Sudah sebulan Akashi melewati kejadian yang menggetarkan jiwanya. Ia trauma bila harus bertemu dengan Furihata maupun kekasihnya. Ia juga jadi curiga dengan cewek berdada rata. Dengan begitu, Akashi menaikkan levelnya menjadi cewek tipe B (?).
Seperti biasanya, kelompok GoM selalu berkumpul setelah kuliah, bersama Momoi yang menjadi ex-manager mereka. Mereka telah berencana untuk membuat klub basket untuk anak SMP. Ide itu berasal dari pacar Kise, Ayazawa Yui.
Ayazawa Yui masih berada di bangku SMA semester terakhir. Selain menjadi murid teladan, Yui juga seorang yang sangat tertutup dan pendiam. Namun, sejak bertemu dengan Kise, ia sedikit demi sedikit mulai terbuka.
"ne… apa kita jadi ngadain proyek itu?" si pink Momoi bertanya.
"ya… apa salahnya dicoba dulu…" Yui menjawab riang, meskipun sedikit takut saat si cebol Akashi menatapnya intens.
"aku setuju….. tapi siapa dan si SMP mana? Lagian kita belum memiliki ijin mengajar…." Kuroko tiba-tiba datang.
"kita ngadain klub dulu… yang gak begitu formal…." Si hitam Aomine datang.
"oke…. Kita bagi tugas…" sang emperor berkata. Semua menoleh, menunggu titah darinya.
-skip-
"wah…. Atsui-ssu….." Kise mengibaskan rambutnya.
"ini minumnya….Ryouta-kun…" Yui memberikan sekaleng minuman dingin kepada sang kekasih.
"arigatou " jawab Kise menerima pemberian si gadis.
"Ryouta…" nada ragu si gadis terdengar. Kise menoleh dan mendapati wajah si gadis memerah.
"ada apa?" Kise menghadap si gadis yang kini duduk disampingnya.
"aku… takut…" mata amber si gadis berkaca-kaca.
"kenapa takut?" Kise makin tak mengerti apa yang menyebabkan gadisnya ketakutan seperti ini.
"Akashi-san…"
"ada apa dengan dia?" senyum kecil muncul di bibir Kise.
"dia tadi ngeliatin aku terus. Aku jadi takut…." Air mata itu hampir menetes.
"daijoubu….dia memang gitu kok…" Kise memeluk Yui.
"apa dia selalu seperti itu pada semua perempuan?" Yui mendongakkan kepalanya, bertemu dengan mata kuning Kise.
"yah…. Kau tau kan kalau Akashi itu jomblo-ssu…. Apa lagi dia kemarin habis kena trap…. Wahahahahahahh…. Kasian banget ya tuh cebol-ssu…." Kise nyerocos tanpa tahu akibatnya.
"hah?! Wah…. Padahal Akashi-san itu ganteng, berwibawa, dan pinter…. Masa ga ada cewek yang naksir dia?" Yui langsung duduk tegak.
"mana mau cewek mau sama cebol begitu-ssu? Apalagi selalu bawa gunting kemana-mana….. kalo bawa uang sih gapapa… lha dia…." Belum sempat Kise melanjutkan perkataannya, sebuah benda meluncur melewatinya, hampir mengenai kepalanya.
Semua menoleh ke asal benda tadi datang. Sosok merah tinggi (?) dengan aura membunuh keluar disela-sela nafasnya. Matanya bersinar merah, persis Sebastian Michaelis pas mau bunuh korbannya (?).
"bisa kau ulangi, Ryouta?" Akashi melangkahkan kaki dengan tenang. Kise sudah banjir keringat. Yui hanya melongo.
"eh…. Eng…ng….enggak…. itu…. Ta…ta…di… Cuma bercanda…." Kise memasang senyum secantik mungkin.
"oh…. Trus, dari mana kau tau kalau aku kena trap?" aura membunuh kembali memancar, membuat rambutnya terangakat dan berkibar (?).
"eh…. Itu….aku tau dari Cwitter….." Kise mengangkat handphonenya.
"…" mata belang Akashi membelalak lebar. Dengan cepat ia mengeluarkan handphonenya dan memeriksa Cwitternya. Dan benar saja, berita tentang dirinya yang kena trap sebulan lalu, menjadi topic dingin (panas udah mainstrim) di media tersebut.
Sementara Akashi memeriksa Cwitternya dan Kise mencoba kabur dari si cebol merah, yuk kita simak gimana Kise bisa punya pacar trus jadian.
Flashback Kise x Ayazawa Yui
Musim dingin tak seberapa dingin, tapi mampu membuat si gadis pemalu itu menjadi orang yang lebih tertutup dari biasanya. Apalagi setelah tahun baru dan menginjak kelas 3, ia semakin mengurung dirinya. Bahkan ia tak mau menerima tamu dalam bentuk apa pun (?).
Meski begitu, hanya ada seseorang yang tak bisa ia hindari. Yaitu tetangganya. Si tetangga yang berisik dan selalu mengajaknya ini itu pun menjadi suatu hiburan tersendiri untuknya. Sudah dua minggu ini si tetangga berisik tak mengganggu malamnya. Apa mereka pindah? Atau ia sakit? Pikiran negative itulah yang membuatnya memberanikan diri keluar rumah setelah sebulan penuh tak keluar dari lingkungannya (kecuali ke sekolah).
Meskipun model, tapi rumah itu sederhana. Hatinya ingin sekali melangkahkan kaki kembali ke rumah dan menghangatkan tubuh atau sekedar diam di rumah.
"lho…. Yui-chan…. Ayo masuk…." Sapa sang pemilik rumah, yang terlihat masih muda.
"iie…. Apa Ryouta-kun ada…." Mulutnya mengeluarkan kata itu tanpa ada persetujuan dari dirinya.
"are….. dia sedang keluar kota untuk pemotretan…. Maaf ya…."
"un…. Jaa… aku pulang dulu…." Dengan begitu, Yui berlari kembali ke rumah.
Rumah begitu sepi tanpa ada siapa pun. Dan Yui semakin sendiri. Apakah besok Kise sudah pulang? Haruskah aku menyambutnya? Atau aku menunggunya di rumah kemudian menyuruhnya ke sini? Mungkin aku harus main ke rumahnya?.
Berbagai pertanyaan konyol memenuhi kepala Yui. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ia telah kenal dengan Kise hampir 4 tahun sejak ia pindah dulu. Kini ia merasa kalau Kise semakin dekat dengannya. Tapi…. Akankah Kise memiliki perasaan yang sama dengannya?
Tidak mungkin itu. Kise adalah model terkenal, mana mungkin ia memiliki rasa yang sama. Suara itu menggema dalam kalbunya. Membuatnya semakin takut menemui Kise.
Hari Jumat yang cerah. Selain besok libur, Yui juga harus membersihkan rumah. Bertepatan dengan ia keluar rumah, Kise juga sedang berjalan kearahnya.
"ohayou… Yui-chii…" sapa Kise yang dibalas Yui dengan memalingkan muka. Dengan cepat Yui berlari menjauhi si kuning.
"lho…. Kok lari…. Matte…. Yui-cchi…" Kise ikut berlari mengejar gadis dengan rambut amber tersebut.
Mereka sampai di stasiun. Arah sekolah Yui sama dengan tempat kuliah Kise. Kise melihat gadis di depannya.
"kenapa ninggal-ssu?" Kise memonyongkan bibirnya.
"…" tak ada jawaban. Yui langsung masuk ke kereta yang ditumpanginya. Meskipun begitu, hatinya sakit melihat Kise mengejarnya. Tapi ia tahu, kalau mereka tak bisa bersatu.
Sudah tiga hari Yui tak keluar rumah. Sebagai tetangga yang baik, dan cowok idaman, Kise berkunjung ke rumah Yui. Si gadis sedang tidur di sofa dengan seragam sekolah yang ia pakai tiga hari yang lalu.
"Yui-cchi…. Daijoubu ka?" Kise dengan panic berlari kearah Yui, memeriksa kening si gadis. Panas. Dengan cepat Kise menggendongnya ke kamar si gadis. Kise menyelimutkan selimut tebal ditubuh Yui. Kemudian ia pergi ke dapur mengambil thermometer dan mulai membuat bubur.
"mmmhh….mhh….." Yui mengigau saat Kise mengecek panas si gadis. Wajahnya begitu merah dan menggemaskan.
Yui perlahan membuka matanya dan mendapati sosok kuning sedang tersenyum lembut padanya.
"tunggu sebentar ya…" kata Kise yang kembali ke dapur mengambil bubur untuk Yui.
'Kise? Apa yang ia lakukan di sini?' benak Yui bertanya bingung. Pening dikepalanya tak kunjung hilang.
"ayo makan dulu-ssu…" suara cempreng Kise membuatnya menoleh.
"kenapa kau ke sini?" Yui bertanya dingin.
"yah…. Sudah 3 hari kau tidak keluar rumah… makanya aku ke sini, eh taunya kamu sakit." Kise menjawab dengan menyuapkan sesendok kearah Yui. Yui bungkam.
"biar aku sebulin (?) dulu biar gak panas-ssu…." Lanjut Kise. Setelah itu menyuapkannya kearah si gadis. Dengan perlahan Yui membuka mulutnya dan menerima suapan dari sosok kuning di depannya.
"naahhh…. Habis juga… nih minum obatnya… biar cepat sembuh-ssu…" kata Kise setelah semangkok bubur dihabiskan Yui. Yui hanya menurut. Ia tak habis pikir, kenapa model terkenal seperti Kise mau melakukan ini untuknya?. Ia bukan siapa-siapanya Kise, hanya tetangganya.
"nee…. Kenapa kau melakukan ini?" nada serius keluar dari mulut Yui.
"bukankah kau sudah menanyakannya tadi.." jawaban Kise tak kalah serius.
"…." Hening.
"arigatou…." Jawab Yui. Wajahnya memerah tanpa sebab.
"doita…" Kise menjawab dengan senyuman lebar.
"aku mau mandi…" Yui bangun dari tidur, namun rasa pusing dikepalanya membuatnya limbung dan terjatuh, untung saja Kise cekatan sehingga tubuh mungilnya jatuh pada tangan kekar Kise.
"sebaiknya kau istirahat dulu…" suara lembut Kise di sela deru nafasnya menggelitik telinga si gadis.
"aku sudah tiga hari gak mandi…. Ntar aku kena panu…." Yui menjawab seraya melepaskan diri dari Kise.
"biar aku membantumu…" dengan sepersekian detik, Yui telah berada dalam gendongan Kise dan menempatkannya diatas kasur.
"ap…apa…..yang ingin kau lakukan?!" Tanya Yui kaget.
"kau tak mungkin mandi dengan seragam sekolah masih melekat di tubuhmu kan?" Kise menyeringai. Membuat Yui makin merah.
"dimana handuk mu?" Kise membongkar lemari Yui.
"sebelah kiri…." Yui menjawab pelan.
Kise kembali dengan handuk kimono putih di tangannya. Ia berjongkok di bawah ranjang. Melepaskan seragam Yui satu per satu. Yui hanya diam tak berkutik. Wajahnya semakin merah dan panas. Apalagi demamnya ikut campur, membuat suhu tubuhnya seakan mendidih.
Atasan Yui telah terlepas, terlihatlah dada mungil Yui dibungkus bra yang kecil. Kise tertegun melihatnya. Ia tahu ia telah melangkah semakin jauh dan ia tak bisa berhenti.
"apa benar kau anak SMA?" pertanyaan bodoh Kise terlontar.
"Eh?" Yui kaget kemudian mengikuti arah pandang Kise.
"kok…oppaimu datar banget….." Kise tak dapat memalingkan wajahnya.
"DASAR KISE ERO?!" Yui menendang Kise hingga pemuda itu terjungkal dan Yui segera mengambil handuk kimono yang tadi dibawa Kise.
"itte…." Kise mengusap wajahnya yang barusan ditendang Yui, kemudian menatap gadis merah di depannya.
"…." Keduanya merah.
"saa…" Kise menghampiri si gadis dan membawanya ke kamar mandi.
"turuinin aku?!" Yui berontak tapi itu hanyalah bisikan untuk Kise.
Kise menurunkan Yui dan mulai menyalakan kran di bathtub, mengatur suhu yang sesuai untuk Yui. Si gadis melihat tanpa banyak bicara.
"nah… sudah siap…" kata Kise berjalan kearah si gadis, menarik tangannya lembut dan membawanya dalam pelukan hangat.
"Kise-kun…." Yui menahan wajahnya agar tak semakin merah.
"daijoubu…. Aku orang yang bertanggung jawab…." Pernyataan tegas Kise membuat Yui menundukkan kepalanya.
"atas dasar apa kau melakukan ini?" Yui tak bisa berkata lagi.
"aku…..mencintai…mu…." suara pelan itu memasuki gendang telinga Yui dengan lembutnya. Membawanya dalam kebahagiaan yang tak ia duga sebelumnya.
Mata mereka saling bertemu dan tanpa ragu lagi, Kise melumat bibir sosok di depannya. Yui hanya menutup mata dan mengikuti permainan Kise. Dan saat gadis itu menjambak rambut Kise, memberikan kode untuk berhenti, Kise hanya terkekeh geli.
Dari ketinggian tubuhnya, Kise bisa melihat gundukan Yui yang mungil.
"nee…. Katakan padaku kenapa oppaimu kecil-ssu?" Kise bertanya dengan alis bertaut, sedikit membuatnya kecewa.
"entah…. Belum tumbuh…" Yui menjawab dengan wajah semerah rambut Akashi.
"kalau begitu…. Apa boleh aku membuatnya tumbuh lebih cepat-ssu?" seringai iblis terlukis di wajah bishie Kise.
"ehh? Mou… aku mau mandi…. Pulang sana…." Yui hendak berbalik, tapi rengkuhan Kise dari belakang menghentikannya. Apalagi tangan Kise telah menangkup kedua miliknya. Tangan Kise begitu besar dan hangat.
Dengan perlahan Kise mulai meremas benda yang ada dalam telapak tangannya tersebut.
"nee….. gini lebih enak kan-ssu?" nada seduktif keluar dari mulut si kuning.
"nghh…aahhh…..nggggghhhh…. aaaahhhhh…." Yui tak bisa menahan desahan yang lolos dari mulutnya. Tubuhnya semakin merah dan merah.
"apa kau mencintaiku?" nada lembut Kise terdengar.
"aahhh…. Aahhh…ii…..iiiyaaahhh…..hhhh" jawaban Yui bercampur dengan desahannya, membuat Kise semakin bergairah.
"aahh…ngghhh….. ahhh….." desahan itu menggema, membuat Kise mempercepat remasannya, merasakan benda itu berkedut dan berkeringat.
"Kise….hhhh….ngghh….hennnhh…..tikannnhhh….. ngghhh… " suara lemas Yui menyadarkan pemuda kuning itu. Ia memperlambat gerakan tangannya, membawa Yui menghadap padanya menunjukkan hasil kerja tangannya yang membuat oppai Yui mengeras.
"…" tak ada suara. Hanya decapan suara bibir yang menyatu dan desah nafas nafsu yang membakar Kise.
"kalau kau tidak keluar sekarang….. aku bersumpah aku akan mencincang mu…." Nada absolute(?) Yui terdengar.
"baiklah…. Jangan lama-lama…." Kise keluar dengan wajahnya yang merah.
End of Flashback.
-kembali ke Akashi yang masih memeriksa Cwitternya-
'sialan?! Siapa juga sih…. Nyebarin gossip gak mutu kayak gini!' batin Akashi ngedumel sendiri, sementara semua budaknya telah menghilang ditelan sepinya gym.
Akashi menoleh ke sekitar. Merasakan kesunyian aneh yang tiba-tiba menyergapnya. Dan benar saja, semua telah pergi meninggalkannya sendiri.
