Chapter 2

Idiot

Warn: Yaoi, BL, Typo merajalela, abal, gaje, alur ngebut, mengandung efek samping/?

:::

Ananda Present

Story ⓒ huhiho7

Inspired by ⓒ -

Cast ⓒ Not mine, just borrowed.

:::

Lee Donghae Lee Hyukjae

.

Flame jangan, respon dibutuhkan.

.

.

Cerita sebelumnya..

"Hyukjae." Hyukjae menelan ludahnya kasar mendengar desisan orang itu. Pelipisnya berkeringat.

"Y-ya?" Hyukjae merasakan seluruh tubuhnya bergetar, ia tak menyangka bertemu dengan seseorang yang sudah 'sangat' dikenalnya.

"Ini kotak bekalmu. Sangat enak."

:::

"Emm, ya, terimakasih.." Hyukjae meraih kotak bekalnya. Pandangannya tertuju pada iris hitam didepannya. Tenggorokannya terasa tercekat, apalagi melihatnya menyeringai lebar.

"Apa kabarmu, Hyuk?"

"B-baik, seperti yang kau lihat. K-kau sekolah disini?" Hyukjae mengutuk mulutnya, kenapa tiba-tiba ia gagap seperti ini? Sial!

"Ya, sejak aku tahu bahwa kau juga sekolah disini." Tangan Hyukjae bergetar, ia tak menyangka bertemu dengan 'mantan' tunangannya.

Kriingg.. Kriingg..

"Maaf, sudah masuk jam pelajaran. Aku kedalam dulu." Hyukjae membalik badannya. Berlari, tidak mungkin. Ia memilih berjalan dengan langkah lebar.

Ia takut. Takut sekali. Ia bertemu lagi dengan seseorang yang dulu sempat ia cintai. Dengan mantap ia mengatakan akan membenci pria itu selamanya. Beruntung pria itu tidak mengejarnya, ia menoleh kebelakang.

"Huftt ~" Ia kembali berbalik. Oh, ini mengingatkannya pada Kyuhyun. Dimana anak itu sekarang? Kyuhyun, kemari dan tolong aku.

"Aku ingin bicara sebentar denganmu."

"Apa yang ingin kau bicarakan?" Hyukjae melangkah mundur, jarak mereka dekat sekali. Hyukjae tak bisa berbohong kalau paras ini tetap tampan, tapi rasa benci juga kecewa menetralisir untuk tidak lagi menyebutnya tampan.

"Aku minta maaf, aku tak bermaksud bermain dibelakangmu dulu. Aku menyesal, sungguh.. Apakah kau memaafkanku? Jujur, saat itu bukan aku..." Hyukjae melirik kebelakang tubuh lawan bicaranya, ia menangkap siluet tubuh Donghae. Matanya memincing melihat Hyukjae, kemudian membalik badannya. Seluruh tubuhnya berdesir melihat Donghae. Tidak! Ia harus luapkan perasaan ini. Ia juga tak mengerti kemana arah perbicaraan pria ini, ia kembali memperhatikan pria yang mengoceh terus daritadi.

"Aku tak mengerti." Setelah itu, Hyukjae melengos pergi. Ia terlambat untuk seseorang tak penting. Jika bisa, sudah ia pukul pria tadi. Tapi tidak, Hyukjae orangnya tidak seperti itu. Benar 'kan?

"Hyukkie ~"

"Jangan panggil aku seperti itu! Menjijikkan." Jika kau yang mengucapnya. Lanjut Hyukjae dalam hati.

Pria tadi menahan lembut pergelangan Hyukjae, "Dengarkan aku dulu." Muka memelas tak jadi pun diberikan pria itu kepada Hyukjae.

"Iya! Tapi nanti! Aku tak suka membolos! Pergi!"

Choi Siwon sialan! Tunggu nanti, brengsek! Setelah dulu kau bersikap senonoh padaku, sekarang ingin aku kembali? Dalam mimpimu saja!

"Tak ada gunanya kembali kekelas, lebih baik aku ke atap." Hyukjae melangkah menuju atap. Siapa sangka disana ia bertemu seseorang. Semakin membuat gila saja.

"Aku salah pergi ke tempat ini.. Maaf mengganggumu." Hyukjae membalik badannya. Kenapa disaat ia ingin melupakan Donghae, seolah Tuhan memberikannya kesemoatan lagi dengan bertemu dengan Donghae. Di atas atap.

"Tunggu."

"Eh?"

"Diam disana. Aku ingin bertanya." Donghae menegakkan tubuhnya dan berjalan kearah Hyukjae. Tak ada yang tahu dadanya bergemuruh hebat saat ini, dan saya membeberkannya.

"Ada apa? Ini pertama kalinya kau bicara padaku." Hyukjae memandang Donghae heran, setelah lama didiamkan akhirnya Donghae angkat bicara.

"Jangan menggangguku lagi. Aku risih dengan perlakuanmu yang menjijikkan itu, aku bersumpah bahwa aku masih normal. Tidak sepertimu menjajakan semua pria. Murahan."

"Apa maksudmu?"

"Aku tak menyukaimu. Jelas bukan? Pergi dari hadapanku." Donghae menatap Hyukjae rendah, menggunakan telunjuknya untuk menyuruhnya pergi. Hyukjae menggeram, wajahnya memerah.

"Aku ti-" Donghae menyela, "Kubilang pergi."

Donghae benar, ia abnormal. Tapi itu karena ada hal lain ditubuhnya, mendengar kalimat Donghae ketika lelaki itu mengatakan ia normal Hyukjae merasa tertohok. Apalagi menghinanya dengan sebutan 'Murahan'. Matanya mengembun, hidung memerah, bibir bergetar bersiap untuk menangis.

"Ya, inilah aku. Penyuka sesama jenis. Tak seharusnya aku mendekati namja sepertimu, aku pun sudah muak dengan tingkah sok cool-mu. Cih! Aku pergi! Jangan mencariku!" Pekik Hyukjae dengan akhiran kepedeannya yang sudah distadium 25, ehh?

Hyukjae melangkah pergi, dalam hati ia mengutuk mulutnya yang seenaknya mengucapkan kalimat tak seharusnya diucapkan.

Sementara Donghae diatas atap, "Apa aku terlalu kasar?" Donghae menggelengkan kepalanya. Ia memang risih selalu diikuti seperti itu, Donghae orangnya ceplas-ceplos. Tak perlu memikirkan perasaan orang lain, mulutnya akan asal ceplos menghina orang yang tak disukainya juga yang membuatnya risih.

Seperti Hyukjae. Ia teringat kata-kata Hyukjae.

"... Jangan mencariku!"

"Memangnya dia siapa? Sok sekali." Gumam Donghae, ia memasang earphone birunya. Kesukaannya, membentangkan kedua tangan dan biarkan angin menyapamu.

:::

Hyukjae terisak kecil didalam kelas, saat ini adalah waktu istirahat. Beberapa murid sekelas dengannya menanyakan 'kenapa ia menangis?'. Hyukjae menyembunyikan wajahnya didalam lekukan kedua lengannya.

"Iya, aku ini gay.. Hiks, aku menjijikkan." Donghae yang kebetulan baru masuk mendengar gumaman Hyukjae. Ia duduk ditempatnya, matanya melirik Hyukjae yang belum bergeming ari tempatnya an menggumamkan kata yang tidak jelas -atau mungkin jelas ditelinga Donghae-.

"Aku murahan..." Mendengar itu, Donghae menjadi merasa bersalah.

"Mereka tidak tahu.. Kenapa suka sekali sok tahu? Hiks..." Hyukjae berdiri, melihat itu Donghae terlonjak. Namun Hyukjae tetap pergi tanpa melihat kearah dimana Donghae berada.

"Wookie! Hiks.." Ryeowook yang merasa namanya dipanggil menoleh kebelakang.

"Hey. Ada apa, Hyuk?" Tanya Ryeowook sembari menghapus air mata Hyukjae. Kenapa sih Sahabatnya ini? Biasanya saja tegar tak kenal menangis, omong kosong.

"Aku ingin bicara."

"Bicara saja."

"Tapi tidak disini.." Lirih Hyukjae. Ryeowook yang melihat itu segera menarik Hyukjae menuju kamar mandi. Sampai disana, Ryeowook menaikkan sebelah alisnya.

"Ada yang menghinaku... Murahan..." Ryeowook memincing saat kata terakhir diucap Hyukjae terdengar jelas ditelinganya yang sudah ia bersihkan kemarin.

"Apa? Menghinamu murahan? Siapa dia? Biar kuberi tinju sampai rumah sakit kalau bisa." Hyukjae hanya bisa menunduk, pipinya kembali basah.

"Ia menghinaku murahan karena aku orang yang suka menjajakan pria. Padahal aku tidak seperti itu 'kan, Wookie?" Ryeowook menggeleng pelan, ia merengkuh tubuh kecil Hyukjae. Terisak-isak didalam pelukan sahabatnya.

"Aku ini gay, Wookie. Kau tahu bukan penyebab aku menjadi gay?" Hyukjae mengangkat kepalanya menatap Ryeowook dengan mata sembab. Ryeowook mengangguk cepat.

"Ya, aku selalu tahu tentangmu, Hyukkie."

"Kata Umma, aku mempunyai rahim. Dan karena itu 'kan Umma menjodohkanku dengan Siwon brengsek itu.. Aku juga tak ingin seperti ini, tapi ini adalah takdirku mempunyai rahim. Mereka itu tidak tahu apapun, kenapa mereka itu selalu sok tahu, Wookie? Apa dengan menyebutku murahan, mereka akan senang?" Curhat Hyukjae panjang lebar, ia tak bisa terima jika disebut murahan. Apalagi oleh seseorang yang disukainya. Sakit, sakit ketika kata murahan dicap padamu. Padahal kau tak pernah melakukan apapun.

Ryeowook kembali memeluk Hyukjae, "Tenanglah, jangan menangis seperti itu. Nafasmu bisa sesak." Setelah Ryeowook menyelesaikan kalimatnya, Hyukjae limbung. Hyukjae memukul dadanya berulang kali. Raut panik terbaca diwajah Ryeowook.

"Hyukkie! Hyuk! Apa kau membawa inhaler-mu?!" Hyukjae menggeleng lemah, ia tak pernah membawa inhaler lagi semenjak dokter memberitahukan padanya bahwa sesaknya tidak akan selalu datang.

"Akh.. Hkk!"

"Hyuk! Katakan padaku siapa yang menyebutmu murahan?!"

"D-dong.. H-haehh~" Setelah itu kesadaran Hyukjae menghilang. Ryeowook dengan raut cemasnya, membopong Hyukjae keluar kamar mandi.

"Ah, hey! Junsu! Bantu aku!" Junsu menoleh, matanya melebar melihat Hyukjae tak sadarkan diri.

"Ada apa dengan anak ini? Sesaknya kambuh la-"

"Iya! Sudahlah, jangan banyak tanya! Cepat bantu aku."

:::

"Yak! Donghae! Diam disitu kau!" Donghae menghentikan langkahnya. Tanpa membalik badannya.

"Siapa kau?! Beraninya menyebut Hyukjae murahan!" Tukang adu. Pikir Donghae dalam hati.

"Dia mengadu padamu? Cih. Memang dia murahan bukan? Lihat saja, kemarin bersama Kyuhyun, tadi bersama pria asing." Rahang Ryeowook mengeras. Wajahnya merah padam.

"Terserah apa katamu! Aku ingin kau minta maaf padanya! Dia menderita pneumonia, kalau kau tak mau pun tak apa! Aku tak memaksa, aku hanya menyampaikan ini padamu. Hyukjae namja spesial! Orang yang kau maksud pria asing itu adalah mantan tunangannya. Jadi jangan sok tahu jadi anak! Permisi." Cerocos Ryeowook, lalu...

Buaghh!

"Akh!"

"Untukmu yang sudah membuat Hyukjae menangis." Setelah itu Ryeowook pergi meninggalkan Donghae.

"Minta maaf? Pneumonia? Namja spesial? Mantan tunangan? Apa sebenarnya maksud namja tadi." Desah Donghae frustasi.

"Hey! Kudengar kau menyebut tunanganku murahan ya? Oh, jadi kau!" Pria tinggi tegap berkulit tan itu berjalan mendekati Donghae yang terduduk.

"Kau tidak pantas menyebutnya murahan.. Hati-hati dengan kalimat yang meluncur dari mulutmu, akan menjadi bomerang untukmu. Jika kau tak mau minta maaf padanya." Donghae menatap bengis pria dihadapannya. Satu lagi bogeman mentah mendarat dipipinya.

"Sampai jumpa lain waktu."

TBC

.

.

Ripiu..

Gimana dengan yang ini? Aduh, saya malu karena telat apdet nya.. Maafin ya, gegara ujian beruntun itu jadi nggak bisa apdet kilat.

huhiho7

16:20:37

Friday