Chapter 2
Survive
Warn : Typo(s), Yaoi, MPreg, BL, gaje, abal, pemula..
:::
Jung Yunho Kim Jaejoong
.
Flame jangan, respon dibutuhkan.
:::
"Yun.. Apakah aku mengganggu?" Ujar Jaejoong menyembulkan kepalanya dibalik pintu ruang kerja Yunho. Suaminya.
"Tentu tidak, Boo. Kemarilah." Yunho mengibaskan tangannya menyuruh Jaejoong mendekat. Jaejoong dengan ragu melangkah mendekati Yunho, tubuhnya menegang saat Yunho menarik pinggangnya dan mendudukkannya tepat diatas pahanya. Semburat tipis muncul dipipi gembul Jaejoong. Ini sangat berbeda engan apa yang dikatakan Yunho kemarin lusa.
Yunho menyisihkan rambut Jaejoong yang cukup panjang itu kesamping, dan dengan santainya Yunho menenggelamkan wajahnya diceruk leher Jaejoong. Menghirup dalam-dalam aroma vanilla yang menguar dari tubuh Jaejoong.
"Yun.." Panggil Jaejoong pelan, takut mengganggu kebiasaan suaminya.
"Ada apa, Boo? Ada yang mengganggu pikiranmu?" Yunho mulai mengendus-endus leher putih Jaejoong, Jaejoong ingin menggeliat geli namun ditahannya. Pertanyaan yang akan diajukan kepada Yunho begitu meragukannya. Setelah kemarin lusa perutnya hampir tak terisi.
"Ah iya, bagaimana kabarnya jagoan appa?" Ujarnya berbicara pada anakku- eh maksudku anak kita.
"Kita belum tahu jenis kelaminnya, Yun." Terang Jaejoong, ia mengelus lengan Yunho yang sekarang mengelus perutnya. Ia ingin merasakan kehangatan ini dulu sebelum melakukan gugatan cerai-nya.
"Ya, ya, aku tahu.. Jadi, apa yang mengganggu pikiranmu?"
"Emh, apa kau sungguh mencintaiku?" Tanya Jaejoong ragu, ia sedikit gusar menanti jawaban dari suaminya.
"Hmm.. Kenapa kau bertanya seperti itu?" Jaejoong menggeleng pelan. Ia menelan ludahnya kasar.
Melihat Jaejoong yang hanya terdiam, Yunho membuka suara. "Aku sangat mencintaimu, Boo. Sungguh." Ujarnya mantap.
Yunho terhenyak saat sesuatu yang cair menetes terkena kulit tan-nya.
"Boo, kau menangis, sayang? Ada apa?" Yunho membalikkan tubuh Jaejoong. Kini Jaejoong ada dipangkuannya namun menghadap kearahnya.
"Hiks.. Yun, hiks.. Jangan tinggalkan aku, hiks.." Yunho mengusap surai hitam Jaejoong lembut, lalu lengan besarnya mendekap Jaejoong didalam pelukannya.
"Tidak akan, sayang.. Aku disini, selalu untukmu. Jangan menangis." Yunho mengelus-elus punggung Jaejoong. Bibi Park yang melihat itu dari ambang pintu tersenyum cerah, semoga ini akan terus terulang. Batin Bibi Park.
"Yun, ayo tidur. Aku mengantuk." Ohh, sifat manja Jaejoong keluar. Mau tidak mau Yunho tersenyum menyadari perubahan sifat istrinya. Ia menggendong Jaejoong dengan kedua tangannya menyangga pantat seksi Jaejoong, dan kaki Jaejoong melingkar dipinggangnya. Gaya gendongan apa itu? /saya kudet -.-/
Jaejoong menopang kepalanya dipundak lebar Yunho, Yunho mendengar dengkuran halus dari bibir merah Jaejoong. Setelah menidurkannya, Yunho ikut berbaring disebelah Jaejoong.
"Peluk aku, sayang." Jaejoong beralih posisi menjadi menyamping menghadap Yunho kemudian lengan kurusnya melingkar dipinggang Yunho. Yunho mencium bibir cherry Jaejoong sekilas.
"Mianhae, Boo." Desis Yunho, sebelum ia terlelap dibawah alam mimpi bersama Jaejoong.
:::
Yunho terbangun tengah malam karena mimpi buruk. Tidak, bukan hantu atau semacamnya. Ini lebih mengerikan.
Jaejoong-nya mati terbunuh ditangan Boa, dan ia melihatnya secara langsung. Masih sangat jelas tangan Boa yang menggores belati pada permukaan pipi Jaejoong.
"Akh.. H-hentikan.." Jaejoong menahan air matanya, jika air matanya menetes makan luka dipipinya akan dua lali lebih sakit
"Inilah akibatnya jika kau menggoda Yunho-ku. Kau akan ma-"
"Hentikan, Boa!" Yunho menghampiri Jaejoong yang terkulai lemas, tidak hanya pipinya yang terluka, tapi juga leher dan lengannya berdarah. Yunho ingin sekali menolong Jaejoong-nya, namun dengan keadaan tangan terborgol dibelakang kursi itu tak memungkinkan untuk menolong Jaejoong.
Sleb..
Sleb..
"Akh!"
Yunho membuka lebar matanya. Dengan kejamnya Boa menancapkan belati itu diperut Jaejoong dan mencabutnya kembali. "Hentikan, Boa!" Yunho mencoba membuka borgolnya brutal, tak kuasa melihat Jaejoong kesakitan.
"Haha! Sekarang tak ada lagi anak pengganggu ini." Pekik Boa sembari menepuk perut Jaejoong keras.
Uhuk!
Jaejoong mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Boa, bunuh saja dia. Jangan buat ia kesakitan! Kumohon!" Yunho menghentak-hentakkan kursi yang didudukinya. Namun sekali lagi Boa tak mengindahkannya. Boa menghunuskan belati itu tepat pada dada Jaejoong. Namun sebelum itu terjadi, Yunho memilih bangun dari tidurnya.
"Enggh.. Ada apa, Yunnie? Mimpi buruk, eoh?" Jaejoong terbangun. Ia mendudukkan dirinya isampin Yunho.
"Kembalilah tidur, sayang. Aku akan menjagamu. Aku janji." Yunho kembali menidurkan Jaejoong dan mendekapnya erat.
"Saranghae, Boo."
"Nado saranghae, Bear."
:::
Jaejoong menggeliat dalam dekapan Yunho. Yunho pun tak bisa lepas dari Jaejoong, jika ia melepasnya pasti ia akan mendapatkan mimpi buruk lagi.
"Yunh.. Lepaskan." Jaejoong menarik lengan Yunho yang masih setia menempel pada pinggangnya. Oke, Yunho meminta jatah ciuman paginya.
Jaejoong mendekatkan bibirnya pada bibir Yunho. Mengecupnya pelan, tak menyadari bahwa tangan Yunho naik menuju tengkuknya. Dan pada saat Jaejoong akan melepaskan ciumannya, tengkuknya ditahan oleh Yunho. Yunho mengeksplor mulut Jaejoong, membelit lidah masing-masing, dan saling bertukar saliva.
"Eunghh.. Yunhh, sudahh.." Jaejoong mendorong bahu Yunho.
"Cepat mandi, aku akan buatkan sarapan." Tapi Yunho menggeleng.
"Aku ingin bersamamu selama 3 hari kedepan, kita berlibur ke Jepang ne? Aku sudah ambil cuti selama 4 hari kedepan, walau pertama Ayahku menolak tapi akhirnya dibolehkan karena aku berkata 'aku akan mengajak Jaejoong berlibur, appa.' Hahaha..." Jaejoong tersenyum melihat Yunho tertawa.
"Baiklah, aku menerima ajakanmu, Tuan Muda Jung." Kekeh Jaejoong, ia bangun dari tempat tidur dan meraih bathrobe pink-nya.
"Mau mandi bersama, Yunnie~?" Tanya Jaejoong dengan nada manja. Yunho menoleh, melihat Jaejoong menggigit bibir bawahnya erotis membuat hasratnya naik.
"Bolehkah?" Yunho segera bangun dan berlari menuju pintu kamar mandi. Namun sebelum masuk, Jaejoong menggebrakkan pintu kamar mandi dengan keras.
"Dalam mimpimu, Jung! Hahaha!" Yunho menggeram, ia sudah setengah hard tadi. Fantasi liarnya membayangkan Jaejoong menungging dan mendesahkan namanya. Ish, baru membayangkannya saja juniornya sudah tegak. Tak apa, di Jepang nanti akan kuhajar kau Jung Jaejoong!
Yunho mengelus-elus juniornya yang sedang dalam mode tegak itu, agar sang junior dapat lemas kembali. Sakit rasanya menahan hasrat seperti ini, dan ukannya malah lemas Yunho malah mendesah keenakan. Membayangkan tangan Jaejoong mengelus-nya.
"Aish, berhentilah berkhayal, Jung! Tahan sampai nanti!" Yunho mengerang frustasi saat tawa Jaejoong membahana di dalam kamar mandi.
"Awas kau, Jung Jaejoong!"
:::
"Sudah siap?" Setelah meminta izin dari kedua orang tuanya, Jaejoong lekas berbenah untuk liburannya dengan Yunho. Yunho merangkul pinggang Jaejoong dan merapatkan tubuhnya dengan Jaejoong.
"Hmm, kau tahu sayang? Aku tersiksa tadi.." Desis Yunho ditelinga Jaejoong, membuat sang empu merinding. Yunho menciumi rahang istrinya, semakin naik sampai pada bibir merah istrinya. Melumatnya lembut, meminta akses lebih pada Jaejoong yang dengan senang hati membuka mulutnya.
Cklek..
"Kalian su-.. Aigoo! Maafkan aku mengganggu kalian." Nyonya Jung terlihat kelabakan, ia keluar namun mengintip dua sejoli yang masih setia bercumbu ria itu.
"Dasar.." Nyonya Jung tetap mengintip sampai mereka selesai.
'"Sudah siap? Ayo turun, kalian akan terlambat kereta." Teriak Ngonya Jung dari luar yang kemudian langsung berlari menjauhi kamar pasangan fenomenal itu.
"Benar 'kan? Umma Jung melihat kita."
"Aku tak peduli.. Ayo turun, sayang." Yunho beralih menggenggam tangan Jaejoong, merasakan lembutnya tangan Jaejoong. Baik Yunho maupun Jaejoong nyaman dengan ini. Dan Jaejoong harus mempertimbangkan lagi untuk bercerai dengan Yunho.
TBC
.
.
Gimana? Puas dengan adegan lovey-dovey Yunjae?
Maaf banget nggak sesuai pemikiran kalian, jujur nggak tega liat Umma nangis terus.. Ya udah, ripiu egen ne? Terimakasih..
huhiho7
11:56:25
Saturday
