Reisouren desu!

Minna, terimakasih untuk support dan review kalian di chapter sebelumnya ya. Maaf gak bisa apdet kilat, ini udah yang tercepat yang saya bisa kok. Special thanks untuk reviewer pertama, GaemSJ-san, kyuaiioe-san, Lilithzelenia-san, hanazono yuri-san, Sasara-chan dan sjxjs-san. Untuk Sasara-chan yang gak login, terimakasih ya buat review-nya. Cinta segitiga? Entahlah, saya juga belum ada gambaran plot selanjutnya mau dibikin kayak gimana, hehe. Oke, silahkan membaca :)


Idol Nest

Judul: Idol Nest (Sarang Idola)
Fandom: Naruto
Pairing: [Sasuke U. , Sakura H.] , S. Gaara
Genre: Drama & Romance
Rated: Teen (13+)
Disclaimer: © 2002 Masashi Kishimoto
Author: Reisouren
Warning: Don't like Don't Read!
Summary:
Ini adalah kisah Haruno Sakura, seorang gadis SMA biasa yang sangat tergila-gila dengan sebuah grup musik pria, The Cotton, dan seorang membernya yang bernama Sabaku Gaara. Di saat yang bersamaan, Uchiha Sasuke, sang sahabat, menyembunyikan sebuah fakta! Sebuah fakta yang membuat Sakura dekat dengan sang idola, sekaligus yang mendatangkan dilema untuknya.\RnR Please/

.

.

.

Chapter 2: The Concert

"Tak kusangka ternyata...aku cantik juga, ya?" ucap Sakura pada pantulan dirinya di cermin.

Ya, ia memang terlihat sangat cantik dengan gaun pink selutut tanpa lengannya itu. Desain gaun itu simple, namun membuatnya terlihat anggun dan berkelas. Sakura pun menambahkan bando sewarna berbentuk hati di kepalanya yang membuatnya terlihat semakin manis. Rambut sepunggungnya ia gerai dan ia beri semprotan diamond spray yang membuat rambutnya terlihat berkerlap-kerlip.

"Gaara-kun, tunggu aku!"

Saat Sakura hendak mengambil tas selempang berwarna emas di atas kursi belajarnya, manik jade-nya menangkap sebuah benda mungil berbentuk persegi panjang. Ia pun mengambilnya dan terhenti. Pandangannya menerawang sebentar sebelum ia nyalakan benda itu dan tangannya menari lihai menekan-nekan huruf yang tertera di atas layar touch screen itu.

"Yosh, ayo kita bersenang-senang!" pekiknya. Sakura lantas melangkahkan kaki putih jenjangnya menuju lantai bawah rumahnya.

~IDOL NEST~

'Ino, tunggu aku di depan NHK Hall. Aku akan sampai dalam waktu lima belas menit.'

Aquamarine Ino menatap dua kalimat e-mail yang Sakura kirimkan padanya. Sebagaimana halnya Sakura, Ino pun tengah bersiap-siap untuk pergi ke konser The Cotton di NHK Hall. Sebenarnya, Ino bukan fans The Cotton. Ia hanyalah 'korban' rengekan Sakura yang memaksanya untuk menemani Sakura ke acara itu. Tapi apa boleh buat, anak itu keras kepala sekali.

Berbeda dengan Sakura yang berdandan 'total', Ino bahkan hampir tidak berdandan sama sekali. Ia hanya memakai celana jeans sepaha dan kaos kedodoran berwarna senada dengan matanya. Rambutnya diikat kuda seperti biasa dan ia pun tidak ber-make-up sama sekali. Lihatlah kantung matanya yang menghitam, ia bahkan tidak berusaha menutup-tutupinya dengan concealer. Benar-benar tidak niat. Apa yang disebut dengan 'bersiap-siap' disini adalah menyiapkan mood-nya untuk pergi. Bukan hal lain selain itu.

"Ibu, apakah ayah tidak memakai mobil?" tanya Ino setelah ia sampai di dapur, tempat ibunya berada.

Wanita paruh baya berambut pirang itu berbalik, terlihat dengan jelas celemek bermotif bunga-bunga dengan noda kecap dan minyak di sana-sini.

"Ayahmu baru saja pergi mengecek toko bunga yang di Asakusa dengan mobilnya. Memangnya kau mau kemana, sayang?" Ibunya memandang Ino dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Mau main ke rumah Sakura, ya?" tambahnya.

Ino menggeleng. "Mau ke konser The Cotton di NHK Hall."

"Dengan pakaian seperti itu? Aduh Ino, kau jangan bikin malu Ibu dong!"

Ino pun mengangkat bahunya. "Tidak apa-apa, Bu. Aku jamin tidak ada yang tahu kalau aku itu anak Ibu!" ucapnya mantap.

"Aku pergi ya, Bu."

"Ino! Ino! Hey!"

~IDOL NEST~

"Hey, Gaara, kemarilah!"

Pemuda blonde itu menggapai-gapaikan tangannya sementara mata biru-nya terfokus pada kerumunan orang dibalik tirai merah itu.

"Ada apa, Naruto?" Gaara melangkahkan kakinya ke arah Naruto yang sedang mengintip lewat celah tirai. "Fans kita ternyata banyak, ya?"

Gaara membuka sedikit tirai itu seperti yang Naruto lakukan. Disana ia melihat banyak orang berkumpul. Mereka berbisik-bisik, ada juga yang berteriak tertahan. Sebagian dari mereka membawa uchiwa. Orang-orang pun perlahan berdatangan memasuki gedung yang luas itu. Hampir semua dari mereka adalah para gadis remaja –sekitar sepuluh persennya adalah wanita dewasa.

Gaara mengangguk. "Sepertinya memang begitu. Padahal, konser ini akan dimulai satu jam lagi."

'PUK'

"Hey kalian, sedang apa?"

Merasakan ada yang menepuk pundak mereka, Naruto dan Gaara pun menolehkan kepalanya. "Shikamaru?"

"Naruto mengajakku mengintip lewat tirai itu," ucap Gaara jujur yang dibalas dengan deathglare Naruto.

"Hah, kau ini. Oh iya, apakah kemarin kau tidak lupa memberikan tiketnya pada produser kita?"

Naruto mengangguk sambil tersenyum lebar. "Tenang saja, aku tidak lupa kok. Tapi…memangnya mereka akan datang, ya?"

Gaara terkekeh. "Bodoh, tentu saja tidak akan."

"Lalu kenapa kalian memberikan mereka tiket? Hah, sebenarnya yang bodoh itu aku atau kalian?"

Deidara yang tadinya sedang berlatih beberapa koreografi pun menimpali. "Itu namanya formalitas, baka! Setidaknya kita harus mengundang mereka walau mereka tidak akan datang. "

"Heh, bukannya kau sedang latihan ya?" sindir Naruto.

"Lagi pula, lebih baik mereka tidak datang."

Naruto, Deidara, Shikamaru dan Gaara pun menatap Sai yang tiba-tiba muncul itu dengan tatapan heran.

"Kalau mereka datang, nanti yang akan menjadi pusat perhatian bukan kita, The Cotton."

"…tapi mereka."

~IDOL NEST~

Haruno Sakura merapikan surai merah mudanya yang berkali-kali tertiup angin. Manik emerald-nya yang bersinar menatap orang-orang yang berlalu lalang dengan tergesa-gesa. Beberapa anak perempuan juga terlihat memegang uchiwa. Dilihat dari nama-nama yang tertera di atas uchiwa itu, tak salah lagi, mereka adalah fans The Cotton.

Sakura tersenyum. Beberapa puluh meter di depannya adalah NHK Hall. Ia pun mempercepat langkahnya saat melihat gadis berambut blonde sedang berdiri sambil berpangku tangan disana.

"Kyaaaa!"

Semua orang menoleh ke asal suara. Jari telunjuk gadis yang mengenakan syal merah disana pun mengarah ke arah jalan raya. Di tengah jalanan beraspal dengan banyak kendaraan berlalu lalang, seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun berdiri sambil menangis.

"A-anak itu?" ucap Sakura dengan emerald-nya yang membulat sempurna.

Tanpa berpikir panjang, Sakura melepaskan sepatu pantofel emas dengan sedikit haknya yang licin dan melempar sembarang tasnya. Ia pun berlari sekuat tenaga melawan arus angin musim semi yang seolah mengatakan dirinya untuk diam.

"Nona! Nona, biarkan kami yang…"

"Nona! Jangan gegabah!"

Sakura tidak sedikitpun mengacuhkan suara-suara yang berlalulalang di gendang telinganya. Ia terus berlari. Mata hijaunya hanya melihat sebuah objek, anak itu.

'GREB'

"Kau tidak apa-apa?"

Sakura memeluk erat gadis kecil yang tengah menangis itu setelah ia berhasil menerobos kendaraan yang terus melaju. Ia pun menggendong gadis itu dan berjalan menuju trotoar. Orang-orang mengerubungi mereka dan bertanya apakah mereka baik-baik saja.

"Onee-chan!"

Gadis kecil itu memegang ujung rok Sakura dengan tangan mungilnya saat Sakura hendak berdiri. Ia pun kembali berjongkok, mensejajarkan tingginya.

"Ada apa?" Tanya Sakura sambil tersenyum ramah.

"Kuma-chan masih di sana."

Sakura pun mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya. Di sana tergeletak sebuah boneka beruang berwarna cokelat dengan pita merah di lehernya.

"Tunggulah, Onee-chan akan mengambilkannya untukmu," ucap Sakura lantas membelai rambut sebahu gadis itu singkat.

Sakura pun kembali berjalan ke arah jalan raya dengan sedikit terhuyung. Ia masih syok dengan peristiwa tadi. Sakura melangkahkan kaki jenjangnya yang tak beralas kaki. Hanya tinggal menyebrang sedikit saja.

Beberapa meter lagi. Lebih dekat. Semakin dekat. Kini ia bisa melihat wujud boneka itu dengan jelas. Ia pun menjulurkan tangannya, hendak mengambil boneka itu.

'TIN TIN TIN'

'CKIIIIT'

'BRUK'

"Ya ampun! Sakura!"

~IDOL NEST~

'You're my friend Aah~ Ano hi no yume ima demo mada-'

'FLAP'

"Kau mau pergi ke sana, Otouto?"

Pemuda berambut raven itu mendenguskan nafasnya. Kemarin malam ia sudah berkata 'tidak', kenapa sekarang baka aniki itu masih bertanya.

"Hn, tidak."

"Hey, ayolah Sasuke, setidaknya kau yang kesana. Kalau aku sih sudah pasti tidak bisa."

Sasuke berdecak. "Kau mau mempermalukanku?"

Ia pun menekan tombol merah dan menutup flap ponselnya.

'TUUT TUUT DRRT'

"Ck, apalagi sih?"

Sasuke kembali membuka flap ponselnya. Kali ini ia mendapatkan pesan singkat. Dengan alis terangkat, ia pun membuka pesan itu dan membacanya.

Beberapa saat kemudian manik obsidian itu membulat. "Sakura?"

~IDOL NEST~

"Ya ampun! Sakura!"

Sakura mendengar suara sahabatnya, Ino, berteriak memanggil namanya. Kakinya terkilir, sakit sekali. Sikunya pun tergores dan terasa sangat perih. Sakura lantas mencoba membuka matanya.

Hal pertama yang ia lihat adalah mata hitam yang menatapnya panik. Poni ravennya yang menjuntai menusuk-nusuk wajah halus Sakura.

"Sa-sasuke?"

"Apa yang kau lakukan, bodoh! Kau bisa mati!"

Sasuke pun menjauhkan tubuhnya dari Sakura dan membantu Sakura duduk dengan cara menopang punggungnya. Beberapa orang mengerubungi mereka, tak terkecuali Ino.

"Ini Sakura, minumlah. Kau pasti syok."

Ino menyodorkan botol air minum ke arah Sakura. Gadis pink itu menerimanya dengan tangan yang bergetar, menahan rasa perih dari sikunya. Ia pun meminumnya beberapa tegukan.

"Sa-sasuke, kenapa kau bisa…" Tanya Sakura terputus sambil menatap Sasuke heran setelah menghabiskan setengah air di botol itu.

Sasuke mendenguskan nafasnya dan berkata, "Tadinya aku berniat menemanimu pergi ke acara itu setelah mendapat pesan singkat darimu."

"Lho, Sakura, kau tidak bilang Sasuke akan ikut," ujar Ino ikut berjongkok lantas menatap Sakura dan Sasuke bergantian.

Sakura pun menatap kedua makhluk yang keheranan ini sembari tertawa hambar. "Oh, soal itu ya, ehehe."

Flashback

"Gaara-kun, tunggu aku!"

Saat Sakura hendak mengambil tas selempang berwarna emas di atas kursi belajarnya, manik jade-nya menangkap sebuah benda mungil berbentuk persegi panjang. Ia pun mengambilnya dan terhenti. Pandangannya menerawang sebentar sebelum ia nyalakan benda itu dan tangannya menari lihai menekan-nekan huruf yang tertera di atas layar touch screen itu.

"Yosh, ayo kita bersenang-senang!" pekiknya. Sakura lantas melangkahkan kaki putih jenjangnya menuju lantai bawah rumahnya.

.

.

.

'TUUT TUUT DRRT'

"Ck, apalagi sih?"

Sasuke kembali membuka flap ponselnya. Kali ini ia mendapatkan pesan singkat. Dengan alis terangkat, ia pun membuka pesan itu dan membacanya.

'Sasuke-kun! Kau bisa pergi ke NHK Hall sekarang? Aku ingin pergi ke acara The Cotton, tapi aku sedang demam dan Ino harus membantu ayahnya di toko bunga. Aku mohon, aku sangat ingin melihatnya. Kau tidak ingin membuatku pingsan lalu terinjak-injak, bukan? Cepatlah! Mataku berkunang-kunang!'

Beberapa saat kemudian, manik obsidian itu membulat. "Sakura?"

Tanpa pikir panjang, Sasuke pun menyambar jaket hitam yang tergantung rapi di depan lemari pakaiannya dan melesat menemui Sakura.

.

.

.

Kini Sasuke dan lamborghini hitamnya hanya berjarak lima puluh meter dari NHK Hall. Ia mendadak mengerem mobilnya saat melihat rambut gulali menerobos lalu lintas yang sedang ramai ramainya tanpa mengenakan alas kaki.

"Sakura?"

Sasuke membuka pintu mobilnya dan berlari menuju Sakura yang tengah menunduk di tengah jalan. Ia menambah laju larinya saat melihat sebuah truk melaju kencang kearah Sakura.

"Sakura!"

Sasuke melompat dan memeluk Sakura erat, menyebabkan mereka berdua jatuh berguling-guling menuju trotoar. Truk yang hendak menabrak Sakura berhenti sejenak, kemudian melanjutkan perjalanannya tanpa rasa bersalah.

Flashback end

"Ah, jadi begitu ya?" ucap Ino menatap Sakura dengan alis sebelah terangkat. Gadis pink itu hanya menggaruk-garuk belakang kepalanya dan kemudian mengaduh karena rasa perih di siku kanannya kembali kambuh.

"Maafkan aku Ino, Sasuke." Ino menggeleng-gelengkan kepalanya sementara Sasuke mendengus.

Seakan teringat sesuatu, mata Sakura melebar. "Oh iya, The Cotton!"

"Terlambat. Mereka kehabisan tiket."

Mata Sakura melayu. Ia menundukkan kepalanya, membuat helaian pink itu jatuh menutupi sebagian wajahnya. Sasuke yang melihat hal itu pun menatap Sakura iba. Tangan kirinya menyusup ke dalam saku jaket hitam yang ia kenakan.

"Ini, Sakura." Sasuke menyodorkan dua lembar kertas pada Sakura. Sakura pun mengangkat wajahnya. Terlihat air mata berkumpul di pelupuk matanya, siap untuk jatuh.

"Untukmu dan Ino," ucap Sasuke lembut.

"I-ini…" Sakura menyambar kertas yang Sasuke berikan untuknya dengan mata berbinar-binar.

"Huaaaa….terimakasih, Sasuke!"

Dengan reflek, Sakura merangkul Sasuke dengan erat, membuat pemuda tampan itu mematung.

"Hiks…terimakasih…hiks"

~IDOL NEST~

"Sasuke…"

Sakura memanggil Sasuke dengan setengah berteriak. Ino sudah tertidur sedari tadi sementara alunan musik dan sorak-sorai fans bergema dengan kerasnya. Sementara itu, satu-satunya penonton pria di sana hanya menatap datar kelima pemuda yang tengah menari dan menyanyi di atas panggung megah itu. Untung saja mereka memiliki tiket VVIP sehingga tidak banyak yang menyadari kehadiran pemuda tampan itu di antara sekian ribu penonton.

Mendengar suara memanggilnya, Sasuke menoleh pada gadis pink yang tengah menatapnya lucu, "Hn?"

"Bagaimana caranya kau mendapatkan tiket itu?"

Sasuke terdiam sejenak.

"Hn. Rahasia."

Tanpa banyak tanya, Sakura hanya bergumam 'oh' dan kembali menatap idola-idolanya sebelum ia menyadari satu kejanggalan.

"Oh ya, Sasuke."

Sasuke kembali menoleh, "Hn?"

"Bagaimana kau bisa masuk? Kan tiketnya cuma dua?"

.

.

.

~TBC~

Reisouren deshita!

Bagaimana pendapat kalian tentang chapter ini? Sebenarnya saya berusaha membuat alurnya rada lambat, soalnya ff ini bakalan cepat tamat kalau mengikuti 'apa yang seharusnya'. Jadi, maaf ya, Gaasaku-nya belum muncul. Sasusaku-nya juga belum greget, masih ngambang dan geje. Saya harap, senpai bisa memaklumi newbie sepertiku ini. Thanks for fav, review and follow-nya. Tolong dikoreksi beberapa hal yang senpai anggap keliru, ok?

Next chapter password: Kencan

Review please~