Chapter sebelumnya :

Flashback

"Sai.. katakan. Apa kau tau sesuatu?" Naruto bertanya serius tiba-tiba. Membuat Sai terkejut. Sai pun menghela nafas.

"Aku mendapat informasi kalau.. Hinata diculik." Naruto terdiam sejenak. Mencerna kata-kata Sai. Beberapa detik kemudian, Naruto pun terkejut.

"Hah?! Serius kau?" Naruto masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Sai.

Chapter 8

"Dan Uchiha Sasuke juga tidak masuk. Bukankah itu suatu kebetulan?" Tambah Sai membuat Naruto menggeram. Naruto sangat tau betapa Sasuke sangat membenci Hinata. Karna Hinata sering curhat padanya tentang Sasuke. Dan kini bukan tidak mungkin kalau Hinata sekarang sedang bersama Sasuke mengingat mereka berdua tidak masuk secara bersamaan dari kemarin.

"Kau tenanglah dulu. Nanti malam akan kuceritakan banyak hal." Tambah Sai lagi. Naruto pun mengangguk.

End flashback

Mansion Rookie 12, Pukul 17:50 PM

Kesembilan Rookie itu pun kini duduk berhadap-hadapan dengan Tsunade dan Jiraiya di ruangan pertemuan. Wajah mereka terlihat tegang dan serius.

"Malam ini kita akan melakukan misi penyelamatan Hinata." Ucap Tsunade membuka suara disertai anggukan Jiraiya.

"Tapi, apakah ada alasan kenapa kita menyelamatkan Hinata?" Tanya Sakura tegas. Tsunade mengangguk.

"Sepertinya dalangnya adalah Hiashi, pemimpin Black Organization. Yang meminta bantuan Akatsuki. Karna Akatsuki dari kemarin juga absen tidak masuk sekolah. Menurut asisten ku, mungkin Hinata sudah tau semua tentang ayah nya. Dan mungkin juga Hinata punya informasi baru yang seharusnya tidak ada orang yang tahu. Maka dari itu, Hiashi mengasingkan Hinata." Tukas Tsunade panjang lebar. Mata Neji mengatup, menahan amarah.

"Lalu, apakah Ketua tau dimana Hinata sekarang?" Tanya Shikamaru.

"Di desa yang paling jauh dari Konoha, di Suna. Jadi, kita akan berangkat malam ini karna kemungkinan kita akan sampai 3 hari dari sekarang. Mengingat perjalanan ke Suna yang cukup jauh. Para penculik dan Hinata sekarang sudah sampai di Suna karna mereka menggunakan Jet Pribadi." Jelas Tsunade lagi.

"Lantas, kenapa anda bisa mengetahui ini, Ketua?" Ino angkat suara.

"Asistenku sudah memata-matai mereka, dan dia sudah ada disana sekarang karna dia langsung berangkat dengan sepeda motor flash yang kecepatannya menyamai pesawat ketika mereka berangkat." Ucap Tsunade lalu menyilangkan kedua tangan nya di depan dada.

"Siapa dia.. asistenmu itu." Neji kini mulai penasaran. Kening Tsunade berkerut.

"Identitas nya dirahasiakan. Ayo cepat berkemas. Bawa banyak peluru dan pistol cadangan, bawa cadangan makanan juga karna kita akan berada di Van selama 3 hari. Aku bisa menjamin Hinata akan baik-baik saja sampai kita tiba disana. Karna asisten ku akan mengawasi mereka. Cepat bergegas, pukul 18.30 segera berkumpul di Van yang sudah terparkir di belakang mansion." Perintah Tsunade tegas. Para Rookie 12 pun segera menghambur untuk berkemas.

Kos-kos an Naruto, Pukul 18:00 PM

Naruto dan Sai kini duduk berhadap-hadapan di ruang tamu. Mimik wajah Naruto menunjukan keseriusan yang dibalas dengan senyuman Sai.

"Naruto." Sai mulai angkat bicara.

"Apa?"

"Serius banget sih, santai aja kalii."Ucap Sai membuat kening Naruto berdenyut-denyut.

"Sudahlah. Katakan saja Sai! Tak usah berbasa basi." ucap Naruto mulai tidak tenang.

"Baiklah. Naruto.." Sai menggantung kata-kata nya lagi.

"Apa Sai?"

"Aku mencintaimu." Ucap Sai dengan ekspresi datar, Naruto beranjak lalu mengambil pedang nya dari dinding ruang tamu.

"Berhenti bercanda atau.."

"Black Organization.." Sai mulai bicara serius. Naruto meletakkan kembali pedang nya lalu kembali duduk dihadapan Sai. Mulai menyimak apa yang dibicarakan oleh Sai.

"Black Organization. Aku telah meneliti desa ini selama 3 tahun. Dan aku menemukan organisasi yang tidak pantas untuk didirikan. Black Organization merekrut direktur-direktur perusahaan besar dan membunuh direktur perusahaan kecil. Dan yang paling menyesakkan adalah, ternyata orang tua ku dibunuh oleh Black Organization karna tak ingin bergabung dengan organisasi keparat itu. Dan yang paling mengejutkan adalah.. mereka yang membunuh orangtua dan klan mu 13 tahun yang lalu." Jelas Sai. Naruto pun terdiam. Sai mulai melihat ekspresi Naruto yang tidak bisa ditebak itu. Antara marah, kecewa, terkejut, benci, dan ingin menangis.

"Lantas.. siapa dalang dibalik Black Organization ini?" Tanya Naruto mulai menstabilkan emosinya. Dia hanya bisa mengepalkan tangannya kuat.

"Aku tidak tahu. Yang pasti ada Uchiha didalam nya."

'Uchiha.' Nama itu terngiang di otak Naruto. Dan yang paling mendominan dalam otak nya adalah Uchiha Sasuke. Uchiha Sasuke yang membenci Hinata. Naruto semakin marah dan ingin berteriak sekarang juga. Sai menepuk pelan pundak Naruto.

"Tujuan Black Organization adalah untuk menguasai Konoha. Dan mereka mulai menculik pewaris Hyuga sekarang. Entah tujuannya apa." Jelas Sai, Mata Naruto pun terpejam. Mencoba menetralisir perasaannya. Mengetahui kenyataan kalau keluarga dan klan nya dibantai membuat perasaan nya tak karuan sekarang. Namun Naruto tau, ini semua telah terjadi, tak mungkin bisa dikembalikan. Naruto pun mencoba untuk menerima semua ini.

"Sai, apa kau tau dimana Hinata sekarang?"

Mansion Rookie 12, Pukul 18:45 PM

"Hei! Lama sekali sih kalian. Kalian terlambat 15 menit." Cetus Tsunade yang kini sudah didalam Van dan duduk di samping Jiraiya yang mengambil alih kemudi. Para Rookie pun hanya nyengir.

"Maaf ketua, tadi ada sedikit masalah." Ujar Tenten lalu memasukkan barang-barang yang diperlukan dalam bagasi, begitupula yang lainnya. Tsunade hanya memutar bola mata bosan. Sakura mulai masuk ke line kedua van, diikuti oleh Ino dan Tenten. Dan para laki-laki sibuk berebutan tempat duduk di line ketiga van. Neji yang berkemas paling akhir tidak mendapat duduk dan akhirnya duduk di line kedua dengan para wanita.

"Baiklah, ayo berangkat Jiraiya." Perintah Tsunade setelah dirasa semua anak buah nya sudah berada di dalam van. Jiraiya pun menancap gas dengan santai. Akhirnya Van yang memuat 11 orang tersebut meninggalkan mansion tempat mereka berkumpul.

Di lain tempat, seorang gadis tersadar dari pingsannya. Di edarkan nya pandangannya meneliti ruangan yang tak dikenali nya itu. Setelah beberapa detik akhirnya ia benar-benar tersadar. Benar-benar sadar kalau kedua tangan dan kaki nya diikat. Hanya cahaya rembulan di celah jendela yang menyinari ruangan ini. Gadis berambut Indigo panjang itu pun berkaca-kaca. Mengingat apa yang telah terjadi beberapa waktu lalu.

Flashback

Hinata yang baru saja pulang sekolah dan masih mengenakan seragam tiba-tiba saja ingin bertemu ayahnya. Setelah sampai di depan ruang kerja ayahnya, ia pun mulai mengetuk pintu nya dengan perlahan.

"Ayah." Panggil Hinata pelan, tidak ada jawaban. Akhirnya Hinata pun membuka dengan lancang pintu ruang kerja ayahnya itu, dan masuk untuk melihat-lihat. Ruang kerja ayahnya sangat rap dan bersih. Manik amethyst nya membelalak ketika melihat suatu kliping dokumen dengan judul "Daftar Kematian" dan dengan sangat penasarannya Hinata pun membolak balikan dokumen ini.

"Apa ini?!" Hinata terkejut saat melihat foto Ms. Haruno dengan keterangan dibawahnya : Haruno Sakemi, mati pada 13 Oktober 2006 karna mencoba melaporkan Black Organization ke Polisi.

Hinata pun kembali membuka dokumen itu dengan acak dan terbelalak saat melihat foto Hyuga Hizashi dan Hyuga Satori, paman dan bibinya sekaligus ayah dan ibu Neji. Dengan keterangan dibawahnya : Hyuga Hizashi dan Hyuga Satori, mati pada 04 Desember 2007 karna tidak mau bergabung dengan Black Organization. Hinata benar-benar syok, karena ayahnya bilang bahwa paman dan bibinya meninggal karna kecelakaan mobil.

Nafas Hinata mulai tidak stabil, dan ia pun kembali membuka dokumen itu. Lembaran yang ini membuat Hinata benar-benar menangis dalam diam sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Terpampanglah foto Hyuga Hikari, Ibu dari Hinata, dengan keterangan dibawahnya : Hyuga Hikari, mati 28 Juni 2008 karna mencoba menghancurkan Black Organization. Seingatnya waktu itu ayahnya pernah bilang kalau ibunya mati tenggelam saat perjalanan menuju luar negeri, dan jasad nya tak pernah ditemukan. Hinata pun membaca lembaran akhir dokumen ini yang tulisannya berisi Ketua Black Organization : Hyuga Hiashi.

Hinata pun menjatuhkan daftar kematian itu ke lantai ketika pintu ruang kerja Hiashi ini terbuka. Terlihatlah Hiashi memandang heran putrinya yang sedang menangis di ruang kerjanya, pandangannya pun teralih pada buku yang berada di bawah Hinata persis. Hiashi memandang Hinata sinis lalu menghampirinya. Hinata mundur sebisa mungkin sampai ia benar-benar tersandar pada tembok. Ayahnya dihadapannya memandangnya dengan tatapan mengerikan, Hinata pun ketakutan.

"A-ayah.. A-apa yang telah terjadi?" Hinata membuka suara.

"Memangnya apa yang telah terjadi, putriku?" Ucap Hiashi pura-pura tidak tahu namun seringaian dari bibir nya pun tak hilang. Hinata bukanlah orang yang bodoh. Ia mengetahui maksud dari daftar kematian itu.

"Kau adalah pembunuh, ayah! Kau membunuh Paman, bibi bahkan Ibu!" Ujar Hinata cepat dengan sangat tegas sambil tetap mengalirkan airmata dari kelopak matanya.

"Kalau iya memang kenapa hmm?" Hiashi menyeringai. Aura kebencian mulai terpancar dari dalam diri Hinata. Paman, bibi, ibu dan bahkan orang tua teman-teman nya mati ditangan Ayahnya. Ayah yang sangat disayangi dan dihormati nya. Hinata benar-benar marah dan kecewa dengan apa yang terjadi sekarang.

"Ini adalah Black Organization, organisasi ayah. Organisasi yang bisa menguasai Konoha ini bahkan bisa menguasai seluruh Negara ini. Mereka yang tidak setuju dengan organisasi yang kudirikan ini akan menerima akibatnya yaitu ke-ma-ti-an. Ayah pun telah bekerja sama dengan Akatsuki. Penghalang ayah saat ini hanyalah Rookie 12 sialan itu. Dan ayah akan berencana memusnahkannya. Juga.. ayah akan segera membunuh orang tua temanmu yang masih kusekap sebelum hari penyerangan itu. HAHAHA." Tutur Hiashi membuat hati Hinata semakin mencelos. Ia tidak percaya bahwa ayahnya adalah seorang pembunuh psikopat yang tega hanya karna sebuah kekuasaan semata.

"Aku benci ayah!" Teriak Hinata lalu berlari sekuat tenaga menjauhi ayahnya itu. Dengan cepat, Hiashi memegang tengkuk Hinata dan merileks kan nya sehingga Hinata tak sadarkan diri.

"Maafkan ayah, putriku. Ayah tidak ingin menghancurkan apa yang ayah bangun selama ini." Ucap Hiashi membiarkan putrinya terkapar di ruang kerja nya.

End of Flashback

Hinata POV

Aku berharap aku sedang mimpi. Dan aku berharap akan segera bangun dari tidurku ini. Tapi kurasa harapan ku hanya sia-sia, semuanya telah menjadi nyata. Ini semua nyata! Dan aku benar-benar kecewa dan tak habis fikir dengan ayahku. Setelah kematian ibu, aku hanya hidup untuk ayahku dan Neji-nii. Neji-nii pun jarang ada di mansion, sekarang aku tau kenapa Neji-nii bersikap seperti itu dan jarang berada di mansion bersamaku, penyebabnya adalah ayah. Setelah Neji-nii meninggalkan ku dan ayah pun tak menginginkanku, untuk apa aku hidup? Aku berjuang untuk siapa? Aku hanya bisa menangis, mengeluarkan semua kesedihanku. Tiba-tiba pintu ruangan ini terbuka. Menampakan lelaki dengan menggunakan topeng di wajah nya. Menghampiriku. Aku benar-benar takut. Neji-nii, Naruto, tolong aku.

"K-kau.."

End Hinata Pov

Disinilah Naruto dan Sai sekarang. Di sebuah rumah kosong yang gelap, tanpa cahaya sedikitpun. Membuat Naruto bergidik ngeri. Karna ia paling takut dengan yang namanya hantu. Sai duduk dengan tenang di pojokan ruangan. Naruto bersembunyi di punggung Sai, Sai pun membuka laptop nya. Terpancarlah cahaya terang yang di timbulkan laptop itu.

"Hei, kau kenapa sih Naruto? Biasa aja dong." Sai sewot karna Naruto sangat penakut sekali. Naruto pun memandang horror ke Sai.

"Kau itu aneh sekali, Sai! Aku tadi tanya apakah kau tau Hinata-chan dimana sekarang, eh kok malah ke rumah kosong gelap gini. Mau ngapain sih?" ucap Naruto tak kalah sewot. Sai hanya mendengus. Ia pun mengabaikan Naruto lalu mengutak atik laptop nya dan mengecek Email . lalu Sai pun meng klik akun email bernama 'Anonymous'.

"Hyuga Hinata, diculik pada tanggal 13 january 2015 dan diasingkan di Apartemen Roseflower lantai 5 nomor apartemen 787, Suna." Sai membaca apa yang tertera pada email Anonymous yang dikirim kemarin itu. Naruto menyimak dengan serius.

"Begitu ya.. tapi Sai apakah aku boleh bertanya?" Ucap Naruto sedikit ragu. Dahi Sai mengernyit.

"Apa?"

"Kenapa kau memberitahuku semua ini? Bukankah ini adalah informasi yang sangat rahasia. Informasi yang telah kau kumpulkan sejak lama." Ucap Naruto dengan nada rendah. Sai tersenyum menatap Naruto.

"Lantas, apa tujuanku mengajari mu menjadi samurai? Tentu saja aku ingin kau membantuku. Membantuku menghabisi Black Organization yang merugikan rakyat itu. Black Organization yang telah membantai klan mu. Black Organization yang telah menculik Hinata.." Ungkap Sai dengan mimik wajah serius, Naruto pun menutup matanya lalu membuka nya lagi.

"Lihat ini!" Sai pun memencet tombol di dinding yang tak jauh dari mereka duduk. Dengan sangat cepat, ruangan ini pun dipenuhi cahaya. Naruto menyipitkan matanya sejenak karna silau, lalu Naruto pun terbelalak. Ruangan ini dipenuhi dengan alat-alat elektronik canggih. Sai pun berdiri.

"Sudah kubilang aku adalah peneliti! Ayo berangkat. Apa kau ingin Hinata-chan mu itu kenapa-kenapa?" Ucap Sai lantas tersenyum. Naruto pun tersenyum kembali pada Sai. Sai pun mengeluarkan motor sport keluaran terbaru tahun 2015. Dan ia pun mengambil dua bilah pedang, sebuah pistol dan menggunakan kacamata pelindung. Sai pun berpose ala pembela kebenaran di hadapan Naruto.

"W-woww! Keren sekali. Kau sudah seperti pahlawan super, Sai.." Kagum Naruto terpana.

"Cepat kau ambil pedang itu untukmu dan bawalah kacamata sepertiku." Ujar Sai. Naruto pun mengangguk dan segera mengambil apa yang Sai perintahkan. Sebuah pedang dan kacamata pelindung. Naruto pun menghampiri Sai yang sudah berada di atas motor sport nya.

"Kenakan kacamata dan helm mu. Kita akan melakukan perjalanan panjang selama 2 ½ hari." Ucap Said an diikuti anggukan cepat Naruto.

"Ha'i Sai-sensei!" Naruto pun segera menggunakan helm nya dan naik ke atas motor. Suara derum motor Sai pun melenyapkan kesunyian malam yang tenang.

Suasana di apartemen Roseflower sangat sunyi dikarenakan lokasi apartemen ini yang jauh dari kota. Bisa dibilang, hanya beberapa orang yang menempati apartemen yang sangat besar ini. Tapi apartemen ini sangat menguntungkan karna bisa digunakan untuk tindak criminal. Disinilah Akatsuki sekarang, di salah satu kamar di apartemen itu sambil bermain kartu untuk menghilangkan bosan. Tak lupa beberapa botol alcohol dan rokok menemani permainan kartu mereka.

"Cih, aku tak menyangka Hiashi akan mengorbankan putrinya juga untuk masa depan Black Organization." Ucap Hidan sambil mengeluarkan asap rokok dari dalam mulutnya.

"Aku tak peduli dengan pemikiran orang tua itu, yang penting kita dibayar." Ujar Kisame tersenyum meremehkan saat melihat kartu yang dimiliki nya bagus-bagus.

"Bahkan polisi pun takut pada kita. Cih, beruntung sekali Hiashi itu menyewa kita." Ucap Sasori lalu mengeluarkan kartu AS, membuat kartu yang berada di tangannya habis tak tersisa. Kisame menggeram, ternyata Sasori yang menang duluan.

"Halangan kita hanyalah Rookie 12. Tapi mereka hanyalah sekumpulan anak SMA labil, un." Ucap Deidara lantas merebahkan dirinya di atas lantai.

"Kita juga hanyalah anak SMA, Senpai. Senpai gimana sih." Tobi menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Deidara hanya memutar bola mata bosan.

"Oy, Itachi. Apa kau tak mau minum? Cih kau seperti wanita saja. Lagian kau ini terlalu baik masuk di genk pembuat onar seperti kita ini." Ucap Hidan sambil menenggak satu botol alcohol. Itachi hanya diam mengamati rekan satu genk nya ini.

"Nagato, sampai kapan kita akan disini? Aku muak sekamar dengan orang-orang nistah ini." Ucap Konan berekspresi dingin. Sang ketua itu pun memandang Konan sejenak.

"Kita tunggu pemberitahuan selanjutnya dari Hiash—"

Bip Bip Bip

Mereka semua pun menghentikan aktifitasnya ketika handphone Nagato yang berada di atas meja berdering dan bergetar. Pertanda ada panggilan masuk. Nagato pun memberi kode pada Zetsu untuk mengambilkan ponselnya itu. Dengan santai Zetsu pun mengambil ponsel itu lantas diberikannya pada Nagato.

"Halo." Suara Nagato menggema di kamar ini, karna para Akatsuki lebih memilih diam mendengarkan sang ketua sedang mengangkat telpon. Nagato pun menyalakan loudspeaker agar rekannya bisa mendengarkan.

"Aku mendengar kalau Rookie 12 sedang menuju kesana. Jadi aku ingin kalian membunuh Hinata besok. Setidaknya mereka akan sampai lusa besok." Akatsuki pun terkejut mendengar hal ini.

"Dilaksanakan." Nagato menyanggupi. Lantas terputuslah sambungan telepon itu. Nagato pun meletakkan ponsel nya lagi diatas meja.

"Aku tidak tahu ada mata-mata disini." Ucap Nagato sambil menutup matanya. Mereka pun terbelalak.

"Apa maksudmu, ketua?!" Deidara mulai menggeram karena ia tak percaya ada yang mengkhianati genk Akatsuki.

"Aku sangat yakin informasi tempat yang kita gunakan saat ini sangat-sangat rahasia. Kecuali ada diantara kalian yang menjadi mata-mata Rookie 12!" Tangan Nagato mulai mengepal sambil memandang rekan-rekan Akatsuki nya ini dengan tatapan membunuh. Diam, tak ada yang berani menyuarakan suaranya. Nagato pun memutuskan untuk berbalik dan merebahkan tubuhnya dengan keras di atas ranjang.

"Aku akan segera membunuh mata-mata itu!" Ungkap Nagato lantas menutup matanya. Para Akatsuki pun bergidik ngeri. Tanpa sadar, hanya seseorang bermata kelam yang tidak bergidik ngeri dengan ancaman Nagato.

Bersambung..

Balasan review yang akun ffn nya warna item (?)

Guest-san : Ini fanfic udah kutulis sejak tahun 2012, dan aku memutuskan untuk nggak mengganti nama-nama chara di dalam fanfic ini, termasuk nama ibu nya Sakura biar nggak membingungkan. Dan di chapter ini pun nama ibu Sakura tetep Haruno Sakemi :v Makasih udah di kasih tau:D

(NB : Misi penyelamatan Hinata dimulai! Apakah Naruto, Sai dan Rookie 12 bisa datang tepat waktu sebelum Hinata dibunuh Akatsuki atau ada rencana lain? Dan apa benar ada mata-mata dalam Akatsuki?

Maaf jika ada typo dan kata yang amburegul, saya hanya penulis amatir. Semakin banyak yang review, semakin cepat update chapter selanjutnya! Makasih..

Hyuga-san)