Chapter sebelum nya :

"Neji, apa kau punya rencana?"

"Mm.. mungkin begini. Berdasar informasi yang diberikan oleh Ko', setahun lagi akan ada penyerangan besar-besaran yang akan dilakukan oleh Black Organization. kalau menurutku, sehari sebelum penyerangan itu kita harus menyerang lebih dulu markas Black Organization ." Usul Neji. Tsunade terlihat berfikir lalu mengangguk-angguk.

"Baiklah. Aku terima usulanmu."

Chapter 7

Flashback

Jiraiya adalah seorang pengamat politik. Politik yang terjadi di pemerintahan dulu aman-aman saja, mungkin hanya konflik yang penyelesaian nya mudah. Namun akhir-akhir ini, dunia politik semakin kacau karna terjadi banyak pembunuhan dan hilang nya direktur-direktur perusahaan besar. Dimulai dari pembantaian klan Uzumaki. Lalu kematian nyonya Haruno. Juga kematian direktur perusahaan D Rock dan istrinya. Yang notabene mereka adalah orang-orang yang aktif di dunia politik. Jiraiya akhirnya mulai bergerak setelah terjadi pembunuhan seorang anggota badan secretariat pengamat politik, Hyuga Hizashi dan istrinya, yang notabene mereka adalah teman Jiraiya semenjak SMA.

Jiraiya bingung harus bagaimana memulai nya, hingga suatu ketika ia bertemu seorang anak perempuan yang sedang menangis di sebuah pemakaman umum. Jiraiya pun menghampirinya.

"Hei.. kau kenapa?" Tanya Jiraiya sambil memegang pundang anak perempuan itu. Anak permpuan itu pun menoleh. terlihat air mata bercucuran dari manic emerald anak ini lalu membasahi kedua pipi chubby nya.

"P-paman, ibuku meninggal tahun lalu. Dan aku masih tidak terima jika ibu meninggal karna dibunuh. Demi ibuku, Aku akan mencari pembunuhnya.." Ucap anak itu dengan tangan mengepal. Jiraiya mentatap fisik anak perempuan itu. Rambut merah mudanya mengingatkannya pada Haruno Sakemi yang mati tahun lalu.

"Siapa namamu?" Tanya Jiraiya.

"Haruno Sakura." Jawab anak itu dengan mata memancarkan kebencian, Jiraiya mengerti bahwa Sakura memang anak dari Haruno Sakemi. Jiraiya pun berjongkok lalu menghapus air mata yang berada di pipi Sakura dengan telapak tangan nya.

"Aku akan membantumu mencari pembunuh itu, nak." Ujar Jiraiya diselingi senyuman. Mata Sakura pun berbinar mendengar pernyataan Jiraiya.

"Benarkah paman?" Tanya Sakura kecil mencoba meyakinkan. Jiraiya pun mengangguk. Sakura pun senang dan lantas memeluk Jiraiya.

"Ayo, ikut paman." Jiraiya pun menggandeng Sakura menuju suatu tempat.

Di lain tempat, di malam yang sangat dingin, Detektif Tsunade sedang membolak-balik dokumen tentang pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini. Tsunade mengernyit membaca dokumen yang isinya alasan kematian yang sangat tidak masuk akal. Tangan Tsunade pun mulai mengepal. Karena suntuk, Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di tengah hujan sambil mengenakan payung. Ketika ia sedang berjalan santai, ia ditabrak seorang anak laki-laki yang berlari tanpa arah. Anak laki-laki itu pun pingsan setelah manabrak Tsunade. Tsunade pun memandang anak laki-laki ini.

"Hyuga?" Tsunade pun kembali mengingat bahwa setengah jam yang lalu ia mendapat kabar kematian Hyuga Hizashi dan Hyuga Satori yang dibunuh namun belum jelas siapa pembunuhnya.

"Dia mirip sekali dengan Hizashi. Aku akan membawanya." Tsunade pun mulai mengangkat anak laki-laki itu di gendongan nya dan membawanya pergi.

Di pagi yang sangat cerah, Neji kecil terbangun dari pingsan nya. Ia terduduk lalu memegang kepalanya yang dibungkus oleh perban. Neji pun melihat seorang wanita berambut pirang menghampirinya.

"Siapa nama mu, nak?" Tanya Tsunade sambil membelai rambut coklat Neji. Neji hanya menatap Tsunade dingin.

"Hyuga Neji." Jawab Neji singkat.

"Kenapa kau berlari-lari di tengah malam, Neji?" Tanya Tsunade lagi. Mencoba mencari informasi dari Hyuga kecil ini.

"Ayah dan Ibuku di bunuh." Jawab Neji datar tanpa ekspresi.

"Apakah kau tau siapa pembunuhnya?" Tanya Tsunade lagi. Tsunade semakin dekat dengan informasi. Neji terlihat berfikir, ia teringat adik sepupu nya, Hinata. Tidak mungkin ia membocorkan rahasia bahwa ayah Hinata yang membunuh kedua orang tua nya, Hinata bisa sedih.

"Aku.. tidak ingat." Ucap Neji berbohong. Tsunade pun hanya menghela nafas.

"Baiklah, istirahatlah." Tsunade pun membelai rambut coklat panjang Neji lalu beranjak meninggalkan Neji. Neji mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Terlihat seorang anak berambut bob sedang duduk memunggungi Neji.

"Apa orang tua mu juga dibunuh?" Tanya anak itu sambil menoleh sedikit ke arah Neji. Neji tidak menjawab. Anak itu kembali melanjutkan perkataan nya.

"Orang tua ku dibunuh 6 bulan yang lalu. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku hidup hanya untuk mencari tau siapa pembunuh itu. Dan aku akan bekerja untuk Tsunade-sama, membantunya mencari informasi. Dia adalah seorang detektif." Jelas anak berambut bob itu lalu beranjak meninggalkan Neji. Neji yang sangat ceria, mendadak menjadi pribadi yang dingin karena peristiwa yang menimpanya. Otak cerdas Neji mulai memikirkan sesuatu.

Tahun berlalu sangat cepat, dunia politik kembali damai. seolah tak pernah terjadi pembunuhan berantai itu. Mereka semua melupakan dan menutup kasus nya, tapi tidak dengan Jiraiya dan Tsunade. Hingga pada tahun ke 5 setelah tragedy pembunuhan Hyuga Hizashi, dunia politik kembali gempar dengan hilang nya semua direktur perusahaan terkenal. Jiraiya dan Tsunade pun mulai bergerak kembali. Mereka berdua pun melakukan pertemuan di mansion milik Tsunade.

"Tsunade, aku mendapat informasi tentang kematian Hyuga Hikari. Istri dari direktur perusahaan Hyuga Corp, Hyuga Hiashi." Ucap Jiraiya membuka pembicaraan. Tsunade pun terkejut.

"Bukankah Hyuga Hikari sedang berada di luar negeri?" Tanya Tsunade. Jiraiya menggeleng.

"Aku mendapat informasi dari orang dalam. Hyuga Hikari mati pada 1 tahun setelah kematian Hyuga Hizashi dan istrinya. Tapi masalahnya aku tidak tau apa penyebab kematian Hyuga Hikari. Entah dibunuh atau murni kecelakaan. Kematian nyonya Hyuga ini sangat tidak kentara di publik. " Jelas Jiraiya. Tsunade mengurut pelipisnya lalu menghela nafas.

"Heesshh apa lagi ini? Apakah korban selanjutnya adalah Hyuga Hiashi? Apakah akan terjadi pembantaian klan Hyuga?" Tsunade coba menebak-nebak. Jiraiya hanya menggeleng.

"Aku tidak tahu. Selama 3 tahun ini pun aku mencoba menelitinya. Tapi tak menemukan apa-apa." Ungkap Jiraiya sambil membetulkan letak kaca mata nya.

"Aku akan mencari informasi secepatnya. Aku akan meminta anak-anak dari direktur perusahaan yang hilang untuk membantuku. Kau juga harus merekrut mereka. Pasti mereka sekarang di ambang kebingungan." Ucap Tsunade lalu beranjak meninggalkan Jiraiya.

Di sebuah sekolah Junior High School yang terkenal, Neji sedang duduk diam di kursi dalam kelas bersama Lee. Hingga ia mendengar pembicaraan dari teman sekelasnya.

"Ayah dan ibuku 2 hari yang lalu mendadak hilang. Apakah kalian merasakan hal yang sama?" Ucap seorang anak berambut coklat jabrik pendek.

"Ya, Kiba. Aku juga sedang memikirkannya." Sahut seorang anak sambil membenarkan kacamata hitamnya yang sedikit melorot.

"Hueeee, ayah dan ibuu.. aku tak ikhlassss.. siapa yang akan memasakkan ku makanan.." Ucap seorang anak berbadan gendut sambil menangis.

"Tenanglah, Chouji. Kita juga sedang memikirkan jalan keluarnya." Ucap seorang anak berambut seperti nanas sambil berfikir. Kelihatannya dialah yang paling cerdas. Neji dan Lee pun saling berpandangan. Neji pun menghampiri ke empat anak itu.

"Kalian berempat, ikutlah denganku. Akan kupertemukan kalian dengan Tsunade-sama." Ujar Neji dengan ekspresi dingin. Keempat bocah itu terlihat bingung dan berfikir. Namun akhirnya mengiyakan ajakan Neji.

Sore hari terasa begitu kelabu bagi Sakura. Setelah kematian ibunya, kini ayahnya yang menghilang dengan tiba-tiba. Ia berjalan sambil memikirkan sesuatu. Tak dipedulikannya sepatu sekolah nya yang menjadi kotor karna ia tak memperhatikan jalan. Lantas, pandangan Sakura pun teralih pada dua anak perempuan yang sedang murung di bawah pohon. Sakura pun menghampiri kedua anak itu.

"Hei, kalian kenapa?" Tanya Sakura. Kedua anak itu pun menoleh ke arah Sakura.

"Orangtua ku hilang secara tiba tiba. Hiks hiks.." Ucap anak dengan rambut berwarna pirang panjang lantas menangis. anak disebelahnya hanya bisa mengelus punggung teman nya ini.

"Orangtua kami hilang secara tiba-tiba kemarin lusa. Sampai sekarang pun belum ada kabarnya." Tambah anak dengan rambut dicepol 2 ini. Anak ini terlihat lebih tegar.

"Ikutlah denganku. Ada yang ingin kutunjukan pada kalian." Ajak Sakura. Kedua gadis ini terlihat kebingungan dengan apa yang dikatakan Sakura.

Neji dan Lee telah sampai di mansion milik Tsunade. Dibelakang mereka diikuti empat bocah laki-laki. Tsunade pun muncul dibalik pintu. Neji dan Lee membungkuk memberi hormat pada Tsunade.

"Neji, Lee. Siapa mereka?" Tanya Tsunade sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada nya.

"Maaf Tsunade-sama, tadi Neji.." Ucap Lee menggantung. Alis Tsunade pun berkerut. Tsunade pun melihat ke arah Neji, meminta penjelasan.

"Maaf Tsunade-sama, orang tua mereka berempat hilang secara mendadak. Saya rasa mereka bisa sangat membantu…" Jelas Neji. Tsunade pun tersenyum. Lalu ia menatap keempat bocah yang orang tua nya sangat Tsunade kenal.

'Neji sangat peka sekali dengan keadaan.' Pikir Tsunade bangga.

"Masuklah kalian berempat." Suruh Tsunade. Tsunade pun mulai masuk kedalam, diikuti 6 bocah yang baru menginjak SMP itu.

"Aku adalah Tsunade. Seorang detektif. Aku akan membantu kalian mencari orang tua kalian yang hilang secara tiba-tiba. Mulai sekarang, kalian dibawah komando ku." Ucap Tsunade to the point. Keempat bocah itu pun saling berpandangan. Suasana pun seketika hening.

"Aku setuju." Sang bocah berambut nanas angkat suara.

"Tapi Shikamaru, kenapa?" Sang bocah gendut meminta alasan. Sang bocah berambut nanas pun hanya diam.

"Aku mengenal anda, Tsunade-sama. Anda adalah detektif yang sangat terkenal. Jadi saya menyetujui ajakan anda." Ucap bocah berkacamata hitam yang juga terlihat cerdas itu.

"Shino! Kau.. ah baiklah." Sang bocah gendut pun akhirnya pasrah.

"Ini adalah cara untuk mencari orang tua kita yang hilang kan? Tentu saja aku tidak akan menolaknya." Ujar sang bocah berambut jabrik coklat. Tsunade pun tersenyum.

"Baiklah, mulai sekarang aku adalah ketua kalian. Dan aku akan mengajari kalian ilmu beladiri, aturan menembak dan menggunakan pedang. Sehingga akan terbentuklah sebuah kelompok pembela kebenaran bernama, Rookie 12."

Sakura membuka pintu apartemen yang terkunci dengan paksa, nampaklah seorang pria dewasa berambut putih yang sedang tidur mengorok diatas sofa. Sakura dan kedua anak perempuan yang diajaknya pun sweatdrop.

"Jiraiya-sama! Oy! Bangunlah!." Sakura menggoyang-goyangkan tubuh Jiraiya. Namun Jiraiya tak kunjung sadar. Sakura pun mengambil gelas berisi air yang tak jauh darinya lalu menyiramkannya pada muka Jiraiya. Jiraiya pun seketika bangun.

"Oy, Oy Sakuraaa.." Ucap Jiraiya lantas terduduk. Jiraiya pun mengucek kedua matanya perlahan lalu membukanya. Dihadapannya kini terlihat Sakura berdiri dengan anak perempuan berambut pirang bermata biru dan anak dengan gaya rambut di cepol dua.

'Anak Yamanaka Inoichi, pemilik toko bunga mewah Yamanaka. Dan pewaris tunggal perusahaan produksi senjata asal China.' Gumam Jiraiya dalam hati meneliti kedua anak di hadapannya.

"Mereka kehilangan kedua orang tua nya, Jiraiya-sama. Bantulah mereka." Pinta Sakura pada Jiraiya. Jiraiya pun memasang wajah berfikir di hadapan ketiga bocah perempuan ini

"Ya aku akan membantu kalian. Kalian sudah masuk ke dalam team Jiraiya." Ucap Jiraiya narsis. Sakura pun tak pernah tau kalau Jiraiya punya niat membuat team. Ketiga anak perempuan itu sweatdrop.

"H-hah? Jiraiya team? Yang benar saja. Apa anda bisa menjamin bahwa orang tua kita akan ditemukan?" Ucap sang gadis berambut pirang sewot.

"Aku akan menjaminnya. Tapi tidak butuh waktu sebentar." Jiraiya mulai berkata serius. Melihat keseriusan dalam wajah Jiraiya, kedua anak ini pun akhirnya menyetujui ajakan Jiraiya.

Tahun demi tahun berlalu, Rookie 12 dan Team Jiraiya pun sering melakukan misi berbahaya untuk sekadar mencari informasi tentang dalang dibalik hancurnya dunia politik ini. Namun semua berakhir dengan tangan kosong. Hingga akhirnya, Tsunade mendapat informasi tentang organisasi hitam dalam dunia politik yang disebut Black Organization. Tsunade sangat yakin bahwa Black Organization ada hubungannya dengan kehancuran dunia politik. Tsunade pun menyamar menjadi kepala sekolah Konoha International High School untuk memata-matai genk yang ada hubungannya dengan Black Organization.

End of Flashback

6 Months Later..

Seseorang dengan topeng berwarna hitam menguping pembicaraan di luar ruang kerja Hiashi. Ia menempelkan daun telinganya pada pintu bercat coklat itu. Terdengar pembicaraan antara dua orang laki-laki dewasa.

"Culik Hinata. Bawa dia menjauh dari sini. Setelah itu, bunuh dia." Suara baritone menggema di setiap ruangan itu.

"Tapi, Hiashi-sama. Bukankah dia anakmu.. anak semata wayangmu." Kali ini, suara berat menyahuti.

"Jangan banyak bicara! Laksanakan saja." Suara Baritone itu meninggi.

"Baik." Dan seseorang dengan topeng itu pun segera menjauh ketika mendengar suara langkah kaki yang hendak keluar dari ruangan.

"Naruto, perkembangan mu sangat pesat." Ucap Sai sambil tersenyum. Naruto menggenggam dua pedang di kedua tangannya. Naruto tampak kelelahan lantas ia pun menyeka keringat di dahinya lalu tersenyum kearah Sai.

"Terimakasih, Sai." Sai beranjak dari duduknya di bawah pohon sakura lalu menghampiri Naruto dan memegang kedua pundak nya.

"Mari latihan bertarung denganku." Sai mengambil dua bilah pedang yang beberapa bulan lalu dibelinya bersama dengan Naruto di sebuah ruko khusus pedang. Naruto hanya menyengir. Sai pun menyiapkan kuda-kudanya lalu mengacungkan sebilah pedang nya dihadapan Naruto. Naruto juga. Sai mulai menebas pedang nya, Naruto dengan mudah menangkisnya dengan satu pedangnya. Sai mundur beberapa langkah. dengan cepat Sai pun berlari sambil menggerakan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Naruto kembali menangkis dan dengan cepat Naruto mengarahkan pedangnya kearah Sai. Sai dengan reflek yang sangat bagus bisa menghindarinya. Namun naas, beberapa helai rambut hitamnya terpotong karna pedang Naruto. Karna tak konsentrasi, Naruto pun dengan mudah memojokkan Sai dengan pedangnya didinding kos-kosan Naruto.

"Baiklah-baiklah. Kau menang." Sai menyerah. Naruto pun menurunkan bilah pedangnya dari leher Sai. Naruto tersenyum.

"Wah perkembangan mu meningkat dengan pesat, Naruto!" Ucap Sai bangga sambil tersenyum. Naruto pun menunjukan lagi senyuman tiga jarinya dan jari tangannya berpose ala Victoria.

"Tentu. Ini juga karenamu. Terimakasih Sai-sensei." Ujar Naruto sambil membungkuk hormat. Sai hanya menunjukan senyuman nya lagi.

"Sudah cukup latihannya, ayo berangkat ke sekolah, Naruto!" Sai beranjak lalu meletakkan kedua pedang nya di dinding kos an Naruto. Naruto pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua pun berjalan kaki bersama menuju KIHS.

Suasana kelas 12-1 IPA ricuh dikarenakan Kakashi-sensei belum masuk. Atau mungkin telat lagi? Padahal jarum jam sudah menunjukan di angka 8. Naruto hanya mendengus malas lalu tiba-tiba tersenyum. Hubungannya dengan Hinata selama 6 bulan ini berjalan pesat. Naruto bahkan hampir setiap hari berkirim pesan dengan Hinata. Memikirkannya saja membuat hatinya serasa begitu bahagia. Sai yang melihat Naruto senyum-senyum bahkan mengira Naruto sudah crazy. Suasana yang membosankan tiba-tiba terasa mengerikan dikarenakan Tsunade yang tiba-tiba masuk kelas tanpa salam atau ketukan pintu. Hening.

"Neji, Shikamaru, Rocklee, Kiba, Shino, Choji, Sakura, Ino, Tenten. Pergi ke ruangan ku sekarang!" Perintah Tsunade. Dengan langkah yang terbilang sangat terburu-buru, Tsunade pun meninggalkan kelas diikuti mereka ber sembilan.

"Heahh.. Nenek Tsunade menganggu halusinasi ku saja." Naruto melengos. Tiba-tiba Sai menyahut.

"Tidakkah kau curiga kenapa Hinata-chan dari kemarin tidak masuk?" Sai angkat suara, membuat Naruto berpaling kepadanya.

"Ya mungkin dia sakit. Atau ada urusan dengan keluarganya." Jawab Naruto seadanya.

"Tidakkah kau curiga kenapa Hinata-chan tidak mengabari mu kalau ia sakit atau ada urusan dengan keluarganya?" Ucap Sai. Naruto tertohok. Ia terlihat berfikir keras. Benar juga kata Sai. Pandangan Naruto pun mulai serius.

"Sai.. katakan. Apa kau tau sesuatu?" Ucap Naruto sambil melihat bangku Hinata yang kosong. Dan juga.. bangku Uchiha Sasuke juga kosong.

Di ruangan Tsunade kini sudah ada Jiraiya. Mereka ber 11 berkumpul dan membentuk lingkaran. Suasana mulai serius dan tegang.

"Aku baru saja mendapat informasi dari asistenku. Bahwa.. Hinata telah diculik. Dan kita akan melakukan misi penyelamatan Hinata." Ujar Tsunade membuka suara. Hanya tatapan melongo yang ditunjukan oleh Rookie 12, lalu tergantikan dengan ekspresi terkejut mereka. Wajah Neji terlihat penuh amarah.

"Sabar, kita tidak akan berangkat sekarang. Nanti kita akan berangkat ketika mal-"

"Kita berangkat sekarang." Ucapan Jiraiya pun dipotong dengan tidak sopan oleh Neji. Neji beranjak. Tsunade menghela nafas.

"Hentikan Neji! Kalau kita berangkat sekarang, semuanya akan curiga. Kontrol emosimu. Asisten ku bilang ia sudah mengetahui letak pastinya Hinata dimana sekarang. Jadi bersabarlah. Kita akan menyusun rencana dulu nanti. Jadi semua setelah pulang sekolah harus segera ke Mansion. Sekarang silahkan kembali."

Bel pertanda pulang di KIHS telah berbunyi. Sai dan Naruto berjalan berdampingan menuju jalan pulang dengan ekspresi yang susah ditebak. Naruto masih memikirkan kata-kata Sai tadi. Hanya keheningan yang menyapa perjalanan pulang Said an Naruto.

Flashback

"Sai.. katakan. Apa kau tau sesuatu?" Naruto bertanya serius tiba-tiba. Membuat Sai terkejut. Sai pun menghela nafas.

"Aku mendapat informasi kalau.. Hinata diculik." Naruto terdiam sejenak. Mencerna kata-kata Sai. Beberapa detik kemudian, Naruto pun terkejut.

"Hah?! Serius kau?" Naruto masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Sai.

Bersambung..

(NB : Siapa kah orang bertopeng itu? Dan bagaiman reaksi Naruto ketika mendengar Hinata diculik?

Di chapter ini memang sengaja alur nya di percepat, dan banyak skip. Maaf jika ada typo dan kata yang amburegul, saya hanya penulis amatir. Jika memang ada kesalahan tolong beritahu saya. Seperti biasa, semakin banyak yang review, semakin cepat update chapter selanjutnya. Arigatou..)

Hyuga-san