Musim panas datang!

Semua menyambutnya dengan riang gembira. Seperti yang sudah mereka rencanakan sejak lama, anggota GoM pergi berlibur ke pantai. Mereka tak lupa membawa kekasih mereka masing-masing, kecuali Akashi, yang terpaksa membawa paket shogi tercintanya karena masih jomblo. (author: rasain lu :P).

Semua perlengkapan telah selesai, tinggal menunggu si ketua yang hobi ngaret (?). Aomine Daiki terlihat sedang merangkul seorang gadis dengan mesranya.

"are are….. itu pacarmu?" Momoi Satsuki, yang baru mutusin pacarnya, nanya ke Aomine.

"eehhh? Tentu lah…." Aomine menjawab acuh.

"tapi…."

"dia terlihat seperti kakak mu, Aomine-kun…" Kuroko datang tak diundang.

"dia pacarku woy!" Aomine ngotot.

"emang dia umur berapa nodayo? Bukannya aku mau ikut campur, Cuma kepo aja." si tsundere Tanya.

"du….dua….." Aomine menjawab terbata. Namun segera dipotong oleh sang kekasih.

"Daiki! Apa kau sudah bosan hidup ya?!" aura mengintimidasi yang melebihi Akashi memancar dari gadis yang berdiri disebelah Aomine

"etoo….. kalau boleh tau, siapa namanya?" Kuroko ingat kalau ini pertama kalinya mereka melihat pacar Aomine di depan umum.

"hajimemashite…. Hayami Hana desu…." Si orang yang dibicarain akhirnya memperkenalkan diri.

"Kuroko Tetsuya….desu…." Kuroko membungkukkan badan. Semua memperkenalkan diri masing-masing hingga bus yang di dalamnya ada Akashi datang.

'sejak kapan si cebol jadi kernet?' pertanyaan nista Aomine hanya dijawab lirikan pedas dari si merah.

Dalam perjalanan, kelompok cewek dan kelompok cowok duduk sendiri-sendiri. Kata Akashi biar saling akrab. (ngomong aja kalo jones).

"oh ya…. Kuro-chin… kenapa ya.. cewek itu marah-marah pas mau datang bulan?" Murasakibara setia dengan kripiknya.

"menurut buku yang kubaca cewek itu kalo mau datang bulan… bla….bla…bla…" Kuroko menerangkan berdasarkan wikipedal yang ia baca tahun lalu.

Di lain tempat duduk, lain pula topik pembicaraan.

"jadi… Shin-chan… apa kau sudah nyerang dia?" Aomine bertanya dengan senyum hentainya.

"a…apa… maksudmu nodayo?" Midorima menaikkan kacamatanya yang tidak melorot.

"ya…. Uda masuk kamar belum?" Aomine semakin kepo.

"b…bbakaa… ahomine! Mana mungkin aku melakukan itu nodayo?!" wajah Midorima memerah. Sudah berkali-kali ia berciuman dengan kekasihnya, tapi ia tak pernah sekalipun memikirkan untuk melakukan hal seperti itu.

Kise yang duduk bersebelahan dengan Akashi, sekaligus berada di depan tempat duduk Midorima dan Aomine, menoleh ke belakang.

"memang, Aomine-cchi sudah sampai itu ya?-ssu" Kise bertanya dengan mata berbinar.

"eemmmm…. Belum sih… dia ga mau …." Aomine menjawab dengan muka kecewa.

"memang kau pernah nodayo? Bukannya aku ingin tau, tapi Cuma nanya aja…" Midorima tak mau ketinggalan.

"aku Cuma pernah pegang oppainya aja-ssu…. Selain kecil, tapi juga lembut dan kenyal…" Kise menjawab riang.

Ketiga orang yang mendengar itu hanya sweetdrop. Kecuali Akashi yang telah menyiapkan hukuman level kuburan-neraka (?) untuk budak-budaknya yang telah berani melukai hatinya yang menjones (?).

Aura membunuh keluar dari tubuh Akashi. Bukan saja membunuh, tapi memutilasi sampai menggiling si budak-budak. Budak-budak yang tak peka itu meneruskan curhatan mereka dengan santainya.

"KALIAN SEMUA!" suara menggelegar Akashi hampir membuat sang sopir terkena stroke. Seluruh penumpang kemudian diam, atau kalau tidak akan ada pembunuhan sadis dengan korban 5 pemuda berambut pelangi dan gunting merah yang mengoyak tubuh mereka.

Mereka telah sampai di penginapan dekat pantai. Dengan segera turun dan mengemasi barang masing-masing. Penginapan itu milik keluarga Akashi. Apalagi dengan dekorasi serba merah yang menghiasi.

"aku telah membagi kamar untuk kalian….." si raja merah berkata datar. Semua menoleh. Bersiap mendegar titah sang baginda.

"Tetsuya dan aku akan menempati kamar nomor A12." Semua hening.

"Shintarou dan Daiki di kamar A13. Ryouta dan Atsushi di kamar A14." Semua tetap hening.

"bagaimana dengan yang cewek, Akashi-kun?" Momoi bertanya.

"kau yang mengatur, Satsuki. Nih, daftar kamar yang kosong." Jawab Akashi memberikan secarik kertas pada gadis pink itu. Momoi menerimanya dengan kedua pipi menggembung.

"kalau begitu….. Mika-chan dan Ruki-chan etoo…. Di kamar G12, Yui-chan dan Hana-chan di kamar G13, trus aku dan Ame-chan di kamar G14…." Suara momoi menggantung.

" Semua uda dapat kamar. Pergi ke kamar kalian masing-masing. Latian besok akan kumulai jam 5 tet!" dengan titah barunya, semua budak itu langsung ngebut ke kamar masing-masing. Menyiapkan tenaga ekstra untuk siksaan mereka di liburan kali ini.

Setelah makan malam, semua anggota GoM (+pacar mereka) kembali ke kamarnya. Seperti halnya anak normal, sebelum tidur mereka curhatan dengan teman sekamar mereka.

Kamar A14 (Kise Ryouta+Murasakibara Atsushi)

"nee….. Kise-chin…. Apa cewekmu suka makanan manis?" si raksasa ungu bertanya dengan nada malasnya.

"entah-ssu tapi ia sangat suka es krim…." Kise menjawab sambil membayangkan kekasihnya makan es krim.

"pacarmu imut…." Komentar singkat dari si raksasa.

"tentu saja-ssu…. Oh,ya Atsu-cchi pernah ngapain aja sama Ame-cchi? Apa sudah sampai itu?" Kise terbangun dari tidurnya.

"sudah sampai itu apa?" Atsushi tak mengerti percakapan Kise.

"yah… kau tau lah…." Kise blushing sendiri.

"yah… kami hanya pernah mengocok telur….." Atsushi menerawang. Mengingat gadisnya yang cantik ketika mengocok telur.

"eehhh?" Kise mencolot dari ranjang, berpikir yang tidak-tidak dengan Atsushi dan pacarnya. Murasakibara yang mendengar nada terkejut itu hanya melirik acuh.

"Kise-chin sampe mana?" kini gentian Atsushi yang kepo.

"baru bagian atas doang… belum berani yang bagian bawah-ssu…." Kise menjawab dengan wajah memerah.

"kok bagian atas dulu? Kan seharusnya bagian bawah dulu…baru begitu kau bisa memberinya krim…." Murasakibara menjawab enteng. Dan hal itu membuat si kuning berpikir lebih aneh dari sebelumnya. Apalagi mendengar kata krim.

"ya… aku pas itu pegang bagian atas dulu-ssu… habisnya ia nendang aku kalo aku pegang bagian bawahnya…." Kise menunduk iri mengingat kalimat Murasakibara.

"apanya yang kau pegang, Kise-chin?" si ungu tak mengerti pembicaraan si kuning.

"chichinya…" Kise menjawab pelan.

"父 (chichi=ayah)?" Murasakibara meninggikan sebelah alisnya.

"chigau… 乳 (chichi)" jawab Kise memberikan gambaran melingkar di depan dadanya. Sedetik kemudian si ungu itu mengangguk mengerti.

"nee…. Kenapa kau memegang chichinya?" Murasakibara tak mengerti kenapa Kise melakukan hal semacam itu. Padahal ia sendiri tak pernah melakukan itu kepada kekasihnya, karena kekasihnya pasti akan ngambek dan tidak mau membagi jajannya kepada Atsushi.

"yahh….. kau tau lah…" Kise menjawab pelan, tak tahu harus menjelaskan apa lagi.

"kalau gitu… katakan padaku-ssu…. Bagaimana rasanya saat ia mengocok telur mu?" Kise berbinar.

"ya… aku menunggunya hingga selesai…" Murasakibara menjawab datar.

"APA?! Jadi kau gak 'keluar' gitu? Tahan banget-ssu…." Kise mendelikkan matanya melebihi mata sapi.

"mana mungkin aku keluar, Kise-chin…. Kan kami lagi bikin kue…." Jawaban terakhir Murasakibara itulah yang membuat Kise tersadar, betapa kotor pikirannya itu. Seketika itu, Kise banjir air mata meratapi dirinya yang selama ini salah (?).

Kamar A13 (Midorima Shintarou+Aomine Daiki)

"shintarou… ayo kita lanjutkan percakapan di bis tadi…." Wajah hentai Aomine muncul.

"percakapan apa nodayo?" Midorima menidurkan lucky itemnya di sebelah bantalnya.

"kamu sudah sampai mana sama pacarmu?" Aomine semakin penasaran.

"b..bb..bbaaka…. aku tidak mungkin melakukan hal yang kotor sepertimu, nodayo!" jawaban Midorima disertai dengan muka memerah merupakan jawaban tak kasat mata untuk Aomine (?).

"nee…. Apa kamu gak penasaran sama oppai pacarmu?" nada hentai Aomine muncul.

"memangnya perlu tau ya? Aku nanya karena kamu yang pancing aku, nodayo….." Midorima bertanya heran.

"yahh….. perlu lah…." Nada itu berhasil ditutupi si surai biru dengan entengnya.

"untuk apa? Aku penasaran, nodayo…" tumben Midorima gak tsundere (?).

"kau tau…. Cewek akan suka kalau ada yang merawat oppainya… apalagi pacarnya…" jawaban sesat Aomine hanya ditanggapi anggukan polos Midorima.

"gimana caranya, nodayo?" Midorima semakin penasaran. Bukan otaknya yang hentai, tapi ia ingin membahagiakan kekasihnya.

"begini caranya…" dengan berkata begitu, Aomine mendekati Midorima dan duduk di depannya.

"ada apa nodayo?"

"mau ku praktekin gak?"

"oke…." Debar jantung Midorima mengisi sunyi saat perlahan tangan Aomine berjalan kearah dadanya.

"kamu mau ngapain?" Midorima punya perasaan gak enak.

"katanya mau aku contohin? Ya kamu jadi pacarmu, trus aku semisal kamu…." Jelas si surai biru gelap itu.

"owalah…."

Aomine mulai meraba dada Midorima, memberikan remasan pelan pada sosok hijau di depannya. Hingga Aomine membuka kancing piyama Midorima, dan mengekspos tubuh putihnya. Aomine juga mendekatkan wajahnya ke puting kanan Midorima, perlahan mulai menjilatinya dan menyesapnya kuat. Menimbulakan desah tertahan dari mulut si uke (?). (author=stop, ini bukan yaoi)

"hentikannnnggghhhh… Ahomine….hhhhh….." suara itu tak berdaya, seiring tangan kekar Aomine mulai membuka kancing celana ukenya (?) dan merasakan dobel ketegangan dibawah sana.

"mmpphhh…" Aomine tak mau kalah mendesah.

Dan malam itu, mereka saling mendesah (?).

[Eeitttsss! Tunggu sebentar! Aomine maho?]

"apa kau bilang?!" Aomine segera menghentikan kegiatannya, menoleh ke sumber suara tanpa pemilik (?).

"dasar baka… Aomine baka…." Midorima sudah sangat merah. Ia segera membenarkan bajunya dan menyuruh adiknya tidur kembali (?).

"aku gak maho…. Tadi aku Cuma nyontohin…." Aomine teriak gak jelas.

["tapi kamu jadiin Midorima obyek…."] Suara tanpa pemilik itu bergema di ruang mereka.

"sudah kubilang…. Aku tadi Cuma ngasih contoh!" Aomine teriak ke segala penjuru mata angin.

"sudahlah Aomine-kun…. Aku memaafkanmu, kalau kau ingin melakukannya, lakukan dengan kekasih mu, jangan aku nodayo!" Midorima segera menaikkan selimut dan menyumpal telinganya, agar teriakan Aomine tak mengganggu tidurnya.

["sudah tidur sono, besok kau bakal dihukum gantung sama si cebol tuh kalo telat….."] kembali suara astral tersebut terdengar.

"oh ya… awas kau ya!" dengan tidak ikhlas Aomine menyusul Midorima (?).

Kamar A13 (Akashi Seijurou+Kuroko Tetsuya)

"tak ku kira kau sudah punya pacar, Tetsuya…" suara baritone dari si surai merah terdengar.

"ya… gitu deh… oh ya, kenapa Akashi-kun belum punya?" Kuroko balik bertanya.

"entah…. Belum waktunya…" jawab si cebol, menahan linangan air mata.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu terdengar lemah. Si merah bangun dan segera membukakan pintu, hendak memarahi orang yang berani mengganggu dirinya dengan ukenya (?).

Namun, alangkah terkejutnya ia, saat mendapati seorang gadis dengan warna baby blue berdiri takut di depannya, ditemani dengan gadis berwarna putih (?).

"doushite?" suara Akashi kalem, tapi menghardik.

"Ku…Kuroko…-kun?" suara lemah dari si gadis biru lembut itu membuat Kuroko datang seperti jin.

"ada apa?" nada datar.

"Aku takut…." Air matanya hampir menetes.

"daijoubu…." Kuroko menghampiri si gadis dengan surai senada dengannya kemudian memeluknya, mengusap punggungnya pelan memberikan afeksi pada gadis itu.

"kowai…..hiks….hiks…" si gadis sesengukan.

"bagaimana kalau tidur dengan ku?" ajakan tak terduga dari pemuda baby blue itu. Ia tak peduli dengan reaksi Akashi yang nanti akan mencincangnya.

"Tetsuya?!" benar saja, suara sang raja menggelegar. Semua menoleh padanya.

"maaf Akashi-kun… aku akan menemani Mika-chan tidur…" jawab Kuroko enteng.

Si merah Akashi berpikir sejenak, kemudian menoleh kepada gadis putih yang menemani Mika.

"kenapa Mika menangis?" tanyanya dengan nada gusar.

"dia takut saat kami berkumpul di ruangan Momoi-chan dan kami berbagi cerita hantu…." Jelas Ruki singkat.

"baiklah…. Aku akan mencari kamar lain…" dengan tidak berdaya Akashi merelakan ukenya menjadi seme(?). Dengan begitu Ruki kembali ke kamar Momoi dan melanjutkan cerita mereka.