Pagi telah tiba! Pagi telah tiba! Oh senangnya….
Semua budak itu segera bergegas agar si tuan merah tak menjadikan mereka gado-gado (?). si biru gelap dan si hijau telah bersiap, namun mereka masih berada di dalam kamar, membicarakan sesuatu yang tak perlu kita dengar.
Sedangkan para gadis sibuk menyiapkan bekal dan membantu Satsuki untuk latihan pagi itu. Dengan bikini warna-warni dan model bermacam-macam, mereka terlihat menggiurkan (?). dan benar saja, si mesum Daiki segera menjelajah tubuh si gadis dan menscan (?) oppai terbesar yang ia sukai (tentu saja milik pacarnya).
Zingggg!
Sebuah pesawat merah meluncur dan sukses menggores pipi hitam Daiki. Si hitam menoleh ke sumber. Dan tampaklah sosok pendek warna merah memegang gunting yang senada dengan warna rambutnya.
"lari bolak balik dari sini ke tukang es krim itu sebanyak sepuluh kali!" perintah absolute si pendek, seraya menuding kedai es krim nun jauh di sana. Yang disuruh hanya diam menjadi arang.
"kau menunggu apa, heh?" suara datar mengintimidasi kembali terdengar.
Dengan separuh nyawa Daiki berlari kearah yang ditunjuk. Semua berkumpul satu-satu. Tak lama kemudian mereka melakukan pemanasan dan kemudian bertanding 3 lawan 3. Si pink Momoi bercurhat ria bersama gadis-gadis GoM (?).
"nee… Hayami-san…. Gimana kamu bisa kenal sama Daiki?" Tanya Momoi heran, kenapa teman buluk masa kecilnya bisa dapet cewek mulus seperti Hayami.
"yahhh… ceritanya panjang…" dengan terrsipu malu, Hana menutupi wajahnya.
"ayo ayo curhat aja….?!" Ruki berkata semangat.
"ini sedikit memalukan…." Suaranya kalem.
"ayo dong…. Masak kita Cuma duduk diem aja…" Mika tak kalah bicara.
"aku mau beli cumi bakar…." Kata Kaoru, pacar Murasakibara.
"oke….."
"nee….nee…. ayo cerita :3" semua serempak membuat wajah melas ala kucing (?)
"baiklah…." Jawab Hana pasrah.
Semua takzim mendengarkan. Ada beberapa yang membuka kripik dan bersiap memakannya sambil mendengarkan cerita si Hana.
"dahulu kala….." si Hana mulai bercerita.
Aomine Daiki x Hayami Hana
Dahulu kala, saat pemerintah Meiji di Jepang, tersebutlah sosok pangeran tampan namun buruk rupa. Si pangeran yang sangat senang melihat foto model-model gravure itu sedang bersantai menikmati bacaannya. Hingga suatu ketika meluncurlah gunting tak diundang yang memotong jambulnya yang panjang (?).
Si pangeran menoleh ke asal benda melayang tadi. Seketika itu ia berkeringat dingin atas bawah. Dan dengan tergagap menahan nafas. Ia tak sanggup melihatnya lagi. Sosok yang kini berdiri di depannya adalah malaikat pencabut nyawa.
"Daiki!" suara dari sosok tersebut mampu merontokkan tulang-tulangnya.
"iiiyyaa….." si pangeran menjawab takut.
"kau boleh pulang. Latihan telah selesai. Hati-hati di jalan. Sekarang sedang musim hujan dan banyak pencopet yang berkeliaran." Pesan sosok tersebut.
"a.. …. Akashi…." Jawab si pangeran membatin, 'tumben kamu perhatian sama aku'. Tanpa disadari si hitam merona merah.
Dengan langkah seribu ia berjalan keluar. Berlomba dengan waktu yang entah kapan akan memuntahkan bergalon-galon air keatas muka bumi. Saat berjalan santai itu, ia tak sengaja melihat pencopet yang sedang beraksi.
"kyaaaaa! Tolong! Ada pencopet!" teriak si korban. Sebagai seorang pangeran terhormat, si hitam itu berlari dibawah mendung, yang membuatnya seakan tak terlihat.
"berhenti kau, kecoak pencopet!" sang pangeran telah berada di depan pencopet. Si pencopet yang melihat penampakan hitam dekil dan tak terlihat itu seketika pingsan. Dengan begitu sang pangeran mengambil dompet si korban.
"arigato gozaimasu…." Kata si korban.
"doita…" pangeran hitam menjawab seraya melihat kearah dada si gadis yang berukuran B.
Keesokan harinya, saat berangkat sekolah pangeran tampan kita sedang mematung ke sebuah toko majalah dengan liur menetes dan mata hampir meleleh. Ia tak mempedulikan ribuan pasang tatapan mata yang melihatnya sebagai pengganggu pemandangan.
Ia juga acuh dengan sang surya yang ditelan gelapnya awan. Tanpa pikir panjang lagi, ia masuk ke toko itu dan mengambil majalah yang ia incar sejak 5 dekade yang lalu.
Betapa terkejutnya ia, saat mendapati gadis kemarin yang ia tolong adalah si penjual toko. Sebagai rasa terima kasih, si penjual memberikan diskon khusus untuk pangeran penyelamatnya.
Tiba waktunya bagi sang pangeran untuk pulang. Tak lupa majalah yang ia beli tadi pagi merupakan peta yang ia bawa (?). dan ia juga tak tahu kalau jalan yang ia ambil itu salah (?). tanpa memedulikan sang angkasa yang kelabu, si hitam itu terus berjalan tak tentu.
Hingga akhirnya ia sampai di halte bis dan duduk di sana. Menikmati sajian di depan matanya. Dan tanpa ia duga, datanglah si korban kemarin yang ia tolong.
"anoo….sumimasen…. Apa anda tahu bis menuju Tokyo?" suara lembut si gadis tak dapat mengalihkan si hitam dari majalahnya.
"maaf…..pak….bisa tolong kasih tau bis ke Tokyo itu jam berapa ya?" si gadis bertanya dengan nada sedikit keras. Si hitam yang tak mau dipanggil bapak itu menoleh kearah dada si gadis.
"eee? Apa?" pertanyaan kasar terlontar.
"anu…." Belum sempat gadis itu melanjutkan pertanyaannya, si hitam menyela.
"bukannya kamu yang kecopetan kemarin?" si hitam tak percaya. Ia merasa bertemu dengan belahan jiwanya.
"apa?" si gadis mengerutkan dahi.
"lho? Bukannya kamu penjaga toko di jalan Kartini?" Aomine balik bertanya bingung.
"Ahahahhahahah….." si gadis malah tertawa terbahak.
"?" Aomine terlihat seperti pohon asem tanpa penunggu (?).
"mungkin itu adik ku…."
"adik?"
"kami ini kembar dan.. bla…bla…bla…" si gadis menjelaskan tentang adik kembarnya.
"oh begitu. Lalu kenapa kau mau ke Tokyo?" Tanya si hitam.
"rumahku ada disana keles…." Jawab si gadis.
"bukankah kita di Tokyo?" si hitam kaget luar biasa.
"Tokyo gundul mu…. Ini kota Wamena (?) woy!" si gadis menjawab kesal. Dengan berkata begitu, si pangeran hitam langsung meloncat dari singgasananya (?).
"haduh….. gimana ini…." Dengan kepanikan tingkat dewa, mereka menunggu hingga bis datang.
Minggu ini sang pangeran hendak membeli sepatu baru karena Selasa besok ia akan one-on-one bersama sang kekasih (?), Kagami Taiga. Ia ingin mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Tak mau kenangan pahit terulang kembali (?).
Saat berjalan santai itulah ia bertemu dengan gadis di halte bis (atau di toko ya?). pandangannya langsung tertuju kearah dada si gadis. Dan si hitam itu menyimpulkan kalau gadis itu adalah gadis yang ada di halte.
"konnichiwa…." Si gadis menyapa.
"konnichiwa… kita ketemu lagi…" kata Aomine menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba merah.
"aku mau berangkat kerja…" jawab si gadis.
"WHAT?!" si Daiki keselek jengkol.
"kamu sendiri?" si gadis masih tetap dengan senyumannya.
"mau beli sepatu…. Oh ya, aku Aomine Daiki, anata wa?" si hitam mengulurkan tangan.
"Hayami Hana-desu…" si gadis menyambut tangan dekil Daiki.
"kalau begitu…. Apa kau mau makan malam dengan ku?" Daiki langsung nembak (?).
"eh? Dimana?" Tanya si gadis tak takut dengan ajakan om-om mesum di depannya.
"gimana kalau di warung di depan sana?" Daiki menunjuk warung yang sering ia datangi.
"baiklah…. Jam 9 malam ya? Soalnya aku pulang kerja jam segitu…." Jawab si gadis.
"tentu saja….. aku akan menunggu mu di sana…" jawab Daiki semakin merah.
"kalau begitu sampai ketemu nanti malam, Aomine-kun." Kata si gadis menghampiri bis yang akan mengantarnya ke tempat kerjanya.
Sementara itu si hitam Daiki senyum-senyum tidak jelas. Ia teringat dengan beberapa artikel dewasa yang ia baca di majalah Mai-chan kesayangannya.
'cewek yang sudah bekerja biasanya banyak pengalaman….' Batin si hitam dengan senyum yang tak dapat diartikan.
Pukul 21:17 waku setempat. Warung Cak PI'I
Pemuda bersurai biru gelap itu menunggu dengan gelisah. Tak jarang ia membolak-balik halaman Koran yang tak minat ia baca. Hatinya gundah gulana menunggu sang gadis tak datang.
"Aomine-kun…." Suara lembut wanita dari belakangnya membuat senyumnya merekah.
"Hayami-san…" balas si hitam mempersilahkan sosok yang baru datang itu untuk duduk di depannya.
Dan percakapan hangat itu terbentuk dengan sendirinya. Mengalahkan hawa dingin yang datang bersama sang awan mendung di malam hari itu.
Mereka keluar dari warung pukul 12 malam dan suasana sangat sepi. Membuat bulu kuduk meremang. Benar saja, tak lama mereka bejalan sambil bergandengan tangan, sang tamu tak diundang itu datang. Dengan langkah seribu mereka mencoba menyelamatkan diri dari amukan sang hujan.
"nee…. Aomine-kun…. Apartemenku ada di dekat daerah ini. Mungkin ada baiknya kalau kita berteduh di tempatku dahulu." Tawar si gadis.
"tentu saja…." Dengan persetujuan itu, mereka pergi ke tempat si gadis.
"tadaima…." Teriak si gadis yang kemudian disahut oleh suara cempreng dari dalam rumah.
"okaeri…." Si gadis berumur 14 tahun dan berkepang dua, datang dengan tanda tanya besar.
"mana Hanami-neesan?" Tanya Hana seraya mengajak si hitam masuk.
"dia memanaskan sayur…. Etoo…. Om ini siapa kak?" Tanya si gadis kecil.
Yang dipanggil om hanya menahan gejolak lahir batin (?) dan menunjukkan senyum gantengnya yang justru membuat si gadis berlari ketakutan.
"hahahah…. Dia memang seperti itu… ayo masuk…" kata Hana menggandeng tangan Daiki.
Di ruang tengah ada sepasang gadis berumur 14 tahun, yang salah satunya gadis yang berlari tadi, serta seorang anak perempuan berumur 8 tahun. Kemudian datang dari arah dapur gadis yang menyerupai Hana.
"perkenalkan, mereka adalah adik-adik ku…" Hana memperkenalkan.
"neechan…. Itu… kakak baru buat kami ya…" si anak perempuan 8 tahun bertanya dengan mata berbinar.
"eehhh…?" Daiki hanya bisa merinding disko.
"yatta! Akhirnya aku punya kakak yang bisa kuajak perang-perangan…!" si anak perempuan menghampiri Daiki dengan senyum berbinar. Sejenak Daiki mengamati wajahnya. Mirip seperi Hana.
"Haru…. Perkenalkan dulu dirimu…" kata Hana.
"Hayami Haruki desu…. Ayo maen kakak…." Tangan Haru menarik tangan besar Daiki.
"eeehhh…. Main apa?" Daiki sweatdrop.
"Haru…. Kami baru saja pulang…. Biarkan istirahat dulu ya… kan mainnya bisa besok…" Hana memberi penjelasan yang dibalas oleh raut kecewa adiknya.
"nee-chan…. Apa nee-chan akan menikah dengan om daikian ini?" salah satu saudara kembar bertanya. Si rambut pendek tepatnya.
'WHAT?' Daiki membatin kesal.
"Hikaru…. Kamu gak boleh ngomong gitu…." Hanami muncul dengan tiba-tiba.
"perkenalkan, aku Hikari….." si gadis kepang dua memperkenalkan diri ke Aomine.
"aku Hikaru…." Gadis berambut pendek disebelahnya ikut memperkenalkan diri. Sejenak Aomine membandingkan mereka berdua.
"trus… om ini siapa?" pertanyaan polos dari Hikari.
"dia calon kakak kami kan, Hana-neechan?" Haru bertanya dengan senyum riang.
"aku Aomine Daiki…. Waahhh… Hayami-san punya saudara yang imut-imut ya. Perempuan semua lagi." Aomine serasa di surga. Dikelilingi banyak perempuan (tapi sayang, mereka belum 'tumbuh').
"yah… begitulah… Hikaru, Hikari, Haruki waktunya tidur. Besok kalian sekolah kan?" perintah Hana kepada ketiga adiknya.
"Haru mau tidur sama kakak Daiki…." Haru merajuk dengan cat-eyes andalannya.
"Haru… kan kak Daiki capek tidur sen…." Belum sempat Hana melanjutkan kalimatnya, sudah dipotong oleh Daiki.
"gapapa, aku gak keberatan kok…" senyuman kembali muncul di wajah Daiki.
"baiklah…." Hana hanya pasrah, cowoknya (?) dijadikan guling oleh adiknya.
"Hayami-san…." Daiki memberikan kode pada Hana untuk duduk di sampingnya. Mereka tidur di kamar Hana yang lumayan lebar untuk 3 orang.
Kini di sisi kiri Daiki ada Hana yang duduk dengan muka merah. Sedangkan di sisi kanan Daiki ada Haru yang tertidur pulas. Tangan Daiki dengan cepat meraih pinggul Hana dan membawa gadis itu untuk tidur di sampingnya.
"A…aomine-kun.." wajahnya lebih merah dari cabai.
"kau punya keluarga yang besar…" Aomine mengeratkan pelukannya ke pinggang Hana.
"tentu saja…. Mereka adalah hartaku yang paling berharga…." Jawab Hana.
"kalau begitu ijinkan aku untuk turut menjaga mereka…." Kalimat itu begitu tegas dan yakin. Membuat Hana tak mampu lagi untuk tidak mengecup pipi kiri Daiki.
"arigato, Aomine-kun…" kata Hana.
"tentu saja…." Daiki kini telah berhadapan dengan Hana, memeluknya erat dan merasakan tubuh mereka saling menekan. Dalam kehangatan itu, Daiki membenamkan kepalanya di leher sang gadis. menyesap wanginya dan memberikan kissmark di sana.
"Aomine-kun…!" peringatan awal dari sang gadis membuatnya menghentikan kegiatannya.
"daisuki dayo, Hayami Hana-san…." Dan bibir mereka bertemu dalam hangatnya badai yang mengamuk diluar sana.
-End of Story-
"wahhh…. Itu co cweet banget " komentar Ruki.
"apa benar saudara mu sebanyak itu?" Tanya Mika.
"ya begitulah…." Jawab Hana.
"aku jadi pengen punya adik…." Yui ikut berkomentar.
"ara… ini pada ngapain?" Ameko Kaoru yang baru beli cumi bakar hanya memandang heran.
"Ame-chan…. Bagaimana kau bisa jadian sama Mukkun?" Momoi bertanya dengan mata berbinar. Apalagi saat melihat tubuh datar Kaoru. Ia tak menyangka kalau Murasakibara adalah pedofil (karena Kaoru terlihat seperti anak SMP).
"eh?" Kaoru bingung dengan topic pembicaraan mereka.
"yah ceritain gimana kamu bisa jadi pacarnya Murasakibara-kun…" lanjut Ruki.
"emang itu penting ya buat kalian?" nada sarkasme dari Kaoru menohok mereka dan membuat mereka bungkam.
"itu bukan urusan kalian kan?" jleb. Itulah yang gadis-gadis itu rasakan.
"nee…. Tapi kau tak perlu marah begitu, Ame-chan…." Lerai Yui.
"terserah sih…. Kalau kalian kepo biar aku kasih tau…." Jawab Kaoru kemudian duduk bersila.
'TSUNDERE jenis baru ya?' serempak itu yang terlintas di batin mereka.
