Disclaimer:
Nisekoi © Naoshi Komi
Shigatsu wa Kimi no Uso © Naoshi Arakawa
Blonde © reynyah
Summary:
Kenyataan (agak) pahit di balik kemiripan fisik mereka.
Warning:
OOC, Fanon, Deathfict, bahasa gak baku, typo(s).
Blonde
a story about Chitoge's family
by reynyah
Bonus Chapter
Chitoge-nee,
Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi di sampingmu. Entah aku ada dimana yang jelas, walau tak ada di sampingmu, aku selalu dapat melihatmu.
Aneh sekali ya, padahal aku baru bertemu denganmu satu kali, mengobrol akrab denganmu satu kali, meneleponmu satu kali, mengirimimu pesan beberapa kali, tapi aku merasa bahwa kau adalah sesuatu yang penting dan tak bisa ditinggalkan begitu saja.
Mungkin karena aku sudah tahu bahwa Kirisaki Chitoge adalah kakak beda ayahku.
Sejak kecil, ibu selalu menceritakan tentang kakakku yang berambut pirang, bermata biru, dan tinggal di luar Jepang. Aku selalu penasaran, seperti apa ya, tampang kakakku? Cantik kah? Buruk kah? Ah, walau aku yakin kakakku tidak mungkin buruk rupa. Ia pasti cantik dan digemari banyak pria.
Rupanya benar, ya? Bahkan kakak sudah punya pacar sekarang. Ichijou... nii? Namanya?
Belasan tahun ini aku selalu berandai-andai. Aku tidak pernah bisa membayangkan akan punya kakak dari ayah yang berbeda karena bagiku, figur yang disebut 'kakak' adalah orang yang lebih tua dariku, memiliki tempat tinggal yang sama denganku, serta memiliki orang tua yang sama denganku. Ah, tapi bukan berarti aku tidak menghargaimu sama sekali, kok. Rasanya aneh saja karena sejak kecil kita tidak pernah dipertemukan.
Sampai beberapa minggu lalu ibu bilang bahwa kakak sudah pindah kembali ke Jepang.
Aku gembira tiada tara, sungguh. Dengan menggunakan seluruh media yang ada, kucari alamat rumah keluarga Kirisaki tanpa bertanya pada ibu. Aku mencari, mencari, hingga akhirnya menemukan rumah besar berpagar emas di sisi jalan.
Entah kata apa yang sanggup mendeskripsikan rumah itu. Menakjubkan, mungkin?
Hari itu sebenarnya aku dan Tsubaki hendak bertamu ke rumahmu. Lucunya, aku menemukan dua sejoli sedang berlari keluar pagar begitu kami sampai. Memutuskan untuk menjadi 'penguntit', aku dan Tsubaki mengikuti kalian.
Singkat cerita, kami kehilangan jejak kalian.
Kami memutuskan untuk beristirahat sebentar di taman. Aku duduk di salah satu kursi sementara Tsubaki pergi membeli minuman kaleng. Betapa terkejutnya aku ketika kau datang menyapa dengan santainya seolah kita sudah saling kenal.
Omong-omong, obrolan kita adalah obrolan terasyik yang pernah kulakukan bersama orang asing selama hidupku.
Aku sungguh ingin datang ke ulang tahunmu, Chitoge-nee. Sayang ya, takdir berkata lain. Aku mengidap penyakit aneh yang aku sendiri tidak yakin apa. Seharusnya akupun menonton konser piano temanku hari itu.
Aku tidak boleh mengutuki penyakit, kau juga tidak sepantasnya begitu, Chitoge-nee.
Mungkin memang sudah saatnya aku meninggalkan dunia ini. Yah, mungkin pertemuanku denganmu merupakan bagian dari suratan takdir; seorang adik harus menemui kakaknya sebelum berpisah selamanya? Atau yang satu itu hanya karanganku saja?
Memang karanganku, sih.
Aduh, surat ini jadi lebih panjang daripada perkiraanku.
Baiklah, aku hanya ingin berterima kasih kepada Tuhan yang telah mengizinkanku bertemu denganmu. Semoga kau selalu bahagia selama sisa hidupmu, Oneesan.
Jangan lupakan aku, ya?
Salam sayang,
Miyazono Kaori (adik beda ayahmu)
FIN
