Murasakibara Atsushi x Ameko Kaoru

Suatu hari di SMA Yosen di Akita, seorang gadis tengah memakan lollipop dengan PSP dikedua tangan. Dan dengan riang ia tertawa sendri, di kelasnya yang ramai dan dipenuhi oleh teman-temannya yang sedang membicarakan entah apa.

"Kaoru-chaan…. Ayo pulang… semua sensei sedang rapat….." ajak temannya, seorang gadis dengan surai hitam bermarga Himuro, Himuro Ayako.

"heh? Kenapa? Ayo….." jawab si gadis, memasukkan PSPnya ke dalam tas kemudian melangkah mengikuti temannya.

Keduanya berlarian ke gerbang. Berlomba dengan murid-murid yang lain.

"Nii-chaan…." Gadis berambut hitam itu menghampiri seorang pemuda dengan surai senada dengannya. Kebetulan kakaknya lewat di depan sekolahnya.

"Aya…." Si kakak menoleh ke sumber suara, kemudian memperhatikan sosok mungil yang berjalan malas dibelakang adiknya.

"itu siapa?" Tanya si pemuda.

"Ameko Kaouru, dia temanku. Oh ya, kak Murasakibara gak ikut?" Tanya Aya.

"dia ada keperluan dengan teman-temannya. Yuk pulang….." kata si kakak.

Keduanya pulang dengan pengawal dibelakang mereka (?).

Minggu yang cerah untuk jalan-jalan. Tapi bukan karena alasan itu gadis rambut pendek bersurai pink itu keluar. Ia ingin mencicipi kedai baru yang menjual kue, tak jauh dari rumahnya. Dengan semangat '45 ia berjalan sambil menyenandungkan lagu.

Setibanya ia di tempat yang dituju.

BUKA PUKUL 15.00-21.00.

Betapa sakit hatinya membaca tulisan itu. Dengan langakah tersaruk ia duduk di depan toko dengan pandangan kosong. Air matanya hendak keluar. Apalagi perutnya yang meronta karena ia tak sarapan. Ia masih terpaku dengan tulisan itu. Tak mempedulikan tatapan orang yang memandangnya aneh.

Hingga sebuah sosok hitam, dengan bodyguard raksasa disebelahnya menghampiri si gadis. Wajah terkejut tergambar di wajah sosok pendek di sampingnya.

"are…. Apa kau Ameko Kaoru? Sedang apa kau di sini?" Tanya si pendek, alias Himuro Tatsuya.

"Muro-chin….apa dia teman mu?" Tanya si titan, dengan es krim di tangannya, Murasakibara Atsushi.

Gadis cilik itu menoleh, dan membelalakkan mata melihat si titan yang sedang memangsa es krim. Ia ingin menangis saja rasanya. Tidak. Ia ingin es krim itu. Dengan cepat ia berdiri dan memandang es krim Murasakibara dengan penuh nafsu.

"Ameko-chan?" Himuro menyadarkan si gadis yang dibalas dengan kebisuan.

"ada apa, dik?" si Murasakibara bertanya malas.

"es krim…..?!" permintaan sekaligus pernyataan dari si gadis.

"apa kau ingin es krim?" si surai hitam mengeluarkan suara.

"es krimmmmm…." Dengan berkata begitu, gadis cilik itu telah dibuatakan oleh es krim coklat di tangan raksasa di depannya. Ia tak peduli kalau ia harus mati demi mendapatkannya.

"Ameko-chan…. Yuk beli es krim….." si bayangan hitam berkata dengan nada riang, mencoba meredakan aura dari gadis cilik di depannya.

"akk…..kkuuuu….. bu…..ttuuuhhh… esss… krriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiimmmmmmmm…" dengan deklarasi perang itu, si gadis menghambur kea rah es krim yang tinggal setengah. Dan karena terkejut, si raksasa itu roboh menghantam gunung Fuji (?).

"Murasakibara?! Ameko-chan?!" si hitam itu kelabakan dan mencari tempat berlindung.

Adegan selanjutnya bayangkan sendiri. Si gadis berada diatas tubuh si titan, merebut es krim tersebut kemudian memakannya rakus. Setelah habis, ia melihat sisa es krim di mulut Murasakibara, dan menjilatinya tanpa sungkan. Membuat penonton mimisan nanah (?).

Murasakibara's POV

Aku sangat marah. Apa-apa an ini? Adik kecil diatas ku ini telah menghabiskan es krim tercintaku, apalagi ia telah menghapus jejak keberadaan kekasihku. Tanpa pikir panjang aku berdiri. Melihatnya jatuh terjungkal dengan rok tersingkap, menunjukkan pantsu-nya.

Dari sudut mataku, kulihat Muro-chin melongo dan lupa mengatupkan kedua mulutnya. Dan anak kecil dibawahku ini hanya memandang kebawah.

"apa yang kau lakukan kepada es krim ku, hah?!" aku menggeram kesal.

Ia mengangkat wajahnya, ada linangan air mata di sana. Ekspresi inosen seperti minta makan.

"Murasakibara-kun, mungkin ia kelaparan. Makannya ia berdiri di depan toko ini. Benar begitu kan, dik?" Muro-chin menenangkan si adik kecil.

"aku tidak terima…." Dengan nada malas aku berkata kesal.

"gomenasai…." Si adik menangis.

"cup….cup…cup….." lagi-lagi Muro-chin menenangkannya. Aku kesal. Aku marah. Kupalingkan muka.

"Muro-chin….." ada yang keluar.

"maaf kan aku….. aku akan menggantinya deh…." Kata si gadis, masih menangis.

"he? Bener?" aku melirik dari sudut mata.

"iyaa…." Jawab si adik kecil.

"dengan apa? Itu es krim edisi choco coklat choc terakhir musim ini!" aku membentaknya.

"gomenasai…. Huwwaaaa…..huee…" mulai lagi nangisnya.

"Murasakibara-kun….."

"tch. Ok ok. Kau mau menggantinya dengan apa?" kataku akhirnya.

"itu….." ia menunjuk toko di depan kami.

"haaaahhhh?! Itu bukanya masih 6 jam lagi?" aku histeris.

"kalo gitu, kenapa gak dirumahku aja? Aku bisa buat kue?" tawarnya. Aku melirik Muro-chin. Ia mengangguk.

Normal POV

Mereka pergi ke rumah si gadis. terlihat sepi tanpa penghuni. Dan mereka telah sampai di dapur di rumah tersebut.

"silahkan masuk saja…" si gadis mempersiapkan. Kemudian mengambil apron dengan warna ungu berhiaskan kambing.

Murasakibara melihat dengan tatapan datar. Ia menghampiri kulkas yang serasa surga untuknya. Tak sungkan ia langsung menjarah isi kulkas sang pemilik rumah yang sekarang sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue.

Sementara mas ganteng yang terabaikan hanya duduk sambil ikut makan cemilan. Keduanya duduk santai di depan TV yang kini sedang menampilkan entah apa. Berulang kali si titan ungu mengecek kearah dapur, berharap kue yang dijanjikan adik kecil itu telah selesai dibuat.

"kamu tinggal sendiri?" Tanya Himuro, melihat Kaoru dari jauh, bersiap menunggu kue.

"ortu ku jarang di rumah. Makanya aku tinggal di sini. Selain dekat dengan sekolah, juga banyak warung yang jualan jajan." Jawab si gadis berfokus pada loyang yang ia garap.

"oohh….. gitu….. kau tidak punya saudara?" lanjut Himuro memecah sunyi.

"aku punya kakak yang sudah menikah." Jawab Kaoru.

Tinggal menunggu beberapa menit sampai kue selesai di panggang. Kaoru menunggu dengan mencolek krim di sebelahnya. Setelah keluar dari panggangan, Kaouru menumpuk lapisan kue itu dengan krim. Tak lupa ia campurkan coklat, stroberi, tomat, cabai, paprika, terong, pare, kunyit, laos, terasi, de el el. Jadilah kue absurd buatan Kaoru.

"Murasakibara-kun..." panggil Himuro yang disambut gempa karena Murasakibara langsung lari dan menyerbu dapur. Matanya membelalak selebar piring melihat kue yang telah dibuat Kaoru.

"ini… sekarang aku gak punya hutang lagi, kan…" kata Kaoru berjalan pelan keluar, tak ingin diketahui. Ia tak mau membayangkan wajah sekarat orang yang baru ditemuinya.

Secepat kilat Kaoru berlari keluar rumah. Tak lupa ia membawa serta handphonenya dan segera menghubungi rumah sakit terdekat. Saat hendak memencet tombol, terdengar ledakan keras disertai rumahnya yang hancur lebur. Tak ketinggalan puing-puing rumah yang tak berdaya dan tembok berlubang, menampilkan sepasang sosok yang terkapar dengan sebelah tangan memegang garpu yang terdapat sisa potongan kue.

Tak lama ambulan datang mengangkut kedua mayat itu. Adik Himuro juga datang untuk memastikan kakaknya.

"Kaoru…." Aya histeris.

"gomen ne….." jawab Kaoru lemas.

"k…kkkkaauu… kk….kaauuuu….. haa….haruss….. bbb…..bertang…..ggung…. jawab… hhh….hhhh…." suara dari si titan terdengar saat ia melewati Kaoru.

"maafkan aku onii—san…." Kaoru menangis melihat si kakak yang ia rampok hendak menghembuskan nafas terakhirnya.

"kk….kkkau…..mmm….masihh… berhutang…. Pada…ku….." lanjut Murasakibara.

"bb…bbbagai….mana….. caranya….hiks…..hiks….?" air mata Kaoru tak mau berhenti.

"buatkan…. Aku….. kue…. Yang … lebih…. Layak….. hhhhh…." Dengan berkata begitu, si titan diangkut ke ambulan.

"aku janji akan membuat kue yang layak!" kata Kaoru bersemangat, dengan air mata bercucuran.

Beberapa bulan setelah kejadian itu.

Kini apabila ada waktu luang setelah kuliah dan sekolah, Murasakibara dan Kaouru menghabiskan waktu bersama untuk membuat kue. Si giant yang suka makan itu tak lupa mengajari Kaoru untuk membuat berbagai masakan dan jajanan.

Dan hari Sabtu ini, mereka telah janjian untuk bertemu di kedai mochi yang akan mereka coba. Sesuai janji, Kaoru yang hobi datang awal langsung memesan paket A dengan rasa mochi buah. Dengan laparnya gadis itu melahap semua mochi saat Mukkun datang.

"yare… kau mencuri start." Kata Mukkun yang kemudian memesan paket B, dimana ukurannya ½ kali lebih besar dari paket A.

"kau yang lama, kayak keong…" Kaoru masih memasukkan jajan itu kedalam mulutnya.

Sepulangnya, mereka mampir ke konbini untuk membeli snack dan bahan-bahan untuk membuat kue. Mukkun mengambil beberapa kotak Tocky dan Momogo kesayangannya. Tak lupa sekotak es krim Woles.

Beberapa hari ini Mukkun menginap di rumah Kaoru. Selain untuk mengajari Kaoru, ia senang karena ada kekasihnya di sana, yang tidak akan cepat habis bila ia terus mencumbunya (?).

Mereka duduk di depan TV, Kaoru mengeluarkan kue yang ia buat kemarin dari dalam kulkas. Karena tak ada tempat untuk jajan yang baru ia beli. Mau tak mau mereka menghabiskan kue tersebut.

"hari ini seneng banget deh…." Celoteh Kaoru, mengambil jajan Tocky yang dibeli Mukkun.

"…" Mukkun memandang malas, bukan kearah Kaoru, tapi pada sang kekasih Tocky.

Tanpa sungkan Kaouru membuka jajan tersebut yang langsung menggerakkan hati sang pemilik. Kaoru menoleh cuek, mengambil sebatang dengan rasa choco banana. Mengunyahnya dengan cepat.

"oishii…" dengan begitu mulutnya dipenuhi dengan Tocky.

"itu punyaku…." Mukkun tak bisa mengalihkan perhatian dari kekasihnya yang sedang disandera. Kaouru melirik singkat, kemudian dengan cepat mengeksekusi pacarnya Mukkun kedalam perutnya.

Tinggal sebiji. Dengan cueknya Kaoru memasukkannya ke dalam mulutnya, membuat si titan tak tahan lagi. Ia langsung menarik tubuh kecil Kaoru dan dengan sekuat tenaga mengambil kembali sang kekasih. Kaoru yang tak mau kalah berusaha menahan batang kecil itu, dengan cepat mengunyahnya.

Murasakibara tak kalah cepat. Apalagi saat bibir mereka bertemu dan iris pink Kaouru melebar kaget. Beda dengan Mukkun yang meneruskan kegiatannya hingga tanpa sengaja ia menggigit bibir bawah Kaoru.

"nngghhh….." dan kegiatan itu terhenti.

Mereka bertatapan. Lama. Kaoru menundukkan wajah, menyembunyikan wajahnya yang merah.

"are….. nande? Tadi Tocky kok jadi kenyal?" Mukkun menyentuh bibirnya.

"…" Kaoru menahan perih di bibir bawahnya karena ulah Mukkun. Pemuda itu menoleh kearah Kaouru, melihat tepat ke bibir merah sang gadis. Apalagi dengan darah yang ia ciptakan.

"hee…bibir mu seperti permen cery…. Apa aku boleh memakannya?" Mukkun mendongakan wajah Kaoru.

"jangan….digigit…itai…yo…." jawab Kaoru. Wajah semerah darah.

"lalu?" Mukkun melahap bibir Kaoru. Merasakan darah yang keluar akibat ulahnya. Melumatnya seperti saat ia melumat permen. Namun Kaoru tak tahan. Ia butuh udara. Dengan begitu ia mendorong tubuh Mukkun dan memutus permennya.

"doshite? Oishii yo…" Mukkun ketagihan.

"yamete, Murasakibara-kun…. Mou….gaman dekinai….." jerit Kaoru.

"nani ka?"

"aku mau minum…." Saat Kaoru melangkahkan kaki hendak mengambil segelas air, tangan besar Murasakibara menariknya dan membuatnya terjatuh. Tanpa sungkan Mukkun menempatkan tubuhnya diatas Kaoru tanpa menindih gadis itu. Kemudian mulai melumat bibirnya.

"nggh…..hnnggnhhh….hen…..tikann….ngghhh….." desah penolakan disela lumatan yang dilakukan sosok diatasnya.

"nande? Padahal kau enak sekali. Kenapa kau bisa begitu enak?"

"eee?"

"aku mau lagi….."

"hentikan….! Kenapa kau melakukan ini, Murasakibara-kun…."

"…"

"jawab aku!"

"…"

Murasakibara masih memandang gadis kecil di bawahnya. Sangat merah dan tak berdaya. Apalagi bibirnya yang membengkak karena perlakuan kasarnya tadi.

"nande? Jawab aku!"

"itu…. Karena…. Kau enak…. Dan manis…."

Tatapan mereka bertemu. Begitu juga dengan bibir mereka. Kali ini Mukkun lebih lembut dari yang pertama tadi. Ia menikmatinya dengan segenap hati.

End of Flashback.

"owari…" Kaoru mengakhiri ceritanya. Semua hanya jawdrop dan ada yang menangis.

"bukan pernyataan cinta…" Momoi agak kecewa.

"emang kenapa?" Kaoru bertanya polos.

Semua saling pandang. Tak tahu harus memberi jawaban apa.

"Kaoru-chin…?!" panggil si raksasa ungu yang tadi baru dibicarain.

"sepertinya aku harus pergi…." Kata Kaouru menghampiri tuan-nya. Semua melongo.

"maa… kurasa itu yang terbaik." Komentar Momoi.

"tapi….." pertanyaan menggantung dari Mika.

"nani ka?" tanya Yui.

"kenapa Akashi belum punya pacar?" tanya Mika dengan mata melebar.

"yayayayaya….. itu juga yang sedang kupikirkan…" Ruki ikut bicara.

"apa mungkinnn… Akashi-san….. suka….. Momoi-chan?!" tebak Hana kaget. Begitu juga mereka.

"chigau chigau…. Aku dan Akashi-kun Cuma teman aja…." Jelas Momoi dengan senyum salah paham.

"trus kenapa ia JONES?" Ruki mengucapakan kata terkutuk itu. Yang membuat sang raja menghampiri mereka secepat kilat.

"apa kalian memanggilku?" tanya Akashi dengan gunting diseluruh tubuh. Ia bersiap dengan mode serang. Menilik masing-masing manik milik gadis di depannya.

Ruki yang paling merasa bersalah. Ia menundukkan wajah meminta maaf. Yui sudah hampir menangis. Mika hanya diam menenangkan diri, menahan tangisan. Hana meminta maaf dengan senyum andalannya yang sering ia pakai saat menghadapi pelanggan yang rewel. Sedangkan Momoi menatap Akashi langsung, mencoba menerangkan lewat tatapan mata.

"katakan padaku, heh?!" suara itu bagai alarm kematian bagi kelima gadis itu.

"Akashi-kun salah paham…" jawab Momoi dengan senyum kikuk.

"apanya yang salah paham?" gunting-gunting Akashi siap menyerang.

"tadi kami membicarakan Dai-chan dan Mukkun…." Lanjut Momoi, mengantisipasi gunting-gunting yang menantang kearahnya.

"kenapa membicarakan Daiki dan Atsushi?" mata belang Akashi tak mau dibodohi.

"kau tau kan mereka seperti apa…?"

"yahh…. Masak si hitam dakian kayak dia bias dapat pacar semulus Hana-chan….?" Ruki memotong perkataan Momoi.

Akashi melirik pada sosok yang dibicarakan nun jauh disana. Dan benar saja. Panas pantai telah merubahnya menjadi sosok hitam gelap gulita (?).

"jaa…. Kalau Atsushi?" ia kembali pada Momoi dkk. Tak menendorkan pertahanan sedikit pun.

"kan Mukkun Cuma mikirin makanan. Mana sempat ia mikir cewek?" jawab Momoi. Keringat dingin menetes di panasnya udara.

Sekali lagi Akashi melihat Murasakibara bersama gadis kecil yang lebih pantas menjadi adiknya daripada pacarnya.

"kau benar…" jawab Akashi. Menitahkan pengawal-pengawalnya (gunting-san) untuk kembali tidur.

Semuanya bernafas lega.

"Tapi…" sebelum berbalik, Akashi menambahkan,

Semua menahan nafas.

"jangan bilang kalau aku "JONES"atau kalian akan rasakan sendiri akibatnya!" semua merinding mendengarnya.

Hening beberapa saat. Hingga pertanyaan polo situ terlontar dan membuat Akashi benar-benar jantungan. Semuanya hening dan diam.

"jaa…. Apa kau punya pacar?" Tanya seorang gadis dengan tinggi 141cm berdiri sambil memegang es krim tumpuk 5 dengan berbagai macam rasa. Surai hitamnya yang pendek menghias pipi tembemnya. Di sebelahnya berdiri gadis bersurai pink dengan tinggi 155cm. Di samping si gadis pink berdiri titan ungu raksasa. Semuanya memegang makanan yang berbeda-beda.

Akashi sampai mengagumi bagaimana tangga orang itu terbentuk tidak sesuai proporsi. Dan gunting-san yang tadi tertidur, kini bangun lagi. Tak hanya kanan dan kiri, tapi depan, belakang samping bahkan dibalik baju Akashi.

"apa katamu?" ulang Akashi. Ia merasa dipermainkan dengan gadis SD di depannya. Tapi ia masih menahan hasrat membunuhnya. Semua menahan nafas, berdo'a untuk kebaikan bersama.

"aku ulang…. Kenapa kamu masih JONES?" ulang gadis pendek itu tanpa rasa bersalah. Sementara semua gadis, bukan, semua pendengar itu, tidak, semua pengunjung di pantai sweatdrop dan berdo'a dalam hati. Semoga mereka bukan tumbal selanjutnya.

Akashi melangkah kearah si gadis. Ia menaikkan kepalanya. Menatap si gadis merendahkan.

"katakan kenapa kau masih Jones, heh?!" ulang gadis itu.

"…" Akashi kehabisan kata-kata.

["bilang aja kalau gak laku….."] suara astral terdengar. Semua menoleh ke sumber suara. Menahan bulu kuduk yang berdiri.

Sementara Akashi hanya bisa berdiam dan menahan harga diri yang entah sejak kapan tak lagi laku untuk gadis-gadis.

"nih, aku kasih es krim ku…. Ku do'akan supaya kau tidak jones seumur hidup." Kata si gadis surai hitam itu memberikan sisa es krimnya untuk Akashi. Akashi menerimanya dengan aura membunuh dan gunting yang tiba-tiba mengelilingya.

Gadis itu segera pergi dengan santainya. Tanpa menoleh ke belakang. Akashi yang dipermalukan top to the sky (?) hanya bisa melemparkan gunting ke segala arah. Mengamuk sekuat tenaga. Dan alam tak tinggal diam. Tiba-tiba tsunami datang dan menyapu Jepang. Awan gelap dan hitam. Gempa tiba-tiba terjadi di kutub utara. Dan gurun Sahara tiba-tiba banjir hebat.

Dan kemudian semua pengunjung yang ada di pantai itu berada dalam keadaan yang mengenaskan. Dengan kepala lepas dari tubuh. Tak lupa tangan atau anggota tubuh lain yang tak lagi menyatu. Dan bagian dalam tubuh terburai keluar. Ada juga beberapa gunting yang menancap bagian-bagian tubuh korban-korban malang tersebut.

Akashi berdiri sendirian. Melihat ke sekeliling. Di depannya hanya ada gadis bersurai hitam tadi yang masih berjalan sedangkan semua orang telah kehilangan nyawa. Matanya membelalak lebar. Tak percaya ia akan menemukan orang yang bisa menangkis serangannya.

Seakan seluruh tubuhnya ditarik oleh gadis itu. Tak lupa dengan gunting-gunting perdukunannya yang sujud kearah si gadis. Mata Akashi membelalak semakin lebar.

'kurasa aku tidak akan jones selamanya….' Begitulah batin Akashi. Berlari kearah si gadis.

Dan sedetik kemudian angin topan datang dan menghamburkan semuanya. Membawanya dalam gulungan penuh benda tak berbentuk yang kemudian membawanya ke entah berantah. Ia hanya bisa pasrah dan berharap bertemu dengan si adik bersurai hitam tadi.