Seminggu berlalu, dan selama itu pula Akashi berhubungan dengan si gadis loli. Akashi tahu, kalau sekaranglah saatnya ia nembak si gadis dan membaiatnya (?) jadi pacarnya. Dengan penuh kepercayaan diri, Akashi mengajak keluar si gadis. Dan tanpa pemuda itu duga, gadis itu menyetujuinya.
Di sebuah warung yang telah mereka setujui sebagai tempat ketemuan, si gadis terlihat gelisah melihat sosok merah yang berjalan mendekat kearahnya. Keringat dingin menetes satu-satu. Kemudian digantikan dengan keringat panas yang timbul.
"omatase….." Akashi mengambil duduk di depan si gadis.
" "si gadis hanya memberikan senyum pasrah.
"apa aku harus to the point ya?" Akashi bertanya pada gadis di depannya.
"eehh?" si gadis hanya bengong.
"kalau gitu kita makan dulu yuk" lanjut Akashi yang kemudian memesan makanan.
Selesai makan mereka berjalan-jalan ke taman yang saat itu sedang sepi. Otak setan Akashi mulai bekerja.
'gadis cantik ada di depan mata…. Tinggal nembak trus dia jadi cewek ku. Apalagi bodinya itu….' Batin (setan) Akashi.
"kau mau es krim?" tawar Akashi melihat rombong es krim di kejauhan.
"un…" si gadis menjawab singkat.
"tunggu di sini ya…." Akashi berjalan kearah si penjual. Dan kembali dengan dua es krim.
Setelah selesai dan membawa kembali dua es krimnya, Akashi menghampiri si gadis yang tampak gelisah. Akashi yang sudah ngiler dengan es krimnya, hanya memandang sang es krim dengan penuh nafsu.
"ini punya mu…" kata Akashi memberikan es krim pada si gadis. Si gadis yang tidak focus dengan pemberian es krim itu, tanpa sengaja meraih tangan Akashi. Akashi yang diperlakukan seperti itu kaget dan jantungnya berdetak kencang. Dan tanpa sengaja menumpahkan es krim itu di dada putih sang gadis.
"Ara…. Gomen gomen…" kata Akashi mengeluarkan tisu untuk mengelap tumpahan es krim.
"daijoubu…." Si gadis buru-buru membersihkannya dan membuat tangan Akashi tak lagi menyentuh miliknya, namun masih di daerah dadanya.
Akashi terdiam sejenak. Ia merasakan keanehan saat ia tanpa sengaja memegang dada si gadis. Oppainya begitu kecil dan rata, bahkan sangat datar. Si cebol itu mulai curiga dengan gadis yang ada di depannya ini. Dengan ke-KEPO-annya, ia mulai meraba dan meremas dada datar si gadis.
"A….Ah…..A…..Akashi-kun….?" si gadis menyadarkan si merah dengan suara lembut desahannya yang membuat Akashi menyadari tindakannya dan segera menghentikan perbuatan tersebut.
'ah, mana mungkin dia cewek jadi-jadian…' batin Akashi.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, sepasang mata coklat tajam memperhatikan gerak-gerik sejoli tersebut. Dengan beberapa langkah saja, si pemilik mata coklat itu telah berada di depan si pemuda merah itu.
"oh… Teppei…" sapa Akashi dingin.
"yo… hisashiburi, Akashi-kun…" Kiyoshi Teppei membalas dengan senyum panasnya (karena hangat sudah pasaran).
"apa yang kau lakukan di sini?" Akashi memandang tak suka, apalagi saat mata si gadis bertemu dengan milik pemuda jangkung di depannya.
"ara….. Akashi-kun…." Si pemuda jangkung menjawab dengan senyum.
"jawab pertanyaanku, Teppei?!" Akashi melangkah ke depan, melindungi si gadis.
"aku sedang janjian dengan pacarku…." Kiyoshi menjawab santai.
"oh… kebetulan sekali…." Akashi memicingkan matanya.
"a..anu….." si gadis melangkah ke depan, berhadapan dengan si pemuda jangkung.
"ada apa, Miki?" Akashi bertanya heran.
"sebenarnya aku ingin memberitahumu sesuatu…." Si pemuda meraih lengan si gadis.
"hei…." Perempatan siku muncul di pelipis si surai merah.
"sebenarnya…" belum sempat si pemuda jangkung melanjutkan kalimatnya, si merah telah lebih dulu menarik kembali gadis tersebut.
"….." si gadis sangat terkejut.
"jangan lancang kau!" peringatan dari si merah membuat pemuda tinggi itu menggelengkan kepalanya.
"apa kau pikir dia itu Furizawa Kamiki?" suara sinis lembut membalas.
"apa maksudmu?" Akashi balik bertanya.
Si gadis berjalan perlahan kearah si pemuda jangkung, kemudian meraih tangan si pemuda dan memeluknya erat.
"Kamiki?!" bagai tersengat belut listrik di masa purba! Akashi terkejut bukan main!.
"Akashi-kun…..dia…. adalah kekasih ku…" suara lembut si gadis terdengar.
"tapi…." Air mata Akashi hampir menetes. (APA?!)
"apa kau masih berfikir kalau dia perempuan?" suara sinis itu kembali terdengar.
"apa maksud mu?" Akashi makin tak mengerti.
"kau mau kebenarannya?" si gadis menjawab dengan suara berbeda. Alis Akashi bergerak, mengenal si pemilik suara.
"aku adalah…" dengan berkata seperti itu, si gadis melepas pakaiannya dan menampakkan dadanya yang rata terbalut kain tipis.
"KAU?!" Akashi shock. Akashi jantungan. Dengan segera ambulan datang dan membawa Akashi ke rumah sakit terdekat.
"kau datang tepat pada waktunya, sayang…." Kata si 'gadis' yang ternyata adalah seorang pemuda.
"maaf telat, sayang…." Si pemuda jangkung membalas kemudian memeluk si kekasih. Dengan lembut memberikan jaketnya agar dipakai oleh si 'gadis'.
"…." Keduanya berpelukan dan saling mengunci dengan mulut. Berciuman di depan public tanpa ada yang melihat. (masuk invisible room, hanya yang punya imajinasi tinggi yang bisa liat)
"FURIHATA KOUKI?!" teriak si cebol merah kaget. (ternyata ga jadi diantar ke rumah sakit).
Keduanya tak menoleh dan melanjutkan kegiatan panas tersebut. Akashi yang melihat itu segera jawdrop dan muntah.
"Emaaakkk…gu…..a ga….ga…k m….m….mah…ho…" Akashi mundur selangkah.
"maafin gua Tuhan…. Tadi uda pegang-pegang tuh cewek jadi-jadian…" Akashi semakin cepat mundur, kemudian langsung lari mengambil langkah seribu.
Dalam perjalanan itu, Akashi ngomel sendiri.
"duh Gusti Pengeran….kula nyuwun ampun….."Akashi menagis sendiri, mengingat ia telah tergoda dengan gadis jadi-jadian. Dengan nyawa yang tersisa, dan hati tercabik-cabik Akashi pulang ke pangkuan sang ibunda (?).
