Chap 6 Update!

Neji berjalan perlahan menuju mansion sambil menunduk. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana panjang hitamnya. Ia tidak menyangka bahwa ia melukai Hinata tadi. Neji pun menghembuskan nafas berat. Dinginnya dini hari membuat Neji sedikit menggigil.

"Eh, ada pemimpin Rookie 12." Sahut seseorang. Neji pun menoleh ke arah suara. Mata Neji terbelalak. 8 orang berpakaian hitam bermotif awan merah tengah menyeringai ke arahnya.

"A..Akatsukii." Gumam Neji sambil mengepalkan kedua tangannya. Nagato mengangkat tangannya. Dengan cepat, kini Akatsuki melingkari Neji minus Nagato yang tengah duduk di atas dahan pohon. Neji pun menghembuskan nafas dan menyiapkan kuda-kudanya. Neji merutuki drinya sendiri karna tak membawa pistol ataupun pedang.

"Ck.. matilah kau." Kisame mengayunkan pedang besar yang dinamai 'Samehada' ke arah Neji. Neji dengan sigap melompat dengan menginjak pedang Kisame sebagai tumpuan. Dengan cepat Neji menendang kepala Kisame dengan keras dari atas. Kisame jatuh terjerembab. Hidan pun mengayunkan pedangnya kearah Neji. Neji mundur beberapa langkah. Tak sadar, di belakang nya telah ada Konan. Konan pun menendang Neji dengan sangat keras sampai Neji terguling beberapa meter. Kakuzu pun mengarahkan pistol nya kearah Neji yang mencoba berdiri.

DOR

TING

Peluru dari pistol Kakuzu terpental. Seorang dengan topeng tengah melindungi Neji dengan dua pedang nya. Neji terbelalak lalu berdiri di belakang orang bertopeng itu. Terlihat orang bertopeng itu berlari menuju Akatsuki sambil menebas-nebaskan pedang nya. Mata Itachi menyipit, memperhatikan gerakan ayunan pedang yang bagus oleh orang bertopeng ini. Dia pun mengeluarkan pedang nya. Kedua pedang saling bersentuhan. Dengan sekuat tenaga Itachi menahan pedangnya agar tak kalah dari pedang milik orang bertopeng itu. Itachi pun dengan sengaja melemahkan pegangan pedangnya membuat pedang orang bertopeng itu menggores pergelangan tangan Itachi.

"Ketua, kita mundur." Lirih Itachi. Nagato pun turun dari dahan pohon lalu melirik ke Deidara sekilas. Deidara mengangguk. Lalu melamparkan bom asap ke tanah. Banyak asap menganggu penglihatan Neji. Saat asap berangsur menghilang. Neji melihat tak ada lagi Akatsuki. Hanya ada orang bertopeng yang meletakkan pedang nya di punggung. Dengan cepat orang bertopeng itu melompat di dahan pohon dan menghilang dalam kegelapan. Neji pun menatap kepergian orang bertopeng itu dengan bingung dan memutuskan untuk kembali ke mansion. Dalam hati Neji bersyukur, ia tak terbunuh malam ini.

"Neji, aku perlu bicara. Temui aku di ruangan pertemuan." Neji disambut dengan ucapan Tsunade saat ia membuka pintu mansion. Tsunade pun berjalan cepat menuju ruang pertemuan. Neji mengunci pintu mansion lalu menuju ke ruang pertemuan. Masih terdengar dengkuran halus saat Neji melewati kamar teman-temannya. Neji pun membuka pelan pintu ruang pertemuan. Terlihat sinar menyilaukan yang ditimbulkan oleh lampu. Menganggu penglihatan Neji. Neji pun melihat di dalam ruang pertemuan. Jiraiya, Sakura dan Tsunade tengah duduk manis di karpet. Neji pun ikut duduk di samping Sakura.

"Neji, siapa pemimpin Black Organization?" Tanya Tsunade to the point sambil menatap Neji intens. Sakura juga. Hanya Jiraiya yang menguap lebar. Neji pun menghembuskan nafas berat.

"Hyuuga Hiashi." Jawab Neji mantap. Mata Tsunade dan Sakura membulat. Mata Jiraiya hanya memicing.

"Hyuuga Hiashi kan—" Ucap Sakura menggantung.

"Ayah Hinata." Neji melanjutkan ucapan Sakura. Tsunade terlihat semakin geram.

"Kenapa kau tak memberitahu ku sejak dulu, BAKA! Kau pun sejak dulu tak memberitahukan masa lalu mu! Keparat kau! Jadi pamanmu itu kan yang membantai klan Uzumaki. Kau tau, Naruto sangat menderita saat ini! Pamanmu juga yang mengajak orangtua rookie 12 bergabung dengan organisasi buruk itu! KKUSOOO!" Ucap Tsunade marah, Tsunade pun melayangkan pukulannya telak di pipi kanan Neji. Pipi Neji memerah karna pukulan Tsunade. Neji hanya menatap Tsunade yang tengah marah dengan wajah datar.

"Alasanku tak memberitau kalian, karna aku tak ingin kalian membunuh ayah Hinata-sama. Hinata-sama bisa sangat sedih karna itu. Ibu dulu pernah bilang padaku untuk selalu menjaga Hinata-sama dan tak membuat dia bersedih. Aku sangat menyayangi Hinata-sama. Aku yakin ekspresi teman-teman jika mengetahui hal ini pasti berekspresi sama seperti Tsunade-sama saat ini. Dan mereka akan segera membunuh ayah Hinata-sama. Aku tak ingin hal itu terjadi." Ujar Neji panjang lebar. Sakura terlihat menahan marah saat ini. Amarah Tsunade pun semakin surut. Tsunade pun berbalik dan berdiri membelakangi Neji, Sakura dan Jiraiya.

"Kalau begitu, Agar Hinata tak bersedih. Hinata adalah anak Hiashi. Suatu hari nanti, Hinata pasti akan mendirikan organisasi lain yang lebih buruk. Sperti kata pepatah, sifat anak tak jauh beda dari orang tua nya. Jadi, kita akan membunuh Hiashi dan.. Hinata juga." Tukas Tsunade. Jiraiya dan Sakura terbelalak. Neji pun mulai berekspresi setelah Tsunade mengucapkan nama sepupu yang disayanginya itu.

"Ku-kumohon jangan bunuh Hinata-sama, Tsunade-sama." suara Neji tercekat. kini Neji sedang bersujud sambil memeluk kaki Tsunade. Tak memperdulikan image cool nya yang rusak karna sikapnya ini. Tsunade menutup matanya sebentar lalu membukanya kembali.

"Tidak, Neji." Neji kembali mengeratkan pelukannya pada kaki Tsunade. Tsunade diam sejenak lalu menghentakkan tubuh Neji dengan kaki nya membuat Neji terpelanting dan punggungnya menatap dinding. Tsunade pun berlalu meninggalkan ruang pertemuan.

"Ssst..Sakura, kau janji ya untuk tidak membicarakan hal ini pada Rookie 12." Bisik Jiraiya pada Sakura. Sakura hanya terdiam membisu, tak menanggapi Jiraiya.

"Paman Neji itu ternyata yang membunuh Ibu, Jiraiya-sama." Sakura malah mengalihkan topic pembicaraan dengan ekspresi datar. Jiraiya pun menghela nafas lalu memegang pundak Sakura.

"Sudahlah, Sakura." Jiraiya menenangkan Sakura. Lalu, Sakura pun berdiri dan berlalu dari ruang ini. Jiraiya pun menoleh kearah Neji yang tengah menunduk.

"Aku pergi dulu, Neji. Aku takut mereka akan mengamuk dan menghancurkan seluruh mansion ini." Pamit Jiraiya meninggalkan Neji sendirian di ruangan ini. Ekspresi Neji sekarang pun sangat sulit ditebak.

Hinata terbangun dari kasur berukuran besar milik nya. Ia melihat sekeliling. Ini adalah kamarnya. Hinata pun terduduk. Sekarang ia tengah menggunakan piyama. Seingatnya tadi malam dia menggunakan jaket berwarna ungu lavender dan di tertembak di bagian pinggangnya. Hinata menyentuh kedua pinggangnya. Tidak mengeluarkan darah. Namun, masih terasa ngilu. Apakah semalam cuma mimpi? Pintu kamar Hinata terbuka, Nampak pria gagah berambut hitam panjang tengah masuk kamar Hinata dan duduk dipinggiran kasur Hinata.

"Ohayou, Hinata."

"Ohayou, Ayah." Hinata membalas sapaan Hiashi dengan tersenyum. Hinata pun menyelaraskan duduk nya di samping Hiashi.

"Ada apa, Hinata? Kau terlihat bingung sekali." Lirih Hiashi dengan wajah datarnya. Hinata pun menunduk mengingat kejadian semalam.

"Entahlah. Tadi malam sepertinya pinggangku tertembak di rumah Ko'. Dan Ko' keadaannya sekarat dan dikelilingi orang-orang berbaju hitam yang tak kukenali satu orang pun. Tapi kenapa aku disini?" Ujar Hinata sambil menunduk. Hiashi mengusap pelan rambut panjang Hinata.

"Mungkin kau cuma mimpi, Hinata. Pinggangmu tak tertembak, mungkin hanya nyeri karna tadi malam kau jatuh dari kasur dan tak sadarkan diri. Soal Ko', mungkin itu ikatan batin. Ko' meninggal –Hinata terbelalak- tapi bukan karna dibunuh, tapi karna rumahnya kebakaran." Jelas Hiashi menyatakan kebohongan pada Hinata. Hinata menggeleng.

"Tidak ayah, aku sangat yakin bahwa rumah Ko' tidak kebakaran, tapi ia dibunuh. Itu terasa sangat nya—"

"Sudahlah, kau mungkin kelelahan. kau hari ini tak usah masuk sekolah dulu. Kau istirahat saja ya." Lirih Hiashi. Hinata pun menghela nafas lalu mengangguk. Ia pun kembali menidurkan kembali tubuhnya di kasur nya. Hiashi beranjak meninggalkan Hinata dan tak lupa menutup kamar Hinata.

"Tapi, kenapa terasa nyata?" Gumam Hinata pada dirinya sendiri. Hinata bingung dengan apa yang terjadi. Lalu, kedua manik amethyst nya pun dengan perlahan menutup.

Naruto berjalan pelan di koridor KIHS sambil menunduk. Ia merasa tak bersemangat hari ini. Pertama, Tsunade tak ke kos-kosan nya. Kedua, Hinata tak membalas sms nya. Ketiga, ia harus berjalan lagi menuju sekolah. Naruto menghela nafas. Naruto pun membuka pintu ruang kelasnya. Hanya ada beberapa anak yang sudah datang. Naruto pun tak ingin bergerak banyak, Ia berjalan gontai menuju bangkunya lalu duduk.

"Ohayou, Sakura-san." Sapa Naruto pada Sakura yang kebetulan sudah datang.

"O-ohayou, Naruto." Sapa Sakura lesu tanpa menatap Naruto sedikit pun. Naruto hanya menghela nafas. Ternyata tak hanya dia yang tak bersemangat hari ini.

"Eh-eh, kemarin Sasame-san, pacar Sasuke-kun mati mengenaskan banget lohh."

"Benar? Ih, aku sampai ngeri."

"Iya, kepalanya terpenggal."

"S-seram ih."

"Iya, malang banget nasibnya Sasame-san. Pasti Sasuke-kun sangat bersedih."

Terdengar bising-bising suara anak yang menggosip di kelas 12-1 IPA. Membuat Naruto harus menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya, ia memang tau kematian Sasame. Tapi, ia tak mau mengingatnya karena ia benci hal tragis. Bel pertanda masuk pun telah berdering. Mata Naruto pun mulai menjelajah di setiap sudut kelas, namun Naruto tak menemukan Hinata di kelas nya. Seorang sensei pun masuk ke kelas 12-1 IPA.

"Morning all, How are you today?" sapa sang sensei yang mengajar bahasa inggris dengan ceria. Pelajaran bahasa inggris adalah pelajaran paling membosankan bagi murid kelas 12-1 IPA.

"Morning, Ankoo-sensei. I'm Fine, and youuuuu?" Semua murid serentak menjawabnya walaupun agak malas-malasan.

"I am fine too. Hei-hei, Where are you zing, all? Hehe, biar tambah semangat. Kita kedatangan murid baru loh dari Amegakure." Ucap Anko sambil tersenyum senang. Pintu terbuka. Menampakkan seorang lelaki yang tengah tersenyum. Lalu lelaki itu pun berdiri menghadap siswa-siswi 12-1 IPA. Para murid 12-1 IPA pun melongo menatap murid baru dengan kulit pucat ini.

"Hy, Please introduce your self." Perintah Anko sambil memegang bahu murid baru itu. Murid baru itu pun mengangguk.

"Hai, namaku Sai. Pindahan dari sekolah Amegakure Interational High School. Salam kenal." Ucap murid baru yang bernama Sai itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.

'Anak ini tersenyum kok kayak gak ikhlas banget sih?' Pikir Naruto sambil menyipitkan matanya.

"All right, Sai. kau bisa menempati tempat disamping Sasuke." Perintah Anko. Sai pun berjalan menuju bangku disamping Sasuke yang kebetulan kosong karna sebelumnya tempat duduk sebelah Sasuke ini ditempati Sasame. Sasuke hanya memandang tak suka pada Sai. Sai membalas tatapan Sasuke dengan tersenyum. Sai pun menoleh ke belakang. Mata hitam kelamnya bertemu dengan mata shappire biru milik Naruto. Sai pun tersenyum pada Naruto. Naruto cengo dengan sikap anak baru ini.

"Hai, siapa namamu?" Tanya Sai mengajak Naruto berkenalan sambil menjulurkan tangan kanan nya. Naruto memandang heran dengan Sai ini. Dari semua murid, kenapa Sai itu mengajak nya berkenalan pertama?

'Apa mungkin dia homo? Apa dia menyukai ku sejak pandangan pertama. Mati aku.' Pikir Naruto menutup mata dan menggeleng-geleng kan kepalanya ke kiri dan kanan.

"Aku bukan homo kok, dan aku tak menyukaimu sejak pandangan pertama." Ucap Sai lantas tersenyum. Naruto pun membuka matanya.

"APA?! Bagaimana kau bisa tahu apa yang ku fikirkan?!" Teriak Naruto sambil menunjuk-nunjuk wajah Sai. Anko-sensei yang tengah menulis di papan tulis itu pun menoleh kearah Naruto.

"Ada apa, Uzumaki-san? Mau mengepel lantai kelas sore ini kah?"

"A-ah, tidak Anko-sensei. M-maaf." Ucap Naruto gelagapan. Anko pun melanjutkan kegiatan menulisnya itu. Sai pun kembali tersenyum, Naruto mulai muak dengan anak baru ini.

"Uzumaki? Aku tak pernah dengar marga keluarga itu?" Tanya Sai memulai pembicaraan lagi pada Naruto. Naruto hanya memutar bola mata bosan, tak menghiraukan pertanyaan Sai. Naruto lalu membuka buku tulisnya dan menulis tulisan berbahasa asing yang ada di papan tulis.

"Baiklah. Salam kenal, Uzumaki Naruto." Sai pun tersenyum lalu berbalik. Iris sapphire Naruto pun terbelalak.

'Siapa orang ini? Kenapa dia bisa tau namaku, seingatku aku belum memasang nama dada.' Pikir Naruto sambil melihat ke seragam nya. Naruto ingin menanyakan hal ini pada Sai, tapi ia tak ingin di cap berisik oleh Anko-sensei dan pada akhirnya harus mengepel kelas ini.

Malam hari yang sangat dingin, membuat Naruto harus mengeratkan selimut pada tubuhnya. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Tubuh Naruto menggigil. Ia pun dengan langkah gontainya menuju dapur lalu memasak air untuk menyeduh teh hangat.

TOK TOK TOK

Pintu kos-kosan Naruto diketuk tiga kali, membuat Naruto kaget. Dan menoleh sejenak kearah pintu kos-kosan. Naruto pun tak habis fikir kenapa ada yang menganggu nya di malam hari. Dengan langkah gontai, Naruto pun berjalan menuju pintu lalu membukanya. Mata Naruto pun terbelalak.

Di lain tempat. Neji kini mengurung diri di kamarnya. Dari tadi sore sepulang sekolah ia tak ingin memperlihatkan batang hidungnya pada teman-temannya. Membuat teman-temannya hanya mengangkat bahu. Pintu kamar Neji sedikit terbuka, nampaklah gadis bersurai pinky menghampiri Neji lalu duduk di pinggiran kasur Neji.

"Neji, ayo makan malam. Teman-teman menunggu." Sakura angkat suara.

"Maaf soal Ibumu, Sakura. Aku tak tau kalau dia juga membunuh ibumu." Lirih Neji sambil menatap datar kedepan. Sakura menghela nafas.

"Sudahlah, Neji. Aku tak membencimu ataupun Hinata. Aku hanya membenci ayah Hinata. Oh ya, setelah selesai makan, kau disuruh Tsunade-sama untuk menemuinya di ruang pribadinya Tsunade-sama." Seru Sakura. Neji pun mengangguk. Sakura pun menuju Ruang makan diikuti Neji.

"Sai," Ucap Naruto parau saat melihat Sai kehujanan didepan pintu kos-kosan Naruto. Sai pun tersenyum pada Naruto. Dengan cepat, Naruto menarik lengan Sai agar masuk kedalam dan Naruto pun menutup pintu kos-kosannya.

"Naruto, aku mau mencari kos-kosan yang kosong disekitar sini. tapi ternyata tak ada. Jadi begini lah." Ucap Sai sambil tetap memasang senyum yang menurut Naruto palsu ini. Naruto pun memutar bola matanya.

"Hhh, Baiklah. Tinggalah disini untuk sementara. Sana ganti baju dikamarku. Akan kupinjamkan bajuku." Naruto segera berlalu menuju kamarnya. Sai hanya menyunggingkan senyum nya.

"Mm.. Naruto. Bajumu kebesaran." Keluh Sai saat melihat baju orange yang agak kebesaran di tubuhnya. Naruto mendengus.

"Hhh.. sudahlah, kau cerewet sekali sihh." Naruto menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kini mereka berdua tengah duduk di ranjang Naruto. Sai tadi pagi hanya berkenalan sekilas dengan Naruto. Ya, mungkin tidak sekilas.

"Terimakasih ya. Apa di kelas ada seseorang yang kau sukai?" Sai mulai melontarkan perntanyaan yang aneh-aneh. Naruto hanya menyipitkan matanya.

"Kenapa kau Tanya begitu? Apa jangan-jangan kau mata-mata?" Naruto menyelidik. Naruto kembali teringat bahwa Sai bisa tahu namanya tanpa diberitahu, mungkin ia mata-mata?

"Tidak. Mungkin aku bisa membantumu mendekatkan dengan dia. Sebagai balas budi." Sai menyunggingkan senyum nya lagi. Membuat Naruto muak.

"Ada. Namanya Hyuuga Hinata. Tapi tadi dia tak masuk. Kau tak akan mengenal—"

"Apa ini Hyuuga Hinata?" Sai pun menyodorkan selembar foto dari dompetnya. Naruto pun membulatkan matanya lalu menunjuk-nunjuk Sai.

"Hei! Knapa kau bisa mengenalnyaa!" Teriak Naruto heboh. Sai pun tersenyum.

"Entahlah." Sai menjawab dengan singkat. Membuat Naruto hanya mengepalkan tangannya.

"Baiklah. Tidurlah di sofa sana. Aku mau tidur disini." Lirih Naruto sambil mendorong-dorong badan Sai menjauhi ranjangnya.

"Apa bisa kau saja yang tidur di sofa? Aku agak nggak enakan badan." Seru Sai sambil memeluk badannya sendiri. Naruto mencibir Sai dari dalam hati.

"Tidak mau."

"Ah, bagaimana kalau besok aku mengajarimu menggunakan ini." Ucap Sai sambil memegang dua buah pedang. Naruto bergidik ngeri.

"Heh, sejak kapan benda itu ada di kamarku?"

"Sejak kau tak sadar kalau aku membawa pedang. Gimana? Tertarik tidak? Kau bisa melindungi Hinata-chan mu lho jika bisa menggunakan pedang ini." Rayu Sai. Naruto pun terlihat berfikir. Tidak buruk juga. Naruto pun mengiyakan permintaan Sai lalu berjengit menuju ruang tamu untuk tidur disana. Sedangkan Sai, Hanya tersenyum lalu menidurkan dirinya di ranjang milik Naruto.

Neji menatap pintu berwarna coklat dihadapannya. Neji pun menghembuskan nafas. Dengan perlahan diputarnya knop pintu, Dan sedikit demi sedikit nampaklah Tsunade yang tengah duduk membelakangi Neji. Neji pun melangkahkan kaki nya lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Tsunade. Tsunade memutar kursi putarnya lalu ia kini berhadapan dengan Neji.

"Ada apa anda memanggil saya, Tsunade-sama?" Neji memulai pembicaraan dengan bahasa yang seformal mungkin. Tsunade menghela nafas.

"Maaf soal tadi pagi. Aku hanya tak bisa mengendalikan emosi ku." Ungkap Tsunade yang langsung diiyakan oleh Neji.

"Ubah rencana. Kita tak akan membunuh Hinata. Tapi membunuh Hiashi." Tambah Tsunade. Neji terlihat berfikir. Mungkin ini satu-satu nya rencana yang bagus, daripada Hinata juga ikut dibunuh. Neji pun mengangguk.

"Neji, apa kau punya rencana?"

"Mm.. mungkin begini. Berdasar informasi yang diberikan oleh Ko', setahun lagi akan ada penyerangan besar-besaran yang akan dilakukan oleh Black Organization. kalau menurutku, sehari sebelum penyerangan itu kita harus menyerang lebih dulu markas Black Organization ." Usul Neji. Tsunade terlihat berfikir lalu mengangguk-angguk.

"Baiklah. Aku terima usulanmu."

Bersambung..

(NB : Naruto akhirnya bakalan punya kemampuan untuk melindungi Hinata-chan. Lantas, siapakah Sai sebenarnya?

Jika ada typo, kata yang amburegul atau istilah yang salah, Mohon dimaklumkan dan beritahu saya. Saya hanya penulis amatir. Semakin banyak yang review, semakin cepat update chapter selanjutnya. Arigatou..)