Akashi berjalan tak tentu arah. Ia merelakan kemana kakinya membawanya pergi. Dan takdir telah mempertemukannya dengan senpainya saat ia bersekolah di Rakuzan dulu. Mayuzumi Chihiro. Bagai seorang kawan lama yang tak bertemu setelah ribuan tahun, Akashi menghampiri Chihiro yang sedang duduk di bangku taman kota.
"Chihiro…."Akashi berkata dingin dari balik badan Chihiro.
"Akashi….. " Chihiro menoleh dengan keringat dingin. Ia bertemu kembali dengan mantan kapten cebolnya.
"boleh aku duduk di sini?" Akashi langsung duduk disebelah Chihiro tanpa dipersilahkan.
"tumben aku bertemu dengan mu di sini…." Chihiro bergeser sedikit untuk menjauhi Akashi. Ia tidak ingin ada kesalapahaman bila ada yang melihat.
"aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar…" sebelah tangan Akashi berada dibelakang pundak Chihiro tanpa Chihiro ketahui. Akashi juga melemaskan punggungnya dengan bersandar dan menelengkan kepalanya keatas. Melihat awan yang menaungi kota.
Tak jauh dari tempat mereka duduk, seorang gadis berambut magenta yang melihat mereka dari belakang langsung jawdrop melihat pose Akashi dan Chihiro. Ia tahu siapa pemuda berambut abu-abu itu. Dengan takut-takut ia memanggil senpai-nya itu.
"Mayuzumi-senpai…." Gadis itu kemudian terbengong saat kedua wajah itu menoleh berbarengan menatapnya kaget.
"Akita-chan…" Chihiro melongo melihat ekspresi adik kelasnya itu.
"senpai…. Jangan… bilang….." Akita terbata melihat tangan Akashi yang seolah-olah merangkul Chihiro dari belakang. Akashi yang tidak peka hanya ikutan melongo. Sementara Chihiro yang mengikuti pandangan Akita segera berdiri dan menghampiri gadis tersebut.
"Akita…. A.. aku….." Chihiro hendak menjelaskan, namun Akita mundur selangkah. Ia telah salah menilai senpai-nya kalau senpainya ini cool dan manly. Tapi kenyataannya, ia menemukan senpainya dengan lelaki lain di taman tempat mereka janjian. Rasa marah, kecewa, sedih, dan tidak percaya mengambil alih emosi gadis itu.
"Akita… ini tidak….." belum sempat Chihiro melanjutkan perkataannya, Akita memotongnya.
"senpai…. Tidak ku sangka senpai adalah…." Dan ia berbalik pergi meninggalkan Chihiro yang putus asa dan Akashi yang ngiler karena kelamaan jaw drop.
"siapa dia, Chihiro?" Akashi tersadar dan mengelap ujung bibirnya. Chihiro menatap sinis pada si cebol merah tersebut.
"bukan urusanmu….." Chihiro menjawab pelan kemudian berbalik. Akashi yang tidak mendengar jawaban, mengulangi pertanyaannya.
"Chihiro, kau tidak menjawaab pertanyaanku?" Akashi menatap Chihiro tajam.
"dia adik kelasku. Ya sudah ya, Akashi aku mau pergi dulu." Tanpa menunggu jawaban Akashi, Chihiro meninggalkan si merah seorang diri.
Akashi yang ditinggal sendiri kembali teringat dengan teman-teman GoMnya dan pacar mereka. Rasa sakit dihati karena menjomblo, membuatnya hampir menangis di taman. Tapi ia Akashi Seijuurou. Seorang Akashi tidak boleh menangis.
"maaf Akashi, aku tidak bisa ikut nodayo." Kata si hijau Midorima.
"kenapa?" nada menusuk dikeluarkan oleh Akashi.
"karena….ehm…." Midorima bimbang hendak melanjutkan perkataannya. Dan seorang gadis dengan surai putih berlari kearah kedua pemuda tersebut.
"Shin-chaaaaaaaaan…." Teriak si gadis dari kejauhan. Keduanya menoleh ke sumber suara.
"jangan berlari nodayo!" teriak Midorima saat melihat gadisnya telah dekat dengannya.
"…." Akashi hanya diam.
"ada apa nodayo?" Midorima menerima pelukan dari sang gadis.
"ayo kita ke restoran yang di sebelah mall di Okinawa. Kan disana dijual barang bekas masih bagus, nah aku mau nyari sesuatu buat kucingku dan hamsterku." Si gadis menjawab dalam satu hembusan nafas di telinga Midorima.
"pelan-pelan kalo ngomong nodayo. Nanti lidahmu kepleset…" Midorima menjawab sambil melepas pelukan.
"Shintarou…" Akashi menampakkan eksistensinya. Kedua sejoli itu menoleh.
"ah…. Hajimemashite watashi wa Shiori Ruki desu." Ruki memperkenalkan dirinya pada Akashi. Meskipun Midorima sudah punya kekasih, tapi ia tak pernah memperkenalkan gadisnya ke orang lain.
"sou ka… Akashi Seijuurou. Kau pacarnya Shintarou?" tegas Akashi dengan menahan rasa sakit.
"iya…." Ruki menjawab dengan senyum lebar.
Flashback Midorima x Shiori Ruki.
Saat tahun terakhir Midorima di SMA Shuutoku, ia telah berteman akrab dengan Shiori Ruki. Meskipun Midorima memiliki rasa special kepada Ruki, tapi karena rasa gengsi dan tsunderenya yang akut ia hanya diam dan menyukai gadis itu tanpa diketahui oleh siapa pun.
Shiori Ruki. Gadis berambut panjang dengan aksen bicara cepat dan ceria. Meskipun ia tidak peka, tapi sahabatnya yang peka mengatakan kalau Midorima naksir pada gadis itu. Ruki yang menganggap Midorima hanya sebatas teman hanya tersenyum mendengarnya.
"ayolah Shin-chan…. Aku tau bagaimana perasaanmu pada Ruki-chan." Takao berkata dengan nada meledek kepada sosok hijau disampingnya.
"apa yang kau bicarakan, Bakao! Aku sama sekali tidak memiliki perasaan nodayo! Kami hanya teman!" Midorima menjawab seraya menyembunyikan wajahnya yang merah.
"tuh… kan…. Ketahuan….." balas Takao lagi.
Tanpa mereka ketahui, Ruki yang mendengar itu hanya bisa menahan nafas. Benarkah Midorima menyukainya? Jantungnya berdebar kencang membayangkan Midorima menjadi kekasihnya.
Saat jam istirahat, Takao dan Ruki makan di atap sekolah tanpa ada Midorima. Sebuah rencana yang telah disusun oleh Takao.
"ne…. Ruki-chan…. Bagaimana menurutmu dengan Shin-chan?" Tanya Takao tiba-tiba yang membuat gadis itu blushing.
"ke…kenapa… bertanya tiba-tiba, Takao-kun?" Ruki menyembunyikan wajahnya.
"ara… bukannya kau menyukai Shin-chan?" Takao melirik Ruki.
"ehm…." Angin berembus menerbangkan rambut putih Ruki.
"ne… kau tau kan kalau Shin-chan itu tsundere….." Takao menggantung kalimatnya, membuat Ruki menoleh.
"…?"
"dan…. Ia terlalu tsundere untuk mengatakan perasaannya padamu….." Takao mengamati mimic wajah Ruki.
"…..?" pupil Ruki membesar.
"yah… kau tau lah… dia kan tsundere…. Coba kau pancing dia supaya dia menyatakan perasaannya padamu." Takao mengakhiri kalimatnya.
"aku tidak mengerti, Takao-kun" Ruki menjawab bingung.
"sebaiknya kau tanyakan pada sahabatmu saja….." kata terakhir Takao membawa Ruki menemui sahabatnya dan membawanya kepada Midorima.
"ne… Ruki…. Kau hanya perlu menyerang Midorima-kun terlebih dahulu. Setelah itu, dia yang akan mengatakan perasaannya padamu." Kata sahabat Ruki, Chizu.
"t….ta…tapi….. bagaimana caranya?" Ruki bingung.
"ikuti saja instingmu." Jawab Chizu mengedipkan sebelah matanya.
"a…a…aku…"
"sudah pergi sana… Midorima-kun telah menunggu mu…" kata Chizu mendorong tubuh Ruki.
Ruki berjalan pelan menghampiri Midorima yang gelisah karena menunggunya. Mereka telah janjian untuk jalan-jalan dan menemani Ruki membeli hamster.
-SKIP-
Mereka berjalan di jalan yang sepi itu. Tak ada yang bersuara. Hanya angin malam dan binatang malam yang ada. Ruki menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia ingat nasehat Takao dan Chizu. Dengan hati berdebar, ia menghentikan langkahnya.
"doushite?" Midorima berhenti dibelakangnya. Tiba-tiba Ruki berbalik dan memeluk Midorima. Si hijau yang diperlakukan seperti itu hanya membatu. Wajahnya sudah sangat merah dan panas. Dadanya juga sesak karena terhimpit oleh benda milik Ruki.
"Ruki-chan…." Midorima memperingatkan dirinya sendiri.
"Shin-chan… kau…. Teman ku, kan?" mata Ruki berkaca-kaca. Si brokoli yang melihat itu salah tingkah. Tapi ia tetap dengan gaya tsunderenya yang sok cool.
"apa yang kau katakan nodayo! Tentu saja kita teman!" Midorima menjawab sambil menyembunyikan wajahnya yang merah.
"yokatta….. lega rasanya…. Kalau begitu aku….." Ruki melepaskan pelukannya. Midorima yang merasakan itu hanya diam. Ia tak lagi merasakan benda hangat Ruki yang tadi menyelimutinya. Dingin memeluknya. Membawanya dalam kesadaran tentang apa yang baru saja ia katakan.
Ruki berjalan cepat berusaha menahan air matanya yang keluar. Seharusnya ia tau kalau ia dan Midorima hanya teman dan tidak akan berubah. Dengan langkah cepat Midorima berjalan kearah Ruki dan memeluk gadis itu dari belakang.
"Shin…..chan….." Ruki terbata. Ia merasakan tangan kekar Midorima menyelimuti tubuhnya. Memberikan hangat yang ia nantikan.
"kulihat kau kedinginan nodayo, makanya aku memeluk mu." Jawaban tsundere Midorima membuat gadis itu menahan tawa.
"ne… aku sudah pakai jaket tebal kok." Ruki menjawab sedatar mungkin.
"b..b..bukan… maksudku aku…." Belum sempat Midorima menyelesaikan kalimatnya, Ruki telah berbalik dan memeluk pemuda itu kemudian mendaratkan ciuman di pipi kiri sang pemuda.
"terima kasih, sudah mau menghangatkan ku…" Ruki menjawab dengan tersenyum.
"b..bb….baka….." Midorima menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang sudah tak tertolong lagi (?) akibat perbuatan Ruki.
"he?" Ruki terbengong.
Pemuda hijau itu memberanikan diri untuk menatap mata gadis di depannya. Dengan sekali rengkuhan gadis itu berada dalam pelukannya. Midorima membawa wajah gadis itu untuk menciumnya, namun belum sempat ia melakukan itu, Ruki telah menciumnya lebih dahulu.
Ciuman pertama mereka. Sangat kaku dan formal. Bahkan si hijau itu tak berkedip melihat Ruki yang menciumnya dengan mata tertutup. Mereka sejenak menghentikan ciuman itu. Mata hijau dan abu-abu itu kini bertemu. Keduanya sangat merah.
"Ruki…. A…a..aku…. apakah….." Midorima terbata.
"ya…. Aku menerima mu." Ruki menjawab tanpa menunggu kalimat Midorima.
"aku melakukannya karena kita telah berciuman tadi, nodayo! Maukah kau jadi kekasihku?! Karena kau yang menciumku duluan tadi nodayo!." Midorima nembak Ruki dengan gen tsundere tercintanya.
"tentu saja.." Ruki tertawa dalam hati.
Mereka pulang dengan tangan saling bergandengan dan jari saling bertautan.
End of flashback.
