ck. Dasar anak nakal itu.' Gumam Hiashi dalam hati. Hinata pun mengambil remote dan menyalakan TV 21Inch di hadapannya. Dan menonton salah satu acara kartun produksi Umino Entertaiment.
"Ayah , Rookie 12 itu apa?" Tanya Hinata masih focus dengan menonton TV nya.
"Hanya sekumpulan anak nakal." Jawab Hiashi singkat dan mulut Hinata membentuk huruf 'O'.
"Pokok nya kau jangan dekat-dekat dengan mereka." Tambah Hiashi. Hinata mengangguk pelan.
"Neji-niisan kemana ya, yah? Kok kemarin malam saat pulang kencan dengan Ss-sasuke-kun aku tak melihat nya di sekitar mansion." Tanya Hinata memulai pembicaraan lagi.
'Pasti dia terluka. Dan tak kembali ke mansion. Ck. Dasar anak nakal.' Gumam Hiashi geram dalam hati.
"Palingan dia tidur di rumah temannya. Sudahlah Hinata, jangan pedulikan dia. Lebih baik sekarang kau mandi. Karna jam 6 Sasuke akan menjemputmu." Lirih Hiashi. Hinata hanaya mengangguk lalu beranjak menuju lantai atas untuk mandi. Meninggalkan Tv yang masih menyala.
'A-ayah!'
'Ne-ji, ce-cepat pe-pergi.'
'T-tidak Ayah.'
'N-Neji, p-pergilah.'
'Ibu!'
DOR
'Ayahhhh, Ibuuuuu..'
Neji terbangun dari tidur nya. Bayangan masa lalu pun mampir dalam mimpinya. Membuatnya harus mengingat kenyataan pahit yang di terima oleh keluarga nya. Neji pun menghela nafas lalu menoleh ke sekeliling. Dilihat nya teman sekamar nya, Lee, tengah tertidur pulas dengan mulut yang terbuka.
"Ughh," Neji memegangi pinggang nya yang sakit sambil menunduk. Membuat beberapa helaian rambut coklat panjang nya jatuh mengikuti alur kepalanya. Neji pun melihat ke arah Jam weker. Masih pukul 05.30 . ia pun mencoba untuk berdiri lalu menuju ke ruang santai. Saat di ruang santai, terlihat Shino dan Kiba tengah menonton televise yang menyiarkan berita kematian Masino Fujiyama. Neji menyimak berita itu.
"Satu anggota DPR di kabarkan meninggal dunia tadi malam karna pembantaian yang di prediksi di lakukan oleh Rookie 12. Masino Fujiyama meninggal dengan kepala yang terpenggal dan keadaan rumah yang rusak parah akibat tembakan. Tidak ada saksi mata malam itu karna jauh nya jarak rumah Masino dengan perkampungan warga." Salah satu pembawa berita membacakan berita dengan lugas. Lalu, di TV, suasana rumah Masino pun terliput. Dan gambar Masino tanpa kepala pun diliput juga.
"Waa Shino, Liat! Itu hasil karyamu." Celoteh Kiba. Shino hanya diam sambil membenarkan posisi kacamata hitamnya. Neji pun berjalan terus melewati ruang makan, terlihat Chouji sedang menyiapkan sarapan pagi sambil bersenandung kecil. Neji terus berjalan, sampai di depan kamar mandi. Tubuh nya terasa gatal dan ingin segera mandi. Namun , pintu kamar mandi tertutup dan ada suara BYUR BYUR. Membuat Neji tau kalau kamar mandi itu sedang digunakan. Neji pun mendekatkan diri ke pintu kamar mandi.
"Siapa di dalam?" Tanya Neji masih sambil sesekali memegangi pinggangnya.
"Aku Shikamaru. Memang siapa lagi?" Ucap Shikamaru yang sudah selesai mandi dan hanya menggunakan handuk putih yang melilit bagian pusar ke bawah. Pintu otomatis kamar mandi pun tertutup. Shikamaru pun meninggalkan Neji dan berlalu menuju kamar nya. Neji pun mendekatkan bibir nya ke salah satu layar yang meminta nya memasukkan kode.
"Hyuga Hinata." Bisik Neji.
"Tuan Neji, selamat mandi." Suara khas robot menyuak di gendang telinga Neji. Pintu pun terbuka dengan sendirinya. Lalu, Neji pun masuk ke dalam kamar mandi dan pintu kamar mandi tertutup dengan sendirinya.
"Makanan siaaappp." Teriak Chouji dari arah ruang makan. Kiba pun berlari tergesa menuju ruang makan. Shino pun mematikan TV dan berjalan pelan menuju ruang makan. Kiba dengan segera duduk di salah satu kursi yang melinkari meja makan. Diikuti Shino yang duduk di samping kiba.
"Woahhh. Nasi goreng cumi-cumi." Ucap Kiba. Dari balik pintu ruang makan, muncullah Shikamaru dengan pakaian KIHS nya lalu duduk di samping Chouji. Kiba pun memakan nasi gorengnya dengan tergesa karna lapar. Shino memakan nasi gorengnya dengan anggun. Chouji hanya meminum teh hangat nya karna ia sudah makan dari tadi. Shikamaru sedikit demi sedikit memakan nasi goring nya. Setelah selesai, Kiba pun menuju ruang kendaraan diikuti Shino, Shikamaru dan Chouji. Neji yang sudah berpakaian lengkap khas seragam KIHS pun menuju ruang kendaraan. Nampak Kiba yang mengeluarkan motor Sport berwarna merah mengkilap dan Chouji yang mengeluarkan motor Ninja baerwarna Hijau keluaran terbaru.
"Oi, Neji. Apa pinggangmu sudah baikan?" Tanya Kiba sambil tetap mendorong motor sport nya keluar ruang kendaraan.
"Ya. Kurasa." Jawab Neji seadanya.
"Kiba, motor ku bensin nya habis. Malas sekali mengantri di pom. Aku bareng." Ungkap Shino yang tiba-tiba sudah naik di atas motor Kiba. Kiba hanya menyipitkan matanya lalu menghela nafas.
"Aa baiklah.. Neji, Shikamaru, Chouji. Kita berangkat dulu ya." Ungkap Kiba yang melajukan motor nya lewat pintu belakang rumah yang terlihat seperti rumah hantu ini. Suara sepeda motor Kiba sudah tak terdengar, Neji kini mengalihkan pandangannya menuju Chouji yang sedang memanasi motor ninja nya dan Shikamaru yang memandang wajah malas. Setelah dirasa cukup panas, Chouji pun menaiki motor ninja nya diikuti shikamaru yang malas membawa motor.
"Neji, kau bangunkan Lee ya.. Kami berangkat dulu, Jaa ne." Ucap Chouji disertai anggukan Neji lalu melajukan motor nya lewat pintu belakang mansion juga. Neji pun masuk kembali kedalam mansion dan melangkah cepat menuju kamar nya. Rambut coklat panjang nya pun bergerak teratur mengikuti arus jalannya. Dengan perlahan, Neji pun membuka pintu kamar nya. Terlihat Lee yang masih tertidur tapi mulut nya tak lagi terbuka melainkan berekspresi sendu.
"Lee." Neji pun duduk di pinggiran kasur KingSize bermotif daun milik lee.
"Ayahh, Ibuuuu!" Gumam Lee dalam tidurnya dengan wajah sendu. Neji menghela nafas. Nasib nya dulu tak jauh beda dengan nasib Lee. Neji pun mengingat kembali masa lalu nya.
FLASHBACK
Neji yang kala itu masih berumur 7 tahun tengah bermain dengan Hinata yang berumur 6 tahun. Mereka berlari lari kecil di taman mansion Hyuuga. Lalu terduduk di salah satu kursi disana dengan terengah-engah dan tertawa pulas. Malam ini sangat dingin. Namun, mereka berdua masih terlihat bermain-main. Hinata yang lelah karna tertawa itu lalu ketiduran di kursi taman. Lalu, dua orang wanita cantik, satu berambut biru tua layaknya rambut Hinata, dan yang satu nya berambut coklat layaknya Neji. Neji pun menoleh ke arah dua wanita itu.
"Sssshhh.. Ibuu, Hikari-sama, jangan ramai-ramai. Hinataa-Chan sudah tidur." Ucap Neji pelan sambil meletakkan telunjuk tangan kirinya di bibir. Kedua wanita itu yang ternyata Ibu Hinata dan Ibu Neji pun menghampiri anaknya masing-masing. Ibu Hinata, Hikari, pun menggendong Hinata kecil dan mengelus rambut indigo pendeknya. Ibu Neji, Satori, pun menjajarkan tinggi badannya dengan tinggi Neji dengan berjongkok.
"Neji, sudah malam.. ayo kembali ke kamar. Lihat. Hinata-chan aja sudah tidur tuh." Ucap Satori sambil tersenyum dan Neji pun mengangguk. Satori pun berdiri dan menggandeng Neji menuju mansion Hyuuga. Diikuti Hikari yang menggendong Hinata. Saat sudah sampai di kamarnya, Neji pun mengistirahatkan tubuhnya di ranjang diikuti Satori yang duduk di pinggiran ranjang.
"Sudah ya Neji. Ibu mau-"
"Ceritakan sesuatu Ibu, biar aku cepat tidur. Seperti Hikari-sama menceritakan sesuatu pada Hinata-chan sbelum ia tidur." Ucap Neji kecil dengan tersenyum senang sambil menarik selimut nya sampai sebatas dada. Satori pun tersenyum.
"Ibu ceritakan tentang Hinata-chan aja ya, Neji. Ayah nya Hinata-Chan, Hiashi-jiisan adalah pemimpin di perusahaan Hyuuga Corp. dan Hinata-chan adalah putri sulungnya, berarti kepempimpinan Hyuuga Corp suatu hari akan di pegang oleh Hinata-chan. Jadi kau harus menghormati mereka ya, Neji. Kau harus melindungi Hinata-chan ya.. dan mulai besok, kau harus janji akan memanggil Hiashi-jiisan, Hiashi-sama dan memanggil Hinata-chan, Hinata-sama. Oke, Neji?" Suara dengkuran pelan Neji pun memeka indra pendengaran Satori Hyuuga. Satori pun tersenyum lalu mencium kening Neji pelan. Lalu menekan saklar lampu sehingga kamar Neji sekarang benar-benar gelap dan keluar dari kamar Neji.
Neji merasa tidurnya terganggu karna ia tiba-tiba ingin kencing. Neji pun menyibakkan selimut nya lalu menekan saklar lampu. Dan kamar Neji menjadi terang. Neji dengan mata yang masih menyipit karna mengantuk pun menengok kea rah jam dinding yang terpasang di sudut kamar Neji. Pukul 01.00 . Ternyata masih pagi. Neji pun berjalan keluar kamar dan berlari kecil menuju kamar mandi. Setelah selesai menyelesaikan panggilan alam nya, Neji pun berjalan pelan kembali menuju kamarnya. Saat melewati ruang kerja ayahnya, Neji berhenti di depan ruang kerja itu karna mendengar sesuatu.
"Hiashi, Organisasi itu akan merugikan banyak pihak. Apalagi warga-warga di konoha ini. Aku tak menyangka kau mendirikan Organisasi tak penting dan mengajak pemimpin perusahaan lain untuk bergabung untuk kepentinganmu semata. Aku tak akan membiarkannya. Aku akan mengacaukannyaa!" Teriak Hizashi, ayah Neji, marah sambil melempar kertas ke wajah Hiashi. Hiashi pun menangkap kertas itu dengan mudah lalu menyeringai.
"Itu benar Hiashi, kau akan dihukum mati karna mendirikan organisasi ini." Tambah Satori sambil menenangkan suaminya.
"Tak apa Hizashi jika kau tak mau mendukungku mendirikan organisasi ini. Tapi aku yakin suatu hari nanti, organisasi ini akan sukses. Yah karna aku tak mau ada orang yang tau, jadi.." Dengan cepat Hiashi mengeluarkan pisau dari baju kerjanya dan menusuk Hizashi yang berada di depannya. Neji yang mengintip dari lubang kunci pun terbelalak. Begitu pun Hizashi dan Hiashi. Ternyata sebelum Hiashi menusukkan pisaunya ke perut Hizashi, Satori dengan sigap melindungi Hizashi dan akhirnya perut Satori yang tertusuk pisau Hiashi. Dengan cepat Hiashi menarik pisau nya yang berlumuran darah dan Satori pun terkulai lemas dan dengan sigap Hizashi menangkap nya dan memeluknya dengan keadaan terduduk. Mata Neji kembali melotot saat melihat Hiashi mengayunkan kembali pisau nya kea rah punggung Hizashi yang sedang memeluk Satori erat. Dengan cepat Neji mendobrak pintu ruang kerja Hizashi. Hiashi dan Hizashi pun menoleh. Hiashi pun kembali melanjutkan mengayunkan pisau nya.
"Ayahhhh awasss, Hiashi-saamaaaaa , Berhenti!." Teriak Neji yang kini tak mampu membendung air matanya. Terlambat. Pisau Hiashi pun menancap di punggung Hizashi membuat Hizashi terjatuh tengkurap dengan Satori disampingnya yang juga tak berdaya. Neji menghampiri kedua orangtua nya itu.
"Ayah.." Panggil Neji sedih. Hizashi pun dengan kekuatan terakhirnya mendongakkan kepalanya. Satori juga mendongakkan kepala nya menatap Neji sendu. Terlihat darah mengalir dari mulut mereka.
"Ne-ji, ce-cepat pe-pergi." Perintah Hizashi.
"T-tidak ayah.."sergah Neji yang tak mau meninggalkan kedua orang tua yang sangat disayangi nya itu.
"N-neji, p-pergilah." Kini Satori membuka suara.
"Ibu!." Hizashi dan Satori pun tersenyum untuk yang terakhir kali nya. Neji kembali menangis. Hiashi pun mengambil salah satu tongkat besi yang kebetulan berada disana dan diayunkannya tongkat besi itu di kepala Hizashi dan Satori. Membuat Hizashi dan Satori kini benar-benar tak bernyawa.
"Ayahh.. ibuuuu.." Teriak Neji berlinangan air mata. Hiashi menyeringai ke arah nya. Membuat Neji berdiri dan berlari sekencang-kencangnya menjauhi ruangan kerja itu dan keluar mansion dengan memanjat pagar mansion Hyuuga yang tinggi. Hujan tiba-tiba turun tapi Neji terus saja berlari sampai ia menabrak wanita berambut pirang yang tengah berjalan dengan membawa payung berwarna kuning yang melindungi dirinya dari hujan. Neji pun pingsan karna pusing dan wanita pirang itu menggendongnya dan membawanya ke mansion besar –yang kini dihuni Rookie 12-.
END FLASHBACK
Naruto kini berangkat menuju KIHS dengan dibonceng Tsunade menggunakan motor bebek produksi Nara's Motor. Naruto sangat senang sekali karna ia hari ini tak perlu berjalan kaki menuju sekolah. Kini ia hanya duduk tenang menunggu ia sampai di sekolah. Pandangannya tak lepas dari perumahan-perumahan elit yang dilewati motor Tsunade. Pandangannya terbelalak saat mata biru cerahnya menangkap pemandangan di depan mansion besar. Mansion Hyuuga. Hinata masuk kedalam mobil Avanza yang Naruto tahu ada Sasuke juga disana. Naruto pun menghela nafas berat. Tanpa sadar motor Tsunade pun telah sampai di depan gerbang KIHS. Naruto pun turun dari motor Tsunade.
"Nenek, lain kali ajari aku naik motor ya." Pinta Naruto.
"Sudah kubilang berapa kali, Naruto? Jika di lingkungan sekolah jangan panggil aku Nenek. Panggil Tsunade-sama. Mengerti?" Tsunade melotot.
"Baik-baik. Tapi kapan-kapan ajari aku ya, Tsunade-sama." Ucap Naruto menekankan kata Tsunade-sama. Tsunade pun mengangguk lalu menjalankan kembali motornya dan memarkirkan di tempat khusus memarkir sepeda motor. Naruto pun berlarian kecil menuju kelasnya. Tak peduli tatapan aneh dari siswa-siswi sekitar. Naruto pun masuk kedalam kelasnya dengan ceria karna moodnya hari ini sedang baik.
Kelas 12-1 IPA
Hinata menatap sekitar kelas. Kelas ini masih sepi. Hanya beberapa murid yang sudah datang. Termasuk Sasuke dan Sasame yang sedang berpacaran. Hinata melirik sekilas ke arah mereka lalu mendengus malas. Benar saja kelas masih sepi. Sekarang nmasih pukul 06.30 sedangkan pelajaran dimulai pukul 07.30 . ia pu menoleh ke kursi disampingnya. Kursi dimana Neji biasanya duduk. Jujur saja, Hinata sedikit khawatir dengan Neji karna ia semalaman tak pulang ke mansion Hyuuga.
Bersambung..
