Chapter sebelumnya :

"Aku sangat yakin informasi tempat yang kita gunakan saat ini sangat-sangat rahasia. Kecuali ada diantara kalian yang menjadi mata-mata Rookie 12!" Tangan Nagato mulai mengepal sambil memandang rekan-rekan Akatsuki nya ini dengan tatapan membunuh. Diam, tak ada yang berani menyuarakan suaranya. Nagato pun memutuskan untuk berbalik dan merebahkan tubuhnya dengan keras di atas ranjang.

"Aku akan segera membunuh mata-mata itu!" Ungkap Nagato lantas menutup matanya. Para Akatsuki pun bergidik ngeri. Tanpa sadar, hanya seseorang bermata kelam yang tidak bergidik ngeri dengan ancaman Nagato.

Chapter 9

Malam pun semakin larut, keheningan menyapa apartemen ini. Seorang dengan manik sekelam malam itu pun membuka matanya. Terdengar dengkuran halus menyeka gendang telinganya. Ia pun mendudukan dirinya dan menatap rekan-rekan nya yang tengah terlelap dengan tatapan dingin. Lalu ia turun dari ranjang nya, menatap sang ketua sejenak lalu meninggalkan kamar ini.

Langkahnya sangat tenang sehingga tak menimbulkan suara sedikitpun, akhirnya ia pun sampai setelah menempuh perjalanan dari lantai dasar ke lantai 5. Ia menatap pintu dengan nomor '787' di hadapannya ini dengan ekspresi datar, dengan perlahan ia pun membuka pintu itu. Nampaklah seorang gadis dengan rambut indigo panjang acak-acakan tengah menunduk dengan kedua tangan dan kaki yang diikat.

"Apa kau kesini mau membunuh ku?" Tanya Hinata, gadis itu, sambil mendongakkan kepalanya menatap mata kelam sosok dihadapannya.

"Apa tadi ada pria bertopeng yang kesini?" Sosok itu mengacuhkan pertanyaan Hinata. Hinata hanya mengangguk pelan.

"Malam ini aku akan membawamu pergi." Hinata terbelalak dengan pernyataan barusan yang keluar dari mulut orang ini.

"Ayah mu menyuruh kami membunuhmu besok." Tambah sosok bermata kelam itu. Ekspresi Hinata pun berubah sedih.

"Kalau seperti itu juga tidak apa-apa." Ucap Hinata sambil menatap lantai yang di duduki nya.

"Misi ku adalah.. membebaskan mu." Hinata membulatkan matanya lagi lantas menatap sosok yang sangat dikenalinya ini.

"Apa?"

"Aku adalah mata-mata Akatsuki selama 7 tahun ini. Dan aku sangat membenci ayahmu. Aku akan menghancurkan Black Organization dengan cara ku sendiri." Ujar sosok itu lalu menghampiri Hinata dan melepas tali yang mengikat tangan dan kaki nya. Hinata terperangah dengan sosok di hadapan nya ini.

Ia pun membuka jendela yang berada di kamar ini. Hinata pun paham dengan apa yang akan dilakukan orang ini.

"Aku akan membawamu pergi. Ayo loncat." Ucapnya menyuruh Hinata melompat dulu. Hinata pun merinding saat melihat ke bawah. Hanya kegelapan yang nampak di manik Amethyst nya. Lagipula ini lantai lima, loncat dari lantai lima sama dengan bunuh diri.

"Naiklah di punggung ku. Aku akan menjamin ini akan baik-baik saja." Ucap sosok itu dengan wajah datar. Hinata pun terlihat ragu lantas menuruti apa kata orang ini.

Hinata mengeratkan tangannya di kedua bahu orang ini. Dengan cepat, mereka pun meloncat dari jendela. Hinata menutup matanya dan mulutnya agar ia tidak berteriak dan membangunkan para Akatsuki yang tidur di kamar lantai dasar. Setelah Hinata merasa sudah tidak 'terbang' lagi, ia pun membuka matanya. Namun sosok itu tetap berlari dengan Hinata di punggung nya. Mereka pun berlari cukup jauh, sampai memasuki hutan yang rimbun. Hinata tidak bisa melihat apa-apa sekarang, terlalu gelap. Tiba-tiba mereka pun berhenti.

"Turunlah, kita sudah sampai." Hinata pun menuruti kata-kata orang ini. Hinata segera turun. Remang-remang, ia melihat sosok bertopeng hitam di hadapannya. Hinata pernah bertemu dua kali dengan sosok bertopeng ini, pertama saat sosok ini memenggal kepala Sasame. Kedua saat sosok ini menampakan diri di hadapannya beberapa jam lalu.

"Aku titip dia." Ucap sang mata-mata Akatsuki tersebut. Sosok bertopeng hitam itu pun mengangguk. Sosok bermata kelam itu pun meninggalkan mereka berdua, namun dengan cepat Hinata memegang pergelangan tangan nya. Ia pun menoleh.

"Terima kasih.. Itachi-san." Ucap Hinata sambil tersenyum bangga kepada orang di hadapannya ini. Dia adalah Uchiha Itachi, kakak dari pacarnya, Uchiha Sasuke. Dan putra sulung dari Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Itachi pun tersenyum pada pacar adiknya ini, senyum Itachi sangat menenangkan. Pipi Hinata pun memerah.

"Dari dulu, aku yakin kau memang orang yang sangat baik. Walau kau bergabung dengan Akatsuki yang terkenal nakal itu, aku masih meyakinkan diriku kalau kau orang yang baik. Dan terbukti hingga saat ini, Itachi-san. Aku harap Sasuke-kun juga memiliki sifat sepertimu." Itachi pun tersenyum lagi mendengar celotehan Hinata.

"Yakinilah dirimu bahwa adikku adalah orang baik, seperti kau meyakinkan diriku. Aku harus cepat, ketua pasti sudah mengetahui diriku yang sebenarnya. Sampai jumpa." Seru Itachi sambil berlalu meninggalkan Hinata dan orang bertopeng ini. Itachi pun hilang ditelan kegelapan malam. Hinata tersenyum penuh arti.

"Itachi-san benar-benar baik." Kagum Hinata sambil menautkan kedua tangannya di depan dada. Hinata teringat sesuatu, ia pun menengok kebelakang. Terlihatlah orang bertopeng yang kelihatan sangat dingin itu tengah bersandar di sebuah pohon besar.

"Apa?" orang bertopeng itu membuka suara ketika Hinata menatap nya.

"Apa kau teman Itachi-san? Apa kau orang yang bisa diandalkan?" Tanya Hinata dengan mata yang menyipit.

"Hn."

"Waktu itu kenapa kau membunuh Sasame, pacar Sasuke-kun? Dan kenapa kau menyelamatkan ku waktu di serang preman?" Tanya Hinata lagi penasaran dengan orang bertopeng di hadapannya ini.

"Bukan urusanmu." Hinata igit-igit dengan orang super dingin di hadapannya ini. Tapi Hinata merasa familiar dengan suara orang ini. Hinata mencoba mengingatnya tapi sudahlah, itu bukan hal yang penting. Lagipula, dia sekarang selamat.

Sai sedang menyetir sepeda motor dengan kecepatan tinggi, melewati kesunyian malam. Sai pun melihat ke jam analog yang berada di pergelangan tangan kirinya. Pukul 3 pagi, ia sudah menyetir selama kurang lebih 8 jam. Sai pun menoleh ke belakang, terlihat Naruto tengah tidur dengan bersandar pada bahu nya membuat air liurnya membasahai jaket Sai, Sai pun hanya tersenyum kecut. Sai pun melihat di hadapannya ada sebuah sungai kecil, ia pun memutuskan untuk beristirahat.

"Wadaow!" Kejut Naruto setelah Sai dengan paksa turun dari motornya, membuat Naruto oleng dan jatuh ke samping motor. Naruto pun terpaksa sadar dari tidur nya yang nyenyak itu lalu berdiri menghampiri Sai.

"Oy! Apa yang kau lakukan? Apa kita sudah sampai?" Geram Naruto sambil menunjuk-nunjuk wajah Sai. Sai hanya tersenyum.

"Tidak. Aku hanya istirahat, aku lelah. Itu gara-gara kau juga, yang tak bisa menyetir sepeda motor, sehingga aku harus terus menyetir selama 2 hari ini." Ujar Sai sambil tersenyum. Naruto pun menghela nafas berat lalu duduk disamping Sai.

"Terkadang aku berfikir kenapa nenek sangat mengekang ku dan tak memperbolehkan ku untuk melakukan ini itu." Gumam Naruto menopangkan dagunya pada tangan kanannya.

"Ya mungkin dia ingin agar kau tak terlibat dalam hal berbahaya seperti yang kau lakukan sekarang."

"Tapi kan aku sudah remaja menginjak dewasa. Aku juga ingin berkelahi dan memberantas genk pembuat onar di sekolah, Akatsuki. Dan juga bisa melindungi Hinata-chan ku." Ucap Naruto yakin sambil mengepalkan tangannya. Sai pun tersenyum, ia pun mengambil sesuatu dari jok motornya lalu melemparkannya pada Naruto.

"Eh?"

"Makanlah roti itu. Perjalanan masih panjang." Ujar Sai sambil duduk kembali di samping Naruto sambil memakan sedikit demi sedikit roti yang di genggam nya. Naruto pun tersenyum lalu memakan roti pemberian Sai.

Drrt Drrt

Sai merasa saku celananya bergetar, ia pun meletakkan rotinya lalu mengambil handphone yang berada di saku celananya. Naruto pun penasaran karna Sai tiba-tiba menghentikan aktifitas makan nya. Sai pun menatap layar handphone nya, ada email masuk dari 'Anonymous'.

"Cepatlah kesini, Hyuga itu sedang dalam bahaya." Sai membaca pesan tersebut dengan suara lantang, mata Naruto pun terbelalak dan dengan reflek ia menghentikan aktifitas makan nya.

"Apa?!"

"Wah, padahal aku sangat lelah sekali.." Ucap Sai sambil menguap lebar, Sai pun menoleh sedikit melihat ekspresi Naruto. Naruto menunduk, membuat beberapa helai rambut poni nya jatuh mengikuti alur kepala nya. Tangan Naruto terkepal, membuat roti yang dibawanya menjadi tak berbentuk.

"SAI!" Teriak Naruto sambil memandang Sai.

"Apaan?"

"Aku minta tolong sekali ini saja.. tolong. Tolong berkendara lah hingga sampai di tempat Hinata-chan. Aku mohon.. aku tak akan meminta hal aneh lain padamu. Kumohon, sekali ini saja. Hinata-chan dalam bahaya, dan aku sangat ingin membantu nya. Aku janji.. aku akan menuruti semua apa yang kau ingin kan setelah semua ini selesai.." Ungkap Naruto dengan wajah yang sangat kelewat serius. Sai pun melongo lalu tersenyum.

"Baiklah.. tapi kau harus tetap terjaga karna aku akan meningkatkan speed." Ucap Sai sambil tersenyum, Naruto pun tersenyum lebar. Sai segera memakai helm nya lagi dan langsung naik ke motor nya. Diikuti Naruto. Suara derum motor kembali menggema menyapu keheningan malam.

"HINATA-CHAN! AKU AKAN SEGERA MENYELAMATKANMU, TUNGGU AKU…" Teriak Naruto sambil melayangkan tinju nya ke udara. Sai pun tersenyum di balik masker hitam yang di gunakan nya.

Van yang di naiki Rookie 12 pun terasa sepi. Karna hari masih gelap sekali, jadi para Rookie 12 memutuskan untuk mengistirahatkan mata sejenak. Hanya Jiraiya dan Neji yang masih terjaga. Neji menatap pantulan dirinya yang berada di kaca van. Jiraiya melihat Neji yang belum terlelap dari spion van.

"Kau tidak tidur, Neji?" Tanya Jiraiya sambil tetap mengemudi.

"Aku sangat mengkhawatirkan Hinata-sama, tak ada waktu untuk tidur." Ucap Neji lalu mengambil tab dari small bag nya. Jiraiya menghela nafas.

"Padahal ayahnya yang telah membunuh orang tua mu.. harusnya kau membencinya."

"Bagiku.. Hinata-sama tak ada hubungan nya dengan apa yang terjadi pada orang tua ku." Neji mengutak-atik tab nya sambil mencari sinyal.

"Sebegitukah?"

"Hinata-sama adalah hal terakhir yang ibu titipkan padaku, aku akan menjaganya." Jelas Neji masih terfokus pada tab nya. Jiraiya memutuskan untuk diam. Setelah tab Neji mendapat sinyal, mata Neji pun terbelalak.

"APA?!" Ucap Neji keras membuat Jiraiya terkejut. Sakura yang berada di samping nya pun membuka sedikit-sedikit iris emerald nya.

"Ada apa, Neji?" Tanya Jiraiya. Neji dengan tergesa-gesa mengetikkan sesuatu di tab nya.

"Tidak mungkin! Aku baru mendapat sinyal. Lokasi Hinata-sama sekarang berbeda dengan apa yang Tsunade-sama katakan." Jiraiya pun terkejut, begitu pun Sakura. Neji pun melihat sudut pandang dari chip yang di pasang di seragam Hinata. Hanya kegelapan yang Nampak dari tab nya. Neji pun terbelalak setelah samar-samar melihat pria bertopeng yang berada di dekat Hinata.

"Ah, apa ini! Kuso.. kenapa sinyal ini hilang saat dibutuhkan!" Ucap Neji kesal sambil menggerak-gerakan tab nya, berharap sinyal nya kembali. Tab Neji pun mati total setelah sinyal hilang sepenuhnya. Neji pun semakin kesal.

DRRTT DRRRT DRRTTT

Ponsel yang berada di samping Tsunade pun bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Jiraiya pun inisiatif ingin mengangkat ponsel itu namun dengan cepat tangan Tsunade menepuk keras telapak tangan Jiraiya yang hampir mengambil ponsel itu. Jiraiya hanya memutar bola mata kesal.

"Hoamm.. Halo, ada apa?" Tsunade menjawab telepon dengan malas.

"Tsunade-sama, lokasi Hyuga Hinata berubah. Aku akan segera mengirimkan lokasi nya, cepatlah kesini sebelum mereka membunuh nya." Tsunade pun akhirnya benar-benar sadar setelah mendengar hal ini. Ekspresi Tsunade pun berubah. Neji pun menangkap ekspresi Tsunade.

"Ada apa, Tsunade-sama?" Tanya Neji dengan tangan yang terkepal. Tsunade pun mengabaikan Neji lalu menoleh ke Jiraiya. Terlihat Jiraiya sangat kelelahan dan beberapa kali menutup mata. Neji pun mengerti maksud Tsunade.

"Jiraiya-sama, aku akan menggantikanmu.." Pinta Neji. Tsunade pun terbelalak.

"Ah benarkah? Aduh kau ini peka sekali sih, Neji." Ucap Jiraiya sambil memberhentikan van. Ketika Van benar-benar berhenti, Neji pun segera turun dan masuk di ruang kemudi, menggantikan Jiraiya yang langsung duduk di samping Sakura. Neji pun segera memasang sabuk pengaman. Tsunade pun bergidik sambil menatap Neji.

BRUUUMM

Van melaju dengan sangat cepat, membuat para Rookie 12 pun tersentak dari tidur nya. Bahkan Lee pun sampai menatap kaca.

"Adaow.. ada apa sih?" Tanya Lee sambil mengelus kepala nya yang habis menghantam kaca van.

'Kalau gini sama aja aku nggak bisa tidur.' Pikir Jiraiya sweatdrop.

"Neji! Pelan dong.." Sentak Ino sambil memegang bangku di depan nya agar ia tak jatuh. Neji tak menggubris Ino, bahkan ia berkendara sangat sangat cepat sekarang.

"NEJI!"

Esoknya, Pukul 08:00 AM.

Suasana kamar yang ditempati Akatsuki mendadak ramai kembali setelah satu per satu dari mereka bangun. Itachi pun berada disana juga, namun ia berekspresi sebiasa mungkin.

"Hoam, nyenyak sekali tidur ku tadi malam.." Ucap Hidan sambil menguap lebar.

"Saat nya membunuh gadis Hyuga." Ucapan datar Kakuzu membuat semuanya terdiam. Mata kelam sang Uchiha Itachi tetap menampakan pandangan datar nya.

"Aa benar sekali. Samehada sangat ingin bersentuhan dengan darah segar." Tambah Kisame sambil menyeringai. Nagato pun menggeleng pelan.

"Tidak. Kita tidak akan membunuh nya hari ini, tapi besok. Aku agak tidak fit hari ini." Ujar Nagato membuat para Akatsuki melongo. Itachi menangkap gelagat aneh ketuanya ini.

"Serahkan saja pada kami, ketua. Kami tidak akan melakukan kesalahan. Kau istirahat saja disini." Sasori pun memberi argument nya.

"Sekali tidak ya tidak!" Seru Nagato menaikkan volume suara nya. Tidak ada yang berani menjawab pernyataan Nagato lagi. Nagato pun menoleh pada Itachi.

"Itachi."

"Ya, ketua?" Sahut Itachi ketika Nagato memanggil nama nya. Jujur, kali ini Itachi sedikit takut dengan tatapan Nagato yang ditujukan pada nya. Tatapan Nagato adalah tatapan membunuh.

"Aku benar-benar ingin.. bertarung denganmu." Ucap Nagato tegas. Para Akatsuki pun terbelalak dengan apa yang baru saja ketua mereka katakan, terlebih lagi Itachi. Tapi Itachi tetap memasang wajah datar nya. Suasana hening seketika.

"Ya. Aku juga, ketua." Setelah Itachi mengatakan hal ini, suasana terasa lebih mencekam. Para Akatsuki benar-benar takut, takut kalau ketua nya marah dan membunuh Itachi di tempat. Memang, Nagato jarang bertarung ketika menghadapi musuh, ia hanya sering memerintah Akatsuki karna memang dia leader nya. Namun pernah suatu kali Nagato bertarung melawan penjahat kelas kakap di hadapan para Akatsuki yang terkapar tak berdaya, para Akatsuki pun bersumpah tak ingin melihat gaya bertarung Nagato lagi yang sungguh-sungguh mengerikan untuk ukuran anak SMA.

Nagato masih menatap dalam iris onyx Itachi, Itachi pun membalas menatap Nagato dengan tatapan yang lebih santai. Para Akatsuki pun berniat untuk lari jikalau Nagato tiba-tiba mengamuk. Konan berjalan santai menuju Nagato lalu menepuk punggung nya pelan. Nagato menoleh kearah Konan.

"Beristirahatlah. kau pasti sangat lelah, Nagato." Ucap Konan yang telapak tangan nya masih berada di punggung Nagato. Nagato pun segera berbalik.

"Kau benar." Seketika itu pula Nagato pun memutuskan untuk keluar dari kamar, diikuti Konan di belakang nya. Para Akatsuki menghembuskan nafas lega.

"Beuh.. Nagato-senpai bener-bener syeremm.." Ucap Tobi sambil mengelus-elus dada nya.

"Rumor nya, ketua dikenal sebagai Pain dewa dari Amegakure." Tambah Kakuzu. Membuat semuanya bergidik ngeri.

"Tapi Itachi-san, kenapa ketua bersikap seperti itu padamu?" Tanya Sasori pada Itachi. Itachi pun hanya menggeleng.

"Entahlah, aku tak tahu."

"Bagaimana ya jadinya kalau ketua tadi ngamuk? Pasti apartemen ini seketika runtuh." Ucap Hidan bergidik ngeri membayangkan jika hal itu terjadi.

'Ketua..'

12 hours later

Karena suntuk di kamar terus selama 12 jam, Deidara dan Sasori pun memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar apartemen, menyapa orang yang kebetulan lewat di hadapan mereka.

"Heah, ketua kenapa sih nggak ngebolehin kita keluar kamar sampai besok, un." Gerutu Deidara yang berjalan dengan malas. Mereka berdua kini berada di lantai 5. menurut apa yang dikatakan orang-orang di apartemen ini, jika melihat pemandangan desa Suna dari lantai 5 apartemen ini, maka desa Suna akan terlihat sangat indah. Deidara dan Sasori pun memutuskan untuk melihat hal ini.

"Ketua pasti punya alasan." Balas Sasori seadanya, Deidara hanya mendecih.

"Aha, aku punya ide. Ayo lihat pemandangan desa Suna dari jendela kamar yang dihuni gadis Hyuga itu, un. Aku sedikit khawatir juga dengan nya." Tukas Deidara memberi ide.

"Kau benar-benar ingin melihat pemandangan ya.. ini sudah malam, bodoh. Mau liat apa emang nya?" Ucap Sasori. Deidara pun terlihat berfikir menanggapi pernyataan Sasori.

"Um, kau benar juga. Aku jadi tak tertarik lagi dengan pemandangan, un. Aku jadi ingin mengecek gadis Hyuga aja. Kau ikut kan, Sasori? Aku yakin kau pernah menyukai gadis Hyuga itu, un." Ucapan Deidara membuat Sasori memberikan deathglare pada Deidara. Deidara pun hanya menahan tawa melihat ekspresi rekan nya ini. Mereka pun berhenti ketika melihat pintu dengan nomor '787'. Deidara pun segera membuka knop pintu itu, dan pintu terbuka dengan mudah.

'Tidak terkunci? Ada apa ini?' Pikir Sasori heran. Ketika pintu sudah terbuka seluruhnya, Sasori pun melenggang masuk dan mencari saklar lampu.

CKLEK

Lampu pun menyala ketika Sasori berhasil menemukan saklar lampu nya, kamar ini benar-benar terang sekarang. Sasori dan Deidara pun terbelalak ketika mendapati tali yang digunakan untuk mengikat kaki dan tangan Hinata tergeletak rapi diatas lantai. Sasori mengedarkan pandangan di seluruh kamar, namun tak ada tanda-tanda dari gadis Hyuga itu.

"Deidara, ini buruk!" Sasori segera berlari meninggalkan kamar ini, diikuti Deidara di belakang nya.

"Kenapa ini bisa terjadi? Apa benar ada mata-mata diantara kita?" Tanya Deidara pada Sasori disela lari nya.

"Aku tak tahu. Yang pasti aku benar-benar takut ketua akan marah jika dia mengetahui hal ini." Jawab Sasori sambil tetap berlari. Tak peduli tatapan aneh beberapa orang yang berlalu lalang di apartemen ini.

"Maaf paman.." Ucap Deidara masih tetap berlari disaat ia tak sengaja menabrak orang yang tengah berjalan santai hingga terjatuh. Akhirnya mereka berdua pun sampai di lantai dasar. Sasori pun segera membuka pintu dengan keras ketika mereka berdua sampai di depan kamar Akatsuki. Pandangan para Akatsuki pun teralih pada Sasori dan Deidara yang ngos-ngos an.

"Oy, kalian kenapa sih?" Tanya Hidan heran melihat tingkah laku kedua rekan nya.

"Ketua, Hyuga hilang." Sergah Sasori cepat. Para Akatsuki pun terbelalak ketika mendengar hal yang di ucapkan oleh Sasori itu. Nagato hanya menghembuskan nafas berat.

"Aku sudah tau." Ucap Nagato tenang. Mereka tambah terkejut lagi setelah mendengar penuturan Nagato itu.

"Lantas, kenapa kau tak memerintah kami untuk mencari Hyuga itu?" Tanya Zetsu sedikit geram. Nagato hanya ber ekspresi datar membuat tangan Deidara mengepal.

"Nagato, jangan-jangan kau—" Ucap Konan menggantung.

"Kau adalah satu-satu nya mata-mata disini!" Simpul Hidan cepat sambil menunjuk wajah Nagato. Iris onyx Itachi sedikit membulat dengan penuturan Hidan barusan.

"Tenangkan diri kalian. Aku bukan seperti yang kalian fikirkan. Aku sedang menyusun rencana." Seru Nagato menatap tajam para Akatsuki di hadapan nya. Suasana mendadak hening.

"Aku sudah tau dimana letak Hyuga itu. Karna sekarang sudah malam, tak mungkin kita kesana sekarang. Setelah matahari terbit, kita akan kesana dan akan kupastikan gadis Hyuga itu segera mati di tangan ku." Ucap Nagato tegas dengan tatapan mata yang sangat membunuh. Itachi tak pernah menyangka bahwa ketua nya akan turun tangan hanya karna masalah sepele seperti ini.

'Ini benar-benar gawat.' Pikir Itachi kacau.

Hinata terbangun dari tidurnya ketika hawa dingin menusuk kulit-kulit putih nya. Semenjak 2 hari yang lalu, Hinata hanya memakai seragam sekolah KIHS yang tak tebal untuk menetralisir hawa dingin. Apalagi nyamuk yang menggigit i kulit wajah dan tangan nya membuat kulit nya berbintik merah. Hinata pun terduduk lalu memeluk kaki nya.

"Ada apa?" Hinata menoleh ketika suara berat itu terdengar oleh gendang telinga nya.

"Kau tak tidur?" Tanya Hinata malah mengalihkan pembicaraan. Terlihat orang bertopeng hitam itu hanya diam.

"Kenapa kita tak kabur saja dari kemarin?" Tambah Hinata lagi sambil menatap orang bertopeng itu, meminta jawaban.

"Hn, aku yakin kau akan terbunuh di jalan jika kita bergerak. Tenanglah, semua ini sudah Itachi dan aku rencanakan." Jawab orang bertopeng itu seadanya. Hinata menghembuskan nafas berat.

"Apa yang akan dilakukan Neji-niisan dan Naruto ya jika mereka tau aku diculik? Ah mungkin mereka tak peduli, lagipula ayahku telah membunuh kedua orang tua Neji-niisan." Ucap Hinata dengan wajah sendu.

"Ayahmu juga membantai klan Uzumaki." Tambah orang bertopeng itu. Manik amethyst Hinata pun membulat mendengar penuturan orang bertopeng ini. Hati Hinata terasa sangat sakit sekali mengetahui hal ini.

"Kau tau banyak ya.." Hinata sudah tak mampu berkata banyak lagi setelah mengetahui bahwa ayah nya membantai keluarga Naruto.

"Aku hanya satu dari ribuan orang yang mengincar ayahmu." Hinata tak menjawab, ia hanya kembali memeluk kedua kaki nya. Hinata terlalu pusing untuk memikirkan hal-hal mengejutkan yang baru-baru ini terjadi.

"Memang, lebih baik aku mati saja. Aku ingin bertemu ibu." Seru Hinata pelan dengan suara yang sedikit tercekat.

"Kalau bukan karna misi, aku pasti sekarang sudah membunuhmu, Hyuga." Ucap orang bertopeng itu datar, Hinata pun tersenyum kecut.

Drrt Drrt Drrt Drrt

"Halo." Hinata menoleh sedikit ketika mendengar orang bertopeng itu menjawab telepon.

"Pergi sekarang! Ini gawat. Kami sedang menuju kesana. Ulur waktu sampai mereka datang." Mata kelam orang bertopeng itu sedikit membulat, namun ia memutuskan untuk mematikan panggilan. Hinata dapat melihat bahwa tingkah orang bertopeng di hadapannya itu sedikit aneh dan terburu-buru.

"Ada apa? Dari siapa itu?" Tanya Hinata pada orang bertopeng itu. Orang bertopeng itu tidak menjawab dan malah menarik tangan Hinata untuk berdiri, Hinata pun semakin bingung.

"Akatsuki menuju kesini, ayo lari." Ucap orang bertopeng itu cepat lalu berlari masuk ke dalam hutan dengan tangan Hinata yang masih berada di genggaman nya. Kecepatan lari orang bertopeng itu sangat cepat sekali, karna Hinata tak bisa mengimbangi, ia pun terjatuh. Orang bertopeng itu pun menghentikan lari nya dan membantu Hinata berdiri.

"Kau ini kenapa? Ayo berdiri." Seru orang bertopeng itu kasar dan tetap membantu Hinata berdiri, namun Hinata tetap tidak mau berdiri.

"K-kurasa kaki ku keseleo. Kau duluan saja, aku tidak apa-apa." Hinata pun menunduk sambil memegangi pergelangan kaki nya yang sedikit memerah. Orang bertopeng itu terdiam sejenak. Samar-samar, orang bertopeng itu dapat melihat Hinata meneteskan air mata nya. Orang bertopeng itu pun mendecih.

"Tsk! tidak ada waktu lagi, baka." Dengan cekatan, orang bertopeng itu mengangkat tubuh Hinata di punggung nya. Hinata terbelalak, orang bertopeng ini pun melanjutkan lari nya dengan Hinata di punggung nya.

"Kau.." Hinata dapat merasakan kalau orang yang menggendongnya ini berlari sangat cepat. Hinata pun menutup matanya lalu samar-samar hidungnya mencium aroma dari tubuh orang bertopeng ini. Hinata pun membuka mata nya dan terbelalak.

'Aroma mint ini kan..' Pikir Hinata.

"Kuso!" Umpat orang bertopeng ini membuyarkan fikiran Hinata dan reflek Hinata pun mendongak. Mata Hinata pun terbelalak ketika di hadapan mereka sekarang ada sekumpulan pria dengan jubah motif awan dan berada di atas sepeda motor yang mesin nya masih menyala membuat telinga Hinata merasa bising. Tapi bukan itu yang Hinata permasalahkan.

"Kau akan habis hari ini!" Seru salah seorang dari pengendara motor itu dengan tatapan yang sangat tajam membuat Hinata ketakutan sampai enggan membuka matanya. Matahari pun mulai nampak di ufuk timur seolah mengatakan bahwa Hinata tak akan bisa melihat matahari esok hari nya.

"A-Akatsuki.."

Bersambung..

Balasan review yang tidak login

AdytamaEzioD'Shadow FB-san: Uhm, Ady-san kalau sudah baca keseluruhan chap mungkin mengerti kenapa Rookie 12 kayak gitu.. Tentu saja setiap penjaga di rumah para penjahat akan dibunuh karna jika tidak mereka akan menganggu misi Rookie12, lagian kan Rookie12 itu kayak pembunuh bayaran gitu tapi di bidang kebenaran. Ok makasih sudah ngasih tau dan udah review juga

(NB : Hinata dalam bahaya! Lantas siapakah pria bertopeng itu? Dan kenapa Itachi menjadi mata-mata Akatsuki? Bisakah mereka tepat waktu?

Maaf jika ada typo atau kata yang amburegul emeseyu bahrelway bahrelway, saya hanya penulis amatir. Semakin banyak yang review, semakin cepat update chapter selanjutnya! Tapi karna terhalang UTS, jadi mungkin update nya agak lama. Makasih..

Hyuga-san)